• Tidak ada hasil yang ditemukan

cat ipa keas 9 semester 1

N/A
N/A
29 Veronica Avila

Academic year: 2024

Membagikan "cat ipa keas 9 semester 1"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

ORGAN REPRODUKSI PRIA

Organ eksternal

Organ reproduksi pria bagian luar terdiri dari tiga organ, yaitu:

 Penis, berfungsi sebagai jalan keluarnya urine dan sperma.

 Skrotum (kantong zakar), berfungsi sebagai sistem kontrol suhu pada testis. Suhu pada testis erat

kaitannya dalam memproduksi sperma yang sehat.

 Testis, berfungsi untuk memproduksi sperma dan hormon testosteron (hormon utama pada pria).

Organ internal

Organ reproduksi pria bagian dalam terdiri dari beberapa organ, meliputi:

 Epididimis , berfungsi menyimpan sel sperma yang diproduksi di testis dan mengangkut sperma yang belum matang menuju tabung vas deferens agar menjadi sperma matang.

 Kelenjar prostat , berkontribusi dalam memberikan cairan tambahan untuk proses ejakulasi. Cairan prostat juga membantu sperma agar tetap sehat.

 Kelenjar bulbouretral, berperan dalam

menghasilkan cairan yang berfungsi untuk

melumasi uretra dan menetralisir keasaman yang mungkin ada karena tetesan sisa urine.

 Vesikula seminalis, berfungsi menghasilkan cairan fruktosa yang digunakan sperma sebagai sumber energi ketika beraktivitas.

 Uretra, saluran yang membawa urine atau sperma ke luar tubuh.

(2)

Vas deferens, yaitu tabung yang berfungsi

mengangkut sperma matang menuju uretra dalam persiapan untuk ejakulasi.

Hormon Reproduksi Pria

Seluruh sistem reproduksi pada pria tergantung pada hormon, yaitu zat kimiawi yang mengatur aktivitas sel dan organ pada tubuh. Hormon utama yang terlibat dalam fungsi sistem reproduksi pria meliputi:

1. Hormon gonadotropin

Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar hipotalamus pada otak. Kenaikan hormon gonadotropin kemudian akan merangsang produksi hormon luteinizing hormone dan hormon perangsang folikel (follicle-stimulating

hormone) yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari.

2. Hormon perangsang folikel (follicle-stimulating hormone)

Setiap hari produksi sperma yang dihasilkan bisa mencapai 300 juta, dengan masa pembentukan tiap sperma sekitar 65–75 hari.

3. Luteinizing hormone

Saat hormon ini dilepaskan ke dalam darah, akan terjadi produksi dan pelepasan hormon testosteron sebagai hormon utama pada pria.

4. Hormon testosteron

Produksi testosteron pada masa pubertas memicu berbagai perubahan fisik, seperti pembesaran testis dan skrotum, penis yang semakin memanjang, suara

(3)

yang semakin berat, serta tumbuhnya rambut di sekitar alat kelamin, wajah, dan ketiak.

SPERMATOGENESIS

Spermatogenesis adalah proses pembuatan sel sperma maupun sel germinal imatur yang kita sebut dengan sebutan spermatogium agar nanti bisa menjadi sperma yang matang yang disebut dengan spermatozoa.

Sperrmatozoa adalah gamet jantan dewasa yang berasal dari organisme yang melakukan reproduksi manual. Fungsinya untuk menciptakan gamet jantan dewasa yang nanti secara efektif akan membuahi gamet betina.

Proses atau tahapan spermatogenesis sebenarnya dibagi menjadi tiga, yaitu:

1. Spermatocytogenesis

Sebuah tahapan spermatogenesis dimana

spermatogenia yang sudah mengalami mitosis berkali- kali akan menjadi spermatosit primer. Spermatogenia adalah struktur primitif yang bisa melakukan reproduksi dengan cara mitosis. Spermatogenia memperoleh

nutrisi yang berasal dari sel-sel sertoli dan kemudian akan berkembang menjadi spermatosit primer.

