Ilmu Ekonomi Islam: Rasionel Suatu Disiplin Baru
Pesatnya kemajuan teknologi masa kini telah menjadikan dunia menyerupai sebuah desa kecil. Kendatipun kepesatan teknologi telah mampu mereduksi secara dramatis jarak antara berbagai belahan dunia, akan tetapi irionis sekali bahwa jurang pemisah hubungan antar manusia justru kian melebar. Dan kendatipun, di satu pihak, terdapat kemajuan dalam memberikan apresiasi terhadap perbedaan-perbedaan budaya, peradaban, tradisi dan gaya hidup kita tetap saja disuguhi berita-berita tentang pelanggaran HAM di mana- mana; tidak saja di negara-negara berkembang melainkan juga di negara- negara maju. Barangkali آ inilah salah satu penyebab utama situasi umum di mana fenomena konflik merupakan ciri menonjol yang dominan dalam
hubungan antar masyarakat manusia dewasa ini baik itu lokal, regional maupun internasional.
Kini banyak kemajuan yang menyiratkan bahwa hakikat hubungan ini telah mulai berubah. Secara ekonomi kita tengah bergerak menuju suatu kooperasi dan saling ketergantungan. Globalisasi yang kini tengah membentuk dirinya menunjukkan pola di atas. Dalam konteks skenario ekonomi masa kini yang ditandai oleh persaingan, efisiensi, pragmatisme dan keterbukaan adalah sangat tepat jika kita melihat suatu kemungkinan baru yang mencoba
mengajukan suatu alternatif dalam disiplin keilmuan sosial dan suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam yang berbeda dari sistem ekonomi konvensional. Ilmu ekonomi Islam (Islamic Economics), barangkali itulah namanya, menjadi pembicaraan yang hangat di kalangan para ilmuwan sosial baik muslim maupun non-muslim. Ilmu Ekonomi Islam ini diyakini merupakan obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai macam simptom penyakit ekonomi yang diderita oleh umat manusia sejagat.
Teori Ekonomi Masa Kini
Apabila kita renungkan secara mendalam tentang situasi ekonomi kontemporer, maka kita akan berkesimpulan bahwa ada satu problem
ekonomi yang sangat mendasar yang sedang kita hadapi sekarang. Kerangka kerja ekonomi yang telah dikembangkan selama 5 dekade terakhir tidak mampu memecahkan masalah tersebut. Malahan kerangka kerja ekonomi kovensional itu telah menghadapkan kita pada kemiskinan massal, kegagalan tinggal landas dalam proses pembangunan, dan penurunan secara
substansial kualitas kesejahteraan material manusia. Di pihak lain, terutama di negara-negara maju, kerangka kerja ilmu ekonomi konvensional tidak mampu memecahkan persoalan-persoalan ekonomi seperti pengangguran, inflasi, stagflasi, ketidakstabilan moneter, defisit anggaran belanja dan masalah-masalah lingkungan. Dalam kaitannya dengan ekonomi
internasional, kita justru melihat kian melebarnya disparitas antara berbagai negara dan kawasan baik yang bersumber dari perbedaan penguasaan ilmu pengetahuan maupun teknologi atau karena sebab-sebab sosio-ekonomi yang berujung kepada divergensi kondisi material yang antagonis. Belum lagi ditambah dengan ketidak merataan distribusi pendapatan dan kekayaan yang kini telah menjadi pemicu utama gejolak sosial di mana-mana dan
pengurasan sumber-sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui (non- renewable resources) secara irasional telah menjadi suatu ancaman serius bagi kelangsungan peradaban umat manusia.
