Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa PJKR dalam menyusun RPP pada mata kuliah microteaching tahun 2014. Penelitian ini mendeskripsikan kemampuan mahasiswa PJKR FIK UNY dalam menyusun RPP pada mata kuliah microteaching tahun 2014. Variabel dalam penelitian ini adalah kemampuan PJKR. Mahasiswa FIK UNY mempersiapkan RPP dalam microteaching tahun 2014.
Deskripsi Data Penelitian secara Keseluruhan
738 Berdasarkan tabel dan gambar di atas diketahui bahwa kemampuan mahasiswa PJKR FIK UNY dalam menyusun RPP Micro Teaching 2014 secara keseluruhan adalah sebagai berikut: 58,4% diantaranya mendapat nilai A, 'Nilai A sebesar 23,5% , nilai B+.
Deskripsi Data Faktor Identitas Mata Pelajaran
Deskripsi hasil penelitian kemampuan mahasiswa PJKR FIK UNY dalam menyusun RPP pada faktor pembelajaran mikro merumuskan indikator. Jika hasil penelitian mengenai kemampuan mahasiswa PJKR FIK UNY dalam menyusun RPP Micro Teaching 2014 maka faktor rumusan indikatornya dapat dilihat dalam bentuk diagram pada gambar di bawah ini.
Deskripsi Data Faktor Perumusan Tujuan Pembelajaran
Jika terlihat hasil penelitian mengenai kemampuan mahasiswa PJKR FIK UNY dalam menyusun RPP Micro Teaching 2014, maka faktor-faktor dalam merumuskan tujuan pembelajaran dapat digambarkan pada gambar di bawah ini.
Deskripsi Data Faktor Pemilihan Materi Ajar
Deskripsi hasil penelitian kemampuan mahasiswa PJKR FIK UNY dalam menyusun RPP pada faktor mikro pengajaran pemilihan sumber belajar Nilai Persentase Frekuensi. Deskripsi hasil penelitian kemampuan mahasiswa PJKR FIK UNY dalam menyusun RPP pada faktor microteaching dan media pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian mengenai kemampuan mahasiswa PJKR FIK UNY dalam penyusunan RPP Mikro Ajar Tahun 2014, faktor media pembelajaran dapat ditampilkan dalam bentuk diagram pada gambar di bawah ini.
Deskripsi Data Faktor Model Pembelajaran
Deskripsi Data Faktor Skenario Pembelajaran
Deskripsi Data Faktor Penilaian
Siswa PJKR yang mengikuti mata kuliah Mikro Mengajar tahun 2014 diharapkan mampu menyusun RPP sesuai kebutuhan sekolah yaitu berdasarkan kurikulum 2013. Berdasarkan hasil tersebut, keterampilan siswa PJKR dalam menyusun RPP cukup baik. untuk pengajaran mikro, karena 75% mencapai nilai di atas A-. Penguatan kompetensi pedagogik dalam hal pengetahuan dan keterampilan menyusun RPP sesuai kurikulum 2013 pada mata kuliah sebelum melaksanakan mata kuliah mikro pendidikan pada semester enam.
Pendahuluan
Efektivitas Menggunakan Asesmen Alternatif Berbasis Masalah untuk Pembentukan Karakter Berpikir Kritis
Hasil penelitian ini merangkum hasil belajar yang diperoleh selama proses pembelajaran dan perolehan produk kurikulum berbasis masalah dalam bentuk statistik deskriptif mean sebagai berikut. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa penilaian alternatif yang digunakan dalam pendidikan konsumen berbasis masalah dilihat dari proses pembelajaran menunjukkan bahwa 94% siswa mencapai nilai rata-rata di atas 75 yang merupakan kompetensi minimal. batasnya, dilihat dari konversi hasil pendidikan tinggi untuk mencapai nilai B (71 – 75). Dilihat dari hasil yang diperoleh pada kegiatan pembelajaran berbasis masalah dalam produksi dokumen berbasis kasus, nampaknya pencapaian berpikir kritis siswa efektif melalui penggunaan penilaian alternatif.
Jika dilihat dari hasil posttest siswa menunjukkan bahwa 94% siswa memperoleh nilai di atas 75 yang merupakan batas atas nilai B. Jika dilihat dari pencapaian nilai rata-rata akhir (NA) secara keseluruhan. ) dari proses kegiatan dan produk juga menunjukkan bahwa 94% siswa mencapai skor di atas 75, yang merupakan gabungan dari skor rata-rata dari kegiatan diskusi, presentasi lisan makalah dan penilaian teman sejawat terhadap kegiatan, skor prestasi dan pasca- skor ujian.
Pendapat Mahasiswa Terhadap Penggunaan Asesmen Alternatif pada Pembelajaran Pendidikan Konsumen Berbasis Masalah
Ketersediaan media pembelajaran yang tepat diharapkan dapat lebih mempercepat dan meningkatkan penguasaan kosakata benda pada siswa tunarungu. Secara umum media gambar dapat digunakan untuk belajar menguasai kosakata kata benda dengan kategori sedang. Persentase yang mencapai kategori baik pada kemampuan mengucapkan kata benda dengan artikulasi yang tepat dan jelas mencapai 58,33.
