• Tidak ada hasil yang ditemukan

Boom Cylinder pada Excavator Komatsu PC 1250

N/A
N/A
mala septia

Academic year: 2024

Membagikan "Boom Cylinder pada Excavator Komatsu PC 1250"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Analisa penyebab kerusakan Seal Piston Boom Cylinder PC 1250 Unit Excavator

1. Pengertian Boom Cylinder

Boom cylinder pada PC 1250 adalah salah satu komponen hidraulik utama yang menggerakkan bagian boom (lengan utama) dari excavator ini. Excavator Komatsu PC 1250 adalah alat berat berukuran besar yang sering digunakan dalam industri konstruksi dan pertambangan.

2. Fungsi boom cylinder

Fungsi utama boom cylinder pada PC 1250 adalah untuk mengangkat dan

menurunkan boom dengan menggunakan tekanan hidraulik. Boom cylinder ini terdiri dari tabung silinder yang berisi piston, di mana piston bergerak masuk dan keluar untuk menghasilkan gerakan yang diperlukan. Dengan bantuan tekanan hidraulik yang dihasilkan oleh sistem pompa, boom cylinder memungkinkan excavator untuk menggali, memindahkan material, dan melakukan operasi berat lainnya.

Beberapa karakteristik utama dari boom cylinder PC 1250 :

a. Kekuatan tinggi: Dirancang untuk menahan beban besar dan kondisi kerja yang berat.

b. Presisi tinggi: Memungkinkan kontrol yang tepat atas pergerakan boom.

c. Material yang kuat: Dibuat dari material yang tahan terhadap tekanan dan gesekan untuk umur pakai yang lebih lama.

3. Komponen boom cylinder

 Tabung Silinder (Cylinder Tube) : Ini adalah bagian utama tempat piston

bergerak. Terbuat dari material baja yang sangat kuat dan tahan tekanan. Tabung ini menahan cairan hidraulik di dalamnya dan menjadi tempat pergerakan piston.

(2)

 Piston : Piston berada di dalam tabung silinder dan bergerak maju mundur untuk menggerakkan boom. Piston inilah yang membagi ruang dalam silinder menjadi dua bagian, yaitu ruang tekanan atas dan bawah. Ketika cairan hidraulik dipompa ke salah satu ruang, piston bergerak ke arah yang berlawanan.

 Rod Silinder (Cylinder Rod) : Rod silinder adalah batang panjang yang terhubung ke piston dan menonjol keluar dari silinder. Ini adalah komponen yang

menghubungkan pergerakan piston ke boom excavator untuk menggerakkannya.

Rod ini juga terbuat dari baja yang sangat kuat.

 Seal dan O-Ring : Seal dan O-ring berfungsi untuk mencegah kebocoran cairan hidraulik dari dalam silinder dan menjaga sistem tetap rapat. Seal berada di sekitar rod dan piston untuk memastikan bahwa cairan hidraulik tetap berada di tempatnya dan tidak bocor keluar.

 Gland : Gland adalah komponen di ujung silinder yang menahan rod silinder dan seal di tempatnya. Bagian ini juga membantu memastikan bahwa rod tetap terpusat dan bergerak dengan lancar saat piston bergerak maju mundur.

 Port Hidraulik (Hydraulic Ports) : Port ini adalah tempat masuk dan keluarnya cairan hidraulik ke dalam silinder. Ketika cairan ditekan masuk ke salah satu port, piston akan bergerak ke arah yang berlawanan, sehingga memicu pergerakan boom.

 Bushing : Bushing adalah bantalan yang berada di antara komponen-komponen yang bergerak, seperti antara rod silinder dan boom. Fungsinya untuk mengurangi gesekan dan keausan pada bagian-bagian yang bergerak.

 Pin Silinder (Cylinder Pin) : Pin silinder menghubungkan boom cylinder ke rangka utama dan boom excavator. Pin ini berfungsi sebagai pivot yang memungkinkan boom cylinder bergerak dengan bebas saat sistem hidraulik dioperasikan.

