• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUSSINES PLAN 3.0 Litera

N/A
N/A
Andi Nurroni

Academic year: 2023

Membagikan "BUSSINES PLAN 3.0 Litera"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BUSSINES PLAN 3.0:

‘KEDAI LITERA by

BUMDES CIPTA BAHARI’

--2023--

(2)

2

Kenapa Harus Kuliner?

Kuliner adalah komoditas yang tak pernah hilang sepanjang peradaban manusia. Tren bisnis kuliner semakin meningkat seiring dengan menguatnya daya beli masyarakat serta kesadaran akan pentingnya rekreasi.

Berjalinan dengan pertumbuhan teknologi informasi, tren rekreasi kuliner semakin menemukan bentuknya yang unik sebagai salah satu upaya validasi sosial dan medium eksistensi masyarakat melalui kanal-kanal media sosial.

Kenapa Kedai Litera?

Kedai Litera, dengan produk signature bakmie dan kopi merupakan perpaduan kuliner unik yang menyasar segemen keluarga, pekerja muda serta komunitas hobi di Pangandaran. Tempat ini dirancang sebagai sarana rekreasi kuliner di tengah kota, dengan suasana taman yang tidak ada padanan di tempat lain.

Sekilas Kedai Litera

Litera didirikan pada Oktober 2019 dengan mengusung konsep “Cofee & Library”. Sepanjang empat tahun perjalanan bisnisnya, Litera telah mencatatkan sejumlah pencapaian positif, baik dari sisi reputasi maupun kinerja bisnis.

Dibangun sebagai buah kemitraan antara pemerintah dan komunitas warga, Litera tumbuh menjadi entitas bisnis yang unik, di mana pencapaian bisnis sejalan dengan kontribusi sosial yang digerakan melalui komunitas.

Dimulai dengan konsep Litera 1.0 “Coffee & Library”, dilanjut dengan periode Litera 2.0 “Bakmie Resto

& Coffee”, Litera kini bersiap menyongsong era 3.0 dengan konsep kolaboratif “Kedai Litera by BUMDes Cipta Bahari”

(3)

3

VISION, MISSION & GOALS

VISION

Menjadi Unit Usaha Unggulan BUMDes Cipta Bahari dengan Reputasi Nasional MISION

 Mengangkat Reputasi BUMDes Cipta Bahari di level nasional

 Menjadi unit usaha BUMDes dengan manajemen modern

 Menjadi resto dengan produk yang enak, murah dan inovatif

 Memiliki pertumbuhan bisnis yang stabil

 Menjadi pusat kegiatan warga Desa Pangandaran GOALS

 Memenangkan kompetisi BUMDes, minimal tingkat provinsi

 Menjadi tujuan studi banding BUMDes-BUMDes lain di Jawa Barat dan luar Jawa Barat

 Mencatatkan pertumbuhan bisnis konsisten minimal 5 persen setiap bulan

 Berkontribusi pada kegiatan-kegiatan sosial warga: olahraga, pendidikan, seni, dll.

 Menjadi sarana rekrutmen tenaga kerja warga Desa Pangandaran

 Memberikan multi-player effect terhadap usaha warga Desa Pangandaran melalui rekrutmen suplier dan konsinyasi (titip-jual)

(4)

4

BUSSINES MODEL CANVAS

Key Partners

 Komunitas warga Desa Pangandaran (Karang Taruna, BPD, dll.)

 Pemerintah (Dinas Dinas Perpustakaan, DLHK, dll.)

 Suplier bahan baku

Key Activities

 Memilih produk bahan baku terbaik

 Promosi secara efektif

 Menjual produk dengan mutu dan pelayanan terstandardisasi

 Evaluasi, peningkatan kapasitas dan

penguatan bisnis

 Branding BUMDes Cipta Bahari

Value Propositions

 Unit Usaha BUMDes yang bersifat kreatif dan kolaboratif

 Makanan dan minuman enak, murah dan inovatif

 Tempat yang nyaman dan mendukung kebutuhan

sosialisasi/rekreasi warga

Customer Relationship

Community partnership

 Kotak saran/kontak keluhan

 Media sosial interaktif

Customer Segments

 Keluarga

 Pekerja (swasta &

pemerintah)

 Komunitas hobi

Key Resources

 Brand

 Gedung

 Chef

 Media sosial

 Tim manajemen

Channels

 Makan di tempat (Dine in)

 Pesan antar aplikasi (GoFood, GrabFood)

 DO mandiri Cost Structure

 Bahan baku

 Gaji pegawai

 Operasional

 Marketing

Revenue Stream

 Penjualan di tempat (dine-in)

 Catering

 Penjualan produk konsinyasi

 Penjualan merchandise

 Sewa alat (proyektor, sound, dll.)

