Manajemen Partisipatif Warga Sekolah Dalam Pengembangan Budaya Keagamaan Siswa (Studi Kasus di SMAN I Kwadungan-Ngawi). Respon warga sekolah terhadap manajemen partisipatif dalam pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN Kwadungan.
PENDAHULUAN
Bagaimana implementasi manajemen partisipatif warga sekolah dalam pengembangan budaya keagamaan siswa SMAN I Kwadungan. Respon warga sekolah terhadap manajemen partisipatif dalam pengembangan budaya keagamaan siswa SMAN I Kwadungan.
KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI
Manajemen Partisipatif Warga Sekolah a. Konsep Manajemen Partisipatif
Kedua pendapat ini memaknai manajemen partisipatif lebih berorientasi pada keterlibatan individu atau kelompok dalam suatu tanggung jawab kelompok. Ketidakpercayaan peserta terhadap pengelolaan suatu program sekolah dapat mengakibatkan kegagalan pengelolaan partisipatif yang juga akan berujung pada kegagalan tujuan program.
Pengembangan Budaya Religius di Sekolah d. Konsep Budaya Religius
Budaya keagamaan di sekolah diperlukan sebagai bagian dari upaya pengembangan pendidikan sesuai dengan pengertian pendidikan itu sendiri, sebagaimana dirumuskan dalam UUPN No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan. ., masyarakat, bangsa dan negara.75 Jika kita fokus pada pemahaman akan pentingnya upaya sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran, maka jelas bahwa hal ini menjadi tanggung jawab semua pihak di sekolah, bahkan dalam hal ini. kasus. mengembangkan budaya keagamaan di sekolah.
Prosedur Penyusunan Program Pengembangan Budaya Religius Peserta Didik di Sekolah
“Paradigma pendidikan Islam” adalah cara berpikir dan bertindak berdasarkan nilai-nilai agama (religiusitas). Beragama menurut Islam adalah pelaksanaan ajaran agama secara menyeluruh (kaffah).102 Dan menurut Asmaun Sahlan dalam bukunya yang berjudul: “Menciptakan budaya keagamaan di sekolah” mengungkapkan bahwa budaya keagamaan sekolah merupakan upaya mewujudkan nilai-nilai keberagamaan di sekolah. ajaran agama sebagai tradisi dalam perilaku dan budaya organisasi. Kegiatan merupakan bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih satuan kerja dalam rangka mencapai tujuan terukur dalam program dan terdiri dari serangkaian tindakan.
Perumusan budaya keagamaan di sekolah seringkali dikaitkan dengan perencanaan kegiatan, karena suatu program terdiri dari serangkaian rencana kegiatan. Program budaya keagamaan merupakan instrumen kebijakan yang mencakup satu atau lebih kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh suatu sekolah untuk mencapai maksud dan tujuan yang telah ditetapkan. Program budaya keagamaan bagi siswa di sekolah diselenggarakan untuk: pertama, mendukung koordinasi antar warga sekolah; kedua, menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi dan.
Tujuan yang diharapkan dapat dicapai pada masa yang akan datang oleh pegawai seluruh satuan pendidikan. Pendidikan budaya keagamaan peserta didik harus mendasar, tepat guna dan dalam upaya mencapai visi, misi dan tujuan sekolah. Perencanaan program budaya keagamaan yang baik paling sedikit memuat komponen-komponen yang terdiri atas nama program, tujuan, kegiatan, tujuan, sasaran, pelaksanaan, waktu, pendanaan, penanggung jawab, dan pelaksana.
Keterkaitan Manajemen Partisipatif dan Pengembangan Budaya Religius Peserta Didik di Sekolah
Fokusnya adalah pada program pengembangan budaya keagamaan siswa, penerapan kepemimpinan partisipatif dalam komunitas sekolah dan respon komunitas sekolah terhadap kepemimpinan partisipatif yang diterapkan sekolah. Untuk mencapai pemaknaan dan penafsiran yang mendalam terhadap fenomena kepemimpinan partisipatif dalam pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan, maka kehadiran, keterlibatan dan apresiasi langsung peneliti terhadap objek di lapangan mutlak diperlukan. Keberhasilan tersebut berkat penerapan manajemen partisipatif yang efektif dalam pelibatan warga sekolah dalam proses pengambilan keputusan, pelaksanaan dan evaluasi dalam pengembangan budaya keagamaan siswa.
