• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU MELACAK TRANSMISI KEILMUAN PESANTREN

N/A
N/A
Deko Yulama

Academic year: 2024

Membagikan "BUKU MELACAK TRANSMISI KEILMUAN PESANTREN"

Copied!
297
0
0

Teks penuh

Kajian Kitab Kuning, Hubungan Kiai-Santri dan Silsilah Pondok Pesantren Salafiyah Jawa Barat. Kajian Kitab Kuning, Hubungan Kiai-Santri dan Silsilah Pondok Pesantren Salafiyah Jawa Barat). Al-hamdulillah, penelitian mengenai transfer ilmu pesantren di delapan pesantren Salafiyah di Jawa Barat telah selesai dilakukan oleh Tim PKSBI Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kajian Kitab Kuning, Hubungan Kiai-Santri, dan Silsilah Ilmiah Delapan Pondok Pesantren Salafiyah di Jawa Barat akhirnya mencapai hasil penelitian tahap akhir.

Hasil penelitian ini memberikan beberapa hasil antara lain bahwa tradisi dan pengkajian kitab kuning di pondok pesantren Salafiyah Jawa Barat, serta hubungan kiai-santri, tidak hanya sekedar proses pembelajaran, pemaknaan dan pemahaman terhadap kitab tersebut. santri menuju kitab kuning dan kiai. Selain itu, kitab kuning juga menjadi landasan ideal bagi pesantren untuk menjaga dan melestarikan tradisi keilmuan pesantren Salafiyah di satu sisi, memberikan corak khas dalam kurikulum pesantren Salafiyah dan membangun jejaring antar pesantren Salafiyah. sekolah di Jawa Barat dan nusantara serta antara pesantren Salafiyah dengan pusat keilmuan di dunia Islam, baik di Haramain, Mesir, Yaman, Maroko dan Aljazair. Hasbi, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah al-Hikamussalafiyah, Cipulus dan Bpk. Kiai Karmudin, salah satu pengurus Pondok Pesantren Assafeiyah, Cikeris, Purwakarta, Bpk. K.H.

Muhammad Abdullah Muchtar, selaku pengurus Pondok Pesantren Salafiyah An-Nidzom, Sukabumi, beberapa pengurus Pondok Pesantren Cipasung dan Pondok Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, serta beberapa alumni pondok pesantren tersebut di atas.

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang Masalah
  • Batasan dan Rumusan Masalah
  • Tinjauan Pustaka
  • Kerangka Teori
  • Metode Penelitian
  • Sistematika Bahasan

Bagaimana konstruksi silsilah keilmuan melalui hubungan guru-murid dan kajian Kitab Kuning di delapan pesantren Salafiyah di Jawa Barat. Bagaimana jaringan silsilah keilmuan dalam hubungan kiai-santri dan kajian kitab kuning di delapan pesantren Salafiyah dalam konteks lokal, nasional, dan internasional. Tradisi ini terus berlanjut sehingga kajian Kitab Kuning menjadi model penelusuran silsilah keilmuan di pesantren Salafiyah.

Titik temunya adalah kajian Kitab Kuning sebagai tradisi keilmuan pesantren Salafiyah di Jawa Barat. Untuk menganalisis konstruksi genealogi delapan pesantren Salafiyah di Jawa Barat juga digunakan teori konstruksi sosial. Bab IV, Tradisi Keilmuan, Hubungan Antar Pondok Pesantren, Kiai-Santri, dan Silsilah Keilmuan Pondok Pesantren Salafiyah di Jawa Barat.

Pembahasan bab empat meliputi Tradisi Ilmiah Salafiyyah di Jawa Barat dan Kajian Kitab Kuning di delapan Pondok Pesantren Salafiyah di Jawa Barat.

