• Tidak ada hasil yang ditemukan

cerpen group-2 eternity

N/A
N/A
iruth ddear

Academic year: 2025

Membagikan "cerpen group-2 eternity"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Sampai Akhir

Kaylasha Aruna namanya, seorang gadis yang pada hari ini akan memulai kehidupan barunya, kehidupan masa SMA yang sangat dinantikannya didalam hidupnya.

Kaylasha bukanlah seorang gadis yang tumbuh dalam keluarga yang harmonis dan cemara, dia adalah seorang gadis yang hidupnya penuh tuntutan dan tekanan dari seluruh keluarganya. Itulah alasan mengapa masa SMA menjadi masa yang sangat dinantikannya dan mungkin akan menjadi boomerang pada dirinya sendiri.

Pagi ini, Kaylasha bangun lebih cepat dari biasanya karena pagi ini ia akan memulai kehidupannya di kota Bandung. Ia akan memulai kehidupannya sebagai anak kost, dan besok ia akan mulai bersekolah di SMA Bintang Gemilang, sekolah yang sangat amat diidamkannya sedari dulu. Hari ini adalah hari ke-1 MPLS, ia bangun subuh- subuh untuk menyiapkan segala kebutuhan dan perlengkapannya nanti.

Sampai disekolah, ia bisa langsung mengadaptasikan dirinya terhadap banyak orang yang ada disana, ia dapat langsung mengakrabkan diri dengan salah satu gadis yang bernama Naisha Aurelia. Mereka berbicara seperti tidak ada jarak antara mereka, seperti seolah-olah mereka adalah teman lama yang bertemu kembali. Semua murid diberi intrupsi untuk berbaris dilapangan, mereka berbaris bersama. Seperti ada magnet antara mereka berdua, dan sepertinya alam sedang berpihak pada mereka sehingga mereka mendapat kelas yang sama untuk MPLS.

(2)

Selesai berbaris, mereka berdua berjalan menuju kelas yang ditempel kertas bertuliskan Ruang 7 di pintu kelas tersebut. Semua murid sudah hampir masuk, semua bangku bahkan sudah hamper terisi penuh, kecuali bangku yang berada dilorong dua pada baris kedua dari belakang.

Guru memulai masa MPLS dengan memperkenalkan diri masing-masing. Pada saat giliran Kaylasha untuk memperkenalkan diri, dia maju kedepan dan memperkenalkan dirinya, tetapi ada satu orang yang tertangkap oleh indra penglihatannya, seorang yang duduk dilorong ketiga pada baris terakhir. Selesai memperkenalkan diri, dia Kembali ketempat duduknya dengan ujung mata yang selalu melirik satu orang yang menarik perhatiannya tersebut. Kini adalah giliran seorang yang ditunggu oleh Kaylasha untuk diperkenalkan dirinya, dia bernama Altair Nuelta. Kaylasha sangat memperhatikan Altair saat memperkenalkan diri, dan sepertinya Altair sadar akan hal itu. Sedari perkenalan diri tersebut, Kaylasha selalu melirik kebelakang, dan Altair yang juga selalu sadar akan hal itu.

Sepulang sekolah, Kaylasha dan Naisha mampir terlebih dahulu di sebuah café yang memiliki nilai estetika yang tinggi menurut mereka, mereka mengambil banyak foto di tempat itu. Ditengah perbincangan mereka, Kaylasha mulai mengingat kembali seorang yang tadi mengambil perhatiannya bahkan dihari pertama mereka bertemu. “Gimana kalau semisalnya aku suka sama satu orang yang ada dikelas kita?” tanya Kaylasha pada Naisha, ia tentu saja ingin tahu siapa yang sudah berhasil memikat hati Kaylasha dihari pertama MPLS mereka. “Serius?

(3)

secepat itu kamu suka sama orang yang baru kamu kenal?”