Adapun spermatosit yang memiliki sifat diploit yaitu 2n atau mengandung 23 kromosom berpasangan akan berkumpul di bagian membran epitel germinal yang dinamakan spermatogenia tipe A. Setelah itu,

spermatogenia A akan membelah secara mitosis sehingga menjadi spermatogenia tipe B.

Setelah melalui proses beberapa kali membelah, sel-sel tersebut kemudian menjadi spermatosit primer dan masih bersifat diploid. Spermatosit primer memiliki kromosom diploid atau 2n yang ada di bagian inti sel

(4)

serta mengalami meiosis. Satu spermatosit dapat

menghasilkan dua sel anak, yakni spermatosit sekuner.

2. Tahap Meiosis

Skema spermatogenesis pada tahap meisosis dimulai ketika spermatosit primer menjauhi lamina basalis.

Jumlah sitoplasma akan semakin banyak yang selanjutnya akan mengalami meiosis 1 dan

menghasilkan spermatosit sekunder yang n kromosom atau haploid. Spermatosit sekunder masih akan

membelah lagi secara meiosis 2 sehingga memebntuk 4 spermatid haploid.

Sementara itu, sitokenesis yang ada pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih secara terpisah.

Akan tetapi, masih berhubungan melalui jembatan yang disebut interceluler bridge. Jika dibandingkan dengan spermatosit I, spermatosit II mempunyai inti yang gelap.

3. Tahap Spermatogenesis

Pada tahap atau urutan spermatogenesis ini terjadi sebuah transformasi antara spermatid menjadi

spermatozoid yang mana di dalamnya terdapat 4 fase yaitu fase golgi, fase tutup, fase akrosom, serta fase pematangan. Hasilnya berupa 4 spermatozoa atau sperma yang sudah matang.

Pada saat spermatid pertama kali dibentuk, bentuk sel- sel pada spermatid tidak jauh berbeda dengan sel-sel epitel. Namun ketika sudah mulai memanjang akan berubah menjadi sperma yang kemudian bentuknya akan terlihat berupa kepala dan ekor.

Pada saat spermatogenesis sudah selesai, ABP atau Androgen Binding Protein testosteron sudah tidak dibutuhkan lagi. Kemudian sel sartoli menghasilkan hormon inhibin agar bisa memberi umpan balik kepada

(5)

hipofisis sehingga mampu menghentikan terjadinya sekresi LH dan FSH.

Spermatozoa akan keluar dari uretra yang bersaamaan dengan cairan yang diproduksi oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar cowper, dan kelenjar prostat.

Spermatozoa dan bersama dengan cairan-cairan

tersebut selanjutnya akan dikenal dengan sebutan air mani atau semen. Ketika ejakulasi, jumlah sel

spermatozoa yang dihasilkan oleh laki-laki berkisar antara 300 sampai 400 juta.

(6)

Proses Spermatogenesis

Fertilisasi reproduksi manusia Ringkasan

(7)

 Fertilisasi adalah proses ketika sel

telur bertemu sel sperma dan bersatu membentuk zigot, lalu berkembang menjadi embrio sebagai cikal bakal pembentukan janin;

 Fertilisasi atau proses pembuahan disebut konsepsi

 Untuk mengetahui dan menghitung usia kehamilan biasanya dimulai dari hari pertama haid terakhir (HPHT), yaitu sekitar 2 minggu sebelum proses pembuahan terjadi;

 Proses pembuahan atau fertilisasi diawali dengan masa ovulasi hingga implantasi. Dalam proses ini, terjadi perpindahan sel telur yang sudah dibuahi ke dalam rahim;

 Munculnya hormon kehamilan (hCG) juga menjadi tanda dan akan dideteksi oleh alat tes kehamilan (test pack) sebagai tanda tanda awal kehamilan;

Proses Pembuahan (Fertilisasi) pada Manusia 1. Ovulasi

Sebelum proses pembuahan berlangsung, harus

terjadi ovulasi terlebih dahulu. Ovulasi yaitu keluarnya sel telur dari ovarium (indung telur) yang normalnya terjadi setiap bulan. Seperti dijelaskan disini: proses terjadinya menstruasi.

