• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of CHILDFREE: BETWEEN HUMAN POPULATION ISSUES AND THE PURPOSE OF MARRIAGE IN ISLAM (MAQASID AL-NIKAH)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of CHILDFREE: BETWEEN HUMAN POPULATION ISSUES AND THE PURPOSE OF MARRIAGE IN ISLAM (MAQASID AL-NIKAH)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Minhaj: Jurnal Ilmu Syariah

< { < {

Moch. Nurcholis

Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang [email protected] Muhammad Rizki Maulana Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang

[email protected]

Abstraksi :

In Islam the main purpose of marriage and family is to maintain the human population. Meanwhile, today's modern humans are faced with the threat of overpopulation of mankind. It is in this context that childfree is studied. This study focuses on the views of Islamic law on childfree. This focus is revealed in research questions about the concept and factors of childfree, and its status in view of the purpose of marriage in Islam (maqa>s}id al-nika>h}). Qualitative methods are used in this study by utilizing library research. The approach used is the philosophy of Islamic law. Data collection is done by documentation. While the analysis is carried out in a cycle-systemic manner. This research concludes; First, Childfree is one of the choices of modern humans in running a family system. Happiness in a family through Childfree is not determined by the presence of offspring. Second, Childfree is inconsistent with the purpose of marriage (maqa>s}id al-nikah}) in Islam. This is because it

(2)

has the potential to threaten the existence of the continuity of human life on earth.

Keywords: Childfree, human population, Marriage Purpose in Islam(maqa>s}id al-nikah})

Pendahuluan

Childfree atau perkawinan tanpa anak di seluruh dunia meningkat pada beberapa dekade terakhir ini. Pasangan tanpa anak menjadi suatu hal yang umum di kalangan kelarga masyarakat barat. Di negara amerika serikat berdasarkan sensus dari biro sensus amerika serikat pasangan tanpa anak meningkat tiga kali lipat pada tahun 1967 dan 1971 yang awal nya 1,3% menjadi 3,9%. Sedangkan pada tahun 2000 meningkat hampir 19% pada wanita lahir awal tahun 40-an dan 29% pada wanita lahir awal tahun 30-an. Di Inggris prosentasi pasangan tanpa anak juga mengalami peningkatan, tercatat sebanyak 10% terjadi pada wanita yang lahir tahun 40-an kemudian 20% pada wanita yang lahir pada tahun 50-an dan 45%

pada wanita yang lahir pada tahun 70-an. Sementara di Italia terjadi suatu peningkatan yang besar, tercatat pasangan tanpa anak mencapai 15%

terjadi pada wanita yang berusia 40-an. Bahkan ada yang sampai mengakhiri siklus reproduksi mereka dengan tanpa melahirka.1

Di Indonesia, terdapat satu komunitas yang menjadikan Childfree sebagai model dan bentuk baru dari ikatan perkawinan. Komunitas ini, beranggotakan lebih dari 300 orang dari latar belakang yang berbeda- beda. Bahkan, diantaranya terdapat publik figur yang memiliki pengaruh cukup luas.2 Praktik Childfree di Indonesia berhadapan secara langsung dengan budaya masyarakat timur, konstruksi dan stigma negatif sosial, dan ajaran keIslaman itu sendiri. Dan karenanya praktik ini kurang dapat berkembang.3 Meski demikian, fenomena Childfree patut untuk menjadi perhatian bagi para peneliti di Indonesia. Sebab, seiring dengan kecanggihan teknologi dan kuatnya pengaruh media sosial memungkinkan praktik perkawinan ini pada satu saat akan menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia.4

1 Christian Agrillo and Cristian Nelini, “Childfree by Choice: A Review,” Journal of Cultural Geography 25, no. 3 (October 2008): 347–363. 347.

2 Arif Buduman, “Tanpa Anak Dan Bahagia, Mengapa Tidak?,”

https://www.voaindonesia.com/a/tanpa-anak-dan-bahagia-mengapa-tidak- /5956367.html; diakses tanggal 14 Januari 2022.

