Mengembangkan etika dan etika profesional 2 masalah moral sebagaimana adanya, daripada hanya berurusan dengan teori moral abstrak. Pengembangan etika dan etika profesi 4 Umat Kristiani, bahwa yang mendorong perbuatan baik adalah cinta kepada Allah dan keimanan kepada-Nya.
Etika Abad Pertengahan
Etika Periode Bangsa Arab
Jadi orang-orang Arab pada masa itu sudah puas dengan mengambil etika dari agama dan tidak merasa perlu menyelidiki dasar-dasar kebaikan dan kejahatan.
Etika Periode Abad Modern
Mengacu pada arti kata "etika" yang terdapat dalam kamus bahasa Indonesia lama dan kamus bahasa Indonesia baru. Sedangkan kata etika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Baru (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988 – dikutip dari Bertens 2000) mempunyai arti.
BAB ETIKA, ETIKET, KAIDAH DAN MORAL
Etiket
Bertens, dalam bukunya yang berjudul Ethics, selain memiliki persamaan antara etika dan etiket, juga terdapat empat perbedaan umum sebagai berikut. Etika, tata krama, aturan dan moral 17 Etika dan etiket: Etika berarti kesusilaan, sedangkan etiket berarti tata krama yang baik.
Kaidah dan Norma
Etika, tata krama, aturan dan moral 19 dalam aspek kehidupan dapat digolongkan menjadi dua jenis aturan sebagai berikut. Aturan atau norma kesantunan, tata krama, dan tata krama dalam pergaulan sehari-hari di masyarakat (hidup bersama yang menyenangkan);
Moral
Dalam konteks etika sebagai filsafat dan ilmu pengetahuan, perlu dipisahkan antara etika dan moralitas. Etika, Etiket, Aturan dan Moralitas 30 terpengaruh dalam keadaan tidak sadarkan diri, amnesia, tidur atau gila.
Pengertian Etika
BAB ETIKA PROFESI
Teori Etika
Etika utilitarianisme adalah aliran yang menilai baik buruknya perbuatan manusia dari segi kecil dan besar manfaatnya bagi manusia (utilitas = manfaat); Etika teologis merupakan aliran kepercayaan yang mengukur baik buruknya perbuatan manusia dinilai dari pantas atau tidaknya perbuatan tersebut sesuai dengan perintah Tuhan (Theos=Tuhan).
Etika Cabang dari Filsafat
Etika Profesi 59 4. Etika juga diperlukan bagi umat beragama yang di satu sisi mendasarkan kemantapan imannya, dan di sisi lain sekaligus mau berpartisipasi tanpa rasa takut dan tanpa menutup diri. di dalam. dalam seluruh dimensi kehidupan sosial yang sedang mengalami perubahan. Etika Profesi 60 merupakan cabang filsafat yang mengkaji hakikat nilai, kriteria dan kedudukan nilai. Etika Profesi 62 Sebagai bagian dari filsafat dan bahkan sebagai salah satu cabang filsafat tertua, etika juga dikembangkan sebagai bagian dari kajian ilmu pengetahuan.
Etika Profesi 63 Etika adalah salah satu cabang filsafat sebagai ilmu yang mempelajari filsafat tentang moralitas, sehingga yang melakukan etika adalah manusia, dan dengan demikian etika adalah filsafat manusia.
BAB PROFESIONAL DAN
Profesionalisme juga mengacu pada sikap dan komitmen anggota profesi untuk bekerja sesuai standar tinggi dan kode etik profesinya. Konsep profesionalisme yang dibuktikan oleh penelitian yang dikembangkan oleh Hall merupakan kata yang banyak digunakan para peneliti untuk menggambarkan bagaimana para profesional memandang profesinya, yang tercermin dalam sikap dan perilakunya. Pertama, keterhubungan komunitas, yaitu penggunaan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk organisasi formal atau kelompok rekan kerja informal sebagai sumber ide penting dalam bekerja.
