• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cerita Pendek Sikap guru terhadap murid

N/A
N/A
Alviena Rosalina

Academic year: 2023

Membagikan "Cerita Pendek Sikap guru terhadap murid"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Kenapa Kita Harus Puasa?

KRIING!!! Bel tanda istirahat selesai berbunyi. Murid-murid SD Al-Karomah berbondong- bondong memasuki ruang kelasnya masing-masing. Meskipun mereka terlihat lelah karena saat ini adalah bulan Ramadhan, namun mereka tetap mau belajar dan bersemangat dalam mengikuti kelas. Kecuali seseorang.

“Selamat siang, anak-anak! Masih semangat puasanya?” sang pengajar menyapa muridnya yang ada di kelas 4A. Wajah-wajah mungil yang semi pucat kelelahan mulai tampak, tapi mereka benar-benar berusaha untuk menunjukkan keinginan mereka untuk belajar bersama guru mereka.

“MASIH BUUU!!!” ujar mereka serempak, wajah polos mereka yang kelelahan dan mengantuk sedikit hilang, karena guru yang masuk setelah jam istirahat ini adalah wali kelas mereka, sekaligus guru tema, Bu Allysa. Beliau adalah wali kelas mereka sejak kelas 3, yang tentunya sudah sangat mengenal karakter masing-masing anak didiknya.

“Ibu, dari tadi Ryan belum balik ke kelas bu” ujar Sinta, ketua kelas 4A yang duduk di dekat meja guru, melaporkan temannya yang tidak kunjung kembali. Teman-teman yang lain mengiyakan, berkata bahwa sejak tadi pagi saat kelas Pak Dodit berlangsung, Ryan terlihat lemas dan tidak bersemangat. Dino, teman sebangkunya, bahkan mengira Ryan sedang sakit, karena sejak ia sampai dibangkunya, Ryan sama sekali tidak berbicara dengannya dan hanya menelungkupkan kepala di atas mejanya.

“Kalau begitu, apa kalian keberatan jika ibu keluar untuk mencari Ryan? Karena sebenarnya, hari ini kita tidak ada materi yang perlu dipelajari. Hari ini harusnya kita mengerjakan latihan soal untuk tema 8 sub-tema 3” Ibu Allysa mengeluarkan lembar soal yang sudah disiapkan sejak semalam, dan membagikannya ke masing-masing muridnya. “Nanti biar ibu panggilkan bu Riska untuk mengawasi kalian selama ibu mencari Ryan, oke?”

“Iya bu, tidak apa-apa. Daripada nanti ternyata Ryan pingsan di kamar mandi, hiii, kamar mandi sekolah kita kan serem bu” ujar Kinan sambil bergidik ngeri. Membuat teman kelasnya menyahuti dan mengiyakan, yang menjadikan suasana kelas semakin ramai karena celotehan kecil mereka.

“Hayo, diam-diam semua, anak-anak! Jangan ramai” Ibu Allysa bertepuk tangan, untuk membuat muridnya kembali fokus kepada dirinya. “Kerjakan ujiannya ya, ini bu Riska sudah datang jadi ibu akan keluar sebentar untuk mencari Ryan. Jangan ramai dan jangan menyontek.

Kerjakan sebisanya, dan jangan lupa berdoa.” Anak-anak menjadi tenang kembali dan mengerjakan soal yang ada dengan teliti. Ibu Allysa menitipkan kelasnya kepada guru jaga dan keluar kelas untuk mencari muridnya yang tidak kunjung kembali ke kelas.

Beliau menyusuri seisi sekolah, dari kamar mandi yang kata muridnya seram, kelas-kelas kosong, ruang UKS, sampai ke kantor guru (takut-takut Ryan ada keperluan di sana). Namun ia tak ada dimana-mana. Sampai ibu Allysa mendatangi perpustakaan di ujung koridor lantai dua, yang jarang sekali dikunjungi anak-anak (selain jauh, setiap kelas memiliki rak masing-masing yang berisi buku-buku baru dan isi perpustakaan hanya arsip-arsip tugas dan buku-buku lama). Ibu Allysa menemukan Ryan yang tertidur di lantai perpustakaan.

Perpustakaan di sekolah ini cukup besar, seukuran kelas pada umumnya. Lantainya dilapisi karpet sehingga murid yang masuk harus melepaskan alas kaki mereka. Mereka bisa duduk di lantai atau di kursi-kursi yang diletakkan di pinggiran ruangan. Rak buku yang dibuat menempel ke dinding ruangan membuat kesan ruangan tersebut sangat lebar, dan dingin. Membuat Ryan yang berdiam di sana selama istirahat berlangsung tertidur sangat nyenyak.

