Jurnal PPKn Vol. 8 No. 2 Juli 2020
147
STRATEGI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI APEL PAGI UNTUK MEMBENTUK GOOD CITIZEN DI SMK NEGERI 2 SUKOHARJO
Urfan Ismail1*, Winarno2, Triana Rejekiningsih3
1,2,3
PPKn FKIP Universitas Sebelas Maret, Surakarta
*Email : [email protected]
Abstract. The research aims to find out: 1) Character education strategies carried out through apel pagi at SMK Negeri 2 Sukoharjo; 2) The impact of apel pagi on the character of students at SMK Negeri 2 Sukoharjo for the formation of good citizens; 3) Barriers and solutions in the formation of good citizens through apel pagi at SMK Negeri 2 Sukoharjo. This research uses a qualitative approach, a type of descriptive qualitative research. Data sources were obtained from informants, places and events, as well as documents and archives. The sampling technique uses purposive sampling. Data collection techniques with observation, interviews, and document analysis. The validity of the data uses technical triangulation and source triangulation. Data analysis uses an interactive analysis model. Conclusion of research results: : 1) Apel pagi strategy implemented at SMK Negeri 2 Sukoharjo by: a) Habituation; b) Structured with the schedule of the guidance coach and the picket teacher; c) There is presence, examination and sanctions, and it involves all students and school organizations. 2) Through this strategy has an impact on the formation of students' good attitudes that manifest from religious values, honesty, discipline, mutual cooperation and responsibility.
3) Obstacles that occur include: a) Discipline is the presence of students who are late because the house is far away and depends on public transportation b) The time of the completion of the apel pagi past 7 am c) The incomplete apel pagi material, should be about nationalism, but in the apel pagi also delivered material about the law that is orderly in traffic and vehicles must be standard in accordance with the rules. 4) The solutions made include: a) Imposing sanctions for students who are late; b) Effectiveness of the time of apel pagi activities so as not to pass 7 o'clock in the morning; c) Giving nationalism material during ceremonies on national days.
Keywords: Strategy, Character Education, Apel pagi, Good Citizen
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang besar yang memiliki jumlah penduduk usia remaja (10-19 tahun) sebanyak 45,2 juta jiwa dan pada saat 2020 nanti Indonesia akan mengalami bonus demografi (Bappenas, 2018: 1). Jumlah penduduk usia remaja yang cukup besar pada saat terjadi bonus demografi ditahun 2020 nanti perlu
pengelolaan yang baik agar kedepan bisa manjadi warga negara yang baik karena pada usia 15-64 tahun merupakan angkatan kerja yang memiliki tanggungan, sehingga pada usia 15-19 tahun perlu strategi atau pengelolaan agar bias menjadi warga negara yang baik, hal ini sejalan dengan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan memiliki tujuan untuk menjadikan warga negara yang
Jurnal PPKn Vol. 8 No. 2 Juli 2020
148 baik (good citizen), maka good citizen sangatlah penting untuk membangun bangsa Indonesia ini di abad 21 yang penuh tantangan.
Pergeseran kehidupan pelajar Indonesia saat ini menjadi permasalahan yang sangat penting bagi pendidikan di Indonesia.
Terdapat banyak kasus kenakalan remaja yang mulai mengkhawatirkan berbagai pihak, baik itu orang tua maupun lembaga pendidikan sekolah. Hal tersebut menjadi tanggung jawab bersama untuk seluruh pihak-pihak dalam sebuah lembaga pendidikan sekolah, rendahnya good citizen pelajar di Indonesia berdasarkan pada beberapa prilaku kenakalan remaja di Indonesia berakibat pada meningkatnya kenakalan ramaja.
Dari hasil data yang dikutip oleh Polda Metro Jaya terjadi peningkatan yang cukup signifikan sebesar 36,66% pada kasus kenakalan remaja. Sementara itu kenakalan remaja, mengalami peningkatan yang cukup tinggi pada tahun 2011 tercatat ada 30 kasus, sementara tahun 2012 terjadi 41 kasus. Artinya naik sebanyak 11 kasus, atau meningkat 36,66 persen. Pada tahun 2012 sekitar 50-60% remaja merupakan pengguna narkoba, 90%
video porno yang beredar diperankan remaja dan sekitar 21,22% pelajar SMP dan SMA di kota – kota besar Indonesia melakukan aborsi. Di Tahun 2013 data KPAI menunjukan bahwa sebanyak 62,7% remaja Indonesia melakukan seks bebas 20% mengalami hamil diluar nikah.