Di dalam ovarium wanita, ada banyak sel telur, namun dalam setiap bulannya ada satu sel telur yang berada dalam sebuah kantung (folikel) yang dipersiapkan untuk menjadi matang. Proses pematangan ini terutama dipengaruhi oleh hormon FSH (folikel stimulating hormone).

Setelah matang, sel telur keluar dari folikel sehingga terjadilah ovulasi yang dicetuskan oleh hormon LH

(8)

(Leutenizing hormone). Proses ovulasi umumnya terjadi sekitar 2 minggu sebelum haid berikutnya. Pada kondisi tertentu, sel telur yang matang dan berovulasi tidak hanya satu, dan hal inilah yang menjadi alasan

terjadinya hamil kembar.

2. Sel telur berpindah ke saluran tuba falopi Setelah keluar dari indung telur, sel telur berada di tuba falopi dan perlahan menuju rahim. Umur sel telur di dalam tuba falopi hanya 24 jam sehingga ia akan mati dan kehamilan tidak terjadi jika tidak ada yang membuahinya.

3. Meningkatnya hormon

Setelah sel telur meninggalkan folikel, folikel dalam ovarium kemudian berkembang menjadi korpus luteum.

Korpus luteum ini menghasilkan hormon

progesteron yang bertugas menebalkan lapisan dinding rahim dengan nutrisi dan aliran darah sehingga siap sebagai ‘rumah' bagi sel telur yang sudah dibuahi.

4. Jika sel telur tidak dibuahi

Jika tak ada sperma yang membuahi sel telur, sel telur akan berpindah ke rahim dan hancur. Pada saat ini, korpus luteum mengecil dan kadar hormon dalam

tubuh kembali normal seperti biasanya. Lapisan dinding rahim yang menebal tadi mulai mengalami proses

peluruhan sehingga keluarlah yang namanya darah haid.

5. Jika ada proses fertilisasi (konsepsi)

Kalau ada satu saja sperma yang berhasil sampai di saluran tuba falopi dan menerobos masuk dalam sel telur, proses pembuahan bisa terjadi. Sel telur akan

(9)

mengalami perubahan sehingga tak ada sperma lain yang dapat masuk.

Pada saat ini jugalah gen dan jenis kelamin bayi

ditentukan. Jika spermanya mengandung kromosom Y, bayinya laki-laki. Sebaliknya, jika spermanya

berkromosomkan X, yang lahir nanti adalah bayi perempuan.

6. Implantasi: perpindahan sel telur yang sudah dibuahi ke rahim

Tahapan dalam proses fertilisasi selanjutnya

adalah implantasi. Namun, sel telur yang telah dibuahi biasanya masih menetap di saluran tuba falopi selama 3-4 hari.

7. Munculnya hormon kehamilan Setelah implantasi terjadi, tubuh mulai

menghasilkan hormon kehamilan (hCG). Keberadaan hormon inilah yang dideteksi oleh alat tes kehamilan.

Umumnya, butuh waktu 3-4 minggu dari hari pertama haid terakhir agar kadar hCG cukup tinggi untuk

terbaca oleh test pack.

(10)

Penyerbukan melalui hewan

penyerbukan adalah proses jatuhnya serbuk sari ke kepala putik yang mengandung sel kelamin betina.

Jenis Penyerbukan

Penyerbukan dibedakan menjadi empat jenis berdasarkan faktor pembantu penyerbukannya, antara lain sebagai berikut:

1. Penyerbukan Bantuan Angin (Anemogami)

Penyerbukan anemogami adalah penyerbukan yang terjadi karena bantuan angin. Biasanya terjadi pada tumbuhan yang tidak memiliki perhiasan bunga dan memiliki serbuk sari yang banyak dan ringan. Contohnya tanaman padi dan jagung.

2. Penyerbukan Bantuan Air (Hidrogami)

Penyerbukan hidrogami adalah penyerbukan yang terjadi

(11)

karena bantuan air. Penyerbukan jenis ini terjadi pada beberapa tumbuhan air seperti Hydrilla.

