YANG BANYAK KATANYA
Kala itu, jam dinding berdegup seirama bersama harap yang tak kunjung disambut Kita beranjak dan meninggalkan jejak bersama
Aku bagai porter yang menuntun wisatawan yang hanya ingin menikmati indahnya sunrise Dan kamu, adalah wanita yang langkah demi langkahnya tersimpan keindahan didalamnya Aku membawa mu, menuntun mu, memberi segala yang ku punya
Dari sana, terlihat banyak harapan dalam senyum yang terukir diatas bibir mu meski hanya sesaat
“Kita bersama” hanya itu yang aku ingat
Tanpa sadar, ditapak waktu yang menggiringnya, kamu menggores luka yang cukup parah dan menggunakan darah menjadi penghias tangis dari raut wajah yang kian menua
“Sedikit lagi sampai” katamu yang tak sedikit pun wajah indah itu dipalingkannya
Tak ada balasan, mulut ku terkunci rapat dan hanya mata yang melihat bahwa jarak lambat laun melebarkan sisinya
Kamu telah sampai, ya, sampai
Aku jatuh bersama harap yang telah kubangun, menabrak kenangan yang lalu lalang di trek pendakian
Aku melihat mu dari kejauhan, digandengnya lelaki yang kamu temui diatas puncak itu Tak lama, segerombolan orang menarik ku dan membawa ku dalam kerumunannya Mereka mengenalkan ku banyak hal, sampai luka yang kamu tanam menutup rapat dan berbekas
Cakrawala telah melepas segala imaji tentang mu dalam memori otak yang makin hari buram akan wajah mu
Kita berada dipuncak, aku dan segerombolan yang menemani ku melepas tawa dan duka bersama, berbagi secangkir kopi meski hanya untuk satu orang, kita bebas
Tak lama, angin memberi ku kabar, bahwa orang yang bersama mu diatas sana telah menendang mu ke palung terdalam
Tak diberikannya basah kerongkongan, kamu pun juga, otak tak membiarkan mu masuk kedalamnya, hanya sia-sia yang diberikannya
Waktu mempercepat geraknya, satu hampir dua tahun berlalu...