Komisi Pemilihan Kepala Desa Tingkat Desa yang selanjutnya disebut Komisi Pemilihan adalah komisi yang dibentuk oleh BPD dan dibentuk dengan Keputusan BPD untuk menyelenggarakan proses pemilihan kepala desa. Calon kepala desa potensial adalah warga desa setempat yang telah mendaftarkan diri dalam pemilihan kepala desa ke KPU pada tahap penyaringan. Calon Kepala Desa adalah calon Kepala Desa yang telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum sebagai calon yang berhak dipilih menjadi Kepala Desa.
Calon kepala desa terpilih adalah calon kepala desa yang memperoleh dukungan suara terbanyak dalam pemilihan kepala desa. Pemilih adalah penduduk desa masing-masing yang telah memenuhi persyaratan untuk menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan kepala desa. Daftar Pemilih Tetap yang selanjutnya disebut DPT adalah daftar pemilih yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum sebagai dasar penetapan identitas pemilih dan jumlah pemilih dalam pemilihan Kepala Desa.
Pemilihan Kepala Desa satu kali sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat 1, dilaksanakan pada hari yang sama di seluruh desa di wilayah Kabupaten. Pemilihan sementara kepala desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b wajib dilaksanakan apabila sisa masa jabatan kepala desa pensiunan lebih dari 1 (satu) tahun.
BAB V
Pembentukan Panitia Pemilihan Kepala Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf b disampaikan secara tertulis oleh Badan Permusyawaratan Desa melalui Camat kepada Bupati. Panitia Seleksi meneliti seluruh berkas lamaran/persyaratan Calon Kepala Desa yang diterima; Calon Walikota yang terbukti melanggar larangan dapat diproses sesuai hukum yang berlaku.
BAB VI
BAB VII
Ketentuan lebih lanjut mengenai cuti kepala desa, dan perangkat desa yang mencalonkan diri sebagai kepala desa, diatur dalam Peraturan Kabupaten. Pegawai TNI/POLRI/BUMN/BUMD yang ikut serta dalam pemilihan kepala desa harus mendapat izin tertulis dari pimpinan atau instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
BAB VIII
BAB IX SANKSI
BAB X
Penyelenggaraan musyawarah desa dipimpin oleh ketua badan permusyawaratan desa, dan teknis pelaksanaannya oleh panitia pemilihan;
BAB XI PEMBIAYAAN
BAB XII
Kepala Desa memberitahukan kepada Masyarakat Desa secara tertulis dan melalui media informasi yang mudah diakses oleh masyarakat tentang penyelenggaraan Pemerintahan Desa.
BAB XIII
Kepala Desa memberitahukan kepada Masyarakat Desa secara tertulis dan melalui media informasi yang mudah diakses oleh masyarakat tentang penyelenggaraan Pemerintahan Desa. dinyatakan sebagai terpidana berdasarkan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Kepala Desa diberhentikan sementara oleh Bupati tanpa melalui usulan BPD setelah dinyatakan sebagai terdakwa dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun berdasarkan catatan perkara di pengadilan. Lurah diberhentikan sementara oleh Bupati tanpa melalui usulan BPD setelah ditetapkan sebagai tersangka korupsi, terorisme, makar, dan/atau kejahatan terhadap keamanan negara.
Kepala desa yang diberhentikan sementara berdasarkan Pasal 89 dan Pasal 90 diberhentikan oleh Bupati setelah dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Dalam hal kepala desa diberhentikan sementara menurut Pasal 89 dan Pasal 90, sekretaris desa melaksanakan tugas dan kewajiban kepala desa sampai ada keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.
BAB XIV
BAB XV
BAB XVI
UMUM
Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang ketentuan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, peraturan terkait Desa telah mengalami perubahan yang signifikan guna mengoptimalkan penyelenggaraan pemerintahan desa. Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2004 tentang Desa dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Ketentuan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Implementasi Peraturan Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, namun asas dasar yang mendasari pengaturan mengenai Desa tetap sama, yaitu Partisipasi, yang berarti bahwa pengelolaan pengelolaan desa dan pembangunan desa harus mampu mewujudkan peran aktif masyarakat, agar senantiasa memiliki dan memikul tanggung jawab.
Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, kepala desa mempunyai kewenangan mengarahkan penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang telah ditetapkan oleh BPD. Terkait dengan pengaturan pemerintahan desa, peraturan provinsi ini mengatur lebih rinci mengenai tata cara pemilihan kepala desa secara langsung atau melalui musyawarah desa, serta tata cara pemberhentian kepala desa. Kepala desa dipilih langsung oleh penduduk desa yang berkewarganegaraan Republik Indonesia dan memenuhi syarat, dengan masa jabatan 6 (enam) tahun sejak tanggal pelantikan.
