Seni bela diri pencak silat dikenal sebagai olahraga laki-laki, sehingga peminatnya seringkali didominasi oleh laki-laki, dibandingkan perempuan lebih banyak. Pelabelan mahasiswi di salah satu universitas ternama di Yogyakarta yang digambarkan sebagai orang yang bertutur kata lembut dan bersuara lembut sepertinya gambaran tersebut kurang tepat bila perempuan mempelajari ilmu bela diri pencak silat. Banyak mahasiswi salah satu universitas ternama di Yogyakarta yang dilecehkan karena menjadi anggota UKM Perguruan Pencak Silat CEPEDI.
Pendekatan teori yang penulis gunakan adalah teori bullying, para pesilat wanita di salah satu universitas ternama Yogyakarta di-bully karena mengikuti pencak silat. Kemudian pendekatan teori konstruksi sosial, dimana siswa perempuan memperoleh pengakuan dan pemahaman individu, kemudian menjadikan pencak silat sebagai gaya hidup. Konstruksi sosial pencak silat putri telah mentransformasi pengetahuan pada individu santri putri dan memberikan hasil berupa sosialisasi pencak silat kepada masyarakat. Olah raga pencak silat seperti pencak silat dikenal sebagai olah raga maskulin dan ekstrim yang sebagian besar diikuti oleh laki-laki.
Namun ada juga perempuan yang ikut dan bahkan berprestasi dalam olahraga pencak silat, seperti di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, misalnya di Universitas Muslimah, mereka digambarkan sebagai perempuan yang lemah lembut, bersuara lembut dan penuh kasih sayang. sikap santai. Namun mereka juga aktif dalam kegiatan pencak silat pencak silat. Banyak siswi yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Perguruan Pencak Silat CEPEDI. Mereka mendapat penilaian yang berbeda jika aktif dalam pencak silat dibandingkan dengan perempuan yang tidak aktif dalam pencak silat.
8 perbedaan sikap terhadap perempuan pencak silat sehingga menimbulkan perbedaan konsep pemikiran masyarakat tentang mereka.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi kajian penelitian terhadap kasus-kasus sosial yang berkembang di masyarakat dengan asumsi adanya evaluasi oleh masyarakat terhadap perempuan peserta pencak silat Universitas X Yogyakarta.
Tinjauan Pustaka
Kemudian penulis membandingkannya dengan karya ilmiah sebelumnya, terdapat perbedaan baik pada objek penelitian, bentuk kajian, luas objek dan faktor lainnya. Menurut penelitian Septiyana Munawaroh, upaya mengatasi perilaku bullying dikalangan siswa di SMP Muhammadiyah 5 Yogyakarta yaitu melalui deteksi dini oleh guru PAI bekerjasama dengan guru lain untuk mengetahui secara langsung kondisi siswa dan perilakunya dalam mengajar serta mengamati kegiatan pembelajaran di sekolah dan di luar sekolah. 9. Berbeda dengan penelitian Munawaroh, dalam penelitian Ayu Farchatul tentang perempuan di media massa, menjadi sangat menyedihkan karena adanya pemberitaan tentang seorang pekerja migran Indonesia bernama Sumiati van Dompu yang disiksa secara brutal oleh majikannya di Arab Saudi.10 Kekerasan fisik ini seharusnya tidak menjadi. diperlukan.
Deteksi dini dan penanggulangan perilaku bullying pada siswa SMP Muhammadiyah 5 Yogyakarta; Skripsi Yogyakarta, Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Universitas Keguruan Skripsi Yogyakarta, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Universitas Dakwah
Jika penelitian sebelumnya mengenai perempuan, berbeda dengan Arif Hasan Amiruddin yang menjelaskan bahwa durasi keikutsertaan dalam latihan pencak silat atau pencak silat dapat meningkatkan kemampuan penguasaan peserta, dan dari hasil penelitiannya terdapat hubungan yang positif antara partisipasi dan lama keikutsertaan pencak silat dan pengendalian diri, semakin tinggi tingkat keikutsertaan dan lama keikutsertaan pencak silat maka semakin tinggi pula pengendalian diri subjek. Pengaruh kontrol sosial terhadap perilaku bullying siswa di sekolah menengah pertama dipengaruhi oleh sistem sosial yang ada di lingkungan sekolahnya, seperti komunikasi antara siswa dengan guru, siswa dengan teman sebayanya, norma dan peraturan sekolah yang berlaku. Dari kontrol sosial terhadap bullying di SMPN ini, teridentifikasi jenis perilaku bullying berdasarkan gender.
Pengendalian diri dilihat dari keikutsertaan dan lamanya keikutsertaan dalam Pencak Silat; Tesis Yogyakarta, Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Dalam skripsi ini penulis akan membahas tentang adanya tindakan pelecehan verbal yang dilakukan oleh masyarakat di lingkungan UIN Snan Kalijaga Yogyakarta.
Selain itu penulisan ini juga berbeda dengan karya ilmiah sebelumnya, dapat dilihat dari segi objek, pokok bahasan dan waktu pelaksanaannya.
Kerangka Teori
Selanjutnya pada tahun 1993, Dan Olweus mendefinisikan perilaku bullying dengan tiga unsur dasar perilaku bullying sebagai berikut16. Dampak perilaku bullying terhadap korban bullying berbeda-beda, namun pada dasarnya semua sama. Dari sekian banyak dampak perilaku bullying terhadap korban, berbagai tokoh memaparkan berbagai jenis bullying dalam berbagai bentuk.
