• Tidak ada hasil yang ditemukan

Biografi Sebungkus Nasi

N/A
N/A
Nur Widodo

Academic year: 2024

Membagikan "Biografi Sebungkus Nasi "

Copied!
178
0
0

Teks penuh

(1)

Biografi Sebungkus Nasi (1)

SEBUNGKUS nasi, yang tersembunyi di dalam kantung plastik hitam, menjerit kecil digencet tubuh para demonstran yang roboh bertindihan di aspal jalanan. Peluru-peluru berdesingan menyusul serentetan suara tembakan yang membelah udara sore kota Jakarta.

“Awas nasinya, jangan sampai tergencet!’’ teriak seorang gadis kepada lelaki di depannya. Dalam posisi tiarap, ia sedikit mengangkat kepalanya. Sebutir peluru tiba-tiba mendesing, nyaris menyambar telinganya, dan sang gadis langsung menyembunyikan kepalanya di antara kedua lengannya.

Si lelaki, berjaket kuning kumal, sambil tetap bertiarap, menyelamatkan sebungkus nasi itu dari gencetan tubuh kawan- kawannya, lantas mengangkatnya tinggi-tinggi dengan tangan kanannya. Tapi, sebutir peluru karet menyambar tangannya, sehingga bungkusan itu terpental ke tengah jalan raya. Dan, tragis sekali!

Sepatu-sepatu tentara yang tebal dan berat menginjak bungkusan nasi itu, diikuti ratusan kaki demonstran yang cerai berai dirangsek satu resimen pasukan anti huru hara.

Sang gadis -- yang tangan kirinya kini diseret oleh seorang tentara -- sambil menunjuk-nunjuk kantung plastik hitam berisi sebungkus nasi itu pun berteriak keras, ''Nasi saya, Pak! Tolong nasi saya! Ada yang hampir mati kena sakit mag. Harus segera diberi nasi dan obat. Jika tidak, bisa mati!''. Tapi sang tentara tidak peduli dan terus menyeretnya tanpa ampun.

(2)

Dalam kepanikan, sang gadis sempat melihat, kawannya yang berjaket kuning kumal tadi, digebuk berkali-kali dengan pentungan karet oleh dua tentara hingga terkapar, lalu dilempar ke dalam truk militer. Khawatir akan bernasib serupa, ia buru-buru berkata,

“Lepaskan saya, Pak! Saya bukan demonstran! Saya anggota PMI.

Lihat, ini di lengan saya ada tanda palang merah!''

''Nggak bilang dari tadi!?! Diseret ikut aja! Memangnya enak ya diseret tentara? Capek nih, menyeret-nyeret kamu! Brengsek!'' tentara itu melepas tangan sang gadis, sambil mengomel dan mendorong gadis itu agak keras, menjauh. ''Ambil tuh nasi kamu, udah jadi bubur diinjak-injak demonstran!''

Gadis itu sempoyongan, hampir terjatuh, menabrak serdadu yang lain, yang langsung memelototinya, dan menodongkan senapan otomatis padanya. Khawatir akan diseret lagi seperti tadi, gadis itu langsung meminta maaf sambil membungkuk-bungkuk. ''Maaf, maaf, Pak, tidak sengaja. Saya bukan demonstran. Saya anggota PMI, mau menolong yang terluka!''

''Kopral, biarkan monyet jelek itu pergi!'' teriak tentara yang tadi menyeret gadis itu. Tampaknya ia salah seorang komandan lapangan.

Sebenarnya, jengkel juga hati sang gadis dikatakan monyet jelek. Tapi, toh takkan ada gunanya kalau ia balik mengata-ngatainya.

(3)

Tentara yang tertabrak tadi menghentikan todongan senjatanya, dan terus melangkah lurus ke depan, ke arah para demonstran yang berhasil menjebol barikade aparat keamanan dan berlari ke arah gedung MPR, tanpa mempedulikan gadis itu, bagai robot-robot yang digerakkan oleh mesin otomatis yang dikendalikan dari jauh dengan remote controle.

Sang gadis lantas berjalan tertatih-tatih melawan arus massa.

Matanya jelalatan mencari-cari sebungkus nasi dalam kantung plastik hitam tadi. Jalannya agak terpincang-pincang, mungkin telapak kakinya yang terbungkus sepatu cat hitam lecet, atau pergelangan kakinya terseleo. Berkali-kali ia hampir menabrak arus massa, polisi dan tentara. Ia buru-buru menyelamatkan diri ke tepi, dengan mata tetap mencari-cari sebungkus nasi dalam kantung plastik hitam tadi.

Di tengah situasi kacau balau seperti itu sebungkus nasi memang menjadi barang langka. Nasi itu ia beli dengan susah payah, dan itu adalah stok terakhir dari warung tenda di depan stasiun TVRI Pusat.

Sementara peluhun penjaja nasi lain sudah kehabisan stok, atau sengaja menutup warungnya karena khawatir akan terjadi kerusuhan.

Karena itu, sang gadis berusaha keras untuk menemukan kembali kantung plastik hitam berisi sebungkus nasi tadi.

Setelah berusaha keras sekitar seperempat jam, ia temukan juga kantung plastik hitam itu, persis di bawah jembatan layang Taman Ria Senayan. Bungkusannya sudah gepeng, entah sudah diinjak oleh berapa ratus sepatu. Ia bermaksud mengambilnya, tapi sepeleton tentara bergerak cepat melewati jalan tempat nasi itu tergeletak. ''Ya

(4)

Ampuuun!'' teriak gadis itu sambil melongo dan mengusap dadanya, ketika melihat puluhan sepatu militer bergedebum menginjak-injak sebungkus nasi di dalam kantung plastik hitam itu.

Biografi Sebungkus Nasi

Selewat tragedi kecil tersebut, gadis yang di dadanya tertempel nama Hesti Marhastuti itu buru-buru berlari kecil ke tengah jalan dan memungut kantung plastik hitam berisi sebungkus nasi itu. Begitu kembali ke pinggir jalan, ia memeriksa isi kantung itu, ingin memastikan apa yang terjadi dengan nasinya. Ia terbelalak, bungkusan nasi itu telah benar-benar gepeng seperti dilindas buldoser. Tapi, ajaibnya, kertas pembungkusnya sama sekali tidak robek. Begitu juga kantung plastik hitam yang melindunginya.

Gadis itu tampak penasaran. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan nasi dan lauk-pauknya. Ia letakkan bungkusan gepeng itu di bibir pot bunga di tepi jalan. Dan, sambil duduk di bibir pot, pelan-pelan ia melepaskan karet pengikat bungkusan nasi itu. Dengan hati-hati pula ia membukanya, seperti seorang penjinak bom sedang melepas kabel-kabel bom waktu, seakan khawatir bungkusan itu akan meledak. Dan, begitu bungkusan tersebut terbuka, gadis itu lebih terbelalak lagi melihat telur rebusnya remuk, tahunya ringsek, sayur lodehnya lumat bersama sambal dan nasi. Benar kata tentara tadi, nasi itu telah menjadi bubur.

(5)

Sambil menyusupkan jari-jari tangan kirinya ke celah-celah rambut pendek di kepalanya, sang gadis memelototi nasi yang telah menjadi bubur itu. Pikirannya pun melayang kepada Dirwan, seorang pengunjuk rasa yang terkapar di salah satu sudut gedung MPR karena digerogoti sakit mag yang parah. ''Dirwan harus segera makan nasi dan obat agar sembuh. Nasi ini harus segera sampai padanya,'' gumamnya.

Ia lantas memeriksa bagian demi bagian nasi yang dibelinya di warung tenda di depan gedung TVRI Pusat itu, barangkali ada kotoran yang masuk. Setelah yakin seratus persen bersih -- yakin nasi itu belum tercemar kotoran sepatu tentara -- ia membungkusnya lagi, dan memasukkannya ke dalam kantung plastik hitam.

Gadis itu lantas berlari tertatih-tatih ke arah para tentara pergi memburu para demonstran. Tepatnya ke arah gedung MPR. Tapi, sebuah barikade berlapis, PHH, dan pasukan Kostrad, menghadangnya tidak jauh dari pintu masuk gedung MPR. Tampak pula beberapa Panser, mobil pemadam kebakaran, dan truk-truk militer yang hidungnya dilengkapi perisai berlapis kawat berduri.

(6)

Gadis itu tampak keder dan ragu-ragu, bagaimana bisa menembus barikade yang luar biasa ketat tersebut. Pikirannya kembali melayang kepada Dirwan, yang pasti sedang menunggunya dengan cemas sambil sesekali mengerang kesakitan. Tidak hanya obat anti mag yang harus disuapkan ke mulutnya, tapi juga sebungkus nasi, roti, atau apapun, yang dapat mengisi lambungnya yang kosong. “Jangan- jangan ia sudah pingsan,” pikirnya.

***

SUDAH tiga hari Dirwan menginap di gedung MPR, ikut meneriakkan reformasi untuk menumbangkan rezim otoriter yang korup. Dan, saking bersemangatnya, ia lupa makan dan magnya pun kambuh.

Sialnya, saat magnya kumat, perbekalan kelompoknya habis dan suplai makanan dari LSM terlambat. Maka, tergeletaklah ia sambil sesekali mengerang-ngerang kesakitan. ''Tolong, carikan aku nasi dan obat mag. Jika tidak, aku bisa mati,'' rintih Dirwan sambil memegangi perutnya.

“Tenanglah, Dirwan. Aku berjanji segera kembali dengan nasi dan obat mag untukmu,” kata sang gadis ketika itu, mencoba menenangkan kegelisahan sang demonstran.

(7)

Ingat janji dan penderitaan sahabatnya itu, semangat gadis anggota PMI itu berkobar lagi. Ia mencoba mendekati seorang komandan PHH yang tadi ikut menyeretnya, dan minta agar diijinkan masuk ke komplek gedung MPR. ''Saya anggota PMI yang tadi, Pak. Lihat ini tandanya! Ada seseorang yang harus segera ditolong di dalam!