 Clevis atau End Mount : Bagian ini adalah penghubung di ujung rod silinder yang terhubung ke boom excavator. Clevis ini memungkinkan boom cylinder menarik atau mendorong boom dengan gerakan hidraulik.

(3)

4. Jenis – jenis seal pada boom cylinder 1. Rod Seal

 Fungsi: Rod seal ditempatkan di ujung silinder, di sekitar rod (batang piston).

Fungsi utamanya adalah untuk mencegah cairan hidraulik bocor dari dalam silinder saat rod bergerak keluar dan masuk.

 Jenis Material: Biasanya terbuat dari material tahan aus seperti poliuretan (PU) atau karet nitril (NBR).

 Karakteristik: Harus tahan terhadap tekanan tinggi dan gesekan, karena seal ini langsung bersentuhan dengan rod yang bergerak terus-menerus.

2. Piston Seal

 Fungsi: Piston seal terpasang pada piston di dalam silinder. Fungsinya adalah untuk mencegah cairan hidraulik bocor di antara sisi tekanan tinggi dan tekanan rendah dalam silinder, sehingga tekanan hidraulik bisa diarahkan dengan efektif untuk menggerakkan piston.

 Jenis Material: Terbuat dari poliuretan atau PTFE (Teflon) yang tahan terhadap tekanan tinggi dan suhu ekstrim.

 Karakteristik: Piston seal harus mampu menahan tekanan besar dan menjaga keseimbangan cairan di dalam silinder.

3. Wiper Seal (Dust Seal)

 Fungsi: Wiper seal dipasang di ujung silinder untuk mencegah debu, kotoran, pasir, atau partikel lain masuk ke dalam silinder saat rod bergerak keluar dan masuk. Fungsinya untuk melindungi komponen internal dari kontaminasi yang bisa merusak silinder.

 Jenis Material: Biasanya terbuat dari karet nitril (NBR) atau poliuretan yang tahan terhadap gesekan dan abrasi.

 Karakteristik: Harus cukup fleksibel untuk membersihkan rod secara efektif, tetapi juga tahan terhadap gesekan agar tidak cepat aus.

4. O-Ring

 Fungsi: O-Ring berfungsi sebagai seal statis yang mencegah kebocoran pada sambungan komponen yang diam, seperti antara tabung silinder dan head gland. Ini membantu menjaga tekanan di dalam sistem hidraulik tetap stabil.

(4)

 Jenis Material: Biasanya terbuat dari karet nitril (NBR) atau Viton yang tahan terhadap panas dan cairan hidraulik.

 Karakteristik: Harus memiliki elastisitas tinggi untuk menutup rapat dan mencegah kebocoran, meskipun ada fluktuasi tekanan.

5. Back-Up Ring

 Fungsi: Back-up ring digunakan bersama O-ring untuk memberikan dukungan ekstra pada seal di bawah tekanan tinggi, agar tidak tertekan keluar dari posisinya (extrusion).

 Jenis Material: Terbuat dari material yang lebih keras seperti PTFE (Teflon) atau nilon.

 Karakteristik: Harus tahan terhadap deformasi di bawah tekanan tinggi dan mencegah pergeseran O-ring.

6. Wear Ring (Guide Ring)

 Fungsi: Wear ring atau guide ring terletak di piston dan/atau rod untuk menjaga posisi piston tetap sentral di dalam silinder, serta mengurangi gesekan antara piston dan dinding silinder. Fungsi ini juga melindungi piston dari benturan langsung yang bisa merusak komponen.

 Jenis Material: Biasanya terbuat dari bahan komposit atau resin, seperti PTFE, yang tahan aus.

 Karakteristik: Harus tahan gesekan dan mampu menahan beban berat untuk memperpanjang umur komponen silinder.