Di Tahun 2015 menurut KPAI jumlah pengguna narkoba di kalangan remaja naik 14 ribu jiwa 4,5 ribu melihat pornografi. Di Tahun 2017 menurut BNN sekitar 27,32% pengguna narkoba adalah
remaja dan yang terakhir data Tahun 2017 menurut KPAI marak terjadi fenomena tawuran pelajar di Indonesia dan meningkat kasusnya dari 12,9% menjadi 14% di Tahun 2018
(http://www.beritasatu.com/megapoli tan/89874/ diakses pada 2 Desember 2018 pukul 12.00 WIB).
Sementara dari data yang diambil di internet, di Sukoharjo ada kasus pembullyan siswa di Sukoharjo oleh teman sekolah hingga ibunya
melapor ke polisi
(http://kompas.com/regional/read/20 16/01/07/21524421/Anaknya.Kerap.
Di-
.Bully.di.Sekolah.Seorang.Ibu.Lapor.
Polisi diakses pada 9 Februari 2019 pukul 10.00 WIB) selain itu ada juga kasus pelajar SMK di Sukoharjo yang menjadi kurir sabu dan
ditangkap Polisi
(https://www.jawapos.com/jpg- today/18/01/2019/dijanjikan-upah- dua-pelajar-smk-di-sukoharjo-nekat- jadi-kurir-sabu/), kemudian di Sukoharjo juga sebanyak 33 siswa pada bulan Januari 2019 (https://solo.tribunnews.com/2019/01 /29/lagi-asyik-nongkrong-di-alun- alun-33-siswa-smk-di-sukoharjo- terjaring-razia-satpol-pp diakses pada 9 Februari 2019 pukul 10.05 WIB) dan 29 siswa SMK yang membolos terjaring razia Satpol PP saat jam pelajaran pada bulan Februari 2019 (https://solo.tribunnews.com/2019/02 /07/bolos-sekolah29-siswa-di-
sukoharjo-terjaring-razia-satpol-pp diakses pada 9 Februari 2019 pukul 10.10 WIB).
Berdasarkan data di atas meningkatnya kenakalan remaja disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya pesatnya kemajuan teknologi, namun tidak semua remaja memanfaatkan kemajuan teknologi
Jurnal PPKn Vol. 8 No. 2 Juli 2020
149 untuk hal yang berguna, seperti untuk mencari informasi-informasi ilmiah, masalah fenomena yang terjadi di masyarakat, namun remaja justru menggunakan kemajuan teknologi untuk hal – hal yang menyimpang. Dapat disimpulkan bahwa good citizen pelajar di Indonesia masih rendah karena masih terjadi peningkatan, realitas kehidupan kebangsaan dan kenegaraan dewasa ini di abad 21 menjadi tantangan yang memunculkan berbagai krisis, maka menjadi sangat penting untuk direalisasikan melalui pembangunan karakter bangsa. Proses pembangunan karakter bangsa tidak dapat dilepaskan dari proses pendidikan. Dalam hal ini, Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat menjadi sarana pembangunan karakter bangsa yang bermartabat.
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam membentuk karakter suatu bangsa. Sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Penerapan pendidikan karakter saat ini dirasa penting untuk dimasukkan dalam kebijakan pembangunan pendidikan nasional karena disinyalir tatakrama, etika dan kreatifitas peserta didik mengalami penurunan. Selain itu, kasus kenakalan remaja seperti tawuran, kekerasan seksual, konsumsi narkoba membolos, konsumsi minuman keras serta mencontek yang marak terjadi sekarang ini, menjadi faktor yang melatarbelakangi betapa penting dan
mendesaknya pendidikan karakter untuk segera diterapkan saat ini.
Kurikulum 2013 yang diterapkan saat ini diharapkan mampu menjadi solusi terhadap berbagai permasalahan tersebut.
Kurikulum 2013 lebih menekankan pada pendidikan karakter yang mencakup 18 nilai yang meliputi nilai religiius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab (Kemendiknas, 2010: 9).
Banyak cara mengembangkan good citizen antara lain dengan pengintegrasian nilai dan etika pada mata pelajaran, internalisasi nilai positif yang di tanamkan oleh semua warga sekolah, pembiasaan dan latihan, kegiatan ekstrakulier, pemberian contoh dan teladan, penciptaan suasana berkarakter di sekolah, serta pembudayaan, melalui pensinergian pendidikan rumah dan sekolah (Reza Armin, 2015: 102).
Semuanya itu menurut Thomas Lickona (2013: 63) bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan warga negara (Civic Intellengence), tanggung jawab (Civic Responsibility) dan Partisipasi warga negara (Civic Participation) dengan salah satu kegiatan yang dapat diimplementasikan untuk mengembangkan good citizen melalui pengembangan tanggung jawab (Civic Responsibility).