“Siapa sih Kay?” “Namanya siapa?” “Kok bisa sih suka sama dia, apa hal yang menarik dari dia sih?” dan masih banyak pertanyaan yang berasal dari Naisha. Kaylasha bahkan bingung dengan perasaannya sendiri, dia bahkan tidak tahu apakah dia jatuh cinta, atau hanya kagum sesaat saja kepada Altair pada saat itu. Kaylasha tidak menjawab satupun pertanyaan dari Naisha, dan Naisha mengerti akan hal itu, Naisha mengerti bahwa Kaylasha masih membutuhkan waktu untuk memastikan bahwa perasaannya itu tumbuh karena jatuh cinta atau karena tertarik saja.

Sesampainya dikost, Kaylasha langsung merebahkan dirinya dikasur. Hari ini sangat lelah tetapi juga sangat menyenangkan bagi Kaylasha, ini adalah kali pertamanya bebas dari kekangan keluarganya. Belum berapa lama ketenangan itu hadir, ponsel Kaylasha berbunyi, menandakan ada yang meneleponnya. Kaylasha menghembuskan nafas berat saat tau bahwa yang meneleponnya adalah Ayahnya. Setelah mengangkat panggilan tersebut, begitu banyak pertanyaan yang diberikan Ayahnya kepadanya, bukan pertanyaan yang menanyakan bagaimana hari putrinya dihari pertama MPLS, bukan pertanyaan apakah Kaylasha sudah makan atau sudah beristirahat, melainkan “Kay, masih mengingat apa perjanjian kita sebelum kamu pindah kan?” “Apakah hari ini ada sesuatu yang terjadi berkaitan dengan perjanjian kita?” dan masih banyak lagi pertanyaan yang merunjuk ke perjanjian tersebut. Ayahnya membuat perjanjian dengan Kaylasha sebelum mengizinkan

(4)

Kaylasha tinggal di kota yang berbeda dengannya, perjanjian yang berisikan bahwa Kaylasha tidak boleh pulang lebih dari pukul 19.00 WIB dan perjanjian bahwa Kaylasha tidak boleh memiliki hubungan dengan laki-laki manapun sebelum ia masuk kuliah nantinya. Dan sepertinya perjanjian tersebut akan dilanggar oleh Kaylasha mengingat dia yang pulang pukul 20.30 WIB sehabis bermain dengan Naisha, dan mengingat bahwa ada seorang laki-laki ysng mulai menarik perhatiannya disekolahnya. Kaylasha hanya menjawab sesingkat mungkin, dan sedikit berbohong kepada Ayahnya. Setelah panggilan tersebut berakhir, Kaylasha mulai merentangkan badannya dikasur, pikirannya berkelana saat ia yang selalu melirik Altair kapanpun. “Apakah aku menyukainya?” “Menyukainya sebagai kekasih yang kuinginkan?” “Ataukah ini hanya rasa penasaran sesaat saja?” ada banyak sekali pemikiran-pemikiran mengenai Altair, dan mungkin hal itu bisa dipastikan oleh Kaylasha besok saat ia akan bertemu Kembali dengan Altair.

Kaylasha adalah orang yang akan mengusahakan agar mendapat apapun yang diinginkannya. Dan di hari ke-2 MPLS ini, dia mulai menemukan apa tujuannya berikutnya, yaitu menjadi kekasih seorang Altair yang memiliki sikap pendiam itu. Dia bahkan menarik Naisha untuk mengikuti kemana Altair pergi bersama temannya diwaktu istirahat. Kaylasha mulai melihat Altair secara terang-terangan pada saat di kelas, dan Kaylasha tau bahwa Altair juga melihat kearahnya! Ini hal yang sangat meningkatkan rasa percaya diri Kaylasha untuk tetap melanjutkan rencana demi Altairnya itu. Tentu saja

(5)

Kaylasha sudah menemukan username akun pribadi milik Altair, tetapi Kaylasha tidak terlalu terburu-buru akan hal tersebut, sehingga ia belum mengikuti akun pribadi Altairnya.