PROFESIONALISME KERJA
Konsep Profesionalisme
Profesionalisme dan Profesionalisme Bekerja pada diri sendiri secara total merupakan komitmen pribadi, dan kompensasi terpenting yang diharapkan adalah kepuasan spiritual dan kemudian kepuasan materi. Sikap obstruktif adalah pendekatan terhadap tanggung jawab sosial yang melibatkan tindakan sesedikit mungkin dan melibatkan upaya untuk menyangkal atau menutupi kesalahan yang telah dilakukan. Sikap defensif, pendekatan tanggung jawab sosial yang ditandai dengan perusahaan yang hanya memenuhi persyaratan hukum minimum atas komitmennya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungan sosial. C. Sikap akomodatif merupakan pendekatan tanggung jawab sosial yang diterapkan oleh suatu perusahaan dengan melakukan bila diminta, melebihi persyaratan hukum minimum dalam komitmennya terhadap kelompok dan individu di lingkungan sosialnya.
Sikap proaktif merupakan pendekatan tanggung jawab sosial yang diterapkan oleh suatu perusahaan, yaitu secara aktif mencari peluang untuk berkontribusi terhadap kesejahteraan kelompok dan individu di lingkungan sosialnya.
Profesi dan Profesionalisme
Artinya, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesionalnya dengan sebaik-baiknya, demi kepentingan pengguna jasa, dan sesuai dengan tanggung jawab profesinya kepada masyarakat. Artinya, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesionalnya dengan sebaik-baiknya, demi kepentingan pengguna jasa, dan sesuai dengan tanggung jawab profesinya kepada masyarakat. Profesionalisme dan Profesionalisme Kerja 82 berlaku pada keterbukaan informasi dalam rangka pemenuhan tanggung jawab anggota berdasarkan standar profesional.
Kepentingan publik dan profesional mengharuskan standar profesional mengenai kerahasiaan didefinisikan dan adanya panduan mengenai sifat dan luas kewajiban kerahasiaan, serta mengenai berbagai keadaan di mana informasi yang diperoleh dalam pelaksanaan jasa profesional dapat atau harus diungkapkan. .
BAB KEBAIKAN, KEBAJIKAN DAN KEBAHAGIAAN
Kebajikan
Tabiat yang baik dari segi akhlak dipanggil kebajikan, manakala tabiat buruk dipanggil keburukan. Kebaikan, kebaikan dan kebahagiaan 86 4. Kebajikan asas, adalah kebajikan moral yang paling penting, .. a) Mencari keputusan fikiran yang betul untuk memilih cara yang betul untuk matlamat yang berbaloi (kebijaksanaan).
Kebahagiaan 1. Kebahagiaan Subjektif
Bukti positifnya, dengan menunjukkan bahwa hanya Tuhan yang mampu memenuhi segala keinginan manusia, hanya Tuhan yang mampu memberikan kebahagiaan sempurna. Jika tidak ada Tuhan, kebahagiaan yang sempurna tidak mungkin terjadi, karena akal manusia menuntun pada segala kebenaran, dan keinginan pada segala kebaikan. Dalam kehidupan di dunia pengetahuan kita masih gelap dan tidak menentu, sehingga kebahagiaan yang sempurna belum bisa diraih.
Setiap orang, setiap keluarga, setiap kelompok, setiap organisasi, setiap daerah, agama, bangsa, dan sebagainya, mempunyai nilai-nilai yang mungkin berbeda dengan orang lain.
Nilai pada Umumnya
Nilai-nilai yang ada dalam diri seseorang merupakan bagian dari kepribadiannya, merupakan keyakinan yang diperoleh dari pengalaman dan dipertahankan dalam jangka waktu yang relatif lama, meskipun dapat berubah secara perlahan. Nilai-nilai yang dimiliki seseorang juga menentukan persepsi, sikap, motivasi dan perilakunya, termasuk perilaku kerjanya. Menurut Sigit, nilai merupakan keyakinan yang dipegang teguh sejak lama mengenai sesuatu yang dianggap bernilai (worthworthiness) dan penting. Pentingnya), mempunyai arti (bermakna), diinginkan (diinginkan) dan diprioritaskan (diutamakan).