7. Buffer Seal

 Fungsi: Buffer seal digunakan sebagai lapisan perlindungan tambahan sebelum rod seal. Fungsinya untuk meredam tekanan hidraulik tinggi dan melindungi rod seal dari lonjakan tekanan yang bisa menyebabkan kebocoran.

 Jenis Material: Terbuat dari poliuretan atau PTFE, yang tahan terhadap tekanan dan suhu tinggi.

 Karakteristik: Harus mampu menahan perubahan tekanan mendadak dan melindungi seal utama di belakangnya.

(5)

5. Urutan seal 1. Piston Seal

Posisi: Terletak di tengah piston, mengelilingi piston itu sendiri.

Fungsi: Piston seal adalah seal utama yang memisahkan ruang bertekanan tinggi dan rendah di dalam silinder. Fungsinya mencegah kebocoran cairan hidraulik antara kedua sisi piston saat bergerak.

Urutan: Seal ini adalah yang terdekat dengan permukaan piston yang bersentuhan langsung dengan dinding silinder.

2. Wear Ring (Guide Ring)

Posisi: Terletak di sekitar piston, biasanya ditempatkan di satu atau dua sisi piston untuk menjaga pergerakan piston tetap stabil dan lurus di dalam tabung silinder.

Fungsi: Berfungsi sebagai penyeimbang untuk mencegah kontak langsung antara piston dan dinding silinder, sekaligus mengurangi gesekan dan melindungi piston serta dinding silinder dari keausan.

Urutan: Biasanya diletakkan di sisi atas dan/atau bawah piston seal.

3. Back-Up Ring

Posisi: Dipasang di belakang O-ring atau piston seal.

Fungsi: Untuk mencegah seal utama (seperti O-ring atau piston seal) dari deformasi atau terdesak keluar dari posisinya akibat tekanan tinggi di dalam silinder.

Urutan: Diletakkan setelah piston seal sebagai dukungan.

4. O-Ring

Posisi: Diletakkan di alur statis di antara komponen piston.

Fungsi: Berfungsi sebagai seal statis yang mencegah kebocoran cairan pada bagian sambungan piston atau antara piston dengan dinding silinder.

Urutan: Dipasang bersamaan dengan back-up ring, tergantung dari konfigurasi piston.

5. Rod Seal (di bagian rod piston)

Posisi: Di bagian yang menutupi rod atau batang piston saat bergerak keluar dan masuk dari silinder.

(6)

Fungsi: Mencegah cairan hidraulik bocor ke luar melalui rod piston. Seal ini memastikan bahwa cairan tetap berada di dalam silinder meskipun rod bergerak.

Urutan: Diletakkan di ujung silinder, menutupi rod piston.

6. Buffer Seal

Posisi: Biasanya terletak di depan rod seal sebagai pelindung tambahan.

Fungsi: Meredam lonjakan tekanan tinggi yang terjadi di dalam silinder agar tidak langsung merusak rod seal.

Urutan: Diletakkan sebelum rod seal untuk memberikan perlindungan tambahan pada rod seal.

7. Wiper Seal (Dust Seal)

Posisi: Ditempatkan di bagian luar ujung silinder di mana rod piston keluar.

Fungsi: Mencegah debu, kotoran, pasir, atau partikel lainnya masuk ke dalam silinder saat rod bergerak masuk dan keluar. Seal ini berperan penting dalam menjaga kebersihan sistem hidraulik dan mencegah kerusakan akibat

kontaminasi.

Urutan: Diletakkan paling luar, di dekat mulut silinder di mana rod piston bergerak.

6. Warna – warna seal pada boom 1. Rod Seal

Warna umum: Biru, hijau, atau hitam.

Material: Poliuretan (PU), nitril (NBR), atau karet sintetis.

Fungsi: Mencegah kebocoran hidraulik dari bagian rod silinder.

2. Piston Seal

Warna umum: Hitam, biru, atau kuning.

Material: PTFE (Teflon), poliuretan (PU), atau karet.

Fungsi: Memisahkan ruang bertekanan tinggi dan rendah di dalam silinder.