Mohon saya diperbolehkan masuk!'' katanya.

''Mau anggota PMI, mau anggota PMA, siapapun tak boleh masuk!

Cepat menyingkir dari sini! Atau pengen diseret lagi kayak tadi?!'' jawab sang tentara, ketus.

''Aduh, kasihan kawan saya, Pak! Kalau tidak segera ditolong, dia bisa mati! Boleh ya, Pak, saya masuk?'' gadis itu merajuk lagi.

''Sudah saya katakan, siapapun tak boleh masuk! Cepat menjauh dari sini! Atau mau kutembak?'' kali ini sang tentara menodongkan senapan otomatis ke jidat sang gadis. Ia tidak tahu, isi senapan itu peluru karet atau peluru beneran. Sepintas ia ingat, sering ada demonstran yang terkena peluru beneran. ''Kalaupun isi senapan itu peluru karet, bisa benjol juga jidatku kena tembak dari jarak dekat begini,'' pikirnya.

(8)

Sang gadis keder juga mengingat itu. Ia tidak ingin mati konyol terkena peluru tentara, atau pingsan dengan jidat benjol. Ia pun terpaksa mundur, agak menjauh dari barikade itu. Ia mencari akal, menunggu kesempatan, untuk dapat masuk secara paksa. Tiba-tiba muncul arak-arakan mahasiswa dari arah Semanggi, bukan hanya ratusan, tapi ribuan. Naga-naganya mereka akan merangsek masuk ke gedung MPR. Ada kabar beredar, malam itu ribuan mahasiswa akan menguasai gedung wakil rakyat. ''Wah, bakal seru,'' pikir sang gadis. Ia melihat ada kesempatan untuk ikut merangsek masuk.

Betul juga dugaan sang gadis. Meskipun sudah diperingatkan melalui pengeras suara agar tidak mendekat, barisan ribuan demonstran itu terus merangsek barikade tentara. Bentrok antara aparat keamanan dan demonstran pun tak bisa dihindari lagi. Bunyi senapan otomatis berletusan dari aparat, dibalas hujan batu dari para demonstran. Gas air mata berkali-kali ditembakkan. Air dari mobil pemadam kebakaran pun disemprot-semprotkan ke barisan mahasiswa. Mereka kocar-kacir. Ada yang tiarap. Ada yang ambil langkah seribu. Ada yang terjungkal kena peluru. Ada yang kena pentung bertubi-tubi, meskipun sudah berteriak-teriak minta ampun. Tapi, banyak juga yang berhasil lolos masuk ke komplek gedung MPR.

Gadis itu memanfaatkan kesempatan untuk ikut lolos ke dalam.

Bersama mahasiswa ia berlari menembus barikade tentara. Tapi, belum sampai melewati pintu gerbang komplek gedung MPR, kaki tentara bersepatu kulit tebal menjegal kakinya, dan pentungan karet

(9)

bertubi-tubi memukul punggungnya. Ia jatuh terguling dan bungkusan nasi di dalam kantung plastik hitam di tangannya terpental lagi ke jalan raya. Kali ini, giliran tubuhnya yang terinjak- injak sepattu tentara dan ratusan kaki mahasiswa yang berlarian tak tentu arah, dalam kepulan gas air mata dan terpaan air dari mobil pemadam kebakaran.

Berkali-kali ia mencoba bangkit, tapi berkali-kali kembali terguling karena diterjang orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri.

Akhirnya ia hanya bisa melindungi kepalanya dengan kedua lengannya, kemudian memejamkan matanya. Dan, yang terakhir ia ingat adalah puluhan sepatu tentara menginjan-injak perut dan dadanya yang kerempeng, lalu ribuan kunang-kunang menari di matanya, dan gegelapan total memerangkap kesadarannya.

***

TIDAK jelas, berapa jam gadis itu pingsan. Ketika kesadarannya pulih kembali, hari sudah gelap. Bentrok antara aparat dan demonstran telah reda. Suasana jalan di depan komplek gedung MPR pun sudah agak lengang. Namun, yang pertama-tama ia ingat adalah sebungkus nasi di dalam kantung plastik hitam dan wajah cemas Dirwan yang menunggunya di salah satu sudut gedung MPR. Maka, dengan matanya ia mencoba menemukan kembali nasi bungkusnya itu. Dan,

(10)

sekitar lima meter dari tempatnya terbaring, dalam terpaan cahaya lampu merkuri, tampak bayang-bayang kantung plastik hitam yang kedua ujungnya melambai-lambai diterpa angin. “Itu pasti nasiku,”

gumamnya.

Saat itulah, di depan sang gadis tersaji pemandangan yang cukup dramatis. Kantung plastik hitam itu tergeletak di tengah jalan raya, persis di depan gerbang masuk ke komplek gedung MPR. Sementara, di latar belakang kantung plastik itu, tepatnya di pintu gerbang tersebut, tampak puluhan tentara berderet dalam dua lapis. Dua panser dan satu mobil pemadam kebakaran juga tampak siaga di kanan kiri gerbang.

Di tengah suasana jalan yang sudah lengang dari hiruk pikuk demonstrasi, sebungkus nasi di dalam kantung plastik hitam itu seperti menjadi aktor yang sangat penting. Seakan, hanya untuk mengawasi sebungkus nasi itulah puluhan tentara bersiaga di pintu gerbang, agar sang nasi tidak dapat menyusup masuk ke komplek gedung MPR. Hesti membayangkan, seandainya ia nekat merangkak untuk mengambil nasi itu, mungkin akan disambut berondongan tembakan, lemparan bom gas air mata, atau semprotan air dari mobil pemadam kebakaran.

(11)

Dalam perasaan kecut, hesti tiba-tiba seperti mendengar rintihan parau, “Hesti, kenapa kamu lama sekali. Aku sudah sekarat. Rasanya sebentar lagi akan mati.” Ia yakin, itu suara Dirwan yang makin cemas menunggunya dengan lambung nyeri, tubuh menggigil, dan keringat dingin bercucuran.

Demi mendengar suara itu sang gadis mencoba untuk bangkit. Tapi, ia merasa tidak punya sisa kekuatan lagi, bahkan hanya untuk mengangkat kepalanya sekalipun. Seluruh tubuhnya – yang basah kuyup terkena air dari mobil pemadam kebakaran – terasa pegal dan nyeri. Dan, rasa yang paling nyeri ada di bawah dada dan kemaluannya. Mungkin tulang rusuknya patah terinjak sepatu tentara. Tapi, apa penyebab rasa nyeri pada kemaluannya? Ia tidak tahu, dan hanya bisa bergidik memikirkannya.

Dengan sisa-sisa tenaganya, ia meraba rasa nyeri di bawah dadanya.

Ia yakin, satu atau dua tulang rusuknya patah akibat terinjak sepatu tentara. Ketika ia menekan rusuknya, rasa nyeri makin menjadi-jadi dan ini membuatnya merintih kesakitan. Ia kemudian memberanikan diri meraba kemaluannya yang masih dibungkus celana panjang putih seragam PMI. Ia terkejut meraba ada cairan kental keluar menembus celananya. Buru-buru ia menarik jari-jari tangannya, memeriksa dengan matanya, dan menciumnya. “Kemaluanku berdarah!”

batinnya.

(12)

Gadis itu bergidik. Ia khawatir telah menjadi korban perkosaan. Tapi, oleh siapa dan dilakukan di mana? Mungkinkah ia diperkosa di tengah jalan? Biadab sekali jika begitu. Ia jadi curiga, jangan-jangan, ketika pingsan, ia dinaikkan ke dalam mobil oleh seseorang, entah siapa, lalu dibawa ke suatu tempat yang sepi, diperkosa di sana, lalu dibawa lagi ke jalan di depan gedung MPR dan dilempar begitu saja di tepi jalan. Ia merasa ngeri membayangkan apa yang telah menimpanya. Ia lantas menggerakkan tangannya ke belakang punggungnya, untuk memastikan di mana tepatnya kini tubuhnya terbaring. Begitu telapak tangannya menyentuh tembok berlumut, iapun menyadari bahwa tubuhnya kini terbaring meringkuk persis di tepi jalan, di bawah tembok pembatas jalan tol Gatot Subroto.

Dengan tetap meringkuk, ia mengamati situasi di dalam komplek gedung MPR. Komplek wakil rakyat itu kini sudah dipenuhi pengunjuk rasa. Bahkan banyak di antara mereka yang sudah naik sampai ke atap gedung dan mengibar-kibarkan bendera serta merentangkan beberapa spanduk. Namun, dalam kegelapan malam, tidak jelas spanduk-spanduk itu bertuliskan apa. Mungkin sudah ribuan mahasiswa yang berhasil menduduki komplek gedung bundar itu, pikirnya. Tapi, bagaimana nasib Dirwan? Makin cemas saja ia mengingatnya.

Dalam kecemasan dan ketidakberdayaan, gadis itu mulai bertanya- tanya, kenapa tidak ada yang menemukannya, menolongnya, atau mengangkatnya ke mobil tentara. Apakah semua orang sudah tidak peduli lagi pada nasib orang lain? Di mana pula tentara yang tadi

(13)

menendang dan memukulnya? Apakah tentara-tentara yang siaga di pintu gerbang itu juga tidak melihatnya? Apakah semua orang telah menganggapnya sebagai sampah yang pantas dibiarkan teronggok begitu saja di tepi jalan raya, dan cukup menyerahkannya pada petugas kebersihan untuk melemparnya ke truk sampah?

Gadis itu mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya.

Dengan itulah dia ingin menolong dirinya sendiri. Jika orang lain sudah tidak peduli lagi padamu, maka kamulah yang harus menolong dirimu sendiri, batinnya. “Hidup ini keras, Hesti. Karena itu, kamu harus kuat, dan jangan sekali-kali bergantung pada orang lain. Hanya kamulah yang dapat menolong hidupmu sendiri,” kata ayahnya, dua tahun lalu, ketika ia pamit untuk berangkat kuliah di Jakarta.