Olweus mengidentifikasi dua subtipe bullying, yaitu intimidasi langsung, misalnya serangan fisik, dan perilaku intimidasi tidak langsung. Bullying dalam bentuk verbal merupakan salah satu jenis bullying yang paling mudah dilakukan dan bullying ini akan menjadi awal dari perilaku bullying lainnya. Bullying jenis ini merupakan salah satu bentuk perilaku bullying yang dilakukan oleh pelaku melalui sarana elektronik seperti komputer, telepon genggam, internet, website, chat room, email, SMS dan lain sebagainya. Bullying ini biasanya ditujukan untuk meneror korbannya. dengan tulisan, animasi, foto dan rekaman video atau film yang mengintimidasi, menyakiti atau menyudutkan. Bullying jenis ini biasanya dilakukan oleh kelompok remaja yang sudah mempunyai pemahaman yang cukup baik.
Faktor eksternal yang dapat menyebabkan terjadinya perilaku bullying antara lain faktor keluarga, lingkungan dan teman sebaya. 22 Sri Tirtayanti. Hubungan Perkembangan Emosi Dengan Perilaku Bullying Pada Anak Di Sekolah Dasar Negeri 7 Banyuasin Prajin Palembang. Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta. 2017 Hal 2. Anak menjadi korban bullying karena memiliki rasa percaya diri dan percaya diri. harga diri (harga diri). estreme) rendah.
Ibu bapa yang sering bertengkar atau bergaduh cenderung melahirkan anak yang berisiko menjadi lebih agresif. Kanak-kanak yang kurang mendapat kasih sayang, didikan yang tidak sempurna dan kekurangan peneguhan positif berpotensi menjadi pembuli. Rakan sebaya memainkan peranan yang sama penting dalam pembangunan dan peneguhan tingkah laku buli, tingkah laku antisosial dan tingkah laku devian yang lain di kalangan kanak-kanak.
Paparan tindakan dan perilaku kekerasan yang sering ditayangkan di televisi dan media elektronik akan mempengaruhi perilaku kekerasan pada anak dan remaja. Melihat berbagai faktor yang mempengaruhi tersebut di atas, perilaku bullying dapat menyerang kita melalui berbagai media lingkungan, sehingga akan sangat berbahaya jika diabaikan begitu saja. Karena tidak hanya menimpa anak-anak saja, jika perilaku bullying ini terus berlanjut tanpa adanya pencegahan yang tepat maka akan meluas ke lingkungan.
Dampak dari perilaku bullying yang terjadi dapat mengganggu dan menimbulkan permasalahan pada tumbuh kembang anak, baik menjadi korban maupun pelaku bullying. 28 Ahmad Baliyo Eko P. Bullying di Sekolah dan Dampaknya Terhadap Masa Depan Anak, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial UII Yogyakarta.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis akan melihat sistem bullying yang terjadi pada pesilat putri di Perguruan Tinggi Teori konstruksi sosial ini akan menjadi pisau untuk menambah pemahaman kita dalam melihat realitas sosial dari pelaku bullying perempuan pencak silat. Dalam disertasi ini, penulis akan menggunakan lima atau lebih mahasiswi yang mempelajari ilmu bela diri pencak silat di Universitas
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah sikap mahasiswi Universitas X Yogyakarta terhadap bullying dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari wanita pencak silat. Selain pesilat, penulis juga mewawancarai wanita di luar kegiatan pencak silat untuk mengetahui reaksi mereka terhadap pesilat di Universitas X Yogyakarta. Dokumentasi mencari informasi terkait lima wanita pencak silat melalui dokumen terkait, arsip, catatan buku atau foto.
Metode penelitian partisipan merupakan metode dimana penulis juga menjadi korban dalam penelitiannya, disini penulis terlibat dalam perundungan, penulis mengalami secara langsung, merasakan bagaimana perempuan pencak silat ditindas oleh masyarakat. 37 Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode analisis kualitatif yaitu penulis menjelaskan hasil penelitiannya secara jelas dan tepat. Dalam penelitian ini penulis harus menggunakan pendekatan sosiologi, sehingga dari kumpulan data yang telah dikumpulkan, penulis mampu menyimpulkan bagaimana pembinaan perempuan dalam pencak silat dan faktor apa saja yang mempengaruhinya.
Barulah penulis dapat menjelaskan fenomena sosial kesetaraan gender dalam olahraga pencak silat yang benar-benar mendapat konsentrasi serius. Selain itu juga dijelaskan bagaimana kehidupan masyarakat di sekitar pencak silat putri dan apa dampak sosial yang ditimbulkan terhadap para pencak silat putri akibat sikap teman-temannya. Beberapa siswi yang merasa risih atau risih dengan kelakuan temannya yang melakukan perundungan memutuskan untuk berhenti mengikuti kegiatan pencak silat agar teman-temannya tidak lagi melakukan perundungan.
Karena tekanan yang diterima korban, baik verbal maupun rasional, itulah sebabnya ia memilih mundur dari pencak silat. Bahkan mereka semakin kuat dan berusaha keras untuk menjelaskan kepada teman-temannya bahwa kegiatan pencak silat yang mereka lakukan adalah positif dan bermanfaat bagi mereka. Hal inilah yang patut ditiru oleh beberapa siswi lain yang ingin mengikuti kegiatan pencak silat.
Dalam proses konstruksi sosial, eksternalisasi pada kalangan mahasiswi Universitas Wahyuningrum Lutfi. Bimbingan individu bagi siswa pelaku bullying di MTs N Yogyakarta II. Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas 2017.