iv ABSTRAK
Diskusi seputar hak-hak minoritas agama adalah isu dilematik dan menjadi perdebatan di negara-negara muslim tidak terkecuali Indonesia. Bagi Indonesia, isu ini dapat berpotensi menimbulkan polemik, merusak demokrasi, hak asasi manusia, toleransi, dan hubungan umat beragama, dimana pluralisme agama, hukum, budaya, dan adat istiadat. Salah satu yang menjadi sorotan nasional dan Syariah Aceh. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hak-hak Non-Muslim hukum Qanun Jinayah di Mahkamah Syariah di Aceh. Pertanyaan esensial adalah; kenapa minoritas Non-Muslim yang melanggar Qanun Jinayah diproses di Mahkamah Syariah dan menerima hukuman cambuk yang diatur Qanun Jinayah Aceh? Kenapa Qanun Jinayah yang bersumber dari syariat Islam dan diturunkan untuk umat Islam kemudian diterapkan pula kepada umat Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan Konghucu? Apakah Non-Muslim yang berperkara di Mahkamah Syariah bisa mendapatkan keadilan (justice), persamaan hak (equality), dan fair (fairness)? Kenapa ada sebagian Non-Muslim memilih menundukkan diri kepada hukum Qanun Jinayah, padahal tersedia pilihan hukum untuk diselesaikan perkaranya di pengadilan negeri? Penelitian adalah jenis kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosio-historis-yuridis. Sumber primer putusan-putusan perkara non muslim dan indept interview dengan non muslim yang berperkara, hakim, pengacara, saksi, jaksa penuntut umum, Dinas Syariat Islam, tokoh-Politik, tokoh agama Islam serta tokoh agama Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan Konghucu. Implikasi dan konstribusi penelitian, pertama;
sebagai lesson learn untuk Indonesia bagaimana memposisikan hak-hak minoritas dan mayoritas agama dalam masyarakat yang pluralisme terutama kaitannya dengan asas personalitas keislaman di pengadilan agama. Kedua; sebagai pertimbangan dalam proses legislasi dan reformasi mahkamah Syariah dan peradilan agama di Indonesia, dan ketiga; memberikan rekomendasi kepada negara untuk menata hukum institusi peradilan yang menjunjung tinggi keadilan, persamaan hak dan kesetaraan, terutama di lingkungan peradilan agama.
Keywords: Non-Muslims, Qanun Aceh, Mahkamah Syariah, Legal pluralism, Asas Personalitas Keislaman, Asas Teritorialitas.