BUNGA RAMPAI PSIKOLOGI KLINIS Dalam Tinjauan Kelautan-
Kemaritiman
ISBN 978-979-3153-93-3
Editor:
Puri Aquarisnawati, M.Psi, psikolog Windah Riskasari, M.Psi, Psikolog Desain Cover: Irma Damayanti Copyright © Agustus 2016 Diterbitkan pertama kali oleh:
Hang Tuah University Press Surabaya
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memudahkan segala sesuatu sehingga pada akhirnya buku ini dapat diterbitkan.
Buku ini merupakan kumpulan penelitian-penelitian bidang Psikologi Klinis yang menitikberatkan kajiannya dalam bahasan kelautan kemaritiman. Topik-topik yang ada dalam buku ini lebih banyak mengeksplorasi masyarakat yang bertempat tinggal di area pesisir, dimana mayoritas penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan. Setelah melalui banyak kajian, penelitian dan observasi, diketahui bahwa dinamika psikologis pada masyarakat pesisir cukup beranekaragam, terutama pada permasalahan yang terkait dengan bidang psikologi klinis.
Psikologi Klinis, merupakan salah satu bidang ilmu Psikologi yang mempelajari tentang perilaku patologi individu beserta simptom-simptom/gejala-gejala yang menyertainya. Individu yang mengalami kecemasan, stres, depresi, adalah sebagian contohnya.
Simptom/gejala tersebut dapat dialami pada semua lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, dewasa maupun yang telah berusia lanjut, beserta dinamika psikologis yang menyertainya.
Selain itu, gejala patologi klinis banyak dijumpai pada kehidupan masyarakat di perkotaan, pedesaan, maupun pada masyarakat di daerah pesisir.
Melalui buku ‘Bunga Rampai Psikologi Klinis dalam Kajian Kelautan-Kemaritiman’ diharapkan memberikan wawasan mengenai bagaimana penerapan Psikologi Klinis ke dalam bahasan kelautan kemaritiman, serta dapat memberikan gambaran tentang dinamika psikologis masyarakat pesisir. Akhir kata, terkumpul do’a dan terimakasih penulis kepada seluruh pihak yang telah mendukung penerbitan buku ini. Semoga dengan diterbitkannya buku ini, akan memberikan manfaat kepada siapa saja yang ingin mempelajari bidang ilmu psikologi klinis, terutama yang dikaji dari sudut pandang kelautan kemaritiman.
1
Surabaya, Agustus 2016
Tim Editor DAFTAR ISI
Studi Deskriptif Psychological Well Being Pada Masyarakat
Nelayan Di Pesisir Pantai Kenjeran Surabaya
_________________________ 1
Kecemasan Istri-istri Pelaut terhadap Kebutuhan seks dengan
Peran sebagai Orang tua di Surabaya
_______________________________ 18
Studi Kasuistika Tentang Perilaku Kesehatan Pada Masyarakat Nelayan Kota Surabaya __________________________________________
45
Motorik Halus Pada Anak Usia Prasekolah Ditinjau Dari Bender
Gestalt____ 72
Hubungan Antara Kualitas Komunikasi Dengan Kepuasan Perkawinan
Pada Istri Pelaut ________________________________________________
87
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Pengambilan Keputusan Penerbangan Pada Pilot Militer Di Wing Udara 1 Puspenerbal Juanda _____ 113
Hubungan Antara Persepsi Terhadap Mata Kuliah Psikologi Kelautan Dengan Minat Belajar Psikologi Kelautan Pada Mahasiswa
Fakultas Psikologi Universitas Hang Tuah Surabaya ____________________ 132
2
3
1 Bunga Rampai Psikologi Klinis Kemaritiman
STUDI DESKRIPTIF PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA MASYARAKAT NELAYANDI PESISIR PANTAI KENJERAN SURABAYA
Puri Aquarisnawati Windah Riskasari Ratna Insyani Kusumawati
Pendahuluan
Indonesia adalah negara dan bangsa yang wilayahnya berupa kepulauan, yang terdiri dari 17.000 pulau besar dan kecil yang membentang di katulistiwa, luas wilayah itu kurang lebih 9 juta km2, yang terbagi atas 3 juta km2 daratan pulau-pulau, 3 juta km2 perairan laut ( kemaritiman laut ) yang menglilingi pulau-pulau, dan 3 juta km2 perairan laut yang mengelilingi laut kedaulatan yang terdiri dari sumberdaya alam baik yang berada diatas maupun yang berada dibawah permukaan laut. Perbandingan luas antara daratan dan lautan, menunjukkan banyak potensi di laut yang dapat dimanfaatkan untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat pesisir, yang mana sebagian besar mata pencaharian masyarakat pesisir adalah sebagai nelayan. Sumber daya kemaritiman nasional berupa lautan yang luas merupakan basis untuk mengembangkan
2
beragam aktivitas ekonomi, sehingga kawasan pesisir merupakan salah satu kawasan yang potensial untuk menunjang keberlanjutan pembangunan nasional.
Secara umum masyarakat di pesisir cenderung mempunyai kehidupan yang berbeda dengan masyarakat di kota. Di Indonesia diperkirakan memiliki populasi masyarakat dipesisir pantai sekitar 60%
(Numberi, 2009). Secara geografis masyarakat nelayan adalah masyarakat yang hidup, tumbuh, dan berkembang dikawasan pesisir, yakni suatu kawasan transisi antara wilayah darat dan laut. Sebagai suatu sistem, masyarakat nelayan terdiri atas kategori-kategori sosial yang membentuk kesatuan sosial, masyarakat nelayan juga memiliki sistem nilai dan simbol- simbol kebudayaan sebagai referensi perilaku mereka sehari-hari.
Faktor kebudayaan ini menjadi pembeda masyarakat nelayan dari kelompok sosial lain, sebagian besar masyarakat pesisir baik langsung maupun tidak langsung, menggantungkan kelangsungan hidupnya dari mengelola potensi sumber daya perikanan, oleh karena itu masyarakat pesisir menjadi komponen utama konstruksi masyarakat Maritim Indonesia.
Masyarakat Indonesia khususnya para nelayan dipesisir pantai menghadapi sejumlah masalah politik, sosial, ekonomi yang kompleks, masalah-masalah tersebut antara lain : 1.Kemiskinan, kesenjangan sosial, tekanan ekonomi yang datang setiap saat; 2.keterbatasan akses modal, teknologi, dan pasar, sehingga mempengaruhi dinamika usaha; 3. kelemahan fungsi kelembagaan sosial ekonomi yang ada; 4. kualitas SDM yang rendah sebagai akibat keterbatasan akses pendidikan, kesehatan dan pelayanan publik; 5.
degradasi sumber daya lingkungan, baik dikawasan pesisir, laut, maupun
3 pulau-pulau kecil; 6. belum kuatnya kebijakan yang berorientasi pada kemaritiman sebagai pilar utama pembangunan nasional (Kusnadi, 2006).
Masalah-masalah diatas tidak berdiri sendiri tetapi terkait satu sama lain, sebagai contoh dibidang sosiodemografi dan kepribadian.
Dibidang sosiodemografi meliputi usia, jenis kelamin, perubahan status marital, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status sosio ekonomi, sedangkan dalam kepribadian menyangkut hal-hal yang meliputi cognitive, motivation, behavior, emotional, relation.
Setiap individu memiliki kebutuhan yang tidak pernah terhenti sampai individu tersebut mengalami kematian. Dalam usaha memenuhi kebutuhan hidup individu akan memiliki pengalaman-pengalaman, ada yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang selanjutnya menyebabkan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Dalam ilmu psikologi penelitian mengenai kebahagiaan dan ketidakbahagiaan dikenal sebagai Psychological Well Being atau Kesejahteraan Psikologi.
Dimensi Psychological Well Being
Psychological Well Being merupakan hasil evaluasi atau penilaian sesorang terhadap dirinya yang merupakan evaluasi atas pengalaman- pengalaman hidupnya. Evaluasi terhadap pengalaman akan dapat menyebabkan seseorang menjadi pasrah terhadap keadaan yang membuat Psychological Well Being individu menjadi rendah atau berusaha untuk memperbaiki keadaan hidupnya yang akan membuat Psychological Well Being individu meningkat.
Menurut Ryff (1989) Psychological Well Being memiliki enam dimensi yaitu : penerimaan diri (self acceptance), hubungan yang positif
4
dengan orang lain (positive relations with other), pengembangan diri (personal growth), tujuan hidup (pupose in life), penguasaan lingkungan (environmental mastery), dan kemandirian (autonomy). Keenam dimensi di atas saling berkaitan satu sama lain.