3. Penyerbukan Bantuan Hewan (Zoidiogami)

Penyerbukan zoidiogami adalah penyerbukan yang terjadi karena bantuan dari hewan. Terdapat empat macam

penyerbukan jenis ini, diantaranya penyerbukan yang dibantu oleh serangga (entomogami), dibantu oleh burung (ornitogami), dibantu oleh kelelawar (kiropterogami), dan dibantu siput

(malakogami).

4. Penyerbukan Bantuan Manusia (Antropogami)

Penyerbukan juga dapat terjadi dengan bantuan manusia.

Biasanya penyerbukan jenis ini dilakukan karena tidak ada faktor lain yang membantu proses penyerbukan tanaman.

Contohnya adalah vanili dan anggrek.

Sementara itu, berdasarkan tempat terjadinya penyerbukan, ada empat macam penyerbukan yang terjadi pada tumbuhan.

Sebagai berikut:

1. Penyerbukan sendiri, yakni terjadi pada satu bunga.

2. Penyerbukan silang, yakni terjadi pada bunga sejenis tetapi tidak pada satu tumbuhan.

3. Penyerbukan bastar, yakni terjadi pada bunga dan tumbuhan yang berlainan.

4. Penyerbukan tetangga, yakni terjadi pada bunga yang berlainan tapi masih dalam satu tumbuhan.

Proses penyerbukan diawali dengan jatuhnya serbuk sari di kepala putik. Di dalam setiap serbuk sari tersebut terdapat sel kelamin jantan atau spermatozoid yang akan bersatu dengan sel telur.

(12)

Setelah itu, sel kelamin jantan akan bersatu dengan sel telur di dalam ruang bakal biji. Proses ini disebut dengan pembuahan.

Akhir dari proses penyerbukan ini akan menghasilkan biji yang menjadi calon tumbuhan baru.

Perkembangbiakan vegetatif buatan tumbuhan dan sifat keturunannya

Perkembangbiakan vegetatif buatan adalah perkembangbiakan pada tumbuhan yang dibantu atau sengaja dilakukan oleh

manusia. Tujuan dari perkembangbiakan vegetatif buatan yakni untuk meningkatkan mutu dan jumlah hasil.

Jenis Perkembangbiakan Vegetatif Buatan

Cara perkembangbiakan vegetatif buatan yang saat ini sering kita lihat adalah setek, cangkok, merunduk, mengenten atau menyambung, dan menempel.

1. Setek

Setek merupakan cara perkembangbiakan melalui penggunaan bagian batang atau daun dari tumbuhan. Cara setek bisa kita lakukan untuk memperbanyak tumbuhan singkong, tebu, kangkung atau mawar.

Cara melakukan setek adalah dengan memotong batang

secara miring, kemudian batang yang sudah dipotong tersebut ditanam ke tanah yang bagus dan gembur. Mudah bukan?

Namun, kita juga harus memerhatikan cara pemotongan batang karena akan berpengaruh pada hasil seteknya. Jika penampang batang yang dipotong lebih lebar, maka jumlah akar akan tumbuh lebih banyak.

Jika akar yang tumbuh banyak, maka lebih banyak juga mineral atau unsur hara yang bisa diserap tumbuhan hasil setek

tersebut. Selain itu, hasil setek akan tumbuh lebih kokoh

(13)

terlebih jika ditanamkan ke dalam tanah yang subur.

2. Cangkok

Mencangkok adalah cara perkembangbiakan vegetatif buatan tumbuhan dengan menumbuhkan akar pada cabang atau batang tanaman. Bagaimana caranya?

Cara melakukan cangkok ini cukup mudah yakni dengan

menguliti bagian batang yang berkambium lalu menempelkan tanah yang dibungkus menggunakan serabut kelapa atau plastik. Setelah itu, lubangi plastik untuk menyuplai oksigen.

Cangkok yang berhasil terlihat dari akar-akar yang tumbuh di bagian yang sudah ditutup tanah dan plastik tersebut. Setelah lama, akar tersebut akan tumbuhan menjadi tumbuhan kecil dan kita bisa mulai menanamnya di tanah hingga dewasa.

3. Merunduk

Merunduk merupakan salah satu cara perkembangbiakan vegetatif buatan dengan memendam bagian ranting atau cabang tumbuhan ke dalam tanah. Cara ini efektif untuk menghasilkan akar baru yang akan tumbuh.

