• Tidak ada hasil yang ditemukan

Capaian Pembelajaran Dan Alur Tujuan Pembelajaran Preschool

N/A
N/A
Mia Hartanti

Academic year: 2023

Membagikan "Capaian Pembelajaran Dan Alur Tujuan Pembelajaran Preschool"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Tentang Capaian Pembelajaran TSL Islamic Preschool

Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase. CP menjadi acuan untuk pembelajaran intrakurikuler, dirancang dan ditetapkan dengan berpijak pada Standar TSL Essential Islamic Knowledge for Early Childhood dan Standar Nasional Pendidikan terutama Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Usia Dini atau disebut STPPA (pelajari STTPA dalam Permendikbudristek nomor 5 tahun 2022) serta Standar Isi (pelajari standar isi PAUD dalam Permendikbudristek No 7 Tahun 2022 tentang Standar Isi).

TSL Islamic Preschool menetapkan CP sebagai kompetensi yang ditargetkan. Namun, sebagai kebijakan tentang target pembelajaran yang perlu dicapai setiap peserta didik, CP tidak cukup konkret untuk memandu kegiatan pembelajaran sehari-hari. Oleh karena itu, hal tersebut disusun dalam dokumen yang lebih operasional yang dapat memandu proses pembelajaran intrakurikuler, yang dikenal dengan istilah alur tujuan pembelajaran.

Gambar 1. Proses Perancangan Pembelajaran dan Asesmen

Memahami CP adalah langkah pertama dalam perencanaan pembelajaran dan asesmen (lihat Gambar 1). Untuk dapat merancang pembelajaran dan asesmen dilingkungan Preschool dengan baik, CP Fase Fondasi perlu dipahami secara utuh, termasuk keterkaitan

Memahami Capaian Pembelajaran

Merumuskan tujuan pembelajaran

Menyusun alur tujuan kegiatan dari

tujuan pembelajaran

Merancang pembelajaran

dan asesmen

(3)

Fase Fondasi dengan Fase di atasnya, serta tujuan dan karakteristik dari Preschool yang perlu tercermin di dalam proses pembelajaran.

Gambar 2. Elemen-Elemen Dalam Capaian Pembelajaran

Tabel 1. Fase Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Umum Fase Kelas/Jenjang pada Umumnya

Fondasi PAUD

A Kelas I-II SD/MI B Kelas III-IV SD/MI

C Kelas V-VI SD/MI

D Kelas VII-IX SMP/MTs

E Kelas X SMA/SMK/MA/MAK

F Kelas XI-XII SMA/MA/MAK

Kelas XI-XII SMK Program 3 tahun TSL Essential Islamic

Knowledge for Early Childhood

Aqidah

Adab dan Akhlak Al Qur'an Ibadah Harian

Sirah Nabawiyah dan tokoh- tokoh muslim lainnya.

Jati Diri

Penyesuaian dari kurikulum Merdeka / Nasional

Modifikasi dan terpengaruh merujuk konsep serta nila- nilai dari TSL Essential Islamic Knowledge for Early

Childhood

Dasar-dasar Literasi, Matematika, Sains, Teknologi,

Rekayasa, dan Seni

Penyesuaian dari kurikulum merdeka / Nasional

Modifikasi dan terpengaruh merujuk konsep serta nilai- nilai dari TSL Essential Islamic Knowledge for Early

Childhood

 Untuk dapat memahami CP, pendidik perlu membaca dokumen CP secara utuh mulai dari rasional dan tujuan CP, karakteristik pembelajaran, lingkup CP hingga CP pada fase di atasnya karena semua CP berkaitan.

 Apa itu Fase Fondasi?

Capaian Pembelajaran PAUD merupakan fase fondasi. Pengertian fase fondasi PAUD adalah fase yang menjadi pijakan pertama anak di dunia pendidikan dan tujuannya adalah memfasilitasi tumbuh kembang anak secara optimal, yang tidak hanya siap bersekolah, namun lebih siap menempuh perjalanannya dalam berkembang dan berperan dalam sekitar lingkungan ekologis anak.

(4)

Kelas XI-XII SMK program 4 tahun

Rasional Capaian Pembelajaran Preschool

Penyusunan Capaian Pembelajaran di Preschool dapat dimaknai sebagai sebuah tanggapan terhadap adanya kebutuhan untuk menguatkan peran Preschool sebagai fondasi jenjang pendidikan dasar. Capaian Pembelajaran merupakan masukan kurikulum yang digunakan oleh satuan Preschool dalam merancang pembelajaran sehingga dapat mencapai STPPA.

Capaian Pembelajaran memberikan kerangka pembelajaran yang memandu pendidik di satuan PAUD dalam memberikan stimulasi yang dibutuhkan oleh anak usia dini.

Stimulasi dirancang dengan cara memperkaya lingkungan yang akan menyuburkan interaksi anak dengan lingkungan di sekitar, termasuk pendidik dan orangtua. Kurikulum berdasarkan pendekatan konstruktivistik yang mana pembelajaran perlu melibatkan anak dalam interaksi aktif antara diri dan lingkungannya. Diharapkan proses stimulasi akan memberikan dampak yang optimal pada peningkatan karakter, keterampilan, maupun pengetahuan anak.

Stimulasi tersebut dilakukan pada semua aspek perkembangan anak, baik dari aspek Essential Islamic Knowledge, fisik motorik, emosi dan sosial, bahasa, dan kognitif melalui kegiatan bermain. Peran guru dan orang tua pada stimulasi anak usia dini adalah sebagai fasilitator, mentor, dan mitra anak dalam proses perkembangannya. Guru perlu bekerja sama dengan orang tua untuk memastikan keselarasan antara pendidikan di Preschool dan di rumah dalam keseharian anak.