Banyak pakar yang telah mengisyaratkan kelemahan-kelemahan teroritis ilmu ekonomi konvensional dan sebagian malah ada yang mengajukan proposal radikal dengan mengajukan usul untuk mengganti paradigma ilmu ekonomi yang ada. Prof. P.A. Samuelson, peraih hadiah Nobel dalam ilmu ekonomi tahun 1970, Gunnar Myrdal, peraih Nober 1974, Jan Tinbengen, peraih Nobel pertama di bidang ekonomi pada tahun 1969, Harvey Leibenstein, Kurt Dopfer dan masih banyak lagi yang lain adalah sejumlah kecil dari pakar Barat yang dengan jelas melihat kelemahan dan kekurangan dalam paradigma ilmu ekonomi konvensional. Karena itu amatlah benar jika orang berpendapat bahwa bagaimana mungkin suatu cabang ilmu pengetahun yang di dalam dapur epistimologinya terdapat demikian banyak persoalan filosofis yang tidak terselesaikan akan dapat memberikan kesejahteraan material dan spiritual, kedamaian, kebahagiaan kepada manusia. Maka pantaslah jika persoalan pokok ekonomi seperti pemenuhan kebutuhan pokok, pendidikan, fasilitas kesehatan, keamanan sosial dan lain sebagainya masih jauh dari yang diinginkan dalam buku-buku teks ilmu ekonomi.
Kebangkitan Islam Kontemporer
Menggejalanya kajian-kajian di seputar ilmu ekonomi Islam tidak dapat dipisahkan dari fenomena kebangkitan kembali آ (Islamic Resurgance) kepada ajaran-ajaran Islam yang segar dan orisinal dan yang telah melanda di seluruh dunia Islam bahkan di kawasan minoritas Muslim. Studi yang cukup serius dalam aspek ini merupakan buah dari gerakan kebangkitan Islam yang meliputi semua aspek kehidupan manusia, apakah itu politik, ekonomi, moral, ideologis atau kultural. Kebangkitan Islam yang melanda hampir di seluruh dunia kini tengah mencari kehidupan baru, suatu tatanan baru di mana
jangkauannya tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi belaka. Penggerak utama di balik kebangkitan ini adalah keinginan mereka untuk merekonstruksi struktur masyarakatnya dan perekonomiannya dengan mengadopsi
nilai–nilai keimanan, agama dan tradisi sejarah mereka.
Sama dengan gelombang lautan, gelombang kebangkitan ini tidak dapat dihentikan oleh kekuatan manusia manapun juga. Bahkan seorang sekaliber Jimmy Carter, mantan presiden Amerika Serikat, terpaksa harus mengakui riak gerakan kebangkitan Islam di Amerika dengan lapang dada, karena menyadari bahwa gerakan ini tidak dapat dihentikan. Bagaimana mungkin mereka akan menghentikan laju gerakan ini, jika roh yang menjadi penggerak kebangkitan ini adalah Islam itu sendiri.
Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Terkesan oleh krisis yang melanda teori ekonomi kontemporer, para pakar ekonomi Muslim mencoba melakukan suatu terobosan dengan membangun suatu pendekatan baru, suatu disiplin baru yang dapat digambarkan sebagai ilmu ekonomi Islam. Tentu disiplin ini masih dalam proses kelahirannya atau dalam pembentukan formatnya. Namun demikian contour-nya sudah sangat jelas.
Nah, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ilmu ekonomi Islam itu ? Banyak kalangan umat Islam yang hingga kini masih belum mendapatkan gambaran yang benar mengenai Ilmu ekonomi Islam. Sebagian dari mereka menganggap ilmu ekonomi Islam adalah bank Islam, asuransi Islam dan lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya. Sebagian lainnya
menggambarkan bahwa ilmu ekonomi Islam adalah bagian dari fiqh yang berkaitan dengan muamalah. Sebagian lainnya bahkan memandang bahwa ekonomi islam itu tidak lain adalah “ayatisasi†– legitimasi teori dengan ayat-ayat al Qur’an – dari ilmu ekonomi yang sedang diajarkan.
Ketidak jelasan mengenai ekonomi Islam itu adalah wajar mengingat bahwa ilmu ekonomi Islam masih dalam taraf pembentukan. Meskipun para pakarnya sudah memberikan gambaran yang lebih jelas dan komprehensif, tetapi pada tingkat lintas disiplin masih menemukan berbagai tanggapan sehingga masih sangat perlu adanya perjernihan konsep untuk mendudukan persoalan
tersebut pada proporsi yang tepat.
