• Tidak ada hasil yang ditemukan

Building Branding Strategies for Hijra Moslem Apparel

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Building Branding Strategies for Hijra Moslem Apparel"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI MARKETING PUBLIC RELATIONS DALAM MEMBANGUN BRANDING HIJRA MOSLEM APPAREL

1Pucha Hervina selaku Peneliti 2Sri Dewi Setiawati selaku Pembimbing 1

3Mahardiansyah Suhadi selaku Pembimbing 2

1Universitas BSI,Indonesia. e-mail : [email protected] 2Universitas Padjajaran,Indonesia. e-mail: [email protected] 3Universitas BSI,Indonesia. e-

mail: [email protected]

ABSTRACT

Hijra Moslem Apparel is a business based online shop with the theme Islamic Clothing. As a business enterprise that still belongs to Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), Hijra Moslem Apparel strives to conduct marketing communication activities in establishing Branding as Islamic Clothing for Youth.

Researchers examine the Branding process conducted by Hijra Moslem Apparel by using the concept of Marketing Public Relations is Three Ways Strategy. The research method used in this research is Phenomenology Study. The result of the research shows that the strategy of building Branding done is quite successful through the activities done but in this case Hijra Moslem Apparel is still less consistent to determine the direction of Branding of the product.

Keyword: Strategy, Marketing Public Relations, Branding

ABSTRAK

Hijra Moslem Apparel merupakan bisnis usaha berbasis Online Shop dengan bertemakan Islamic Clothing. Sebagai bisnis usaha yang masih termasuk ke dalam jenis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Hijra Moslem Apparel berusaha untuk melakukan kegiatan komunikasi pemasaran dalam membangun Branding sebagai Islamic Clothing di Kalangan Remaja. Peneliti mengkaji proses Branding yang dilakukan oleh Hijra Moslem Apparel dengan menggunakan konsep Marketing Public Relations yaitu Three Ways Strategy. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan adalah Studi Fenomenologi.

Hasil penelitian menunjukan bahwa strategi membangun Branding yang dilakukan sudah cukup berhasil melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan namun dalam hal ini Hijra Moslem Apparel masih kurang konsisten untuk menetapkan arah Branding dari produknya tersebut.

Kata Kunci: Strategi, Marketing Public Relations, Branding

PENDAHULUAN

Hijra Moslem Apparel merupakan bisnis usaha berbasis Online Shop dengan bertemakan Islamic Clothing.

Produk pakaian muslim laki-laki biasanya identik dengan baju koko, namun demi memenuhi selera konsumen, Hijra Moslem Apparel menghadirkan busana yang lebih santai dan paling banyak dikenakan oleh anak

muda saat ini, yaitu T-shirt. Tampilan design pada pakaiannya bernuansa islami dengan menampilkan design kombinasi huruf latin dan huruf arab.

Hijra Moslem Apparel berusaha untuk selalu melakukan inovasi dari segi pembuatan design dan juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dalam hal membangun Branding agar senantiasa mendapat perhatian dari

(2)

calon konsumen. Melihat saat ini semakin kuat persaingan antara sesama produk dengan tema Islamic Clothing dengan materi yang hampir sama.

Tampilan produk dengan design kombinasi huruf latin dan huruf arab salah satunya dapat menjadi media dakwah, karena dengan menyajikan design seperti ini pada suatu produk, khususnya pakaian, dirasa efektif untuk mengembangkan pengetahuan tentang ilmu islam kepada para masyarakat muslim dengan tampilan yang modern.

Pada produk Hijra Moslem Apparel, terdapat makna-makna yang terkandung didalam tulisan maupun gambar pada produknya. Tentunya segmentasi yang dituju pun harus sesuai dengan apa yang ditargetkan produk Hijra Moslem Apparel.

Pada jenis usahanya, Hijra Moslem Apparel masih termasuk ke dalam Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) karena bisnisnya masih terbilang baru. Hijra Moslem Apparel merupakan jenis usaha perorangan yang dirintis pada tahun 2015, sesuai dengan Undang - Undang No.20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah, menerangkan bahwa yang termasuk dalam UMKM yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha dan diatur berdasarkan undang-undang.

Usaha Hijra Moslem Apparel juga memenuhi ciri-ciri dari UMKM yaitu manajemen berdiri sendiri, modal disediakan sendiri, daerah pemasarannya lokal, aset perusahaannya kecil dan jumlah karyawannya terbatas.

