Penulis memahami tidak mudah membangun sebuah teori hukum dalam aplikasi terkini yaitu Revolusi Industri Keempat atau Revolusi Industri Keempat (Revolusi Industri 4.0). Buku ini diawali dengan Bab I yang membahas tentang konstruksi teori hukum pada masa revolusi industri, yang menguraikan tentang evolusi teori hukum pada abad modern (post-modern), dan paradigma Teori Hukum Perkembangan menuju konsep hukum sebagai sebuah sistem hukum. sarana pembaharuan sosial. (hukum sebagai alat rekayasa sosial), serta fenomena dan ontologi hukum dan teknologi.
Evolusi Teori Hukum Abad Modern (Post Modern)
- The Economic Analysis of Law
- The Critical Legal Studies
Pakar hukum dan ekonomi memperkirakan tatanan hukum akan bergerak ke arah yang lebih tepat. Perlunya peraturan perundang-undangan yang dapat mengakomodir dan memfasilitasi konvergensi 4-C (Komunikasi, Komputasi, Konten dan Komunitas) saat ini.
Paradigma Teori Hukum Pembangunan terhadap
- Arti Hukum dan Fungsinya dalam Masyarakat
- Hukum sebagai Kaidah Sosial
- Hukum dan Kekuasaan
- Hukum dan Nilai-Nilai Sosial Budaya
- Hukum sebagai Sarana Pembaharuan Masyarakat . 50
- Ontologi Hukum dan Teknologi
Perkembangan Teknologi Informasi
- Pengertian dan Kategorisasi
- Peran dan Implikasi Teknologi
Ketentuan ini kemudian digantikan dengan Keputusan Presiden Nomor 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Penyusunan Rancangan Undang-Undang (Keppres 188/1998) yang mensyaratkan perlunya harmonisasi peraturan perundang-undangan. Hal ini terkait dengan munculnya perubahan mendasar pada UUD 1945 mengenai (lembaga) pembentuk peraturan perundang-undangan. Pasca amandemen UUD 1945, “harmonisasi” diatur dengan undang-undang, yaitu Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Harmonisasi pada tahap ini dilakukan oleh Direktorat Harmonisasi, Direktorat Jenderal Perundang-undangan, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Isi peraturan perundang-undangan harus disesuaikan dengan ketentuan konstitusi sebagai hak dasar negara. Kelalaian dalam tata cara penyusunan peraturan perundang-undangan tidak dapat menjadi dasar pembatalan peraturan perundang-undangan dan tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan peninjauan kembali.
Mengingat saat ini terdapat undang-undang dan peraturan lain yang mencakup bidang-bidang konvergensi (telekomunikasi, penyiaran dan teknologi informasi), upaya untuk mencapai kesatuan hukum dalam satu undang-undang yang mengatur semua masalah konvergensi tentu akan sangat sulit. Kerangka peraturan untuk kegiatan TIK memerlukan prinsip netral teknologi dan harus dituangkan dalam peraturan hukum atau.
Pemanfaatan Teknologi dalam Filsafat dan Sains
- Pemikiran tentang Pemanfaatan Teknologi
- Hubungan antara Filsafat Teknologi
Filsafat Teknologi dalam Pemanfaatan
- Ontologi Teknologi Informasi dan Komunikasi
- Alat yang Digunakan untuk Sesuatu
Filsafat sains yang baru lebih condong pada praktik dan penghormatan terhadap tindakan manusia dibandingkan filsafat sains teoretis yang lama. Filsafat ilmu baru lahir dari ketidaksepakatan dengan cara pandang lama terhadap ilmu pengetahuan, yang tidak berwujud, idealis dan abstrak. Filsafat ilmu lama cenderung bersifat teoretis dan konseptual, sedangkan filsafat ilmu baru lebih bersifat konkrit, praktis, perseptual, dan diwujudkan.