Di sini akan dicoba untuk memberikan batasan tentang ilmu ekonomi islam berdasarkan definisi-definisi yang diajukan oleh para pioner ekonomi Islam.
Ilmu ekonomi Islam adalah suatu upaya yang sistematis mempelajari masalah-masalah ekonomi dan perilaku manusia dan interaksi antara keduanya. Upaya ilmiah itu juga mencakup masalah pembangunan suatu
kerangka kerja ilmiah untuk membentuk pemahaman teroritis (theoritical understanding), rekayasa institusi yang diperlukan dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan proses produksi, distribusi dan konsumsi yang dapat membantu memenuhi kebutuhan manusia secara optimal dan ideal.
Tentu saja batasan di atas masih bersifat tentatif namun jelas memberikan gambaran yang آ tegas bahwa ilmu ekonomi Islam adalah studi tentang problem-problem ekonomi dan institusi yang berkaitan dengannya. Ilmu
ekonomi Islam memiliki akar teologi, tetapi ia bukanlah kajian yang mendalam tentang teologi dan memang bukan bagian dari teologi. Ilmu ekonomi Islam memiliki hubungan yang erat dengan fiqh dan perudang-undangan islam آ آ (syari’ah dan tasyri’) terutama subjek yang berkaitan dengan
hubungan antara manusia (muamalah). Akan tetapi ia bukanlah suatu aspek dari fiqh. Ilmu ekonomi Islam adalah ilmu ekonomi; dan keprihatinan
utamanya adalah problema-problema ekonomi dan institusinya. Dalam perspektif inilah ia seharusnya dipandang sebagai suatu disiplin akademik.
Ekonomi Islam dan Ekonomi Tradisional Beberapa Perbedaan
Akan tetapi apa sesungguhnya yang membedakan antara ilmu ekonomi Islam dan ilmu ekonomi yang berlaku pada umumnya yang sudah biasa kita kenal dengan ekonomi konvensional (conventional economics)?
Pertama dan yang pokok adalah ilmu ekonomi, dalam pandangan Islam, tidak dapat netral terhadap nilai-nilai. Ilmu ekonomi Islam (Islamic Economics) jelas akan melakukan fungsi eksplanatori (penjelasan) terhadap suatu fakta secara objektif. Ia juga akan melakukan fungsi prediktif seperti yang dilakukan oleh ilmu ekonomi konvensional. Dalam menjalankan kedua fungsi ini, ia
menjalankan fungsi utama sains secara positif atau mencoba menjelaskan “apa†(what is). Namun kiprahnya tidak hanya terbatas pada aspek positif berupa penjelasan dan prediksi saja. Pada tahapan tertentu ia harus juga melakukan fungsi normatif, menjatuhkan penilaian (value judgement) dan menjelaskan apa yang seharusnya (what should be)آ Ini berarti bahwa ilmu ekonomi Islam bukanlah value-netral. Ia memiliki seperangkat nilainya
tersendiri, kerangka kerja nilai-nilai di mana ia beroperasi. Karena itulah maka reformasi ekonomi Islam tak dapat dilakukan secara isolasi atau parsial, ia hanya dapat dilakukan dalam konteks Islamisasi masyarakat secara total.
Kedua, dalam kerangka ini, hubungan–hubungan teknis akan dipelajari dan dikembangkan dengan tetap mempertimbangkan maslahat dan tetap dalam konteks suatu kerangka nilai. Dengan demikian ilmu ekonomi Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana perilaku manusia ekonomi itu (economic man) dalam lapangan ekonomi, tetapi juga bagaimana suatu disiplin normatif
dapat diimplementasikan dan diinjeksikan ke dalam diri manusia ekonomi itu sehingga sasaran yang hendak diinginkan Islam dalam bidang ekonomi dapat diwujudkan. Pola perilaku manusia ekonomi dalam paradigma ilmu ekonomi konvensional akan berbeda dari pola perilaku manusia Muslim tidak saja dalam bidang ekonomi, melainkan juga di seluruh bidang. Ini suatu realitas.