Para nelayan tersebut menyatakan bahwa antara kebahagiaan dan ketidakbahagiaan yang didapat mereka selama ini terfokus pada faktor ekonomi, dimana sumber daya alam yang disediakan oleh laut yang berupa ikan, udang, cumi, kepiting, kerang dan lainnya adalah suatu hal yang mutlak yang harus didapatkan oleh nelayan guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari untuk keluarga. Apabila hasil yang didapat sesuai dengan target yang hendak dicapai maka akan muncul suatu rasa kebahagiaan apabila mereka pulang kerumah, dimana hasil tersebut nantinya akan ditukar dengan uang, namun sebaliknya apabila hasil yang didapat sedikit maka muncul ketidakbahagiaan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Psychological Well Being pada masyarakat nelayan di daerah pesisir pantai Kenjeran akan meningkat apabila salah satu faktor di atas saling berkaitan satu sama lain, baik antara faktor sosiodemografi dan faktor kepribadian (big five personality).
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pada masyarakat nelayan yang berlokasi di Pesisir Pantai Kenjeran Surabaya dimana penelitian ini terkait dengan Psychological Well Being atau Kesejahteraan Psikologis.
Psychological Well Being
Studi tentangPsychological Well Being banyak dilakukan dalam bidang kesehatan mental, kualitas kehidupan, dan
5 gerontologysocial(Andrews dan Robinson, dalam Sari, 2005:10).Psychological Well Being menurut Jahoda (dalam Sugianto, 2000:68) dikenal sebagai salah satu kriteria kesehatan mental, selain dua kriteria lainnya yaitu tidak ada penyakit mental dan normalitas
Psychological Well Being (Psychological Well Being) adalah kebahagiaan dan ketidakbahagiaan atau yang biasa disebut Kesejahteraan Psikologis, menurut Ryff (1995) mendefinisikan Psychological Well Being ini sebagai hasil evaluasi atau penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri, dimana evaluasi atas pengalaman-pengalaman hidup sehingga menyebabkan seseorang menjadi pasrah terhadap keadaan yang membuat Psychological Well Being yang dimiliki menjadi rendah atau berusaha untuk memperbaiki hidupnya sehingga Psychological Well Being yang dimiliki meningkat.
Psychological Well Being memiliki enam dimensi diantaranya sebagai berikut :
1. Penerimaan diri ( Self Acceptance), yaitu sikap positif seseorang terhadap diri sendiri dan merupakan ciri penting dari Psychological Well Being. Skor tinggi pada dimensi ini menunjukkan bahwa individu memiliki sikap positif terhadap diri sendiri. Mengakui dan menerima berbagai aspek diri termasuk kualitas baik dan buruk, dan merasa positif tentang kehidupan yang telah dijalani. Skor rendah menunjukkan individu merasa tidak puas dengan dirinya, merasa kecewa terhadap kehidupan yang dijalani, mengalami kesukaran karena sejumlah kualitas pribadi dan ingin menjadi orang yang berbeda dari dirinya saat ini (Ryff dalam Sugianto, 2000:69). Menurut Ryff (dalam Riawati, 2006:29) penerimaan diri merupakan ciri sentral dari konsep kesehatan mental
6
dan juga merupakan karakteristik dari orang yang teraktualisasi diri, berfungsi secara optimal, dan matang. Individu yang dapat menerima dirinya sendiri adalah individu yang memiliki sikap positif terhadap diri sendiri, mengakui dan menerima berbagai aspek diri termasuk kualitas baik dan buruk, dan merasa positif tentang kehidupan yang dijalani sehingga dapat disimpulkan bahwa dimensi penerimaan diri dari Psychological Well Being dapat dilihat dari sejauh mana seseorang dapat mengakui dan menerima berbagai aspek dirinya (baik positif maupun negatif), memiliki sikap positif terhadap diri sendiri, dan merasa positif terhadap kehidupan yang dijalani sekarang.
2. Hubungan yang positif ( Positif Relations with Other), hal ini terkait dengan kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan antar pribadi yang hangat, memuaskan, saling mempercayai, serta terdapat hubungan saling memberi dan menerima. Merupakan dimensi hubungan positif dengan orang lain dapat dioperasionalkan ke dalam tinggi rendahnya kemampuan seseorang dalam membina hubungan yang hangat dengan orang lain. Skor tinggi menunjukkan individu mempunyai hubungan yang hangat, memuaskan dan saling percaya dengan orang lain, memperhatikan kesejahteraan orang lain, mampu melakukan empati yang kuat, afeksi, dan hubungan yang bersifat timbal balik. Skor rendah menunjukkan bahwa individu hanya mempunyai sedikit hubungan yang dekat dan saling percaya dengan orang lain, merasa kesulitan untuk bersikap hangat, terbuka dan memperhatikan orang lain, merasa terasing dan frustasi dalam hubungan interpersonal, tidak bersedia menyesuaikan diri untuk memperluas suatu hubungan yang penting dengan bersedia menyesuaikan diri untuk
7 mempertahankan suatu hubungan yang penting dengan bersedia menyesuaikan diri untuk mempertahankan suatu hubungan yang penting dengan orang lain. Beberapa kualitas yang dihubungkan dengan kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang hangat dan saling percaya, saling mengembangkan pribadi satu dengan yang lain, serta mampu menjalin persahabatan yang mendalam. Menurut Ryff (dalam Riawati, 2006:30) dimensi ini berulangkali ditekankan dalam teori-teori yang digunakannya dalam menyusun konsep well being.
Individu yang memiliki hubungan positif dengan sesamanya dapat disimpulkan dengan melihat sejauh mana individu memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia lain, mampu membina hubungan yang empatik efektif, dan intim yang kuat dengan manusia lain, serta saling memberi dan menerima dalam hubungan dengan manusia lain.
3. Pengembangan diri ( Personal Growth ), meliputi kemampuan untuk tumbuh dan mengembangkan potensi diri secara berkesinambungan.
Pengembangan diri dapat dioperasionalkan dalam tinggi rendahnya kemampuan seseorang untuk mengembangkan potensi diri secara berkelanjutan. Skor yang tinggi menunjukkan bahwa individu merasakan adanya pengembangan potensi diri yang berkelanjutan, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, menyadari potensi diri dari waktu ke waktu. Skor yang rendah menunjukkan bahwa individu tidak merasakan adanya kemajuan dan pengembangan potensi diri dari waktu ke waktu, merasa jenuh dan tidak tertarik dengan kehidupan, serta merasa tidak mampu untuk mengembangkan sikap atau tingkah laku baru. Menurut Ryff dan Singer (dalam Sugianto, 2000:70) Psychological Well Being berkaitan dengan faktor usia, jenis kelamin,
8
kelas sosial dan latar belakang budaya. Pada tiga kelompok umur, yaitu dewasa muda, dewasa menengah dan dewasa akhir, menemukan adanya perbedaan Psychological Well Being khususnya pada dimensi penguasaan lingkungan, dimensi pertumbuhan pribadi, dimensi tujuan hidup dan dimensi otonomi. Hasil penelitian juga menyatakan bahwa skor wanita lebih tinggi pada dimensi hubungan yang positif dengan orang lain dan dimensi pertumbuhan pribadi daripada pria. Selain itu kelompok berpendidikan tinggi memiliki tujuan hidup dan dimensi pertumbuhan pribadi yang lebih tinggi daripada kelompok berpendidikan rendah. Perbedaan budaya Barat dan Timur juga memberikan pengaruh yang berbeda. Dimensi yang lebih berorientasi pada diri (seperti penerimaan diri dan dimensi otonomi) lebih menonjol dalam konteks budaya Barat, sedangkan dimensi yang berorientasi pada orang lain (seperti hubungan positif dengan orang lain) lebih menonjol dalam budaya Timur. Ryff (dalam Riawati, 2006:34) mengatakan bahwa optimal psychological functioning sebagai suatu bentuk tendensi pengembangan potensi, untuk tumbuh dan berkembang sebagai pribadi. Dikatakan pula oleh Rogers bahwa pribadi yang berfungsi sepenuhnya memiliki “keterbukaan pada pengalaman” (openess to experience). Individu yang terbuka terhadap pengalaman akan lebih sadar terhadap dunia sekelilingnya dan tidak berhenti pada pertimbangan-pertimbangan sebelumnya yang mungkin kurang benar.
