• Tidak ada hasil yang ditemukan

buku siapkan jiwamu siapkan ragamu

N/A
N/A
Amaya Onieksa Addien

Academic year: 2025

Membagikan "buku siapkan jiwamu siapkan ragamu"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

[SIAPKAN JIWA

RAGAMU, SIAPKAN PERKAWINANMU]

Penulis: Dr. Gayatri Dyah Suprobowati, S.H.,M.H, Prof Dr. Jamin, S.H.,M.Hum, Dr.

Mulyanto, S.H., M.Hum, Dr. Anti Mayastuti, S.H., M.H, Dr. Hari Purwadi, S.H.,M.Hum

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang telah memberikan rahmat serta karunianya sehingga kami berhasil menyelesaikan buku ini yang berjudul

"Siapkan jiwa ragamu, Siapkan pernikahanmu" dengan waktu yang telah diberikan. Dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Namun demikian kami telah berusaha semaksimal mungkin agar hasil dari Tulisan ini tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang ada. Buku ini diharapkan menjadi pedoman-pedoman bagi kawula muda yang mengalami pernikahan di bawah umur sehingga persiapan jiwa dan raga menjadi sebuah keharusan. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

- Tim Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………..…...2

DAFTAR ISI………..………....3

BAB 1 PENDAHULUAN……….4

BAB 2 KONSEP PERKAWINAN DI BAWAH UMUR………...6

A. DEFINISI PERKAWINAN………6

1. Menurut Undang-Undang………..6

2. Menurut WHO………6

B. PERKAWINAN DI BAWAH UMUR………....6

1. Definisi Perkawinan di Bawah Umur……….6

2. Pengaturan Pembatasan Usia Perkawinan………..6

3. Faktor Penyebab Terjadinya Perkawinan di Bawah Umur………7

4. Dampak Perkawinan di Bawah Umur………....8

C. PERSIAPAN JIWA & RAGA………..10

1. Persiapan Jiwa……….……….10

2. Persiapan Raga……….12

BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN………....14

(4)

BAB 1 PENDAHULUAN

Maraknya praktek pernikahan di bawah umur di kalangan remaja seiring dengan banyaknya kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga, tradisi yang masih mengagungkan laki- laki dan menganggap perempuan adalah makhluk lemah, serta istri yang harus menurut dan tunduk pada suami, menjadi senjata ampuh berlangsungnya tindak kekerasan tersebut, boleh jadi merupakan salah satu dampak ketidaksiapan remaja dalam praktek pernikahan di bawah umur (Maidin Gultom: 2012). Berdasarkan laporan Komnas Perempuan pada tahun 2020, dipaparkan bahwa jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat hingga 6%.

Pada tahun 2019 kekerasan terhadap perempuan sebesar 431.471, meningkat dari kasus sebelumnya sebesar 406.178. Komnas Perempuan: 2020). Dalam 3 tahun terakhir (2016-2019) CATAHU Komnas Perempuan juga memperlihatkan bahwa kekerasan seksual di ranah privat/personal meningkat menjadi peringkat kedua tertinggi setelah kekerasan fisik.

Kekerasan seksual tertinggi di ranah privat ini adalah inscest (perkosaan oleh orang yang memiliki hubungan darah dengan korban) yang berjumlah 1.210 kasus selama tahun 2017.

Pelaku inses tertinggi adalah ayah kandung sebanyak 425 kasus kemudian paman sebanyak 322 kasus (Komnas Perempuan: 2020).

Kerentanan perempuan menjadi korban kekerasan semakin tinggi pada masa pandemi covid19. Keterpurukan ekonomi, PSBB, KdR, BdR, terbatasnya akses bantuan, menyebabkan ketegangan dalam rumah tangga yang memperburuk konflik dan berimplikasi terhadap meningkatnya kasus KDRT yang terjadi terhadap perempuan. Komnas Perempuan dalam laporannya menunjukkan bahwa perempuan mengalami kerentanan beban kerja berlipat ganda dan mengalami violence (kekerasan), yang umumnya terjadi pada perempuan yang berpenghasilan kurang dari 5 juta rupiah perbulan. pekerja informal usia antara 31-40 tahun, telah menikah (Komnas Perempuan: 2020).