3 Siti Faridah, “Childfree: Fenomena Childfree Dan Konstruksi Masyarakat Indonesia,”

https://heylawedu.id/blog/childfree-fenomena-childfree-dan-konstruksi-masyarakat- indonesia; diakses tanggal 14 Januari 2022.

4 Nasution, R. (2017). Effect of the Development of Communication Information

Technology on Local Cultural Existence – Pengaruh Perkembangan Teknologi

(3)

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2022, melaporkan bahwa bahwa 8% dari perempuan di Indonesia memilih melangsungkan perkawinan secara Childfree. Angka ini diprediksi akan mengalami kenaikan. Hal ini terbukti dengan adanya grafik peningkatan praktik Childfree dalam tiap tahunnya. Utamanya dalam 4 tahun terakhir.5 Jika dikaitkan dengan identitas keagamaan, di Indonesia praktik Childfree dilakukan pula oleh masyarakat Muslim.6 Hal ini menarik untuk dicermati lebih jauh, sebab dalam pandangan Islam perkawinan ditujukan untuk menghasilkan keturunan atau beranak pinak, sementara Childfree bertentangan dengan semangat tersebut.

Apabila dilihat lebih jauh, perintah melangsungkan perkawinan merupakan amanat langsung dalam al-Qur‟an7 dan al-Sunnah.8 Institusi perkawinan dalam Islam, selain difungsikan untuk menghindarkan diri dari perzinahan juga untuk mempertahankan eksistensi umat manusia di muka bumi. Dalam dimensi tujuan demikian inilah al-Qur‟an dan al- Sunnah menempatkan keturunan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam perkawinan. Bahkan dalam sebuah hadis dinyatakan tentang pentingnya memilih pasangan yang subur sebab akan menghasilkan banyak keturunan yang dengannya Nabi akan membanggakannya di akhirat kelak.

Tentang kajian Childfree ini, terdapat beberapa peneliti yang menuliskan terkait hal tersebut yang dilihat dari berbagai sisi, seperti pengalaman seorang Childfre,9 dampak Childfre,10 tingkat kepuasan seorang Childfre.11 Meski demikian, dari beberapa peneliti yang meneliti tentang Childfree belum ditemukan penelitian yang membahas tentang Childfree Informasi Komunikasi Terhadap Eksistensi Budaya Lokal. Jurnal Penelitian Komunikasi Dan Opini Publik, 21(1)a Local Cultural Existence – Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi.

5 Badan Pusat Statistik 2023_01_1_Menelusuri_Jejak_Childfree_Di_Indonesia.pdf (bps.go.id)

6 Erwina Rachmi Puspapertiwi, Sering Disebut Selebgram Gita Savitri, Ini Pengertian

dan Sejarah "Childfree", (kompas.com)

7 Al-Qur„an, 24:32.

8 Muslim, Abu Husain, Shahih Muslim (Riyad: dar Thaybah, 2006). 630.

9 Miwa Patnani, Bagus Takwin, and Winarini Wilman Dahlan Mansoer, “The Lived Experience of Involuntary Childless in Indonesia: Phenomenological Analysis,” Journal of Educational, Health and Community Psychology 9 (May 29, 2020): 166–183.

10 Elizabeth A. Hintz and Clinton L. Brown, “Childfree by Choice: Stigma in Medical Consultations for Voluntary Sterilization,” Women‟s Reproductive Health 6, no. 1 (January 2, 2019): 62–75.

11 Marsha D. Somers, “A Comparison of Voluntarily Childfree Adults and Parents”, Journal of Marriage and Family, National Council on Family Relations, Vol. 55, No. 3 (Aug., 1993), 643-650.

(4)

dari sudut pandang tujuan perkawinan (maqa>s}id al-nika>h}). Pada titik inilah penelitian ini menemukan sisi kemenarikan untuk dikaji.