Berikut adalah sejumlah rasional yang mendasari penyusunan Capaian Pembelajaran:

Pertama, memberikan lebih banyak ruang kemerdekaan bagi Preschool untuk menetapkan kebutuhan pengajaran dan pembelajaran. Kebutuhan belajar mengajar Preschool harus didasarkan pada kebutuhan anak. Ini membutuhkan pertimbangan kemampuan fisik, sosial, moral, linguistik, dan kognitif anak serta penyediaan berbagai lingkungan yang menantang dengan dukungan pendidik ke tiap anak yang memadai untuk memastikan potensi belajar anak terwujud. Lingkungan Preschool perlu ramah dan dekat dengan anak agar ia merasa cukup percaya diri untuk dapat bermain dan menjelajah di dalamnya. Ini berarti pertimbangan harus diberikan pada konteks sosial dan budaya anak dan sumber daya yang

(5)

tersedia. Orang tua/wali juga harus dilibatkan dalam kegiatan Preschool, sehingga mereka dapat mendukung pembelajaran anak tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka serta anak dapat memperluas eksplorasi.

Capaian Pembelajaran Preschool merupakan fase fondasi, yang artinya fase ini merupakan pijakan pertama anak di dunia pendidikan dan tujuannya adalah memfasilitasi tumbuh kembang anak secara optimal, yang tidak hanya siap bersekolah, namun lebih siap menempuh perjalanannya dalam berkembang dan berperan di komunitas, negara, dan dunia. Selaras dengan semangat Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak, Capaian Pembelajaran tidak preskriptif (secara mengikat memberikan ketentuan baku) membatasi ragam laju dan kebutuhan anak dalam belajar berdasarkan usia (karena anak unik dan tidak dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya) – dan juga tidak preskriptif membatasi rangkaian pembelajaran yang dapat dilakukan Preschool.

Kedua, menguatkan transisi Fase Preschool-SD. Kesiapan bersekolah dimaknai sebagai hadirnya hasil interaksi dari tiga dimensi: peserta didik yang siap (ready children), keluarga siap (ready family), dan sekolah yang siap (ready school) (UNICEF, 2012). Komponen penting dari kesiapan bersekolah yang dapat didukung satuan Preschool diantaranya adalah:

1. Kematangan emosi yang cukup untuk mengatasi masalahnya sehari-hari.

2. Keterampilan sosial yang memadai untuk berinteraksi sehat dengan teman sebaya.

3. Kematangan kognitif yang cukup untuk berkonsentrasi saat bermain-belajar.

4. Pengembangan keterampilan motorik dan perawatan diri yang memadai untuk dapat berpartisipasi di lingkungan sekolah secara mandiri.

Keterampilan umum ini dipelajari di lingkungan dimana anak-anak memiliki kesempatan untuk berinteraksi, dimana ada masalah-masalah yang perlu mereka selesaikan ketika berinteraksi dengan teman. Pendidik juga perlu siap mendukung anak-anak untuk terlibat secara baik dengan orang lain, menyelesaikan perselisihan secara konstruktif, dan mengelola emosi mereka. Pendidik juga perlu mengajari anak cara mendengarkan dengan cermat, dan memberikan stimulus untuk membangun konsentrasi dan keterampilan mengingat anak untuk mendukung kesiapan bersekolah.

Ketiga, menguatkan artikulasi penanaman literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan seni sejak di Preschool. Penting dalam pembelajarannya anak usia dini untuk

(6)

mengeksplorasi diri dan lingkungan. Pengenalan pada sains, matematika, teknologi, rekayasa, dan seni dihadirkan di Preschool untuk membantu anak memecahkan masalah dan berkreasi. Kemampuan literasi dan matematika di sini tidaklah diartikan sebagai keharusan membaca, menulis, atau berhitung karena semua Pendidikan di Preschool kembali pada prinsip berpusat pada kebutuhan anak. Artinya, kemampuan literasi dan matematika adalah kemampuan dasar yang dibutuhkan anak untuk dapat memahami dunia, serta dapat menggunakan kemampuan tersebut dalam kegiatan sehari-harinya. Agar anak memiliki kemampuan literasi dan matematika awal dalam makna yang luas, maka penggunaan metode drilling yang secara sempit memaknai kemampuan ini sebagai kemampuan baca, tulis, hitung – harus dihindarkan. Hal yang diperlukan adalah pemahaman yang meluas di Preschool dan komunitas orang tua mengenai perkembangan literasi dini, matematika awal, sains, teknologi, rekayasa, dan seni dalam Preschool yang mencakup pengembangan:

1. Kemampuan menyimak dan mengolah informasi.

2. Kemahiran berbahasa yang memadai untuk berpartisipasi dalam percakapan sehari- hari, mengekspresikan gagasan, pendapat, dan perasaan, menjelaskan berbagai peristiwa yang dekat dengan kehidupan anak, mendengarkan secara efektif, dan merespons dengan tepat.

3. Kecintaan pada buku, yang dipupuk dengan mendengarkan berbagai cerita serta teks informasi sederhana dan menarik sehingga dapat mendorong anak untuk mengekspresikan tanggapan mereka.

4. Pengalaman langsung yang memadai dalam menghitung di antaranya berbagai jenis jumlah kecil, menyortir objek yang berbeda dengan cara yang berbeda, menggunakan bahasa matematika untuk mengidentifikasi objek yang panjang, pendek, berat, ringan, penuh, kosong, cepat, lambat, dan juga untuk menjelaskan beberapa bentuk sederhana di lingkungan mereka; dan

5. Pengalaman yang cukup dalam mengeksplorasi berbagai elemen lingkungan alam mereka serta alat-alat sederhana, teknologi dan bahan konstruksi agar mereka terbiasa dan mampu menggambarkan pengalaman mereka dan apa yang telah mereka pelajari.

Keterampilan awal ini dikembangkan melalui kegiatan belajar-bermain dengan tetap memperhatikan keunikan anak. Setiap anak memiliki minat yang berbeda dan tingkat

(7)

keterampilan yang berbeda, oleh karena itu pendidik perlu mengenali dan menanggapi hal ini. Keterampilan keaksaraan awal Preschool harus fokus pada pengembangan keterampilan bahasa lisan. Anak perlu meningkatkan perbendaharaan kata dan keterampilan berbicara serta menyimak, dengan cara terlibat dalam percakapan dengan pendidik dan orang tua/wali. Percakapan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas bahasa lisan reseptif dan ekspresif anak.