Hijra Moslem Apparel telah mendaftarkan nama dan logonya untuk mendapatkan Hak Merek yang diakui oleh Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) sehingga secara hukum telah resmi mendapatkan legalitas usaha. Hal ini menjadikan Hijra Moslem Apparel

sudah memiliki kekuatan dari segi identitas Brand untuk bersaing dengan produk Islamic Clothing lainnya.

Hijra Moslem Apparel memiliki tujuan untuk membawa kesan tampilan pakaian masa kini pada konsep tampilan produknya agar anak remaja mau mengenakannya, sehingga dengan banyaknya remaja yang memakai produknya, maka Brand Hijra Moslem Apparel akan semakin dikenal.

Dewasa ini, terdapat suatu usaha untuk memperkuat posisi produk dalam benak konsumen yang disebut dengan Branding. Tujuan dibentuknya Branding adalah dalam rangka proses membangun dan membesarkan Brand.

Branding dalam suatu usaha sangat penting untuk menghadapi persaingan bisnis juga untuk memperkuat Brand yang dimiliki. Produk bisa saja ditiru oleh perusahaan lain, namun merek tidak dapat ditiru.

Branding atau penetapan merek dapat membantu konsumen mengatur pengetahuan mereka tentang produk dan jasa dengan cara menjelaskan pengambilan keputusan mereka dan dalam prosesnya, memberikan nilai bagi perusahaan. Agar strategi Branding berhasil dan nilai merek dapat tercipta, maka pemasar harus dapat menyakinkan konsumen bahwa terdapat perbedaan berarti di antara merek dalam kategori produk ataupun jasa. (Rian Kurniawan, 2016).

Selain untuk mempengaruhi produk atau perusahaan, Branding juga dapat membantu keputusan pembelian konsumen ketika memilih produk yang sama namun dari Brand yang berbeda.

Untuk itu, agar Brand mendapatkan kepercayaan dari konsumen maka harus dibuat strategi Branding dengan cara mempengaruhi konsumen melalui berbagai kegiatan pemasaran yang tepat.

Proses Branding ini termasuk ke dalam lingkup Marketing Public Relations

(3)

(MPR) dimana salah satu tugas dari terapan ilmu Marketing Public Relations adalah membangun Branding.

Pada kegiatan MPR di Hijra Moslem Apparel dalam membangun Branding dapat dicermati melalui tampilan produk yang disesuaikan dengan menentukan segmentasi pasar, aktivitas pemasaran produk, proses kerja sama Hijra Moslem Apparel dengan para perantara penjualan dan adanya hubungan dengan komunitas (community relations). Berdasarkan pemaparan diatas, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui strategi yang diterapkan Hijra Moslem Apparel dalam membangun Branding sebagai Islamic Clothing di kalangan remaja.

Fungsi yang ditinjau dari segi perspektif dapat menghasilkan suatu hal atau konsep dimana peneliti nantinya dapat memahami seperti apa proses membangun Branding sebagai Islamic Clothing di kalangan remaja.

KAJIAN LITERATUR Marketing Public Relations

Pada proses pemasaran produknya, Hijra Moslem Apparel memiliki kegiatan-kegiatan untuk memberikan informasi produknya kepada calon konsumen. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan oleh bagian marketing communication Hijra Moslem Apparel yang dalam penerapannya menggabungkan antara kegiatan marketing dan Public Relations (PR).

Sebagaimana dikatakan oleh Kotler, melihat sejumlah perkembangan baru yang menandai semakin terkaitnya hubungan pekerjaan antara marketing dan PR di masa mendatang.

Para praktisi marketing sangat suka untuk meningkatkan apresiasi mereka terhadap kontribusi potensial PR kepada produk marketing karena dengan menggunakan alat-alat promosi lainnya produktivitas mereka

mengalami penurunan drastis, hasilnya pun secara terus-menerus mengalami penurunan. Untuk menjangkau khalayak secara terus-menerus, biaya periklanan dari hari ke hari semakin meningkat. Bagian promosi penjualan berupaya untuk mengembangkan promosinya.