Fokus kajian ini ditujukan untuk melihat konsep perkawinan Childfree dalam pandangan hukum Islam. Fokus ini dibreak down menjadi pertanyaan penelitian tentang konsep dan faktor perkawinan Childfree, dan statusnya dalam pandangan tujuan perkawinan dalam Islam (maqa>s}id al-nika>h}). Upaya menjawab pertanyaan penelitian dilakukan, melalui metode penelitian kualitatif dengan memanfaatkan data kepustakaan (Library Research) yang berupa artikel, buku, dan kitab-kitab yang berisikan hukum Islam. Pendekatan yang digunakan adalah filsafat hukum Islam yang bertujuan untuk mengungkap makna kesesuaian antara tujuan Childfree dengan tujuan perkawinan dalam Islam (maqa>s}id al- nika>h}). Diantara, sumber data penelitian diperoleh dari Ih}ya>’ ‘Ulu>middi>n karya al-Ghaza>li> dan Nah}w Taf‘i>l Maqa>s}id al-Shari>‘ah karya Jama>luddi>n

„At}iyyah, serta didukung oleh sumber referensi terkait lainnya. Upaya pengumpulan data dilakukan secara dokumentasi, dianalisis melalui deskritis-analitis, dan disimpulkan melalui pendekatan siklus-sistemis.

Pembahasan

Childfree Dalam Perkawinan

Menurut Christian Agrilo dan Nelini seorang penulis dari departemen psikologi umum Universitas Padova, Italia mengatakan bahwa Childfree adalah seseorang yang tidak memiliki keinginan atau rencana untuk memiliki anak.12 Salah seorang penulis lainnya juga menguatkan tentang pengertian tersebut dengan mengatakan bahwa Childfree merupakan kondisi pasangan suami istri yang memilih untuk tidak memiliki anak.13 Menurut Anna Kemeny dan Susan Stobert istilah Childfree merupakan sebutan bagi sekelompok orang yang memiliki suatu keinginan yang kuat untuk tidak memiliki anak atas kemauannya sendiri 14 Pusat Statistik Kesehatan Nasional para peneliti juga mendefinisikan istilah Childfree adalah mereka yang memilih tidak mempunyai anak meskipun reproduksi mereka dalam keadaan baik-baik saja. Selain Childfree terdapat istilah lain yang mendefinisikan tentang sebuah perkawinan tanpa adanya seorang anak yakni Voluntary Childless.

12 Agrillo and Nelini, “Childfree by Choice: A Review.”

13 Ahmad Muntaha, “Hukum Asal Childfree Dalam Kajian Fiqih Islam,” Nu Online, last modified 2021, https://islam.nu.or.id/nikah-keluarga/hukum-asal-childfree-dalam- kajian-fiqih-islam-CuWgp.

14 Eva Fadhilah, “CHILDFREE DALAM PANDANGAN ISLAM,” jurnal syari’ah dan hukum 3, no. 2 (2022): 71–80, https://journal.uii.ac.id/JSYH/article/view/21959.

(5)

Voluntary Childless memiliki definisi yang sama dengan Childfree yakni mereka yang dengan sadar dan sengaja tidak ingin memiliki anak.

Hal ini berbeda dengan istilah Involuntary Childless atau bisa disebut juga Childless, yakni mereka yang tidak memiliki anak bukan karena kehendaknya sendiri atau disengaja melainkan ada suatu penyebab lain atau keadaan yang mengakibatkan mereka tidak bisa memiliki anak.15 Childless adalah mereka yang dalam kondisi dimana tidak memiliki anak dikarenakan suatu keadaan tertentu seperti kondisi keguguran, kondisi fisik dan biologis yang lain. Di Indonesia, praktik Involuntary Childless lebih ditoleran dibanding dengan Voluntary Childless atau Childfree. Sebab Indonesia termasuk dari bagian negara-negara di dunia yang menganut pro-natalis dalam perkawinan.16