3. Wiper Seal (Dust Seal)

Warna umum: Biasanya berwarna hijau, biru, atau hitam.

Material: Poliuretan (PU) atau karet nitril (NBR).

(7)

Fungsi: Mencegah kotoran, debu, atau partikel asing masuk ke dalam silinder.

4. O-Ring

Warna umum: Hitam atau coklat.

Material: Nitril (NBR) atau Viton.

Fungsi: Menjadi seal statis untuk mencegah kebocoran pada sambungan komponen.

5. Back-Up Ring

Warna umum: Putih atau abu-abu.

Material: PTFE (Teflon) atau plastik keras.

Fungsi: Mendukung O-ring atau piston seal dalam menahan tekanan tinggi.

6. Wear Ring (Guide Ring)

Warna umum: Kuning, putih, atau coklat.

Material: Bahan komposit, PTFE, atau resin yang tahan aus.

Fungsi: Mencegah kontak langsung antara piston dan dinding silinder serta mengurangi gesekan.

7. Buffer Seal

Warna umum: Hijau, biru, atau putih.

Material: Poliuretan (PU) atau PTFE.

Fungsi: Meredam lonjakan tekanan hidraulik dan melindungi rod seal.

7. Penyebab kerusakan seal piston 1. Kualitas Seal yang Buruk

Penyebab: Penggunaan seal berkualitas rendah atau tidak sesuai spesifikasi dapat menyebabkan seal cepat aus atau gagal menjalankan fungsinya dengan baik.

Dampak: Seal bisa kehilangan elastisitas, mudah robek, atau tidak mampu menahan tekanan hidraulik yang tinggi.

2. Tekanan Hidraulik Berlebih

Penyebab: Sistem hidraulik yang mengalami tekanan berlebihan dapat memberikan tekanan yang melebihi kapasitas seal. Ini dapat terjadi akibat

(8)

kegagalan komponen lain, seperti valve yang rusak atau pompa yang bekerja tidak normal.

Dampak: Seal bisa mengalami deformasi atau bahkan pecah karena tidak mampu menahan tekanan yang terlalu tinggi.

3. Suhu Operasi yang Terlalu Tinggi

Penyebab: Suhu hidraulik yang terlalu tinggi dapat disebabkan oleh

penggunaan alat berat secara terus-menerus tanpa pendinginan yang memadai.

Hal ini bisa mempercepat degradasi material seal, terutama yang terbuat dari bahan karet atau poliuretan.

Dampak: Seal dapat mengeras, retak, atau meleleh, mengurangi kemampuan menahan tekanan dan kebocoran.

4. Kontaminasi Cairan Hidraulik

Penyebab: Masuknya partikel asing seperti debu, pasir, air, atau logam ke dalam sistem hidraulik dapat menyebabkan abrasi pada seal.

Dampak: Seal dapat tergores atau terkikis, menyebabkan kebocoran cairan dan mengurangi efektivitas sistem hidraulik.

5. Keausan Akibat Gesekan

Penyebab: Gesekan terus-menerus antara rod silinder dan seal dapat

menyebabkan keausan pada permukaan seal. Hal ini bisa diperburuk jika ada goresan pada rod piston atau permukaan dinding silinder.

Dampak: Keausan berlebih pada seal akan menyebabkan kebocoran hidraulik dan mengurangi kinerja boom cylinder.

6. Salah Pemasangan Seal

Penyebab: Seal yang tidak dipasang dengan benar atau dalam urutan yang salah dapat menyebabkan tekanan tidak merata di dalam silinder atau kebocoran. Pemasangan yang terlalu longgar atau terlalu kencang juga bisa mengakibatkan seal rusak.

Dampak: Seal bisa cepat aus, terjepit, atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya, menyebabkan kebocoran atau kerusakan sistem hidraulik.

7. Rod Silinder yang Rusak atau Gores

(9)

Penyebab: Rod piston yang tergores, bengkok, atau rusak bisa merusak seal saat bergerak masuk dan keluar dari silinder.

