Minggu 2: Kriteria Ekowisata
Topik Materi Catatan
Kriteria Ekowisata
1. Alam
2. Keberlanjutan 3. Pendidikan/edukasi 4. Tanggung Jawab Moral
- Kriteria ekowisata harus berbasis alam, baik yang di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan.
- Keberlanjutan tempat dan masyarakat lokalnya (misalnya buat kelompok masyarakat sadar wisata untuk menggali potensi, tantangan, masalah dan solusi)
- Pendidikan: edukasi dengan membaca sejarah alam (bukan yang buatan) Nature-based 1. Sumber daya alam
2. Wisata alam liar dan ekowisata 3. Aktivitas konsumtif dan aktivitas
non konsumtif
4. ACE (Adventure, Culture, Ecotourism)
5. Ekowisata sebagai wisata massal
Sumber Daya Alam
Sumber Daya Alam elemen lingkungan yang dibutuhkan dan dapat digunakan oleh manusia.
Memiliki nilai manfaat
Barang netral elemen lingkungan yang belum/tidak memiliki nilai manfaat bagi manusia
Kak Nashiha: model ekowisata sumber daya alam berbasis pesantren, karena banyak pesantren yang punya lahan tapi belum dikelola
Ekologi jasa ekosistem melihat manfaat yang dapat diberikan oleh ekosistem
Ekonomi manfaat ekosistem berkaitan dengan kenyamanan manusia
Dari alam itu kita dapat produk dan jasa, jasa itu banyak gagal pasar
Sistem nilai antroposentris (berpusat pada manusia) Suatu barang disebut barang ekonomi apabila untuk
memperolehnya itu perlu pengorbanan
Cost produksi alam tinggi Sumber daya
yang
dikembangka n
- Jalan raya - Fasilitas - Bangunan Sumber daya
yang tidak dikembangka n
- Lokasi geografis - Iklim
- Topografi dan bentuk lahan - Material permukaan - Air
- Vegetasi - Fauna Wisata Alam
Liar dan Ekowisata
Wisata berbasis alam (Nature- based Tourism)
Pariwisata yang menggunakan sumber daya alam dalam bentuk liar atau tidak dikembangkan. Wisata berbasis alam dapat berbentuk:
- Wisata massal - Wisata petualangan - Low-impact tourism - Ekowisata
Motivasi kunjungan wisata:
- Kebaruan dan pembelajaran - Kontras dengan kehidupan
sehari-hari
Pengalaman wisata berbasis alam
sesuatu yang ditawarkan kepada calon-calon wisatawan
1. Keaslian real nature dan back to nature
2. Hiburan kesenangan untuk berada di alam 3. New state of being
perbaikan kondisi fisik dan psikologis
4. Komunitas sosial budaya
Multipplier effect????
Wisata itu harus bisa buat orang mau lama lama di lokasi
Dari KLHK untuk jadi lokasi wisata, minimal ada 3 view
Skala pengukuran statistik Ingat ingat nominal, ordinal, interval, rasio
Untuk tahu nilai keindahan, harus bisa mengkuantifikasi persepsi
non-parametrik
Inkonsistensi Wisata Berbasis Alam
Studi kasus: Teluk La Paz Mexico (Lopez-Espinosa, 2002)
Permasalahan:
- Pengelola membuang
sampah organik ke laut bebas
- Pengelola membiarkan wisatawan mengoleksi souvenir berupa tulang dan cangkang
- Pengelolaan lebih ke arah profit jangka pendek
dibanding konservasi jangka panjang
- Rendahnya koordinasi dari berbagai tingkat
pemerintahan dalam mengelola ekowisata - Pengelola memiliki
pengetahuan yang rendah mengenai tingkat daya dukung
- Adanya pro kontra mengenai kegiatan konsumtif dan nonkonsumtif untuk ekowisata
Inkonsistensi Wisata Berbasis Alam
Wisata Berbasis Alam Aktivitas:
- Wisata petualangan - Memancing
- Berburu
- Mengamati satwa - Ekowisata
Memancing berburu – konservasi >
preservasi/pelestarian (lebih banyak digunakannya)
Ekowisata – konservasi <
preservasi/pelestarian (lebih banyak disimpan)
Saving from use
Aktivitas Konsumtif dan Aktivitas Non-
konsumtif
Aktivitas konsumtif pemanfaatan yang mengurangi jumlah supply sumber daya
Contoh: hunting, fishing Aktivitas nonkonsumtif pemanfaatan yang tidak
mengurangi jumlah supply sumber daya
Contoh: Wildlife viewing
Apakah aktivitas konsumtif seperti berburu dan memancing dapat dijadikan sebagai bagian dari kegiatan ekowisata?