Diantara faktor yang menyebabkan seseorang memilih melakukan Childfree dalam ikatan perkawinan adalah ekonomi. Selain itu terdapat pula faktor mental, pengalaman personal, budaya dan over popolasi pada satu daerah atau negara tertentu. Perkawinan yang dilakukan melalui pola Childfree memiliki dampak negatif secara medis. Diantara dampak yang ditimbulkannya adalah: Pertama, efek kardiovaskular, yakni penggunaan alat kontrasepsi oral dapat memicu timbulnya penyakit tromboemboli vena, serangan jantung, dan sroke. Kedua, efek metabolik, yakni pada produk kontrasepsi terdapat komponen progestin yang dapat menurunkan kolestrol baik dan estrogen yang dapat meningkatkan kolestrol jahat. Ketiga, tumor, penggunaan alat kontrasepsi oral dapat meningkatkan resiko terdampak neoplasma yaitu sejenis tumor jinak dan perdarahan lambung yang serius. Keempat, masalah empedu, mengkonsumsi pil kontrasepsi dalam jangka waktu yang panjang dapat meningkatkan resiko gangguan empedu. Kelima, gangguan organ reproduksi dan rahim, pemakaian alat kontrasepsi IUD Intrauterine Device dalam jangka waktu yang panjang bisa mengakibatkan munculnya resiko radang panggul, luka pada organ uterus, dan masalah saluran tuba.17 Terlepas dari resiko dalam Childfree, nyatanya praktik perkawinan ini dalam sebagian kasus, dipilih oleh masyarakat sebagai bentuk dalam menjalankan kehidupan keluarga.

15 Ibid.

16 Siti Faridah, “Childfree: Fenomena Childfree Dan Konstruksi Masyarakat Indonesia,”

Heylawedu, last modified 2021, accessed January 14, 2022, https://heylawedu.id/blog/childfree-fenomena-childfree-dan-konstruksi-masyarakat- indonesia.

17 Pitoyo Marbun, “Mengenal Konsep Child-Free: Menikah Tapi Tak Ingin Punya Anak,” Good Doctor, last modified 2022, https://www.gooddoctor.co.id/hidup- sehat/info-sehat/mengenal-konsep-child-free-menikah-tapi-tak-ingin-punya-anak/.

(6)

Bagi para pelakunya, perkawinan bukan semata-mata

“menciptakan” anak semata. Lebih jauh dari itu, perkawinan merupakan bagaimana suami dan istri, menjalakan kehidupan bersama dengan pasangannya.18 Diakitkan dengan isu jumlah populasi manusia di muka bumi isu Childfree dalam pandangan pelakunya, merupakan salah satu solusi atas isu global tersebut. Pada tahun 2022 Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) memperkirakan di bumi akan di huni oleh delapan miliyar manusia.19 Bukan hanya itu PBB juga pemprediksikan populasi manusia di bumi akan mencapai 10,4 miliyar jiwa pada tahun 2100.20Idealnya menurut peneliti dari Stanford University, California pada tahun 1994 adalah 1,5 sampai 2 miliar orang.21 Artinya pada mendatang kita akan dihadapkan dengan masa overpopulasi atau membludaknya penghuni bumi. Dampak yang didapatkan adalah manusia di bumi akan lebih banyak memberi tekanan kepada alam karena manusia akan bersaing dengan hewan untuk bisa mendapatkan ruang air dan makanan yang di mungkinkan akan terjadi migrasi massal serta konflik dalam dekade mendatang.22

Fenomena berlebihnya populasi manusia di muka bumi perlu ditangani dengan pengurangan dan control jumlah populasi, yang menurut sebagian kalangan, dilakukan secara Childfree.23 Lebih dari itu, jikalaupun Childfree dianggap sebagai potensi gangguan keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi, maka upaya untuk melindungi manusia agar tidak terjadi kepunahan dapat di tinjau dari dua hal yakni kuantitas dan kualitas. Pada poin kualitas hal tersebut menjadi suatu poin lain dari menjaga nasab karena kuantitas yang tidak dijaga kualitasnya

18 Tiara Hanandita, “Konstruksi Masyarakat tentang hidup tanpa anak Seteah menikah”, Jurnal Analisa Sosiologi, Unversitas Sebelas Maret, (Surakarta: Januari 2022) Vol. 11, 130.

