• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berguru Kepada Orang Kuat

N/A
N/A
Hilma Hikmatul Amaliya

Academic year: 2024

Membagikan "Berguru Kepada Orang Kuat"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Berguru Kepada Orang Kuat

Awan gelap menyelimuti langit pagi hari ini, suasana sendu langit tak kunjung membiru bagaikan mata yang berlinang akan menangis. Suasana pagi ini mewakili perasaan seorang pria yang tengah dirundung dilema dan juga perasaan bersalah atas kejadian kemarin yang tentu saja melibatkan dirinya, di satu sisi pikirannya ia tidak ingin membuat anak itu jatuh terjerumus seperti dirinya, kehilangan reputasi dan nama baik sehingga ia harus terjebak dalam anggapan buruk masyarakat. Jika banyak orang tau bahwa anak itu bergabung bersamanya, sudah dipastikan nama baik anak itu beserta orang tuanya akan sedikit tercoreng padahal iapun tahu bahwa anak remaja itu masih memiliki masa depan yang panjang. Sebenarnya, ia ingin mengajari anak itu seni bela diri tanpa melibatkannya dalam aksi di pasar namun pendapatnya tersebut bisa saja tidak disetujui oleh anggota lainnya karena jelas ‘pria berbaju hitam’ butuh penerus agar semuanya dapat seimbang. Ia telah mengetahui latar belakang keluarga dari seorang remaja yang tengah berguru padanya, sang ayah bukanlah orang sembarangan meskipun secara finansial tidak menonjol. Nasib baik berpihak karena ayahnya tidak mengetahui siapa dia sebenarnya, sehingga anaknya diizinkan untuk berguru padanya. Selain itu, ia juga mempertimbangkan untuk membuat perguruan sendiri dan keluar dari kelompoknya yang sekarang, toh dia pun termasuk anggota yang paling kuat disana. Tatkala ia sedang melamun, Hujan turun disertai kedatangan anak yang tengah ia pikirkan beserta satu temannya yang berambut pendek.

“Mang Udin !” Panggil kedua anak itu bersamaan

“Ehh Harja, kamu sama siapa ini Ja?”

“Ini Burhan Mang, dia katanya ingin berguru juga..”

“Selamat Pagi Mang Udin, nama saya Burhanuddin kalau sama Mang Udin mah panggil saja Udin kecil, soalnya biar mirip nama kita” Ujar Burhan sambil mengulurkan tangannya, salim kepada Mang Udin.

“Salam Kenal ya Ujang Udin Kecil, selamat berguru. Semoga betah ya !” Mang Udin

“Terima Kasih Mang Udin, nanti ajarkan aku menjadi kuat ya!” Seru Burhan

(2)

“Siap Udin kecil, ayo kalian masuk jangan basah-basahan disini”

“Baik Mang” Jawab kedua remaja itu bersamaan

Ketiga orang itu kemudian melangkahkan kakinya, memasuki sebuah rumah yang mereka sebut sebagai markas. Burhan terkesima tatkala ia memasuki ruangan tersebut, banyak golok tersimpan di dalam lemari dan juga persenjataan lainnya yang tersusun rapi lantas ia menghampiri satu persatu tempat persenjataan tersebut dan sesekali menyentuhnya untuk menghilangkan rasa penasarannya akan barang- barang yang belum pernah ia temui sama sekali. Di ruangan itu sekarang terdapat 3 oarng dewasa dari keseluruhan 5 orang, sisanya tengah berbelanja bahan makanan dan juga mengambil kayu bakar untuk memasak nanti. Orang-orang yang berada di markas pun tak kalah sibuk dengan aktivitasnya dua orang dewasa disana tengah mengasah senjata dan menjemur baju, sama seperti yang Harja lihat pada awal ia datang kemari. Setelah dua orang dewasa selesai dengan pekerjaanya, mereka terkaget karena melihat satu remaja yang belum pernah mereka temui sama sekali, lantas kedua orang tersebut mengajaknya berkenalan.

“Eh ini siapa Din?” Tanya Mang Gagah, salah satu dari ketiga orang dewasa disana.

“Perkenalkan, ini temannya si Ujang Harja. Namanya Burhanudin” Jawab Mang Udin.

“Iya, nama saya Burhanudin. Mamang-mamang disini boleh panggil saya Udin kecil, biar sama seperti Mang Udin” Seru Burhan.

“Salam kenal ya Udin kecil, saya Mang Gagah dan yang sedang sibuk itu Mang Ojak atau Rojak”

“Iya Mang, salam kenal. Ngomong-ngomong kapan kita latihan Mang? Udin kecil tidak sabar menjadi kuat”

“Coba ajak temanmu yang satu itu, kalau dia latihan hari ini. Kita latihan juga”

Setelah mendengar ucapan Mang Gagah, Burhan menelusuri markas dan sekitarnya untuk mencari keberadaan temannya itu. Karena semenjak ia diajak mengobrol oleh Mang Gagah, Harja pergi ntah kemana. Burhan terus memanggil- manggil Harja sambil terus berkeliling, hingga akhirnya Harja dapat ditemukan di

(3)

belakang markas, tengah berlatih bela diri bersama Mang Udin. Burhan merasa jengkel ketika melihatnya sebab ia tidak diajak ketika temannya itu melakukan latihan.