Terdapat data pelanggaran yang dilakukan oleh siswa di SMK Negeri 2 Sukoharjo selama bulan April 2019 berupa membawa hp sebanyak 39 kasus, pelanggaran kendaraan sebanyak 4 kasus dan terlambat apel
Jurnal PPKn Vol. 8 No. 2 Juli 2020
150 pagi sebanyak 3 kasus, selain itu berkaitan dengan pendidikan karakter, banyak penelitian tentang pendidikan karakter di luar kelas seperti “Implementasi pendidikan karakter melalui Kegiatan Pramuka pada anak kelas atas di SD 3 Tenggeles Mejobo Kudus” (Farikha, 2017: 5), “Pengelolaan pendidikan karakter melalui kegiatan hisbul wathan di SD Muhammadiyah 2 Kauman Surakarta” (Enggar, 2014:
3), “Implementasi Pendidikan Karakter pada OSIS SMP Negeri 1 Karangbinangun Lamongan”
(Abdullah, 2018: 6), semua penelitian tersebut seperti pramuka, hizbul wathan dan OSIS yang dapat membentuk karakter siswa menjadi baik dan itu dilakukan diluar kelas oleh karena itu peneliti akan meneliti tentang apel pagi yang juga merupakan kegiatan diluar kelas yang bertujuan untuk membentuk siswa agar memiliki karakter yang baik.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penting untuk mengetehaui peran apel pagi dalam membentuk karakter para siswa di SMK Negeri 2 Sukoharjo.
Mengingat bahwa di abad 21 tantangan di Indonesia sangat besar dan dengan jumlah remaja yang besar perlu pengelolaan yang baik agar di masa depan terbentuk generasi yang memiliki karakter yang baik atau menjadi warga negara yang baik (good citizen).
Oleh karena itu peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian mendalam dengan rumusan masalah yang meliputi:
1. Bagaimana strategi pendidikan karakter yang dilakukan melalui apel pagi di SMK Negeri 2 Sukoharjo?
2. Bagaimana dampak apel pagi terhadap karakter siswa di SMK Negeri 2 Sukoharjo untuk pembentukan good citizen?
3. Apa saja hambatan dalam kegiatan apel pagi untuk membentuk good citizen di SMK Negeri 2 Sukoharjo?
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana strategi dan dampak serta hambatan yang dialami dalam melakukan pendidikan karakter melalui apel pagi di SMK Negeri 2 Sukoharjo. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, khususnya mengenai pembentukan good citizen di bidang pendidikan melalui apel pagi di sekolah. Secara praktis dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai program apel pagi dalam rangka pengembangan program yang dilakukan sekolah.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang lebih terarah karena dilakukan terhadap satu kegiatan yaitu apel pagi. Tempat yang digunakan dalam penelitian ini adalah SMK Negeri 2 Sukoharjo yang terletak di Jalan Solo – Wonogiri, Desa Begajah, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah 57512. Untuk memperoleh data yang akurat, peneleti menggali data dari informan, tempat dan peristiwa, serta dokumen dan arsip. Teknik pengambilan subjek penelitian yang digunakan
Jurnal PPKn Vol. 8 No. 2 Juli 2020
151 dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling, sebab peneliti cenderung memilih informan yang dapat dipercaya untuk memberikan data yang akurat.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, dan analisis dokumen.
Observasi dilakukan terhadap kegiatan apel pagi yang merupakan bentuk strategi Pendidikan karakter untuk membentuk good citizen.
Wawancara ditujukan pada Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Guru PKn, dan Siswa SMK Negeri 2 Sukoharjo. Sementara dokumen yang dianalisis berupa data presensi para siswa atau peserta didik ketika mengikuti apel pagi. Sedangkan validitas data menggunakan trianggulasi teknik dan trianggulasi sumber.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Strategi Strategi Pendidikan Karakter melalui kegiatan Apel Pagi
Pelaksanaan apel setiap pagi sebelum kegiatan pembelajaran dimulai selama kurang lebih 15 - 30 menit merupakan proses pembiasaan yang merupakan langkah nyata dari Pendidikan Karakter. Dalam kegiatan ini dapat disampaikan pengumuman ataupun informasi penting berkaitan dengan sekolah. Guru sebagai pembina apel menyampaikan amanat yang berkaitan dengan tata tertib sekolah, kedisiplinan, tatakrama, kebersihan, cara belajar dan sebagainya.
Sehubungan dengan penanaman karakter disiplin, kegiatan apel yang dilaksanakan 30 menit sebelum pembelajaran
dimulai harus diikuti oleh seluruh peserta didik . Mereka harus siap dalam barisan yang rapi di halaman sekolah sebelum apel dimulai. Peserta didik diharapkan dating lebih awal agar tidak terlambat mengikuti apel. Bagi peserta didik yang terlambat akan mendapatkan sanksi sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan.
Selain itu, selama kegiatan apel juga dilaksanakan pemeriksaan ketertiban dan kedisiplinan pemakaian seragam, atribut serta potongan rambut peserta didik.