Kepala desa dapat menjabat paling lama 3 (tiga) periode berturut-turut, atau tidak berturut-turut. Khusus mengenai pemilihan kepala desa yang dilaksanakan secara serentak di seluruh kabupaten dengan tujuan untuk mencegah terjadinya isu-isu negatif dalam pelaksanaannya. Pemilihan kepala desa serentak mempertimbangkan jumlah desa dan kemungkinan biaya pemilihan ditanggung anggaran pendapatan dan belanja daerah, sehingga memungkinkan dilaksanakan secara gelombang.
Akibat diterapkannya kebijakan pemilihan kepala desa secara serentak, peraturan daerah ini mengatur tentang jabatan kepala desa yang berhenti dan diberhentikan sebelum masa jabatannya berakhir. Kepada BPD, kepala desa wajib memberikan laporan pertanggungjawaban sekaligus memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menanyakan dan/atau meminta keterangan tambahan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pertanggungjawaban tersebut. Berdasarkan Pasal 54 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Aturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, yang menegaskan bahwa ketentuan tambahan mengenai tata cara pemberhentian kepala desa diatur dengan peraturan daerah.
Sementara itu, pada masa transisi perubahan UU No. 32 Tahun 2004 menjadi UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa-desa di wilayah Kabupaten Klaten, tidak sedikit desa yang mengalami kekosongan kepala desa karena masa jabatannya telah habis. Lowongan jabatan kepala desa yang berkepanjangan dapat mengganggu kelancaran dan ketertiban pemerintahan desa serta pelayanan kepada masyarakat, oleh karena itu hendaknya segera dibuat peraturan perundang-undangan yang menjadi pedoman dalam jabatan kepala desa. Berdasarkan hal tersebut, diperkirakan perlu ditetapkan Peraturan Daerah Provinsi tentang tata cara pemilihan pencalonan, pengangkatan, pengangkatan dan pemberhentian kepala desa, sehingga dapat terwujud landasan hukum pelaksanaannya di lapangan.
PASAL DEMI PASAL Pasal 1
Jaminan kesehatan yang ditawarkan kepada kepala desa terintegrasi dengan jaminan pelayanan yang diberikan Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Yang dimaksud dengan “Pemilihan Kepala Desa Serentak” adalah pemilihan kepala desa yang diselenggarakan pada hari yang sama dengan memperhatikan jumlah desa dan kemampuan biaya untuk melaksanakan pemilihan tersebut. Pemberitahuan Badan Permusyawaratan Desa kepada walikota desa mengenai berakhirnya amanah walikota desa, yang tembusannya disampaikan kepada Bupati.
Yang dimaksud dengan “lembaga sosial desa” meliputi rukun tetangga, perkumpulan masyarakat, pemberdayaan kesejahteraan keluarga, karang taruna, pos pelayanan terpadu, dan lembaga pemberdayaan masyarakat. Anggota Panitia Pemilihan tidak boleh mencalonkan diri sebagai Kepala Desa. Apabila seorang anggota Panitia Pemilihan mencalonkan dirinya sebagai Kepala Desa maka yang bersangkutan harus mengundurkan diri dari keanggotaan Panitia Pemilihan. Yang dimaksud dengan “sejak tanggal pelantikan” adalah seseorang yang diangkat menjadi kepala desa, apabila yang bersangkutan mengundurkan diri sebelum masa jabatannya berakhir dan dianggap telah menjabat satu kali masa jabatan selama enam (enam) tahun. .
Kepala desa yang pernah menjabat berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 diberi kesempatan untuk mencalonkan diri kembali untuk paling banyak 2 (dua) kali masa jabatan. Sedangkan pimpinan desa yang telah menjabat 2 (dua) periode berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 hanya diperbolehkan mencalonkan kembali 1 orang saja. Yang dimaksud dengan “rapat desa” adalah rapat yang diselenggarakan oleh badan perangkat desa khusus untuk pemilihan Kepala Desa Desa antar waktu (bukan Landsbyradgivningsmøde), yaitu berdasarkan penetapan calon, pemilihan calon, dan penetapan calon terpilih.
Masa jabatan kepala desa yang dipilih melalui Musyawarah Desa dihitung sejak yang bersangkutan diangkat oleh Bupati atau pejabat yang ditunjuk. Biaya pemilihan kepala desa yang dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah adalah untuk pengadaan surat suara, kotak suara, perlengkapan lainnya, honorarium panitia dan biaya pelantikan. Yang dimaksud dengan “media informasi” antara lain papan pengumuman, radio komunitas, dan media informasi lainnya.
Yang dimaksud dengan “berakhirnya masa jabatan” adalah apabila Kepala Desa yang telah habis masa jabatannya selama 6 (enam) tahun terhitung sejak tanggal pelantikan, hendak diberhentikan. Yang dimaksud dengan “tidak dapat melaksanakan tugas secara terus-menerus atau berhalangan tetap” adalah apabila kepala desa menderita suatu penyakit yang menyebabkan tidak dapat berfungsi secara normal, yang dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter yang berwenang dan/atau tidak diketahui tempat tinggalnya.