Sedangkan sosiologi pesisir merupakan salah satu cabang ilmu sosiologi yang mengkaji objek tertentu yaitu masyarakat pesisir yang hidup dari sumber daya kelautan seperti nelayan, pekerja, penggarap dan lain sebagainya. Munculnya sosiologi pesisir sebagai salah satu cabang ilmu sosiologi patut diduga karena kajian masyarakat pesisir dalam wacana sosiologi di Indonesia belum mendapat perhatian yang serius. Ruang lingkup kajian sosiologi pesisir mencakup aspek-aspek seperti: karakteristik pesisir, batas wilayah (sosiografi) dan sumber daya pesisir serta masyarakat pesisir dalam realitas mikro, meso, dan makro.
Teknik statistik yang dimaksudkan untuk kajian sosiologi pesisir dengan menggunakan metode ini adalah kajian ekologi pesisir atau kajian budaya masyarakat pesisir.
T ANJUNG B URUNG
Dari segi etnis, masyarakat Desa Tanjung Burung merupakan campuran etnis Betawi1 pesisir, Tionghoa Benteng, dan Sundance. Mengenai sarana penunjang pendidikan harus diakui masih belum memadai karena lembaga pendidikan yang ada di Desa Tanjung Burung hanya sedikit. Selain potensi budidaya hasil laut dan tambak, beberapa potensi sumber daya alam yang dimiliki masyarakat pesisir Tanjung Burung, Tangerang-Banten disajikan di bawah ini.
Potensi sumber daya alam pesisir pantai Tanjung Burunga merupakan aset yang mempunyai peranan penting dalam penghidupan masyarakat di sana, baik dari segi ekonomi, sosial, hukum, dan politik.
D IALEKTIKA T RADISI DAN
M ARGINALISASI P ENDIDIKAN
Perayaan di Desa Tanjung Burung bisa berlangsung dari 3 hari hingga seminggu tergantung penyelenggara acara. Cita-cita dalam potret empiris di Desa Tanjung Burung, Kecamatan Teluk Naga, ternyata hanya fiktif. Tentu saja salah satunya berkaitan erat dengan permasalahan bagaimana keluarga miskin di Desa Tanjung Burung memandang pendidikan.
Keluarga miskin di Desa Tanjung Burung juga mempertimbangkan jarak tempuh untuk mengenyam pendidikan.
D ISKURSUS S UMBERDAYA A LAM, P OLA N AFKAH, DAN
K EBERTAHANAN
Suramin (52 tahun)
Namun karena ketersediaan pasir di Sungai Cisadane mulai berkurang akibat banyaknya penambang di sana, ia berhenti bekerja sebagai penambang pasir dan beralih menjadi kuli tambak. Setiap hari ia keluar rumah pada pukul 05:00 WIB dan pulang ke rumah pada pukul 17:00 WIB. Kegiatan yang dilakukan selama berada di kolam adalah memberi makan ikan dan melindungi ikan di kolam dari burung pemakan ikan.
Kesulitan yang dialami Suram dalam pengelolaan kolam adalah ketika bibit ikan yang dilepas ke dalam kolam mati atau tersapu banjir. Penghasilan dari bekerja sebagai tukang tambak bukan berupa uang, melainkan berupa 75 kilogram beras setiap bulannya. Menurut Suramin, penghasilan terbesar yang pernah didapatnya dari 20% hasil panen adalah Rp.
Pendapatan yang diperolehnya ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, membiayai sekolah anak-anaknya, serta untuk kebutuhan lain seperti biaya listrik dan kebutuhan tak terduga lainnya. Sistem Cashbon menimbulkan kerugian bagi Suramin, yakni jika utang kepada pemilik tambak tidak lunas, maka gaji bulanannya dipotong. Namun meski hidup sangat sederhana, pendapatan yang diperolehnya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.
Madawi (65 tahun)
Kesulitan yang dialami Dawi dalam pengelolaan tambak tidak jauh berbeda dengan yang dialami Suram, yakni tercemarnya Sungai Cisadane, matinya bibit ikan, dan terseretnya bibit ikan akibat banjir ke pasar air laut. Menurut Dawi, pada tahun 2002 ketika banjir melanda wilayah Jakarta dan sekitarnya menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi para petani tambak di Desa Tanjung Burung, sehingga para pekerja tambak di sana tidak menerima upah. Namun gaji yang didapat bukan kelipatan dari bulan-bulan sebelumnya yang tidak dibayarkan, melainkan tetap Rp.
Pada musim panen, total hasil panen dibagi menjadi tiga, yaitu antara pemilik tambak, kontraktor, dan pekerja tambak. Pendapatan yang diperolehnya ia gunakan untuk makan sehari-hari, membayar listrik, dan kebutuhan tak terduga lainnya. Alasan Daw tetap setia pada pekerjaannya sebagai tukang tambak lagi-lagi karena keterbatasan keterampilan dan rendahnya tingkat pendidikan.