Program pengembangan budaya keagamaan siswa yang dikembangkan di SMAN I Kwadungan bukanlah sesuatu yang baru, bahkan mungkin sudah lumrah karena juga diterapkan di sekolah lain. Data berupa kata-kata yang diperoleh melalui teknik wawancara digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang berkaitan dengan: apa program pengembangan budaya religius siswa di SMAN I Kwadungan; Data perilaku untuk menjawab rumusan masalah tentang bagaimana program pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan dan bagaimana menerapkan manajemen partisipatif warga sekolah dalam pengembangan budaya keagamaan siswa.
Kegiatan lainnya terkait dengan penerapan manajemen partisipatif, terdiri dari: kegiatan pengambilan keputusan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi program pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan. Dokumen-dokumen tersebut digunakan untuk memperoleh dan menganalisis data terkait program pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan, penerapan manajemen partisipatif warga sekolah, dan respon terhadap pengelolaan partisipatif warga sekolah. Proses analisis data dilanjutkan dengan mencari hubungan antara apa yang dilakukan (what), bagaimana dilakukan (how), mengapa dilakukan (why) dan apa hasilnya (what is effect), dalam kaitannya dengan apa yang dilakukan. fokus penelitian dalam kaitannya dengan siswa terhadap program pengembangan budaya keagamaan peserta didik, penerapan manajemen partisipatif dan respon partisipasi warga sekolah dalam pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan.
Gambaran Umum SMAN I Kwadungan
- Sejarah dan Perkembangan SMAN I Kwadungan
- Visi, Misi dan Tujuan SMAN I Kwadungan
- Struktur Organisasi SMAN I Kwadungan
- Keadaan Guru, Karyawan dan Peserta Didik SMAN I Kwadungan a. Keadaan Guru
- Keadaan Sarana Prasarana di SMAN I kwadungan
Pada awal berdirinya pada tahun 2005, sekolah ini hanya memiliki sekitar 1 rombongan belajar dengan jumlah siswa sebanyak 19 orang. Pada saat penelitian ini dilakukan, SMAN I Kwadungan telah banyak mengalami perkembangan dalam berbagai aspek, seperti dari segi sarana dan prasarana, kondisi siswa, kondisi guru dan tenaga kependidikan, dan. Prestasi akademik yang diraih SMAN I Kwadungan diantaranya adalah menduduki peringkat pertama rata-rata nilai ujian nasional tiga tahun ajaran terakhir, yakni tahun ajaran dan.
Berdasarkan hal tersebut, SMAN I Kwadungan hingga saat ini memiliki enam program keagamaan yang menjadi landasan pengembangan budaya keagamaan siswa. Adanya enam program tersebut merupakan kontribusi kepemimpinan seluruh kepala sekolah yang pernah memimpin SMAN Di Kwadungan. Tujuan SMAN I Kwadungan adalah: pertama, meningkatkan kegiatan keagamaan melalui perayaan hari besar keagamaan, shalat berjamaah dan meningkatkan wawasan keagamaan; kedua, peningkatan kegiatan pendidikan, penelitian dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi; ketiga, meningkatkan budaya ketertiban, disiplin, kejujuran dan etos kerja yang tinggi; kelima, peningkatan pembelajaran berbasis PAIKEM dan ICT; keenam, meningkatkan rata-rata nilai ujian nasional; ketujuh, meningkatkan jumlah calon yang diterima di PTN; kedelapan, peningkatan prestasi di bidang olahraga, seni, dan ilmu pengetahuan; kesepuluh, mengupayakan pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan untuk menunjang pembelajaran intrakurikuler dan ekstrakurikuler; kesebelas, peningkatan hubungan sinergis dengan perguruan tinggi, dunia usaha, dan industri.
Keadaan guru di SMAN I Kwadungan sudah sesuai dengan standar nasional pendidikan yaitu 22 orang pendidik yang terdiri dari kepala sekolah, 1 orang guru bimbingan dan konseling, dan 20 orang guru mata pelajaran. Jumlah siswa SMAN I Kwadungan tahun ajaran 2015-2016 sebanyak 226 orang, terdiri dari kelas X 71 orang, kelas XI 70 orang, dan kelas XII 84 orang. Sarana dan Prasarana Pendidikan di SMAN I Kwadungan terdiri dari ruang kepala sekolah, ruang wakil kepala sekolah, ruang guru, ruang tata usaha, 10 ruang kelas, ruang bimbingan dan konseling, ruang musik, laboratorium, ruang rapat, perpustakaan, sekretariat OSIS, dapur, 4 toilet, gudang, 2 kantin dan 1 mushola sekolah. 139.
