BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perang atau konflik bersenjata (Armed Conflict) telah lama menjadi bagian dari sejarah umat manusia (termasuk bagian dari sejarah hubungan internasional). Dalam setiap perang atau dalam konflik bersenjata, sering kali para pihak yang terlibat bertindak ganas serta kehilangan akal sehat dan sifat-sifat dasar kemanusiaan. Dalam pertempuran kombatan dan non kombatan tewas, properti penduduk sipil dan infrastruktur publik hancur, serta berbagai situs sejarah dan budaya porak poranda.
Penduduk sipil banyak menjadi korban bahkan sering kali dibantai secara keji dalam berbagai konflik bersenjata. 1
Hukum Humaniter Internasional (International Humanitarian Law, IHL), yang juga dikenal dengan hukum perang (The Law Of War) dan hukum konflik bersenjata (The law of Armed Conflict, LOAC), adalah bagian dari hukum publik internasional yang mengatur konflik-konflik bersenjata, baik yang bersfat internasional maupun non internasioal. Hukum Humaniter Internasional selanjutnya disingkat HHI hadir di inspirasi oleh pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan. HHI ditujukkan untuk meminimalkan penderitaan mereka yang tidak atau tidak lagi mengambil bagian dalam pertempuran (peperangan) dan untuk membuat pertempuran menjadi lebih
1Umar Suryadi Bakry, Hukum Humaniter Internasional, Kencana, Jakarta, 2019, hlm.1
manusiawi (human) dengan membatasi penggunaan senjata-senjata yang barbar (biadab,kejam).2
Anak–anak sebagai manusia memiliki hak asasi sama dengan orang dewasa yang harus dijaga. Namun, masih terdapat kurangnya perlindungan terhadap hak anak dari berbagai kekerasan dan ancaman. Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan juta anak hidup menderita, bahkan tewas akibat konflik yang berkecamuk di berbagai negara seperti Uganda, Myanmar, Ethiopia, Pelestina, Guatemala, Liberia, Srilanka, Mozambik, Angola, Afganistan, Rwanda, Libya, Suriah, Somalia atau Sudan, Kamboja, Haiti ataupun Bosnia. Akibat perang yang tak kunjung usai, korban warga sipil dari tahun ke tahun kian meningkat, khususnya anak–anak. Tidak hanya itu anak–anak juga direkrut menjadi tentara baik laki–laki maupun perempuan banyak yang berusia antara 15 dan 18 tahun, tetapi ada beberapa anak-anak berumur 7 tahun direkrut sebagai tentara anak–anak.3
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi konvensi ini dan terbuka untuk penandatangan pada tanggal 20 November 1989 (pada peringatan 30 tahun Deklarasi Hak-Hak Asasi Anak). Konvensi ini berlaku pada tanggal 2 September 1990 setelah jumlah negara yang meratifikasinya mencapai syarat. Sampai dengan Desember 2008, 193 negara terlah meratifikasinya,meliputi keseluruhan negara- negara anggota PBB, kecuali Amerika Serikat dan Somalia.
2 Aldo Zammit Borda,”Introduction Of International Humanitarian Law”,dalam common wealth law bulletin, vol.34 No.4. 2008, hlm.739-748
3 UNICEF, Child Protection From Violence Exploitation and Abuse, Diakses dari situs http://www.unicef.org/protection/index_armedconflict.html diakses 2 februari 2020
Dua protokol tambahan juga diadopsi pada tanggal 25 Mei 2000. Protokol Tambahan mengenai Keterlibatan Anak-Anak dalam Konflik Senjata membatasi keterlibatan anak-anak dalam konflik-konflik militer, dan Protokol Tambahan Konvensi Hak-Hak Anak mengenai Perdagangan Anak-Anak, Prostitusi Anak-Anak, dan Pornografi Anak-Anak melarang perdagangan, prostitusi, dan pornografi anak- anak. Kedua protokol tambahan ini telah diratifikasi oleh lebih dari 120 negara.
Konvensi ini secara umum mendefinisikan seorang anak sebagai umat manusia siapapun yang berusia di bawah 18 tahun, terkecuali apabila telah ditentukan oleh hukum negara bersangkutan.4
Prinsip utama dalam hukum humaniter internasional adalah distinction principle (prinsip pembedaan). Dalam suatu sengketa bersenjata, golongan penduduk terbagi dalam dua bagian, yaitu kombatan (combatant) dan penduduk sipil (civilian).