Demikian pula, untuk mengembangkan keterampilan matematika awal, pendidik perlu terlibat dalam percakapan dengan setiap anak di mana mereka membantu anak untuk memahami dan menggunakan beberapa ide dan bahasa matematika sederhana yang berlaku dalam kegiatan bermain. Pengalaman sains, teknologi, dan kerekayasaan yang sesuai untuk anak-anak di Preschool memerlukan penyediaan materi untuk dimainkan anak agar dapat merangsang eksplorasi mereka. Setiap elemen lingkungan alam yang menjadi bagian dari Preschool dapat menjadi stimulus untuk mendorong anak berpikir secara ilmiah.

Perangkat mekanis sederhana yang dapat digunakan anak untuk bermain dengan aman, atau bahan yang dapat digunakan untuk konstruksi memungkinkan anak untuk mengeksplorasi elemen teknologi dan kerekayasaan.

Peran pendidik, sekali lagi, untuk terlibat dalam percakapan empat mata dengan setiap anak, setiap hari mencari tahu apa yang sedang dieksplorasi oleh anak, apa yang membuat mereka penasaran dan menanyakan jenis pertanyaan yang akan mendorong anak untuk mengeksplorasi lebih banyak dan memikirkan tentang hasilnya.

Keempat, lebih memberikan pijakan bagi anak untuk memahami dirinya dan dunia.

Hasil pembelajaran di Preschool menekankan pentingnya untuk membantu anak-anak memahami dan percaya diri akan identitas mereka, dan untuk memperkuat pemahaman mereka tentang dunia dimulai dengan menjelajahi lingkungan sekitarnya. Anak-anak membutuhkan kepercayaan diri dan kepercayaan pada kemampuan mereka agar dapat secara efektif menjelajahi dan belajar tentang dunia mereka. Mereka perlu merasa percaya diri terhadap dirinya sendiri, budaya asal mereka, penampilan dan cara hidup mereka.

Pendidik perlu mendukung anak-anak untuk mengembangkan identitas yang kuat dan positif dengan menghormati dan menyambut masing-masing keunikan anak serta latar belakang sosial dan budaya mereka.

(8)

Relevansi PAUD sangat ditentukan oleh manfaat yang dirasakan secara konkret oleh keluarga dan anak. Keluarga perlu melihat jejak serta dampak dari partisipasi anak-anaknya di Preschool, karenanya tujuan dari setiap pembelajaran perlu dikaitkan dengan pengalaman anak sehari-hari dan kontekstual (selaras dengan nilai sosial budaya lingkungan) sehingga menumbuhkan kesadaran bahwa dirinya adalah bagian dari lingkungannya serta meningkatkan kompetensi dirinya untuk dapat berperan dalam kegiatan sehari-hari.

Capaian Pembelajaran Preschool secara spesifik menekankan pentingnya pendampingan anak dalam menemukan jati dirinya, serta menguatkan pemahaman anak terhadap dunianya melalui eksplorasi terhadap lingkungan sekitar.

Tujuan Capaian Pembelajaran

Pembelajaran di TSL Islamic preschool adalah pembelajaran yang mengintegrasikan semua aspek perkembangan anak. Tujuan Capaian Pembelajaran Preschool adalah memberikan arah yang sesuai dengan usia perkembangan anak pada semua aspek perkembangan anak (nilai-nilai TSL Islamic essential knowledge, fisik motorik, emosi-sosial, bahasa, dan kognitif) dan menarasikan kompetensi pembelajaran yang diharapkan dicapai anak pada akhir Preschool, agar anak siap mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya.

Karakteristik Pembelajaran Preschool

Pembelajaran di Preschool memiliki karakteristik yang memandang setiap anak dipandang unik dan memiliki potensi (kelebihan/kekuatan) masing-masing sehingga memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut melalui dalam lingkungan yang dirancang dengan cermat di mana stimulasi bermain diberikan dan pembelajaran disediakan oleh pendidik. Scaffolding (perancah,dukungan belajar secara terstruktur) sangat penting diberikan pendidik dengan

 Setelah membaca bagian Rasional Capaian Pembelajaran PAUD, apakah dapat dipahami mengapa Capaian Pembelajaran PAUD ini penting?

Apakah dapat dipahami tujuan utamanya?

 Setelah membaca tujuan Capaian Pembelajaran PAUD di atas, dapatkah Anda mulai membayangkan bagaimana hubungan antara kemampuan yang ingin dibangun dalam CP dengan pengembangan kemampuan pada profil pelajar TSL Islamic Preschool?

(9)

cara terlibat dalam percakapan sehari-hari dengan setiap anak, yang seiring waktu akan memberikan tantangan, dukungan dan bimbingan bagi anak untuk mengembangkan keterampilan motorik, keterampilan sosial dan nilai-nilai moral,keterampilan bahasa lisan dan kemampuan anak untuk secara produktif memikirkan dan mengeksplorasi lingkungan.

Pembelajaran di preschool perlu memperhatikan beberapa karakteristik spesifik yaitu:

1. Mendukung terbentuknya kesejahteraan diri (well-being) anak.

2. Menghargai dan menghormati anak.

3. Mendorong rasa ingin tahu anak.

4. Menyesuaikan dengan usia, tahap perkembangan, minat dan kebutuhan anak.

5. Memberikan stimulasi secara holistik integratif.

6. Memberikan tantangan, bimbingan, dan dukungan pada pembelajaran tiap anak melalui percakapan dan interaksi bermakna dengan tiap anak.

7. Melibatkan keluarga sebagai mitra.

8. Memanfaatkan lingkungan dan teknologi sebagai sumber belajar.

9. Menggunakan penilaian otentik (penilaian yang diperoleh bersamaan dengan berlangsungnya proses pembelajaran).

Lingkup Capaian Pembelajaran

Lingkup Capaian Pembelajaran di Preschool mencaku tiga elemen stimulasi yang saling terintegrasi. Tiga elemen stimulasi tersebut merupakan elaborasi aspek-aspek perkembangan Essential Islamic Knowledge, fisik motorik, kognitif, sosial emosional, bahasa, dan nilai Kebangsaan serta bidang-bidang lain untuk optimalisasi tumbuh kembang anak sesuai dengan kebutuhan pendidikan abad 21 dalam konteks Indonesia. Tiap elemen stimulasi mengeksplorasi aspek-aspek perkembangan secara utuh dan tidak terpisah.