Pribadi yang berfungsi sepenuhnya senantiasa berkembang dan tidak puas pada kondisi tetap (fix) dimana semua masalah sudah berhasil terselesaikan. Fungsi psikologis dapat dicapai secara optimal, yaitu individu tersebut perlu memiliki aspek-aspek pertumbuhan pribadi yang
9 baik. Individu yang dinilai baik dalam dimensi pertumbuhan pribadi adalah individu yang mempunyai keinginan untuk terus berkembang, mampu melihat dirinya sebagai sesuatu yang terus bertumbuh dan berkembang, terbuka terhadap pengalaman yang baru, memiliki keinginan untuk merealisasikan potensinya, serta dapat melihat kemajuan dalam diri dan perilakunya dari waktu ke waktu. Taraf Psychological Well Being dalam dimensi pertumbuhan pribadi dapat tercermin dari sejauh mana indvidu memiliki perasaan akan perkembangan yang berkelanjutan, terbuka terhadap pengalaman, merealisasikan potensi yang dimiliki, menyadari potensi dan melihat kemajuan diri dari tingkah laku setiap saat, serta memiliki pemahaman diri dan efektifitas hidup yang semakin baik.
4. Tujuan hidup ( Purpose in life ), meliputi keyakinan-keyakinan yang memberikan perasaan bahwa terdapat tujuan dan makna di dalam hidupnya, baik masa lalu maupun yang sedang dijalani kini. Tujuan Hidup (purpuse in life) adalah dioperasionalkan dalam tinggi rendahnya pemahaman individu akan tujuan dan arah hidupnya. Skor tinggi menyatakan bahwa individu mempunyai tujuan dan arah hidup, merasakan adanya arti dalam hidup masa kini dan masa lampau. Skor rendah menunjukkan bahwa individu kurang mempunyai arti hidup, tujuan, arah hidup dan cita-cita yang tidak jelas, serta tidak melihat adanya tujuan dari kehidupan masa lampau. Menurut Ryff (dalam Riawati, 2006:33) individu yang dianggap baik dalam dimensi ini adalah individu yang memiliki tujuan dan arah dalam hidup, merasa bahwa kehidupan di masa lalu dan masa sekarang memiliki makna, serta memegang keyakinan yang memberikan tujuan dalam hidup. Sehingga
10
dapat disimpulkan, taraf Psychological Well Being seseorang dalam dimensi tujuan hidup tercermin dari sejauh mana individu memiliki pemahaman yang jelas mengenai tujuan hidup dan memiliki makna terhadap hidup sekarang dan masa lalu.
5. Penguasaan lingkungan
( Environmental mastery ), meliputi kemampuan individu untuk memilih dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan dirinya. Merupakan penguasaan kemampuan individu untuk memilih atau mengubah lingkungan sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Skor tinggi menyatakan bahwa individu mempunyai sense of mastery dan mampu mengatur lingkungan, mengontrol berbagai kegiatan eksternal yang kompleks, menggunakan kesempatan-kesempatan yang ada secara efektif, mampu memilih atau menciptakan konteks yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai pribadi. Skor rendah menyatakan bahwa individu mengalami kesulitan dalam mengatur aktivitas sehari- hari, merasa tidak mampu untuk mengubah atau meningkatkan konteks di sekitar, tidak waspada akan kesempatan-kesepatan yang ada di lingkungan, dan kurang mempunyai control terhadap dunia luar.
Menurut Ryff (dalam Riawati, 2006:32-33) beberapa kualitas yang tercakup dalam dimensi ini meliputi kemampuan individu untuk memilih atau menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kondisinya, berpartisipasi dalam lingkungan yang sesuai dengan kondisinya, berpartisipasi dalam lingkungan di luar dirinya, mengontrol dan memanipulasi lingkungan yang kompleks, serta kemampuan untuk mengambil keuntungan dari kesempatan di lingkungan. Jadi dengan kata lain, dimensi ini melihat kemampuan individu dalam menghadapi
11 berbagai kejadian di luar dirinya dan mengaturnya sesuai dengan keadaan dirinya sendiri. Individu yang mampu menguasai lingkungannya adalah individu yang memiliki penguasaan dan kompetensi dalam mengatur lingkungannya, dapat mengendalikan situasi eksternal yang kompleks, dapat menggunakan kesempatan di lingkungan secara efektif, serta mampu memilih atau menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai pribadinya. Jadi taraf Psychological Well Being individu dalam dimensi penguasaan lingkungan dapat tercermin dari sejauh mana individu mampu mengelola dan mengontrol berbagai aktifitas eksternal, mampu memanfaatkan secara efektif setiap kesempatan yang ada, mampu memilih atau menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai pribadi, serta memiliki kompetensi dalam mengelola lingkungan.
6. Kemandirian ( Autonomi ), terkait dengan kemandirian individu dalam menjalani kehidupannya, berkaitan dengan kemampuan untuk mengarahkan diri sendiri. Kemandirian dan kemampuan mengatur tingkah laku. Skor tinggi menunjukkan bahwa individu mampu mengarahkan diri dan mandiri, mampu menghadapi tekanan sosial, mengatur tingkah laku sendiri dan mengevaluasi diri dengan standar pribadi. Skor rendah menunjukkan bahwa individu memperhatikan pengharapan dan evaluasi orang lain. Bergantung pada penilaian orang lain dalam membuat keputusan, menyesuaikan diri terhadap tekanan sosial dalam berpikir dan bertingkah laku (Ryff dalam Sugianto, 2000:69). Dimensi otonomi menurut Ryff (dalam Riawati, 2006:31) meliputi kualitas-kualitas seperti penentuan diri (self determination), kemandirian, pengendalian perilaku dari dalam diri, dan peran locus
12
internal dalam mengevaluasi diri meskipun kondisi eksternal dapat mempengaruhi namun tidak bertindak sebagai penentu akhir dari keputusan yang diambil lebih lanjut, Maslow mengatakan bahwa individu yang otonom adalah individu yang mandiri dan dapat membuat keputusan sendiri, dapat menolak tekanan dari lingkungan untuk berpikir dan bertingkah laku dengan cara tertentu, mengatur perilakunya dari dalam diri, mengevaluasi diri berdasarkan standar pribadi dan sejauh mana individu mempertahankan rasa hormat terhadap dirinya. Juga mencakup kemampuan untuk membedakan antara aspek-aspek yang ingin diterima dan yang tidak ingin diterima.
Taraf Psychological Well Being individu dalam dalam dimensi otonomi tercermin dari sejauh mana individu tersebut mampu mengarahkan diri dan bersikap mandiri, memiliki patokan (standar personal) bagi perilakunya, serta mampu bertahan terhadap tekanan sosial untuk berpikir dan bertindak dengan cara tertentu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Psychological Well Being
Psychological Well Being memiliki dua faktor yang mempengaruhi yaitu: Faktor Sosiodemografi, yang meliputi : Usia, jenis kelamin, perubahan status marital, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status sosioekonomi;
Faktor Kepribadian, yang meliputi : Cognitvef, motivation, behavior, emotional, relation.
Masyarakat Nelayan
Masyarakat nelayan menurut Kusnadi (2009)adalah masyarakat yang hidup, tumbuh dan berkembang dikawasan pesisir yakni suatu
13 kawasan transisi antara wilayah darat dan laut, yang terdiri atas kategori- kategori sosial yang membentuk kesatuan sosial, dan mereka juga memiliki sistem nilai dan simbol-simbolkebudayaan sebagai referensi perilaku mereka sehari-hari. Faktor kebudayaan ini menjadi pembeda masyarakat nelayan dari kelompok sosial lainnya, sebagian besar masyarakat pesisir baik langsung maupun tidak langsung mengantungkan kelangsungan hidupnya dari mengelola potensi sumber daya perikanan, dan mereka menjadi komponen utama konstruksi masyarakat maritim Indonesia.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberdayaan masyarakat nelayan Masyarakat nelayan memiliki faktor-faktor pemberdayaan, menurut Kusnadi (2007) yaitu :
1. Tercapainya kesejahteraan sosial-ekonomi baik individu, rumah tangga dan masyarakat yang mana di tandai dengan hal-hal sebagai berikut : kemandirian ekonomi berkembang, orientasi kewirausahaan meningkat, dan kepercayaan diri menguat; nilai investasi bertambah; kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi optimal dan berkelanjutan; kondisi kualitas SDM berkembang baik.
2. Kelembangaan-kelembagaan ekonomi yang ada dapat berfungsi optimal, dan aktivitas ekonomi stabil kontinuitas.
3. Kelembagaan sosial dan pranata-pranata budaya berfungsi dengan baik sebagai instrumen aspirasi pembangunan lokal.
4. Potensi sumberdaya lingkungan sebagai basis kehidupan masyarakat pesisir terpelihara kelestariaanya dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan.
14
5. Berkembangnya akses masyarakat terhadap sumberdaya ekonomi yang meliputi informasi, kapital, pasar, teknologi, dan jaringan kemitraan.
6. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan pembangunan di kawasan pesisir pantai dan tumbuhnya kesadaran kritis warga terhadap persoalan-persoalan pembangunan yang ada di kawasan pesisir.
7. Kawasan pesisir menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi nasional yang dinamis, serta memiliki daya tarik investasi.
Peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat dan kesejahteraan sosial memiliki konstribusi besar untuk meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) masyarakat nelayan, dengan kemampuan nelayan mengelola potensi sumber daya alam yang tersedia, hal ini akan menjamin aktivitas pembangunan yang berkelanjutan di kawasan pesisir.
Prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat nelayan
Kehidupan masyarakat dipesisir pantai, memilki beberapa prinsip- prinsip pemberdayaan yang tampak pada pikiran, tindakan, dan sikap (Kusnadi, 2009) yaitu :
1. Mewujudkan rasa simpati, empati dan kepekaan sosial terhadap kehidupan masyarakat, khususnya peduli pada kesulitan-kesulitan sosial ekonomi yang dihadapi setiap hari.
2. Menempatkan masyarakat sebagai subyek pemberdayaan sosial ekonomi
3. Mudah beradaptasi secara sosial budaya dan dapat menghargai nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat.
15 4. Memperluas interaksi dan pergaulan sosial dan pergaulan sosial dengan
berbagai pihak agar memperoleh informasi luas tentang masyarakat.
5. Menjalin komunikasi yang intensif dan terstruktur dengan tokoh-tokoh masyarakat lokal.
6. Membangun raport diri yang baik, dengan menghindarkan diri dari konflik sosial personal dan dengan menunjukkan sikap untuk membantu masyarakat.
Psychological Well Being masyarakat nelayan di pesisir pantai Kenjeran Surabaya
Psychological Well Being pada masyarakat nelayan di pesisir pantai Kenjeran dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu kategori Psychological Well Being rendah dan kategori Psychological Well Being sedang, dapat diketahui sebanyak 77,6% (38 orang) masyarakat nelayan di pesisir pantai Kenjeran memiliki Psychological Well Being yang rendah; dan sebanyak 22,4% (11 orang) masyarakat nelayan di pesisir pantai Kenjeran memiliki Psychological Well Being yang sedang.
Ditinjau dari tingkat pendidikan
Peninjauan tingkat Psychological Well Being dengan perbedaan tingkat pendidikan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan Psychological Well Being pada masyarakat nelayan di pesisir pantai Kenjeran. bahwa nelayan dengan tingkat Psychological Well Being sedang yang memiliki pendidikan di tingkat SD/MI adalah sebanyak 50% (5 orang), yang memiliki pendidikan di tingkat SMP adalah sebanyak 50% (5 orang); sedangkan nelayan dengan tingkat Psychological Well Being rendah yang memiliki
16
pendidikan di tingkat SD/MI adalah sebanyak 61.5% (24 orang), yang memiliki pendidikan di tingkat SMP adalah sebanyak 38.46% (15 orang).
Ditinjau dari banyaknya jumlah anak
Ditinjau dari jumlah anak, tidak ada perbedaan Psychological Well Being pada masyarakat nelayan di pesisir pantai Kenjeran dengan jumlah anak yang dimiliki. Nelayan dengan tingkat Psychological Well Being sedang yang memiliki jumlah anak 1-2 orang adalah sebanyak 60% (6 orang), yang memiliki lebih dari 2 anak adalah sebanyak 40% (4 orang); sedangkan nelayan dengan tingkat Psychological Well Being rendah yang memiliki jumlah anak 1-2 orang adalah sebanyak 43.6% (17 orang), yang memiliki lebih dari 2 anak adalah sebanyak 56.4% (22 orang).
Ditinjau dari tingkat jumlah anggota keluarga
Ditinjau dari tingkat jumlah anggota keluarga, tidak ada perbedaan Psychological Well Being pada masyarakat nelayan di pesisir pantai Kenjeran ditinjau dari tingkat jumlah anggota keluarga. Nelayan dengan tingkat Psychological Well Being sedang yang memiliki jumlah anggota keluarga 1-4 orang adalah sebanyak 60% (6 orang), yang memiliki 5-10 anggota keluarga adalah sebanyak 40% (4 orang); sedangkan nelayan dengan tingkat Psychological Well Being rendah yang memiliki jumlah anggota keluarga 1-4 orang adalah sebanyak 38.5% (15 orang), yang memiliki 5-10 anggota keluarga adalah sebanyak 61.5% (24 orang).
Daftar Pustaka
International Conference On Spirituality, In Conjunction With National Conference On Positive Psychology, 2010, Bandung.
17 Jurnal Psikologi. 1993. Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran. Bandung.
Kusnadi. 2009. Keberdayaan Nelayan & Dinamika Ekonomi Pesisir. Ar-Ruzz Media. Yogyakarta
Numberi, Freddy. 2009. Perubahan Iklim. Citra Kreasi Indonesia. Jakarta Singarimbun, M & Sofyan Efendi, 1995. Metode Penelitian Survei. LP3ES.
Jakarta
Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D.
Alfabeta. Bandung
Suryabrata, Sumadi. (2006). Metodologi Penelitian. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Wahyono, 2007. Indonesia Negara Maritim.Teraju.Jakarta.
18
KECEMASAN ISTRI-ISTRI PELAUT TERHADAP KEBUTUHAN SEKS DENGAN PERAN SEBAGAI ORANG TUA DI SURABAYA
Windah Riskasari Puri Aquarisnawati
Ratna Insyani K
Pendahuluan
Pelaut merupakan suatu pekerjaan yang dikhususkan bagi orang- orang yang bekerja, berlayar bahkan berkehidupan dilaut, mengarungi samudera, melewati ombak pasang dan surut merupakan suatu pekerjaan yang tidak lepas dari sebuah pekerjaan dengan tanggung jawab dan resiko yang besar pula.Pelaut merupakan suatu pekerjaan yang dikhususkan bagi orang-orang yang bekerja, berlayar bahkan berkehidupan dilaut.Pelaut yang sering pergi berlayar selama berhari-hari bahkan bulan-bulan sehingga durasi untuk bertemu bahkan bertatap muka dengan keluarga anak dan istrinya minim sekali. Seorang pelaut dengan karakteristik tertentu menjadikan ia menjadi figure yang kokoh dan bijaksana, tidak sedikit seorang pelaut yang telah menikah dan memiliki anak, ia harus mampu
19 menjadi figure yang bertanggung jawab bagi anak-anak, selayaknya ketika ia berada di laut. Hal ini bisa meliputi bagaimana cara ia memperlakukan anak, memperhatikan anak, sampai memikirkan akan menjadi apakah anak tersebut, hal ini merupakan hal harus dipenuhi oleh seorang ayah kepada anaknya.
Peran orang tua sebagai obyek figur bagi anak-anak merupakan hal terpenting bagi perkembangan anak, baik dari segi psikis maupun fisik.
Pandangan orang tua yang sering memberikan perhatian pada anak, dengan orang tua yang tidak memperhatikannya, sehingga membiarkan anak tumbuh berkembang dengan sendirinya tanpa ia mengetahui bahwa hal itu salah atau benar. Perkembangan pembangunan yang semakin global mustahil bila orang tua tidak campur tangan terhadap permasalahan yang akan muncul pada anak-anaknya kelak.
Peran seorang ayah sebagai figur otoriter dalam keluarga, baik sebagai pencari nafkah, maupun pemberi kasih sayang, sehingga mewajibkannya untuk mencukupi kebutuhan hidup anak-anak dan istrinya.Begitu juga peran seorang ibu dengan kasih sayang, perhatiannya dan harapan terbesarnya kepada anak-anak kelak, peran ibu disini sangat berpengaruh pada keberhasilan anak-anak kelak. Tuntutan-tuntutan sebagai orang tua sebagai pemenuhan kebutuhan lahir dan batin serta pemenuhan kewajiban terhadap kasih sayang sangat diperlukan anak-anak.
Kadang kala banyak juga orang tua yang hanya sibuk dengan pekerjaannya dan berkarir pada bidang pekerjaannya, sehingga mereka tidak peduli terhadap perkembangan anak-anak, karena yang mereka kerja hanya karir dan materi. Namun hal ini sangat berbeda dengan figure seorang ibu rumah tangga, yang murni pekerjaannya hanya mengurus keperluan rumah
20
tangga, mulai dari apa yang dimakan/diminum anak, apa kebutuhan- kebutuhan anak, dan apakah anak ada kesulitan dalam sekolah, bahkan sampai pemenuhan seks atau pemenuhan kebutuhan dia sebagai seorang istri kepada suaminya. Kebutuhan tersebut merupakan kewajiban yang harus dijalani oleh seorang istri.Kebutuhan seks yang tidak pernah habisnya dari jaman ke jaman membuat hal itu menjadi sesuatu yang wajar bahkan sering diperbincangkan.