Hewan ditangkap dan dibunuh untuk pengalaman dan kepuasan wisata (personal satisfaction) Contoh non konsumtif: ikan
arwana di suku dayak Type of
Interaction
Ini adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk melihat sebuah kegiatan memancing dan berburu itu bisa dikategorikan pada ekowisata Studi kasus Ekowisata berburu di Kanada
Suku Inuit diberikan kuota per tahun untuk berburu beruang kutub. Kegiatan perburuan dapat dijadikan sebagai wisata, dengan suku Inuit yang berperan sebagai guides.
Aktivitas ini dapat dinyatakan sebagai ekowisata karena adanya aspek sustaiable harvest,
mendukung ekonomi komunitas lokasl serta memanfaatkan tradisi dan pengetahuan lokal.
Why Canada Is Still Hunting Polar Bears:
https://www.btrtoday.com/read/t hemeweek/natural/wednesday- natural-week
Why is trophy hunting legal?
Trophy hunting for conservational funding
Wisata Alam Liar
Pariwisata yang berbasiskan pada pertemuan dengan hewan liar Kategori:
1. Wisata berbasis alam dan komponen satwa liar, satwa liar adalah bagian yang tidak terduga dari produk wisata keseluruhan
2. Lokasi dengan peluang pengamatan satwa liar 3. Objek wisata artifisial,
atraksi buatan manusia di mana hewan disimpan
dalam kandang
4. Spesialis pengamatan hewan (contoh: pengamatan burung)
5. Tur habitat
6. Pertunjukan hewan liar 7. Wisata berburu dan
memancing
Pengalaman wisata berbasis alam liar:
1. Kesan sensoris the wonderful colours of the fish on display
2. Ketertarikan emosional I got quite emotional when I saw the dolphins, they are so intelligent and graceful 3. Respons reflektif I
certainly do not use as many plastic bags
Wisata Budaya
Pariwisata yang berbasiskan pada sejarah, kesenian dan gaya hidup suatu komunitas budaya
Kategori Wisatawan
Ekowisata adalah wisata yang diilhami oleh sejarah alam suatu daerah, termasuk budaya asli daerah tersebut. Sehingga wisata budaya dapat menjadi bagian daeri ekowisata.
Wisata Petualangan
Pariwisata yang berbasiskan pada rekreasi luar ruangan dengan tujuan yang tidak biasa, eksotis, terpencil dan berkaitan dengan tingkat aktivitas tertentu
Kategori:
1. Pengamatan alam
2. Mengamati satwa (contoh:
mengamati burung dan paus)
3. Petualangan air (contoh:
kayak)
4. Petualangan darat (contoh:
mendaki)
5. Petualangan musim dingin (contoh: ski)
6. Petualangan udara (contoh:
bungee jumping, parasut)
Ace Tourism Hybrid antara wisata petualangan, wisata budaya dan ekowisata.
Umumnya pasar tertarik pada ekowisata dan petualangan. Di sisi lain, ada peluang untuk
mengembangkan wisata ACE di New Zealand.
Ekowisata sebagai Wisata Massal
Dua tipe spektrum ekowisata:
1. Hard Ecotourism (active, deep) area yang dikunjungi lebih luas dan lebih ke pedalaman 2. Soft Ecotourism (passive,
shallow)
dampak yang dihasilkan lebih besar
area yang dikunjungi lebih sempit
kontribusi pada konservasi secara finansial lebih besar
karena revenue dari jumlah wisatawan yang lebih banyak
Wisata konvensional/wisata massal dengan ekowisata memiliki
simbiosis: konsep, operasional, dan hubungan spasial
Studi kasus: Ekowisata Phuket, Thailand
Meskipun ekowisata terikat kuat dengan prinsip-prinsipnya, namun dalam pengelolaannya ekowisata Phuket tetap memiliki koneksi struktural dengan industri paket wisata yang menyediakan pasar utama mereka.
Tumpang tindih pasar massal dan ekowisata, yang telah membantu ekowisata bertahan secara finansial.
Pengelola dan wisatawan tetap harus mematuhi praktik ekowisata yang ketat, yaitu:
- Konservasi lingkungan - Keberlanjutan
- Rendah dampak - Aktivitas nonkonsumtif Pengelolaan ekowisata sebagai wisata massal dapat menyebabkan ekowisata kehilangan
integritasnya.