Dampak: Seal bisa robek atau terkelupas karena kontak dengan rod yang tidak halus, sehingga cairan hidraulik bocor keluar.

8. Cairan Hidraulik yang Tidak Sesuai atau Terkontaminasi

Penyebab: Penggunaan cairan hidraulik yang tidak sesuai dengan spesifikasi atau terkontaminasi dengan bahan kimia lain dapat mempercepat degradasi material seal.

Dampak: Seal bisa membengkak, menjadi lunak, atau bahkan larut jika terpapar cairan yang tidak sesuai atau kotor.

9. Getaran Berlebih

Penyebab: Getaran berlebih dari mesin atau alat berat bisa menyebabkan seal mengalami stres mekanis tambahan.

Dampak: Seal bisa longgar, pecah, atau cepat aus akibat getaran yang berulang-ulang.

10. Perubahan Suhu Ekstrem

Penyebab: Alat berat yang digunakan dalam kondisi suhu yang sangat rendah atau sangat tinggi dapat menyebabkan seal kehilangan fleksibilitasnya.

Dampak: Di suhu rendah, seal dapat mengeras dan menjadi rapuh, sedangkan di suhu tinggi, seal bisa menjadi terlalu lunak dan gagal mempertahankan bentuknya.

11. Pemeliharaan yang Tidak Memadai

Penyebab: Tidak melakukan perawatan rutin, seperti pengecekan dan penggantian seal secara berkala, bisa memperburuk kondisi seal. Selain itu, kurangnya pelumas yang memadai bisa meningkatkan gesekan.

Dampak: Seal akan cepat aus atau rusak, yang pada akhirnya menyebabkan kebocoran dan kegagalan sistem hidraulik.

12. Umur Pakai Seal

Penyebab: Seal memiliki umur pakai yang terbatas, dan seiring waktu, material seal akan mengalami keausan alami.

(10)

Dampak: Seal akan mengalami penurunan elastisitas dan kemampuan penyegelan, sehingga menyebabkan kebocoran hidraulik.

Kesimpulan :

Kerusakan seal pada piston boom cylinder dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti tekanan hidraulik yang berlebih, gesekan, suhu yang ekstrem, kualitas material yang rendah, serta pemeliharaan yang tidak memadai. Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, penting untuk menggunakan seal berkualitas baik, menjaga sistem hidraulik tetap bersih, dan melakukan perawatan rutin.

8. Cara mencegah kerusakan 1. Gunakan Seal Berkualitas Tinggi

Pencegahan: Pastikan seal yang digunakan sesuai dengan spesifikasi dan kualitas yang dibutuhkan oleh alat berat, seperti Komatsu PC 1250. Gunakan seal yang terbuat dari material yang tahan terhadap tekanan, suhu, dan gesekan tinggi.

Manfaat: Seal berkualitas tinggi akan lebih tahan lama dan mampu menahan tekanan hidraulik serta kondisi kerja yang ekstrem.

2. Periksa Tekanan Hidraulik Secara Berkala

Pencegahan: Monitor dan kontrol tekanan hidraulik agar tetap dalam batas yang direkomendasikan oleh pabrikan. Hindari lonjakan tekanan atau tekanan berlebihan yang bisa merusak seal.

Manfaat: Menjaga tekanan hidraulik stabil akan mencegah seal dari deformasi atau pecah akibat tekanan yang terlalu tinggi.

3. Pemeliharaan Rutin Sistem Hidraulik

Pencegahan: Lakukan perawatan berkala pada sistem hidraulik, termasuk penggantian cairan hidraulik dan pembersihan sistem dari kontaminan.

Pastikan bahwa cairan hidraulik yang digunakan bersih dan sesuai dengan spesifikasi.

Manfaat: Sistem hidraulik yang bersih akan mencegah partikel asing seperti debu, pasir, atau kotoran masuk dan merusak seal.