Peran seorang istri sekaligus peran sebagai ibu bagi anak-anak merupakan pekerjaan yang tidak akan pernah selesai. Seorang istri yang memiliki suami seorang pelaut merupakan suatu tantangan yang besar untuk menjalani kehidupan rumah tangganya sendiri, baik dalam pengasuhan anak dan pemenuhan kebutuhan anak maupun pemenuhan kebutuhan keluarga.Salah satu pemenuhan kebutuhan disini adalah kebutuhan seks.Kebutuhan seks merupakan kebutuhan primer yang harus terpuaskan bagi tiap pasangan yang telah menikah.Menurut Sarlito (2003) seks merupakan masalah yang kompleks, dorongan untuk memenuhi kebutuhan fisologik, bedasarkan kepentingan individu baik secara fisik maupun psikis. Apabila seks dipandang suatu hal yang primer maka tidak menutup kemungkinan bila tidak terjadi pemenuhan kebutuhan seks maka akan menimbulkan suatu stress, kecemasan, bahkan depresi. Bagi seorang istri pelaut, mereka memiliki durasi yang minim sekali untuk bertemu dengan keluarga, bertemu anak, dan bertemu pasangan, apalagi untuk melakukan hubungan seksual, yang mana hal ini kemudian akan memunculkan suatu dampak apabila kebutuhan yang dianggap penting tidak mampu terpuaskan. Dampak-dampak yang muncul bisa seperti
21 pusing, cemas, curiga, keringat dingin, jantung berdebar dan sulit untuk berkonsentrasi terhadap rutinitas
Seperti yang diketahui pada saat suami ditugaskan berlayar, seorang istri sebagai manusia biasa yang juga memiliki kebutuhan biologis / seksual tentu akan merasa cemas tentang pemenuhan kebutuhan ini, karena kebutuhan seksual adalah salah satu dari kebutuhan primer manusia yang tidak dapat ditunda pemenuhannya seperti halnya kebutuhan akan sandang, pangan, papan.
Disamping itu seorang istri dituntut untuk menjalankan tugas rumah tangga seorang diri, baik berperan sebagai ibu maupun peran sebagai ayah untuk menggantikan peran ayah didalam mengelola rumah tangga.Hal ini dapat menyebabkan timbulnya kecemasan pada seorang istri dalam menjalankan perannya.Kecemasan yang timbul bisa berupa kecemasan fisik maupun kecemasan Psikis.
Kecemasan fisik dapat berupa gemetar, tidak bisa tidur, keluar keringat dingin mual dan lainnya.Sedangkan kecemasan psikologis dapat berupa takut untuk melakukan sesuatu dan lain-lainnya.Subyek pertama menyatakan bahwa sering merasa bimbang atau khawatir ketika ditinggal suami berlayar, apalagi durasi kepulangan suami memakan waktu yang lama sekitar lebih kurang enam bulan.Subyek pertama memiliki seorang anak laki-laki, peran sebagai ibu dirasa kurang apabila ditidak dibarengi oleh peran seorang ayah, figur ayah sangat diperlukan ketika tahap-tahap perkembangan anak sedang berlangsung.Subyek kedua dan ketiga menyatakan bahwa kebutuhan mendasar orang yang telah menikah selain menjadi orang tua adalah kebutuhan seksual, dimana selama berbulan- bulan di tinggal suami adakalanya membutuhkan perhatian dan kontak fisik
22
dari suami, apalagi setelah menikah dan hamil seringkali ditinggal berlayar oleh suami. Subyek ke empat menyatakan bahwa sering merasa cemas ketika suami pergi berlayar, apalagi istri merupakan seorang perantau untuk membesarkan anak menjadi figur yag mandiri dan kuat sangat diperlukan peran suami. Dari hasil wawancara dari ke empat istri tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan seks dan peran sebagai orang tua sangat diperlukan untuk perkembangan dan pendidikan bagi anak-anak
Posisi istri sebagai obyek figur ketika suami tidak berada di rumah memiliki peranan yang sangat penting, memiliki suami seorang pelaut merupakan suatu tantangan yang besar untuk menjalani kehidupan rumah tangganya sendiri, baik dalam pengasuhan anak dan pemenuhan kebutuhan anak maupun pemenuhan kebutuhan keluarga.Salah satu Pemenuhan kebutuhan disini adalah kebutuhan seks.Kebutuhan seks merupakan kebutuhan primer yang harus terpuaskan bagi tiap pasangan yang telah menikah.Menurut Sarlito (2003) seks merupakan masalah yang kompleks, dorongan untuk memenuhikebutuhan fisologik, bedasarkan kepentingan individu baik secara fisik maupun psikis. Apabila seks dipandang suatu hal yang primer maka tidak menutup kemungkinan bila tidak terjadi pemenuhan kebutuhan seks maka akan menimbulkan suatu stress, kecemasan, bahkan depresi. Bagi seorang istri pelaut, durasi waktu yang dimiliki untuk bertemu dengan keluarga terbatas, bertemu anak, dan bertemu pasangan, apalagi untuk melakukan hubungan seksual, yang mana hal ini kemudian akan memunculkan suatu dampak apabila kebutuhan yang dianggap penting tidak mampu terpuaskan. Dampak-dampak yang muncul bisa seperti pusing, cemas, curiga, keringat dingin, jantung berdebar dan sulit untuk berkonsentrasi terhadap rutinitas. Berdasarkan latar belakang
23 diatas, maka peneliti tertarik untuk untuk mengetahui bagaimana kecemasan istri-istri pelaut terhadap kebutuhan seks dan peran sebagai orang tua di Surabaya.
Peranan Orang Tua
Seorang pelaut dengan karakteristik tertentu menjadikannya sebagai figur yang kokoh dan bijaksana, tidak sedikit seorang pelaut yang telah menikah dan memiliki anak.Seorang ayah harus mampu menjadi figur otoritas yang bertanggung jawab bagi istri dan anak-anak. Hal ini meliputi bagaimana cara seorang ayah berperilaku pada anak, memperhatikan dan membimbing anak, sampai memikirkan akan menjadi apakah anak tersebut, hal ini merupakan hal harus di penuhi oleh seorang ayah kepada anaknya.
Peran ayah dan ibu dituntut untuk menjalankan tugas rumah tangga, khususnya istri ketika ditinggal pergi berlayar oleh suami, seorang istri harus mampu menjalankan tuntutannya sebagai ibu maupun ayah dalam mengelola dan menjalankan kehidupan rumah tangga.Peran ganda yang dijalankan seorang ibu dalam rumah tangga dalam hal ini menyebabkan timbulnya kecemasan pada seorang istri dalam menjalankan perannya.Tumbuh kembang anak sangat perlu diperhatikan, agar tidak ada sosok yang hilang dalam tahapan perkembangannya kelak. Kecemasan yang timbul bisa berupa kecemasan fisik maupun kecemasan Psikis sehingga hal tersebut menyebabkan control dari perilaku menjadi tampak apabila kecemasan yang terbentuk tidak dapat diminimalisir oleh seorang istri dalam menjalankan perannya
24
Kecemasan
Kecemasan yaitu suatu perasaan yang sifatnya umum, dimana seseorang merasa ketakutan atau kehilangan kepercayaan diri yang tidak jelas asal maupun wujudnya. Kecemasan merupakan suatu keadaan perasaan dimana individu merasa lemah sehingga tidak berani dan tidak mampu untuk bersikap dan bertindak secara rasional sesuai dengan yang seharusnya (Wiramihardja, 2007).
Kecemasan adalah tanggapan dari sebuah ancaman nyata ataupun khayal. Individu mengalami kecemasan karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang. Kecemasan adalah perasaan yang dialami individu ketika berfikir tentang sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi.
Individu menggunakan kata-kata lain untuk menggambarkan kecemasannya. Individu dapat mengatakan bahwa dirinya merasa
”ketakutan”, ”tidak tahu”, ”bingung” atau merasa takut akan kesalahan (Lubis, 2009).
Kecemasan adalah perasaan tidak menentu, panik dan takut.
Kecemasan merupakan manifestasi dari berbagai proses emosi yang bercampur baur, yang terjadi ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan (frustasi) dan pertentangan batin (konflik). Kecemasan itu mempunyai segi yang di sadari seperti rasa takut, terkejut, tidak berdaya, rasa berdosa, atau bersala, terancam dan sebagainya. Juga ada segi-segi yang terjadi diluar kesadaran dan tidak bisa meghindari perasaan yang tidak menyenangkan itu (dalam, Fatmawati, 2008).
W. F. Maramis (1995) mengemukakan kecemasan adalah ketegangan, rasa tidak aman, dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya
25 sebagian besar tidak diketahu. Adapun gejala-gejala (komponen) somatik dari kecemasan berupa sesak nafas, dada tertekan, kepala enteng seperti mengambang, linu-linu, epigastrium nyeri, lekas lelah, palpitasi dan keringat dingin. Gejala-gejala (komponen) psikologis berupa rasa was-was akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dan prihatin dengan pikiran orang mengenai dirinya.