 Sewa lahan (booth UMKM)

 Pengelolaan parkir

Sponsorship

(5)

5

INTERNAL ANALYSIS: SWOT

STRENGTH

 Brand telah dikenal

 Sistem telah teruji (tinggal disempurnakan)

 Lokasi strategis di tengah kota dan di tengah ruang publik

 Tempat parkir memadai

 Berbasis komunitas warga dan relasi kelembagaan

 Sebagian keuntungan untuk program sosial

WEAKNESS

 Rawan terpengaruh perubahan struktur politik (pemerintahan desa)

OPPORTUNITY

 Tumbuhnya kelas menangah dan penetrasi budaya urban

 Banyaknya kebutuhan support system event

 Banyaknya tamu/relasi kelembagaan

STRATEGI SO

Membangun brand image yang kuat

Mengoptimalkan relasi kelembagaan untuk

menunjang kemajuan usaha

Memanfaatkan ruang publik dan kegiatan publik untuk kemajuan usaha

STRATEGI WO

Menjaga relasi dan menjalin kemitraan dengan pihak-pihak strategis: pemerintah

komunitas, dll.

TREAT

 Banyak kompetitor baru bermunculan

 Adanya kecemburuan sosial di kalangan komunitas warga

STRATEGI ST

Menjaga mutu produk dan pelayanan

Menggulirkan program- program customer loyalty

Mempersiapkan back-up orang-orang berpengaruh untuk meng-counter gangguan yang bersifat politis

STRATEGI WT

Menguatkan sistem bisnis melalui meeting reguler dan peningkatan kapasitas manajemen dan karyawan

(6)

6

MARKETING STRATEGIES

MARKET SEGEMENTS 1. GEOGRAPHY

Dari sisi geografi, Kedai Litera menyasar konsumen yang berada di wilayah kecamatan Pangandaran sebagai target utama. Adapun target sekunder adalah konsumen di luar Kecamatan Pangandaran, yakni wisatawan serta tamu/relasi lembaga

2. DEMOGRAPHY

Secara demografi, Kedai Litera menarget kalangan keluarga, pekerja serta komunitas hobi dengan penghasilan bulanan di atas UMK

3. PSYCHOGRAPHY

Dari sisi psikografi, Litera menarget kalangan yang memiliki kebutuhan atas ruang rekreasi kuliner, sosialisasi (meeting, event), ruang kerja solo (meja laptop, akses internet), hiburan keluarga/selepas kerja (karaoke, nonton bareng) dengan biaya yang terjangkau. Khusus produk bakmie, Litera menghadirkan subtitusi atau produk pengganti bagi para penyuka jajanan mie ayam, bakso dan seblak (dengan menu bakmi pedas).

POSITIONING

Sejalan dengan uraian di atas, Litera bisa melakukan pergeseran posisitioning dari semula berkonsep kedai kopi dengan pendekatan yang youthfull menjadi Kedai Litera yang membidik kelas sosial dengan daya beli paling mapan, yakni keluarga, pekerja dan komunitas hobi.

(7)

7

MARKETING TACTICS

PRODUCTS

Dengan positioning sebagai kedai, kita perlu mengangkat produk-produk signature baru selain kopi dan bakmie. Selain itu, kemitraan bersama pelaku UMKM melalui sistem konsinyasi (titip-jual) juga bisa ditingkatkan.

PRICING

Dari sisi harga, campaign produk berlabel “murah” masih menjadi primadona di Pangandaran, mengingat daya beli pasar yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat di kota-kota besar.