Kemudian dalam kegiatan apel pagi juga erat kaitannya dengan disiplin, di merupakan kata yang sederhana. Namun sangat syarat makna. Dimensi dari disiplin adalah disiplin waktu, menegakkan aturan, sikap, dan menjalankan ibadah.
Dapat disimpulkan keseluruhan pemaknaan disiplin mencakup segala hal di kehidupan kita.
Penanaman disiplin bisa berasal dari diri sendiri. Mulai lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal, bahkan lingkungan sekolah.
Terkait dengan penanaman disiplin, SMK Negeri 2
Sukoharjo berupaya
menanamkan sikap disiplin sebagai salah satu bentuk penanaman karakter pada peserta didik. Program kegiatan apel pagi di sekolah itu suatu upaya pembentukan karakter pada peserta didik, dari aspek kedisiplinan.
Disiplin waktu sebagai salah satu bentuk penanaman disiplin di lingkungan SMK itu. Pada situasi ini, sekolah berupaya menanamkan nilai-nilai
Jurnal PPKn Vol. 8 No. 2 Juli 2020
152 kedisiplinan yang tertuang pada aturan sekolah, yaitu program kegiatan apel pagi yang diikuti seluruh siswa. Dimulai pukul 06.30 WIB sampai pukul 07.00 WIB.
Jika ada yang terlambat apel pagi otomatis masuk ke kelasnya pun juga terlambat, penerapkan strategi pemberian punishment bagi peserta didik yang terlambat ke kelas oleh Guru PPK saat pelajaran PPKn yaitu dengan menyanyikan lagu nasional di depan kelas pada waktu pembelajaran. Jika peserta didik mengulangi hal itu kembali maka diperlakukan sama tetapi dengan lagu yang berbeda. Hal ini membawa dampak yang positif. Pertama, penerapan program ini menimbulkan pengurangan jumlah peserta didik yang terlambat. Kedua, semua siswa memiliki waktu
yang lebih untuk
mempersiapkan diri dalam pembelajaran. Ketiga, hal ini merupakan strategi gethok tular artinya peserta didik yang terlambat akan termotivasi untuk datang lebih awal karena peserta didik yang datang dapat hadir lebih awal. Keempat, kegiatan ini membuat seluruh siswa lebih bisa mengatur waktu. Semua siswa akan bisa mengatur waktu dengan baik, serta menahan diri untuk melakukan hal yang tidak perlu di pagi hari. Selain itu, persiapan lebih pagi juga akan membuat pikiran peserta didik menjadi lebih segar. Strategi yang dilakukan tersebut membawa dampak secara umum bahwa semua siswa mengikuti apel pagi yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran diri
tanpa ada paksaan yang dirasakan.
Bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK, kedisiplinan merupakan karakter yang mutlak harus dimiliki, karena ini menjadi tuntutan utama ketika mereka memasuki dunia kerja, tanpa kedisiplinan, mustahil bagi mereka untuk dapat berkompetisi di dunia kerja yang semakin ketat persaingannya. Namun kedisiplinan tidak terbentuk begitu saja, melainkan perlu dilatih dan dibiasakan. Salah satu kegiatan yang dapat diimplementasikan untuk penanaman karakter disiplin pada peserta didik SMK adalah melalui apel pagi. Apel pagi sebagai salah satu sarana wujud pendidikan karakter kepada peserta didik yang telah dilakukan secara rutin di SMK Negeri 2 Sukoharjo.
Kegiatan apel pagi merupakan strategi pendidikan karakter dengan cara pembiasaan, terstruktur dengan jadwal guru pembina maupun guru piket, ada presensinya, melibatkan semua siswa maupun organisasi sekolah dan dilakukan dengan tata cara sebagai berikut:
1) Pemeriksaan kendaraan siswa saat masuk gerbang.
2) Semua siswa dikumpulkan ke lapangan halaman SMK Negeri 2 Sukoharjo.
3) Semua siswa baris sesuai jurusan dan kelasnya.
4) Pembina apel pagi menyampaikan materi setelah barisan siswa siap.
5) Disaat apel berlangsung guru piket berkeliling
Jurnal PPKn Vol. 8 No. 2 Juli 2020
153 memeriksa atribut dan penampilan siswa.
6) Penyampaian pengumuman dari sekolah setelah pembina apel pagi selesai menyampaikan materi.
7) Doa sebelum melakukan kegiatan pembelajaran jam pertama.
8) Pemberian sanksi untuk yang terlambat dan melanggar tata tertib penampilan dan atribut.
Yang semua tata cara di atas dilakukan oleh SMK Negeri 2 Sukoharjo bertujuan untuk membentuk karakter siswanya memiliki karekter baik dan menjadi warga negara yang baik dengan melibatkan komponen sekolah yang ada, senada dengan Dzamarah dan Zain dalam Winarno (2014: 73) menyatakan bahwa “strategi merupakan suatu garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan”.