Setelah akar tumbuh, selanjutnya bisa dipisahkan dari tanaman induk untuk menghasilkan individu tumbuhan baru. Cara

merunduk ini biasanya dilakukan pada tumbuhan alamanda.

4. Mengenten atau menyambung

Menyambung adalah teknik perkembangbiakan vegetatif buatan dengan menggabungkan batang bawah dan batang atas dua tanaman yang sejenis. Menyambung sering pula disebut mengenten.

Tujuan menyambung ialah menggabungkan sifat-sifat unggul dari dua tumbuhan, sehingga diperoleh satu tumbuhan yang memiliki sifat-sifat unggul.

(14)

5. Menempel atau Okulasi

Menempel adalah cara perkembangbiakan vegetatif buatan dengan cara menempelkan sepotong kulit pohon beserta mata tunas dari batang atas, sehingga dapat tumbuh dan bersatu membentuk individu baru.

Perkembangbiakan seksual dan aseksual hewan

Perkembangbiakan Aseksual pada Hewan Membentuk Tunas

Contoh hewan dari Filum Coelenterata adalah ubur-ubur dan Hydra sp. Hewan dari Filum Coelenterata yang

dapat membentuk tunas, misalnya Hydra sp. dan ubur- ubur dari jenis Obelia sp. dan Aurelia sp.

Fragmentasi

Terdapat hewan yang mampu melakukan reproduksi dengan cara fragmentasi atau membelah diri. Planaria merupakan salah satu contoh hewan yang melakukan fragmentasi. Perkembangbiakan dengan cara ini terjadi melalui dua tahap.

(15)

1.Tahap pertama adalah fragmentasi, yaitu

pematahan atau pemotongan tubuh induk menjadi dua bagian atau lebih.

2.Tahap kedua adalah tahap regenerasi, yaitu setiap potongan tubuh induk tersebut membentuk bagian tubuh lain yang tidak ada pada bagian tersebut.

Pada akhirnya, setiap potongan tubuh tersebut akan membentuk individu baru dengan bagian tubuh yang lengkap seperti induknya.

(16)

Partenogenesis

Partenogenesis secara alami dapat dilakukan atau terjadi pada hewan lebah, semut, tawon, kutu daun, dan kutu air. Pada lebah, ovum yang dibuahi akan tumbuh dan berkembang menjadi lebah betina,

sedangkan yang tidak dibuahi akan tumbuh menjadi lebah jantan.

Mulanya lebah ratu akan menghasilkan telur-telur yang menjadi lebah betina dan lebah jantan. Lebah jantan bersifat fertile dan mampu menghasilkan sel kelamin yang digunakan untuk membuahi sel telur yang

dihasilkan oleh lebah ratu sehingga telur akan tumbuh menjadi lebah betina. Lebah betina bersifat steril (tidak mampu membuahi) dan memiliki tugas sebagai pekerja dalam koloni lebah.

Selain lebah, kutu daun, dan kutu air juga dapat berkembang biak dengan cara partenogenesis. Kutu daun betina dan kutu air betina dapat terus menerus bertelur. Telur yang dihasilkan akan berkembang dan menetas menjadi kutu betina tanpa didahului proses fertilisasi. Meskipun begitu, fertilisasi tetap diperlukan untuk menghasilkan individu baru setelah beberapa generasi kutu mengalami partenogenesis.

(17)

Perkembangbiakan Seksual pada Hewan

Sebagian besar hewan berkembang biak secara seksual seperti manusia. Perkembangbiakan seksual terjadi melalui proses perkawinan antara hewan jantan dan hewan betina. Melalui perkawinan akan terjadi proses fertilisasi, yaitu proses peleburan inti sel sperma dan inti sel telur. Proses fertilisasi ini akan menghasilkan zigot. Kemudian, zigot akan berkembang menjadi embrio atau calon anak dan pada tahap selanjutnya embrio akan berkembang menjadi individu baru.

Proses fertilisasi dapat terjadi melalui dua cara, yaitu fertilisasi internal dan fertilisasi eksternal.

