Kesempatan
Aku berjalan menyusuri jalan setapak di sekitar makam bunda. Satu tahun setelah ayah pulang ke surga, dengan naas bunda meninggalkan kami berdua – aku dan adikku. Hidup berdua di tengah kota, bagaimana caranya menyelamatkan hidup dengan bermodal pendidikan SMA.
“Gimana ya cara supaya aku dapet uang banyak dan nyekolahin adek? ” batinku bertanya sendiri.
Aku duduk sendirian di bangku taman kota. Memakai kemeja putih dan celana hitam peninggalan bunda. Setelah seharian mencari modal un tuk menyekolahkan Kiara – adikku, aku memutuskan untuk beristirahat dari penatnya lalu lintas ibu kota.
“Loh, itu apa ya di tengah daun? kok kaya ada cahaya gitu? ” lagi-lagi, aku bertanya kepada diri sendiri.
Aku memutuskan untuk menghampiri cahaya itu. Brak! aku tiba-tiba jatuh ke dalam semak-semak itu. Masuk ke dalam dunia yang sama sekali tak bisa aku cerna.
Cahaya, berkilau, syurga. Mungkin itu yang bisa menggambarkan semuanya.
“Bahagiakan adikmu, hidupi dia layaknya ibumu menghidupi kalian. Akan kuberi segala jalan untuk membahagiakan dia ”. Seseorang mirip bunda datang dari kejauhan, ia memelukku dan berkata lagi. “Aku seorang malaikat yang diutus Tuhan untuk menjaga kalian.”
Aku membeku seketika. “Siapa dia? malaikat?” Aku benar-benar hilang kendali. Sampai beberapa saat ada yang menegurku.
“Dek? gapapa? kenapa liatin semak-semak sampe segitunya?” wanita hampir menginjak kepala empat menegurku.
“Eh, iya bu. Gapapa kok.” aku langsung bergegas duduk dan kembali meminum minumanku. Tak lama dari itu, muncul notifikasi dari emai l bahwa aku mulai bisa bekerja Senin nanti. Aku langsung berfikir bahwa ini memang anugerah dan kesempatan yang diberikan malaikat itu untukku.
“Aku harus kasih tau adek di rumah. Pokonya, besok aku juga harus ajak di ke makam bunda buat bilang kalau aku udah kerja.” Setelah itu, aku langsung pulang dan menceritakan semuanya kepada Kiara.
Dia sangat bahagia dan antusias untuk menceritakan semuanya kepada Bunda.
Keesokan harinya, kami berjalan ke makam bunda. Menceritakan semuanya bahkan dengan malaikat yang kutemui di taman k ota.
“Ayo, dek.” Setelah semuanya selesai, aku mengajak adikku pulang.
“Iya, kak. Kak, aku pengenbeli minum dulu tapi ya?” jawab adikku.
“Iya, kakak beliin ke sebrang ya.” Aku bergegas menyebrang jalan untuk membelikan minuman adikku.
“Kakak, awas!” Bruk! Seketika badanku terpental ke sebrang jalan. Darah bercucuran di tengah jalan. Mobil fortuner itu melengos pergi setelah merenggut nyawa Kiara. Aku merutuki diriku sendiri yang gagal menjaga adikku.
“Bun, Tania gagal jaga Kiara, Bun!” Aku menangis sejadi jadinya di sebelah jasad adikku yang tertabrak mobil saat menyelamatkanku. Setelah orang-orang membantu dan membawa adikku ke rumah sakit, aku masih menangis tersedu -sedu karena belum segenap satu bulan di tinggal bunda, aku harus ditingg alkan Kiara, harta satu-satunya yang aku punya.
Setelah pemakaman selesai, aku masih duduk di samping makam Kiara yang sengaja di makamkan di sebelah Bunda. Di sela-sela tangisanku, malaikat itu datang lagi. Aku melihatnya dari kejahan mulai menghampirik u.
“Tania, kamu gagal menggunakan kesempatan yang telah aku berikan.
Tugasku selesai, silahkan kamu lanjutkan hidupmu. Kiara dan Bundamu sudah tenang.”
Kesedihanku makin menjadi. Aku merasa tidak punya tujuan hidup sekarang.
Sekosong apa menjalani hidup tanpa mempunyai siapa-siapa.