Sejalan dengan pernyataan tersebut Salusu (2015: 71) mengemukakan definisi “strategi sebagai suatu seni menggunakan kecakapan dan sumber daya suatu organisasi untuk mencapai sasarannya melalui hubungannya yang efektif dengan lingkungan dalam kondisi yang paling menguntungkan”.
Pendidikan karakter tidak bisa hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan atau melatih suatu ketrampilan tertentu. Pendidikan karakter perlu proses, contoh teladan, pembiasaan atau pembudayaan dalam lingkungan peserta didik dalam lingkungan sekolah, keluarga, lingkungan masyarakat, maupun lingkungan media massa. Hal ini sejalan
dengan 3 komponen karakter dalam alam pendidikan karakter oleh Thomas Lickona (2013: 85- 100) yang menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan moral. Hal ini diperlukan agar anak mampu memahami, merasakan dan mengerjakan sekaligus nilia-niali kebajikan.
Moral knowing adalah hal yang penting untuk diajarkan, terdiri dari enam hal, yaitu:
moral awareness (kesadaran moral), knowing moral values (mengetahui nilai-nilai moral), perspective taking, moral reasoning, decision making dan self knowledge.
Moral feeling adalah aspek yang lain yang harus ditanamkan kepada anak yang merupakan sumber energi dari diri manusia untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral. Terdapat 6 hal yang merupakan aspek emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter, yakni conscience (nurani), self esteem (percaya diri), empathy (merasakan penderitaan orang lain), loving the good (mencintai kebenaran), self control (mampu mengontrol diri) dan humility (kerendahan hati).
Moral action adalah
bagaimana membuat
pengetahuan moral dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata. Perbuatan tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter
Jurnal PPKn Vol. 8 No. 2 Juli 2020
154 lainya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter, yaitu kompetensi (competence), keinginan (will) dan kebiasaan (habit).
Kemudian untuk
melaukukan pendidikan karakter diperlukan strategi yang diterapkan di sekolah dapat dilakukan melalui empat cara menurut Ajat Sudrajat (2011:
54) yaitu: pembelajaran (teaching), keteladanan (modeling), penguatan (reinforcing), dan pembiasaan (habituating). Kegiatan apel pagi masuk dalam cara pembiasaan, di dalam pembiasaan yang berupa kegiatan apel pagi juga dilakukan moral knowing (pengetahuan tentang moral) dan moral feeling yang bertujuan untuk moral action (tindakan nyata) yaitu berkelakuan baik.
Apel pagi sendiri juga merupakan suatu strategi, strategi sendiri adalah suatu garis besar haluan berupa pemikiran yang realistis, konseptual, dan komprehensif yang dituangkan dalam bentuk cara, teknik, taktik, atau siasat dengan memanfaatkan kecakapan dan sumber daya organisasi melalui hubungan yang efektif untuk mencapai tujuan yang telah dikehendaki.
Tujuan apel pagi sendiri untuk membentuk karakter yang baik dan akan menjadi Good Citizen pada akhirnya yang dilakukan melalui moral knowing (pengetahuan tentang moral) dan moral feeling yang bertujuan
untuk moral action (tindakan nyata) yaitu berkelakuan baik.
2. Dampak kegiatan Apel Pagi terhadap karakter siswa untuk pembentukan Good Citizen
Kegiatan apel pagi berdampak langsung terhadap perilaku siswa, seperti adanya nilai religius para siswa dibuktikan pada saat waktu dhuha masjid tidak pernah sepi, kemudian saat obervasi juga saya melihat siswa langsung menuju kelas dan siap untuk melaksanakan proses pembelajaran. Dari kegiatan apel pagi pun banyak nilai yang saya amati dari mulai nilai gotong royong atau kerjasama dibuktikan dengan adanya sinergitas antara organisasi sekolah yang ada di SMK Negeri 2 Sukoharjo serta nilai tanggungjawab dibuktikan dengan mengikuti apel pagi setiap hari dan misalkan ada yang melanggarpun juga tidak pernah membantah dan tunduk patuh terhadap sanksi yang diberikan oleh guru atau pihak sekolah., jika di transformasikan dengan siswa maka siswa yang
memenuhi hak dan
kewajibannya lah yang termasuk good citizen dalam tataran nya sebagai siswa, jadi warga negara yang baik dengan karakter baik saling berkaitan karena untuk membentuk good citizen diperlukan karakter yang baik.
