Mathori Al Huda, ia merupakan pimpinan pertama di yayasan Persatuan Djamaah Haji Indonesia (PDHI) D.I Yogyakarta. Selain itu, banyaknya masjid-masjid yang dibangun oleh PDHI ketika dipimpin oleh K.H Mathori Al Huda. Mathori Al Huda yakni pembangunan Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim, serta beliau banyak melakukan kerjasama dengan organisasi lain.
Mathori Al Huda dalam Yayasan Persaudaraan Djamaah Haji Indonesia (PDHI) Di Yogyakarta M) akhirnya dapat diselesaikan setelah melalui proses yang begitu panjang. Mathori Al Huda merupakan seorang ulama yang memiliki semangat untuk menghidupkan dakwah Islam di Yogyakarta. Mathori Al Huda ini memiliki jamaah yang terbilang cukup banyak, cara penyampaiyan yang digunakan oleh K.H.
Mathori Al Huda meninggal dunia.7 Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, peneliti tertarik untuk membahas mengenai kepemimpinan K.H. Mathori Al Huda merupakan ketua pertama dalam yayasan PDHI, akan tetapi ketika masa kepemimpinannya banyak melakukan perkembangan dalam yayasan PDHI. Mathori Al Huda dalam penelitian ini menjadi fokus studi bagaiman sebuah yayasan haji dapat berkembang, tidak hanya dalam persoalan haji.
Mathori Al Huda dalam kajian tersebut lebih menekankan pada pendirian PDHI saja, bukan pada peran KH.
Kerangka Pemikiran
Selain meiliki amal usaha serta mejalin kerjasama dengan organisasi lain, PDHI juga mengadakan pengajian ataupun kegiatan dalam dakwah Islam. Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan, memimpin, mempengaruhi pikiran, perasaan atau tingkah laku orang lain untuk mencapai tujuan yang telah dibuat sebelumnya. Menurut Max Weber kepemimpinan merupakan otoritas legal-rasional, yaitu otoritas yang dimiliki berdasarkan jabatan serta kemampuannya.10 KH.
Mathori Al Huda merupakan ketua pertama PDHI, tentu ia merupaka seseorang yang dipercaya oleh kelompoknya untuk menjadi seorang pemimpin. Mathori Al Huda dipercaya dapat mengendalikan anggota-anggota di dalam PDHI serta dapat memberikan pengaruh yang baik bagi anggotanya. Akan tetapi, penelitian ini lebih merujuk pada penelitian lapangan yang dilakukan di Yogyakarta dengan mengunjungi kantor PDHI di Alun-Alun Utara.
Menurut Deddy Mulyana, penelitian lapangan adalah jenis penelitian yang mempelajari fenomena dalam lingkungannya yang alamiah. Data ini didapat benar-benar sesuai dengan realitas mengenai fenomena-fenomena yang ada di lokasi penelitian dengan dibantu oleh wawancara kepada saksi mata yang mengenal K.H. Sedangkan sumber sekunder dapat diperoleh dengan mengumpulkan sumber-sumber tertulis yang sesuai dengan topik pembahasan, baik berupa buku, artikel, jurnal, maupun skripsi yang dapat membantu penelitian.
11 Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya), (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. Kedua, verifikasi terbagi menjadi dua macam, yakni kritik ekstern dan kritik intern.13 Langkah pertama yaitu kritik ekstern, pada sumber tertulis peneliti akan mengamati sumber berdasarkan waktu, tempat, penulis, bahan, serta bentuk sumber tersebut. Selanjutnya, kritik intern peneliti akan memulai dengan membaca sumber- sumber tersebut serta melakukan perbandingan apabila terdapat informasi yang serupa maupun bertentangan antara satu sumber dengan sumber lainnya.
Tujuan dari langkah ini adalah untuk memastikan bahwa sumber-sumber yang digunakan dalam penelitian ini benar-benar relevan hingga memiliki keterkaitan dengan keaslian dan kesahihan sumber pada topik penelitian. Mencari hal yang berhubungan antara satu fakta dengan fakta yang lain sehingga menjadi rangkaian fakta yang bermakna logis. Selain itu, dalam penulisan sejarah diperlukan penggunaan intuisi, imajinasi, gaya bahasa, dan emosi agar tulisan yang dihasilkan tidak hanya informatif tetapi juga menarik untuk dibaca.14 Maka dari itu, peneliti akan berusaha untuk menyusun pembahasan dalam penelitian ini secara runtut, sistematis, dan menarik.