Ketiga, karena citranya yang demikian itulah maka dalam kerangka kerja ini terdapat peran kebijakan dari sektor pemerintah terhadap perilaku manusia agar tetap berada pada arah realisasi dan pemenuhan akan nilai-nilai
tersebut. Hal ini menjadikan lingkup kajian ilmu ekonomi Islam lebih luas dan komprehensif. Lebih komprehensif karena ia bukan hanya berbicara tentang motif tetapi juga perilaku, lembaga dan kebijakan. Ia memperlajari perilaku manusia seperti apa adanya, namun ia juga memiliki suatu visi tertentu di masa yang akan datang di mana perilaku manusia harus diarahkan
kepadanya. Pendekatan demikian merupakan ciri menonjol dari ilmu ekonomi Islam.
Bila kita mempelajari ajaran-ajaran Islam di bidang ini, kita dapat
menyimpulkan beberapa poin yang sangat penting sebagai petunjuk untuk membangun disiplin ini. Pertama, Islam memberikan petunjuk kepada kita tentang adanya seperangkat tujuan dan nilai-nilai dalam kehidupan
perekonomian. Kedua, Islam memberikan kepada kita sikap psikogis dan satu sprektrum yang mengandung motif-motif dan insentif. Islam juga memasok prinsip-prinsip hubungan perekonomian. Pokok-pokok petunjuk di atas merupakan hasil inferensi yang kita petik dari ruh ajaran Islam.
Dengan demikian ekonomi, bagi umat Islam, merupakan salah satu bagian dari sistem ideologi dan etika Islam. Sebagai suatu ajaran dari keseluruhan suatu bangunan, ia jelas memiliki ciri-ciri yang menonjol akan tetapi ia tidak bisa berdiri sendiri. Ia hanya dapat berjalan optimal jika keseluruhan sistem berjalan ke arah yang satu. Karena itu Islamisasi ekonomi hanya mungkin terjadi secara efektif dan komprehensif jikalau hal itu dibarengi dengan Islamisasi di bidang-bidang kehidupan yang lain. Hanya dengan cara seperi inilah maka rahmat Islam akan dapat dirasakan tidak saja baik kaum Muslimin sendiri melainkan juga bagi seluruh manusia dan makhluk lain di jagat raya.
Pandemi covid-19 yang telah berlangsung satu setengah tahun ini telah membuka mata banyak pihak atas peran sektor kesehatan terhadap ketahanan nasional dan kesejahteraan sosial dalam bernegara.
Sesuai dengan visi yang tercantum di dalam Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia, yaitu untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri, makmur, dan madani, maka kemandirian industri kesehatan adalah hal yang perlu dipenuhi. Sejalan dengan hal tersebut, Direkorat Industri Produk Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) memiliki fokus pengembangan industri kesehatan syariah sebagai sektor potensial yang perlu dibangun. Hal ini dalam rangka mendukung pembangunan nasional.
Direktur Industri Produk Halal KNEKS, Afdhal Aliasar mengatakan bahwa industri kesehatan syariah adalah sektor dengan multiplier effect yang baik bagi perekonomian Indonesia. “Selain karena kehadirannya akan memberikan manfaat dan kemaslahatan masyarakat secara luas, industri kesehatan syariah dapat menghidupkan sektor lainnya, yakni wisata ramah muslim di Indonesia,” jelas Afdhal dalam diskusi virtual bersama Salman ITB dan MUKISI (28/4).
Kedepannya, KNEKS akan terus mendorong percepatan pembangunan industri kesehatan syariah dengan cara memperkuat infrastruktur, seperti rumah sakit, industri farmasi, industri alat kesehatan, tenaga medis, dan produk-produk kesehatan lainnya. Hal ini dalam rangka untuk menjamin kebutuhan masyarakat atas pelayanan yang sejalan dengan nilai syariat islam.