Kekerasan yang terjadi dengan berbagai motif, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, kekerasan berbasis gender online yang merupakan ancaman besar bagi masyarakat. Penggunaan internet untuk media sosial selama masa pandemik semakin marak dan pesat. Aktivitas masyarakat banyak dilakukan di rumah, namun tidak menutup kemungkinan semakin besar pula terjadinya kekerasan berbasis gender online (KBGO) dalam media sosial. Komnas Perempuan dalam CATAHU 2021 tercatat bahwa pada 2020 kasus KBGO mengalami lonjakan, yaitu sekitar 940 yang pada 2019 tercatat 241 kasus. (Nurhayati:

(5)

2020). Upaya penghapusan kekerasan pada perempuan menjadi hal yang sangat penting sehubungan dengan gerakan

sosial (social movement) di tingkat nasional dan internasional dalam bentuk "Three Ends".

Three ends merupakan gerakan sosial yang mengkampanyekan komitmen dan aksi untuk menghapuskan kekerasan pada perempuan dan anak (End Violence Against Women and Children), perdagangan manusia (End Human Trafficking), kesenjangan ekonomi (End Barriers to Economic Justice). (NL. Meilani & Hesti Asriwandari: 2019). Penegakan hukum dan keadilan menjadi dambaan bagi masyarakat miskin, perempuan dan anak yang sering menjadi korban ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia.

Fakta-fakta mengenai Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tentu sangat memprihatinkan. Kelompok perempuan menjadi kelompok yang rentan mengalami eksklusi sosial. Situasi ini tidak terlepas dari struktur sosial yang patriarkhis yang belum berpihak pada kepentingan dan kebutuhan perempuan, serta maraknya praktek pernikahan di bawah umur di kalangan remaja. Eksklusi sosial menyebabkan perempuan dibatasi aksesnya pada hak-hak dasar sebagai warga negara yang tertuang dalam konstitusi. Akibatnya perempuan mengalami diskriminasi dan kekerasan berbasis gender mulai dari lingkup keluarga, masyarakat dan berbagai sektor kehidupan yang juga menjadi pemicu terjadinya KDRT.

(6)

BAB 2

KONSEP PERKAWINAN DI BAWAH UMUR

A. DEFINISI PERKAWINAN

Perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1,

“Perkawinan adalah ikatan batin dan lahiriah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.

B. PERKAWINAN DIBAWAH UMUR

1. Definisi Perkawinan di Bawah Umur

Pernikahan di bawah umur menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah perkawinan yang dilakukan oleh pasangan atau salah satu pasangan yang masih tergolong anak-anak atau remaja yang berusia di bawah 19 tahun. Pernikahan di bawah umur merupakan pernikahan di bawah umur yang sasaran persiapannya belum optimal, baik persiapan fisik, persiapan mental, maupun persiapan materi.

2. Pengaturan Pembatasan Usia Perkawinan

Sesuai UU Nomor 16 Tahun 2019 yaitu tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Hal ini mencakup beberapa aspek yakni:

a) Batas Usia: Perubahan ini menjangkau batas usia untuk melakukan perkawinan. Sekarang, usia dewasa untuk melakukan perkawinan diatur sebagai 19 tahun bagi pria dan wanita.

b) Persyaratan Prenuptial: UU Nomor 16 Tahun 2019 juga mengubah persyaratan prenuptial. Sebelum perubahan ini, prenuptial hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 17 tahun.

Dengan perubahan ini, persyaratan prenuptial diperpanjang sampai usia dewasa, yaitu 19 tahun.

(7)

c) Prosedur Perkawinan: UU Nomor 16 Tahun 2019 juga mengubah prosedur perkawinan. Sebelum perubahan ini, undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 13 tahun. Dengan perubahan ini, persyaratan untuk melakukan perkawinan diperpanjang sampai usia dewasa, yaitu 19 tahun.

d) Klasifikasi: UU Nomor 16 Tahun 2019 dianggap sebagai Undang-Undang Hukum Materiil Perdata, yang berarti bahwa undang-undang ini merupakan hukum yang berlaku dan diperjelaskan secara mudah, cepat, dan akurat

3. Faktor Penyebab Terjadinya Perkawinan di Bawah Umur

Dalam ajaran agama kita telah diatur dengan jelas, bagaimana seharusnya kita bersikap dan berperilaku. Tentu supaya kita selamat di dunia dan di akhirat. Jadi Sebetulnya, nikah dalam usia di bawah umur lebih baik daripada MBA (Married By Accident). Nikah ibadah, gaul bebas maksiat.