Sedangkan dalam Arnot (2006) Freud menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan pernafasan.
Nevid dkk (2002), kecemasan adalah suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang tidak mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Kecemasan yang merupakan suatu keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan dan perasaan aprehensi bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat di simpulkan bahwa kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam atau pada sebuah ancaman nyata ataupun khayal yang bersifat umum, yang dapat menyebabkan indivudu merasa lemah sehingga tidak berani dan tidak mampu untuk bersikap rasional seperti yang seharusnya.
26
Gejala-gejala dari kecemasan
Menurut Maramis (2005) gejala kecemasan dibagi menjadi 2 macam, yaitu:
a. Gejala Somatik
Misalnya nafas sesak, dada tertekan, kepala terasa ringan, linu-linu, epigastrum nyeri, cepat lelah, keringat dingin.
b. Gejala Psikologik
Misalnya khawatir, tidak mampu berlaku santai, rasa tidak aman, sukar berlaku santai, rasa tidak aman, sukar konsentrasi.
Menurut Nevid, dkk (2002) ciri-ciri kecemasan antara lain:
a. Ciri-ciri fisik seperti: kegelisahan, kegugupan, tangan atau anggota tubuh yang bergetar atau gemetar, sensasi dari pita ketat yang mengikat disekitar dari kekencangan pada pori-pori kulit perut atau dada, banyak keringat, pening atau pingsan, telapak tangan yang berkeringat, mulut atau kerongkongan terasa kering, sulit bicara, sulit bernafas, bernafas pendek, jantung yang berdebar keras atau berdetak kencang, suara bergetar, jari-jari atau anggota tubuh yang menjadi dingin, pusing merasa lemas atau mati rasa, sulit menelan, kerongkongan terasa tersekat, sensasi seperti tercekik, leher atau punggung terasa kaku, tangan terasa lembab, terdapat gangguan sakit perut atau mual, panas dingin, sering buang air kecil, diare, wajah terasa memerah, merasa sensitif atau mudah marah.
b. Ciri perilaku seperti: perilaku menghindar, perilaku melekat dan tergantung, perilaku terguncang.
27 c. Ciri pikiran seperti: khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu akan ketakutan atau aprehensi terhadap sesuatu yang terjadi dimasa depan, keyakinan bahwa sesuatu yang mengerikan akan segera terjadi, tanpa ada penjelasan yang jelas, terpaku pada sensasi kebutuhan, sangat waspada terhadap sensasi kebutuhan, merasa terancam oleh orang atau peristiwa yang normalnya hanya sedikit atau tidak mendapat perhatian, ketakutan akan ketidak mampuan untuk mengatasi masalah, berfikir bahwa dunia mengalami keruntuhan, berfikir bahwa semuanya tidak lagi bisa dikendalika, berfikir bahwa semuanya terasa sangat membingungkan tanpa bisa diatas, khawatir terhadap hal-hal yang sepele, berfikir tentang hal mengganggu yang sama secara berulang-ulang, berfikir bahwa harus bisa kabur dari keramaian, kalau tidak pasti akan pingsan, pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan, tidak mampu menghilangkan pikiran-pikiran terganggu, pikiran akan segera mati, meskipun dokter tidak menemukan sesuatu yang salah secara medis, khawatir akan ditinggal sendirian, sulit berkonsentrasi atau memfokuskan pikiran.
Menurut Barrison & Hartman (dalam, Hassan, 2005) ciri-ciri kecemasan, diantaranya adalah:
a. Sistem fisik
- Denyut jantung meningkat - Lelah (fatigue)
- Pernafasan meningkat - Mules (Stomach upset)
- Defekasi (ingin buang air besar)
28
- Pandangan kabur - Mulut kering - Ingin kencing - Mual (Vomiting) - Berkeringat banyak - Keringat dingin - Sakit kepala b. Sistem kognitif
- Rasa takut (scared)
- Merasa inadekuat/tidak kompeten - Sulit konsentrasi
c. Sistem Behavioral - Suara bergetar - Kurang kontak mata - Perilaku menggigit bibir - Gangguan pola tidur - Bermimpi buruk
Beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan ciri-ciri kecemasan menghadapi kelahiran anak pertama, adalah:
a. Ciri psikologis
Khawatir, tidak mampu berlaku santai, rasa tidak aman, sukar berlaku santai, rasa tidak aman, khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu akan ketakutan atau aprehensi terhadap sesuatu yang terjadi dimasa depan dan lain-lain.
29 b. Ciri fisik
Kegelisahan, kegugupan, tangan atau anggota tubuh yang bergetar atau gemetar, banyak keringat, pening, jantung yang berdebar keras atau berdetak kencang, suara bergetar, jari-jari atau anggota tubuh yang menjadi dingin, pusing merasa lemas atau mati rasa, sulit menelan dan lain-lain.
c. Ciri behavioral/ tingkah laku
Perilaku menghindar, perilaku melekat dan tergantung, perilaku terguncang, suara bergetar, kurang kontak mata, perilaku menggigit bibir, gangguan pola tidur, bermimpi buruk, dan lain-lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan
Adler dan Rodman (dalam, Ghufron dan Risnawita, 2010) menyatakan terdapat dua faktor yang menyebabkan adanya kecemasan, yaitu pengalaman yang negatif pada masa lalu dan pikiran yang tidak rasional.
1. Pengalaman negatif pada masa lalu
Bagi ibu hamil yang bersiap hendak mempersiapkan persalinan tentu sebelumnya telah mendapatkan informasi seputar persalinan yang bisa di dapatkan dari banyak sumber, diantaranya dari membaca buku-buku kehamilan dan dari pengalaman teman atau kerabat yang telah melahirkan sebelumnya. Pengalaman memperoleh informasi tentang persalinan dari membaca buku atau sebelumnya pernah mendampingi persalinan dapat menjadi pengalaman yang tidak menyenankan bagi ibu hamil, sebab hal-hal yang tidak menyenangkan yang di temui saat membaca atau melihat persalinan orang lain, akan
30
menimbulkan kecemasan bila seandainya hal tersebut dapat terjadi padanya kelak saat bersalin.
2. Pikiran yang tidak rasional
Seorang ibu hamil yang belum memiliki pengalaman bersalin sebelumnya dapat memikirkan banyak hal seputar persalinan yang akan di jalani kelak. Pikiran-pikiran tersebut tidak hanya tentang hal-hal baik tapi juga tentang hal-hal yang tidak menyenangkan serta tidak rasional yang dapat memicu terjadinya kecemasan pada ibu hamil.
Pikiran yang tidak rasional yang disebut buah pikiran yang keliru, diantaranya yaitu kegagalan katastropik, kesempurnaan, dan generalisasi yang tidak tepat.
a. Kegagalan katastropik
Kegagalan katastropik, yaitu adanya asumsi dari diri ibu hamil bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya dan juga bayi yang akan dilahirkannya.
b. Kesempurnaan
Setiap ibu hamil tentu menginginkan segala yang berhubungan dengan persalinan dan bayi yang akan dilahirkan sempurna tanpa memiliki kendala atau kekurangan sedikitpun.
Harapan yang terlalu besar akan kesempurnaan ini dapat menjadi pemicu ibu hamil mengalami kecemasan dengan memikirkan bila apa yang di bayangkannya tidak bisa sesuai dengan kenyataan yang akan dihadapinya kelak.
c. Generalisasi yang tidak tepat
Saat-saat menjelang persalinan bagi seorang ibu hamil yang belum memiliki pengalaman bersalin sebelumnya dapat
31 menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Bila sebelumnya informasi yang diperolehnya adalah hal negatif seputar persalinan, maka ia bisa saja menggeneralisasikan hal tersebut pasti dapat pula terjadi padanya. Hal tersebut tentu dapat menimbulkan kecemasan yang bahkan dapat memberi efek negatif pada kesiapannya menghadapi persalinan kelak.
Secara umum faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kecemasan adalah faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal meliputi tingkat religiusitas yang rendah, rasa pesimis, takut gagal, pengalaman negatif masa lalu, dan pikiran yang tidak rasional. Sementara faktor eksternal seperti kurangnya dukungan sosial.
Jenis kecemasan
Freud (dalam, Fathmawati, 2008) membagi kecemasan kedalam tiga jenis kecemasan, diantaranya adalah:
1. Rasa cemas yang timbul akibat melihat dan mengetahui ada bahaya yang mengancam dirinya. Cemas ini lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernya jelas terlihat dalam fikiran. Misalnya ingin menyeberang jalan terlihat mobil berlari kencang seakan akan hendak menabraknya.
