PPG prajabatan bertujuan untuk menghasilkan guru pemula profesional yang mengamalkan nilai-nilai Pancasila, semangat gotong royong, dan mampu memanfaatkan teknologi digital, serta menghasilkan hal-hal yang inovatif dan kreatif. Selain itu, PPG Prajabatan menekankan pada konsep Merdeka Belajar yang berpusat pada peserta didik dan pembelajarannya, berkomitmen untuk menjadi teladan dan pembelajar sepanjang hayat serta memiliki dasar-dasar kepemimpinan. Untuk menjawab tuntutan tersebut, Direktorat Pendidikan Profesi Guru (Direktorat PPG) mengkoordinasikan proses peningkatan kapasitas LPTK dalam menyelenggarakan PPG Prajabatan baik kuantitas maupun kualitas pendidikan.
Menanggapi tuntutan kualitas penyelenggaraan PPG Prajabatan, salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Direktorat PPG di bawah bimbingan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan adalah pengembangan PPG Prajabatan. modul. Kami mengucapkan terima kasih kepada LPTK penyelenggara PPG Prajabatan atas dukungan dan kerjasamanya dalam melaksanakan amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Daftar Tabel
CPMK
Asesmen
Ringkasan Alur MERDEKA
Perjalanan Pendidikan Nasional
- Pengantar
- Siapa saya sebagai seorang Guru?
- Panduan menulis tulisan reflektif
- Panduan menulis komitmen diri dalam Mata Kuliah Filosofi Pendidikan Nasional
- Perjalanan Pendidikan Nasional dari Perspektif Ki Hadjar Dewantara
- Argumen Kritis Perjalanan Pendidikan Nasional
- Kontekstualisasi Perjalanan Pendidikan Nasional
- Elaborasi Perjalanan Pendidikan Nasional
- Pemaparan Materi dari Dosen/Instruktur
- Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional
- Perwujudan Perjalanan Pendidikan Nasional
Anda juga akan membaca 1 artikel Ki Hadjar Dewantara untuk memahami Perjalanan Pendidikan Nasional sebelum dan sesudah kemerdekaan. Pada tahap Ruang Kolaborasi Anda bekerja sama dalam kelompok kecil (5 orang per kelompok) untuk membangun argumen kritis guna memahami 'Perjalanan Pendidikan Nasional'. Ruang Kolaborasi memberikan kesempatan bagi Anda untuk membangun argumentasi kritis untuk bersama-sama menengok Perjalanan Pendidikan Nasional dalam upaya membangun manusia Indonesia.
Pada tahap ini, Anda dan dosen/instruktur bekerja sama untuk membangun pemahaman bersama tentang Jalur Pendidikan Nasional. Dosen/instruktur meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam menyampaikan argumentasi kritisnya tentang Jalur Pendidikan Nasional.
Dasar-Dasar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara
- Siapa Ki Hadjar Dewantara bagi Saya?
- Dasar-Dasar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara
- Ki Hadjar Dewantara
- Dasar Dasar Pendidikan yang Menuntun
- Budi Pekerti
- Sistem Among
- Nilai Luhur Sosial Budaya sebagai Tuntunan
- Kontekstualiasi Dasar-Dasar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara
- Pendidikan sebagai Tuntunan
- Pendidikan dan Nilai Sosial Budaya
- Kontribusi Nyata Penerapan Dasar-Dasar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara
Anda mengawali topik ini dengan menulis esai reflektif untuk menggali pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan menjawab pertanyaan panduan di bawah ini. Apa yang anda ketahui dan pahami dari pemikiran Ki Hadjar Dewantar tentang pendidikan dan pengajaran. Bagaimana relevansi pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini dan konteks pendidikan pada masa sekolah.
Dalam memahami pengertian dan tujuan pendidikan, Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan antara kata pendidikan dan pengajaran. Anda telah membaca tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan untuk membangun argumentasi kritis terhadap pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Hasil kerjasama pengenalan nilai-nilai luhur kearifan budaya menjadi landasan pengetahuan dan pengalaman baru dalam refleksi pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam terwujudnya pembelajaran yang menunjang peserta didik.