Apakah Dirwan juga sedang menghadapi ketidakpedulian yang sama?

Jika begitu, siapa yang bisa menolongnya kalau ia benar-benar dalam keadaan sekarat? Ia makin cemas saja. Ia tahu, kata-kata ayahnya memang benar. Tapi ia sadar, tidak tiap saat seseorang dapat menolong dirinya sendiri. Dalam keadaan tertentu nasib seseorang sering tergantung pada pertolongan orang lain. Dan, itulah nasib Dirwan saat ini, juga nasib dirinya, dan itu pula alasannya masuk PMI, agar tiap saat siap menolong orang lain yang membutuhkannya. Tapi, siapa kini yang bakal menolongnya?

(14)

Menyadari dirinya lebih tampak sebagai seonggok sampah dalam gelap malam, maka satu-satunya harapan gadis itu adalah datangnya para petugas kebersihan, seragam kuning yang biasa membersihkan kota Jakarta di tengah malam. Tapi, berapa jam lagi mereka akan datang? Ia tidak tahu, sebab di pergelangan tangannya kini tidak ada jam lagi. Dan, karena itu, ia hanya bisa menunggu sambil menggigil kedinginan, dengan seluruh tubuh pegal dan nyeri. Ia berharap belum pingsan ketika ditemukan, sehingga masih sempat memenuhi janjinya, membawakan sebungkus nasi dan satu kaplet obat mag untuk Dirwan, bagaimanapun keadaan sahabatnya itu kini.

Begitu ditemukan oleh petugas kebersihan, gadis itu langsung minta dipapah masuk ke dalam gedung MPR sambil membawa sebungkus nasi yang tadi tergeletak di tengah jalan. Ia betul-betul ingin membuktikan janjinya kepada sahabatnya itu. Maka, begitu berhasil menerobos masuk ke komplek gedung wakil rakyat itu, ia langsung menuju ruangan tempat Dirwan tadi tergeletak dengan sakit magnya.

Tapi, tidak ada lagi Dirwan di sana. Yang ada hanya beberapa mahasiswa yang sedang sibuk membuat spanduk dan poster.

Hesti ingin sekali bertanya pada mereka di mana Dirwan. Tapi ia keburu pingsan sebelum pertanyaan itu sempat diucapkan. Dan, sebungkus nasi di dalam kantung plastik hitam, yang telah menempuh perjalanan panjang dan berliku, itu akhirnya cuma tergeletak basi di pojok salah satu ruangan gedung wakil rakyat!

(15)

Jakarta, Desember 2001

(16)

Tragedi Para Kepala (2)

Sejak grup dangdut keliling itu mangkal di lapangan ujung selatan Desa Bokongrejo, hampir tiap malam ada warga desa yang kehilangan kepala. Pada malam pertama saja ada sepuluh warga, semua lelaki, yang keluar dari lapangan itu tanpa kepala. Kepala mereka baru ditemukan oleh para Hansip setelah pertunjukan selesai. Tiga kepala ditemukan di atas panggung, tiga kepala di kamar ganti pakaian, dua di kolong panggung, dan dua lainnya terinjak-injak di tengah lapangan. Tubuh-tubuh pemilik kepala itu langsung digiring ke kantor LKMD dan dipaksa untuk memakai kepalanya kembali.

Pertunjukan dangdut itu memang sangat luar biasa dan mampu membuat tiap penonton mabuk kepayang dan lupa pada kepalanya.

Goyangan pinggul para penyanyinya benar-benar sangat dahsyat.

Inilah tampaknya yang membuat penonton dangdut itu semakin padat saja dan semakin banyak yang kehilangan kepalanya. Bahkan, pada tiap puncak acara menjelang berakhirnya pertunjukan, dua penyanyi dangdut tanpa malu-malu melakukan gerakan-gerakan senggama di atas panggung. Penonton pun selalu bersorak gegap gempita menyambut adegan puncak itu.

Pada saat adegan puncak berlangsung itulah banyak penonton yang sudah lupa pada kepalanya dan tanpa sadar melepas kepala masing- masing. Ada yang kemudian melemparkannya tinggi-tinggi sambil

(17)

menjerit histeris. Ada yang melemparkannya ke panggung. Ada yang meletakkannya di ujung kaki penyanyi yang sedang bergoyang. Ada yang menggelindingkannya ke kolong panggung. Ada pula yang menyusupkannya ke kamar ganti pakaian penyanyi.

Setelah melewati puncak gegap gempita itulah kemudian pertunjukan dangdut diakhiri tiap malamnya. Begitu pertunjukan berakhir, orang-orang yang melepas kepalanya pun segera berdesakan mencari kepala masing-masing. Banyak yang berhasil menemukan dan memasangnya kembali. Akan tetapi makin banyak pula yang tidak berhasil menemukannya, atau lupa bahwa mereka telah melepas kepalanya sendiri. Jumlah mereka terus meningkat dan membuat para Hansip semakin kewalahan menanganinya. Komandan Hansip itu sangat khawatir, jangan-jangan banyak di antara tubuh- tubuh yang kehilangan kepala itu lolos dari penjagaan dan keluyuran di kampung-kampung pada siang hari.

"Kita harus memperketat penjagaan!" kata komandan Hansip itu di depan para anak buahnya setelah berhasil menangkap dua puluh lima tubuh tanpa kepala dan mengumpulkan mereka di kantor LKMD.

"Tiap pintu masuk lapangan harus dijaga lima Hansip. Jangan sampai ada satu pun tubuh tanpa kepala yang lepas pulang ke rumahnya, apalagi sampai keluyuran pada siang hari. Kita bisa celaka. Pak Lurah pasti marah. Pertunjukan dangdut itu pasti dibubarkan," tambahnya.

"Pak Komandan, apakah tidak sebaiknya kasus ini kita laporkan saja pada Pak Lurah?" tanya seorang Hansip.

(18)

"Apa kau ingin pertunjukan dangdut itu dibubarkan, dan kita kehilangan upeti yang kita terima tiap malam dari manajer dangdut itu?" Komandan hansip itu malah balik bertanya.

Dan, tiba-tiba pintu kantor terbuka dan sejumlah anggota Hansip memasuki ruangan itu dengan menenteng sejumlah kepala. Mereka langsung meletakkan kepala-kepala itu di atas meja. Melihat kepala- kepala tersebut, beberapa tubuh tanpa kepala di ruangan itu tampak bergetar hebat, seolah sangat ketakutan pada kepalanya sendiri.

"Nah, sekarang kepala-kepala kalian sudah kami temukan. Silakan ambil kepala masing-masing. Jangan sampai ada yang keliru. Kalian harus memasang kepala kalian di sini juga," kata komandan Hansip itu sembari mengisyaratkan tangannya ke arah tumpukan kepala di atas meja.

Serentak tubuh-tubuh tanpa kepala itu berdiri dan berebutan mengambil kepala masing-masing. Yang sudah menemukan kepalanya dan berhasil memasangnya langsung ngeloyor pergi. Akan tetapi ada sembilan orang yang tidak kebagian kepala.

"Kepalaku mana, Pak Hansip?"

"Kepalaku juga tidak ada!"

(19)

"Kepalaku juga!"

"Pasti ada yang ndobel kepala saya!"

"Pasti ada yang memakai dua kepala!"

"Ayo, cepat! Kejar mereka. Yang memakai dua kepala suruh kembali ke sini!" perintah sang komandan Hansip pada anak buahnya.

Para Hansip itu langsung memburu keluar. Mereka semua berhasil dikumpulkan kembali. Ada tiga orang yang memakai dua kepala secara sekaligus; satu kepala menghadap ke depan, satunya lagi menghadap ke belakang. Dua orang lagi ketahuan menenteng kepalanya sendiri, sementara yang dipakai justru kepala orang lain.

Mereka diperintahkan untuk mengembalikan kepala-kepala itu kepada pemiliknya. Tinggal empat tubuh yang tidak kebagian kepala.

"Lho, kalian tadi menaruh kepala di mana. Kami tidak menemukannya," kata komandan.

"Kepala saya tadi saya taruh di kolong panggung, Pak, agar bisa mengintip goyangan penyanyi dangdut dari bawah."

(20)

"Kalau kepala saya tadi, terus terang, saya taruh di ujung kaki penyanyi dangdut itu ketika sedang bergoyang."

"Kepala saya tadi saya taruh di pojok kamar ganti pakaian. Ketika pulang saya lupa mengambilnya."

"Kepala saya juga!"

"Pantas! Otak kalian ternyata mesum semua. Sudah sepantasnya kalian tidak usah memakai kepala lagi. Sekarang kalian tidak boleh pergi. Kalian terpaksa kami tahan di sini sampai kepala kalian ditemukan. Kami akan mencari kepala kalian sampai ketemu."

Belum lagi berhasil menemukan empat kepala yang hilang itu, tiba- tiba para Hansip Desa Bokongrejo dikejutkan oleh suara wanita menjerit-jerit minta tolong. "Tolong! Tolooong! Ada hantu!

Tolooong!" Tampaknya bukan hanya suara seorang wanita saja, tetapi dua atau tiga orang.

"Ada apa itu? Ayo kita ke sana!"

"Kalian di sini saja. Jangan ada yang berani keluar sebelum kepala kalian ditemukan!"

(21)

"Kunci pintunya, agar tubuh-tubuh tanpa kepala itu tidak keluyuran keluar!"

Komandan hansip itu diikuti semua anak buahnya segera berlari ke arah datangnya suara. Tampak tiga wanita berlari terbirit-birit di jalan kampung seperti diburu setan.

"Tenang, tenang, Bu. Ada apa? Mana hantunya?"

"Di rumah saya, Pak!"

"Kamar saya juga dimasuki hantu."