Para pemasar mengeluarkan uangnya untuk promosi penjualan, seolah tak ada pilihan lain. Untuk mengatasi masalah penurunan penjualan dan pemasaran, serta menangani promosi lebih luas, pihak perusahaan perlu menggunakan teknik-teknik PR, secara kreatif menggunakan news events (peristiwa berita), publications (publikasi-publikasi), social investments (investasi sosial), community relations (hubungan komunitas) dan kegiatan sejenis lainnya untuk meningkatkan penjualan dan pemasaran produk mereka dengan mengungguli pesaing.

Thomas L. Harris mengungkapkan bahwa :

Marketing Public Relations (MPR) merupakan proses dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program- program yang mendorong minat beli serta konsumen melalui penyampaian informasi dan kesan yang meyakinkan, dalam upaya memperlihatkan bahwa perusahaan dan produk-produknya sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan, dan minat para konsumen (Elvinaro, 2011).

Strategi pemasaran berpengaruh terhadap kepuasan konsumen, salah satunya adalah melalui pengembangan produk yaitu menciptakan merek (Setiawati, 2016).

Hasil penelitian lembaga The Golin/Harris Ball tentang MPR menyatakan bahwa MPR secara khusus efektif dalam membangun kesadaran Brand (produk) dan pengetahuan Brand. MPR dinilai efektif dan potensial dalam peningkatan

(4)

penggunaan kategori dan peningkatan penjualan Brand (produk).

Branding

Persaingan antar produk dengan materi atau komposisi yang sama saat ini semakin kuat adanya. Pada usaha di bidang Islamic Clothing tentunya materi yang digunakan tidaklah jauh berbeda. Untuk itu, Hijra Moslem Apparel berusaha merancang strategi bagaimana agar Brand produk mereka mendapatkan perhatian dari calon konsumen yaitu dengan cara membangun strategi yang dapat diterima oleh target pasarnya.

Menurut Astuti Prida (2011), mengatakan:

“Brand telah menjadi elemen penting bagi kesuksesan sebuah organisasi dalam memasarkan suatu produk.

Istilah Brand muncul karena persaingan produk semakin tinggi dan menyebabkan perlunya penguatan pada Brand untuk membedakan produk tersebut dengan produk lain. Salah satu upayaperusahaan untuk memperkuat produk/layanan yaitu dengan Branding.

Brand ataupun Branding dibangun oleh banyak faktor dan dikomunikasikan melalui aspek integrated marketing communication seperti misalnya melalui iklan, event,atau promosi.”

Pengertian Branding telah berkembang dari sekedar merek atau nama dagang suatu produk, jasa, dan perusahaan yang berkaitan dengan hal-hal kasat mata, seperti nama dagang, logo atau ciri visual lainnya, namun juga berarti citra, kredibilitas, kesan, persepsi, dan anggapan di benak konsumen.

Branding adalah kumpulan kegiatan komunikasi yang dilakukan perusahaan dalam rangka proses membangun dan membesarkan Brand.

Branding bukan hanya tentang memenangkan hati target pasar agar memilih Brand, tapi lebih penting lagi agar pelanggan dapat melihat merek suatu perusahaan sebagai satu-satunya

yang terbaik yang mampu memberikan solusi dan memenuhi keinginan mereka. Bagi sebuah perusahaan, Branding tidak sekadar berfungsi sebagai corporate identity, tetapi dapat meningkatkan Brand Image (citra yang terbentuk dalam benak konsumen mengenai sebuah merek tertentu) yang luar biasa, jika digarap dengan profesional.

Branding dianggap sebagai asset perusahaan yang paling berharga dan salah satu hal penting dalam sebuah bisnis karena tidak dapat dibangun dalam jangka waktu yang singkat.

Dalam melakukan Branding, peran humas perusahaan lebih dominan dalam usaha untuk membangun dan mempertahankan reputasi, citra Brand melalui komunikasi hubungan masyarakat yang baik dan bermanfaat antara perusahaan dan konsumen.

METODE PENELITIAN

Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan informasi sedalam mungkin pada latar yang alami sehingga data yang diperoleh benar- benar sesuai tanpa rekayasa. Metode yang digunakan untuk mempermudah penelitian ini lebih diarahkan kepada metode fenomenologi. Peneliti menggunakan metode fenomenologi untuk menemukan esensi makna berdasarkan pengalaman informan, serta memahami makna dari pengalaman tersebut dapat mendorong terjadinya pembuatan strategi membangun Branding Hijra Moslem Apparel.