1.Fertilisasi internal terjadi apabila proses

peleburan antara inti sel telur dan inti sel sperma terjadi di dalam tubuh induk betina. Contoh hewan yang melakukan fertilisasi secara internal antara lain: sapi, ayam, kura-kura, dan buaya.

2.Fertilisasi eksternal terjadi apabila proses

peleburan antara sel telur dan sel sperma terjadi di luar tubuh induk betina. Fertilisasi dengan cara ini biasanya terjadi pada hewan yang hidupnya di lingkungan perairan, misalnya ikan.

Jenis Hewan yang Berkembangbiak secara Seksual Berdasarkan cara perkembangan dan kelahiran embrionya, hewan yang berkembang biak secara

seksual dibagi menjadi tiga jenis, yaitu hewan vivipar, ovipar, dan ovovivipar.

Hewan Vivipar

(18)

Hewan vivipara atau disebut juga hewan melahirkan adalah hewan yang memiliki embrio yang berkembang di dalam rahim induk betinanya dan akan dilahirkan pada saat umurnya sudah mencukupi. Embrio akan memperoleh nutrisi dari induk melalui perantara plasenta.

Hewan yang baru dilahirkan memerlukan nutrisi.

Sayangnya karena pencernaan bayi hewan belum kuat, maka diperlukan makanan yang mudah dicerna. Oleh karena itu, tubuh mamalia dilengkapi dengan kelenjar mammae yang dapat menghasilkan susu sebagai

makanan yang mudah dicerna dan mempunyai nutrisi yang cukup untuk menumbuhkan anaknya.

Contoh hewan vivipar adalah semua hewan mamalia yang meliputi kucing, anjing, sapi, domba, kuda, singa, gajah, kelinci, singa laut, lumba-lumba, paus, dsb.

Hewan Ovipar

Hewan ovipar atau disebut juga dengan hewan bertelur adalah hewan yang sistem reproduksinya bekerja

dengan cara mengembangkan embrionya di dalam

telur. Telur hewan ini akan dikeluarkan dari tubuh induk betina. Contoh hewan ovipar meliputi semua hewan yang bertelur seperti ayam, burung elang, itik, cicak, katak, penyu, ikan mujair, dsb.

(19)

Hewan ovipar tertentu seperti penyu, ikan mujair, dan katak, menghasilkan puluhan hingga ratusan telur setiap kali bertelur. Namun tidak semua ratusan telur yang dihasilkan yang telah mengalami pembuahan dapat menetas menjadi individu baru. Hal itu karena tidak semua telur penyu yang menetas dapat bertahan hidup sampai dewasa, karena adanya predator, ombak, dan arus laut yang mengancam kehidupan penyu yang baru saja menetas.

Ovovivipar

Hewan ovovivipar atau disebut juga sebagai hewan bertelur dan melahirkan adalah hewan yang embrionya berkembang di dalam telur, tetapi embrio tidak

dikeluarkan dalam bentuk telur seperti pada hewan ovipar. Telur akan tetap berada di dalam tubuh induk betina, baru setelah umur embrio cukup untuk

dilahirkan, telur akan menetas di dalam tubuh induk dan kemudian anaknya dilahirkan. Contoh hewan

ovovivipar antara adalah kadal, iguana, bunglon, ikan pari, ikan hiu, dan sebagian jenis ular.

(20)

Perkembangan Hidup Hewan

Setiap hewan memiliki tahap perkembangan hidup yang dimulai dari perkembangan embrio, proses kelahiran, perkembangan menuju kedewasaan, berkembang biak, dan mengalami kematian.

Pada beberapa jenis hewan, telur akan berkembang menjadi hewan muda yang memiliki struktur dan fungsi organ mirip dengan hewan dewasa (imago).

1.Selama berkembang menuju kedewasaan, hewan muda tidak mengalami banyak perubahan pada struktur dan fungsi organ tubuh. Selama

berkembang, hewan muda hanya mengalami

pertambahan ukuran sehingga menjadi lebih besar.

Perkembangan hewan tersebut disebut dengan perkembangan langsung.