Masa MPLS akan berakhir hari ini, Kaylasha tentu saja sangat sedih dan takut, entah ia dan Altair yang akan berbeda kelas, entah Altair yang akan menyukai teman yang ada dikelas barunya, dan entah ia dan Naisha yang akan berpisah nantinya. Hari ini ia dan Naisha tidak berkunjung kemanapun, karena Naisha harus mengikuti acara keluarganya. Kaylasha berjalan dengan gontai menuju kamarnya, ia sangat tidak bersemangat karena ini adalah hari terakhirnya berada dikelas yang sama dengan Altair. Seperti hari sebelumnya, Ayahnya meneleponnya untuk menanyakan mengenai perjanjian konyol tersebut dan Kaylasha yang akan tetap berbohong kepada Ayahnya.

Hari senin ini berbeda dengan hari sebelumnya, hari ini terlihat lebih tegang daripada hari dimana ia dan Naisha menunggu pengumuman untuk kelas MPLS. Hari ini adalah hari pengumuman untuk pembagian kelas untuk kelas 10. Kaylasha bingung harus senang atau sedih, ia mendapat kelas yang sama dengan Naisha, tetapi ia tidak akan berada dalam kelas yang sama lagi dengan pujaan hatinya, Altair. “Altair dimana ya, Nai” “Kok Altair engga kelihatan sih, Nai” “Dia sekolah ga sih, Nai?” mungkin itu hanya beberapa dari banyaknya celotehan Kaylasha mengenai Altainya itu. Kaylasha hanya bertemu sekali dengan Altair hari ini, dan itupun pada saat pulang, ia hanya melihat Altair sekilas yang pulang melewatinya

(6)

begitu saja. Kaylasha tentu saja sedih, Altair melewati nya seperti mereka tidak saling kenal saja. Kaylasha tidak tau saja bahwa Altair hanya mencoba untuk terlihat tidak peduli, karena aslinya Altair juga mencari-cari Kaylasha sedari tadi ia tiba disekolah.

Sesampainya dirumah, Kaylasha tidak bisa menahan lagi. Sudah dikatakan bukan bahwa Kaylasha adalah seorang yang harus mendapatkan keinginan nya, dan inilah salah satu cara agar ia mendapatkan Altair sebagai kekasihnya. Jari jemari Kaylasha mulai bergerak lincah dilayar handphone nya, mulai dari ia yang mengupload fotonya dan langsung mengikuti akun pribadi Altair di Instagram, ia mengupload fotonya bertujuan agar Altair mengetahui bahwa yang mengikutinya adalah Kaylasha, orang yang selalu meliriknya dikelas pada saat MPLS.

Kemudian tangannya mulai membuat akun palsu dan bertujuan untuk mengutarakan isi perasaan nya kepada Altair melaluin akun palsu tersebut. Kaylasha tidak tahu jika caranya ini akan berhasil atau tidak, tetapi Kaylasha percaya saja pada dirinya sendiri, dan pada cinta Kaylasha terhadap Altairnya.

Kaylasha tertidur sesaat setelah ia menjalankan rencananya untuk mendapatkan pujaan hatinya itu.

Kaylasha terbangun pada pukul 20.00 WIB, dan saat itu ia belum sadar sepenuhnya akan apa yang ia lihat di bar notifikasi handphonenya. Setelah kesadarannya sudah terkumpul, jantungnya mulai berdegup kencang dengan ia yang juga membeku saat itu juga. Tidak berselang lama, ia langsung menghubungi Naisha untuk sekedar memberi

(7)

tahu apa yang ia dapatkan pada saat ia terbangun dari tidurnya. Kaylasha bercerita dengan sedikit berteriak dengan keadaan yang terbilang cukup acak-acak dengan rambut dan pakaian sekolah yang berantakan. Setelah tenang dari kegilaannya, baru ia mulai membuka akun palsunya terlebih dahulu untuk membuka apa balasan dari Altair terhadap dm confess yang dikirimnya tadi sore.

Tidak ada balasan lain selain kalimat “Hai, terimakasih ya sudah mau jujur terhadap perasaan kamu” hanya itu.

Kaylasha tidak membalas apapun dan beralih ke akun pribadinya yang ia gunakan tadi untuk mengikuti Altairnya di Instagram. Ada hal yang mengejutkan Kaylasha saat ia membuka bagian message Instagramnya.

“Hai Ayla, aku tau kamu yang mengirim pesan itu kan?