Sekelompok besar orang
mengunjungi kawasan ekowisata tiba di tujuan mereka dengan pesawat, tinggal di akomodasi mewah, mengharapkan dimanjakan dengan semua kenyamanan
modern, dan menghabiskan sedikit uang di daerah tujuan karena semuanya prabayar sebelum keberangkatan.
Ecotraveller berdampak rendah, backpacking atau berkemah untuk
menghemat uang akomodasi, tetapi menghabiskan uang secara spontan ke mana pun mereka bepergian, mengejar pengalaman hidup minimal di hutan belantara.
Permasalahan:
- Munculnya pesaing
- Terlalu banyak pengunjung dalam waktu yang relatif terbatas
- Volume wisatawan tidak bisa lagi disebut sebagai ahli lingkungan, tetapi lebih pada peserta lingkungan
- Kontrol yang ketat perlu dilakukan untuk melindungi aset budaya dan ekologi Studi kasus:
ekowisata urban
Ekowisata urban adalah kegiatan kunjungan dan apresiasi pada lingkungan pemukiman dan kultur budaya, sembari melakukan aktivitas fisik, pembelajaran dan interaksi sosial, mempromosikan kesehatan dengan promosi jalan kaki, bersepeda, transportasi umum; menikmati warisan budaya lokal dan seni;
dan dapat diakses dan adil bagi semua orang.
Tempat logis untuk ekowisata perkotaan meliputi taman,
lapangan golf, kebun binatang dan kebun raya.
Jika perencana mampu
mengintegrasikan aspek kunci konservasi, pendidikan lingkungan, kesejahteraan masyarakat, etika dan keberlanjutan, maka mungkin legitimasi ekowisata di lingkungan perkotaan dapat diterima.
Kesimpulan Kesulitan dalam membedakan ekowisata dengan banyak bentuk wisata berbasis alam lainnya diperumit oleh kesamaan latar belakang wisata. Wisata
petualangan, wisata alam liar dan wisata budaya, memiliki karakter yang berbeda namun dapat saling berkaitan.
Kegiatan konsumtif seperti memancing dan berburu untuk ekowisata masih diperdebatkan.
Masih ada pertanyaan tentang keabsahan kegiatan itu.
Kondisi Mangrove Indonesia
Indonesia memiliki 21% (3.490.000) dari hutan mangrove dunia.
Mangrove ini dapat menjaga keseimbangan ekosistem, menjaga keanekaragaman hayati.
Saat ini 19,26% hutan mangrove di Indonesia dalam kondisi kritis dan sebagian besar yang kritis tersebut berada di kawasan hutan.
Lembaga yang berwenang adalah:
BRGM, KLHK, Daerah dan Desa tertinggal, Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Di Indonesia, mangrove paling banyak di Papua
Desa wisata itu awalnya berkembang di Eropa
Minggu 3: Sustainability
Topik Materi Catatan
Sustainable Development and Tourism
- Memenuhi kebutuhan saat ini tanpa
mengganggu/mengurangi kemampuan generasi selanjutnya untuk
memenuhi kebutuhannya - Keseimbangan antara
ekonomi, sosial dan ekologi sangat cocok dengan konsep pariwisata (banyak studi literatur yang muncul sejak 1980an)
- Pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) berdasarkan Konferensi Globe ’90 di British Columbia, Canada:
1. Untuk mengembangkan kesadaran/awareness dan memahami
kontribusi signifikan dari kegiatan pariwisata terhadap lingkungan dan ekonomi
2. Untuk mempromosikan
“equity”
3. Untuk meningkatkan kualitas hidup dari masyarakat setempat 4. Untuk menyediakan
pengalaman yang berkualitas bagi para pengunjung/turis 5. Untuk merawat kualitas
lingkungan yang menjadi sandaran dari semua poin di atas
- Menjadi perubahan struktural dalam masyarakat.
- Dalam SDA ada 2 paradigma yang dianut;
maltusian, ricardian.
- Indikator sustainable di ekonomi??
Aspek Sosial McKool (1995) Ketika sebuah komunitas kehilangan karakter yang membuat mereka berbeda dan menarik bagi turis, mereka telah kehilangan kemampuan untuk bersaing dalam pendapatan
berbasis wisata di pasar global yang
- Perbedaan atraksi wisata dengan produk wisata?????