Memiliki cita-cita yang sama dengan KNEKS, YPM Salman ITB bersama dengan PT Salman Global Medika sedang membangun Kompleks Rumah Sakit (RS) Salman Hospital yang berlokasi di Sekarwangi Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pembangunan rumah sakit turut menggunakan skema wakaf produktif.
“Alasan membangun RS Salman ini berangkat dari keinginan untuk berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, memberikan pelayanan kesehatan bagi yang sudah berusia, untuk kaum dhuafa, yang alhamdulillah, juga memiliki nilai yang sejalan dengan program
pemerintah yakni bersama KNEKS,” ujar ketua umum Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, Prof Suwarno.
Direktur Utama PT. Salman Rasidi Semesta, Dadang Rukanta dalam ruang diskusi yang sama turut menambahkan, “Selain aspek medis, infrastruktur, teknologi, lingkungan, food & beverages, serta standar pelayanan yang mumpuni, aspek SDM juga sangat penting dalam membangun rumah sakit ini. Kita harus bisa melahirkan insan-insan yang meneladani sikap sebagai tenaga kesehatan muslim, sehingga mampu memberikan pelayanan prima yang memenuhi keyakinan dan ibadah pasien. Semua aspek tersebut kemudian akan menjadi sarana internalisasi nilai-nilai islam baik bagi para pengunjung, pasien, maupun karyawan rumah sakit,” ujar dia.
Masyarakat Indonesia yang didominasi muslim, termasuk di provinsi Jawa Barat, membuktikan bahwa rumah sakit dengan pelayanan sesuai nilai- nilai syariah banyak dibutuhkan. Dalam pembangunannya, RS Salman turut menggunakan skema pendanaan wakaf. Hal ini adalah bentuk komitmen RS Salman dalam memperluas akses fasilitas kesehatan untuk seluruh masyarakat, termasuk kaum dhuafa yang sering kali mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses kesehatan.
Ketua Harian Wakaf Salman, Hari Utomo juga menambahkan bahwa Salman Hospital merupakan RS pertama di Jawa Barat yang akan menerapkan prinsip Safety, Syar’i, Smart, Sustainable, dan Hospitality (4S+1H).
Industri kesehatan nasional yang kuat tidak hanya dilakukan oleh satu atau dua pihak saja, melainkan, kontribusi dan keterlibatan oleh banyak pihak. Diskusi ini turut melibatkan MUKISI atau Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia.
Sekretaris MUKISI Burhanuddin menyampaikan bahwa MUKISI sudah sejak lama mengkaji potensi wakaf produktif sebagai skema pendanaan dalam membangun industri kesehatan syariah.
“Jumlah rumah sakit islam di Indonesia sudah banyak, namun masih berskala kecil. Banyak juga yang belum bankable. Dalam menggunakan
instrument wakaf, sebaiknya kita menyusun model bisnis yang melibatkan pemisahan peran dan fungsi antara operator dan pengelola, yaitu wakif (orang yang mewakafkan), nazir (pengelola), dan mauquf alaih (orang penerima manfaat wakaf). Hal ini agar pengelolaan RS Syariah dapat berlangsung professional dan akuntabel,” jelas Burhanuddin.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Industri Produk Halal Afdhal Aliasar menyampaikan perlunya kehadiran contoh rumah sakit dengan konsep syariah yang ideal, yaitu rumah sakit yang dalam penerapan kesyariahannya tidak terlihat ekslusif tapi justru semua layanan tersebut dapat dinikmati oleh semua masyarakat tanpa membedakan golongan dan agama. Kehadiran layanan rumah sakit syariah hendaknya juga mendorong berkembang sektor-sektor pendukung lainnya baik dalam bidang obat-obatan halal dan SDM tenaga kesehatan dengan kualitas layanan yang sangat baik.