Kombatan adalah mereka yang ikut secara langsung dalam suatu permusuhan dan harus dibedakan dengan penduduk sipil yang tidak ikut serta dalam suatu
permusuhan.
Dari sisi Hak Asasi Manusia perekrutan tentara sebagai anak merupakan perbuatan yang melanggar Hak Asasi Anak sebagai pribadi yang merdeka. Ketika anak-anak direkrut sebagai tentara maka mereka tidak dapat menikmati lagi hak mereka sebagai anak seperti hak anak untuk mendapap pendidikan, kasih sayang orang tuanya, dan mengembangkan potensi diri meraka. Bahkan dalam perekrutan
4 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Konvensi_Hak-Hak_Anak,di akses padatanggal 5 februari 2020, 19.00 WIT
tentara anak tidak jarang pula mendapat penyiksaan yang harusnya mereka bebas dari tindakan seperti itu.5
Pemanfaatan anak dalam suatu konflik bersenjata dapat meliputi perekrutan anak sebagai tentara anak dan partisipasi anak dalam permusuhan. Rekrutmen termasuk segala cara (baik formal maupun de facto) yang mana seorang menjadi anggota angkatan bersenjata atau kelompok bersenjata, tercakup di dalamnya mobilisasi (wajib militer), rekrutmen secara suka rela maupun rekrutmen dengan paksaan. Kata- kata partisipasi dijelaskan dalam Statuta International Criminal Court (ICC) sebagai using (menggunakan) dan participate (partisipasi) mencakup kedua-dua partisipasi langsung dalam permusuhan dan juga partisipasi aktif dalam kegiatan militer yang berhubungan dengan pertempuran, seperti menjadi penunjuk jalan/pemandu, mata- mata, melakukan sabotage dan penggunaan anak-anak sebagai umpan/pengalih perhatian kurir di pos militer.6
Tidak termasuk dalam partisipasi adalah aktivitas yang secara jelas tidak berhubungan dengan permusuhan, seperti mengantar makanan ke markas atau penggunaan anak untuk pekerjaan domestik. Pengaturan mengenai keterlibatan anak dalam konflik bersenjata diatur dalam berbagai konvensi internasional, baik dalam lingkup hukum humaniter, seperti Konvensi Jenewa tahun 1949 dan Protokol Tambahan I dan II tahun 1977 maupun dalam lingkup hukum internasional yang lain,
5 https://jurnal.fh.unila.ac.id/index.php/fiat/article/download/309/269, Diakses Pada Tanggal 5
Februari 2020, Pukul 20.00 WIT.
6 http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/00%20A-4%20April%202008%20_1-9_.pdf,
Diakses 2 februari 2020
seperti Konvensi Hak Anak dan Protokol Tambahannya, Statuta ICC dan juga Konvensi ILO.
Secara implisit keputusan mengenai perlindungan terhadap anak dalam konflik bersenjata dapat dilihat pada pasal 1 dan 2 dari Regulations Respecting Laws and Costums of War yang merupakan lampiran dari Konvesi Den Haag ke IV tanun 1907, dan Pasal 13 Konvensi Jenewa I dan II tahun 1949 yang juga mengatur tentang siapa saja yang berhak mendapatkan perlindungan. Selanjutnya dalam Pasal 4 Konvensi Jenewa III tahun 1949 mengatur tentang pihak pihak yang terlibat dalam perang, sehingga berstatus dan harus diperlakukan sebagai tawanan perang. Mereka inilah harus di bedakan dengan penduduk sipil, yang didalamnya termasuk anak -anak dalam sengketa bersenjata.