Setelah dilakukan Pendidikan karakter dengan cara pembiasaan yang membentuk karakter baik maka otomatis pula good citizen akan terbentuk, good citizen atau warga negara yang baik adalah warga negara yang melakukan pemenuhan hak
Jurnal PPKn Vol. 8 No. 2 Juli 2020
155 dan kewajiban – kewajibannya sebagai warga negara dan patuh terhadap konstitusi negaranya serta memiliki kriteria antara lain: aktif di masyarakat maupun negara, mendukung program pemerintah, melakukan hak dan kewajiban sebagai warga negara, patuh terhadap peraturan atau konstitusi, memiliki rasa nasionalisme serta persatuan, dapat dipercaya serta dapat mengekspresikan pendapat di muka umum, serta mencintai sesama diatas perbedaan (memiliki rasa toleransi).
Tujuan kegiatan apel pagi adalah untuk”membuat peserta didik menjadi individu yang berkarakter. Sehingga setiap individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap perbuatan yang dilakukan.
Melalui kegiatan apel pagi diharapkan semua siswa bisa memiliki dan menerapkan karakter disiplin. Selain itu, melalui kegiatan ini diharapkan peserta didik mampu mewujudkan prestasi yang gemilang menuju sekolahnya juara”. Hal ini sejalan dengan buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025, “Pembangunan karakter bangsa yag diemban pada misi pertama mengarahkan pada terwujudnya masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.
Hal ini mengandung arti memperkuat jati diri dana karakter bangsa melalui pendidikan yang bertujuan membentuk manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa; mematuhi aturan hukum; memelihara kerukunan interal dan antarumat beragama;
melaksankan interaksi antarbudaya; mengembangkan mosal sosial; menerapkan nilai- nilai luhu budaya bangsa; dan memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual, moral, dan etika pembangun bangsa”.
Oleh karena itu, peserta didik harus mampu untuk memulai hidup dengan kesiplinan. Hal tersebut sesuai dengan sebuah pepatah ”Tulang punggung negara tetap bangun pagi, untuk membangun mimpinya”. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa melalui program kegiatan apel pagi, kegiatan belajar mengajar di sekolah berjalan lebih kondusif. Selain itu dengan adanya apel pagi akan terbentuk pula karakter yang baik karena telah dilakukan Pendidikan karakter melelaui cara pembiasaan. Untuk konteks Indonesia, konsep karakter
“baik” dipahami sebagai nilai- nilai yang baik (good values), Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.
Kebajikan atau nilai – nilai karakter yang baik terdiri atas sejumlah nilai seperti religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta
Jurnal PPKn Vol. 8 No. 2 Juli 2020
156 tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggungjawab (Kemdiknas, 2010: 3).
3. Hambatan dan solusi dalam pembentukan Good Citizen melalui kegiatan Apel Pagi
Hambatan yang dialami dalam kegiatan apel pagi berasal dari siswa maupun dari sekolah, untuk yang dari siswa yatitu karena ketergantungan menggunakan trasnportasi umum dan rumah yang jauh sehingga menyebabkan terlambat apel pagi, sedangkan dari sekolah karena materi apel paginya sendiri masih kurangnya materi nasionalisme yang disampaikan pada kegiatan apel pagi serta molornya waktu apel pagi yang akhirnya berdampak pada jam pertama pelajaran, solusinya adalah pemberian sanksi kepada siswa yang terlambat agar tidak mengulangi lagi, pengefektifan waktu kegiatan apel pagi agar tidak molor, pemberian materi nasionalisme saat upacara di hari – hari nasional. Dalam melakukan sebuah strategi yakni kegiatan apel pagi yang
dilaksanakan untuk
pembentukan good citizen pastinya ada hambatan, menurut Poerwandarminta (1991)
“hambatan adalah sebuah halangan, rintangan atau suatu keadaan yang tidak dikehendaki atau tidak disukai kehadirannya, menghambat perkembangan seseorang, menimbulkan kesulitan baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan ingin atau perlu dihilangkan”.
Hambatan yang dialami dalam kegiatan apel pagi yang berasal dari faktor eksternal adalah karena ketergantungan menggunakan trasnportasi umum dan rumah yang jauh sedang faktor internalnya adalah masih kurangnya materi nasionalisme yang disampaikan pada kegiatan apel pagi serta molornya waktu apel pagi, hal ini sejalan dengan pendapat menurut Syah (2008: 173) faktor-faktor timbulnya hambatan terdiri atas dua macam yang meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Syah (2008:
173) berpendapat bahwa “faktor internal adalah hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri maupun suatu organisasi. Faktor eksternal adalah hal-hal atau keadaan- keadaan yang muncul dari luar diri maupun organisasi”.