2.Pada jenis hewan yang lain, hewan muda memiliki struktur dan fungsi organ tubuh yang berbeda dengan hewan dewasa. Hewan muda tersebut kemudian berkembang melalui tahap tertentu

sehingga memiliki struktur dan fungsi organ tubuh yang sama dengan hewan dewasa. Perkembangan hewan yang demikian disebut dengan

metamorfosis.

Metmorfosis

Metamorfosis dapat dibedakan menjadi dua, yaitu metamorfosis tidak sempurna dan metamorfosis sempurna.

1.Pada hewan yang mengalami metamorfosis tidak sempurna, telur akan berkembang menjadi hewan

(21)

muda yang disebut nimfa. Nimfa merupakan hewan muda yang mirip dengan hewan dewasa tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil dari hewan dewasa. Selanjutnya, nimfa berkembang menjadi hewan dewasa.

2.Pada hewan yang mengalami metamorfosis

sempurna, telur akan berkembang menjadi hewan muda yang disebut larva. Larva memiliki struktur dan fungsi organ yang sangat berbeda dengan hewan dewasa. Pada hewan tertentu misalnya kupu-kupu dan lalat, larva berkembang menjadi pupa. Selanjutnya pupa berkembang menjadi

hewan dewasa. Selama berkembang, struktur dan fungsi organ tubuh mengalami banyak perubahan sehingga menjadi hewan dewasa.

Seksual sekaligus Aseksual

Pada beberapa hewan, selama perkembangan hidup dari hewan muda menjadi hewan dewasa dapat terjadi perkembangbiakan secara seksual dan secara

(22)

aseksual. Contohnya adalah pada hewan ubur-ubur.

Ubur-ubur dapat dijumpai dalam bentuk medusa dan berada pada tahap seksual yaitu dapat menghasilkan sel kelamin.

Sel kelamin dilepaskan ke air dan dapat mengalami fertilisasi. Zigot akan berkembang menjadi larva dan jika berada pada tempat yang sesuai, larva akan tumbuh menjadi polip yang disebut skifistoma. Saat dalam tahap polip, ubur-ubur dapat berkembang biak secara aseksual melalui pembentukan tunas.

Selanjutnya, polip akan berkembang dan menghasilkan strobili yang akan terlepas dari induknya dan

berkembang menjadi medusa kecil yang disebut efira.

Efira kemudian tumbuh menjadi medusa dewasa.

Selain ubur-ubur, katak juga mengalami perkembangan hidup yang menarik. Katak dewasa akan menghasilkan ratusan telur yang akan menetas menjadi kecebong.

Selanjutnya, kecebong berkembang menjadi berudu yang memiliki kaki. Berudu berkembang menjadi katak muda yang kemudian berkembang menjadi katak

dewasa.

(23)

Referensi

Dokumen terkait

Hewan mampu mendeteksi medan magnet bumi karena di dalam tubuh hewan terdapat magnet. Fenomena tersebut dinamakan biomagnetik. Selain itu, medan magnet bumi dapat membantu hewan

Salah satu bentuk adaptasi morfologi hewan yang hidup di air adalah …3. berkembang biak

Manusia berkembang biak dengan cara beranak. Hewan berkembang biak dengan dua cara. Ada yang beranak dan ada yang bertelur. Hewan yang beranak misalnya kambing dan kelinci. Contoh

Berikut ini merupakan pernyataan yang benar mengenai hewan yang berkembang biak dengan bertelur ..... pertumbuhan dan perkembangan embrio terjadi di luar tubuh

Hewan yang melindungi diri dengan cara mengeluarkan bau yang menyengat adalah ..... Tempat makhluk hidup bertempat tinggal, saling bergantung, dan saling berhubungan

Unta merupakan hewan gurun yang memiliki bulu mata yang panjang, berguna untuk …1. melindungi muka dari pasir dan

Perkembangbiakan yang dilakukan dengan cara menempel-kan kulit yang bertunas pada batang pohon induk disebut .... Ovipar merupakan hewan

5.Unta merupakan hewan gurun yang memiliki bulu mata yang panjang, berguna untuk.. melindungi muka dari pasir dan cahaya