Burhan berjalan cepat menghampiri kedua orang yang tengah sibuk tersebut, wajah masam Burhan jelas terpampang menandakan kejengkelan yang ia alami. Remaja itu berteriak dan seketika Mang Udin menghentikan sesi latihannya tersebut.

“Ada apa Udin Kecil ?” tanya Mang Udin

“Kalian kenapa latihan duluan tidak ajak aku ?”

“Oh, kamu latihan dasar dulu bersama Mang Ojak disana, kalau Harja sudah pernah latihan dasar jadi dia lanjut ke latihan jurus”

“tapi aku ingin latihan bersama Har-“

Belum selesai Burhan dengan kalimatnya, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Mang Rojak dan diajak ke lapangan yang sebelumnya juga merupakan tempat latihan dasar Harja. Pada awalnya remaja itu memberontak dan bersikeras ingin berlatih bersama temannya, hingga Mang Ojak mengiming-iminginya dengan sesuatu sehingga ia menurut dan mulai berlatih pencak silat dasar dengan penuh semangat.

Setelah keduanya selesai berlatih, mereka memutuskan untuk menetap di markas hingga sore nanti. Karena pada hari ini, mereka sudah diizinkan untuk ikut ke pasar dan membantu aksi. Selama menunggu sore hari tiba, Burhan dan Harja ikut membantu mengasah golok, membersihkan markas, dan juga menonton para orang dewasa berlatih. Kelima orang dewasa tersebut sudah berkumpul, Mang Sapri dan Mang Kodar yang mencari bahan makanan dan kayu bakar telah kembali dari tugasnya. Kini mereka tengah berlatih pencak silat dengan bertarung satu sama lain, pertarungan kali ini satu lawan satu. Yang terkuat yaitu Mang Rojak melawan Mang Udin kemudian Mang Gagah melawan Mang Kodar, sisanya yaitu Mang Sapri menjadi wasit. Pertarungan ini lumayan sengit, terdapat pihak penyerang dan pihak bertahan, pihak penyerang mengerahkan serangan-serangan, tendangan, pukulan, dan jurus- jurus terhadap pihak bertahan sebaliknya pihak bertahan menghindari serangan, melakukan sikap perlindungan, dan menyerang disaat lawan lengah. Kedua remaja yang memperhatikan pertarungan termotivasi untuk melakukan latihan kembali, akhirnya mereka berdua ikut berlatih tendangan dan pukulan menggunakan media pohon pisang.

(4)

Tak terasa, Sore hari telah tiba. Semua orang disana tengah bersiap-siap berpakaian dan menyiapkan segala kebutuhan untuk mengamankan pasar. Ya, selain menagih hutang para pedagang yang berhutang kepada atasannya, mereka juga turut mengamankan pasar dari Bandit-bandit pencuri barang dagangan maupun merampas paksa uang-uang pedagang. Ya, mereka akui bahwa cara mereka menagih hutang memang agak kasar akan tetapi tidak sampai hati juga untuk merampas barang dagangan dan uang, mereka tahu bahwa tindakan tersebut jauh dari tujuan mereka.

Lalu mengapa Para ‘Pria Berbaju Hitam’ ditakuti bahkan dianggap pereman oleh pedagang di pasar ? itu karena para Bandit asli juga berpakaian sama bahkan dahulu kedua geng tersebut bersatu dalam nama ‘Pria Berbaju Hitam’ dan beranggotakan 9 orang, namun pada waktu itu ke 4 orang lainnya berbuat curang dan melenceng dari aturan geng. Ke 4 orang tersebut kerap kali merampas dagangan dan uang pedagang yang tidak berhutang, semenjak itu nama ‘Pria Berbaju Hitam’ menjadi sangat buruk yang akhirnya membuat Mang Rojak selaku ketua, mengeluarkan 4 orang tersebut dari ‘Pria Berbaju Hitam’. Saat ini ‘Pria Berbaju Hitam’ dan 4 orang yang bisa disebut

‘Pria Berbaju Hitam Palsu’ menjadi Lawan dan bersaing untuk menguasai pasar. Pada sore hari ini, terlihat para pedagang yang terburu-buru mengemasi barang dagangannya, sudah jelas disebabkan oleh kehadiran ‘Pria Berbaju Hitam’ Harja dan Burhan turut membersamai langkah kaki mereka, yang dewasa menagih hutang kepada para pedagang yang memang memiliki hutang sedangkan kedua remaja polos disana, hanya memperhatikan.