(10)

Gambar 3. Tiga Elemen Capaian Pembelajaran

Setiap elemen stimulasi harus digunakan sebagai dasar untuk mengeksplorasi aspek perkembangan anak secara keseluruhan, bukan secara terpisah.

Rumusan Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelejaran diturunkan dari Visi Yayasan Tarbiyah Sunnah Learning yaitu:

Membangun generasi unggul berkarakter rabbani Allah Ta’ala berfirman dalam ayat yang muhkam (jelas),

ْمُتْن ُك ا َََمِب َي ييّيِناّبَر اوََُ نوُ

ك ْن ِكَ ل َو ِل

لا ِنوُ

د ْن ِم ل ِل اً دا َََب ِع اوُ

نوُ ك ِساّ

نل ِل َلو ُقَي ّمُث َة ّوُبّنلا َو َمْك ُحْلا َو َباَت ِكْ لا لا ُ ل ُ

ه َي ِتْ ؤ ُي ْ

نَ أ ٍش َب ِل َش َ

ناَ ك ا َم

َنو ُس ُرْ دَ

ت ْمتُنْ ُ

ك ا َمِبَو َباَت ِكْ لا َ

نو ُمّ ل َعُ

ت

“Tidak layak bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Kitab, hikmah, dan kenabian, lantas ia mengatakan kepada manusia, ‘Jadilah kalian penyembahku, bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi, harusnya ia mengatakan, ‘Jadilah kalian orang-orang Rabbani karena kalian selalu mengajarkan Kitab dan senantiasa mempelajarinya.’” (QS. Ali-‘Imran : 79)

Rabbani ialah orang-orang yang menyembah Allah Ta’ala dengan ikhlas, sehingga ia beribadah kepada-Nya semata dengan benar dan tulus. Rabbani yaitu orang-orang yang berilmu, beramal, dan takut kepada Allah dengan sebenar-benarnya.

Essential Islamic Knowledge Jati Diri

Dasar-dasar Literasi, Matematika, Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Seni

(11)

Dengan dasar seperti itu, maka pada akhir fase fondasi, anak menunjukkan kegemaran mempraktikkan dasar-dasar Essential Islamic Knowledge for Early Childhood yaitu Aqidah, Adab dan Akhlak, Tahsin, Ibadah Harian, mengambil pelajaran teladan dari Sirah nabawiyah serta tokoh-tokoh muslim lainnya; kebanggaan terhadap dirinya; dasar-dasar kemampuan literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan seni untuk membangun sikap positif terhadap belajar dan kesiapan untuk mengikuti pendidikan dasar.

Capaian Pembelajaran Berdasarkan Elemen

Tabel 2. Elemen-Elemen Capaian Pembelajaran Preschool

Elemen Deskripsi

Aqidah, Adab dan Akhlak, Al Qur’an, Ibadah Harian, Sirah nabawiyah serta tokoh- tokoh muslim lainnya (Essential Islamic Knowledge)

Anak memahami Aqidah (Mengenal Allah, Islam dan Rasulullah), mulai mengenal dan mempraktikkan ajaran islam pokok dan dasar. Anak mulai mengenal dan mempraktikkan ibadah harian wajib dan sunnah. Anak berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan, kesehatan dan keselamatan diri sebagai bentuk rasa sayang terhadap dirinya dan rasa syukur pada Allah Azza wa Jalla. Anak menghargai sesama manusia dengan berbagai perbedaannya dan mempraktikkan perilaku baik dan berakhlak mulia. Anak menghargai alam dengan cara merawatnya dan menunjukkan rasa sayang terhadap makhluk hidup yang merupakan ciptaan Allah Azza wa Jalla.

Anak meneladani dari sirah nabawiyah dan tokoh-tokoh muslim lainnya. Anak memahami menyembah Allah Ta’ala dengan ikhlas, sehingga ia beribadah kepada-Nya semata dengan benar dan tulus.

Jati Diri Anak mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi diri serta membangun hubungan sosial secara sehat. Anak mengenal dan memiliki perilaku positif terhadap diri dan lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat, negara, dan dunia) serta rasa bangga sebagai seorang muslim dan anak

(12)

Indonesia. Anak menyesuaikan diri dengan lingkungan, aturan, dan norma yang berlaku. Anak menggunakan fungsi gerak (motorik kasar, halus, dan taktil) untuk mengeksplorasi dan memanipulasi berbagai objek dan lingkungan sekitar sebagai bentuk pengembangan diri.

Dasar-dasar Literasi, Matematika, Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Seni

Anak mengenali dan memahami berbagai informasi, mengomunikasikan perasaan dan pikiran secara lisan, tulisan, atau menggunakan berbagai media serta membangun percakapan. Anak menunjukkan minat,

kegemaran, dan berpartisipasi dalam kegiatan pramembaca dan pramenulis. Anak mengenali dan menggunakan

konsep pramatematika untuk memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari. Anak menunjukkan kemampuan dasar berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.

Anak menunjukkan rasa ingin tahu melalui observasi, eksplorasi, dan eksperimen dengan menggunakan lingkungan sekitar dan media sebagai sumber belajar, untuk mendapatkan gagasan mengenai fenomena alam dan sosial. Anak menunjukkan kemampuan awal menggunakan dan merekayasa teknologi serta untuk mencari informasi, gagasan, dan keterampilan secara aman dan bertanggung jawab. Anak mengeksplorasi berbagai proses seni,

mengekspresikannya serta mengapresiasi karya seni.

Karakteristik Capaian Pembelajaran

Ada beberapa karakteristik dari CP yang ada pada kurikulum ini, yaitu sebagai berikut : 1. Capaian Pembelajaran disusun per fase bukan per tahun. Ini artinya, Capaian

Pembelajaran adalah capaian pada akhir fase fondasi (TK B) atau saat anak selesai pada jenjang PAUD dan bukan capaian yang ingin dicapai pada setiap jenjang PAUD.