Sitematika Pembahasan
Pada bab ini menjadi latar sebelum masuk ke pembahasan mengenai tokoh pemimpin pertama di yayasan PDHI, yaitu K.H. Hal ini menjadi babak baru bagi Indonesia dalam penyelenggaraan ibadah haji yang dipelopori oleh pemerintah RIS. Melalui Kongres Muslimin Indonesia yang diprakarsai oleh Badan Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta, berlangsung selama lima hari dari tanggal 20-25 Desember 1949.
Mendesak pemerintah untuk membuat undang-undang kecil yang berkaitan dengan perjalanan haji yang bersifat perbaikan. Menganjurkan berdirinya bedan-badan pelayaran yang berasal dari kekuatan dan aspirasi umat Islam Indonesia yang ditentukan dalam Undang-Undang. Tuntutan ini kemudian diserakhan kepada kementerian Agama, utusan dari Badan Kongres Muslimin Indonesia mengadakan pembicaraan dengan K.H.
Haji Indonesia (PPHI) dan masalah pemberangkatan haji Indonesia.16 Atas tuntutan yang disampaikan oleh Badan Kongres Muslimin Indonesia, Kementerian Agama secara resmi mengeluarkan kebijakan mengenai penyelenggaraan ibadah haji tepatnya pada tanggal 1 Februari 1950.17 Kebijakan tersebut yakni berisi keputusan bahwa diperbolehkannya kembali pelaksanaan ibadah haji, setelah mengalami keksosongan pemberangkatan haji selama 4 tahun. Pemberangkatan haji pada tahu 1950 atau setalah adanya pengakuan kedaulatan, pemerintah memberikan kuota pemberangkatan jamaah haji sebanyak 10.000 orang. Akan tetapi kuota yang terisi kurang lebih hanya 9.907 jamaah haji.18 Jamaah haji yang berasal dari Yogyakarta sebanyak 50 orang.
Sehingga kondisi perekonomian di Indonesia belum stabil, di samping itu Indonesia memutuskan untuk kembali ke NKRI. 17 Taufik Ismail, “Berhaji Pada Masa Revolusi: Ibadah Haji dengan Misi Tersembunyi Jamaah Haji Indonesia Tahun skripsi Fakultas Adab dan Bahasa Institut Agama Islam Negeri Surakarta, 2020, hlm. Fuad Nasar, “Sejarah Berhaji Orang Indonesia”, (Juni, 2023), https://www.kemenag.go.id/kolom/sejarah-berhaji-orang-indonesia-jRGYC , diakses pada Minggu, 02 Juni 2024.
19 Sanering adalah tindakan pemerintah yaitu pemotongan daya beli masyarakat melalui pengurangan nilai uang, namu harga-harga barang tetap. Oleh sebab itu, selain perekomian yang belum stabil dalam bidang politik pun belum stabil juga.20. Inflasi masih dirasakan oleh masyarakat Indonesia sampai pada tahun sehingga jumlah jamaah pemberangkatan ibadah haji pada tahun-tahun ini masih sama seperti di tahun sebelumnya.
Kondisi Jamaah Haji di D.I Yogyakarta Tahun 1950-1955 M
Jamaah haji asal D.I Yogyakarta pada tahun 1950, yang melakukan pendaftaran haji terdapat 50 orang, akan tetapi yang mendapatkan kuota keberangkatan hanya 35 orang saja. Pendaftar haji asal D.I Yogyakarta pada tahun 1951 mengalami peningkatan jamaah, yakni terdapat 105 jamaah yang mendaftar ibadah haji. Hal ini dikarenakan adanya pemberitahuan bahwa di Saudi Arabia telah timbul penyakit pes yang memakan korban sebanyak 100 orang.
Selain karena adanya wabah di Saudi Arabia, tidak jadinya jamaah haji diberangkatkan disebabkan faktor kurangnya transportasi jalur laut. Karena banyak kapal yang mengalami kerusakan dan masih dalam tahap reparasi, dan dipastikan tidak bisa digunakan untuk pengangkutan jamaah haji. Maka pemerintah memberikan keputusan yang dikeluarkan pada tanggal 8 Agustus 1951, mengenai penundaan keberangkatan calon jamaah haji Indonesia.