SIMPULAN DAN SARAN A. SIMPULAN
Strategi yang digunakan dalam kegiatan apel pagi dengan cara pembiasaan, terstruktur dengan jadwal guru pembina maupun guru piket, ada presensinya, melibatkan semua siswa maupun organisasi sekolah dan dilakukan dengan tata cara seperti pemeriksaan kendaraan siswa saat masuk gerbang, semua siswa dikumpulkan ke lapangan halaman SMK Negeri 2 Sukoharjo, semua siswa baris sesuai jurusan dan kelasnya, pembina apel pagi menyampaikan materi setelah barisan siswa siap, disaat apel berlangsung guru piket berkeliling memeriksa atribut dan penampilan siswa, penyampaian pengumuman dari sekolah setelah pembina apel pagi selesai menyampaikan materi,
Jurnal PPKn Vol. 8 No. 2 Juli 2020
157 doa sebelum melakukan kegiatan pembelajaran jam pertama, serta pemberian sanksi untuk yang terlambat dan melanggar tata tertib penampilan dan atribut.
Kegiatan apel pagi dengan tata cara diatas juga melibatkan semua organisasi sekolah seperti seperti pleton khusus (TONSUS) yang bertugas membentuk menyiapkan barisan, kemudian komando pasukan pengibar bendera SMK Negeri 2 Sukoharjo (KOPASDA) yang memimpin barisan apel pagi, ada juga patrol keamanan sekolah (PKS) yang memantau kedisplinan berkendara siswa sampai masuk gerbang (yaitu siswa harus berkendara yang baik, sopan, kendaraan harus sesuai standar), palang merah remaja (PMR) mengurus siswa yang kurang sehat selama apel pagi berlangsung, dewam ambalan (DA) membantu menata parkiran untuk kendaraan siswa, organisasi siswa intra sekolah (OSIS) dan kerohanian islam (ROHIS) mengingatkan teman – temannya untuk kedepan atau lapangan sekolah agar segera apel pagi.
Setelah dilakukan apel pagi, maka akan berdampak pada terbentuknya good citizen ditandai dengan karakter atau perilaku yang baik sebagai siswa seperti sikap toleransi, peduli terhadap sesama, hormat dan patuh terhadap guru serta aturan yang berlaku dalam konteks ini adalah aturan sekolah, tanpa adanya karakter atau perilaku yang baik maka sulit terbentuk good citizen, good citizen atau warga negara yang baik adalah warga negara yang melakukan pemenuhan hak dan kewajiban – kewajibannya sebagai warga negara dan patuh terhadap konstitusi negaranya.
Kriteria di atas jika ditransformasikan dengan siswa maka yang memenuhi hak dan kewajibannya sebagai seorang siswa yang termasuk good citizen dalam tataran nya sebagai siswa yang nantinya ketika di masyarakat siswa tersebut akan terbiasa dan akhirnya sesuai dengan kriteria seperti di atas, jadi warga negara yang baik dengan karakter baik saling berkaitan karena untuk membentuk good citizen diperlukan karakter yang baik. Bukti dari siswa menjadi good citizen adalah dengan dampak langsung dari kegiatan apel pagi terhadap perilaku siswa, seperti adanya nilai religius, siap untuk melaksanakan proses pembelajaran, nilai gotong royong, serta nilai tanggungjawab, yang melanggarpun juga tidak pernah membantah dan tunduk patuh terhadap sanksi yang diberikan oleh guru atau pihak sekolah.
Hambatan yang dialami dalam kegiatan apel pagi berasal dari yang dialami siswa (faktor eksternal) maupun dari sekolah (faktor eksternal), untuk yang dialami dari siswa yatitu karena ketergantungan menggunakan trasnportasi umum dan rumah yang jauh sehingga menyebabkan terlambat apel pagi, sedangkan dari sekolah karena materi apel paginya sendiri masih kurangnya materi nasionalisme yang disampaikan pada kegiatan apel pagi serta molornya waktu apel pagi yang akhirnya berdampak pada jam pertama pelajaran, solusinya adalah pemberian sanksi kepada siswa yang terlambat agar tidak mengulangi lagi, pengefektifan waktu kegiatan apel pagi agar tidak molor, pemberian materi nasionalisme saat upacara di hari – hari nasional.
B. SARAN
Jurnal PPKn Vol. 8 No. 2 Juli 2020
158 Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini, maka saran yang diberikan adalah sebagai berikut:
1. Bagi Sekolah a. Memperbanyak
penyampaian materi berkaitan dengan nasionalisme saat kegiatan apel pagi berlangsung;
b. Membuat kegiatan apel pagi berakhir tepat waktu agar tidak
menggangu jam
pelajaran pertama;
c. Membuat jadwal pembina apel pagi dengan materi.
2. Bagi Siswa
a. Berusaha agar tidak terlambat dalam mengikuti kegiatan apel pagi yang diadakan rutin setiap hari.