"Kamar saya juga!"

Rupanya tiga wanita yang rumahnya saling berdekatan dan terpencil di tengah persawahan itu sama-sama didatangi hantu. Hansip-hansip itu segera memburu ke dalam rumah ketiganya. Mereka sangat terkejut, menemukan tubuh-tubuh tanpa kepala di dalam rumah mereka. Mereka segera menangkap tiga sosok tubuh tanpa kepala itu.

"Sekarang tenang saja, Bu. Hantu-hantu itu sudah kami tangkap.

Akan kami bawa ke kantor kelurahan," kata komandan Hansip.

(22)

"Sekarang tidurlah dengan tenang. Rumah ibu-ibu akan dijaga tiga orang Hansip. Tidak perlu takut lagi."

Tiga tubuh tanpa kepala itu langsung digiring ke kantor LKMD, dijadikan satu dengan tubuh-tubuh lain yang bernasib sama.

"Kalian juga kehilangan kepala ketika nonton dangdut, ya? Di mana kalian letakkan kepala kalian?" tanya komandan Hansip pada tiga tubuh yang dikira hantu itu.

"Tidak, Pak. Demi Tuhan, saya tidak pernah nonton pertunjukan dangdut itu."

"Saya juga tidak!"

"Saya juga."

"Lalu, di mana kepala kalian?"

"Kami buang ke sungai bersama-sama."

"Lho, kenapa dibuang?"

(23)

"Terus terang, kami merasa percuma punya kepala. Karena otak kami tidak dihargai lagi. Pendapat kami tidak pernah didengar lagi oleh bapak-bapak aparat kelurahan."

"Memangnya kalian ini kenapa? Pendapat yang mana?"

"Tentu Bapak masih ingat. Kami bertiga merupakan warga yang paling menentang diadakannya pertunjukan dangdut itu di lapangan desa.

Karena saya pernah melihat, pertunjukan grup dangdut itu sangat jorok. Tidak pantas untuk dibawa ke kampung kita. Warga kita bisa sakit kepala kalau menyaksikannya. Apalagi, pertunjukan dangdut itu untuk mengumpulkan dana pembangunan tempat-tempat ibadah.

Sangat memalukan, Pak."

Salah satu tubuh tanpa kepala itu bersuara panjang lebar seperti ada tape recorder yang diputar di dalam dadanya. Suara itu keluar melalui lubang lehernya, sementara dua tubuh lainnya mengangguk- angguk seperti mengiyakan kata-kata temannya.

"Terus terang, Pak. Kami sangat prihatin dan tidak tahan lagi menyaksikan dampak tontonan jorok yang melanda hampir seluruh warga desa kita. Yang terjadi tidak hanya demam dangdut saja. Akan tetapi, para remaja kita, penonton terbesar pertunjukan itu, sudah benar-benar mempraktekkan apa yang dilihatnya di panggung dangdut itu. Kalau bapak mau tahu, tiap malam saya melihat anak- anak remaja desa kita dengan begitu bebasnya bermain asmara di balik tanggul sungai di ujung lapangan itu. Mereka benar-benar

(24)

mempraktekkan apa yang dipertontonkan para penyanyi dangdut itu di atas panggung. Bukan hanya main-main. Bapak tentu juga sudah tahu, makin banyak wanita desa kita, bahkan diantaranya masih anak-anak, menjadi korban perkosaan. Kami tidak tahan melihat itu semua. Kami ingin mengeritik. Kami ingin usul, kami ingin protes.

Akan tetapi, aparat desa pasti tidak akan mau mendengar suara kami, karena mereka sudah tidak bisa lagi menghargai kepala kami.

Jawaban Bapak pasti akan sama: kita membutuhkan banyak dana pembangunan melalui pertunjukan itu. Kalau penampilan penyanyinya tidak begitu, tidak akan ditonton orang. Yah, daripada makin pusing dan stress, kami buang saja kepala kami ke sungai.

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu sudah kembali memakai kapala. Agat tidak kebobolan lagi, kesiagaan anak buahnya pun ditingkatkan.

Penjagaan di mana-mana diperketat. Tidak hanya personel Hansip penjaga pintu masuk lapangan yang ditambah. Komandan Hansip juga menyebar anak buahnya ke hotel-hotel, panti-panti pijat, kamar ganti pakaian penyanyi dangdut, dan sepanjang tanggul sungai dekat lapangan desa itu. Selain itu, mereka juga mengawasi semua tempat yang diduga bisa membuat orang melupakan kepalanya.

Rupanya ketenangan itu hanya berlangsung beberapa jam saja.

Karena keesokan harinya mereka digegerkan oleh munculnya siswa- siswa tanpa kepala di sebuah ruang kelas SMU yang terletak di sebelah selatan kantor LKMD. Tanpa diketahui asal usulnya, puluhan siswa tanpa kepala itu tiba-tiba saja sudah memenuhi satu ruang kelas yang terletak di sebelah kantor kepala sekolah. Seorang guru wanita yang akan mengajar di kelas itu hampir shock begitu membuka pintu kelas tersebut. Ia langsung lari terbirit-birit masuk

(25)

ruang kepala sekolah. Kepala sekolah itu juga hampir pingsan ketika melongok ke dalam ruang kelas untuk mengecek kebenaran cerita guru tersebut. Aparat keamanan desa segera dipanggil. Kepala sekolah juga menugaskan seorang guru untuk melaporkan kasus tersebut kepada lurah desa.

Lurah Desa Bokongrejo beserta seluruh aparatnya segera tiba di kompleks sekolah menengah atas itu. Mereka bersama pimpinan SMU itu segera memasuki kelas yang aneh tersebut. Tubuh-tubuh tanpa kepala yang duduk rapi di kursi-kursi kelas itu mengangguk- angguk seolah menyambut kedatangan mereka.

"Kalian ini siapa?" tanya kepala sekolah pada tubuh-tubuh tanpa kepala itu.

"Lho, kami semua siswa Bapak. Kenapa Bapak pangling?" sesosok tubuh tanpa kepala yang duduk di deretan paling depan mengeluarkan suara.

"Akan tetapi, kenapa kalian hari ini datang ke sekolah tanpa kepala?

Dimana kepala kalian?"

"Kepala kami sebagian ada yang hilang di arena dangdut, Pak."

(26)

"Kalau kepala saya cuma saya tinggal di rumah, Pak. Lagi bosan pakai kepala."

"Mau tahu di mana kepala saya, Pak? Saya simpan di gudang. Soalnya malu. Gigi saya prongos!"

"Saya juga."

"Kepala bapak-bapak dicopot sekalian saja. Enak, kok, tidak pakai kepala!"

"Diam!! Kalian ini bagaimana?! Kepala di buat main-main!" Kepala sekolah tiba-tiba membentak mereka sambil menggebrak meja.

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu pun serentak diam. "Apa kalian anggap, kalian bisa hidup terus tanpa kepala. Apa kalian bisa sukses tanpa kepala? Kalian ini calon-calon penerus perjuangan bangsa, tahu! Bagaimana nasib bangsa kita ini kalau diurus oleh orang-orang tanpa kepala seperti kalian!"

"Benar kata Bapak Kepala Sekolah. Kalian sangat dibutuhkan untuk meneruskan cita-cita perjuangan kami, cita-cita luhur generasi tua seperti saya ini," Lurah Desa itu ikut menimpali. "Untuk itu kalian harus tetap punya kepala. Kalian tidak bisa membuang kepala begitu saja, apalagi dengan alasan yang sepele atau tidak masuk akal."

(27)

"Kalian ini memang ada-ada saja. Ayo cepat, cari dan pasang kembali kepala kalian!" Kepala sekolah membentak lagi. Tampaknya ia sangat marah. "Kalian menyusahkan saja!"

"Jangan cepat marah dulu, Pak. Dijamin, kami masih punya kepala yang sehat," sosok tubuh yang duduk di deretan paling depan kembali mengeluarkan suara. Tampaknya sosok inilah yang mengatur ulah teman-temannya. "Ayo, teman-teman, sekarang kita tunjukkan kepala kita masing-masing!"

Secara serentak mereka meletakkan telapak tangan di ujung leher mereka masing-masing, lalu menariknya ke atas," Plass!" kepala siswa itu pun menyembul bersama-sama. Tampaknya mereka hanya memakai kerudung yang di buat persis seperti bagian atas tubuh manusia yang terpenggal kepalanya. Para siswa itu lantas nyengir pada para tamunya.

"Diamput! Kalian ini macam-macam saja. Masak, orang-orang tua dipermainkan!" komandan Hansip yang sejak tadi diam saja tiba-tiba saja meledak setelah merasa dikerjai oleh anak-anak itu.

"Apa sebenarnya mau kalian?" tanya kepala sekolah kemudian.

"Kami memang bermaksud protes, Pak, protes kepada Bapak Kepala Sekolah, juga Pak Lurah," jawab ketua kelas yang rupanya memang telah mengatur ulah teman-temannya. "Kepada Bapak Kepala

(28)

Sekolah kami memprotes cara mengajar yang diterapkan para guru di sekolah ini. Kami tidak mau kalau terus-terusan dipaksa untuk selalu menerima apa saja yang dikatakan oleh guru-guru kami, karena sebenarnya banyak yang tidak sesuai dengan pendapat kami. Kami tidak mau lagi kalau kepala kami hanya dianggap sebagai tong sampah bagi semua ilmu yang diberikan para guru. Kami ingin diberi kesempatan untuk mengembangkan dan mengemukakan pendapat kami sendiri. Kami ingin diberi kebebasan untuk berpikir kreatif sesuai dengan aspirasi kami sebagai anak muda. Sedangkan kepada Pak Lurah, kami protes agar pertunjukan dangdut di lapangan desa kita itu dibubarkan saja. Itu sama sekali tidak ada gunanya, bahkan cenderung merusak moral teman-teman kami, karena goyang penyanyinya terlalu jorok. Dua tetangga saya bahkan diketahui telah hamil sebelum nikah gara-gara sering nonton dangdut itu bersama pacarnya. Di samping itu, makin banyak pula warga desa kita yang kehilangan kepalanya gara-gara nonton pertunjukan dangdut itu."