2. Ketiga elemen Capaian Pembelejaran tersebut dicapai melalui serangkaian kegiatan proses bermain-belajar.

(13)

Rumusan CP menampakkan kesatuan antara kemampuan kognitif, keterampilan belajar, serta disposisi atau sikap terkait ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh peserta didik.

Lingkup capaian pembelajaran di PAUD mencakup tiga elemen stimulasi yang saling terintegrasi. Tiap elemen stimulasi mengeksplorasi aspek-aspek perkembangan secara utuh dan tidak terpisah. Ada 3 elemen Capaian Pembelajaran PAUD terkait kurikulum, yaitu (1) CP TSL Essential Islamic Knowledge, (2) CP Jati Diri; (3) CP Dasar-Dasar Literasi dan STEAM.

Refleksi Pendidik

Memahami CP Fase Fondasi adalah langkah yang sangat penting dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran dan asesmen. Setiap pendidik perlu memahami apa yang perlu mereka ajarkan, terlepas dari apakah mereka akan mengembangkan kurikulum, alur tujuan pembelajaran, atau silabusnya sendiri ataupun tidak. Beberapa contoh pertanyaan reflektif yang dapat digunakan untuk memandu guru dalam memahami CP, antara lain:

1. Kata-kata kunci apa yang penting dalam CP?

2. Apakah capaian yang ditargetkan sudah biasa saya ajarkan?

3. Apakah ada hal-hal yang sulit saya pahami? Bagaimana saya mencari tahu dan mempelajari hal tersebut?

4. Dengan siapa saya sebaiknya mendiskusikan hal tersebut?

5. Sejauh mana saya dapat mengidentifikasi kompetensi yang diharapkan dalam CP ini?

6. Dukungan apa yang saya butuhkan agar dapat memahami CP dengan lebih baik?

Mengapa?

Selain untuk lebih mendalami aspek perkembangan, muatan dan nilai yang tercermin di dalam elemen, memahami CP juga dapat memantik ide-ide pengembangan rancangan pembelajaran. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk memantik ide:

1. Bagaimana capaian dalam fase ini akan dicapai peserta didik?

2. Proses atau kegiatan pembelajaran seperti apa yang akan ditempuh peserta didik untuk mencapai CP?

3. Pendekatan apa yang perlu digunakan untuk mencapai CP?

4. Materi apa saja yang akan dipelajari? Seberapa luas? Seberapa dalam?

(14)

5. Bagaimana menilai ketercapaian tujuan pembelajaran dan CP fase Fondasi?

6. Bagaimana agar penilaian tersebut digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang diterima anak selanjutnya?

Sebagian guru dapat memahami CP dengan mudah, namun berdasarkan monitoring dan evaluasi Kemendikbudristek, bagi sebagian guru CP sulit dipahami. Oleh karena itu, ada dua hal yang perlu menjadi perhatian yaitu: pelajari CP bersama pendidik lain dalam suatu komunitas belajar. Melalui proses diskusi, bertukar pikiran, mengecek pemahaman, serta berbagai ide, pendidik dapat belajar dan mengembangkan kompetensinya lebih efektif, termasuk dalam upaya memahami CP.

Tujuan Pembelajaran

Capaian pembelajaran diuraikan menjadi tujuan-tujuan pembelajaran yang bersifat operasional dan konkret. Perumusan tujuan pembelajaran meliputi kompetensi dan lingkup materi. Tujuan-tujuan pembelajaran tersebut kemudian diurutkan menjadi alur tujuan pembelajaran. Alur tujuan pembelajaran adalah rangkaian tujuan pembelajaran yang disusun secara logis menurut urutan pembelajaran sejak awal hingga akhir suatu fase. Alur ini disusun secara linear sebagaimana urutan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dari hari ke hari. Prinsip penyusunan alur tujuan pembelajaran: esensial, berkesinambungan, kontekstual, dan sederhana.

Tujuan Pembelajaran (TP) merupakan deskripsi pencapaian tiga aspek kompetensi (pengetahuan, keterampilan, sikap) peserta didik yang perlu dibangun melalui satu atau lebih kegiatan pembelajaran. Tujuan Pembelajaran disusun secara kronologis berdasarkan urutan pembelajaran dari waktu ke waktu yang menjadi prasyarat menuju Capaian Pembelajaran (CP). Secara operasional, komponen Tujuan Pembelajaran dapat memuat tiga aspek berikut ini:

1. Kompetensi, yaitu kemampuan yang dapat didemonstrasikan oleh peserta didik atau ditunjukkan dalam bentuk produk yang menunjukkan peserta didik telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran.

2. Konten, yaitu ilmu pengetahuan inti atau konsep utama yang perlu dipahami pada akhir satu unit pembelajaran.

(15)

3. Variasi, yang menjelaskan keterampilan berpikir kreatif, kritis, dan tingkat tinggi yang perlu dikuasai peserta didik untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Misal:

mengevaluasi, menganalisis, memprediksi, menciptakan, dan sebagainya.

Mengurutkan Tujuan Pembelajaran

Berikut adalah beberapa cara yang bisa digunakan dalam mengurutkan tujuan pembelajaran:

Pengurutan Konkret → Abstrak Dari konten yang konkret dan berwujud ke konten yang lebih abstrak dan simbolis.

Contoh: Memulai pengajaran dengan menjelaskan tentang benda geometris (konkret) sebelum mengajarkan aturan teori objek geometris tersebut (abstrak).

Pengurutan Deduktif Dari konten bersifat umum ke konten yang spesifik.

Contoh: Mengajarkan tentang peta secara umum terlebih dahulu sebelum mengajarkan tentang peta- peta tematik.

Pengurutan dari Mudah → Sulit Dari konten paling mudah ke konten paling sulit.

Contoh: Mengajarkan cara mengeja kata-kata pendek sebelum mengajarkan kata yang lebih panjang.

Pengurutan Hierarki Mengajarkan keterampilan komponen konten yang lebih mudah sebelum mengajarkan keterampilan yang lebih kompleks.

Contoh: Peserta didik perlu belajar tentang penjumlahan sebelum mereka dapat memahami konsep perkalian.