Tokoh-tokoh yang tergabung dalam aliran baru filsafat ilmu ini antara lain Karl Popper yang menempatkan ilmu pengetahuan pada komunitas individu yang memiliki kepentingan bersama dan Michael Polanyi yang memperkenalkan pengetahuan tacit dari dimensi praktik, persepsi dan pengetahuan melalui tubuh. Namun para pemikir filsafat ilmu hanya sedikit mengulas pengaruh instrumen terhadap paradigma atau episteme dalam ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, fokus langsung dimensi material ilmu pengetahuan harus dikaji dalam filsafat teknologi yang berbeda dengan filsafat ilmu.
Sains merupakan perwujudan ilmu teknologi.167 Perwujudan ilmu pengetahuan dalam teknologi, yaitu dalam bentuk instrumentasi, merupakan cerminan penting dalam filsafat ilmu pengetahuan dan filsafat teknologi. Kedua definisi tersebut, baik instrumental maupun antropologis, masih dangkal dan menjadikan teknologi hanya sekedar alat untuk ilmu pengetahuan.170 Definisi tersebut menyiratkan bahwa teknologi hanyalah ciptaan subjek dan berfungsi sebagai alat.
Paradigma Konvergensi Tatanan Hukum
- Paradigma Konvergensi Tatanan Hukum
Sedangkan yang dimaksud dengan harmonisasi peraturan hukum adalah upaya atau proses untuk mewujudkan keserasian dan kesesuaian asas dan sistem hukum, sehingga menghasilkan peraturan (sistem hukum) yang harmonis. Pengaturan mengenai harmonisasi peraturan perundang-undangan setelah kemerdekaan sebenarnya diatur dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 15 Tahun 1970 tentang Penyiapan Rancangan Undang-undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, walaupun tidak secara tegas dan rinci. Hal ini merupakan konsekuensi dari adanya hierarki peraturan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011.
Sebagai suatu subsistem dari suatu sistem yang lebih besar, peraturan perundang-undangan harus saling berhubungan dan saling bergantung serta merupakan satu kesatuan yang utuh dengan subsistem yang lain; UU No. 10 Tahun 2004 mengklasifikasikan asas peraturan perundang-undangan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu: asas terbentuknya peraturan perundang-undangan yang baik; asas materiil isi dan asas lainnya sesuai dengan bidang hukum peraturan perundang-undangan terkait. Konvensi/perjanjian internasional juga harus diperhatikan agar peraturan perundang-undangan nasional tidak bertentangan dengan konvensi/perjanjian. secara internasional, khususnya yang telah diratifikasi oleh negara Indonesia.
Teknik penyusunan ketentuan hukum menyangkut kerangka ketentuan hukum, syarat-syarat khusus, perbedaan bahasa dan jenis ketentuan hukum. Agar suatu peraturan perundang-undangan dapat berjalan efektif, diperlukan suatu lembaga pelaksana yang akan menjadi “mesin” pelaksanaan undang-undang tersebut.
Pendekatan Konsepsi Konvergensi
- Pendekatan Konvergensi Hukum
- Pendekatan Non-Konvergensi Hukum
Konsep Harmonisasi Hukum
- Harmanisasi Formal
- Harmonisasi Informal
- Proses Harmonisasi Informal
- Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan
Dalam praktiknya, kegiatan koordinasi merupakan kajian komprehensif terhadap suatu rancangan peraturan perundang-undangan, dengan tujuan untuk mengetahui apakah rancangan peraturan tersebut dari berbagai aspek mencerminkan koordinasi atau kepatuhan terhadap peraturan hukum nasional lainnya, dengan undang-undang tidak tertulis yang ada di Masha-. Harmonisasi hukum di Indonesia juga dimulai oleh Soepomo, seorang ahli hukum adat Indonesia yang berperan penting dalam penyusunan UUD 1945. Harmonisasi merupakan upaya untuk menyelaraskan, mengadaptasi, memantapkan dan menyempurnakan desain rancangan peraturan perundang-undangan dari undang-undang. peraturan, hal-hal lain, baik yang lebih tinggi, sederajat, maupun yang lebih rendah, dan hal-hal lain di luar peraturan perundang-undangan, sehingga disusun secara sistematis, tidak bertentangan atau tumpang tindih.