"Cerita anak-anak memang benar, Pak Lurah. Bahkan, tetangga sebelah rumah saya sampai sekarang belum berhasil menemukan kepalanya," kata kepala sekolah mendukung usulan siswa-siswanya.

"Kalau begitu, baiklah anak-anakku. Soal cara mengajar guru-guru kalian, selesaikanlah secara baik-baik dengan Bapak Kepala Sekolah.

Sedangkan kami bersama semua aparat desa akan segera menyelesaikan kasus pertunjukan dangdut itu," kata Pak Lurah setelah berpikir sesaat.

(29)

Lurah Desa Bokongrejo segera mengadakan sidang darurat. Semua aparat desa dipanggil, termasuk komandan Hansip, manajer dangdut, para penyanyi, dan pemainnya. Pertama kali yang menjadi sasaran kemarahan lurah desa adalah komandan Hansip. Lurah desa mempersalahkannya karena tidak pernah melaporkan kejadian- kejadian aneh yang menjadi dampak pertunjukan dangdut itu.

Padahal, dialah yang ditugaskan untuk mengawasi dan mengamankan pertunjukan dangdut yang dimaksudkan untuk mengumpulkan dana pembangunan sejumlah tempat ibadah itu.

"Soalnya, kami pikir kasus kehilangan kepala itu hanya persoalan sepele, Pak. Kasus itu sudah muncul sejak malam pertama pertunjukan dangdut di lapangan itu. Kami pikir belum perlu melaporkan kasus itu pada Pak Lurah, karena kami masih bisa mengatasinya sendiri," jawab komandan Hansip dengan nada tidak berdosa.

"Apa? Kamu ini komandan Hansip macam apa? Banyak warga kehilangan kepala kok dianggap sepele!" Lurah itu tampaknya tetap marah, tidak mau menerima pembelaan komandan Hansip.

"Nyatanya memang begitu, Pak. Mereka yang kehilangan kepala tidak pernah mengeluh, tidak pernah protes. Dengan enak mereka ngeloyor pergi atau pulang tanpa kepala. Bahkan, banyak yang kemudian tidur pulas di panti pijat dan hotel. Mereka yang tidak kehilangan kepala yang selama ini malah suka ribut."

(30)

"Apa kau tega kalau semua warga desa kita kehilangan kepala? Kalau itu benar-benar terjadi, apa kamu berani nanggung? Siapa yang bakal mengurus desa kita kelak kalau semua warga sudah kehilangan kepala?"

"Pak Lurah ini bagaimana? Desa kita selama ini kan sudah diurus oleh orang-orang yang tidak punya kepala lagi. Apa Bapak kira kita-kita ini yang mengurus desa ini masih punya kepala? Kepala yang kita pakai ini palsu. Wajah-wajah kita ini juga hanya topeng-topeng belaka.

Kalau Pak Lurah tidak percaya, mari kita copot kepala kita masing- masing, kita buka topeng kita masing-masing."

Dan… komandan Hansip itu benar-benar melepas kepalanya sendiri, meletakkannya di atas meja dan membuka topengnya. Pak Lurah dan sejumlah perangkat desa sangat terkejut, ternyata kepala yang dipakai komandan Hansip itu kepala buaya. Mereka semakin terperangah ketika manajer dangdut dan empat penyanyinya ikut mencopot kepala masing-masing dan membuka topengnya. Ternyata kepala yang dipakai manajer dangdut itu adalah kepala badak, sementara dua penyanyinya memakai kepala kelinci dan dua lagi memakai kepala mainan dari plastik yang biasa dijual di toko-toko mainan anak-anak.

Giliran Pak Lurah yang kemudian mencopot kepalanya sendiri. Pelan- pelan dia menjepit kepalanya dengan kedua telapak tangannya, memuntir dan menariknya ke atas. "Plass!" Seperti seorang pemain debus dari Banten, kepala Pak Lurah pun lepas dan diletakkannya di atas meja. Kemudian, dengan perlahan-lahan dia mengelotok kulit

(31)

wajahnya. Pak Lurah dan semua aparat desa sangat kaget, ternyata kepala yang selama ini dipakainya adalah kepala harimau. Kepala itu menyeringai padanya memperlihatkan taring-taringnya yang tajam.

Lurah itu tampak tidak tahan melihat kepalanya sendiri. Tubuhnya bergetar keras seperti sangat ketakutan, lalu lemas dan menggelosor jatuh ke lantai. Pak Lurah mengalami shock berat dan pingsan seketika.

Yogyakarta, Juli 1991

* Dimuat di kumpulan cerita pendek pilihan Sarinah, Burung Putih, bonus majalah Sarinah No. 222 Th. 1991.

(32)
(33)

Tarian Ombak Liquica (3)

Ombak berdansa di Liquisa. Deburnya menari dalam gemuruh hujan yang mengguyur pepohonan di sepanjang pesisir. Dan, dalam cuaca dingin malam Minggu berkabut, di dalam sebuah gedung sederhana di tepi pantai, orang-orang berdansa dalam kehangatan bir dan hentakan musik disko.

“Ayo! Kalau tidak berdansa kau belum ke Liquisa,” seorang lelaki berkata sambil menarik tangan perempuan yang duduk di depan bar.

“Bangsat kau, Jao! Ketika kawan-kawanmu sedang kelaparan di hutan, kau malah mau berhura-hura.” Perempuan itu bergeming di tempat duduknya.

“Bersenang-senang sedikit apa tak boleh. Sudah berbulan-bulan aku di hutan. Tak ada roti, tak ada bir, tak ada musik, tak ada dansa.”

“Salahmu. Sudah kubilang apa? Tak ada gunanya lagi bergerak di hutan. Letusan geranatmu sekalipun hanya didengar batu-batu.”

“Heh! Jangan keras-keras!”

(34)

“Peduli apa? Kalau mau tangkap, tangkaplah!” Perempuan itu malah mengeraskan suaranya.

“Armila! Kamu jangan ngaco begitu!”

Lelaki itu melotot. Matanya menyala dalam remang cahaya lampu.

Rambutnya yang berrombak seperti berdirian tiba-tiba. Perempuan yang dipanggil Armila itu balas melotot. Matanya juga menyala.

Dan…, tiba-tiba terdengar suara tembakan, berkali-kali.

“Jao! Ada kontak!” Armila terkejut.

“Ya. Aku dengar. Dekat sekali.” Jao juga terkejut.

“Jangan-jangan Alves dan kawan-kawan kena sergap.”

“Kubilang apa. Tinggalkan rumah Victor sekarang juga. Mereka masih tak percaya.”

“Kau benar, Jao. Tapi mereka harus menunggu kiriman logistik dari Dili. Kawan-kawan kita di hutan sudah berhari-hari kelaparan.”

(35)

“Kiriman dari siapa? Dari Armando? Aku malah curiga. Jangan-jangan ia malah berkhianat.”

“Jangan curiga dulu. Dia yang selama ini mengumpulkan dana dan mengirim perbekelan untuk kita.”

“Itu Victor!” Seorang lelaki, tinggi kurus, dengan tubuh basah kuyup air hujan, tiba-tiba menyelinap masuk ke ruang dansa. Armila langsung memberi isyarat dengan tangan padanya.

Victor menangkap isyarat itu dan tergopoh-gopoh menuju depan bar.

“Rumahku disergap. Alves dan kawan-kawan masih di sana,” kata lelaki kurus itu. “Cepat kita lari. Dua tentara memburuku. Itu mereka di pintu.”

Dua sosok bayangan berkelebat menerobos pintu. Jao langsung melompat dari tempat duduknya, dan menerobos keluar lewat pintu belakang. Tapi, dua letusan pistol menyongsongnya. Armila tak jadi ikut menerobos keluar. Ia menyusup ke tengah orang-orang yang berubah panik oleh keributan itu. Mereka berlarian kesana kemari.

Victor mencoba memanfaatkan situasi untuk kabur keluar. Tapi, tentara agaknya sudah mengincarnya. Ia ditangkap persis di mulut pintu.

“Tenang, saudara-saudara! Tenaaang! Kami hanya mau menangkap pengacau ini! Silahkan berdansa lagi!” seorang tentara mencoba

(36)

menenangkan suasana sambil mencengkeram lengan Victor yang telah diborgol kedua tangannya.

Pelan-pelan suasana kembali tenang. Orang-orang kembali berdansa.

Armila pura-pura ikut larut ke dalamnya. Tapi, ketika semua orang telah menemukan pasangan masing-masing, ia jadi merasa aneh, berjoget sendiri di tengah orang-orang yang tak dikenalnya. Akhirnya ia memutuskan kembali duduk di depan bar, dengan dada yang masih bergemuruh.

“Armila!” Suara perempuan tiba-tiba mengejutkannya. Ia menoleh ke arah suara itu. Matanya memandang penuh selidik pada perempuan muda yang tiba-tiba muncul di depannya.

“Lupa, ya? Aku Mariana. Dulu kita pernah berkenalan di rumah Victor.”

“Oh ya. Kami tadi menunggumu di sini.”

“Maaf, aku agak terlambat. Pas ada keributan tadi aku datang. Aku sempat melihat Jao melompat lari ke belakang.”

“Bagaimana nasibnya?”

(37)

Mariana hanya menggeleng. Armila merasa menemukan kawan senasib. Gemuruh dadanya sedikit reda. Tapi hujan tetap menggemuruh di luar, mengguyur ombak yang terus berdansa dengan angin dan pasir pantai.

“Kau ikut ke hutan?” Tanya Mariana.

“Tidak. Aku masih kuliah di Dili.”

‘’Jao cerita apa saja tentang aku?” Mariana bertanya lagi.