“Kita perlu menggaungkan nilai inklusivitas layanan kesehatan syariah agar bisa diterima oleh masyarakat secara meluas. Bersama-sama dengan MUKISI, Salman ITB, kita penuhi kebutuhan dan hadapi tantangan yang ada melalui berbagai inovasi dan instrument dalam ekosistem syariah ini.
Tentunya penggunaan wakaf produktif dalam mengembangan industri halal adalah inovasi yang baik dan bersama-sama kita kawal dengan baik,”
pungkas Afdhal.
Ekonomi kesehatan adalah cabang ilmu ekonomi yang secara khusus memfokuskan terapan ilmu ekonomi di bidang kesehatan baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat. Contoh penerapan studi ekonomi kesehatan untuk individu misalnya riset tentang dampak merokok
terhadap individu, sedangkan contoh penerapan untuk masyarakat adalah studi dan evaluasi sistem tunjangan kesehatan masyarakat.
Yang biasanya dianalisis oleh ekonom kesehatan adalah tentang pembiayaan layanan kesehatan, tenaga kerja kesehatan (dokter dan perawat), institusi kesehatan, dan pendidikan profesional di bidang kesehatan.
Ekonom Michael Grossman membuat sebuah model produksi kesehatan pada tahun 1972.[1]Pada model ini, Grossman menyebutkan bahwa setiap orang adalah produsen dan konsumen kesehatan, dan kesehatan dianggap sebagai sebuah “saham investasi” yang dapat naik-turun. Investasi pada
kesehatan tergolong mahal karena tidak hanya membutuhkan dana tetapi juga waktu, misalnya untuk berolahraga. Dari sumber daya terbatas tersebut (dana dan waktu), setiap orang akan memutuskan kesehatan optimal yang dapat diraih oleh dirinya masing-masing. Model Grossman dapat digunakan untuk memprediksi dampak perubahan tariff layanan kesehatan dan produk kesehatan, lapangan kerja dan gaji, serta perubahan teknologi dalam industri kesehatan.
Secara umum, ekonomi kesehatan masyarakat merupakan ranah analisis dan pengambilan
keputusan untuk pengalokasian sumber daya yang terbatas (dana, perangkat, waktu, tenaga kerja) untuk memberikan layanan kesehatan masyarakat yang optimal menurut prioritas dan kebutuhan.
OECD mengatakan bahwa hubungan antara kesehatan masyarakat dan kesehatan ekonomi sangat erat dan penting karena saling mempengaruhi.[2]
Beberapa hal yang dibahas dalam ranah ekonomi kesehatan masyarakat diantaranya adalah keputusan jumlah pendanaan untuk beragam program kesehatan masyarakat, seperti imunisasi, vaksinasi, pembangunan klinik dan rumah sakit, riset dan pengembangan obat dan terkait
kesehatan lainnya, penyediaan obat dengan harga terjangkau, hingga tunjangan kesehatan rawat jalan dan inap.
Di Indonesia, saat ini sudah terdapat program Kartu Indonesia Sehat dan BPJS untuk membantu pemerataan layanan kesehatan di masyarakat.
Sebelum mengetahui berbagai contoh kegiatan ekonomi di bidang kesehatan, ketahui dahulu hubungan diantara keduanya. Terdapat beberapa alasan yang mendasari mengapa ekonomi dan kesehatan saling berkaitan. Keterkaitan yang dimaksud yaitu:
1. Kesehatan Mempengaruhi Ekonomi
Memiliki kesehatan yang buruk pada tubuh, akan menyebabkan resiko terkena penyakit berbahaya semakin tinggi. Apabila hal ini terjadi, pengeluaran ekonomi akan semakin membengkak akibat biaya yang dibutuhkan semakin banyak. Hal ini tentu tidak akan terjadi apabila manusia memiliki kesehatan yang cukup baik.