Dosen/Instruktur menguatkan cara pandang reflektif kritis CGP dalam menafsirkan dan mengapresiasi pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara. Karya Anda menjadi demonstrasi kontekstual tentang bagaimana pemikiran Ki Hadjar Dewantara dikembangkan dan diterapkan di ruang kelas dan sekolah di rumah Anda. Pada pembelajaran ini Anda akan berlatih memberikan perspektif reflektif kritis berdasarkan pemahaman dan internalisasi konsep berpikir Ki Hadjar Dewantara (KHD) dalam ruang diskusi virtual.
Pembicara/instruktur menyampaikan materi Pendidikan Pemikiran Filsafat Ki Hadjar Dewantara (KHD) selama 25 menit untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap pemikiran KHD. Buatlah kesimpulan dan penjelasan mengenai pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang telah anda pelajari pada modul ini. Aksi nyata Anda adalah mendokumentasikan kontribusi nyata penerapan pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas dan sekolah sebagai pusat pengembangan karakter.
Identitas Manusia Indonesia
- Manusia Indonesia menurut Saya
- Identitas Manusia Indonesia
- Pengantar
- Identitas Manusia Indonesia
- Pendidikan Indonesia
- Manusia Indonesia menurut Kami
- Kontekstualisasi Manusia Indonesia
- Pemahaman tentang Manusia Indonesia
- Manusia Indonesia dari Perspektif yang Beragam
- Manusia Indonesia bagi Saya
Dengan menggunakan metode fenomenologi atau analisis eksistensial, bangsa Indonesia memaksudkan jati diri manusia yang secara khas menghayati nilai-nilai kemanusiaan Indonesia. Dengan menggali nilai-nilai luhur yang dianut masyarakat nusantara, Soekarno menjadikan Pancasila sebagai identitas bangsa Indonesia dan bangsa Indonesia. Ruang Kolaborasi memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi jati diri manusia Indonesia dalam kelompok kecil (4 sampai 5 orang per kelompok dan disesuaikan dengan jumlah siswa).
Siswa membuat rumusan tentang jati diri manusia Indonesia dari sudut pandang keberagaman nilai-nilai luhur yang ada. Apa yang saya ketahui tentang jati diri manusia indonesia dalam ragam nilai luhur yang ada. Mengapa kuatnya nilai-nilai luhur jati diri manusia Indonesia menjadi bagian penting dalam konteks pendidikan nasional?
Siswa membuat presentasi kontekstual untuk memberikan gambaran kontekstual tentang jati diri manusia Indonesia dengan menggunakan media visual atau audio. Media visual dapat berupa video pendek, infografis, poster, kartun atau komik, atau menggunakan podcast untuk menjelaskan hasil rumusan jati diri manusia Indonesia. Diskusi dalam forum diskusi virtual (non virtual), dosen/instruktur memastikan penguatan pemahaman tentang jati diri manusia Indonesia.
Ketika Anda memulai Pemahaman Elaborasi melalui forum diskusi di ruang virtual (non-virtual), Anda akan diberikan pertanyaan-pertanyaan reflektif terkait pemahaman Anda tentang jati diri manusia Indonesia. Sejauh mana tema jati diri manusia Indonesia menjadi pemahaman yang konstan dalam proses pembelajaran. Siswa menulis secara kritis bagaimana kepatuhan terhadap nilai-nilai Pancasila di sekolah memperkuat jati diri manusia Indonesia.
Pancasila Sebagai Fondasi Pendidikan Indonesia
- Pancasila dan Profil Pelajar Pancasila menurut Saya
- Pancasila Sebagai Fondasi Pendidikan Indonesia
- Pendahuluan
- Pancasila sebagai Fondasi Pendidikan Indonesia
- Profil Pelajar Pancasila (PPP)
- Eksplorasi nilai-nilai Pancasila dalam ruang kolaborasi
- Kontekstualisasi Pancasila sebagai Entitas dan Identitas Bangsa
- Memahami Pancasila dan Profil Pelajar Pancasila
- Pancasila bagi Saya
Nilai-nilai budaya dan agama tersebut dituangkan dalam lima sila atau Pancasila sebagai dasar negara. Nilai-nilai Pancasila merupakan landasan kehidupan berbangsa yang menempatkan rasa hormat kepada Tuhan sebagai pilar penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Mangunwijaya menegaskan, Pancasila memuat nilai-nilai humanis-religius masyarakat Indonesia yang bersumber dari pengalaman dan tradisi hidup masyarakat multiagama Indonesia (Mangunwijaya, 2020[1]).