“Tidak banyak. Cuma bilang kau kawan sekelasnya di SMA.”

Mariana menarik nafas panjang, seperti tiba-tiba ada sesuatu yang membebani perasaannya. “Kau nginap di rumahku saja. Malam- malam begini tidak mungkin balik ke Dili,” katanya sambil mencoba menekan gejolak perasaannya.

“Kupikir begitu. Aku tadi sempat bingung, mau nginap di mana.

Rencananya tadi mau di losmen sebelah. Tapi aku tak bawa duit. Jao yang janji membayariku.”

(38)

“Jangan kuatir. Aku akan menanggungmu sampai kau bisa balik ke Dili. Sebentar lagi kita pulang jalan kaki. Aku Cuma bertugas sampai pukul dua belas.”

Lewat pukul 12.00 hujan reda. Armila dan Mariana melangkah setengah menggigil, menyusur jalan beraspal yang mendaki bukit.

Udara malam Liquisa dingin sekali karena hujan. Awan hitam di langit bergerak cepat. Sesekali cahaya bulan menerobos dari celah-celah mendung tebal, mengusap pohon-pohonan. Butir-butir air hujan di ujung dedaunan gemerlapan beberapa saat tertimpa cahaya itu, seperti butir-butir kaca kristal, lalu padam setelah jatuh ke bumi.

Mereka nyaris sampai ke rumah Mariana ketika tiba-tiba hujan mengguyur bumi Liquisa kembali. Dengan setengah berlari, mereka pun tiba di depan pintu sebuah rumah sederhana separuh tembok.

Baju dan rambut mereka agak kuyup.

“Kau tinggal dengan siapa?”

“Dengan mami dan anakku.”

Mariana langsung membawa Armila masuk kamar, lantas membuka almari kayu, mengambil sepotong daster dan menyodorkannya pada perempuan itu. “Pakailah ini untuk tidur.”

(39)

“Mana anakmu?” Tanya Armila sambil melepas kaos oblongnya.

“Di kamar sebelah bersama ibu.”

“Suamimu?”

Mariana tidak langsung menjawab. Ia pura-pura suntuk merapikan rambutnya. “Aku tak punya suami,” katanya lirih.

“Oh, maaf…. Lalu…. anak itu…..?”

“Anak itu bagian dari masa laluku. Juga masa lalu Jao.”

“Masa lalu Jao?” Armila tampak terkejut.

“Ah, sudahlah. Besok saja kita bicarakan. Kau pasti lelah dan ngantuk.

Tidurlah. Dipannya cuma cukup untuk satu orang. Aku akan tidur di kamar sebelah bersama anakku. Selamat tidur.”

Armila ditinggalkan begitu saja di sebuah kamar sempit yang hanya diterangi listrik 10 watt. Ia hanya sempat melongo ketika Mariana melangkah pergi. Ia sempat menangkap sesuatu yang berat untuk diucapkan oleh perempuan penjaga bar itu tentang anaknya dan Joa.

(40)

Sesuatu yang mungkin panjang untuk diceritakan sehingga harus ditunda.

Dada Armila yang tinggal bergemuruh sendiri oleh pertanyaan- pertanyaan dan dugaannya sendiri. Apa hubungan anak itu dengan Jao? Apa hubungan Mariana dengan Jao? Apakah Jao pernah menikahi Mariana?

Ingat Jao, Armila ingat janji dan impian-impian lelaki jangkung itu,

“Percayalah, Armila. Kalau Timor merdeka aku akan langsung melamarmu jadi istriku. Dan, aku akan jadi pejabat tinggi, dan kita bisa hidup damai dan bahagia. Ha ha ha …..” Tawa lelaki itu mengoyak udara sore, suatu hari, ketika mereka berjalan menyusuri sungai yang berisi pasir dan batu-batu, di tepi hutan di kawasan Ermera.

***

Armila tak dapat memejamkan matanya. Dadanya tetap bergemuruh.

Kepalanya kacau oleh pertanyaan-pertanyaan dan pikiran-pikiran aneh. Kadang-kadang ia teringat kuliahnya yang kacau akibat pergerakan clandestine yang diikuti dan menyeretnya cukup jauh ke masalah-masalah politik yang tak sepenuhnya ia pahami. Apalagi setelah Jao sering mengajaknya keluar masuk hutan, atau

(41)

mengunjungi desa-desa di malam gelap tempat para forsa bertemu.

Bayang-bayang lelaki jangkung berambut keriting itu pun muncul dibenaknya, menyeringai, tertawa, lalu lenyap begitu saja begai ditelan rimba gelap.

Armila kadang-kadang merasa amat benci pada lelaki itu, lelaki yang sering berbuat sesukanya: jarang mandi, tidur mendengkur seenaknya di mana saja, minum anggur sesukanya sampai tubuhnya oleng, suka mencaci maki dan menempeleng anak buahnya—bahkan pernah menembak seorang anak buahnya tanpa sebab yang jelas, melahap apa saja sesukanya—termasuk daging ular, kadal dan tikus hutan yang hanya dibakar tanpa garam.

Namun, ada kekuatan aneh yang tak dapat dibendung oleh Armila, getaran yang juga tak sepenuhnya ia pahami : cinta. Kekuatan ini, seperti gerakan subversif, terus merong-rong hatinya.

“Engkaulah satu-satunya wanita yang berhasil menundukkan hatiku, Armila. Aku mencintaimu,” kata Jao dengan bibir bergetar dalam sorot cahaya api unggun di dalam gua tersembunyi di balik bukit, pada suatu malam.

Armila hanya menunduk. Perasaan aneh tiba-tiba menyergap hatinya.

Dan, seperti api unggun yang membakar kayu-kayu kering, cinta pun lantas membakar birahi mereka sampai hangus, sebelum perempuan itu benar-benar menyadari arti cinta dan kehadirannya.

(42)

“Jao….” Armila menitikkan air mata bagitu menyadari sesuatu yang berharga telah hilang dari dalam dirinya di dalam gua itu, direnggut Jao.

“Maafkan aku, Armila. Kau menyesal?” Tanya lelaki itu sambil mengusap rambut Armila.

Perempuan itu tidak menjawab. Air mata meleleh di kedua pipinya.

“Sudahlah, Armila. Jangan menangis. Aku berjanji, kaulah wanita pertama dan terakhir bagi hidupku. Aku pasti menikahimu setelah perjuangan kita selesai. Setelah Timor merdeka!”

Hanya mereka berdua di dalam gua itu. Sebagian forsa yang lain sedang turun ke Liquisa untuk menjemput kiriman dari Dili. Udara malam tiba-tiba mati. Hening sekali. Hanya suara jengkerik dan burung hantu di kejauhan, serta kemeretek kayu-kayu kering yang terus terbakar api unggun. Armila tertidur setelah merebahkan kepalanya, seperti kapal menemukan pelabuhan, di pangkuan Jao.

***

(43)

Armila tidak ingat benar sejak pukul berapa ia tertidur di kamar sempit rumah Mariana. Ketika membuka mata, hari sudah agak siang. Berkas-berkas cahaya matahari menerobos masuk lewat celah- celah atap genteng. Kepalanya terasa agak berat.

“Mandilah biar segar. Kamar mandi di belakang. Sudah ada handuk di sana.” Mariana melongokkan kepalanya lewat mulut pintu kamar yang setengah terbuka, sambil tersenyum pada Armila yang masih terbaring di balik selimut bergaris-garis hitam.

“Thank’s.” Armila bangkit dan melompat turun, melangkah agak gontai ke kamar mandi. Selesai mandi dan merapikan diri, ia langsung ke ruang tamu. Ada ganjalan pertanyaan yang mesti dipuaskan oleh jawaban Mariana.

“Ini anakku. Yasso, ayo berkenalan dengan tante Mila.” Mariana sudah menunggu di ruang tamu bersama anaknya – seorang bocah lelaki berusia sekitar enam tahun.

Anak itu berdiri menyongsong Armila sambil mengulurkan tangannya. Ia menyambut tangan itu dengan hangat. Ada getaran aneh ketika ia menatap wajah anak itu. Wajah itu mirip sekali dengan wajah lelaki yang sangat dikenalnya: Jao Alvino. Armila terlongong beberapa saat sampai suara Mariana menyadarkannya.

“Yasso, sana makan dulu bersama nenek di belakang.”

(44)

Anak itu menurut saja.

“Wajahnya mirip Jao, kan?” Mariana agaknya menangkap apa yang sedang bergejolak di hati Armila.

“Jadi… itu anak Jao?”

“Ya.”

Wajah Armila mendadak berubah kemerahan. Ada arus listrik yang tiba-tiba menyengat hatinya. “Jadi … kau istri Jao?”

“Bukan. Kami tak pernah menikah. Ceritanya panjang. Kami bergaul intim cukup lama, ketika sama-sama di SMA. Menjelang ujian kelas tiga, aku hamil. Dia mau menikahiku selesai ujian, tapi dengan syarat aku mau ikut dia ke Lisabon. Aku tidak keberatan, asal boleh membawa mamiku. Kau tahu, aku anak satu-satunya. Papiku sudah lama meninggal. Sedang mamiku tak punya saudara dan sering sakit- sakitan. Tentu aku tak tega meninggalkannya dalam keadaan begitu.

Lalu Jao nekad berangkat sendiri. Katanya, masa depannya ada di sana. Empat bulan setelah kepergiannya, Yasso lahir. Tahu-tahu, tiga tahun yang lalu dia muncul lagi. Katanya, ada yang harus dia perjuangkan di sini.”

(45)

“Mendengar cerita itu hati Armila seperti diberangus api. Bumi dirasakannya seperti jungkir balik tiba-tiba. Tapi ia berusaha keras menguatkan diri, mencoba mendengarkan cerita itu dengan dingin.

Namun, pertahanannya jebol juga. “Bajingan! Lelaki itu telah membohongiku!” teriaknya setengah histeris.