Nilai dengan demikian dapat diartikan sebagai sesuatu yang diinginkan, penting, dan bermakna, sehingga diperjuangkan untuk diwujudkan.
BAB NILAI DAN NORMA
Nilai Moral
Nilai moral mengandung imperatif kategoris (perintah), sedangkan nilai lainnya hanya berkaitan dengan imperatif hipotetis. Namun setiap orang diharapkan bahkan diwajibkan untuk menjunjung tinggi dan mengamalkan nilai-nilai moral. Nilai-nilai lain menyangkut manusia hanya dalam satu aspek, tetapi nilai-nilai moral menyangkut manusia sebagai manusia.
Nilai-nilai moral kita wujudkan dengan memasukkan nilai-nilai lain dalam 'perilaku moral'.
Norma Moral
Dan mereka bertanya-tanya apakah nilai dan norma moral dalam suatu kebudayaan didasarkan pada fisik (alam) atau pada angka (adat). Sedangkan jika kebiasaan dijadikan landasan, maka nilai dan norma moral akan berubah seiring dengan perubahan kebiasaan. Karena jelas ada sesuatu yang mutlak dalam norma moral, sesuatu yang tidak bisa ditawar.
Prinsip-prinsip di balik tindakannya tidak dapat digeneralisasikan dan oleh karena itu tidak dapat diterima sebagai norma moral yang sah.
BAB KODE ETIK PROFESI
Penerapan Kode Etik dalam Profesi
Kode etik profesi pada dasarnya mengatur hubungan antara profesional (orang yang menguasai suatu bidang profesi) dan klien (yang menggunakan jasa profesi). Selain itu, jika tidak ada kode etik profesi, maka akan semakin banyak penyalahgunaan profesi. Pelanggaran kode etik profesi dalam praktik yang sering terjadi meliputi dua kasus utama, yaitu.
Selanjutnya, setiap profesional harus memahami dengan jelas tujuan kode profesi dan kemudian mampu mengimplementasikannya.
BAB MOTIVASI DAN KINERJA
Teori Dua Faktor dari Frederick Herzberg
Dalam penerapannya di lingkungan organisasi/perusahaan, teori ini menekankan pentingnya menciptakan/mewujudkan keseimbangan antara kedua faktor tersebut. Teori ini mengklasifikasikan berdasarkan hasil suatu kegiatan berupa prestasi yang dicapai, termasuk dalam pekerjaan. Selain itu teori ini juga berasal dari teori perilaku yang didasarkan pada hubungan antara stimulus dan respon (Stimulus – Response atau S-R Bond).
Oleh karena itu, para manajer hendaknya mengapresiasi pekerja yang berhasil mencapai tujuan unit kerja atau perusahaan yang sulit dicapai.
Motivasi Instrinsik
Motivasi dan Kinerja 148 memperkuat motivasi yang satu, melemahkan motivasi yang lain, sehingga seseorang hanya melakukan satu aktivitas dan meninggalkan aktivitas lainnya. Motivasi merupakan pengatur arah atau tujuan dalam melaksanakan kegiatan, dengan kata lain setiap orang akan memilih dan berusaha mencapai tujuan yang mempunyai motivasi tinggi saja dan tidak akan mewujudkan tujuan yang mempunyai motivasi lemah.
Motivasi Ekstrinsik
- Kinerja
- Etos Kerja
Oleh karena itu, lingkungan kerja yang baik sangat diperlukan untuk menciptakan semangat kerja yang tinggi pada karyawan. Menurut Efendy, beliau mengatakan, “Kinerja adalah kinerja yang dihasilkan dari kerja yang dihasilkan oleh pegawai atau dari perilaku nyata yang ditunjukkan sesuai dengan perannya dalam organisasi.” Motivasi dan Kinerja 157 Etos kerja atau semangat kerja merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang dipengaruhi oleh orientasi nilai-nilai budayanya.