Fenomenologi dalam

perkembangannya telah dirumuskan oleh banyak pemikir. Namun, yang lazim dianggap sebagai tokohnya dalam sosiologi adalah Alfred Schutz.

Schutz memandang bahwa makna bersama terbentuk berdasarkan proses intersubjektivitas di antara para aktor.

Schutz juga menekankan bahwa ilmu

(5)

sosial secara esensial tertarik pada tindakan sosial (social action).

Konsep “sosial” disini didefinisikan sebagai hubungan antara dua atau lebih orang, sedangkan “tindakan”

didefinisikan sebagai perilaku membentuk makna subjektif (subjective meaning). Namun menurut Schutz, makna subjektif tersebut bukan ada pada dunia privat, personal, atau individual. Makna subjektif yang terbentuk dalam dunia sosial oleh aktor lebih merupakan sebuah “kesamaan”

dan “kebersamaan” (common and shared) di antara para aktor. Oleh karena itu, sebuah makna subjektif disebut sebagai intersubjektif.

Paradigma yang digunakan di dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivisme. Alasan peneliti

menggunakan paradigma

konstruktivisme adalah untuk mengembangkan makna-makna subjektif dari pengalaman informan dalam membangun Branding Hijra Moslem Apparel.

PEMBAHASAN

Budaya kerjasama Hijra Moslem Apparel sebagai proses membangun Branding

Hijra Moslem Apparel belum memiliki toko untuk dilakukan penjualan langsung. Memang saat ini, membuka bisnis Online shop dinilai lebih efektif dalam segala hal. Baik dalam hal biaya, sumber daya manusia maupun mencapai target sasaran. Namun apabila hanya mengandalkan media Online sebagai media usaha, dirasa kurang cukup untuk meningkatkan angka penjualan. Untuk itu, perlu digunakan cara lain agar produk atau Brand lebih mendapatkan perhatian dari pihak lain. Salah satunya adalah menjalin kerja sama dengan para agen penjual maupun pemasaran.

Pada penerapannya, strategi yang telah dilakukan oleh Hijra Moslem Apparel

dalam upaya meningkatkan pembelian dan juga penjualan adalah dengan menjalin kerja sama dengan pihak luar.

Upaya kerja sama yang dilakukan ini termasuk ke dalam konsep Three Ways Strategy yaitu Push Strategy yang dalam hal ini, Hijra Moslem Apparel melakukan upaya untuk merangsang pembelian dengan melakukan perluasan pengaruh maupun bidang pemasarannya. Kerjasama yang dilakukan diantaranya adalah dengan para perantara penjualan seperti pada bagian produksi yaitu bekerja sama dengan vendor, adapun dengan bagian pemasar yaitu marketer dan juga reseller.

Hijra Moslem Apparel memilih pihak- pihak yang dapat bekerjasama dan dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Pada proses produksi, Hijra Moslem Apparel memilih vendor yang tentunya dapat menyelesaikan permintaan produksi tepat waktu. Untuk itu, dapat terjadi kerjasama yang saling menguntungkan bagi pihak vendor karena Hijra Moslem Apparel pun akan membayar dengan waktu yang sesuai.

Agar kegiatan Branding produk dapat berjalan maksimal, Hijra Moslem Apparel pun memilih bekerjasama dengan marketer yang kredibel dan dapat bersungguh-sungguh. Tugas marketer adalah marketer yaitu hanya melakukan komunikasi pemasaran produk Hijra Moslem Apparel. Namun kegiatan komunikasi pemasaran ini juga harus menghasilkan penjualan produk. Proses penjualan produk tidak dilakukan secara langsung oleh marketer, melainkan dilakukan oleh Hijra Moslem Apparel. Marketer hanya cukup melaporkan ketika terdapat calon konsumen yang mau membeli produk. Selanjutnya Hijra Moslem Apparel sendiri yang menangani proses pengiriman serta pembayarannya.

Keuntungan yang diberikan kepada

(6)

marketer yaitu berupa komisi ditiap akhir bulan sesuai dengan angka penjualan.

Keuntungan lain untuk menjadi seorang marketer adalah cukup menjadi member saja untuk menjadi marketer Hijra Moslem Apparel, dengan tidak perlu melakukan jual putus seperti reseller.