Namun, bila kita masih belum mampu ke arah sana. Lebih baik menghindari pacaran, seringlah berpuasa, dan fokus belajar. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perkawinan dalam usia di bawah umur antara lain:

a) Faktor Ekonomi

Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis kemiskinan, untuk meringankan beban orang tua makan anak wanitanya dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu dengan harapan menjadi solusi untuk kesulitan ekonomi keluarga

b) Faktor Pendidikan

Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak, dan masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan melakukan perkawinan di usia muda. Jika seorang anak putus sekolah pada usia wajib sekolah, kemudian mengisi waktunya dengan bekerja. Saat ini anak tersebut sudah merasa cukup mandiri, sehingga merasa mampu untuk menghidupi diri sendiri.

c) Faktor Kecelakaan

Ada beberapa kasus, pernikahannya dilakukan karena anak-anak telah melakukan hubungan biologis layaknya suami istri. Dengan kondisi seperti

(8)

ini, orang tua anak perempuan cenderung segera menikahkan anaknya, karena menurut orang tua anak gadis ini sudah tidak menjadi perawan lagi, dalam hal ini dianggap aib.

d) Faktor Kebiasaan

Pernikahan di bawah umur terjadi karena orangtua yang takut anaknya dikatakan perawan tua, sehingga segera dikawinkan anaknya.

e) Faktor Media Massa

Gencarnya ekspose seks di media massa menyebabkan remaja modern kian permisif terhadap seks.

f) Faktor Lain

Ada beberapa faktor tambahan terkait perkawinan di bawah umur yakni: (1) Keinginan untuk segera mendapatkan tambahan anggota keluarga.

(2) Tidak adanya pengertian mengenai akibat buruk perkawinan terlalu muda, baik bagi mempelai itu sendiri maupun keturunannya, serta (3) Orangtua dari gadis meminta masyarakat kepada keluarga laki-laki

apabila ingin

mengawinkan anak gadisnya. Bahwa dengan adanya perkawinan anak-anak tersebut, maka dalam keluarga gadis akan berkurang satu anggota keluarga yang menjadi tanggung jawab (makanan, pakaian, pendidikan, dan sebagainya).

4. Dampak Perkawinan di Bawah Umur

Selain faktor, ada juga dampak yang akan muncul dari pernikahan di bawah umur, yakni:

a) Aspek Pendidikan dan Pengembangan Diri Menjadi Terhambat UU Nomor 35/2014 Perubahan Atas UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak, di dalam Pasal 26 tertuang bahwa “Orang tua

(9)

berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak.” Dalam beberapa kasus, justru orang tua yang berasumsi bahwa anak yang menikah muda dapat menjadi penyelamat keluarganya.

Padahal, pernikahan di bawah umur pada anak bisa menghambat pendidikan dan pengembangan diri.

b) Memicu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Umumnya seorang remaja masih memiliki emosi yang tidak stabil.

Ketidakstabilan ini yang membuat pasangan suami istri cekcok, bahkan dapat menimbulkan KDRT yang bisa terjadi karena faktor ekonomi, keuangan, atau tuntutan hidup yang menyebabkan konflik dalam rumah tangga.

c) Meningkatkan Resiko Terjadinya Penelantaran

Ketidakstabilan emosi dan finansial yang baik, bahkan bisa menyebabkan istri dan anak terlantar. Jika pernikahan di bawah umur dibiarkan, anak yang seharusnya bisa mendapatkan perhatian dan pendidikan dari orang tua kandungnya justru malah terlantar.

d) Masalah Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Kesehatan reproduksi anak bisa mengakibatkan kematian janin atau saat proses persalinan dari berbagai alasan. Karena usia muda, organ reproduksi masih dalam tahap perkembangan. Jadi, kemungkinan adanya kematian pada janin dan saat proses persalinan bisa terjadi. Juga kesehatan bayi yang lahir tidak bisa memenuhi syarat karena ketidakpahaman mengurus anak, serta ekonomi yang rendah menghambat kehidupan rumah tangga.

e) Kesehatan Psikologis Yang Bisa Berujung Kematian Usia di bawah umur

Pernikahan di bawah umur bisa mempengaruhi kesehatan mental. Mulai dari emosi yang tidak stabil, tidak bisa mengurus diri sendiri, harus menjalani peran orang tua, masalah keuangan dalam keluarga, dsb. Tekanan-tekanan ini akan menyebabkan stres, depresi, bahkan berakhir bunuh diri.

f) Dampak terhadap perkembangan anak

Dari emosi yang tidak stabil akan berpengaruh pada pola asuh orang tua pada anaknya, padahal dalam perkembangannya anak membutuhkan lingkungan keluarga yang tenang, penuh harmonis, serta stabil sehingga anak merasa aman dan berkembang secara optimal.