Nice to know that yaa” begitu isi dm yang berasal dari orang yang selalu ada dipikiran Kaylasha beberapa hari ini. Altair juga menyukai foto Kaylasha yang ia upload tadi. Kaylasha tentu sangat malu karena Altair langsung mengetahui bahwa itu adalah dirinya, tetapi bukan Kaylasha namanya jika tidak memalukan. Ia mengakui hal bodoh tersebut kepala Altair, ia mengaku bahwa itu adalah dirinya!

Setelah mengaku bahwa itu adalah dirinya, mereka justru terlihat demakin dekat dengan mengirim pesan satu sama lain. Masih dihari yang sama, selang beberapa jam setelah Kaylasha mengaku bahwa itu adalah dirinya, Altair mulai serius dalam mengirim pesan, entah hal gila apa yang mereka lakukan, tatapi Altair juga menginginkan Kaylasha untuk menjadi miliknya saat itu! Tentu saja

(8)

Kaylasha tidak menolak ajakan Altairnya itu. 11 Juli 2007, adalah hari dimana keduanya memulai kisahnya.

Hari-hari mereka lalui bersama, seperti sekarang ini Kaylasha sedang menunggu Altair untuk menjemputnya.

Definisi pacaran terlebih dahulu, lalu pdkt. Mereka mulai mengenal satu sama lain, mulai menanyakan hal yang disukai dan tidak disukai satu sama lain. Setelah sampai disekolah, Altair membuka kan helm milik Kaylasha dan mengusap rambut Kaylasha sesudahnya, “Semangat belajarnya, Ayla” katanya sambil tersenyum, ternyata Ayla adalah panggilan sayang dari Altair untuk Kaylashanya.

Sesekali pertengkaran adalah hal yang biasa dalam sebuah hubungan, entah karena Altair yang suka berbohong, entah karena Kaylasha yang suka membangkang, entah karena Kaylasha yang selalu merasa bahwa ia dijadikan sebagai second choice oleh kekasihnya, entah Altair yang selalu suka lupa jika sekarang ia telah memiliki kekasih yang perlu dijaga hatinya. Ada senang dan ada sedih keduanya bercampur.

Kaylasha tau bahwa Altair sangat mencintainya, Kaylasha sadar akan cinta Altair yang lebih besar daripada cintanya kepada Altair. Tetapi hari-hari berlalu, mereka menjadi sering bertengkar, hubungan mereka menjadi sulit untuk dikontrol, komunikasi mereka yang kurang, dan banyak lagi hal lainnya. Kaylasha tidak tahu ini salah siapa, tetapi yang pasti Altair selalu berusaha membujuk Aylanya untuk tetap berada disisinya. Tetapi seperti orang yang sudah lelah dalam mencintai, Kaylasha merasa Lelah dengan kenyataan bahwa Altair lebih mementingkan

(9)

temannya dibandingkan dengan dirinya, Kaylasha lelah harus memaklumi kebohongan yang diberikan Altair kepadanya, Kaylasha lelah harus menerima bahwa Altair selalu melakukan hal yang dia bahkan sudah tahu bahwa Aylanya tidak menyukai hal tersebut.

Hingga tiba saat ini, Altair dan Kaylasha berdebat hebat karena Altair berbohong kepada Kaylasha demi bisa bermain sepuasnya dengan temannya. “Alta, tidak ingin jujur saja? Aku tidak akan marah” begitu isi pesan Kaylasha yang ia kirimkan kepada Altairnya itu. Kaylasha mengetahui kebohongan Altairnya itu, Kaylasha sudah menangis pada saat ia mencoba untuk mengirimkan pesan untuk Altairnya. Kaylasha yang meminta agar Altair jujur kepadanya, dan Altair yang entah kenapa pada saat itu memilih untuk tetap berbohong dan lebih memilih menyakiti hati Aylanya. “Ayla aku tidak berbohong, tidak bisakah kamu mempercayaiku?” “Tolong mengerti kondisiku untuk kali ini saja” “Jangan menuduhku dengan hal yang tidak kulakukan” begitu pesan yang Kaylasha terima dari kekasihnya, Altair. Siapa yang tidak sakit hati ketika membaca pesan seperti itu dari orang yang sangat kalian inginkan keberadaannya? Entah sudah seberapa lelah Kaylasha dalam menghadapi hubungan yang sudah berjalan selama 493hari itu. “Berapa banyak kebohongan lagi yang harus kuterima?” “Hal apalagi yang akan kumaklumi?” “Berapa banyak air mata lagi yang akan keluar jika aku melanjutkan hubungan ini?” “Serusak apa nanti hatiku jika aku membiarkan hal ini berlanjut?” dan masih banyak pemikiran yang sangat menyakitkan hati Kaylasha pada saat itu. Kaylasha memilih untuk