Jenis kosakata yang berbentuk kata benda lebih mudah dipahami oleh anak tunarungu karena objeknya lebih nyata. Oleh karena itu, materi yang mengandung kosa kata bertipe kata benda sebaiknya diberikan terlebih dahulu sebelum kata abstrak (Marcharks, 2001). Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas media visual sebagai media pembelajaran kosakata benda bagi anak tunarungu.
Guru mengembangkan metode experiential learning dengan menggunakan media gambar untuk mengukur penguasaan kosakata benda siswa. Konsep ini meliputi kemampuan mengidentifikasi gambar, kemampuan menulis nama sesuai gambar, pengenalan ucapan dengan menggunakan media tulis, mengucapkan nama sesuai media gambar yang ada, dan mengucapkan nama dengan artikulasi yang akurat dan jelas. Persentase pencapaian kategori baik pada kemampuan melafalkan nama dengan artikulasi yang akurat dan jelas mencapai 58,33%, kategori sedang sebesar 25% dan sisanya berada pada kategori kurang.
Persentase yang mencapai kategori baik pada kemampuan menulis kata benda dengan mengidentifikasi gambar mencapai 8,33%, kategori sedang sebesar 66,67% dan sisanya berada pada kategori kurang. Persentase yang mencapai kategori baik pada kemampuan penerapan kata benda dalam kalimat sebesar 16,67%, sedang sebesar 66,67% dan sisanya berada pada kategori kurang baik. 858 Berdasarkan temuan di atas menunjukkan bahwa media visual secara umum dapat digunakan untuk mengajarkan penguasaan kosakata kata benda pada kategori sedang.
Keberhasilan Program
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas, minat belajar dan hasil belajar Sosiologi dengan menggunakan software studio media otomatis pada kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Banguntapan tahun pelajaran 2013/2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan software Autoplay Media Studio dapat meningkatkan kreativitas, minat belajar dan hasil belajar Sosiologi. 880 Untuk mengatasi permasalahan di atas, perlu dilakukan upaya peningkatan kreativitas, minat belajar dan hasil belajar Sosiologi dengan menggunakan perangkat pengajaran yang tepat guna.
Dengan desain pembelajaran berbasis komputer yang interaktif akan mampu meningkatkan kreativitas, minat belajar dan hasil belajar sosiologi siswa. 882 Rumusan masalah penelitian ini adalah: Bagaimana cara meningkatkan kreativitas, minat belajar, dan hasil belajar sosiologi dengan menggunakan software media studio autoplay? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kreativitas, minat belajar, dan hasil belajar sosiologi melalui penggunaan media software autoplay studio.
Dalam penelitian ini proses pembelajaran yang dimaksud adalah bagaimana proses kreativitas, minat belajar dan hasil belajar sosiologi dapat ditingkatkan dengan menggunakan media autoplay belajar. Terdapat beberapa indikator keberhasilan yang dapat digunakan untuk menilai apakah software autoplay media pembelajaran dapat meningkatkan kreativitas, minat belajar, dan hasil belajar sosiologi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti bermaksud memberikan saran kepada pembaca mengenai penerapan peningkatan kreativitas, minat belajar dan hasil belajar sosiologi menggunakan software Autoplay Media Studio pada kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Banguntapan pada tahun pelajaran 2013/2014.
Software studio media autoplay dapat menjadi alternatif pembelajaran yang bervariasi, sehingga dapat meningkatkan kreativitas, minat belajar siswa dan hasil belajar.
Konstruksi Nasionalisme Generasi Muda di Surabaya
Peneliti menyajikan data deskriptif mengenai Pemetaan konstruksi nasionalisme generasi muda di Surabaya; (3) Penarikan kesimpulan dilakukan sebagai langkah akhir yang merupakan makna dari data yang dikumpulkan. Meski sebagian (41,55%) generasi muda sudah tidak lagi mempunyai prasangka buruk terhadap suku dan agama lain, namun selebihnya prasangka tersebut masih ada. Sikap dan tindakan yang belum sepenuhnya diterima oleh suku dan agama lain juga terlihat dari primordialisme generasi muda dalam menentukan kepala negara dan kepala daerah.
Mayoritas (54,37%) generasi muda masih mempunyai sikap primitif dalam menentukan pilihan presiden suatu negara dan daerah. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa seluruh generasi muda kita tidak bisa menerima perbedaan, terutama perbedaan agama dan partai politik. Yang dimaksud dengan kemandirian dalam konteks ini adalah kebebasan yang dilakukan oleh generasi muda sehubungan dengan hak dan kewajiban generasi muda.
Rendahnya nasionalisme generasi muda khususnya pelajar juga terlihat dari sikap mereka dalam mengikuti upacara bendera. Padahal, jika dicermati, ada sebagian anak muda, bahkan pelajar, yang belum hafal lagu Indonesia Raya. Seluruh peserta didik sebagai generasi muda yang merupakan tulang punggung bangsa dan negara, tidak selalu berpikir dan berupaya mengembangkan kreativitas demi kemajuan bangsa dan negara.