Temuan Penelitian
- Program Pengembangan Budaya Religius Peserta Didik
- Manajemen Partisipatif Warga Sekolah dalam Pengembangan Budaya Religius Peserta Didik di SMAN Kwadungan
- Respon Warga Sekolah terhadap Manajemen Partisipatif dalam Pengembangan Budaya Religius Peserta Didik di SMAN I Kwadungan
Berdoa merupakan salah satu program pengembangan budaya keagamaan bagi siswa di SMAN I Kwadungan yang telah mengalami perkembangan dalam pelaksanaannya. Program Sholat Dzuhur berjamaah merupakan program pengembangan budaya keagamaan santri yang berkaitan dengan hubungan antar. Imam yang memimpin shalat zuhur berjamaah di masjid sekolah dapat berasal dari kalangan pendidik atau siswa.
Sholat Dzuhur berjamaah bukan satu-satunya program pengembangan budaya keagamaan santri yang berbentuk ritual salat. Santriwati yang berhalangan hadir hendaknya duduk tenang dan mendengarkan bacaan Al-Quran pada kegiatan ini. Manajemen partisipatif siswa dalam pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN Kwadungan Siswa Keagamaan di SMAN Kwadungan.
Pemberdayaan partisipasi warga sekolah dalam pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan dilakukan dengan kepemimpinan partisipatif yang baik. Pengurus kelas bertugas menyelenggarakan kegiatan Sholat Dzuhur bagi siswa di kelasnya masing-masing setiap harinya. Pengurus kelas bertugas melaksanakan salat dzuhur bagi siswa di kelas masing-masing setiap harinya.
Berdasarkan hasil observasi peneliti, kendala tersebut diatasi dengan membacakan Al-Qur’an kepada 2 orang siswa.255. Pembangunan masjid dan pengadaan Al-Qur'an merupakan beberapa wujud nyata partisipasi baik santri dalam program donasi.
ANALISIS DATA
Desain Program Pengembangan Budaya Religius Peserta Didik di SMAN I Kwadungan
Berdasarkan temuan data mengenai program pengembangan budaya religi pada siswa di SMAN I Kwadungan menurut peneliti. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai program pengembangan budaya religius pada siswa di SMAN I Kwadungan, peneliti dapat menguraikannya sebagai berikut :. Pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan bertujuan untuk mewujudkan nilai-nilai ajaran agama yang dianut oleh seluruh warga sekolah khususnya siswa.
Hal-hal tersebut menunjukkan adanya proses penanaman nilai-nilai dalam program pengembangan budaya keagamaan pada siswa di SMAN I Kwadungan. Pemberian model dalam pengembangan budaya religius siswa di SMAN I Kwadungan dapat dilihat dari berbagai hal, antara lain:. Kadar nilai-nilai dalam program pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan mencakup nilai-nilai yang berkaitan dengan Allah SWT. habl min Allah) dan nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia (Habl min Al nnas).
Nilai-nilai habl min Allah yang ditanamkan kepada peserta didik antara lain: pertama, nilai-nilai ketaatan dan ketundukan kepada Allah SWT saja. Hampir seluruh program pengembangan budaya religius siswa di SMAN I Kwadungan masih sebatas jangkauan lingkungan sekolah baik dari segi perencanaan, pelaksanaan, perolehan manfaat dan evaluasi. Sebelum adanya pengelolaan partisipatif mandiri warga sekolah dalam pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN Kwadungan.
Pre Self Manajemen Partisipatif Warga Sekolah dalam Pengembangan Budaya Religius Peserta Didik di SMAN Kwadungan
Aspek dimensi partisipasi: Peran serta warga SMAN I Kwadungan dalam pengembangan budaya keagamaan siswa melibatkan seluruh warga sekolah baik kepala sekolah, guru, administrator, siswa dan masyarakat. Tingkat partisipasi pengambilan keputusan dalam pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan juga sudah terlampaui. Tingkat pengambilan risiko juga sudah terlampaui dalam pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan.
Tingkat partisipasi dalam pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan juga berada pada tingkat kemitraan. Peneliti menyatakan bahwa partisipasi dalam pengembangan budaya keagamaan siswa SMAN I Kwadungan tingkat partisipasinya adalah pra manajemen diri karena tingkat kemitraan sudah terlampaui namun belum mencapai tingkat manajemen diri. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan telah dilaksanakan dengan manajemen partisipatif yang baik.
Manajemen partisipatif diterapkan dengan baik dalam manajemen kepemimpinan di SMAN I Kwadungan, khususnya dalam pengembangan budaya keagamaan siswa yang menjadi fokus penelitian ini. Tujuh indikator manajemen partisipatif diterapkan dalam program pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan. Penerapan proses manajemen partisipatif dalam program pengembangan budaya keagamaan siswa di SMAN I Kwadungan terlihat dari perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, komando dan pengendalian yang melibatkan peran serta warga sekolah.