Dalam kenyataan yang terjadi saat ini, banyak negara yang merekrut anak-anak untuk dijadikan sebagai tentara perang diantaranya adalah Konflik di South Sudan yakni perang sipil yang mana para pasukan militer dari pihak-pihak berseteru melibatkan anak-anak dibawah umur. Sampai sekarang sudah ada lebih dari 11.000 anak dipersenjatai untuk ikut bertempur. Salah satu kasus di Uganda dimana terdapat dua kubu yang berseteru, yaitu Lord’s Resistance Army dan Uganda’s People Devence Force. Keduanya selama bertahun-tahun terlibat konflik bersenjata yang mana membuat rakyat Uganda sendiri menderita. Alih-alih memberikan
keamanan dan kenyamanan terhadap warga lainnya, perang sipil yang mempertemukan kedua kubu ini harus melibatkan anak-anak di dalamnya.7
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengangkatnya sebagai bahan penulisan skripsi dengan judul Perlindungan Hukum bagi Anak yang Terlibat dalam Konfik Bersenjata Ditinjau dari Protokol Optional Konvensi Hak Anak Tahun 2000
B. RumusanMasalah
Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah: ‘’Bagaimana Pengaturan Tentang Perlindungan Hukum Bagi Anak yang Terlibat dalam Konfik Bersenjata ditinjau dari Protokol Optional Konvensi Hak Anak Tahun 2000? ‘’
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
1. Tujuan Penulisan
a. Mengkaji dan membahas perlindungan hukum bagi anak yang terlibat dalam konfik bersenjata ditinjau dari Protokol Konvensi Hak Anak Tahun 2000 b. Sebagai salah satu persyaratan dalam memenuhi penyelesaian studi pada
Fakultas Hukum Universitas Pattimura.
7 https://www.boombastis.com/anak-dibawah-umur-jadi-tentara/92041,diakses pada tanggal 2
februari 2020,19.00 WIT
2. Manfaat Penulisan
a. Secara teoritis, penelitian ini dilakukan sebagai masukan dan pengembangan ilmu hukum, yang terlebih khusus terhadap pengaturan tentang perlindungan hukum bagi anak yang terlibat dalam konfik bersenjata ditinjau dari Protokol Konvensi Hak Anak Tahun 2000.
b. Secara praktis, dapat menjadi masukan bagi pemerintah Republik Indonesia dalam melakukan pengembangan bagi anak atau masyarakat yang sering melakukan pelanggaran terhadap anak.
D. Kerangka Konseptual
1. Konsep Perlindungan Hukum
Perlindungan hukum merupakan kegiatan untuk melindungi individu dengan menyerasikan hubungan nilai-nilai atau kaidah-kaidah yang menjelma dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan adanya ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama manusia. Perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi subyek- subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi.8
Menurut Satjipto Raharjo, mendefensikan perlindungan hukum adalah memberkan pengayoman kepada hak Asasi manusia yang di rugikan orang lain dan
8 http://lawdisfor.blogspot.com/2017/08/konsep-perlindungan-hukum,diakses pada 3 februaru
2020
perlindungan tersebut di berikan kepada masyarakat agar dapat dinikmati semua hak hak yang diberikan oleh hukum.9
Menurut Philipus M.Hadson bahwa Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Perlindungan Hukum Preventif.
Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundangundangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan sutu kewajiban.
2. Perlindungan Hukum Represif.
Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.
Pendekatan konsep perlindungan hukum digunakan dalam rangka memenuhi rasa keadilan dan hukum berdasarkan hukum positif untuk menegakan keadilan dan hukum tentunya keadilan harus dibangun sesuai cita hukum (rechtidee) didalam
9 Satjipto Raharjo, Penyelenggaraan keadilan dalam Masyarakat yang sedang berubah,
Semarang,Jurnal Masalah Hukum, 1993,hlm 74.
negara hukum (Rechstaats). Hukum berfungsi melindungi kepentingan manusia dengan memperhatikan 4 (empat) hal, diantaranya :10
1. Kepastian hukum (Rechtssicherkeit) 2. Kemanfaatan hukum (Zeweckmassigkeit) 3. Keadilan hukum (Gerechtigkeit)
4. Jaminan hukum (Doelmatigkeit)
Penegakan hukum merupakan usaha untuk mewujudkan ide-ide dan konsep-konsep hukum yang diharapakan rakyat menjadi kenyataan. Penegakan hukum merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal11
2. Konsep Perlindungan Anak
a. Pengertian anak
Berdasarkan Article 1 International Convention on The Rights of Childs 1989 dijelaskan, bahwa anak adalah For the purposes of the present Convention, a child means every human being below the age of eighteen years unless, under the law applicable to the child, majority is attained earlier.12
Sedangkan yang tercantum dalam Article 3 Optional Protocol on Involvement of Children in Armed Conflict 2000 adalah
10 Dasar Dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika,Jakarta,2019.Hlm 32
11 Dellyana, Shant, Konsep Penegakan Hukum, Liberty, Yogjakarta, 1998, hlm.32.
12 International Convention on The Rights of Childs 1989
1) States Parties shall raise in years the minimum age for the voluntary recruitment of persons into their national armed forces from that set out in article 38, paragraph 3, of the Convention on the Rights of the Child, taking account of the principles contained in that article and recognizing that under the Convention persons under the age of 18 years are entitled to special protection.