Proses yang pertama dilakukan dalam melakukan penjualan produk, reseller harus membeli terlebih dahulu produk Hijra Moslem Apparel minimal sebanyak 1 lusin atau sebanyak 12 T- shirt. Hal ini dilakukan agar pihak reseller mendapatkan discount sebesar 30%, sehingga ketika menjual produk, harga yang digunakan tetap sama dengan harga asli seperti yang dijual langsung oleh Hijra Moslem Apparel sendiri. Keuntungan yang didapatkan oleh reseller yaitu berdasarkan selisih 30% dari potongan yang diberikan oleh Hijra Moslem Apparel. Apabila penjualan produk dapat sesuai target atau melebihi target yang ditentukan, maka reseller juga akan mendapatkan bonus berupa cash back sebesar Rp.

100.000.

Pihak Hijra Moslem Apparel memberikan kesepakatan kepada reseller agar selalu memberikan pelayanan yang baik kepada konsumen.

Pelayanan yang baik itu dapat

dilakukan berupa respon yang cepat ketika terdapat konsumen yang berniat untuk membeli produk Hijra Moslem Apparel. Dengan adanya pelayanan baik yang diterima oleh konsumen, maka dapat membangun citra yang baik pula terhadap Brand. Apabila telah terbentuknya citra yang baik, memungkinkan pula mendapatkan kepercayaan konsumen terhadap produk dari Brand tersebut.

Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah peneliti dapatkan, melihat proses kerja sama yang dilakukan oleh Hijra Moslem Apparel dengan para pihak perantara penjualan memiliki perbedaan masing-masing. Dapat disimpulkan dengan adanya kesepakatan kerja yang dilakukan oleh Hijra Moslem Apparel kepada para perantara penjualannya akan memberikan keuntungan bagi keduanya.

Hal ini dapat dikaji dengan menggunakan Relationship Management Theory atau Teori Manajemen Hubungan. (John Ledingham, mendefinisikan bahwa teori manajemen hubungan menjelaskan tentang hubungan organisasi dengan publik yang dapat saling mempengaruhi. Terminologi relationship management merujuk pada proses hubungan manajemen antara

Budaya Kerja Hijra Moslem Apparel

Sumber : Pucha Hervina, Hasil penelitian (April-Juli)

(7)

organisasi dengan publik internal dan eksternal.

Keterkaitan pembahasan pada bab ini dengan teori tersebut terletak pada upaya yang dilakukan oleh Hijra Moslem Apparel melalui perntara penjualan agar dapat menjalin hubungan yang baik dengan konsumennya yaitu dengan cara memberikan pemahaman mengenai produk dari Brand Hijra Moslem Apparel. Pemahaman yang diberikan ini berupa kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh perantara penjualan dengan konsumennya dalam proses Branding produknya sebagai Islamic Clothing untuk kalangan remaja.

Apabila telah terjadi hubungan yang baik antara perusahaan dan publiknya maka tujuan perusahaan akan tercapai.

Menurut Zendy Tedja Wijaya (2014), mengemukakan tentang pentingnya membuat strategi membangun Branding yaitu demi menghadapi persaingan produk yang begitu kuat, perlu dibuat strategi komunikasi pemasaran yang tepat agar proses Branding akan berjalan sesuai dengan tujuan perusahaan. Tujuan dari Branding adalah agar Brand mendapatkan perhatian dari konsumen.

Apabila suatu Brand telah mendapatkan perhatian konsumen, maka akan menimbulkan persepsi konsumen yang nantinya akan menentukan kesetiaan konsumen terhadap produk dari Brand tersebut.

Berkaitan dengan hal tersebut, kegiatan Branding yang dilakukan oleh Hijra Moslem Apparel dapat dilihat dari proses kerja sama Hijra Moslem Apparel dengan perantara penjualan.

Membuat kesepakatan kerja yang dapat menguntungkan kedua belah pihak yakni win-win solution, akan membuat proses kegiatan Branding semakin berhasil dilakukan karena adanya kerja sama dengan pihak-pihak pemasar maupun penjual. Dengan adanya

bentuk kerja sama yang dilakukan dengan perantara penjual, maka Brand Hijra Moslem Apparel akan semakin memperluas kegiatan pemasarannya sehingga mudah untuk mendapatkan perhatian dari calon konsumen maupun konsumen.