“Maafkan aku, Mila, aku telah mengganggu perasaanmu. Aku tahu kau mencintai dia. Tapi, kurasa, kau perlu tahu ini semua, agar tak ikut menjadi korbannya.”

Dada Armila bergemuruh keras, seperti mau meledak. Ia ingin menjerit keras-keras, atau mengumpat Jao sambil berteriak kuat- kuat. Tapi ini tak ia lakukan. Lelaki itu toh tak ada di depannya.

Bahkan nasibnyapun tidak jelas, tertembak mati, ditangkap tentara, atau lolos kembali ke hutan. Yang dapat dia lakukan hanyalah menangis sambil mendekap Mariana. “Maafkan aku, Mariana. Aku sungguh tak bermaksud merebut Jao dari tanganmu. Dia yang telah membohongi aku,” katanya dengan agak terbata, setelah tangisnya reda.

“Kau tidak bersalah, Armila. Itulah Jao, kalau kau mau tahu. Dan, jangan kaget, ada korban lain yang bernasib lebih malang daripada kita. Kira-kira tiga bulan setelah muncul kembali, Jao mengajak seorang gadis ke barku. Isabela namanya. Ia bilang gadis itu keponakannya. Kira-kira lima bulan kemudian, gadis itu datang sendiri sambil menangis. Ia bilang, telah mengandung anak Jao.

Kulihat perutnya memang sedikit membuncit. Ia minta tolong agar aku mendesak Jao untuk menikahinya. Ia bahkan mengancam, kalau

(46)

Jao tidak menikahinya, ia akan melaporkan persembunyiannya pada tentara. Malamnya Jao datang ke barku. Maka, semua keinginan gadis itu kusampaikan kepadanya. Seminggu setelah itu, gadis itu ditemukan mati terbunuh di tepi hutan.”

“Ya, ampun…” Armila terperangah. “Apa Jao yang membunuhnya?”

“Tidak ada bukti yang jelas. Tapi, ada yang melihat, sehari sebelumnya gadis itu pergi bersama Jao.”

***

Pulang dari Likuisa naik bus umum bukan kenangan manis yang dibawa Armila – seperti dijanjikan Jao. Tapi, adalah kenangan teramat pahit, bahkan teramat menyakitkan: serangkaian tragedi yang menimpa kaumnya akibat kebiadaban seorang lelaki yang selama ini menghadirkan dirinya sebagai sesosok pahlawan, sesosok pejuang, di depan matanya. “Lelaki itu benar-benar pembohong!” umpatnya berkali-kali, di dalam hati, di dalam bus yang meliuk-liuk menyusur lereng pebukitan menuju Dili.

Maka, begitu menginjakkan kaki di kota Dili, yang pertama-tama dicarinya adalah kabar tentang nasib Jao dan dimana ia sekarang

(47)

berada. Ada dendam baru yang mesti ia tumpahkan kepada lelaki jangkung itu. Ia seperti tak sabar lagi. Hatinya terasa hangus terbakar.

Ia ingin menemui lelaki itu hari itu juga, entah hidup atau mati. Kalau lolos dari sergapan tentara, ia ingin memburunya ke hutan. Kalau tertangkap, ia ingin melunaskan sakit hatinya di penjara. Kalau mati, ia ingin menyumpahi mayat atau kuburannya.

Armila menemui beberapa clandestine yang biasa berhubungan dengan Jao. Tapi mereka bilang belum ada kabar. Mereka hanya mendengar tentang Alves dan kawan-kawannya yang tertangkap di Liquisa. Armila pun memberanikan diri mendatangi markas tentara.

“Anda mahasiswi yang baik. Anda pasti mau menunjukkan di mana Jao bersembunyi,” kata seorang tentara setelah Armila membeberkan jati dirinya. Agaknya Jao lolos ke hutan dan tentara kehilangan jejaknya.

“Itu yang akan saya sampaikan pada Bapak, asal Bapak mau menjamin keselamatan saya.”

“Jangan khawaitr, kami akan tugaskan beberapa tentara untuk menjaga Anda.”

Setelah menunjukkan tempat persembunyian Jao, di sebuah gua di balik bukit, di tenggara Liquisa, Armila pun tinggal menunggu kapan lelaki itu muncul dengan tangan diborgol atau sudah jadi mayat

(48)

karena tertembak. Tapi, ia sangat berharap dapat bertemu lelaki itu dalam keadaan masih hidup agar dapat melunaskan sakit hatinya.

Ditunggu sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, akhirnya Jao tertangkap juga. Hidup-hidup, dengan paha kiri terserempet peluru. Armila langsung memburunya ke penjara. Lelaki itu menyunggingkan senyum begitu melihat Armila datang. Tapi gadis ini malah mencibir. “Mariana sudah bercerita banyak tentang kau,”

katanya dengan mata yang memancarkan kebencian.

“Cerita apa saja dia?” Jao langsung curiga.

“Kau pasti sudah dapat menebaknya. Aku berkenalan dengan anakmu di rumahnya. Juga tentang Isabela yang kau bunuh di tepi hutan setelah kau hamili. Kau pembohong besar, Jao.”

“Bangsat dia!” Mata lelaki itu makin merah menyala.

“Kupikir, ini ganjaran yang setimpal untuk lelaki macam kau. Akulah yang menunjukkan tempat persembunyianmu pada tentara.” Suara Armila datar, tapi kata-katanya menghantamkan pukulan telak.

“Jadi, kau mengkhianati aku, Armila? Bangsat kau!”

(49)

“Tidak, Jao. Aku tetap setia pada cita-cita perjuangan clandestine.

Tapi, bangsa Timor tidak membutuhkan orang seperti kau. Kami membutuhkan para pejuang yang dapat melindungi kaum perempuan, bukan perusak perempuan seperti kamu. Kau tak ada artinya bagi masa depan kami. Selamat tinggal, Jao!’’

Dengan wajah tetap membara, Jao terperangah mendengar kata-kata Armila. Pada saat itulah perempuan itu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan lalaki yang tangannya sedang bergetar geram mencengkeram terali besi itu.

“Bangsaaat! Awas, kubunuh kau, perempuan busuuuuk!!!” suara Jao keras sekali, seperti mau meledakkan penjara.

Tapi, Armila terus melangkah pergi, pura-pura tak mendengar umpatan itu. Hatinya, yang terasa amat pedih, hancur berkeping- keping, lalu menyerpih bagi serpihan ombak yang terus berdansa di Liquisa.

***

Dili, Juli 1994/2001

(50)

Sebutir Kepala Dan Seekor Kucing (4)

Sidang darurat yang dihadiri para seniman, sastrawan dan budayawan telah memutuskan agar semua peserta sidang menanggalkan kepala masing-masing. Masalahnya, bersidang memakai kepala menyebabkan persoalan yang diperdebatkan tidak kunjung menemukan titik terang, bahkan, semakin jauh dari titik pengambilan keputusan. Masing-masing bertahan pada pendirian yang kuat dengan argumentasi yang tidak terbantah.

Sidang semakin panas dan berbelit-belit. Keringat mengucur di dahi semua peserta. Padahal keputusan harus segera diambil dan disampaikan kepada kepala desa. Jika tidak, makam seorang penyair

(51)

besar yang terlanjur dimitoskan akan segera dibongkar dan diganti dengan mayat seorang anggota keluarga kepala desa.

"Saudara-saudara, bagaimana kalau kita bersidang tanpa kepala saja?" usul ketua sidang jengkel. "Saya kira ini jalan satu-satunya yang terbaik, agar dapat segera mengambil keputusan. Waktu yang diberikan Pak Kades hanya tinggal satu jam."

"Maksud Saudara Ketua bagaimana?" tanya seorang penyair yang duduk di deretan paling depan dan paling ngotot mempertahankan kuburan penyair yang akan digusur itu.

"Ya, kita copot kepala kita masing-masing. Kita bersidang tanpa kepala," jawab ketua sidang sambil menjepit dan menggoyang- goyangkan kepalanya dengan kedua tangannya.

Peserta sidang kaget mendengar usul ketua yang aneh itu. Sebagian besar tidak paham, yang lain menganggapnya sebagai usul gila. Tapi, ada juga yang mengganggap itu sebagai usul yang sangat jenius dan kreatif.

"Wah itu usul edan, Saudara Ketua. Bagaimana mungkin? Kita ini bicara dengan mulut, mendengar dengan telinga, memandang dengan mata, berpikir dengan otak, dan semua itu terletak di sini! Di kepala!" Seorang kritikus sastra menyanggah usul sang ketua. Ia berbicara berapi-api sambil menunjuk ke kepalanya sendiri.

(52)

"Bagaimana mungkin kita bersidang tanpa kepala? Tidak masuk akal!"

"Saudara keliru dalam memandang usul saya. Saudara terlalu terikat oleh sosok dan bentuk. Saudara tidak melihat hakikatnya. Yang saudara khawatirkan sesungguhnya hanya persoalan alat. Alat itu, kepala kita ini, bisa diganti yang lain," tangkis sang ketua.

"Coba terangkan, Saudara Ketua. Bagaimana kita mesti mendengar dan berbicara tanpa kepala serta berpikir tanpa kepala. Padahal, itu pekerjaan utama kita di sini!" kritikus itu belum bisa menerima maksud sang ketua.

"Itu mudah. Kita bicara tanpa mulut, mendengar tanpa telinga, memandang tanpa mata, berpikir tanpa kepala, dan akhirnya kita pasti akan dapat mengangguk tanpa kepala. Jelas, bukan! Jadi, marilah kita sekali-kali berlaku seolah kita tidak membutuhkan kepala kita lagi. Kasihan kepala kita, selalu dipaksa bekerja, tidak pernah punya kesempatan istirahat sedikitpun. Bahkan, dalam tidurpun kepala kita tetap bekerja menyusun mimpi-mimpi bagi kita."

Peserta sidang tercengang mendengar penjelasan ketua mereka.