2) Each State Party shall deposit a binding declaration upon ratification of or accession to the present Protocol that sets forth the minimum age at which it will permit voluntary recruitment into its national armed forces and a description of the safeguards it has adopted to ensure that such recruitment is not forced or coerced.
3) States Parties that permit voluntary recruitment into their national armed forces under the age of 18 years shall maintain safeguards to ensure, as a minimum, that:
(a) Such recruitment is genuinely voluntary;
(b) Such recruitment is carried out with the informed consent of the person’s parents or legal guardians;
(c) Such persons are fully informed of the duties involved in such military service;
(d) Such persons provide reliable proof of age prior to acceptance into national military service13
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa Anak adalah seseorang yang belum berusia 18(delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan14
Dalam Konvensi Jenewa IV 1949 ataupun dalam Protokol Tambahan 1977 tidak ditemukan definisi tentang anak. Ketentuan yang menjadi pedoman dalam hal terjadinya sengketa bersenjata, Konvensi Jenewa IV 1949 dan Protokol Tambahan 1977 hanya mengatur persoalan pemberian perlindungan terhadap anak-anak.
13 Optional Protocol on Involvement of Children in Armed Conflict 2000
14 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Convention on the Rights of the Child) tentang konvensi Hak-Hak Anak adalah sebuah konvensi internasional yang mengatur hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan kultural anak-anak. Negara-negara yang meratifikasi konvensi internasional ini terikat untuk menjalankannya sesuai dengan hukum internasional. Pelaksanaan konvensi ini diawasi oleh Komite Hak-Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa yang anggota- anggotanya terdiri dari berbagai negara di seluruh dunia. Setiap tahun, Komite ini memberikan laporan kepada Komite Ketiga Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa yang juga akan mendengar pernyataan ketua Komite Hak-Hak Anak dan mengadopsi resolusi mengenai Hak-Hak Anak.
Pemerintah negara yang telah meratifikasi konvensi ini diharuskan untuk melaporkan dan hadir di hadapan Komite Hak-Hak Anak secara berkala untuk mengevaluasi kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam mengimplementasikan Konvensi ini dan status hak-hak anak dalam negara tersebut.
Perekrutan anak sebagai tentara dalam konflik bersenjata dari sisi pisikologis sangat berbahya dan merugikan kepentingan sang anak. Anak-anak yang direkrut tersebut kemudian dibentuk menjadi prribadi yang tidak sesuai dengan jati diri mereka. Mereka diajarkan taktik perang dan ditanamkan rasa pemusuhan dan benci.
Dalam pikiran mereka tertanam suatu nilai permusuhan dan mereka hanya berfikir bagaimana membunuh dan mempertahankan diri agar tidak menjadi korban pembunuhan. Pembentukan karakter demikian ini membuat anak-anak tersebut tidak
mengetahui dunia mereka yang sesungguhnya. Padahal usia dini seperti mereka seharusnya hidup dalam pengakuan dan bimbingan orang tua yang penuh kasih sayang keluarga, bermain, dan mengembankan potensinya dengan bersekolah dan bergaul dalam lingkungan.
Konvensi Hak Anak merupakan wujud nyata atas upaya perlindungan terhadap anak, agar hidup anak menjadi lebih baik. Sejak Indonesia meratifikasi Konvensi Hak Anak di Tahun 1990 banyak kemajuan yang telah ditunjukkan oleh pemerintah Indonesia dalam melaksanakan Konvensi Hak Anak. Dalam menerapkan Konvensi Hak Anak, negara peserta konvensi punya kewajiban untuk melaksanakan ketentuan dan aturan-aturannya dalam kebijakan, program dan tata laksana pemerintahannya.
Indonesia sendiri meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) melalui Keppres No.36 Tahun 1990 pada tanggal 25 Agustus 1990. Konsekwensi atas telah diratifikasinya Konvensi Hak Anak tersebut, maka Indonesia berkewajiban untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan yang terkandung dan atau memiliki kewajiban untuk memenuhi hak-hak anak yang diakui dalam KHA yang secara umum memberikan perlindungan dan penghargaan terhadap anak, agar anak dapat merasakan seluruh hak-haknya, sehingga terjauh dari tindakan kekerasan dan pengabaian.