Model Pembelajaran IPS SMP untuk membangun konstruksi nasionalisme generasi muda di Surabaya yang sudah berjalan.
Model Pembelajaran IPS SMP untuk membangun konstruksi Nasionalisme generasi muda di Surabaya yang telah Berjalan
Kesembilan, dokumen RPP yang digunakan oleh guru IPS tidak secara implisit maupun eksplisit menunjukkan upaya yang dilakukan guru dalam membangun konstruksi nasionalisme generasi muda di kota Surabaya. Memperhatikan pelaksanaan pengembangan model pengajaran ini, maka pada masa transisi kebijakan penggunaan kurikulum dari KTSP 2006 ke Penerapan Kurikulum 2013, dilakukan pengembangan perangkat pengajaran IPS untuk membangun konstruksi pembelajaran. Nasionalisme generasi baru akan disusun berdasarkan Kompetensi Dasar dan Kompetensi Dasar yang mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 909 Pengembangan lebih lanjut model pembelajaran IPS untuk mengkonstruksi nasionalisme Konstruknya mengacu pada model pembelajaran Dick & Carey.
Dalam kaitan ini, generasi muda memberikan jawaban 'hampir tidak pernah' terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan mengenai disiplin, aturan, dan kepekaan terhadap orang lain. Berdasarkan hasil analisis indikator variabel yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembangunan nasionalisme generasi muda di Surabaya masih perlu mendapat perhatian serius. Oleh karena itu, upaya membangun nasionalisme harus terus dilakukan, terutama melalui pengajaran di sekolah.
911 proses dan final; (9) Dokumen RPP yang digunakan oleh guru IPS belum secara implisit maupun eksplisit menunjukkan upaya guru dalam membangun konstruksi nasionalisme generasi muda di kota Surabaya. Selanjutnya berkenaan dengan pengembangan model pembelajaran IPS untuk membangun konstruk nasionalisme, diputuskan tidak mengacu pada KTSP 2006, melainkan fokus pada kurikulum 2013. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan pembelajaran yang dihasilkan. Model ini dapat digunakan di sekolah-sekolah, sehingga diharapkan lebih bermanfaat dalam membangun konstruksi nasionalisme generasi muda di Surabaya.
Namun dalam pengembangan alat ini disiapkan model alat pembelajaran untuk membangun konstruk nasionalisme per nilai.
Saran
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran PAI dengan pendekatan Social-Emotional Learning (SEL) dan mengetahui keefektifan model pembelajaran Pendidikan Agama Islam (SPI) dengan pendekatan Social-Emotional Learning (SEL) dalam pembelajaran. membentuk karakter dan akhlak mulia siswa sekolah dasar di Yogyakarta. Namun setelah dilakukan pengujian pelaksanaan pembelajaran PAI melalui pendekatan Social-Emotional Learning (SEL), diperoleh hasil uji perbandingan tingkat kecerdasan emosional dan sosial yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kecerdasan emosional dan sosial antara siswa. tidak. di SD Negeri Brajan dan SD Muhammad Sukonandi. Hal ini membuktikan bahwa pelaksanaan pembelajaran PAI dengan pendekatan Social-Emotional Learning (SEL) efektif dapat mengubah karakter dan perilaku moral siswa.
Untuk saat ini proses pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah dasar diajarkan secara lisan dengan pendekatan doktrinal. Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi model pengajaran pendidikan agama Islam (PAI) dengan pendekatan social-emotional learning (SEL) dan untuk menguji keefektifan model pengajaran PAI dengan pendekatan social-emotional learning (SEL). Pendekatan SEL dalam membentuk karakter dan akhlak mulia siswa sekolah dasar. Selain itu juga menjadi acuan bagi guru PAI dalam memberikan pembelajaran PAI dengan pendekatan SEL untuk membangun karakter dan akhlak mulia siswa sekolah dasar.
Jika hasil uji t menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dan terdapat peningkatan yang signifikan pada perilaku subjek, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran PAI dengan pendekatan SEL pada pendidikan karakter dan akhlak mulia dinyatakan efektif dan cocok untuk digunakan. aplikasi ke sekolah lain. Seluruh model pembelajaran dari teori konstruktivis sangat cocok diterapkan pada pembelajaran dengan pendekatan SEL, antara lain: (1) Small Group Discussion (SGD), (2) Role Play and Simulasi (RPS), (3) Case Study (CS). , (4) Discovery Learning (DL), (5) Self Directed Learning (SDL), (6) Cooperative Learning (CL), (7) Collaborative Learning (CbL), (8) Contextual Learning (CL), (9 ) Pembelajaran berbasis proyek (PjBL), (10) Pembelajaran berbasis masalah (PBL), (11) Pembelajaran berbasis inkuiri (IL). Nilai-nilai aspirasi tersebut merupakan nilai-nilai baik yang menunjang terbentuknya akhlak dan akhlak mulia.
Mengembangkan bahan ajar dengan pendekatan holistik yaitu perpaduan materi PAI dengan nilai-nilai luhur agar dapat diinternalisasikan dan diamalkan sehingga menjadi kebiasaan positif bagi siswa.