2. Kesehatan yang Memburuk Dapat Mengancam
Tidak hanya akan mengancam diri sendiri, kesehatan yang semakin memburuk juga lambat laun akan mengancam orang lain. Hal ini dikarenakan ada
pengorbanan keluarga yang akan merawat keluarga lainnya yang terkena
penyakit. Apabila hal ini terus berlanjut, maka penghasilan yang didapatkan akan menurun dan mengancamnya.
3. Produktivitas Meningkat
Apabila masyarakat dalam kondisi sehat dan bugar, maka penyakit tidak akan mendekat. Tentu hal tersebut akan mempengaruhi produktivitas kegiatan
masyarakat. Produktivitas masyarakat akan meningkat apabila kondisi dalam keadaan sehat dan bugar.
Contoh Kegiatan Ekonomi di Bidang Kesehatan
Setelah mengetahui keterkaitan antara bidang ekonomi dan kesehatan, selanjutnya ketahui contoh kegiatan ekonomi di bidang kesehatan. Berbagai kegiatan ekonomi tersebut meliputi:
1. Apotek
Salah satu kegiatan ekonomi yang bergerak pada bidang kesehatan yaitu
pendirian apotek. Seperti diketahui bahwa apotek terbagi dalam dua jenis, yaitu milik BUMN dan juga milik perseorangan. Beberapa apotek bahkan dilengkapi fasilitas praktik dokter untuk menjangkau kemudahan dalam memperoleh resep obat. Untuk mendirikan apotek, pemilik harus mengajukan perizinan pendirian bangunan dahulu. Tentu apotek juga harus memiliki apoteker untuk menentukan resep obat yang sesuai.
2. Klinik
Pendirian klinik biasanya dibuat oleh beberapa pihak yang bekerjasama dengan dokter ahli. Meski begitu, tidak semua klinik yang didirikan tidak menerima
asuransi kesehatan. Berbagai klinik ternama bahkan telah bekerjasama dengan klinik kesehatan agar mempermudah masyarakat yang ingin berobat.
3. Asuransi Kesehatan
Tidak hanya klinik saja, asuransi kesehatan pun juga terbagi dalam dua jenis.
Yaitu asuransi milik negara maupun milik swasta. Dengan mendaftarkan diri dalam program asuransi kesehatan, tentu kesehatan masyarakat akan semakin terjamin. Masyarakat juga tidak perlu memikirkan apabila terjadi permasalahan dalam kesehatan secara dadakan.
4. Optik
Saat ingin memeriksa kesehatan mata, tentu masyarakat bisa mendatangi optik sebagai opsi kedua selain dokter mata. Selain itu, masyarakat juga bisa memilih berbagai perawatan untuk menjaga kesehatan mata di optik. Perlu diketahui,
beberapa optik bahkan menawarkan cek pemeriksaan mata secara gratis.
Biasanya masyarakat akan melakukan pengecekan terhadap kondisi mata.
5. Imunisasi
Meskipun pemerintah telah menyediakan imunisasi pada puskesmas maupun posyandu dengan gratis, namun tidak semua jenis imunisasi bisa diperoleh.
Terdapat beberapa jenis imunisasi yang mewajibkan masyarakat untuk
membayarnya apabila ingin memperolehnya. Biaya yang perlu dikeluarkan untuk mendapatkan imunisasi ini pun cukup menguras kantong.
6. Manajemen Rumah Sakit
Meski profesi ini tidak menangani kesehatan masyarakat secara langsung, namun melalui program ini kesehatan masyarakat akan terjamin. Bagaimana tidak, tugas dari manajemen rumah sakit yaitu untuk mengatur berbagai ketersediaan bahan rumah sakit. Manajemen rumah sakit tentu memegang kendala dalam hal ini.
7. Pemberantasan Sarang Nyamuk
Kegiatan ekonomi terakhir yang ada di bidang kesehatan yaitu pemberantasan sarang nyamuk. Biasanya dalam memberantas jentik-jentik nyamuk, sekelompok orang akan berkeliling untuk menjual serbuk pemusnah jentik nyamuk. Nantinya serbuk tersebut ditebarkan pada bak mandi untuk mencegah nyamuk bersarang di sana.