(10)

C. PERSIAPAN JIWA DAN RAGA 1. Persiapan Jiwa

Menurut Dr. Dharmawan A. Purnama yang merupakan psikiater dari FKUI, hal utama yang harus diperhatikan sebelum menikah selain persiapan finansial adalah mengenali diri sendiri dan memahami apa yang kita butuhkan.

Selanjutnya, mencoba untuk mencari tahu lebih jauh karakter pasangan kita.

a) Membiasakan diri dengan "kita"

Tak ada lagi kata "aku" dan "kamu" setelah menikah, yang ada adalah "kita". Tapi bukan berarti anda akan kehilangan privasi atau hak pribadi masing-masing. Perlu diingat bahwa pernikahan dijalankan oleh dua orang yang akan membangun sebuah keluarga, sehingga dibutuhkan kerjasama dan mengesampingkan ego demi mewujudkan rumah tangga yang saling melengkapi.

b) Memahami dan menerima perubahan dalam hidup

Setelah menikah banyak sekali perubahan yang akan dialami dibandingkan ketika masih lajang. Hal tersebut meliputi perubahan prioritas, gaya hidup, pengeluaran dan tabungan, asuransi sebagai perlindungan, tabungan, kebiasaan, bahkan cara pandang. Agar tidak terjadi perbedaan pendapat di kemudian hari, maka anda harus bersikap dewasa dan mengerti bahwa terdapat beberapa hal yang harus disikapi dari dua sisi.

c) Belajar memaafkan

Jika anda bukan tipe yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, ada baiknya untuk belajar memaafkan dari sekarang. Karena selama pernikahan tak jarang banyak problematika yang perlu diakhiri dengan saling memaafkan. Ingatlah, untuk selalu berkomunikasi dengan pasangan. Dalam sebuah rumah tangga, perbedaan pendapat mungkin bisa saja terjadi. Karena pada dasarnya, kita tidak bisa menyatukan dua isi kepala yang berbeda. Sehingga, sudah sepatutnya sebagai calon pasangan suami istri untuk saling menghormati perbedaan. Dengan begitu, setiap pasangan akan bisa sama-sama belajar dan menyelesaikan setiap permasalahan tanpa melibatkan emosi negatif di dalamnya.

d) Kursus Pranikah

(11)

Jika anda merasa masih butuh bimbingan dan wawasan tentang dunia pernikahan, tidak ada salahnya untuk mengikuti kelas atau kursus pranikah. Konseling ini biasanya memfasilitasi diskusi untuk menjawab pertanyaan dan kegelisahan seputar pernikahan. Berbeda halnya dengan berkonsultasi dengan keluarga ataupun teman, konselor di kelas pranikah biasanya bersifat lebih netral dan dapat memberikan opini dan informasi dengan objektif.

e) Berbicara tentang masa depan dan anak

Menjadi orang tua adalah impian hampir seluruh pasangan.

Terlepas dari takdir, berdiskusi tentang kapan memiliki momongan juga menjadi hal yang penting sebagai bagian dari persiapan mental.

Hal ini lantaran memiliki anak memerlukan mental yang stabil dan perencanaan-perencanaan lain

untuk mendukung kehidupan anak ke depannya. Nantinya, ketika anda dan pasangan sudah memiliki anak, jangan kaget dengan beberapa kebiasaan yang sudah pasti berubah. Bahkan, terdapat alokasi baru yang harus disisihkan setiap bulannya untuk si buah hati.

2. Persiapan Raga

a) Jagalah pola makan

Ketika menyongsong pernikahan, calon pengantin perlu menjaga pola makan. Hal ini untuk menunjang stamina tubuh. Stamina itu dibutuhkan karena pengantin perlu mengurus banyak hal untuk persiapan pernikahan.