“Ryan, ayo bangun. Kelas sudah dimulai sejak 10 menit yang lalu” dengan lembut bu Allysa membangunkan Ryan yang terlihat pucat. Mungkin benar kata Dino, ia sedang sakit. Tapi ketika

(2)

sang guru menyentuh keningnya, ia tidak merasakan panas menguar dari tubuh muridnya. Ryan yang merasakan sentuhan di keningnya terbangun, dan langsung duduk mengetahui yang ada di depannya adalah wali kelasnya. Wajahnya sangat muram, seperti sangat kelelahan.

“Ada apa, nak? Apa Ryan sakit?” wali kelasnya menanyakan keadaan Ryan, namun raut wajahnya berubah kembali, menjadi sedih dan seperti ingin menangis. Sang guru duduk di sampingnya dan mencoba membuat Ryan berbicara. Karena ia tahu, bahwa Ryan sebenarnya adalah anak yang ceria dan periang, jadi ada sesuatu yang mungkin membuat Ryan seperti ini.

Sang murid membuka mulutnya, matanya tergenang air mata karena menahan tangis. “Ryan lapar, bu. Tadi sahurnya sedikit karena Ryan kesiangan. Terus tadi Ryan berangkat sekolah jalan kaki karena sepeda Ryan bannya kempes dan ayah tidak bisa antar Ryan” suaranya serak, kemudian ia bertanya pada gurunya “ Ibu, kenapa kita harus puasa? Ryan bener-bener ngga bisa nahan haus dan lapar. Udah gitu puasanya sebulan penuh lagi, kita kan jadi ngga bisa main sepeda, ngga bisa main layangan siang-siang. Ryan capek bu, sia-sia kalo puasa, Ryan ngga mau puasa lagi” si murid mencurahkan isi hatinya, kepada wali kelas yang rela mencarinya, padahal seharusnya beliau mengajar di kelas, bukan malah mendengarkan keluhan anak yang tidak mau masuk kelas.

“Ryan hafal rukun islam, tidak?” “Ryan hafal, bu” “Apa rukun islam yang keempat?” sang guru bertanya kepada muridnya, yang mulai mengingat-ingat rukun islam dari yang pertama sampai terakhir. “Berpuasa di bulan Ramadhan, bu.” Ibu Allysa tersenyum. Ia menatap muridnya penuh kasih sambil berkata “Kalau Ryan tidak melakukan rukun islam, menurut Ryan, dosa atau tidak? Puasa Ramadhan kan, sebuah kewajiban. Coba apa hukumnya meninggalkan kewajiban?”

si murid menjawab dengan suara lirihnya yang serak “Dosa, bu” katanya sambil menundukkan kepala.

“Nak, Allah mewajibkan puasa bukan semata-mata karena ingin melihat hamba-Nya kesulitan, namun juga sebagai bentuk ibadah yang banyak manfaatnya. Nikmat puasa juga sangat besar kalau kamu sadari. Coba ibu tanya, Ryan lebih senang makan malam biasa atau saat berbuka puasa?”

Ryan menjawab sambil menatap gurunya “pas buka puasa, bu” gurunya tersenyum “Ryan saja tahu kalau nikmat berbuka puasa sangat mudah dirasakan. Hanya saja, mungkin nikmat-nikmat lainnya belum Ryan rasakan atau mungkin belum Ryan sadari. Dalam hadist dikatakan ‘Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kebahagiaan, satu kebahagiaan ketika tiba waktu berbuka, dan satu kebahagiaan lagi ketika berjumpa dengan Rabbnya’. Ada lagi, yang membuat kita bahagia.

Yaitu perasaan bangga ketika kita berhasil menjalankan puasa penuh yang kemudian dibayar kebahagiannya saat datang hari raya, betul kan? Jadi, nak, menurut Ryan, apa puasa adalah hal yang sia-sia?”

Mata kecilnya berbinar, kemudian menjawab gurunya dengan senyum manisnya “tidak bu, puasa bukan hal yang sia-sia” Ryan berdiri dan memandang gurunya. “Ayo bu, masuk kelas. Ryan mau belajar aja biar ngga ngantuk lagi” sang guru tergelak dan menyusul muridnya, “iya Ryan, ayo.” Mereka berduapun kembali ke kelas. Sejak saat itu Ryan tidak pernah merasa puasanya sia- sia, dan ia selalu menjalankan puasanya dengan ikhlas sampai akhir bulan Ramadhan.

Referensi

Dokumen terkait