(10)

mengakhiri hubungan itu demi kesehatan hatinya yang sudah rusak akibat keluarganya, dan dibuat semakin rusak oleh Altairnya. Kaylasha memilih untuk mengakhiri hubungan tersebut demi kesehatan mentalnya yang juga tidak kalah penting. Begitu banyak rencana yang sudah mereka rancang untuk masa depan mereka, dan rencana itu harus pupus akibat dari lelahnya hati untuk mencintai seorang yang tidak bisa memahami pribadi orang yang sudah menjadi kekasihnya.

Terimakasih telah menjadi bagian dari ceritaku, dan mengizinkanku menjadi salah satu bagian dari ceritamu.

Akan kubiarkan hatiku untuk mengikhlaskanmu sedalam lautan, tetapi tak akan kubiarkan hati ini melupakanmu, Altaku…

Bandung, 15 Nov 2008

Kaylasha Aruna

PENULIS

Nama : Ruth Dear Haloho

(11)

Tanggal lahir : 28 April 2007

Nama : Egi P. Sebayang Tanggal lahir : 24 November 2006

Nama : Ari Andreo Ginting Tanggal lahir : 22 Desember 2006

Nyaman

Detak jantung ini, pertama kalinya aku merasakan tangannya membelai lembut kepalaku. Saya lysi, saya

(12)

adalah seseorang yang mungkin bisa dikatakan mempunyai kepribadian yang sedikit introvert. Saya sangat suka membaca buku di perpustakaan atau di bawah pohon beringin di lapangan sekolah karena rasanya sangat tenang dan menyenangkan. Rasa sakitnya akan hilang untuk sementara jika saya membaca buku di bawah pohon dengan tenang.

Suatu ketika, saat aku kost, aku pergi ke bawah pohon dan membaca buku di bawah pohon sambil mendengarkan lagu penyanyi favoritku yang berjudul "Sorai". Saat aku sedang tenang dan merasakan keheningan, seseorang datang dan menggangguku dengan mengusirku karena ingin tidur di bangku cadangan. Aku kesal karena biasanya tidak ada yang menggangguku saat aku di sini, namun kali ini pria bernama “Bryan” benar-benar mengganggu ketenanganku saat sedang membaca buku. Aku sangat kesal karena kenapa dia harus ikut campur ketika aku sedang melakukan apa yang aku suka.

Akhirnya aku pindah dari tempat itu. Aku lebih memilih mengalah daripada harus berdebat dengan pria tak jelas itu. “Kringgggg” bel istirahat sudah tiba, akhirnya aku dan temanku pergi ke kantin untuk membeli makanan ringan karena jujur cacing di perut kami meronta-ronta meminta makanan. Saat aku dan teman-teman sedang antri untuk membeli makanan di kantin, datanglah seorang laki-laki yang ternyata menampar pipiku dengan keras tanpa alasan, aku tidak terima, aku membalasnya dengan menampar balik laki-laki itu dan menendangnya. Suara di dalam kantin pun sudah sangat riuh, namun saat itu Bryan

(13)

datang dan memukul bocah itu dengan keras, aku dilindungi oleh Bryan. Aku kaget hingga tiba-tiba aku terdiam karena sikapnya yang sudah membantuku. Aku hanya bisa diam dan melihat apa yang terjadi, aku tidak bisa bicara dan bergerak.

Ketika mereka selesai berkelahi, guru memanggil mereka untuk membawa mereka ke ruang BK. Saya hanya bisa berdoa dalam hati karena tidak tahu harus berbuat apa.

Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar dia selalu melindungiku. Tidak lama kemudian mereka keluar dari kamar. Aku segera memanggil Bryan dan membawanya ke rooftop karena aku ingin mengobati memar dan luka di tubuhnya karena telah membantuku. Dia hanya mengikuti langkahku tanpa mengetahui kemana dia dibawa olehku.

Sesampainya di rooftop aku akhirnya menyuruhnya duduk dan aku mengeluarkan alkohol dan kapas untuk menyeka lukanya setelah itu aku menempelkan plester pada luka yang berdarah itu. Aku bertanya padanya “apa yang kamu lakukan untuk menolongku, sampai kamu harus terluka seperti ini?” tapi Bryan hanya bisa menatapku, dia mengusap pipiku yang masih merah karena ditampar si brengsek itu dan Bryan berkata “Apakah kamu kasihan dengan pipimu? Kamu harus ambil pipimu dulu, baru kamu bisa mengobati lukaku." Aku terdiam seperti terhipnotis oleh tangan yang ada di pipiku tapi aku langsung menepis tangannya dan berkata "Bukan urusanmu.". Namun dia malah diam dan berkata “Kamu harus jadi sahabatku, biar gak ada lagi yang ganggu

(14)

kamu.” Aku hanya dia, namun sebelum aku menjawab dia berlalu begitu saja tanpa meninggalkan sepatah kata pun.

Aku tak bisa berbuat apa-apa selain merasakan jantungku berdebar kencang, dalam benakku hanya memikirkan bagaimana menjadi seorang sahabat jika dekat dengannya sudah membuat hatiku seperti ini.

Namun aku menepis pemikiran itu dan segera mengemasi barang-barangku dan kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Bel tanda pulang pun berbunyi, aku keluar kelas dan segera menunggu ojekku didepan gerbang sekolah, sambil menunggu laki-laki yang akan mengantarku pulang, aku menolaknya karena aku tidak mengenalnya, namun ketika dia membuka helmnya ternyata Bryan, aku hanya bisa terpana karena dia sangat tampan menggunakan sepeda motor dan helm seperti itu.

Akhirnya aku menaiki jok motornya dan memegang jaketnya, entah dari mana datangnya keberanian hingga aku memberanikan diri memegang jaketnya. Aku bingung kenapa dia tahu rumahku padahal aku tidak pernah memberitahunya, aku tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa mengucapkan terima kasih dan aku pun segera masuk ke dalam rumahku. Saat aku selesai bersih-bersih aku mendapat notifikasi dari nomor yang tidak kukenal, aku bingung tapi aku membalasnya dan berkata "siapa ini?" jawabnya dan berkata “Akulah yang mengusirmu di bawah pohon beringin di lapangan sekolah” setelah aku membacanya aku hanya bisa tersenyum dan membalas pesannya dengan gembira. Ternyata dia adalah tetangga

(15)

sebelah rumahku yang tidak pernah kulihat, karena aku tidak pernah keluar rumah.

Persahabatan kami berlangsung sangat lama hingga kami akan lulus kelas 3 SMA. Aku di sini masih memendam rasa sukaku sejak pertama kali bertemu, aku belum berani menyatakan perasaanku padanya karena aku takut dia hanya menganggapku sebagai teman saja. Ketika acara wisuda tiba dan selesai sore harinya tiba waktunya untuk berfoto bersama teman-teman. Aku sangat sedih karena sejak tadi aku tidak melihatnya. Aku hanya bisa mencari dengan pandangan sekilas karena pesanku juga tidak dibalas olehnya. Saat tiba waktunya pulang dan aku sedang berjalan sendirian di lorong menuju toilet, tiba-tiba lampu padam dan aku sangat takut ketika aku menutup wajahku ternyata lampu langsung menyala dan aku melihat Bryan membawa tas cantik. sebuket bunga besar berwarna merah, dia menghampiriku dan memberikan bunga itu kepadaku sambil berkata “Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, aku hanya takut kamu hanya menganggapku sebagai teman, tapi sekaranglah waktunya untukku. untuk mengungkapkan perasaanku padamu. Aku sangat mencintaiku, maukah kamu menjadi pasanganku?” Aku kaget akhirnya aku menjawab dan berkata “Aku mau” lalu dia memelukku. Saat berada dalam pelukannya aku sangat bahagia dan menitikkan air mata karena aku sangat-sangat bersyukur dan terharu karena bisa mendapatkan seseorang yang kucintai selama ini.