- Atraksi wisata itu biasanya ada prosesnyav
kian kompetitif.
Syarat pariwisata berkelanjutan berhasil:
- Bagaimana turis menghargai lingkungan alam
- Bagaimana komunitas meningkat melalui pariwisata
- Identifikasi dampak sosial dan ekologi
- Pengelolaan dampak Indikator Inti
Ekowisata Berkelanjutan
Indikator Pengukuran spesifik
Site Protection Kategori site protection berdasarkan indeks IUCN Stress Jumlah turis yang mengunjungi site (per annum/peak month) Use intensity Intensitas penggunaan pada peak period (orang/hektar) Social impact Rasio turis dan penduduk lokal (peak period and over time)
Development Control Adanya prosedur tinjauan lingkungan atau kontrol formal untuk pengembangan site dan
Kriteria Inti Definisi Ekowisata
The Beyond the Green Horizon mengenai Sustainable Tourism (Tourism Concern, 1992) Sustainable tourism adalah:
Pariwisata dan infrastrukturnya yang di masa kini dan yang akan datang: selalu mempertimbangkan kapasitas alam untuk regenerasi dan produktivitas sumber daya alam Kenali kontribusi masyarakat, adat dan budaya dan jadikan
- Prinsip Kriteria Indikator
parameter - Aspek ekonomi dari
pariwisata?
- Prinsip: ekonomi
- Kriteria: kontribusi terhadap apbd
- Indikator: Pajak, retribusi - Parameter: gaji per bulan
pengalaman berwisata. Pahami bahwa masyarakat setempat harus memiliki pembagian yang adil dalam keuntungan ekonomi dari pariwisata yang dipandu oleh masyarakat setempat tersebut.
How theory translate into good
practice?
Hunter (1995); Ekowisata berkelanjutan gagal karena membiarkan perencanaan dan pengelolaan pariwisata dengan cara yang tidak sesuai dengan desain pembangunan berkelanjutan Macbeth (1994); Ekowisata berkelanjutan lebih bersifat reaksioner daripada proaktif capitalism
Burr (1995); Ekowisata
berkelanjutan tidak mungkin terjadi kecuali masyarakat pariwisata bekerja bersama-sama untuk mewujudkannya
Clarke (2002); tidak ada pariwisata yang benar-benar berkelanjutan, karena keberlanjutan lebih
merupakan proses menuju keadaan yang diinginkan, bukan tujuan itu sendiri.
-
Specific market =/= site specific/regional perspectives Fakta-fakta
Kaosa (2002); Thailand case - Turis: kualitas bukan
kuantitas - Profitable
- Spend money on local - Perputaran uang di
masyarakat lokal
-
Conceptualisi ng tourism and
sustainability
Clarke (1997)
Pendekatan tentang hubungan antara sustainability dan tourism Terdapat 4 tahapan yaitu:
1. Perspective 2. Continuum 3. Movement 4. Convergence
-
Mendukung Pariwisata sebagai community -
ekonomi lokal, melibatkan masyarakat lokal
development tool:
- Kontribusi ekonomi - Diversifikasi sektor-sektor
ekonomi
- Menyatukan anggota komunitas masyarakat Conventional Community Development dan Community Economic Development
- Membantu konsumen menjadi produsen,
pengguna menjadi penyedia, dan karyawan menjadi pemilik usaha
- Peran pariwisata: menjamin kualitas hidup komunitas masyarakat
Christensen 1995; Pengembangan pariwisata dikatakan mempengaruhi perubahan kualitas hidup anggota masyarakat, yang pada gilirannya menimbulkan dampak pada skala sosial yang berbeda
Drake 1991; Partisipasi lokal;
kemampuan masyarakat lokal untuk mempengaruhi hasil proyek
pembangunan seperti ekowisata yang berdampak pada mereka Model partisipasi lokal dalam pengembangan proyek ekotourism menurut Drake:
Fase 1: Tentukan peran partisipasi lokal dalam proyek
Fase 2: Menentukan tim riset Fase 3: Melakukan studi pendahuluan
Fase 4: Menentukan keterlibatan lokal
Fase 5: Menentukan mekanisme partisipasi yang tepat
Fase 6: Inisiasi dialog dan upaya edukasional
Fase 7: Pengambilan keputusan kolektif
-
Fase 8: Pengembangan rencana aksi dan skema implementasi
Fase 9: Monitoring dan evaluasi Case Study:
Aboriginal Ecotorism
- Tinggal di daerah-daerah terpencil, terpinggirkan secara sosial dan ekonomi dengan sangat sedikit pilihan dalam sebuah kehidupan - Akses ke tanah (land)
-
5. -
6. -
7. -
8. -
9. -
10. -
11. -
Minggu 5: Moral Imperative
Topik Materi Catatan
Etika Alami Homo sapiens:
1. Mengukur konsekuensi dari suatu tindakan
2. Membuat pertimbangan nilai 3. Memilih antara berbagai
tindakan yang berbeda
- Ada etika secara filosofi - Manusia berhadapan
dengan suatu norma dan kebiasaan
- Etika tidak hanya dilihat dari sisi teologi, tapi juga
sosiologi
- Manusia adalah agen-agen yang aktif
- Antroposentris karena manusia sudah bisa
mengukur konsekuensi dari suatu tindakan, bisa
memberikan penilaian terhadap manfaat - Gagal pasar karena
keterbatasan manusia dalam menerjemahkan fenomena kepada angka-
angka/ekonomi yang terukur - Green economy
menginternalisasi aspek lingkungan dalam keputusan ekonomi yang
diambil/kegiatan perekonomian
- Green economy = PDB (brown) – Deplesi SDA – Degradasi lingkungan - Deplesi: penurunan
produktivitas
- Degradasi: penurunan kualitas
- Blue economy: zero waste?
- Deplesi dan degradasi itu cost
Altruisme
Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri.
Merupakan lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri.
Timbal balik altruism diketahui sebagai sistem interaksi antara individu yang didasarkan pada cost dan benefit, di mana setiap individu bersikap altruistic satu sama lain.
- Timbal balik antara penerima dan pemberi
Hubungan Altruism dengan Sistem Pariwisata Saat ini
1. Pariwisata adalah interaksi jangka pendek antara host dan guest
2. Hubungan kooperatif tidak bisa seketika diciptakan 3. Kecurangan sangat mungkin
terjadi terdorong oleh
-
ketamakan, keserakahan, dan keinginan yang secara alami ada dalam diri kita
4. Karena pengukuran cost and benefit sudah ada pada diri kita secara alamiah
Contoh konflik pariwisata
Di Hawaii:
We don’t want tourism. We don’t want you. We don’t want to be degraded as servant and dancers.
That is cultural prostitution, I don’t want to see a single one of you in Hawaii. There are one innocent tourist.
Terhadap satwa:
- Jaguar yang dirantai 24 jam non-stop untuk
dipertontonkan (Mexico) - Manusia menghalang jalan
penyu berterlur (Costa Rica)
- Carrying capacity real, carrying capacity kawasan
Etika Peraturan, standar, dan prinsip yang diperuntukkan untuk kebenaran dalam anggota dari masyarakat atau profesi. Etika didasarkan pada nilai moral
-
Filosofi Moral
-
-
1. Menempatkan
masyarakat setempat di sekitar kawasan
konservasi sebagai subjek, membangun dialog untuk
merencanakan bersama 2. Hargai
3. Kerja sama lintas eselon, 4. kerja sama lintas
kementrian
5. Hargai kearifan lokal 6. Kepemimpinan 7.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
- -
Minggu 10: Pariwisata dalam Perencanaan
Topik Materi Catatan
- bahan review diskusi - gaada uas asyiieeeek - format penulisan: paparan
bebas, referensi makalah ilmiah (jurnal)
- paparan, bahan paparan, makalah
Konsep Pariwisata
Pariwisata:
1. ekonomi
2. dampak sustainability 3. happiness
Aktivitas yang mirip pariwisata:
1. Pengunjung 2. Ekskursionis 3. Migrasi 4. Wisatawan
- pariwisata itu berkontribusi 10% pada ekonomi global (pada kondisi normal)
- komposisi lainnya adalah: oil and gas, otomotif, chemical industry
- Happiness index salah satu penyumbangnya adalah tourism
- In situ consumption
Pariwisata adalah pergerakan sementara/temporer, orang ke destinasi (tujuan) di luar tempat kerja dan di luar tempat tinggal biasa, semua aktivitas dilakukan selama mereka berada di destinasi, dan tersedia fasilitas yang
diciptakan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.