2. Rasa cemas yang berupa penyakit dapat terlihat dalam beberapa bentuk. Yang paling sederhana ialah cemas umum, dimana orang merasa cemas (takut yang kurang jelas, tidak tertentu. dan tidak ada hubungannya dengan apa-apa, serta taku itu mempengaruhi keseluruhan diri pribadi. Adapula cemas dalam bentuk takut melihat darah, serangga, binatang-binatang kecil, tempat tinggi atau orang
32
ramai. Ini berarti bahwa obyek yang ditakuti itu tidak seimbang dengan bahatya yang mungkin ditimbulkan benda-bneda tersebut atau tidak berbahaya sama sekali .selanjutnya ada pula kecemasan dalam bentuk kecemasan yaitu kecemasan yang menyertai gejala-gejala gangguan dan penyakit jiwa. Orang merasa cemas karena menyangka akan terjadi sesuatu yang tidak menyenagkan sehingga ia merasa terancam oleh sesuatu itu.
3. Cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan keyakinan atu hati nurani cemas ini sering pula menyertai gejal-gejala gangguan jiwa yang kadang-kadang terlihat dalam bentuk umum.
Penyebab timbulnya kecemasan Bruno (1998) : 1. Adanya motif yang saling bertentangan 2. Adanya konflik antara perilaku dan norma 3. Memasuki situasi yang tidak biasa
4. Mengahadapi situasi yang tidak menentu
Pengertian Seks
Secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan intim antara laki-laki dengan perempuan. Karakter seksual masing-masing jenis kelamin memiliki spesifikasi yang berbeda hal ini seperti yang pendapat berikut ini: “ sexual characteristics are divided into two types. Primary sexual characteristics are directly related to reproduction and include the sex organs (genitalia). Secondary sexual characteristics are attributes other than the sex organs that generally distinguish one sex from the other but
33 are not essential to reproduction, such as the larger breasts characteristic of women and the facial hair and deeper voices characteristic of men ”
Pendapat tersebut seiring dengan pendapat Hurlock (1991), seorang ahli psikologi perkembangan, yang mengemukakan tanda-tanda kelamin sekunder yang penting pada laki-laki dan perempuan. Menurut Hurlock, pada remaja putra: tumbuh rambut kemaluan, kulit menjadi kasar, otot bertambah besar dan kuat, suara membesar dan lain-lain. Sedangkan pada remaja putri : pinggul melebar, payudara mulai tumbuh, tumbuh rambut kemaluan, mulai mengalami haid, dan lain-lain.
Seiring dengan pertumbuhan primer dan sekunder pada remaja ke arah kematangan yang sempurna, muncul juga hasrat dan dorongan untuk menyalurkan keinginan seksualnya.Hal tersebut merupakan suatu yang wajar karena secara alamiah dorongan seksual ini memang harus terjadi untuk menyalurkan kasih sayang antara dua insan, sebagai fungsi pengembangbiakan dan mempertahankan keturunan.
Menurut kamus, kata “pendidikan” berarti “proses pengubahan sikap dan tata laku kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Sedangkan kata seks mempunya dua pengertian.Pertama, berati jenis kelamin dan yang ke dua adalah hal ihwal yang berhubungan dengan alat kelamin, misalnya persetubuhan atau sanggama.Padahal yang disebut pendidikan seks sebenarnya mempunyai pengertian yang jauh lebih luas, yaitu upaya memberikan pengetahuan tentang perubahan biologis, psikologis, dan psikososial sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Dengan kata lain, pendidikan seks pada dasarnya merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan
34
menanamkan moral, etika, serta komitmen agama agar tidak terjadi
“penyalahgunaan” organ reproduksi tersebut. Dengan demikian, pendidikan seks ini bisa juga disebut pendidikan hidup berkeluarga.
Seks adalah dorongan untuk memenuhi kebutuhan naluriah untuk mencapai kepuasan. Menurut Yanuar (2007) keintiman heteroseksual yang dilakukan oleh sepasang manusia yang mengikuti suatu proses peningkatan, yaitu mulai dari :
1. Sentuhan beberapa pegangan tangan dan pelukan 2. Cium biasa sampai dengan kecupan
3. Petting / meraba-raba daerah erotik dari pasangan mulai dari yang ringan sampai meraba alat kelamin
4. Hubungan seksual
Fase-fase melakukan hubungan seks Perdana (2004) :
1. Percakapan tentang banyak hal, misalnya tentang keluarga dan kerabat
2. Berpandangan dengan kemesraan 3. Bergandengan tangan
4. Saling memeluk
5. Membelai rambut, bahu dan punggung 6. Kecupan di kening
7. Frenchkiss 8. Mulai meraba
9. Melakukan kontak kelamin
35 Definisi istri pelaut
Definisi istri pelaut dideskripsikan dari dua macam kata, yaitu istri dan pelaut. Istri adalah wanita yang telah menikah atau yang sudah bersuami, sedangkan pelaut adalah seseorang yang pekerjaannya berlayar dilaut. Makna lain dari pelaut adalah seseorang yang mengemudikan kapal atau yang membantu mengoperasikan kapal atau pelayanan dari sebuah kapal, hal ini mencakup seluruh orang yang bekerja diatas kapal (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2000).
Definisi Peran sebagai orang tua
Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu untuk berinteraksi bermasyarakat, sedangkan pengertian orang tua di atas, tidak terlepas dari pengertian keluarga, karena orang tua merupakan bagian keluarga besar yang sebagian besar telah tergantikan oleh keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
Menurut Arifin (dalam Suhendi, Wahyu, 2000:41) keluarga diartikan sebagai suatu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang dihubungkan dengan pertalian darah, perkawinan atau adopsi (hukum) yang memiliki tempat tinggal bersama.
Menurut Abu Ahmadi (dalam Suhendi, Wahyu, 2000: 44 -52), mengenai fungsi keluarga adalah sebagai suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan di dalam atau diluar keluarga.
36
Fungsi keluarga
Fungsi keluarga terdiri dari beberapa fungsi diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Fungsi Sosialisasi Anak.
Fungsi sosialisasi menunjuk pada peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak. Melalui fungsi ini, keluarga berusaha mempersiapkan bekal selengkap-lengkapnya kepada anak dengan memperkenalkan pola tingkah laku, sikap keyakinan, cita-cita, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat serta mempelajari peranan yang diharapkan akan dijalankan oleh mereka.
b. Fungsi Afeksi
Salah satu kebutuhan dasar manusia ialah kebutuhan kasih sayang atau rasa cinta.Pandangan psikiatrik mengatakan bahwa penyebab utama gangguan emosional, perilaku dan bahkan kesehatan fisik adalah ketiadaan cinta, yakni tidak adanya kehangatan dan hubungan kasih syang dalam suatu lingkungan yang intim.Banyak fakta menunjukan bahwa kebutuhan persahabatan dan keintiman sangat penting bagi anak.Data-data menunjukan bahwa kenakalan anak serius adalah salah satu ciri khas dari anak yang tidak mendapatkan perhatian atau merasakan kasih sayang.
c. Fungsi Edukatif
Keluarga merupakan guru pertama dalam mendidik anak.Hal itu dapat dilihat dari pertumbuhan sorang anak mulai dari bayi, belajar jalan, hingga mampu berjalan.
37 d. Fungsi Religius
Dalam masyarakat Indonesia dewasa ini fungsi di keluarga semakin berkembang, diantaranya fungsi keagamaan yang mendorong dikembangkannya keluarga dan seluruh anggotanya menjadi insan-insan agama yang penuh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Model pendidikan agama dalam keluarga dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:
1) Cara hidup yang sungguh-sungguh dengan menampilkan penghayatan dan perilaku keagamaan dalam keluarga.
2) Menampilkan aspek fisik berupa sarana ibadah dalam keluarga.
3) Aspek sosial berupa hubungan sosial antara anggota keluarga dan lembaga-lembaga keagamaan. Pendidikan agama dalam keluarga, tidak saja bisa dijalankan dalam keluarga, menawarkan pendidikan agama, seperti pesantren, tempat pengajian, majelis taklim, dan sebagainya.
e. Fungsi Protektif
Keluarga merupakan tempat yang nyaman bagi para anggotanya.Fungsi ini bertujuan agar para anggota keluarga dapat terhindar dari hal-hal yang negatif.Dalam setiap masyarakat, keluarga memberikan perlindungan fisik, ekonomis, dan psikologis bagi seluruh anggotanya.
f. Fungsi Rekreatif
Fungsi ini bertujuan untuk memberikan suasana yang sangat gembira dalam lingkungan.Fungsi rekreatif dijalankan untuk mencari hiburan.Dewasa ini, tempat hiburan banyak berkembang diluar rumah karena berbagai fasilitas dan aktivitas rekreasi berkembang dengan
38
pesatnya.Media TV termasuk dalam keluarga sebagai sarana hiburan bagi anggota keluarga.
g. Fungsi Ekonomis
Pada masa lalu keluarga di Amerika berusaha memproduksi beberapa unit kebutuhan rumah tangga dan menjualnya sendiri. Keperluan rumah tangga itu, seperti seni membuat kursi, makanan, dan pakaian dikerjakan sendiri oleh ayah, ibu, anak dan sanak saudara yang lain untuk menjalankan fungsi ekonominya.
h. Fungsi Penemuan Status
Dalam sebuah keluarga, seseorang menerima serangkaian status berdasarkan umur, urutan kelahiran, dan sebagainya.Status/kedudukan ialah suatu peringkat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok atau posisi kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lainnya.Status tidak bisa dipisahkan dari peran.Peran adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang mempunyai status sosial.