Sebagai individu maupun negara, seharusnya setiap orang memahami rumusan Konvensi Hak Anak yang terdiri dari 3 bagian yang mencakup kandungan substantif hak anak, mekanisme pelaksanaan dan pemantauan, serta pemberlakuan sebagai hukum yang mencakup secara internasional. Sehingga setidaknya akan mampu mendapat pemahaman tentang empat kategori Hak Anak yaitu hak untuk hidup, hak
untuk tumbuh kembang, hak memperoleh perlindungan dan hak untuk berpartisipasi atau dihargai pendapatnya.15
3. Konsep Konflik Bersenjata
Istilah “konflik bersenjata” berdasarkan Hukum Humaniter. Menurut Pietro Verri , istilah “konflik bersenjata” (armed conflict) merupakan ungkapan umum yang mencakup segala bentuk konfrontasi antara beberapa pihak, yaitu :
dua negara atau lebih, suatu negara dengan suatu entitas bukan-negara, Suatu negara dan suatu faksi pemberontak, atau dua kelompok etnis yang berada di dalam suatu negara.16
1. Konflik Bersenjata Internasional
Instrumen Hukum Humaniter Internasional yang berkaitan dengan situasi konflik bersenjata internasional terletak pada Pasal 2 Ketentuan yang bersamaan dari keempat Konvensi Jenewa 1949 yang menyatakan sebagai berikut:
In addition to the provisions which shall be implemented in peacetime, the present Convention shall apply to all cases of declared war or of any other armed conflict which may arise between two or more of the High Contracting Parties, even if the state of war is not recognized by one of them;
15http://www.suarakita.org/2016/07/konvensi-hak-anak-dan-aplikasinya-di-indonesia/, diakses pada 6 februari 2020,19.00 WIT
16https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_konflik_bersenjata_yang_sedang_berlangsung,diakses 5 februari 2020
The Convention shall also apply to all cases of partial or total occupation of the territory of a High Contracting Party, even if the said occupation meets with no armed resistance.
Situasi yang diatur dalam pasal tersebut adalah sengketa bersenjata yang berlangsung antara dua negara atau lebih, baik dalam situasi perang yang yang diumumkan (declared war), maupun bila keadaan perang tidak diakui oleh para pihak sekalipun. Status konflik bersenjata internasional diperoleh dari suatu fakta bahwa pertikaian berlangsung antara para pihak peserta agung dari Konvensi- Konvensi Jenewa yang berarti haruslah berupa negara. Dengan demikian, maka menurut doktrin tradisional, konsep konflik bersenjata internasional hanya melibatkan negara-negara.17
2. Konflik Bersenjata non-Internasional
Pada saat ini, konflik yang lebih banyak terjadi bukanlah konflik antar negara, tetapi lebih banyak antara negara dengan kelompok bersenjata yang terorganisasi, atau antar kelompok yang serupa, yang sifatnya bukanlah konflik internasional.
Konflik seperti ini memiliki banyak istilah antar lain perang saudara, pemberontakan, revolusi, terorisme, perang gerilya, perlawanan, pemberontakan internal, atau perang untuk menentukan nasib sendiri.18 Pengaturan Hukum Humaniter Internasional mengenai konflik bersenjata non internasional dapat ditemukan pada Pasal 3
17 Konvensi-Konvensi Jenewa telah diratifikasi secara universal oleh 196 negara di dunia pada Februari 2016; dalam Nils Melzer, op. cit., hlm. 56
