PENDAHULUAN
Latar Belakang
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana; memberikan mandat kepada pemerintah, pemerintah daerah, lembaga usaha, dan masyarakat untuk melaksanakan kesiapsiagaan bencana. Contingency Plan yang merupakan rencana pada saat keadaan darurat merupakan salah satu rencana kesiapsiagaan bencana. Kondisi wilayah Kabupaten Klaten dengan topografi berbukit dan morfologi bergelombang ditambah dengan kondisi iklim yang kering mengakibatkan daerah Klaten berpotensi mengalami bencana terutama yang berkaitan dengan iklim (bencana hidrometeorologi/klimatologi) yaitu Tanah Longsor, Banjir, Angin Topan, Kekeringan dan Kebakaran Lahan, kemungkinan terjadinya bencana, di Kabupaten Klaten dapat disebabkan oleh faktor alam maupun faktor manusia.
Membuat rencana penanggulangan bencana tanah longsor merupakan komitmen bersama untuk menciptakan sistem penanggulangan bencana yang baik dengan perencanaan yang tepat. Rencana penanggulangan bencana merupakan bagian dari konsep pengelolaan risiko bencana sebagai upaya mitigasi dalam bentuk dokumen pelengkap rencana tanggap bencana. Strategi pengurangan risiko bencana memerlukan dokumen kedaruratan yang dapat digunakan saat terjadi bencana (saat darurat) bagi pemangku kepentingan terkait dalam penanggulangan bencana.
Pada masa tanggap darurat, seluruh sumber daya yang ada di Kabupaten Klaten dapat dikerahkan untuk memberikan perlindungan dan penyelamatan bagi masyarakat yang terkena bencana. Rencana darurat adalah proses mengidentifikasi dan menyiapkan rencana berdasarkan situasi darurat dan termasuk menyepakati tujuan bersama, menentukan tanggung jawab dan tindakan yang harus diambil oleh masing-masing pihak.
Gambaran Umum Wilayah Perencanaan
- Kondisi Geografis dan Administrasi
- Kondisi Iklim, Hidrologi dan Jenis Tanah
- Demografi
- Kondisi Ekonomi
Grumosol Kelabu Tua: bahan induk berupa abu dan pasir vulkanik menengah banyak ditemukan di Kecamatan Bayat dan Kecamatan Cawas bagian selatan. Regosol Coklat Keabu-abuan: Bahan utamanya abu vulkanik dan pasir antara terdapat di Kecamatan Kemalang, Manisrenggo, Prambanan, Jogonalan, Gantiwarno dan Wedi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Klaten yang menjelaskan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Klaten per kecamatan adalah 1.486.426 jiwa pada pertengahan tahun 2015, terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 738.541 jiwa (49,6%) dan penduduk perempuan sebanyak 747.885 jiwa. orang (50,4%).
Kabupaten Klaten sebagai salah satu kabupaten yang gigih dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan tujuan utama memanfaatkan seluruh potensi yang ada. Untuk memenuhi kebutuhan data daerah, diharapkan hasil pelaksanaan pembangunan khususnya di bidang ekonomi yang dilakukan oleh Kabupaten Klaten dapat dievaluasi untuk kemudian dijadikan sebagai bahan penyusunan rencana pembangunan ke depan. Peran sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Klaten tahun 2016 sebesar 2,8 miliar rupiah.
Meskipun kondisi negara Indonesia secara umum mengalami berbagai kendala dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi, namun pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Klaten selalu menunjukkan kinerja menuju perbaikan. Hal ini karena secara kultural masyarakat Kabupaten Klaten masih bergantung pada model pembangunan ekonomi di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Kejadian Bencana
- Erupsi Gunung Merapi
- Gempa Bumi
- Angin Puting Beliung
- Banjir
- Tanah longsor
Bencana gempa bumi merupakan salah satu ancaman yang sering dijumpai di Kabupaten Klaten karena terletak pada patahan aktif dan tumbukan lempeng tektonik di selatan Pulau Jawa. Hal ini ditandai dengan seringnya terjadi angin puting beliung di berbagai wilayah Kabupaten Klaten setiap tahunnya. Khususnya kerusakan jembatan dan infrastruktur jalan, jika tidak segera ditangani, pendapatan ekonomi berkurang dan pada akhirnya menimbulkan kerugian yang lebih besar, seperti terlihat pada peta rawan banjir Kabupaten Klaten.
Runtuhnya bendungan alam merupakan salah satu penyebab utama terjadinya banjir, maka di bawah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai proses terbentuknya dan penyebab terjadinya bendungan alam. rembesan (pipa); Air sungai yang ditampung oleh bendungan alam dapat mengalir ke tanah di sepanjang dasar dan dinding bendungan alam. Pada prinsipnya longsor terjadi apabila gaya penggerak pada lereng lebih besar dari pada gaya penahannya.
Batuan ini akan mudah menjadi tanah selama proses pelapukan, sehingga umumnya rentan terhadap longsor. Jenis penggunaan lahan yang rawan longsor; Longsor sering terjadi di daerah persawahan dan perladangan.