Motivasi dan Kinerja 158 Dalam rumusan Sinam, etos kerja adalah seperangkat perilaku positif yang didasari oleh keyakinan mendasar yang disertai komitmen total terhadap paradigma kerja menyeluruh.
Aspek-Aspek Etos Kerja
Dengan berbagai definisi di atas, baik secara etimologis maupun praktis, maka dapat disimpulkan bahwa etos kerja adalah seperangkat sikap atau pandangan mendasar yang dianut oleh sekelompok orang untuk memandang pekerjaan sebagai hal yang positif untuk meningkatkan kualitas hidup dengan mempengaruhi perilaku kerja mereka. . Dalam tulisannya Kusnan menemukan bahwa etos kerja menggambarkan suatu sikap, sehingga ia menggunakan lima indikator untuk mengukur etos kerja. Individu atau kelompok masyarakat yang mempunyai etos kerja rendah akan memperlihatkan sifat-sifat yang berlawanan, yaitu;
Motivasi dan Kinerja 161 memahami delapan aspek Etos Kerja yang dikemukakan Sinamo sebagai indikator Etos Kerja.
Faktor yang Mempengaruhi Etos Kerja
- Kepuasan Kerja
Karena analisis kepuasan kerja tidaklah sederhana, ada banyak faktor yang perlu mendapat perhatian serius. Selain itu, karena pekerjaan merupakan bagian penting dalam kehidupan, maka kepuasan kerja mempengaruhi kepuasan hidup seseorang. Tidak dapat dipungkiri dan hampir sebagian orang beranggapan bahwa gaji atau upah merupakan faktor utama dalam menciptakan kepuasan kerja.
Berbeda dengan Gilmer, Harold E Burt menekankan bahwa faktor-faktor yang menentukan kepuasan kerja adalah sebagai berikut.
BAB ETIKA MANAJEMEN DAN ORGANISASI
Manajer sebagai Aktor Ekonomi
Manajer sebagai Pemimpin Perusahaan
Manajer sebagai Pemimpin Komunitas
- Faktor yang Mempengaruhi Etika Manajerial
- Etika Organisasi
- Dimensi Etika dalam Organisasi
- Pembentukan Etika Organisasi
- Nilai Etika Oganisasi
Nilai-nilai yang diyakini oleh individu menjadi landasan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan/perilaku. Nilai-nilai yang berlaku dalam suatu organisasi secara konseptual telah berkembang sejak munculnya teori-teori organisasi. Menurut teori ini, ciri-ciri organisasi ideal yang juga merupakan nilai-nilai perilaku yang harus dianut oleh setiap anggota organisasi:
Nilai etika organisasi (nilai etika bisnis) merupakan suatu sistem nilai etika yang ada dalam suatu organisasi.
BAB HAK CIPTA DAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL
- Pengertian Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
- Industrial Property
- Merek
- Desain Industri
- Desain dan Tata Letak Sirkuit Terpadu (DTLST)
- Rahasia Dagang
- Paten
- Hak Cipta (Copyright)
- Pengertian Hak Cipta, Ciptaan, Pemegang Hak Cipta
- Perlindungan Hak Cipta
Hak cipta juga memungkinkan pemegang hak untuk membatasi penggandaan suatu ciptaan tanpa izin. Di Indonesia, permasalahan hak cipta diatur dalam Undang-Undang Hak Cipta yaitu yang saat ini berlaku adalah Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002. Hak Cipta dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) 185, pengertian hak cipta adalah “hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak cipta”. hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.”
Hak Cipta dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) 191 - Metode penjualan adalah strategi yang dijalankan. meningkatkan penjualan/lalu lintas massal, seperti metode pembayaran, diskon, kebijakan harga, dan promosi.