Pola Bimbingan Orang Tua Pada Anak
Selain bimbingan disekolah, bimbingan dirumah sangat penting, karena anak lebih banyak menghabiskan waktunya dilingkungan keluarga, untuk itu keluarga dituntut untuk dapat menerapkan pendidikan keimanan guna sebagai pegangan anak di masa depan. Menurut Shochib (2000 : 25- 28), menyebutkan ada delapan yang perlu dilakukan orang tua dalam membimbing anaknya; pertama, perilaku yang patut dicontoh. Artinya, setiap perilakunya tidak sekedar bersifat mekanik, tetapi harus didasarkan pada kesadaran bahwa perilakunya akan dijadikan lahan peniruan dan identifikasi bagi anak-anaknya. Oleh karena itu pengaktualisasiannya harus
39 senantiasa dirujukan pada ketaatan pada nilai-nilai moral.Kedua, kesadaran diri ini juga harus ditularkan pada anak-anaknya dengan mendorong mereka agar mampu melakukan observasi diri melalui komunikasi dialogis, baik secara verbal maupun nonverbal tentang prilaku yang taat moral. Karena dengan komunikasi yang dialogis akan menjembatani kesenjangan dan tujuan diantara dirinya dan anak-anaknya. Ketiga, komunikasi dialogis yang terjadi antara orang tua dan anak-anaknya, terutama yang berhubungan dengan upaya membantu mereka untuk memecahkan permasalan, berkenaan dengan nilai-nilai moral. Dengan perkataan lain orang tua telah mampu melakukan kontrol terhadap perilaku-perilaku anak-anaknya agar tetap memiliki dan meningkatkan nilai-nilai moral sebagai dasar berperilaku. Keempat, upaya selanjutnya untuk menyuburkan ketaatan anak-anak terhadap nilai-nilai moral data diaktualisasikan dalam menata lingkungan fisik yang disebut momen fisik. Hal ini data mendukung terciptanya iklim yang mengundang anak berdialog terhadap nilai-nilai moral yang dikemasnya, misalnya adanya hiasan dinding, mushola, lemari atau rak-rak buku yang berisi buku agama yang mencerminkan nafas agama; ruangan yang bersih, teratur, dan barang-barang yang tertata rapi mencerminkan nafas keteraturan dan kebersihan; pengaturan tempat belajar dan suasana yang sunyi mencerminkan nafas kenyamanan dan ketenangan anak dalam hal belajar. Kelima, penataan lingkungan fisik yang melibatkan anak-anak dan berangkat dari dunianya akan menjadikan anak semakin kokoh dalam kepemilikan terhadap nilai-nilai moral dan semakin terundang untuk meningkatkannya. Hal tersebut akan terjadi jika orang tua dapat mengupayakan anak-anak untuk semakin dekat, akrab, dan intim dengan nilai-nilai moral. Keenam, penataan lingkungan sosial dapat
40
menghadirkan situasi kebersamaan antara anak-anak dengan orang tua.Situasi kebersamaan merupakan sarat utama bagi terciptanya penghayatan dan pertemuan makna antara orang tua dan anak- anak.Pertemuan makna ini merupakan kulminasi dari penataan lingkungan sosial yang berindikasikan penataan lingkungan pendidikan. Ketujuh, penataan lingkungan pendidikan akan semakin bermakna bagi anak jika mampu menghadirkan iklim yang menggelitik dan mendorong kejiwaannya untuk mempelajari nilai-nilai moral. Kedelapan, penataan suasana psikologis semakin kokoh jika nilai-nilai moral secara transparan dijabarkan dan diterjemahkan menjadi tatanan sosial dan budaya dalam kehidupan keluarga.Inilah yang dinamakan penataan sosiobudaya dalam keluarga.
Kedelapan pola pembinaan terhadap anak di atas sangat diperlukan sebagai panduan dalam membuat perubahan dan pertumbuhan anak, memelihara harga diri anak, dan dalam menjaga hubungan erat antara orang tua dengan anak.
Menurut Hurlock (2001) rasa tanggung jawab terhadap keluarga, anak, istri/suami, baik perannya sebagai ayah maupun ibu, sehingga menjadikan sesuatu yang berkesinambungan antara satu dengan yang lain.
Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuhdan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentuyang
menghantarkan anak untuk siap dalam
kehidupanbermasyarakat.Sedangkan pengertian orang tua di atas, tidakterlepas dari pengertian keluarga, karena orang tua merupakanbagian keluarga besar yang sebagian besar telah tergantikan olehkeluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.Menurut Gunarsa (dikutip dari Soerjono Soekanto, 2004) dalamkeluarga yang ideal (lengkap) maka ada dua individu
41 yangmemainkan peranan penting yaitu peran ayah dan peran ibu,secara umum peran kedua individu tersebut adalah :
a. Peran ibu adalah :
- Memenuhi kebutuhan biologis dan fisik
- Merawat dan mengurus keluarga dengan sabar, kasih sayang dan konsisten
- Mendidik, mengatur dan mengendalikan anak - Menjadi contoh dan teladan bagi anak
b. Peran ayah adalah :
- Ayah sebagai pencari nafkah
- Ayah sebagai suami yang penuh pengertian dan member rasa aman - Ayah berpartisipasi dalam pendidikan anak
- Ayah sebagai pelindung atau tokoh yang tegas, bijaksana, mengasihi keluarga.
Pada proses sosialisasi peranan ibu dapat dikatakan lebih besar daripada seorang ayah. Sebagaimana ibu harus mengambil keputusan- keputusan yang cepat dan tepat.Bahkan sebagai ayah berfungsi untuk mengambil keputusan-keputusan penting, sedangkan seorang istri mengambil keputusan yang kurang penting.Walaupun demikian, terdapat suatu kecenderungan bahwa peranan orang tua mulai berubah, terutama di kota-kota besar di Indonesia.Kesempatan untuk kerja bagi wanita semakin banyak, tersedianya lembaga-lembaga pendidikan lanjutan yang terbuka untuk wanita serta dibentuknya organisasi-organisasi wanita yang ada kaitannya dari tempat suami bekerja. Hal-hal tersebut mengakibatkan
42
terjadinya kesulitan-kesulitan di dalam melaksanakan proses sosialisasi kepada anak.
Pemberdayaan Istri-istri Pelaut
Pendidikan berawal dari orang-orang terdekat, yaitu orangtua, dalam hal bahwa peran sebagai orang tua dirumah lebih peting untuk meningkatkan tumbuh kembang anak, baik ketika ditinggal pergi melaut atau tidak ditinggal oleh suami. Dari data-data yang telah terkumpul, terdapat 43 subyek, diantaranya 29 subyek yang tinggal di Flat dan 14 subyek yang terdapat di luar Flat, yang mana masing-masing subyek tersebut berstatus istri anggota, perwiradan pelaut (Swasta). Dari hasil analisa data didapatkan bahwa terdapat suatu perbedaan subyek penelitian berdasarkan status suami perwira,anggota dan swasta.
Didapatkanbahwa sebanyak 67,44 % (29subyek) yang memiliki suami berstatus sebagai Anggota, 20,9%(9 subyek) yang memiliki suami yang berstatus Swasta, dan 11,62 % (5 subyek) yang memiliki suami yang berstatus sebagai Perwira. Uji hubungan teknik korelasi product moment diperoleh hasil bahwa nilai koefisien korelasi (Rxy) adalah -0,019 lebih kecil dari R tabel untuk N=43 dengan taraf signifikansi 5% yaitu 0,301 dan diketahui juga bahwa nilai Sid (2-tailed) adalah 0,906 yang berarti lebih besar dari 0,05 sehingga kesimpulannya Tidak ada hubungan antara Kecemasan Istri-istri Pelaut terhadap Kebutuhan seks dengan Peran sebagai Orang tua di Surabaya.
Pembahasan yang telah dilakukan mengarahkan pada kesimpulan bahwakecemasan istri-istri pelaut terhadap kebutuhan seks dengan peran sebagai orang tua tidak memiliki hubungan yang signifikan. Artinya