Kedermawanan dalam hubungan global dan komitmen terhadap pembangunan dunia merupakan nilai-nilai kemanusiaan Indonesia yang dikembangkan bangsa Indonesia sesuai dengan cita-cita Bung Karno. Pendidikan Nasional Indonesia melahirkan Profil Pelajar Pancasila (PPP) sebagai perwujudan manusia Indonesia tangguh dengan nilai-nilai budaya luhur yang menjadi akar pendidikan dalam upaya memahami dan menghayati nilai-nilai kemanusiaan. Ruang Kolaborasi memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggali dalam kelompok kecil nilai-nilai Pancasila sebagai entitas dan jati diri bangsa Indonesia serta perwujudan profil siswa Pancasila dalam pendidikan yang bermanfaat bagi siswa dalam pendidikan abad 21.
Bagaimana relevansi Pancasila sebagai entitas dan jati diri bangsa Indonesia serta terwujudnya profil pelajar Pancasila dalam pendidikan yang berpihak pada peserta didik pada pendidikan abad 21. Bagaimana relevansi Pancasila sebagai entitas dan jati diri bangsa Indonesia serta terwujudnya profil pelajar Pancasila dalam pendidikan yang berpihak pada peserta didik pada pendidikan abad 21. Guru/pengajar menyampaikan materi tentang Pancasila sebagai entitas dan jati diri bangsa Indonesia serta perwujudan profil siswa Pancasila dalam pendidikan yang berpihak pada siswa pada pendidikan abad 21.
Penutup Pembicara/instruktur menutup kegiatan pembelajaran Pendalaman pemahaman Pancasila sebagai kesatuan dan jati diri bangsa Indonesia serta terwujudnya Profil Pelajar Pancasila dalam Pendidikan yang berpihak pada peserta didik dalam pendidikan abad 21. Mahasiswa mencermati secara kritis tantangan mewujudkan Pancasila sebagai kesatuan dan jati diri bangsa Indonesia serta terwujudnya Profil Pelajar Pancasila dalam Pendidikan yang berpihak pada peserta didik dalam pendidikan abad 21. Siswa menulis secara kritis tentang Pancasila sebagai entitas dan jati diri bangsa Indonesia serta perwujudan Profil Siswa Pancasila dalam Pendidikan, berpihak pada siswa pada pendidikan abad 21 di ekosistem sekolah (ruang kelas).
Telaah Praktik Baik Pendidikan Yang Memerdekakan
- Pendidikan yang Memerdekakan Menurut Saya
- Apa itu Pendidikan yang Memerdekakan
- Pendidikan yang Memerdekakan dalam Ruang Kolaborasi
- Kontekstualisasi Pendidikan yang Memerdekakan
- Pemahaman tentang Pendidikan yang Memerdekakan
- Pendidikan yang Memerdekakan dari Perspektif lain
- Pendidikan yang Memerdekakan bagi Saya
Apa yang Anda ketahui tentang pendidikan yang mendukung peserta didik dan memberdayakan peserta didik? Mengapa perlu memahami dan menghayati pendidikan yang memihak siswa dan memerdekakan siswa dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini? Bagaimana pendidikan yang mendukung siswa dan membebaskan siswa dapat menjadi bagian dari diri Anda sebagai seorang pendidik?
Siswa mempelajari beberapa video dari sekolah yang melaksanakan pendidikan yang mendukung/membebaskan siswa. Praktik baik apa yang dilakukan oleh sekolah mitra murid mengenai pendidikan yang mendukung dan memberdayakan siswa? Siswa membuat demonstrasi kontekstual untuk memberikan gambaran kontekstual pendidikan yang mendukung siswa dan memberdayakan siswa dalam pendidikan abad 21 dengan menggunakan media visual atau audio.