Suparman (37 tahun)
Berdasarkan Tabel 4.1 terlihat bahwa pola penghidupan keluarga petani ikan di Desa Tanjung Burung adalah pola pendapatan ganda. Maksudnya, dalam satu keluarga bukan hanya kepala keluarga atau istri saja yang menjadi pencari nafkah, namun keduanya saling bahu membahu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketergantungan tambak terhadap pemilik dan operator tambak (patron) membuka ruang stratifikasi dan interaksi sosial di antara keduanya.
Dalam kasus pekerja bendungan di Tanjung Burung, hubungan patron-klien menimbulkan dominasi bagi patron dan membuat klien semakin bergantung. Menurut Dawi (50 tahun), sebagian besar warga sekitar Desa Tanjung Burung bekerja dengan mengandalkan budidaya tambak. Hubungan saling ketergantungan antara pemilik, kontraktor (patron) dan pekerja (klien) yang hanya mempunyai tenaga kerja berdampak pada pekerja bendungan pantai Tanjung Burung yang sebagian besar kebutuhannya ditopang oleh pinjaman dan bantuan dari pelanggan.
Potensi sumber daya alam pesisir Tanjung Burung sudah seharusnya dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sedangkan pendapatan pekerja bendungan yang hanya mendapat Rp500.000 per bulan dalam sekali panen merupakan potret kemiskinan di kawasan bendungan. Kemiskinan yang dialami pekerja bendungan akan terus berlanjut selama mereka tidak mempunyai usaha lain dan hanya bergantung pada hasil bendungan.
Di sinilah pola eksistensi keluarga petani sangat dibutuhkan agar dapat bertahan dalam menunjang kehidupan sehari-hari. Selain pola penghidupan tersebut, berbagai strategi juga dicoba keluarga nelayan untuk bertahan hidup.
D ILEMA K EPEMIMPINAN,
Buang Muhadi terpilih kembali menjadi kepala desa pada tahun 2001, namun kepemimpinannya secara demokratis dialihkan ke Masta pada tahun 2005 karena Buang Muhadi meninggal di tengah masa jabatannya. Terpilihnya Rusdiono tak lepas dari pengaruh bawaan atau kharisma tradisional orang tuanya yang merupakan orang kuat setempat, mantan kepala desa. Menurut Rusdiyono, awalnya “menjadi kepala desa seperti mimpi” karena lulusan SMA berusia 25 tahun ini hanya bekerja di pabrik tas dan koper, bukan sebagai politisi desa, intelektual partai, atau tokoh lokal.
Karena mampu menjadi pemimpin yang baik di mata masyarakat selama menjabat sebagai Kepala Desa Buang Muhadija, maka ia menjadi pemimpin yang disegani oleh masyarakatnya. Modal sosial dari masyarakat inilah yang kemudian mendorong Rusdiyona untuk berani mengikuti pemilihan kepala desa. Saat acara "pemilihan desa" desa, warga mengaku ada juga "serangan subuh" yang dilakukan tim sukses Rusdiyon sehingga memudahkannya untuk menduduki jabatan kepala desa.
Menurut salah satu elite nonpemerintah tersebut, kesamaannya adalah peran kepala desa saat ini belum bisa dirasakan secara baik oleh masyarakat. Padahal, jabatan kepala desa yang diberikan kepada Rusdiyono tidak lepas dari dukungan masyarakat Desa Tanjung Burung terhadapnya. Peluang, ditambah dengan warisan kharismatik-tradisional orang tuanya yang melekat pada diri Rusdiyon, menjadikannya kepala desa.
Dibalik kepemimpinannya, di awal karirnya sebagai Kepala Desa, Rusdiyono masih memiliki banyak hal yang ingin dicapai. Hasil di lapangan membuktikan bahwa kepemimpinan Rusdiyono masih belum kuat untuk mampu mengemban tugas pertamanya dalam hidup menjadi pemimpin daerah atau kepala desa di desa Tanjung Burung.
P OTENSI R UANG K EWARGAAN P ESISIR YANG T ERSISA
Khusus di kawasan pesisir pantai Tangerang, salah satu kawasan basis komunitas benteng Tionghoa terletak di desa Tanjung Burung. Awalnya masyarakat desa Tanjung Burung hanya menjadi pembantu para nelayan jawa, mereka hanya bisa membantu. Seperti desa lainnya, Desa Tanjung Burung juga mempunyai satu saluran pemberdayaan perempuan yaitu PKK.