Dengan dilakukannya harmonisasi maka akan terlihat jelas pemikiran atau pemahaman bahwa suatu peraturan perundang-undangan merupakan satu kesatuan yang utuh dan utuh dari keseluruhan sistem peraturan perundang-undangan. Mahkamah Konstitusi (KC) yang antara lain berdasarkan pada pasal 24C ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berwenang menguji undang-undang terhadap UUD. Harmonisasi peraturan perundang-undangan mempunyai fungsi yang sangat strategis sebagai upaya preventif agar permohonan peninjauan kembali peraturan perundang-undangan tidak diajukan kepada lembaga peradilan yang berwenang.
214. Putusan Mahkamah Konstitusi dapat menentukan isi suatu pasal, ayat, atau bagian suatu peraturan perundang-undangan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat atau tidak mempunyai pengaruh hukum, sosial, dan politik yang lebih luas. Harmonisasi pada tahap ini dilakukan dengan menganalisis dan mengevaluasi berbagai peraturan perundang-undangan yang terkait, baik peraturan nasional maupun konvensi atau perjanjian internasional, serta menyelaraskan asas dan teori hukum serta kesesuaiannya dengan landasan negara dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. . .
Konsep Konvergensi Hukum dalam Upaya
Konvergensi teknologi 4C (komunikasi, komputer, konten dan komunitas) pada dasarnya adalah tersedianya beberapa jenis teknologi berbeda, yang mempunyai fungsi hampir sama, dimana dengan teknologi ini kombinasi sinergis layanan suara, data dan video dapat dengan mudah diproses dan dipertukarkan. .hanya satu jenis jaringan. Jika teknologi dipandang sebagai komponen jaringan, perangkat, aplikasi, dan konten, maka konvergensi teknologi adalah integrasi berbagai jaringan dan terminal yang sama-sama mampu menghadirkan berbagai layanan (aplikasi dan konten) kepada pelanggan. Selain itu pada level ini akan muncul teknologi percetakan yang dapat menggabungkan printer, scanner, mesin fotocopy, mesin fax dan telepon.
Konvergensi 4C memberikan peluang luar biasa untuk memberikan layanan telekomunikasi dan informasi kepada pelanggan dengan harga lebih murah dengan kualitas lebih tinggi. Melalui konvergensi 4C, pelanggan dapat menikmati layanan komunikasi suara lintas batas dengan VoIP dengan harga yang sangat murah (misalnya Skype). Namun di sisi lain, tanpa pengaturan yang holistik dan komprehensif, penerapan teknologi konvergensi 4C juga berpotensi menimbulkan kekacauan di dunia telekomunikasi Indonesia.
Dapat dipahami bahwa terdapat sebuah paradoks yaitu di satu sisi konvergensi teknologi dapat membuat kehidupan masyarakat di Indonesia menjadi lebih maju dan pelanggan dapat memperoleh layanan yang lebih banyak dengan harga yang terjangkau, namun di sisi lain, tanpa adanya peraturan perundang-undangan yang tepat, teknologi konvergensi telah berdampak buruk terhadap perekonomian. berpotensi menimbulkan kekacauan, besar (chaos) dalam dunia telekomunikasi, teknologi informasi dan penyiaran di Indonesia. Logikanya Indonesia membutuhkan undang-undang yang dapat mengatur perkembangan dan penerapan konvergensi teknologi 4C di masyarakat Indonesia, agar masyarakat dan seluruh industri dapat memperoleh manfaat positif yang optimal dari perkembangan konvergensi teknologi 4C.
Fungsi Hukum sebagai Sarana Pembaharuan
- Kebijakan Regulasi dalam Pendekatan Fungsi
Konsekuensi konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang perlu dipahami dengan baik adalah implikasinya terhadap rezim hak kekayaan intelektual (HAKI).219 Khususnya, perlindungan hak cipta dan merek dagang. Transaksi elektronik dalam bentuk perdagangan (e-commerce) mempunyai ciri teknologi jaringan digital yang mempunyai dampak besar terhadap sistem perlindungan hak cipta. Hukum dunia maya (cyber law) memberikan kedudukan yang sangat istimewa kepada HKI, karena aktivitas di dunia maya erat kaitannya dengan pemanfaatan teknologi informasi yang dilandasi oleh perlindungan rezim hukum hak cipta, paten, merek dagang, rahasia dagang, dan desain industri.223 Karya intelektual berupa program dan objek komputer – Objek hak cipta di Internet sangat mudah dilanggar, dimodifikasi, dan diduplikasi.