Orang
Aktivitas (ekonomi, ada nilai tukar) Fasilitas (inter-relasi manusia, aktivitas dan jasa/services)
dikonsumsi di tempat ia diproduksi . contoh: hotel - Orang punya profil dan
karakterisitik yang
menggambarkan kebutuhan, kegiatan
Wisatawan Wisatawan
internasional/mancanegara:
Seseorang yang melakukan perjalanan ke suatu negara selain negara tempat tinggal biasa selama, setidaknya sehari-semalam tetapi tidak lebih dari satu tahun, tujuan utama kunjungannya bukan untuk melakukan aktivitas yang dibayar (renumerated) dari dalam negara yang dikunjungi
Wisatawan domestik/nusantara - Melakukan perjalanan
dalam wilayah Indonesia, antar kabupaten/kota. Hal ini mengacu pada referensi yang sama dalam Balance of Payment yang dipakai BPS berdasarkan SNA
- Perjalanan dilakukan di luar lingkungan sehari-hari - Tidak dilakukan di luar
lingkungan sehari-hari - Tidak dilakukan secara rutin
dianggap rutin jika frekuensinya >= 4 kali dalam sebulan
- Lama perjalanan kurang dari 12 bulan
- Bukan terjuan untuk
mendapatkan upah/gaji dari
- Batas ruang, waktu
residen di tempat tujuan - Minimal melakukan
perjalanan di
kabupaten/kota tujuan selama 6 jam.
Ekskursi Pengunjung yang
- Berdomisili di suatu negara - Melakukan perjalanan pada
hari yang sama ke negara selain negara di mana ia tinggal biasanya
- Kurang dari 24 ham tanpa bermalam di negara yang dikunjungi dan
- Tujuan utamanya bukan merupakan kegiatan yang dibayar dari negara yang dikunjungi
- Bedanya apa sie
Pariwisata Bersifat holistik dan saling terkait - Bidang multi-disiplinari - Dihasilkan oleh permintaan
dan penawaran
- Permintaan: keragaman minat dan kemampuan - Penawaran (supply):
pengembangan fisik dan program diperlukan untuk melayani wisatawan
- Termasuk dimensi geografis, ekonomi, lingkungan, sosial dan politik
- Baru disebut pariwisata kalau ada interaksi permintaan dan penawaran
Sistem Kepariwisata an
Pariwisata sistem untuk
menggambarkan keterkaitan antara berbagai sektor yang
memungkinkan kegiatan wisata (leisure travel) ke dan dari suatu destinasi
Tingkat geografis – empat elemen dasar:
1. The environment 2. Transit region or route 3. Destination region 4. Generating region Sistem kepariwisataan
- Komponen sistem saling
- Terdapat interaksi ruang, makanya kalau di satu daerah itu gak disebut wisata
- Biasanya daerahnya
ditentukan batas administrasi - Demandwisatawan
-
berhubungan
- Hubungan yang saling bergantung
- Operator berbeda - Tata kelola yang berbeda Demand:
Demography <-> Geography <->
Psychography (kebutuhan selama perjalanan) <-> Behavioristic (karakter individu)
Supply:
- Attraction - Transportation - Services - Information - Promotion Perencanaan
Kepariwisata an
Kebutuhan akan perencanaan pariwisata merupakan respon terhadap efek yang tidak diinginkan dari pembangunan pariwisata khususnya di tingkat lokal serta untuk membuat destinasi lebih menarik atau kompetitif.
-
- -
Minggu 11: The Conscience of Sustainable Tourism
Topik Materi Catatan
- Tourism:
1. Mass Conventional Tourism
2. Alternative Tourism (Cultural, rural, agro, eco, educational)
- Mass conventional tourism fokus pada pertumbuhan ekonomi, fokus pada jumlah turis, dan bisa menyebabkan degradasi lingkungan. Apabila alternative tourism memiliki sifat tersebut, maka ia sudah berubah menjadi mass conventional tourism.
- Deleberative:
1. Perencanaan 2. Penyengajaan 3. Anticipating 4. By design
5. Pemikiran matang alternative
Introduction An increasing number of destinations are aggressively
pursuing ecotourism as a specialized part of their sustainable tourism development strategies.
- Price, evidence
Kriteria ekowisata
- Undisturbed nature area - Specific object
- Alam, tapi juga termasuk yang non alam (cultural) - Pertemuan alam dan
komponen-komponennya dengan human activity (budaya)
- Berusaha untuk engage dengan alam (bukan kegiatan sehari-hari) -
- Consultant = policy advisor - Ecotourism 1983
- Carrying capacity: physical, persepsi
- - - Minggu 12: Conventional Mass Tourism
Topik Materi Catatan
- - - - - - - - -