Pengurutan Prosedural Mengajarkan tahap pertama dari sebuah prosedur kemudian membantu peserta didik untuk menyelesaikan tahapan selanjutnya.

Contoh: Dalam mengajarkan prosedur titrasi asam- basa, ada beberapa tahap prosedur yang harus dilalui, seperti menyiapkan larutan,indicator asam-basa, memasang alat titran, melakukan titrasi, dan mengolah

(16)

data.

Scaffolding Meningkatkan kemampuan peserta didik sekaligus mengurangi bantuan secara bertahap.

Contoh: Dalam mengajarkan berenang, guru perlu menunjukkan cara mengapung, dan ketika peserta didik mencobanya, guru hanya butuh membantu.

Setelah ini, bantuan yang diberikan berkurang secara bertahap sampai peserta didik dapat berenang sendiri.

Tabel 3. Cara-Cara Menyusun Tujuan Pembelajaran Menjadi Alur Tujuan Pembelajaran

Tujuan Kegiatan

Pada dasarnya, tujuan kegiatan dibuat oleh guru, tetapi dalam implementasi pembelajarannya, anak dapat menentukan tujuan kegiatannya sendiri, maksudnya guru memberi ruang dan mengakomodasi minat anak.

Misal: Pada sebuah RPPH Kurikulum Merdeka TK dengan topik “Pasar Ikan di Kampungku”

guru merencanakan tujuan kegiatan “Keaksaraan awal yang berkaitan dengan pasar ikan”.

Akan tetapi, sejak hari Senin, ada seorang anak yang menggunakan alat dan bahan yang disediakan guru untuk membangun sebuah truk. Rupanya saat kunjungan ke pasar ikan, anak tersebut sangat tertarik mengamati sebuah truk yang sedang bongkar muat barang di bagian depan pasar. Anak tersebut ingin membuat truk yang pintunya dapat sekaligus berfungsi sebagai papan luncur boks.

Dari hasil observasi dan diskusi, guru menyimpulkan bahwa anak tersebut memiliki tujuan main “menggunakan dan merancang teknologi pintu pada truk” (diambil dari tujuan pembelajaran “Menggunakan dan merancang teknologi secara aman dan bertanggung secara aman dan bertanggung jawab”).

Dalam kejadian tersebut, anak memiliki tujuan yang berbeda dengan tujuan kegiatan yang telah direncanakan oleh guru. Menyikapi hal tersebut, guru sebaiknya memberi ruang pada anak. Guru tidak perlu memaksa anak untuk mengikuti tujuan kegiatan yang telah guru tetapkan (keaksaraan) dan kegiatan yang telah dirancang guru (pasar ikan). Guru dapat

(17)

memberi ruang bagi anak untuk menetapkan tujuan mainnya sendiri (teknologi) dan melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan tersebut (membuat truk).

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) adalah rangkaian tujuan pembelajaran yang tersusun secara sistematis dan logis di dalam fase secara utuh dan menurut urutan pembelajaran sejak awal hingga akhir suatu fase. Alur ini disusun secara linear sebagaimana urutan Tujuan Pembelajaran yang dilakukan sepanjang fase untuk mencapai Capaian Pembelajaran yang harus dicapai di akhir fase fondasi.

Satuan PAUD menentukan Tujuan Pembelajaran untuk tiap elemen CP yang mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP) dengan mempertimbangkan beberahal berikut: (lihat Gambar 4)

Gambar 4. Acuan Pertimbangan Menentukan Tujuan Pembelajaran Untuk Setiap Elemen CP Dalam menyusun alur tujuan pembelajaran secara mandiri, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan:

1. Tujuan pembelajaran adalah tujuan yang lebih umum bukan tujuan pembelajaran harian (goals, bukan objectives);

2. Alur tujuan pembelajaran harus tuntas satu fase, tidak terpotong di tengah jalan;

3. Alur tujuan pembelajaran perlu dikembangkan secara kolaboratif, (apabila guru mengembangkan, maka perlu kolaborasi guru lintas kelas/tingkatan dalam satu fase.

Contoh: kolaborasi antara guru kelas I dan II untuk Fase A;

4. Alur tujuan pembelajaran dikembangkan sesuai karakteristik dan kompetensi yang dikembangkan;

5. Penyusunan alur tujuan pembelajaran tidak perlu lintas fase (kecuali pendidikan khusus);

Visi Misi Yayasan

Nilai-Nilai Essential

Islamic Knowledge

Profil Peserta Didik

Karakteristik peserta didik

Karakteristik lokal dan

budaya

setempat

(sosio-antro)

(18)

6. Metode penyusunan alur tujuan pembelajaran harus logis, dari kemampuan yang sederhana ke yang lebih rumit, dapat dipengaruhi oleh karakteristik mata pelajaran, pendekatan pembelajaran yang digunakan (misal: matematik realistik);

7. Tampilan tujuan pembelajaran diawali dengan alur tujuan pembelajarannya terlebih dahulu, baru proses berpikirnya (misalnya, menguraikan dari elemen menjadi tujuan pembelajaran) sebagai lampiran agar lebih sederhana dan langsung ke intinya untuk guru;

8. Alur tujuan pembelajaran fokus pada pencapaian CP

Gambar 5. Perbedaan CP, TP dan TK

Contoh penahapan penguasaan kompetensi dan konsep pengetahuan yang ada di dalam subelemen menjadi alur tujuan pembelajaran pada elemen Jati Diri

Subelemen: Anak menyesuaikan diri dengan lingkungan, adab dan akhlak, aturan, serta norma yang berlaku.

Merupakan capaian diakhir masa paud Tidak muncul pada RPPH dan RPPM Muncul pada ATP

Capaian Pembelajaran

(CP)

Merupakan terjemahan / turunan dari Capaian Pembelajaran

Muncul pada ATP

Termuat dalam kurikulum operasional sekolah

Tujuan Pembelajaran

(TP)

dibuat oleh guru

digunakan dalam modul/ RPPM

diturunkan dari TP yang ada dalam kurikulum

Tujuan Kegiatan (TK)

TP 1 : Anak mengenali rutinitas yang ada di

sekolah maupun di rumah.