(16)

PENULIS

(17)

Dini

Arnold

Akhir Bahagia

Setiap manusia punya warna aura masing masing yang berwana kuning tandanya mereka sangat antusias

(18)

terhadap segala sesuatu sementara yang berwarna biru mereka postitif dan tulus, mereka yang warna merah cenderung egois dan keras kepala. namaku Alesha aku memang bisa melihat warna aura orang yang ada di sekelilingku dari kemampuan ini aku bisa tahu kepribadian seseorang secara singkat, aku sangat tertarik mengenal kepribadian orang lain makanya aku kuliah jurusan psikologi dan udah sebulan lebih aku bekerja di cafe untuk mengisi waktuku selama libur semester. Saat menggantarkan pesanan ke meja, aku berpapasan dengan seorang pria yang beraura seluruhnya hitam gelap, warna ini di identik dengan duka misterius yang tertutup. Hari- hari berikutnya pria itu datang lagi, dia jadi pelanggan tetap di sini dan auranya masih segelap seperti pertama kali yang aku lihat, kali ini ia datang dengan wajah yang sangat lesu dan pucat dengan memesan satu gelas capuccino, biasanya ia duduk di meja nomor tiga namun ia pergi ke lantai dua, dan beberapa menit aku menyusulnya karena aku khawatir dia ingin loncat untuk bunuh dir sebab warna aura nya lebih besar dan pekat dari sebelumnya, setelah sampai di atas.

Aku cuman mau bilang kalok mau lompat ngga akan mati, palingan cuman patah kaki, ucap saya.Dan ternyata dugaan tersebut salah. Lo mikir dari mana gue mau bunuh diri, emang gua terlihat semenyedih itu? Ucap Junior. Lalu Alesha menghampri Junior itu,dan mengatakan kelebihan yang ada pada dirinya bahwa ia bisa melihan warna aura orang lain, dan Junior menanyakan warna aura Alesha sendiri, warna aura saya merah jambu yang diidentik dengan penyayang dan lembut, dan setelah bercerita

(19)

Alesha mengajak Junior untuk turun kebawah untuk minum capuccino bersama. Dan setelah itu mereka pulang sama dan mengantarkan alesha ke rumahnya, setelah sampai di rumah alesha warna aura junior berubah menjadi warna ungu yang diidentik dengan “Jatuh cinta”.

Keesokan harinya Junior datang ke cafe untuk meberikan sehelai kerta yang berisikan puisi dan mengajak Alesha untuk pergi kencan, dan alesha pun mau pergi bersama menggunakan vespa Junior, dan Junior mengajak Alesha pergi ke taman, setelah sampai di taman merka keliling di taman sambil bepegangan tangan dan selang beberapa waktu mereka bertemu dengan pacar junior yang hubungan mereka sedang tidak baik baik saja, setelah itu junior menjelaskan apa yang terjadi dan Alesha pergi meninggalkan junior. Junior pun mengejar Alesha tapi Alesha sudah rak terlihat lagi kemudian Junior kembali menghampiri pacarnya. Disitu lah Junior memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan pacarnya. Kemudian Junior pergi dan mendatangi alesha karena junior sudah mulai menyukai Alesha, Junior tiba di rumah Alesha dan menjelaskan bahwa dia sudah tidak punya hubungan lagi dengan perempuan itu. Disitu Junior menyatakan perasaanya bahwa dia mencintai Alesha.

Alesha pun menerima penjelasan dan menerima Junior bagian dari hidupnya. Akhirnya menjalani hari harinya bersama. Dan aura mereka berubah menjadi warna biru muda karena sudah menemukan cinta sejatinya.

(20)

PENULIS

(21)

Nama:

- Aurel Fermi Perbina Br Ginting

- Try Bina Utati Br Sitepu

Referensi

Dokumen terkait