Saat ini, beberapa permasalahan yang muncul berkaitan dengan perlindungan program komputer dan objek berhak cipta lainnya yang terlibat dalam aktivitas di dunia maya. Permasalahan yang muncul adalah perlindungan terhadap program komputer yang berada di bawah rezim hukum hak cipta sesuai dengan ratifikasi TRIPs-WTO225 dan. WIPO telah melakukan negosiasi perjanjian internasional di bidang hak cipta di lingkungan digital yaitu WIPO International Copyright Treaty (WCT).
Perjanjian Internet WIPO disiapkan untuk memperbarui dan melengkapi perjanjian internasional WIPO yang sudah ada, khususnya dalam lingkup hak cipta dan hak terkait. Selain itu, perlu juga dipertimbangkan apakah akan dilakukan perubahan terhadap kebijakan harmonisasi tersebut, apakah akan dilakukan dalam bentuk revisi Undang-Undang Telekomunikasi Tahun 1999 ataukah akan melahirkan undang-undang telekomunikasi yang sama sekali baru.
Teori Hukum Konvergensi bagi Kerangka
- Pembentukan Teori Hukum Konvergensi
- Konstruksi Teori Hukum Konvergensi
Artinya terjadi pergeseran kerangka regulasi ke arah yang lebih tepat, yaitu ke bentuk regulasi yang lebih tinggi. Pertanyaan mengenai struktur tambahan muncul karena sebagian besar teknologi baru tidak mudah diterapkan di negara-negara berkembang. Kerangka pembangunan di Indonesia sebagaimana tertuang dalam RPJP menyebutkan bahwa dalam upaya mewujudkan Indonesia demokratis berdasarkan hukum antara lain ditingkatkan peran komunikasi dan informasi dengan menekankan pada intelijen masyarakat dalam kehidupan politik, yang dilakukan dengan cara: hal-hal berikut: . a) terwujudnya kebebasan pers yang lebih mapan, terlembaga. dan menjamin hak masyarakat luas untuk mengutarakan pendapatnya dan mengendalikan penyelenggaraan negara dengan cara yang cerdas dan demokratis;
244 Lihat Maakar Kusumaatmadja, Konsep Hukum dalam Pembangunan, Pusat Kajian Wawasan Nusantara, Hukum dan Pembangunan bekerjasama dengan PT Publisher. Alumni Bandung 2006 yang memuat pemikirannya yaitu: Fungsi dan perkembangan hukum dalam pembangunan nasional; dan Hukum, Masyarakat, dan Pembangunan Hukum Nasional: Uraian tentang Landasan Pemikiran, Pola dan Mekanisme Reformasi Hukum di Indonesia. Peran hukum dalam bentuk keputusan Mahkamah Agung AS dalam mencapai persamaan hak bagi warga kulit hitam adalah contoh yang sangat mengesankan tentang peran progresif hukum dalam masyarakat.
Selain menaati penguasa, selama penguasa bertindak dalam batas-batas kekuasaannya, warga negara yang berhukum harus mengetahui dan, bila perlu, menuntut hak-hak yang diberikan kepadanya oleh undang-undang dan undang-undang. Hanya dengan demikian ia dapat menjalankan tugasnya sebagai warga negara dengan baik, dalam arti membantu menjaga ketertiban yang menjadi tanggung jawab seluruh warga negara, baik penguasa maupun rakyat.
Konvergensi Tujuan Hukum
- Konsepsi Keadilan
- Konsepsi Kepastian Hukum
- Konsepsi Ketertiban
- Konsepsi Kemanfaatan
Konvergensi Fungsi Hukum
- Fungsi Personal
- Fungsi Sosial
- Fungsi Transaksional