Rencana Kontingensi
- Gambaran Umum Rencana Kontingensi
- Rencana-rencana dalam Penanggulangan Bencana
- Tahapan Penyusunan Rencana Kontingensi
- Perencanaan Program
- Aktivasi Rencana Kontingensi
- Potensi Kejadian Bencana
Di lokasi Desa Pereng dilakukan simulasi menggunakan 2 penampang untuk mengetahui bentuk lereng dan jarak semburan batuan saat terjadi pergerakan tanah. Di lokasi Desa Kotesan, dilakukan simulasi menggunakan 3 penampang untuk mengetahui bentuk lereng dan jarak semburan batuan saat terjadi pergerakan tanah. Di lokasi Desa Katekan, dilakukan simulasi menggunakan 3 penampang untuk menentukan bentuk lereng dan jarak lemparan batuan saat terjadi pergerakan tanah.
Di lokasi desa Ngandong dilakukan simulasi menggunakan 3 penampang untuk menentukan bentuk lereng dan jarak keluar batuan saat terjadi gerakan tanah. Di lokasi desa Ngerangan, dilakukan simulasi menggunakan 3 penampang untuk menentukan bentuk lereng dan jarak keluar batuan saat terjadi pergerakan tanah. Di lokasi desa Karangasem, dilakukan simulasi menggunakan 3 penampang untuk menentukan bentuk lereng dan jarak keluar batuan saat terjadi gerakan tanah.
Di lokasi Desa Burikan dilakukan simulasi 3 penampang untuk menentukan bentuk lereng dan jarak lemparan batuan saat terjadi pergerakan tanah. Hasil perhitungan jarak lemparan batu saat gerakan tanah terjadi di 6 desa di kecamatan Prambanan, Ganwarno, Bayat dan Cawas.
LAPORAN HASIL SURVEY DAN OLAH DATA
Laporan Hasil Survey dan Olah Data
- Maksud
Tujuan
- Waktu Penyelidikan
- Pengertian Gerakan Tanah
- Jenis – Jenis Gerakan Tanah
Geser rotasi adalah gerakan massa tanah dan batuan pada bidang geser yang cekung ke atas, dan gerakan slide umumnya berputar pada sumbu yang sejajar dengan permukaan tanah. Pergeseran translasi adalah pergerakan massa tanah dan batuan pada perosotan bidang dengan sedikit rotasi atau kemiringan ke belakang. Block Slide adalah gerakan batuan yang mirip dengan Translation Slide, tetapi massa yang bergerak terdiri dari blok-blok yang koheren.
Landslide - Translational sliding - Block sliding (Highland and Johnson's fall: adalah gerakan tiba-tiba batu yang jatuh dari lereng atau batuan yang curam. Gambar 2.2 Rock fall (Highland and Johnson TOPPLES: gerakan ini ditandai dengan runtuhnya unit batuan rotasi ke depan pada aksis (bagian dari satuan batuan yang lebih rendah) yang disebabkan oleh gaya berat dan kandungan air pada rekahan batuan Aliran debris adalah bentuk pergerakan massa yang cepat dimana campuran tanah lepas, batuan, bahan organik, udara dan air bergerak seperti jamur yang mengalir ke bawah lereng.
Aliran puing biasanya disebabkan oleh limpasan permukaan yang intens akibat hujan lebat atau pencairan salju yang cepat, yang mengikis dan memobilisasi tanah atau batuan lepas di lereng yang curam. Pergerakan membujur material halus atau batuan yang mengandung mineral lempung pada lereng sedang dan dalam kondisi jenuh air, membentuk mangkuk atau cekungan di bagian atas. Semburan lumpur adalah semburan lumpur (mirip dengan aliran tanah) yang terdiri dari material yang cukup basah dan mengalir cepat yang terdiri dari setidaknya 50% partikel berukuran pasir, lanau, dan tanah liat.
Musiman, dimana pergerakannya di kedalaman tanah dipengaruhi oleh perubahan kelembaban dan suhu tanah yang terjadi secara musiman. Gbr.2.4 Debris Flow - Debris Avalance - Earthflow - Creep (Highland and Johnson LATERAL SPREADS: umumnya terjadi pada lereng landai atau medan datar. Hal ini disebabkan oleh likuifaksi, suatu proses dimana tanah menjadi jenuh air, lepas, kohesi sedimen ( biasanya) pasir) dan lanau) berubah dari keadaan padat menjadi cair.
Geologi
Berdasarkan hasil perhitungan jarak lemparan batu jika terjadi pergerakan tanah, Desa Pereng terbagi menjadi 3 zona yaitu zona merah, zona kuning dan zona hijau. Berdasarkan hasil perhitungan jarak lemparan batu jika terjadi pergerakan tanah, Desa Katekan terbagi menjadi 3 zona yaitu zona merah, zona kuning dan zona hijau. Berdasarkan hasil perhitungan jarak lemparan batu jika terjadi pergerakan tanah, Desa Ngandong terbagi menjadi 3 zona yaitu zona merah, zona kuning dan zona hijau.
Dari hasil perhitungan jarak pengambilan batuan jika terjadi pergerakan tanah, Desa Ngerangan terbagi menjadi 3 zona yaitu Zona Merah, Zona Kuning dan Zona Hijau. Dari hasil perhitungan jarak pengambilan batuan jika terjadi pergerakan tanah, desa Burikan terbagi menjadi 3 zona yaitu Zona Merah, Zona Kuning dan Zona Hijau.