18 Eve La Haye, 2008, War Crimes in Internal Armed Conflicts, New York, Cambridge University Press, hlm. 5.
ketentuan yang bersamaan dari KonvensiKonvensi Jenewa 1949 serta Protokol Tambahan II 1977. Sejumlah perjanjian mengenai pengaturan, pelarangan dan pembatasan senjata tertentu pun berlaku dalam situasi konflik bersenjata non- internasional. Selain itu, hukum internasional kebiasaan pun memainkan peran yang sangat penting oleh karena terbatasnya jumlah perjanjian internasional yang mengatur jenis konflik ini.19
3. Konflik Bersenjata yang dinternasionalisasikan Pada umumnya, suatu konflik bersenjata akan diasumsikan sebagai konflik internasional atau non-internasional, namun demikian pada praktiknya tidak selalu demikian. Suatu konflik bersenjata noninternasional dapat berubah karakter menjadi konflik bersenjata yang diinternasionalisasikan‖ ketika intervensi suatu negara asing memasuki arena konflik internal. Putusan tingkat banding pada Pengadilan Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY) untuk kasus Prosecutor v Tadic menguraikan bahwa konflik bersenjata internal yang meluas ke luar wilayah suatu negara dapat menjadi konflik internasional, atau pada keadaan tertentu memberikan segi internasional kepada konflik internal tersebut apabila pertama, suatu negara asing mengintervensi perang secara langsung melalui angkatan bersenjatanya, atau kedua, bahwa pihak non negara yang terlibat dalam konflik internal tersebut
19 Septiana Lia Radian, Tinjauan Tentang Konflik Bersenjata Dan Situasi Di Suriah, http://repository.unika.ac.id/20297/4/14.C1.0086%20SEPTIANA%20LIA%20RADIAN%20%285.45
%29..pdf%20BAB%20III.pdf, diunduh pada 10 november 2020
bertindak atas nama suatu negara lain, ini lazim disebut intervensi tidak langsung.20
Perbedakan ke dua jenis konflik tersebut, antara ‘non-international armed conflict’ dan ‘international armed conflict’ dapat dilihat dari status hukum para pihak yang bersengketa. Dalam ‘international armed conflict’, ke dua pihak memiliki status hukum yang sama, karena ke duanya adalah negara (sebagaimana dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 2 Konvensi Jenewa 1949); atau paling tidak, salah satu pihak dalam konflik tersebut adalah suatu entitas yang ‘dianggap setara dengan negara’ sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Pasal 1 ayat (4) juncto Pasal 96 ayat (3) Protokol Tambahan I 1977.
Status hukum tersebut demikian penting Karena dalam lingkup hukum internasional yang mengatur mengenai masyarakat internasional, hanya subyek- subyek hukum internasional sajalah yang memiliki kapasitas sebagai “pelaku”.
Dalam hal ini negara merupakan salah satu subyek hukum internasional, sehingga ia merupakan “pelaku” dan tunduk serta terikat kepada aturan-aturan hukum internasional (termasuk dalam hal ini hukum humaniter); sedangkan “pelaku lain”
yang tidak termasuk sebagai subyek-subyek hukum internasional tidak dapat berperan secara langsung sebagai pelaku dalam hukum internasional, akan tetapi entitas demikian tunduk kepada rejim hukum nasional di mana ia berada. Inilah arti
20Putusan Tingkat Banding ICTY Prosecutor v Duško Tadić, Appeal Judgment, IT-94-1-A, paragraf 84, sumber http://www.icty.org/x/cases/tadic/acjug/en/tad-aj990715e.pdf.
pentingnya klaim terhadap status hukum dalam hukum internasional (humaniter).
Oleh karena itu dalam ‘non-international armed conflict’, status ke dua pihak tidak sama, yakni :
pihak yang satu berstatus sebagai negara (subyek hukum internasional), sedangkan pihak lainnya adalah bukan negara (non-state entity). Pihak yang disebut terakhir ini tidak dapat disamakan dengan pihak-pihak yang dimaksud di dalam ketentuan Pasal 1 ayat (4) juncto Pasal 96 ayat (3) di atas, walaupun ke duanya sama- sama bukan negara. Ada beberapa perbedaan mendasar mengenai hal ini :
1. ‘Non-international armed conflict’ dapat dilihat sebagai suatu situasi peperangan di mana terjadi pertempuran antara angkatan bersenjata resmi dari suatu negara melawan kelompok-kelompok bersenjata yang terorganisir (organized armed groups) yang berada di dalam wilayah negara yang bersangkutan. Jadi yang sedang berkonflik adalah antara angkatan bersenjata resmi (organ negara; pemerintah) melawan rakyatnya sendiri yang tergabung dalam kelompok-kelompok bersenjata yang terorganisir. Kelompok bersenjata demikian lebih dikenal dengan istilah “pemberontak” (“insurgent“). Oleh karena itu peperangan dalam kategori ini lebih sering disebut dengan nama
“perang pemberontakan“. Bandingkan dengan “pihak bukan negara” yang dimaksud dalam Pasal 1 ayat (4) Protokol, di mana “pihak bukan negara”
yang dimaksud adalah suatu “bangsa” (peoples) yang belum merdeka dan berjuang melawan penjajahan.