Bisik-bisik pun segera terdengar di antara mereka. "Edan. Ini betul- betul gagasan edan …. Wah, ketuane kumat sintinge … Wah mosok endas kon nyopot … Nek ngene carane gawat rek … Aku arep bali wae ah, timbang kelangan endas … Kalau gini caranya, gua mundur aja

(53)

deh … nggak jadi panitia juga nggak apa … Kepala lu sendiri aja copot

… Wah ya lucu, mosok endas mung siji kon nyopot …"

"Tapi itu usul jenius lho! Itu sangat kreatif!" tiba-tiba seseorang bersuara keras.

"Kreatif ndasmu!" balas yang lain.

"Bagaimana? Apakah Saudara-saudara masih merasa keberatan?

Jangan takut. Tidak apa-apa. Kita harus segera mengambil keputusan.

Waktu kita tinggal beberapa menit saja!" Ketua sidang berdiri dan menggebrak meja, membungkam gemeremang suara para peserta.

"Kebulatan tekad kita untuk melepas kepala kita selama sidang berlangsung akan sangat membantu terwujudnya keputusan bersama yang bulat. Keputusan kita itu akan sangat menentukan nasib Penyair Besar yang kita puja itu. Oleh sebab itu, relakanlah kepala Saudara untuk dicopot sementara."

Peserta sidang ragu-ragu dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Mereka hanya saling memandang.

"Bagaimana, ini! Mengapa kalian hanya bengong saja!" Ketua sidang kembali menggebrak meja. Kali ini lebih keras. Dua spidol yang tergeletak di atas meja terpental ke lantai. "Waktu kita tinggal sedikit.

Kita bubar saja, atau terus bersidang tanpa kepala?"

(54)

Peserta sidang tetap diam dan bengong.

"Kalau kalian belum percaya pada kata-kata saya, saya akan mulai dulu mencopot kepala saya!" Ketua sidang memegang kepala dengan kedua tangannya. Ia kemudian menjepitnya kuat-kuat, menggoyang- goyangkan, memuntir, menggoyang-goyangkan lagi dan menghentakkannya ke atas. Plas! Kepala sang ketua pun lepas dari lehernya dan diletakkannya di atas meja.

Peserta sidang tercengang-cengang melihat apa yang dilakukan sang ketua. Mereka hampir tidak berkedip menatap sebutir kepala di atas meja itu. Kepala itu tersenyum dan mengerdip-kerdipkan mata, mirip pertunjukan sihir di pasar malam rakyat. Seorang aktris teater yang duduk di deretan depan menjerit melihat kejadian itu. Ia hampir berlari ke luar melihat kepala tanpa tubuh itu nyengir dan mengerdipkan mata kanannya padanya.

"Nah, sekarang Saudara lihat sendiri. Saya bisa bicara dengan enak tanpa kepala." Suara parau tiba-tiba keluar dari tubuh tanpa kepala sang ketua.

Peserta sidang semakin tercengang.

"Sekarang giliran kalian melepas kepala masing-masing. Ayo bersama-sama!" tubuh tanpa kepala itu bersuara lagi lebih menggetarkan.

(55)

Bagai terkena pengaruh sihir, semua peserta sidang menjepit kepala masing-masing dengan telapak tangan. Mereka kemudian menggoyang-goyangkan, memuntir kuat-kuat dan menghentakkan kepala masing-masing ke atas. Plas! Secara bersamaan kepala mereka pun lepas. Secara bersamaan pula mereka meletakkan kepala masing-masing di atas meja. Kepala-kepala itu tersenyum, meringis, mengedip, dan saling melirik satu sama lain. Suara gemeremang pun muncul dari tubuh-tubuh tanpa kepala itu.

"Wah, ternyata enak ya, tanpa kepala … Ya, pusingnya hilang … Kalau kita tanpa kepala begini, kreatif nggak ya? … Nggak tauk! … Wah, rasanya enteng ya, ora nganggo endas. Beban pikiran hilang … Ya ya, nggak perlu mikir apa-apa …. Hiii, endasmu medeni kuwi, pringas- pringis kaya glundung pringis …. Ndasmu dewe kaya Cakil, ngono ….

He endasku lucu ki, bisa melet-melet …. Ha, kepala gua bisa ketawa sendiri, lihat nih! …. Lho kepala gua kok benjol? …. Lha kepala saya botak tuh! …. Wah, nek ngguyu jebul untuku prongos …. Lha, hidungku kok jadi pesek…!

Tiba-tiba, tubuh si aktris berdiri sambil menenteng kepalanya. "Hore!

Kepalaku paling hebat! Lihat, bisa menyanyi sendiri!" katanya sambil memperlihatkan kepalanya pada teman-temannya sambil berjalan kesana kemari.

"Wah, njijiki, Mbak. Digletakke wae!" komentar yang lain.

(56)

"Sak enake, wong endas-endasku dewe kok urusan!" jawab aktris itu sekenanya.

"Kepala saya mau saya gadaikan saja, ah. Enak kok tanpa kepala."

"Lho, jangan. Itu namanya komersialisasi kepala sendiri."

"Yo ben, toh."

"Wah, kepala kita mengganggu konsentrasi ya. Enaknya disimpan dulu."

"Usul saja sama ketua!"

"Saudara Ketua, bagaimana kalau kepala-kepala ini kita simpan saja dulu. Soalnya mengganggu konsentrasi!" usul seorang dramawan yang sejak tadi memain-mainkan kepalanya sendiri.

"Sebaiknya memang begitu. Kepala-kepala ini kita simpan dulu, agar kita bisa benar-benar bersidang tanpa kepala," jawab sang ketua.

"Bagaimana kalau kita taruh di bawah meja saja?"

(57)

"Hus, jangan! Apa kamu mau menginjak-injak kepalamu sendiri?"

"Kalau disimpan di lemari saja bagaimana?"

"Wah, jangan. Banyak kecoaknya."

"Lha mau ditaruh di mana?"

"Wah, ngletakke endas wae kok susah."

"Lho lho, kepalaku malah berjalan sendiri mencari tempat."

"Wah, kalian ini bagaimana? Menaruh kepala sendiri saja pada nggak bisa!" bentak sang ketua. "Sudah! Kita masukkan gudang saja, di belakang ada gudang kosong. Pasti aman."

Para peserta sidang itu pun beramai-ramai menenteng kepala masing-masing menuju gudang. Manusia-manusia tanpa kepala itu kemudian kembali ke tempat sidang.

Sang ketua membuka kembali sidang yang tertunda gara-gara urusan kepala. "Jadi singkatnya, kita diminta Pak Kepala Desa agar merelakan kuburan penyair besar itu untuk ditempati mayat keponakan Pak Kades. Kalian kan tahu, tanah pekuburan desa kita telah habis. Hanya

(58)

itu satu-satunya cara agar Pak Kades bisa menguburkan keponakannya secara layak."

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu mengangguk serentak. Entah karena setuju, atau karena tidak paham saja.

"Sekali lagi, perlu kalian ketahui. Waktu yang diberikan kepada kita untuk berembug hampir habis. Karena itu, kita tidak punya banyak waktu berdebat. Sekarang tegas saja, kalau setuju dengan penggusuran makam itu, katakan setuju. Kalau tidak, katakan tidak.

Bagaimana!" lanjut sang ketua.

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu kembali mengangguk serentak. Tidak jelas apa maksudnya.

Sang ketua bermaksud membuka pembicaraan kembali. Tangannya digerakkan ke atas. Tapi, tiba-tiba seekor kucing hitam melompat dari atas almari ke meja sang ketua. Kucing itu menggondol sebutir kepala. Entah kepala siapa. Semuanya terkejut. Suasana pun jadi ribut. Kucing itu dengan sigap melarikan kepala itu keluar ruang sidang.

"Ha! Kepala siapa itu digondol kucing?" teriak sang ketua.

"Jangan-jangan kepalaku!" penyair mengejar kucing itu.

(59)

"Itu pasti kepala si pelukis. Rambutnya gondrong."

"Ah, rambut penyair kita juga gondrong!"

"Cepat tangkap kucing itu!"

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu pun berhamburan keluar ruang sidang, memburu sang kucing. Namun, kucing itu, entah kucing siapa, dengan sigap meloncat ke atas tembok pagar halaman, dan meloncat lagi ke atas atap rumah sebelah.

"Ayo kita kepung kucing itu!"

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu menyebar, bermaksud mengepung kucing itu. Tapi, perumahan di kampung itu sangat padat dan berhimpitan. Mereka tidak dapat masuk lorong untuk mengepung sang kucing dari belakang rumah. Sementara itu, sang kucing dengan santai terus menggondol kepala itu dan meloncat dari atap rumah yang satu ke atap rumah berikutnya.

"Wah, mati aku. Itu kepalaku, sungguh!" teriak seorang penyair setengah histeris. "Ini gara-gara ketua sinting itu. Kepalaku satu- satunya disikat kucing. Bagaimana ini Saudara Ketua?!" Tubuh

(60)

penyair tanpa kepala itu benar-benar marah. Kedua tangannya mengepal geram.

"Sudah. Jangan marah. Nanti diganti kepala boneka saja. Di toko banyak!" ledek seorang temannya.

"Ngomong seenaknya! Kutonjok kau!" Penyair itu benar-benar menonjok perut temannya.

"Sudah. Jangan berantem. Nanti dipesankan kepala robot saja. Pasti lebih kreatif," sang ketua melerai mereka.

"Jangan ngawur! Ini kecelakaan serius!" peyair itu makin berang.

"Sudah. Tenang dulu. Sekarang begini saja, sementara kau pakai kepalaku dulu. Nanti kalau kucing itu tertangkap, bisa ditukar lagi,"

usul sang ketua.

"Apa? Kepala botak gitu suruh makai!"

"Lho, daripada kamu nggak pakai kepala!"

(61)

"Ya, kit

Referensi

Dokumen terkait