3. Bagi Peneliti
a. Bisa dijadikan bahan untuk penelitian lanjutan dan lebih diperdalam oleh peneliti yang lainnya dalam aspek yang lain, selain dampak pendidikan karakter dengan cara pembiasaan yang berdampak terhadap perilaku yang akhirnya membentuk good citizen. Peneliti lain
bisa meneliti
dampaknya terhadap keberhasilan akademik atau yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah. (2018). Implementasi Pendidikan Karakter pada OSIS SMP Negeri 1
Karangbinangun
Lamongan. Diperoleh 8 Januari 2019, dari http://digilib.uinsby.ac.id/24 365/1/Abdullah_D73214020 .pdf.
Armin, R. (2015). Strategi dan Implementasi Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMP N 9 Yogyakarta.
Jurnal Pendidikan Karakter UNY. 1 (1), 102.
BERITA SATU. (2012, 28 Desember). Kenakalan Remaja Meningkat Pesat, Diperoleh 2 Desember 2018 dari
http://www.beritasatu.com/
megapolitan/89874.
Cahyaningsih, I. (2017). Membangun Karakter Pada Anak melalui Kegiatan Apel Pagi di SD Negeri Keraton.
Diperoleh 8 Januari 2019, dari
http://ikacahya.blogs.uny.ac.
id/wpcontent/uploads/sites/1 5291/2017/10/jurnal.pdf.
Enggar. (2014). Pengelolaan pendidikan karakter melalui kegiatan Hisbul wathan di SD Muhammadiyah 2 Kauman Surakarta.
Diperoleh 8 Januari 2019, dariihttp://eprints.ums.ac.id/
34410/20/NASKAH%20PU BLIKASI%20.pdf.
Farikha. (2017). Implementasi pendidikan karakter melalui kegiatan Pramuka pada anak kelas atas di SD 3 Tenggeles Mejobo Kudus.
Diperoleh 8 Januari 2019,ddariihttp://eprints.um s.ac.id/52616/1/10.%20NAS KAH%20PUBLIKASI.pdf.
Izzati, A. (2018). Manajemen Program Penguatan
Jurnal PPKn Vol. 8 No. 2 Juli 2020
159 Pendidikan Karakter di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Bandung. Diperoleh 9 Januari 2019, dari http://digilib.uinsgd.ac.id/12 961.
JAWAPOS. (2019, 18 Januari).
Dijanjikan upah dua pelajar SMK di Sukoharjo nekat jadi kurir sabu. Diperoleh 9 Februari 2019, dari https://www.jawapos.com/jp g-
today/18/01/2019/dijanjikan -upah-dua-pelajar-smk-di- sukoharjo-nekat-jadi-kurir- sabu.
Kemdiknas. (2010). Desain Induk Pendidikan Karakter.
Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional.
KOMPAS. (2016, 07 Januari).
Anaknya Kerap di Bully di Sekolah Seorang Ibu Lapor Polisi. Diperoleh 9 Februari
2019, dari
http://kompas.com/regional/
read/2016/01/07/21524421/
Anaknya.Kerap.Di-
.Bully.di.Sekolah.Seorang.I bu.Lapor.Polisi.
Lickona, T. (2013). Educating for Character (Mendidik untuk Membentuk Karakter.
Jakarta: Bumi Aksara.
Poerwandarminta, W.J.S. (1991).
Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Salusu, J. (2015). Pengambilan Keputusan Stratejik Untuk Organisasi Publik dan Organisasi Nonprofit.
Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Sudarjat, A. (2011). Mengapa Pendidikan Karakter?.
Jurnal Pendidikan Karakter UNY. 1 (1), 54.
Syah. (2008). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
TRIBUN NEWS. (2019, 07 Februari).
Bolos Sekolah 29 siswa di Sukoharjo terjaring razia Satpol PP. Diperoleh 9 Februari 2019, dari https://solo.tribunnews.com/
2019/02/07/bolos- sekolah29-siswa-di- sukoharjo-terjaring-razia- satpol-pp.
TRIBUN NEWS. (2019, 29 Januari).
Lagi asyik nongkrong di alun – alun 33 siswa SMK di Sukoharjo terjaring Razia Satpol PP. Diperoleh 9 Februari 2019, dari https://solo.tribunnews.com/
2019/01/29/lagi-asyik- nongkrong-di-alun-alun-33- siswa-smk-di-sukoharjo- terjaring-razia-satpol-pp.
Utami, D. (2015). Penguatan Karakter Siswa Pendidikan Dasar Muhammadiyah melalui Pensinergian Pendidikan Rumah dan Sekolah. Diperoleh 8 Januarii2019,ddariihttp://pu blikasiilmiah.ums.ac.id/bitst ream/handle/11617/5144/11 .Ratnasari%2520Diah%252 0Utami.pdf.
Winarno. (2014). Pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan: Isi, Strategi, dan Penilaian.
Jakarta: PT. Bumi Aksara.