PROFIL PONDOK PESANTREN SALAFIYAH DI CIREBON DAN PURWAKARTA

Pondok Pesantren Salafiyah di Cirebon

Mustadi Abbas membuka MTs Putra (Mualimin) dan MTs Putri (Mualimat) sebagai MWI yang melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Buntet. Pondok Pesantren Nadwatul Ummah merupakan salah satu pondok pesantren yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Buntet Cirebon. Akhlak santri yang diajarkan dan diamalkan di Pondok Pesantren Nadwatul Ummah Buntet Cirebon antara lain.

Pondok Pesantren Assyafeiyah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Assyafeiyah. Pesantren Gizi Assyafeiyah bercirikan Salafisme (klasik/tradisional) yang konsisten menjunjung risalah Islam dengan cermat dan tidak spekulatif (pandangan mayoritas ulama masa kini).

PROFIL PONDOK PESANTREN SALAFIYAH DI SUKABUMI DAN DI TASIKMALAYA

Pondok Pesantren An-Nidzom

Walaupun kitab kuning yang dipelajari di Pondok Pesantren Salafiyah secara umum relatif sama dan identik, namun di Pondok Pesantren An-Nidzom terdapat beberapa tambahan kitab kuning yang dipelajari khususnya bagi santri senior. Ruhiat tinggal di pesantren Kubang selama tujuh bulan, dan yang ketiga pesantren Cintawana, ia belajar di pesantren ini selama 10 bulan. Jadwal kegiatan santri Pondok Pesantren Cipasung (Agus Rahmatul Wahab, Heru Nugraha dan Furqon Taufiq.

Periode ini dapat dikatakan sebagai periode pertama berdirinya pesantren dan pendahulu dari Pondok Pesantren Miftahul Huda. Padahal, santri pertama yang belajar di Pondok Pesantren Miftahul Huda adalah santri dari Pondok Pesantren Gembongsari yang berjumlah 350 santri seperti disebutkan di atas. Pondok Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam berbasis pondok pesantren Salafiyah terbesar di Tasikmalaya.

Sebagai Pondok Pesantren Salafiyah, sistem pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Huda menganut sistem pendidikan semi formal, dimana para santri yang menumpang pondok pesantren ini, selain mempelajari kitab kuning yang menjadi ciri khas dari Pondok Pesantren Salafiyah. pesantren pada umumnya (Martin Van Bruinessen, 1999: ), juga harus mengikuti Jenjang pendidikan yang telah dirumuskan antara lain pendidikan dasar tiga tahun jenjang ibtida, pendidikan menengah, tiga tahun jenjang Tsanawi dan pendidikan. Sebagai Pondok Pesantren Salafiyah, Pondok Pesantren Miftahul Huda menggunakan metode pembelajaran sorogan dan balagan (bandongan). Kurikulum Pondok Pesantren Miftahul Huda erat kaitannya dengan sistem pendidikan, kitab-kitab yang dipelajari dan tingkatan kelas.

Berikut tingkatan masing-masing kelas dan kitab-kitab yang dipelajarinya di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya. Dakwah dan partisipasi masyarakat melalui pesantren serta penyebaran ilmu agama Islam menjadi bagian penting dalam pengembangan Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya. Hal ini terlihat dari bidang fiqh yang dipelajari di Pondok Pesantren Miftahul Huda, seperti

Di Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, kiai terdiri dari para pengurus pesantren, dewan kiai yang terdiri dari putra dan menantu kiai. Misalnya, ia pernah menumpang di Pondok Pesantren Cipancur (1936) Tasikmalaya di bawah asuhan Kiai Dimyati selama enam bulan. Di luar daerah Tasikmalaya, Choer Affandi pernah bersekolah di Pondok Pesantren Pangkalan, Langkaplancar, Ciamis (1936) di bawah bimbingan K.H.

Sedangkan santri mengaji di asrama (kobong) dibimbing oleh santri seniornya, biasanya berupa sorogan pada buku-buku tertentu, sesuai dengan kebutuhannya (Wawancara: Aang Zenal, 2021). Gambar : Santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya).