Usahakan agar pola makan tetap terjaga sehingga tubuh tetap fit hingga hari H pernikahan dan seterusnya. Pengantin perlu memperbanyak konsumsi buah dan sayur untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral yang diperlukan oleh tubuh.

b) Jaga kesehatan dan rutin berolahraga

(12)

Selain itu, pengantin juga perlu rutin berolahraga. Dengan berolahraga, tubuh akan lebih sehat. Otot-otot pada tubuh pun menjadi lebih kuat dan jantung menjadi lebih sehat. Pengantin juga perlu mengurangi kebiasaan merokok. Sebab, hal ini hanya akan membawa dampak yang kurang baik bagi kesehatan.

c) Lakukan perawatan tubuh

Melakukan perawatan tubuh juga penting apalagi untuk wanita.

Perawatan yang dilakukan mulai dari rambut, wajah, seluruh tubuh hingga jari tangan dan kaki. Pengantin bisa melakukan perawatan itu secara bertahap beberapa bulan sebelumnya. Ditambah juga bisa melakukan perawatan wajah 4 bulan sebelumnya untuk mendapatkan kulit wajah yang rata dan halus.

d) Jagalah kebersihan organ intim

Pengantin juga perlu menjaga kebersihan organ intim, terlebih perempuan. Pasalnya, perempuan cenderung lebih mudah mengalami masalah-masalah yang memiliki hubungan dengan sistem reproduksi misalnya, keputihan atau bahkan kanker serviks. Hal ini bisa diterapkan dengan cara menjaga kebersihan organ intim dengan rajin mengganti celana dalam. Selain itu, usahakan untuk selalu membersihkan organ intim dari arah depan ke belakang dan mengeringkannya dengan menggunakan tisu atau handuk. Jika sedang menstruasi, sebisa mungkin sering-seringlah mengganti pembalut, maksimal empat jam sekali.

e) Lakukan vaksinasi HPV

Kanker rahim atau kanker serviks ini merupakan penyakit berbahaya yang terjadi pada dinding rahim. Umumnya, kanker serviks disebabkan karena hubungan seks pada usia muda atau sering berganti-ganti pasangan. Selain itu, merokok, penggunaan pil KB, kurangnya mengkonsumsi buah serta sayur, dan juga obesitas juga dapat memicu tumbuhnya kanker serviks. Untuk mencegah terjadinya kanker serviks, setiap pasangan yang hendak menikah disarankan untuk melakukan vaksinasi HPV.

f) Hindarilah stress

Persiapan menjelang pernikahan memang membuat kita stress dan mengalami banyak

(13)

tekanan. Oleh karena itu, sebisa mungkin pengantin harus tetap tenang. Jika stress mulai muncul, ambil jeda sejenak dan menenangkan pikiran. Sebab, jika dipaksakan itu justru hanya akan membuat kondisi lebih buruk. Pengantin akan lebih mudah marah, kurang dapat berkonsentrasi, sakit kepala, atau bahkan sulit tidur. Untuk menghilangkan ketegangan saraf akibat stres, pengantin dapat melakukan beberapa kegiatan relaksasi. Seperti misalnya, pijat, meditasi, spa, atau sesekali berlibur ke tempat-tempat yang mengasyikkan.

g) Tidur cukup

Usahakan untuk selalu tidur cukup antara 7 hingga 9 jam setiap malamnya. Dengan tidur cukup, pengantin akan lebih segar esok harinya.

Pengantin juga akan lebih mudah berkonsentrasi dibanding jika tidur hanya dalam hitungan beberapa jam saja.

h) Cegah terjadinya cedera

Menjelang pernikahan, calon pengantin perlu meminimalkan kemungkinan terjadinya kecelakaan pada saat pernikahan nanti. Usahakan untuk mengenakan pakaian dan sepatu yang nyaman agar tidak tersandung dan jatuh. Jika ingin menggunakan lilin, pastikan ditempatkan secara aman agar tidak membakar apa pun.

(14)

BAB 3

KESIMPULAN DAN SARAN

a. Hindari pernikahan di bawah umur bagi remaja karena pada mereka terdapat harapan dan tumpuan kemajuan bangsa ini

b. Lakukan persiapan (fisik dan mental) bagi pasangan yang melakukan pernikahan di bawah umur untuk mengantisipasi segala resiko

Referensi

Dokumen terkait