“Ja, Udin Kecil. Mau coba menagih hutang seperti Mamang tadi?” Tanya Mang Udin yang menghampiri kedua remaja itu.

“Mau Mang, Mau Mang” Jawab keduanya bersamaan.

“Tuh, disana ada anak seumuran kalian dan Bapak-bapak, mereka belum membayar hutang selama 3 bulan. Sana tagih !”

“Ayo langsung saja, Ja !” Ajak Burhan.

Mereka berdua pun akhirnya menghampiri Bapak-bapak terlebih dahulu, mencoba mempraktikan apa yang mereka amati sedari tadi. Meskipun cara mempraktikan mereka memang agak berbeda. Didekatinya Bapak-bapak yang

(5)

tengah membereskan barang dagangan itu, dengan percaya diri tinggi Harja dan Burhan memasang badan tegap, berjalan gagah menghampiri si Bapak itu.

“Permisi, Bapak !” Bentak Harja sambil menggebrakan meja dagangan si Bapak pedagang itu.

“Iya Jang, ada apa ?” Bapak itu berbalik badan dan menjawab bentakannya dengan santai.

“Begini Pak, Bapak belum membayar hutang selama 3 bulan ! hari ini Bapak wajib membayarnya hingga tuntas !”

“Dan lunas” Sela Burhan.

“Bagaimana ya, hari ini penghasilan saya tidak begitu banyak, ujang-ujang sekalian. Jika saya tidak bisa membayar hari ini bagaimana ya ?” Jawab Bapak itu dengan sendu.

“Akan Kami Tagih, Esok hari” Jawab Harja

“Jika Besok tidak bisa juga ?”

“Akan Kami Tagih Lusa”

“Kalau Lusa juga tidak bisa ?”

“Akan kami tagih besok Lusa”

“Jika Besok Lusa tidak bisa ?”

“Akan kami tagih besok besok lusa lagi”

“Jika besok besok lusa tidak bisa ?”

“Kami akan membuat Tuyul ! agar harta Bapak ludes semuanya sekalian !”

Gertak Burhan.

“Baiklah, ini uangnya. Sudah lunas, coba hitung lagi” Ujar Bapak tersebut sambil menyodorkan uangnya dan tersenyum.

(6)

“Waah, saya tidak bisa berhitung pak. Tapi ini banyak sekali, pasti sudah lunas”

Seru Burhan.

“Iya, sudah sana. Uangnya bawa ke bos mu”

“Baik Bapak, Terima Kasih. Maaf sudah mengganggu”

Setelah selesai menagih hutang kepada si Bapak, kedua remaja itu beralih ke dagangan di sebelahnya yang diisi oleh anak remaja juga, se usia mereka. Rupanya anak remaja itu berjualan tutut dan sekarang ia tengah berbalik badan seolah olah melakukan sesuatu.

Ekhm...Selamat sore wahai pehutang” sindir Harja kepada pemuda tersebut

“Selamat Sore wahai penagi- ehh, Harja !” pemuda itu membalikan badannya dan terkaget.

“Parman !”

“Harja dan Burhan berbaju hitam ! ada golok ! dan dan dan” Parman sedikit panik melihat penampilan kawan dan sepupunya tersebut.

dan akan saya laporkan...hehehe” lanjut Parman

“laporkan apa man ? kan aja disuruh mencari guru, ini sudah berguru.

Sekarang aja sedang menagih hutang dan mengamankan pasar. kan Bur ?”

“betul man, sekarang kami sudah menjadi kuat. Lebih baik bayar hutangmu sekarang !” Jawab Burhan.

“Kalau tidak ?” Parman berucap remeh.

“Akan kami laporkan ke A Afud” Jawab Harja.

”dan akan memelihara tuyul” timpal Burhan.

“Baiklah, ini ambil. hutangku sudah lunas” Parman memberikan sejumlah uang kepada dua temannya tersebut.

“Terima Kasih Man, sekarang mari kita pulang ! aku pergi dulu sebentar”

(7)

Harja pergi menemui anggota lain, para ‘pria berbaju hitam’ kemudian ia memberikan uang hasil menagih hutangnya dan meminta izin untuk pulang ke rumahnya, karena hari sudah semakin sore dan waktu berbuka puasa sebentar lagi tiba. Setelah menyerahkan uang, Harja menemui kembali kedua temannya itu dan berjalan beriringan menuju rumahnya masing-masing dengan riang. Parman yang awalnya kaget karena sepupunya merupakan anggota ‘pria berbaju hitam’ kemudian merasa tenang karena ternyata mereka tidak jahat dan penjahat aslinya merupakan mereka yang palsu. Harja bercerita pada Parman, bahwa terdapat 2 geng pria berbaju hitam, yang satu baik dan yang satunya lagi jahat.

Referensi

Dokumen terkait