TP 2 : Anak memahami adab dan akhlak seorang muslim

dan muslimah

TP 3 : Anak memahami dan dapat

melakukan aturan- aturan sederhana yang ada di lingkungan

terdekat

(19)

Gambar 6. Penyusunan pengembangan alur tujuan berdasarkan kompetensi dari yang lebih sederhana

Pada subelemen di atas, penyusun mengembangkan alur tujuan pembelajaran didasarkan pada penahapan kompetensi dari yang lebih sederhana, yaitu memilih hal yang disukai anak hingga kompetensi yang lebih kompleks, seperti mengenali persamaan dan perbedaan hingga menyadari bahwa dirinya bagian dari suatu kelompok. Contoh penahapan tujuan pembelajaran dalam dokumen ini juga dapat dikembangkan lebih dari satu alur per elemen atau dapat dikombinasikan antar subelemen, sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan.

Contoh penahapan penguasaan kompetensi dan konsep pengetahuan yang ada di dalam subelemen menjadi alur tujuan pembelajaran pada elemen Dasar-dasar Literasi, Matematika, Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Seni.

Subelemen: Anak mengeksplorasi berbagai proses seni, mengekspresikannya serta mengapresiasi karya seni.

Pada subelemen di atas, penyusun mengembangkan alur tujuan pembelajaran didasarkan pada penahapan kompetensi dari yang lebih sederhana, yaitu mengenal dan menunjukkan ketertarikan terhadap karya seni ke kompetensi yang lebih kompleks yaitu menghasilkan karya seni dengan beragam teknik dan media.

Tabel 2. Tabel Alur Tujuan Pembelajaran Preschool

Elemen Sub- Elemen

Capaian Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran

A. TSL Essential Islamic

Akidah 1. Anak menunjukkan pemahaman Aqidah Islam (mengenal

a. Anak mengenali dan memahami Tauhid TP 1. Anak

mengenal dan menunjukkan ketertarikan pada

berbagai karya seni yang diperkenalkan

kepadanya

TP 2. Anak mencoba membuat karya

seni dengan menggunakan beragam teknik dan media seni

TP 3. Anak bereksperimen melalui berbagai media seni (visual

dan digital) dan mulai menggunakannya

untuk menyampaikan

ide-ide

(20)

Knowledge Allah, Islam dan Rasulullah)

rububiyyah

b. Anak mengenali dan

memahami Tauhid uluhiyyah c. Anak mengenali dan

memahami Asma wa Sifat d. Anak mengenali dan

meneladani Rasulullahu’alahi wasalam

e. Anak mengenali dan mengaplikasikan syiar-syiar Islam

f. Anak dapat mengenali persamaan dan perbedaan antara dirinya dan orang lain dalam menjalankan agama dan kepercayaannya.

Adab dan Akhlak

2. Anak menunjukan adab dan akhlak yang baik pada kegiatan sehari-hari

a. Anak memahami dan berpartisipasi aktif menjaga kebersihan diri dan

lingkungan sekitarnya b. Anak memahami dan

bersedia menjaga kesehatan diri sebagai bentuk syukur kepada Allah Azza Wa Jalla c. Anak memahami dan mulai

bersedia menjaga keselamatan diri dalam lingkup sederhana sebagai bentuk syukur kepada Allah Azza Wa Jalla

d. Anak mengenali, memahami dan berpratisipasi adab dan akhlak di keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan lainnya

e. Anak memahami dan mengambarkan adab dan akhlak sebagai seorang penuntut ilmu

f. Anak menunjukkan sikap menyayangi sesama makhluk hidup ciptaan Allah Azza Wa Jalla

Al Qur’an 3. Anak berpartisipasi dan mempraktikan

a. Anak mengenali dan elemen Literasi masuk pramembaca

(21)

serta menujukan kecintaan terhadap Al Qur’an

Al Qur’an dan pramenulis huruf-huruf Hijaiyah b. Anak mengenali dan

membiasakan dasar-dasar tilawah Al Qur’an

c. Anak menujukan semangat dalam riyadhotul lisan d. Anak mengekspresikan cintai

Al Qur’an

e. Anak mempunyai hafalan surat-surat pendek dalam Juz Amma sebagai bentuk kecintaan pada Al-Qur’an Ibadah

Harian

4. Anak mulai mengenal dan mempraktikkan ibadah-ibadah harian baik wajib dan

sunnah serta tata cara dan amalan – amalan shalih harian.

a. Anak memahami dan mengamalkan ibadah thaharoh

b. Anak memahami dan mengamalkan ibadah sholat c. Anak memahami dan

mengamalkan ibadah-ibadah sunah.

Sirah Nabawiyah dan tokoh- tokoh muslim lainnya

5. Anak mulai

mengenal, mencintai dan meneladani Rasulullahu wa ‘alahi wasalam, Shabat dan para Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah 6. Anak Mulai mengenal

tokoh-tokoh muslim lainnya yang

berpengaruh dalam berbagai bidang

a. Anak mengenal Nabi dan Rasul utusan Allah.

b. Anak menunjukan keteladanan kepada

Rasulullahu’alaihi wa sallam c. Anak menunjukan

mengetahui dan mengambil pelajaran penting dari kisah para sahabat, tabi’in, Tabi'ut Tabi'in serta para ulama Ahlus Sunnah wa Jamaah d. Anak menunjukan

terinspirasi oleh tokoh-tokoh muslim berpengaruh.