PENUTUP

Sebagai bisnis usaha yang masih termasuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Hijra Moslem Apparel telah berhasil membangun kepercayaan konsumen terhadap produknya. Hal ini berdasarkan temuan peneliti dalam menganalisis dari segi kerjasama yang dilakukan dengan perantara penjualan seperti vendor, marketer, dan reseller. Dapat disimpulkan dengan adanya kesepakatan kerja yang dilakukan oleh Hijra Moslem Apparel kepada para perantara penjualannya akan memberikan keuntungan bagi keduanya. Pemberian keuntungan kepada pihak perantara penjualan, nantinya dapat mendorong mereka agar semakin giat melakukan tugasnya dalam melakukan komunikasi pemasaran atau proses Branding Hijra Moslem Apparel.

REFERENSI

Ardianto, Elvinaro. 2011. Handbook Of Public Relation. Jakarta:

Simbiosa Rekatama Media Denzin, K. Norman dan Lincoln S.

Yvoanna.2009. Handbook of Qualitative Research.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar Effendy, Onong Uchjana. 2013. Ilmu

Komunikasi Teori Dan Praktek.

Bandung: PT Remaja Rosda Karya

Kapferer, Jean Noel. 2008. Strategic Brand Management. 2nd ed.

New York. Free Press.

(8)

Landa, Robin. 2006. Designing Brand Experiences. Thomson Delmar Learning.

Moeloeng, Lexy J. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:

Remaja Rosda karya

Ruslan, Rosady. 2010. Manajemen Public Relations & Media Komunikasi. Jakarta:

Rajagrafindo Persada

Sobur, Alex. 2013. Filsafat Komunikasi Tradisi dan Metode Fenomenologi. Bandung: Rosda Wenats, Eka AG, Kurniawaty Yusuf,

Leonita Syarief, Putut Widjanarko, Rini Sudarmanti, Suraya, Tri Wahyuti, Wahyutama, Ratno Suprapto.

2012. Integrated Marketing Communications. Jakarta :Gramedia

Astuti, Prida Ariani Ambar. 2011.

Membangun Merek Melalui Penyelenggaraan Sebuah Event:

Studi Kasus Pada Event “Sour Sally Just Wanna Have Fun”.

Jurnal Komunikasi, Volume 1,Nomor 2, Januari 2011.

Kuswara, Engkus. Tradisi Fenomenologi pada Penelitian Komunikasi Kulitatif: Sebuah pengalaman akademis. Jurnal Mediator Vol.7 No.1 Juni 2006 Terakreditasi Dirjen Dikti SK No.56/DIKTI/Kep/2005.

Kurniawan, Rian. 2016. Strategi Komunikasi Pemasaran Dalam Branding Hotel Lor In Syariah Surakarta. Surakarta: Publikasi Ilmiah

Solihat Ani, Lukmanul Hakim, Sri Dewi Setiawati. 2016. Strategi Produk Cilok Sebagai Makanan Khas Kota Bandung. ISSN:

2355-0295, e-ISSN: 2528-2255 242. Bandung. Ecodemica, Vol.IV No.2, September 2016.

Diambil dari :

http://ejournal.bsi.ac.id/ejurnal/i

ndex.php/ecodemica (17 Oktober 2017)

Wijaya, Zendy Tedja. 2014.

Penyusunan dan Implementasi Strategi Branding Produk Kuliner dalam Membentuk Brand Knowledge sebagai Oleh- Oleh Khas Kabupaten Madiun.

Yogyakarta: Jurnal Ilmiah

BIODATA PENULIS

Pucha Hervina, lahir di Bandung, 16 Januari 1995. Telah menyelesaikan Sekolah Dasar pada tahun 2007, Sekolah Menengah Pertama tahun 2010, dan Sekolah Menengah Atas tahun 2013. Pendidikan formal terakhir adalah telah menyelesaikan studi di Universitas BSI Bandung tahun 2017, program studi Ilmu Komunikasi konsentrasi Public Relations.

Organisasi yang pernah diikuti diantaranya ekskul Jurnalis Pasundan 1 pada saat SMA, kemudian mengikuti unit kegiatan mahasiswa (UKM) Modern dance di Universitas BSI.

Pernah memiliki pengalaman magang selama satu bulan di PT. Perkebunan Nusantara VIII di unit Sekretaris Perusahaan Bagian Urusan Humas.

Referensi

Dokumen terkait