SALES CHANNEL

Penjualan di tempat tetap akan menjadi sumber pendapatan paling besar bagi perusahaan. Selain itu, kita juga akan mengoptimalkan pemasukan dari layanan pesan antar, baik melalui aplikasi mitra (GoFood) maupun kurir mandiri.

DIFFERENSIATION

Selain pendekatan harga, pendekatan diferensiasi atau nilai pembeda juga harus mendapatkan perhatian. Setelah “murah”, pembeda yang bisa kita ambil adalah “enak dan banyak”. Dengan mendorong ikon produk yang murah, enak dengan porsi banyak, besar kemungkinan kita bisa memenangkan perebutan pasar, tentunya dengan tetap memperhatikan arus kas yang sehat.

(8)

8

COMPETITORS

DIRECT COMPETITOR 1. Kedai Kaya Rasa 2. Bakmie Bu Sastro

COMPETITOR ANALYSIS 1. Kedai Kaya Rasa

Kelebihan:

Berasarkan observasi, Kedai Kaya Rasa saat ini masih menjadi market leader untuk segmen

“tempat nongkrong” kelas pegawai, keluarga, bahkan mahasiswa. Tempatnya terbilang nyaman dengan suasana homie, makanan-makanan resep rumahan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Di sana, tersedia juga menu mie, di antaranya mie ayam dan mie dogdog.

Kelemahan:

Banyak keluhan soal rasa yang tidak stabil dan menu yang kurang inovatif. Selain itu, tempat makan ini juga tidak terlalu menggarap branding dan channel penjualan melalui pesan-antar.

Strategi Menghadapi Kompetitor:

Menjaga standar mutu produk dengan menerapkan SOP dan proses supervisi dalam proses pembuatan produk dan membangun brand image yang prestisius.

2. Bakmie Bu Sastro Kelebihan:

Bamie Bu Sastro merupakan salah satu resto dengan menu bakmie legendaris di Pangandaran.

Resto ini mengusung menu bakmi anglo Jawa yang memiliki basis penggemar tersendiri.

Berada di pusat kota dan perkantoran, resto ini menawarkan tempat yang nyaman dan antik.

Kelemahan:

Memiliki brand yang sudah banyak dikenal, resto Bu Sastro cenderung mematok harga yang lebih mahal daripada kedai mie pada umumnya.

Strategi Menghadapi Kompetitor:

Memasang haraga lebih murah serta melakukan promo/kampanye unik untuk menguatkan brand image.

(9)

9

REVENUE STREAM

1. Penjualan di tempat (dine-in) 2. Catering

3. Penjualan produk konsinyasi 4. Penjualan merchandise

5. Sewa alat (proyektor, sound, dll.) 6. Sponsorship

7. Sewa lahan (booth UMKM) 8. Pengelolaan parkir

ORGANIZATION STRUCTURE

PEMDES/BUMDES

DIREKTUR/MANAJER

STAF MARKETING STAF

OPERASIONAL:

COOK, BARISTA, CASHIER, WAITRES STAF KEUANGAN

DAN SDM

(10)

10

ESTIMASI RETURN OF INVESTMENT (ROI)

Estimasi Penjualan Bulan Penjualan

(pax)/hari % Kenaikan

Rata-rata harga jual/pax (Rp)

Omzet/3 bulan Margin 30%

(Rp)

Penambahan Investasi 10%

(Rp)

Deviden (Rp)

1-3 75 (existing) 0 15.000 101.250.000 30.375.000 3.037.500 27.337.500

4-6 100 33 15.000 135.000.000 40.500.000 4.050.000 36.450.000

7-9 125 25 15.000 168.750.000 50.625.000 5.062.500 45.562.500

10-12 150 20 15.000 202.500.000 60.750.000 6.075.000 54.675.000

13-15 175 16,7 15.000 236.250.000 70.875.000 7.087.500 63.787.500

TOTAL 843.750.000 253.125.000 25.311.000 227.812.500

Return of Investment (RoI)

Total Nilai Akuisisi Perusahaan = Rp 200.000.000

Lama RoI Berdasarkan Deviden = 15 bulan

Referensi

Dokumen terkait