2. Dalam ‘non-international armed conflict’, “pihak bukan negara” atau dalam hal ini adalah kelompok bersenjata yang terorganisir atau pasukan pemberontak, memiliki motivasi utama untuk melepaskan diri dari negara induk dan berdiri sendiri sebagai negara yang merdeka. Mereka sebenarnya adalah warga negara dari negara yang sudah merdeka, akan tetapi karena satu dan lain hal, ingin berdiri sendiri sebagai suatu negara yang baru. Hal ini tentu berbeda dengan “pihak bukan negara” atau “peoples” yang dimaksud dalam Protokol Tambahan. Mereka justru merupakan suatu “bangsa” yang masih terjajah, dan ingin meraih kemerdekaan untuk menentukan nasibnya sendiri;
lepas dari penjajahan atau pendudukan asing bangsa lain.
3. Oleh karena hal-hal tersebutlah maka “non-international armed conflict”
merupakjan konflik yang hanya terjadi di dalam wilayah suatu negara saja;
sementara konflik internasional dapat terjadi tidak saja di wilayah suatu negara tapi juga dapat terjadi di dalam wilayah internasional.21
21https://arlina100.wordpress.com/2009/01/11/konflik-bersenjata-internasional-dan-konflik- bersenjata-non-internasional/di. akses pada 10 november 2020, pukul 06.05 WIT
E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian hukum ini adalah penelitian hukum yuridis normatif . Peter Mahmud Marzuki mendefinisikan jenis penelitian secara yuridis normatif , yaitu suatu penelitian terutama mengkaji bahan-bahan hukum , ketentuan-ketentuan hukum positif , asas-asas hukum, prinsip-prinsip hukum maupun doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi.22 Penelitian hukum normatif nama lainnya adalah penelitian hukum doktrinal yang disebut juga sebagai penelitian perpustakaan atau studi dokumen karena penelitian ini dilakukan atau ditunjukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan hukum yang lain.23
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual approach) pendekatan kasus/ (case approach). Pendekatan Perundang-undangan atau statute approach dan sebagian ilmuan hukum menyebutnya dengan pendekatan yuridis, yaitu penelitian terhadap produk-produk hukum. 24
22 Peter Mahmud Marzuki,Penelitian Hukum,Prenada Media,Cetakan 1,Jakarta, 2005, hlm.16
23 Soerjono Soekanto, dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif,Cetakam Ke-8,PT.Raja
Grafindo Persada,Jakarta,2006,hlm.14
24 Bander Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Penerbit CV. Mandar Maju
Bandung 2008, hlm. 92
3. Teknik Pengumpulan dan Sumber Bahan Hukum
Teknik pengumpulan sumber bahan hukum yang digunakan dalam penelitian adalah penelusuran kepustakaan yang berupa literatur dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan objek penelitian. 25 Oleh karena itu, sumber bahan hukum pada penelitian ini adalah bahan hukum yang meluputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.26
a. Bahan Hukum Primer yakni bahan hukum yang terjadi atas peratuan perundang-undangan yang relevan dengan isu penelitian.
1. Konvensi Hak Anak Tahun 2000 dan dua Protokol tambahan tahun 2000 2. Konvensi Den Haag Ke IV Tahun 1907 dan Konvensi Den Haag 1899 3. Konvensi Jenewa Tahun 1949
b. Bahan Hukum Sekunder adalah bahan hukum yang terdiri atas buku-buku teks yang ditulis para ahli hukum, jurnal-jurnal hukum, pendapat para sarjana dan hasil symposium yang relevan dengan isu penelitian.
c. Bahan Hukum Tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.
4. Teknik Analisis Bahan Hukum
Data yang telah terkumpul dari studi kepustakaan (library research) selanjutnya diolah dengan cara diklasifikasikan dengan sistematis, logis dan yuridis
25 Ronny Hantijo Soemitro, Metode Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1982, hlm.
24
26 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat,
Rajawali Prerss, Jakarta, 1995, hlm. 29
secara kualitatif berdasarkan disiplin ilmu hukum internasional untuk mencapai kejelasan masalah yang dihadapi.27
27Ibid,hlm. 30