Diskusi dalam forum diskusi virtual (non virtual), Dosen/Instruktur memberikan penguatan pemahaman pendidikan yang mendukung peserta didik dan memerdekakan peserta didik dalam pendidikan abad 21. Dengan memulai Elaborasi Pemahaman melalui forum diskusi dalam ruang virtual (non-virtual), Anda diberikan pertanyaan reflektif tentang pemahaman Anda tentang pendidikan yang mendukung siswa dan memerdekakan siswa dalam pendidikan abad 21. Dosen/instruktur menyampaikan materi tentang pendidikan yang mendukung peserta didik dan memerdekakan peserta didik dalam pendidikan abad 21.
Penutup Dosen/Instruktur menutup kegiatan pembelajaran Mengembangkan pemahaman tentang pendidikan yang memberdayakan peserta didik dan memerdekakan peserta didik dalam pendidikan abad 21. Sejauh mana tema pendidikan yang mendukung dan memerdekakan siswa dalam pendidikan abad 21 dapat diterapkan pada pendidikan nasional dan sekolah mitra siswa pada khususnya? Siswa membuat proyek perubahan seputar pendidikan yang mendukung siswa dan membebaskan siswa dalam pendidikan abad ke-21 dengan sekolah mitra siswa.
Penutup
Daftar Pustaka
Pidato Sambutan Ki Hadjar Dewantara. Dewan Senat Universitas Gadjah Mada, 7 November 1956
- Politik Pendidikan Kolonial di Zaman VOC dan Hindia Belanda
- Zaman Etik dan Kebangunan Nasional
- Zaman Bangkitnya Jiwa Merdeka
- Tentang Pendidikan dan Pendidikan Nasional
- Tentang Kebudayaan
- Dasar Dasar Pendidikan
Dalam keadaan seperti itu, anak-anak dan remaja kita yang berada di rumah keluarganya masih dapat merasakan suasana budaya dan masih terpengaruh oleh segala sesuatu yang terus hidup dalam tradisi budaya yang berbeda, meskipun tidak ada pendidikan modern di daerah tersebut. Mengenai pengertian “keluarga” yang baru saya sebutkan adalah lingkungan yang melindungi keselamatan dan kebahagiaan anak dalam kehidupan budayanya, perlu diketahui bahwa dalam sistem Tamansiswa, kehidupan keluarga mempunyai tempat yang mulia dan istimewa. Pasal 126 misalnya mengatur bahwa pendidikan bagi anak-anak Eropa diperbolehkan secara cuma-cuma (Het onderwijs aan Europeanen is vrij).
Pendidikan secara umum berarti upaya untuk memajukan perkembangan watak (kekuatan batin), pikiran (kecerdasan) dan jasmani anak. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka anak-anak kita perlu mendekatkan kehidupannya dengan kehidupan masyarakat, agar mereka tidak sekedar hidup. Berdasarkan pengertian umum tersebut, berdasarkan apa yang dapat kita lihat dalam berbagai bentuk pendidikan, maka pendidikan diartikan sebagai 'bimbingan dalam tumbuh kembang anak'.
Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa pendidikan hanyalah ‘pemandu’ dalam kehidupan anak-anak kita hingga mereka tumbuh dewasa. Anak merupakan makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga ia hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya. Meski pendidikan hanya bisa ‘membimbing’, namun manfaatnya bagi pertumbuhan kehidupan anak sangatlah besar.
Banyak sekali anak-anak yang pada dasarnya baik, namun karena pengaruh keadaan yang buruk kemudian menjadi orang yang jahat. Bisa jadi juga tidak ada kemiskinan duniawi dalam keluarga, namun sangat kurang keluhuran atau kesuciannya, sehingga anak mudah terkena pengaruh jahat. Penyelenggaraan pendidikan setiap orang terhadap anak diusung oleh naluri pedagogi, yaitu keinginan dan kemampuan setiap orang untuk mendidik anaknya sedemikian rupa sehingga aman dan bahagia.
Seringkali pendidik hanya menggunakan satu metode dan umumnya disesuaikan dengan keadaan tertentu, misalnya sesuai dengan usia peserta didik. Sebab, perasaan batin anak kecil (cinta, takut, bangga, manja) masih tertuju pada ibunya, sehingga anak tersebut masih berpikiran sama dengan pendidik perempuan.
Profil Pengembang Modul