TRADISI KEILMUAN, HUBUNGAN ANTAR PESANTREN, KIAI-SANTRI DAN GENEALOGI

KEILMUAN PESANTREN SALAFIYAH DI JAWA BARAT

Tradisi Keilmuan Pesantren Salafiyah di Jawa Barat

Secara umum, kiai sebagai pengasuh pesantren adalah ulama yang bercirikan kharismatik, mempunyai ilmu agama (tabahur) yang tinggi dan luas, tokoh sentral di pesantren, dan tokoh masyarakat karena ilmunya. Meskipun Horikoshi membedakan istilah ulama dan kiai (Horikoshi, 1987), namun ada beberapa hal yang membuat keduanya identik. Dengan kesamaan tersebut, maka ungkapan hadis di atas merupakan bagian penting dan relevan dalam misi keilmuan kiai di pesantren di Jawa Barat sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional.

Kedua, hubungan pesantren dengan tradisi keilmuan pesantren, penekanan kajian Kitab Kuning di pesantren pada bidang tertentu, seperti Tafsir, Hadits dan Aqidah. Sebagaimana dikemukakan Martin van Bruinessen, akar tradisi kitab kuning berasal dari Timur Tengah, khususnya di wilayah Kurdi, Irak (Bruessen, 1994). Wilayah ini dulunya merupakan wilayah kekuasaan dua peradaban kuno, yaitu peradaban Kerajaan Babilonia dan Kerajaan Persia kuno, jauh sebelum Masehi.

Setelah Masehi, kedua wilayah ini juga menjadi mercusuar peradaban dunia, yaitu peradaban Daulah Abbasiyah pada masa Islam klasik dan peradaban Kerajaan Safawi pada masa Islam abad pertengahan. Dalam penyebarannya di residensi Islam Salafiyah di Jawa Barat pada era modern, pencarian pusat kajian kitab kuning dapat dipetakan pada dua wilayah; yaitu Haramain dan Mesir. Padahal, selain kedua hal tersebut, Asia Tengah turut berkontribusi besar terhadap munculnya banyak ulama dan kiprahnya dalam kitab kuning atau karya yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama Islam, seperti Tafsir, Hadits, dan Tasawuf.

Namun kawasan Asia Tengah tidak menjadi pusat keilmuan Islam seperti Haramain dan Mesir, kecuali karena produktivitas kerja para ulama dan banyaknya ulama yang berasal dari kawasan tersebut. Oleh karena itu, dalam pembahasan bab ini, akar tradisi kitab kuning hanya terfokus pada dua bidang tersebut. Dari kedua wilayah pusat kajian tersebut, kitab kuning menyebar ke berbagai wilayah dunia Islam, termasuk Indonesia dan Pulau Jawa, melalui proses pembelajaran dan hubungan guru-murid di kedua wilayah tersebut, yang kemudian dikembangkan oleh rumah-rumah Islam yang tersebar di berbagai wilayah.

Oleh karena itu, untuk pemetaan kitab kuning di wilayah Jawa Barat akan dipetakan berdasarkan kitab kuning yang dipelajari di delapan pondok pesantren di Jawa Barat yaitu Pondok Pesantren Cipasung dan Miftahul Huda Tasikmalaya, Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin. dan Pondok Pesantren Nadwatul Ummah Buntet, Cirebon, Pondok Pesantren al-Hikamussalafiyah dan Pondok Pesantren Assyafe'iyah, Purwakarta dan Pondok Pesantren an-Nidhom Selabintana dan Pondok Pesantren Al-Masthuriyah, Sukabumi. Dari kedelapan kediaman Islam tersebut, kita akan menelusuri persamaan kitab kuning yang diteliti di dua kawasan pusat yaitu Haramain dan al-Azhar, Kairo, Mesir.