Pemerintah memberikan jaminan kepada calon jamaah haji tahun ini, untuk naik haji pada kesempatan tahun depan.23. Kebanyakan dari para calon jamaah haji berprofesi sebagai petani, pedangan maupun pengusaha, ada pun pewagai negeri namun hanya sebagian kecil saja. Pemerintah juga sudah memperbaiki fasilitas publik di D.I Yogyakarta seperti, transportasi seperti kereta api dan bus.24.
Yayasan PDHI nantinya akan membimbing para jamaah haji yang berasal dari D.I Yogyakarta.25 Yayasan PDHI berdiri sendiri tanpa ada ikatan dengan lembaga lain. Seiring dengan bergantinya tahun semakin banyak jamaah yang mendaftar untuk pergi haji, sehingga semakin bertambah juga orang-orang yang bergabung dengan PDHI.
Faktor Berdiri Persaudaraan Djamaah Haji Indonesia
Tujuan didirikannya yayasan ini yakni untuk memelihara Ukhuwah Islamiyah secara luas, iktiyar mencapai haji mabrur dan menggerakan tholabul ilmi dana mal. Adapun fungsi didirikannya yayasan PDHI, yakni sebagai wadah kegiatan keagamaan, pendidikan serta sosial kemasyarakatan jamaaah haji di D.I Yogyakarta. Selain itu, yayasan ini juga memfasilitasi dan mengorganisir berbagai kegiatan haji dalam melakukan amal jariyah.27.
Mathori Al Huda sebagai pimpinan PDHI, dikarenakan beliau merupakan ketua dari rombongan jamaah haji asal D.I Yogyakarta. Selain itu, PDHI juga mulai banyak tersebar di D.I Yogyakarta berkat pengajian-pengajian rutin yang sering diadakan oleh K.H. 27Aris Risdiana, “Peran PDHI (Persaudaraan Djamaah Haji Indonesia) dalam Mengembangkan Peradaban Masyarakat (Analisa Manajemen Sumber Daya MAnusia)” Jurnal Manajemen Dakwah, Volume 1, Nomor 1, 2015, hlm.
Mathori Al Huda berkontribusi atas perubahasan mustaka masjid, atau yang dikenal sekarang dengan kubah masjid. Mathori Al Huda mrupakan seorang yang senang mengoleksi buku, karena di rumahnya terdapat susunan buku yang disusun dengan rapih. Mathori Al Huda merupakan orang yang cukup tegas, hal ini terlihat ketika ia memberikan keputusan terkait pembangunan Pondok Pesantren.
Yahmin, selaku salah satu panitia pembangunan Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim, ia menyaksikannya ketika rapat membahas terkait pembangunan Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim. Cara yang digunakan K.H Mathori ketika mengisi pengajian di masjid cukup unik yakni dengan menggunakan tembang yang berisi pengingat kepada Allah swt (Gambar 4.1). Setelah mendapatkan lokasi yang strategis dan di wilayah ini terdapat seorang kiai yang ingin mendirikan Pondok Pesantren juga dan memiliki pemikiran yang sejalan dengan K.H.
Lokasinya berada di bagian Timur Yogyakarta tepatnya di Wonosari, Pondok Pesantren ini diberi nama “Ibnul. Raden Hisyam Syafi’ie yang merupakan kiai di wilayah tersebut serta beberapa perwakilan warga setempat, maka dibentuklah struktur kepanitian pembangunan Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim. Pada tanggal 20 Agustus 1983 ditetapkan sebagai hari berdirinya Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim, yang ditandai dengan peletakkan batu pertama pada bangunan masjid.
Kerjasama PDHI dengan organisasi lain
PDHI terus mengembangkan diri dengan membangun jaringan dengan kementrian Agama dan Direktorat Jenderal Bimas Islam Urusan Haji untuk membentuk Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) pada tanggal 7 Desember 1985. Jumlah keberangkatan Haji di Indonesia pun awalnya masih kurang jamaahnya akan tetapi seiring tahun jumlahnya mengalami kenaikan. Begitu pun di D.I Yogyakarta, jamaah haji mengalami peningkatan, akan tetapi pada tahun 1951 terdapat jamaah haji yang tidak diberangakatkan haji sebab adanya wabah di Arab Saudi.
Mathori Al Huda, PDHI banyak melakukan perkembangan seperti adanya pembangunan masji, pondok pesantre, tempat untuk berdakwah dan melakukan kerja sama dengan organisasi lain.
Saran
Skripsi
Artikel Jurnal
Sumber Online
Wawancara