Organisasi PKK di Desa Tanjung Burung dipimpin oleh Ubayanti, istri Kepala Desa TanjungBiar saat ini. Saat ini anggotanya berjumlah sekitar 40 orang (baik aktif maupun pasif) yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga di wilayah kota Tanjung Burung. Dengan kegiatan ini ibu-ibu atau ibu-ibu di Desa Tanjung Burung diberikan keterampilan dalam mengelola bahan baku yang kemudian dibuat.
Melalui ajakan dan perbincangan sehari-hari, semakin banyak perempuan di Desa Tanjung Burung yang memandang sapu sebagai benda bernilai ekonomi. Total produksi sapu yang bisa dihasilkan oleh ibu-ibu Desa Tanjung Burung sendiri berkisar antara 6 – 9 sapu per hari, tergantung bahan baku yang mereka peroleh. Bahan sapunya bersumber dari perkebunan kelapa di sekitar wilayah Desa Tanjung Burung.
Produksi sapu lidi di Desa Tanjung Burung sendiri sebagian besar dilakukan di rumah oleh masing-masing individu. Pemberdayaan perempuan berbasis budaya ini merupakan dampak dari belum meratanya pengorganisasian PKK di Desa Tanjung Burung. Pemberdayaan perempuan berbasis budaya ternyata mampu memberdayakan perempuan Desa Tanjung Burung menuju stabilitas perekonomian.
Pemberdayaan perempuan melalui aspek budaya di Desa Tanjung Burung memecahkan kebuntuan perempuan yang ingin berdaya secara ekonomi bagi dirinya dan keluarganya.
E PILOG
M EMBANGUN DAN
M EMBERDAYAKAN
M ASYARAKAT P ESISIR T ANJUNG B URUNG
Dari segi sosial ekonomi, sebagian besar masyarakat pesisir, dalam hal ini masyarakat Tanjung Burung, hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Keadaan umum masyarakat pesisir dimana masyarakat pesisir merupakan “sekelompok masyarakat yang hidup bersama dan mendiami wilayah pesisir serta mempunyai budaya tertentu yang terkait dengan ketergantungannya terhadap pemanfaatan sumber daya pesisir” (Satria, 2004: 2). Pemberdayaan masyarakat pesisir berarti menciptakan peluang bagi masyarakat pesisir untuk menentukan kebutuhannya, merencanakan dan melaksanakan kegiatannya, yang pada akhirnya menciptakan kemandirian abadi dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.
Pemberdayaan masyarakat pesisir tidak seperti pemberdayaan kelompok masyarakat lainnya, karena dalam masyarakat pesisir terdapat banyak kelompok kehidupan masyarakat, dalam konteks masyarakat pesisir Tanjung Burung setidaknya ada 3 kelompok yang perlu diberdayakan, yaitu: (1) Masyarakat Penangkap Ikan, seperti Nelayan Penangkap Ikan, Pengepul/Keranjang, dan. Dimensi pemberdayaan masyarakat pesisir dalam hal ini dapat mengacu pada konsep keberlanjutan yaitu keberlanjutan ekologi, keberlanjutan sosial ekonomi, keberlanjutan komunitas, dan keberlanjutan kelembagaan (Charles: .2001). Oleh karena itu, program pemberdayaan masyarakat pesisir harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak merata antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, apalagi antara satu wilayah pesisir dengan wilayah pesisir lainnya.
Pemberdayaan masyarakat pesisir seharusnya bersifat bottom-up dan open menu, namun yang terpenting adalah pemberdayaan itu sendiri yang harus berdampak langsung pada kelompok masyarakat sasarannya. Banyak program pemberdayaan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah, salah satunya adalah Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP). Pemangku kepentingan dalam pengembangan masyarakat pesisir Masyarakat pesisir adalah sistem sosial, sehingga kerangka CTWOE sangat penting dalam proses transformasi masyarakat pesisir ke arah yang lebih baik.
Lingkungan Hidup: kondisi lingkungan setempat harus dipertimbangkan, seperti apakah kebijakan daerah mendukung program pemberdayaan masyarakat pesisir atau tidak (Amanah, 2013). Hal ini bertujuan agar generasi mendatang setidaknya dapat menikmati hidup dengan kuantitas dan kualitas yang sama seperti yang dinikmati generasi saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Dinamika sosio-ekologi pedesaan: perspektif dan hubungan ilmiah ekologi manusia, sosiologi lingkungan, dan ekologi politik” dalam Sodality: Jurnal Transdisipliner Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia. Widodo, Sutejo Kuwat, “Dinamika kebijakan terhadap nelayan: gambaran sejarah nelayan di pantai utara Jawa. Pidato pengukuhan guru besar dalam sejarah.
INDEKS
BIODATA EDITOR
Masyarakat Pesisir (Kajian Tradisionalisme Islam dan Peran Majelis Ta'lim Perempuan di Desa Tanjung Burung, Kecamatan Teluknaga, Tangerang).