(11)

4. Gunakan Cairan Hidraulik yang Sesuai

Pencegahan: Pastikan cairan hidraulik yang digunakan sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Hindari penggunaan cairan yang dapat merusak material seal seperti minyak atau cairan yang terkontaminasi.

Manfaat: Cairan hidraulik yang tepat akan menjaga seal dari kerusakan kimiawi seperti pelunakan, pembengkakan, atau pecah.

5. Lakukan Pengecekan Rod Silinder

Pencegahan: Periksa rod piston secara rutin untuk memastikan tidak ada goresan, bengkok, atau cacat lainnya. Rod yang halus akan mengurangi gesekan berlebih pada seal.

Manfaat: Rod yang terjaga dengan baik akan mencegah kerusakan seal akibat gesekan atau robekan saat rod bergerak keluar dan masuk.

6. Periksa dan Ganti Seal Secara Teratur

Pencegahan: Seal memiliki umur pakai terbatas, jadi lakukan penggantian seal sesuai dengan interval yang direkomendasikan atau ketika sudah terlihat tanda-tanda aus. Jangan menunggu hingga seal benar-benar rusak.

Manfaat: Penggantian seal secara teratur akan mencegah kebocoran cairan hidraulik dan menjaga kinerja sistem tetap optimal.

7. Hindari Suhu Operasi yang Ekstrem

Pencegahan: Jangan biarkan sistem hidraulik bekerja pada suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Gunakan pendingin atau sistem pemanas jika diperlukan untuk menjaga suhu operasi dalam kisaran yang aman.

Manfaat: Seal yang bekerja pada suhu yang stabil lebih tahan lama karena terhindar dari kerusakan akibat pemuaian, pengerasan, atau degradasi material.

8. Pasang Seal dengan Benar

Pencegahan: Pastikan seal dipasang dengan benar dan dalam urutan yang sesuai. Seal yang dipasang dengan tidak tepat dapat menyebabkan tekanan hidraulik bocor atau mengakibatkan seal aus lebih cepat.

Manfaat: Seal yang terpasang dengan benar akan bekerja lebih efektif dan tahan lama.

(12)

9. Gunakan Wiper Seal

Pencegahan: Pastikan wiper seal atau dust seal dalam kondisi baik dan berfungsi untuk mencegah kotoran masuk ke dalam sistem silinder.

Manfaat: Mencegah masuknya partikel asing akan menghindarkan seal piston dari gesekan dan abrasi akibat kontaminasi.

10. Minimalkan Getaran dan Benturan Berlebih

Pencegahan: Hindari pengoperasian alat berat di lingkungan yang

menghasilkan getaran atau benturan berlebihan, yang dapat merusak seal dan komponen hidraulik lainnya.

Manfaat: Mengurangi stres mekanis pada seal akan memperpanjang umur pakai seal piston dan komponen lainnya.

11. Pelumasan yang Cukup

Pencegahan: Pastikan bahwa sistem hidraulik memiliki pelumasan yang memadai. Kurangnya pelumas dapat menyebabkan gesekan berlebih pada seal, yang dapat menyebabkan aus lebih cepat.

Manfaat: Pelumasan yang baik membantu mengurangi gesekan antara seal dan rod, sehingga seal tidak cepat rusak.

12. Periksa Back-Up Ring dan Wear Ring

Pencegahan: Pastikan back-up ring dan wear ring dalam kondisi baik untuk mendukung seal dan mencegah kontak langsung antara piston dan dinding silinder.

Manfaat: Kedua komponen ini membantu mengurangi beban pada seal utama, sehingga seal tidak cepat rusak.

Kesimpulan :

Dengan menjalankan langkah-langkah pencegahan di atas, seal piston pada boom cylinder dapat bertahan lebih lama dan bekerja lebih optimal. Perawatan rutin, pemilihan material yang tepat, kontrol suhu, dan pemasangan yang benar adalah kunci untuk menjaga seal piston agar tidak cepat rusak.

(13)

Referensi

Dokumen terkait