Kajian Kitab Kuning di Pondok Pesantren Salafiyah Jawa Barat 1. Kajian Kitab Kuning di Pesantren As-Salafie Babakan Ciwaringin

  • Kajian Kitab Kuning di Pondok Pesantren Nadwatul Ummah Buntet PesantrenPesantren
  • Kajian Kitab Kuning di Pondok Pesantren Cipulus Purwakarta

Materi di Pondok Pesantren Assalafie terdiri dari bahan ajar yang diambil dari kitab-kitab klasik (kitab kuning). Kitab kuning yang dipelajari di Pondok Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin beserta nama dan daerah asal penulis kitab tersebut. 5 Fiqih Fathul Mu'in Zainuddin Al Malibari Malabar India Haramain Kitab ini dipelajari di Pondok Pesantren Assalafie.

12 Akhlaq Akhlaqun Nisa Umar bin Ahmad Barja Indonesia Indonesia Kitab ini dipelajari di Pondok Pesantren Assalafia. Sedangkan metode bandongan di Pondok Pesantren Buntet dilakukan oleh santri yang belajar secara berkelompok bersama seorang kiai untuk mempelajari kitab-kitab tertentu. Santri yang diterima di Pesantren Buntet disesuaikan dengan penerimaan santri baru di Madrasah, baik Tsanawiyah maupun Aliyah.

Pembinaan akhlak santri di Pondok Pesantren Nadwatul Ummah menekankan pada sifat mudah, akhlak terhadap Allah SWT, akhlak terhadap Kiai/guru, akhlak antar santri dan akhlak antara pondok pesantren dengan masyarakat. Sistem pembinaan akhlak di Pondok Pesantren Nadwatul Ummah tidak hanya berupa pelatihan saja namun juga praktik mengenai akhlak yang baik bagi para santri itu sendiri. Tradisi Kitab Kuning di Pondok Pesantren Nadwatul Ummah Buntet Pondok Pesantren Nadwatul Ummah Buntet menjadikan Kitab Kuning sebagai kajian terpenting di Pondok Pesantren.

Santri Pondok Pesantren Nadwatul Ummah diperbolehkan mengaji di pondok pesantren sekitar Pondok Pesantren Buntet, sehingga bebas memilih kitab mana yang akan dipelajari. Banyaknya jumlah pesantren yang ada di pesantren buntet menyebabkan kitab-kitab yang dipelajari sangat beragam, tidak hanya kitab-kitab yang biasa dipelajari di pesantren lain saja, namun ada beberapa kitab yang khusus dipelajari hanya di pesantren buntet saja, seperti . kitab Manthiq, kitab perbandingan mazhab, dan kitab sejarah. Menjadi salah satu Pondok Pesantren yang masih memegang teguh tradisi Pondok Pesantren Salafiyah, maka ilmu yang dipelajari di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus Purwakarta didasarkan pada kitab klasik para ulama Salafi yang dikenal dengan Kitab Kuning.

Namun penggunaan bahasa Jawa dalam pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren al-Hikamussalafiyyah Cipulus hanya bersifat simbolik dan mendasar yaitu digunakan untuk menunjukkan kedudukan kata dalam suatu kalimat. Berdasarkan daftar kitab-kitab yang dipelajari di Pondok Pesantren al-Hikamussalafiyyah Cipulus di atas, diketahui bahwa kitab-kitab tersebut merupakan kitab kuning yang biasa dipelajari di Pondok Pesantren Salafiyah.

Referensi

Dokumen terkait

Dilihat dari hasil pengumpulan data pada Bab IV halaman 32 tentang pelaksanaan hafalan, bahwa santri kelas x tahun pelajaran 2013/2014 pesantren al- Burhan Semarang

Bab ini membahas mengenai hasil perhitungan rugi-rugi daya dan tegangan pada sistem transmisi 150 kV region II Jawa Barat Subsistem Bandung Selatan menggunakan