B. Jati Diri Tarbiyah Jinsiyah

1. Anak mengenali dan mengekspresikan sebagai seorang muslim/ah sejati

a. Anak mengenal dan mengekspresikan sesuai fitrahnya (tarbiyah jinsiah).

b. Anak mengenal dan

memahami perbedaan fitrah sebagai muslim dan

Muslimah Kestabilan

emosi

2. Anak mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi diri serta membangun hubungan sosial

a. Anak mengenal dan

mengekspresikan emosi yang dapat diterima oleh orang lain (adaptif).

b. Anak dapat menenangkan

(22)

secara sehat. diri baik dengan bantuan guru maupun secara mandiri.

c. Anak dapat terlibat dalam kegiatan bermain bersama dan dapat menjalin

pertemanan dengan guru dan teman sebaya

Perilaku Positif

3. Anak mengenal dan memiliki perilaku positif terhadap diri dan lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat, negara, dan dunia) serta rasa bangga sebagai anak Indonesia

a. Anak mampu memiliki rasa percaya diri ketika berada dalam lingkungan baru.

b. Anak mampu memilih hal ia suka, menunjukkan rasa bangga atas karya atau usahanya dan memiliki keinginan untuk mencoba hal baru.

c. Anak menyadari bahwa dirinya dan orang lain merupakan bagian dari kelompok (keluarga, kelas/sekolah, Masyarakat dan negara).

d. Anak mengenali persamaan dan perbedaan yang

terdapat di lingkungan sekitar termasuk pada orang- orang di sekitarnya.

Taat Peraturan

4. Anak menyesuaikan diri dengan

lingkungan, adab dan akhlak, aturan, serta norma yang berlaku

a. Anak memahami dan dapat melakukan aturan-aturan sederhana yang ada di lingkungan terdekat Eksplorasi 5. Anak menggunakan

fungsi gerak (motorik kasar, halus, dan taktil) untuk

mengeksplorasi dan memanipulasi berbagai objek dan lingkungan sekitar sebagai bentuk pengembangan diri

a. Anak berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang melibatkan gerak motorik kasar, halus dan taktil.

b. Anak mengeksplorasi sumber daya di sekitar (sebagai alat dan/atau bahan) untuk mengembangkan fungsi motorik kasar, halus dan taktil.

c. Anak menunjukkan perilaku makan bergizi

C. Literasi dan STEAM

Dasar Literasi

1. Anak mengenali dan memahami berbagai informasi,

a. Anak mengenal dan memahami berbagai

informasi yang tersaji dalam

(23)

mengomunikasikan perasaan dan pikiran secara lisan, tulisan, atau menggunakan berbagai media serta membangun

percakapan.

2. Anak menunjukkan minat, kegemaran, dan berpartisipasi dalam kegiatan pramembaca dan pramenulis

gambar, tanda, simbol, dan cerita.

b. Anak berpartisipasi aktif dalam beragam kegiatan untuk menguatkan dan melenturkan otot tangan c. Anak menunjukkan

ketertarikan dan

berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengenalan simbol, bunyi dan bentuk huruf pada teks yang ditemui di

sekitarnya

a. Anak menunjukkan minat dan respon positif pada kegiatan awal membaca (seperti mendengarkan, merespon cerita yang

dibacakan, mengaitkan cerita dengan gambar).

b. Anak menunjukkan minat untuk menuliskan ide dan perasaan melalui berbagai media (coretan, gambar, hingga tulisan)

c. Anak menunjukkan ketertarikan pada buku dengan berpartisipasi dalam diskusi dan kegiatan lain yang terkait dengan buku

Dasar Matematika

3. Anak mengenali dan menggunakan konsep pramatematika untuk memecahkan

masalah di dalam kehidupan sehari- hari.

a. Anak mengenal arah dan posisi benda yang ada di Sekitarnya

b. Anak mengenali bentuk dan pola serta warna

c. Anak mengenal konsep dan simbol bilangan

d. Anak melakukan praktik pengukuran sederhana di lingkungan

e. Anak menggunakan kemampuan berhitung, pengenalan pola, dan pengukuran untuk menyelesaikan masalah sehari-hari di lingkungan

(24)

Dasar Sains 4. Anak menunjukkan kemampuan dasar berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.

a. Anak berpartisipasi aktif mengeksplorasi dan

menganalisa informasi yang ada di lingkungan sekitarnya b. Anak mampu memilah

informasi dari hasil analisa dan menggunakannya untuk menghasilkan karya secara mandiri maupun

berkelompok dengan orang lain.

c. Anak mampu

mengidentifikasi penyebab dan akibat dari situasi atau masalah.

d. Anak mampu menyusun informasi yang benar dan berpikir untuk

menyelesaikan masalah secara kreatif.

e. Anak mampu memecahkan masalah secara logis dan struktur.

f. Anak mampu menggunakan pendekatan kolaboratif untuk memberikan solusi yang jawaban masalah.

g. Anak mampu

mempertahankan ide mereka dengan tetap berpegang pada fakta dan alasan logis.

Dasar Teknologi

5. Anak menunjukkan rasa ingin tahumelalui observasi, eksplorasi, dan eksperimen dengan

menggunakan lingkungan sekitar dan media sebagai sumber belajar, untuk mendapatkan

gagasan mengenai fenomena alam dan sosial

a. Anak berpartisipasi aktif dalam melakukan

eksperimen menggunakan alat dan bahan yang ada di lingkungan

b. Anak memahami dan mengomunikasikan pengetahuannya akan lingkungan sekitar dengan berbagai media

Dasar Rekayasa

6. Anak menunjukkan kemampuan awal

a. Anak menunjukkan

ketertarikan untuk mengenal

(25)

menggunakan dan merekayasa teknologi serta untuk mencari informasi, gagasan, dan keterampilan secara aman dan bertanggung jawab.

dan mengeksplorasi teknologi sederhana yang ada di lingkungan

b. Anak mengenali cara

menggunakan teknologi yang aman dan bertanggung jawab

c. Anak dapat menggunakan teknologi untuk merekayasa objek maupun situasi yang ada di lingkungan

Dasar Seni dan Estetika

7. Anak mengeksplorasi berbagai proses seni dan estetika,

mengekspresikannya serta mengapresiasi karya seni. (tidak bertentangan dengan syar’i)

a. Anak mengenal dan menunjukkan ketertarikan pada berbagai karya seni yang diperkenalkan kepadanya

b. Anak mencoba membuat karya seni dengan

menggunakan beragam teknik dan media seni

c. Anak bereksperimen melalui berbagai media seni (visual, dan digital) dan mulai menggunakannya untuk menyampaikan ide-ide d. Anak menunjukan estetika

dalam kehidupan sehari-hari

Referensi

Dokumen terkait