19 Zaria Gorvet, Ancaman Over Populasi: Berapa Banyak Manusia yang Tertampung di

bumi?, BBC Future, 24 september 2022,

https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5103m34870o

20 Komarudin Watubun, “Antisipasi overpopulasi planet bumi”. Kompas.com, 25-11- 2022.

21 Zaria Gorvet, Ancaman Over Populasi: Berapa Banyak Manusia yang Tertampung di

bumi?, BBC Future, 24 september 2022,

https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5103m34870o

22 Monika Novena, populasi global mencapai 8 miliar, apa dampaknya pada kehidupan?,Kompas.Com.17-11-22.

https://www.kompas.com/sains/read/2022/11/17/103000023/populasi-global- mencapai-8-miliar-apa-dampaknya-pada-kehidupan-?page=2

23 Karunia Haganta, Firas Arrasy, and Simroatul Ayu Masruroh, “MANUSIA, TERLALU (BANYAK) MANUSIA: KONTROVERSI CHILDFREE DI TENGAH ALASAN AGAMA, SAINS, DAN KRISIS EKOLOGI,” Prosiding Intregasi Interkoneksi Islam dan Sains 4, No. 1 (2022): 309–320.

(7)

akan berpotensi menimbulkan kerusakan pada diri manusia seperti, kesehatan, kecukupan pangan, pendidikan dan lain sebagainya.24

Chilfree dalam Tujuan Perkawinan Islam

Perkawinan dalam Islam disinggung al-Qur‟an untuk kalangan laki- laki dan perempuan.25 Selain al-Qur‟an terdapat pula Hadis yang mendorong melakukan perkawinan. Sebab dengan melakukan perkawinan seseorang dapat terbebas dari praktik perzinahan yang dilarang dalam Islam. Dalam Islam, hukum melangsungkan perkawinan tidak bersifat tunggal. Di dalamnya terdapat hukum wajib, sunnah, haram, makruh, mubah sesuai dengan kondisi dan motif para pihak yang melangsungkannya.26 Hukum demikian akan dijelaskan sebagaimana berikut: Wajib, ketika sudah memiliki kemampuan untuk menikah baik secara mental maupun finansial, yang didorong oleh nafsu membara yang dan takut akan terjerumus pada lingkaran perzinahan. Sunnah, ketika memiliki dorongan nafsu yang besar akan tetapi bisa mengendalikannya agar tidak terjadi zina. Haram, ketika seseorang tidak siap mental dan finansial dan dorongan nafsu yang besar. Makruh, ketika memiliki syahwat yang lemah dan tidak mampu memberi belanja kepada calon istrinya. Mubah, ketika dirinya tidak memiliki alasan yang diwajibkannya nikah dan diharamkamnya nikah.27

Palam pandangan Islam, perkawinan memiliki serangkaian tujuan yang terkandung dalam penetapannya (tashri>). Al-Ghaza>li>, menjelaskan tentang tujuan ini. Ia menyatakan perkawinan bermanfaat untuk menjaga kelestarian manusia (keturunan), menghindarkan kemaksiatan (perzinahan dan hal yang berkaitan dengannya), menenteramkan jiwa manusia, mengosongkan hati dari urusan rumah tangga, serta berjuang melatih jiwa (muja>hadah) dalam pembinaan keluarga.28 Selain itu, dalam Islam terdapat pula tujuan berumah tangga dalam Islam. Jama>luddi>n

„At}iyyah, misalnya, mengungkap adanya 7 tujuan dalam institusi rumah tangga. Ia menyatakan keluarga dalam Islam dibentuk dengan tujuan untuk (1) menjaga eksistensi manusia agar tidak punah, (2) mengatur pola hubungan laki-laki dan perempuan, (3) memastikan kehidapan rumah tangga menjadi Sakinah, mawaddah wa rahmah, (4) menjaga garis

24 Ibid.,

25 QS. An Nur: 32.

26 Muhammad yunus Samad, “Hukum pernikahan dalam islam”, jurnal Pendidikan dan pemikiran islam ISTIQRO‟, 06-03-2020, Vol. 10, No. 2.

27 Ibid.,

28 Ghazaly, Abu Hamid, Ihya’ Ulumuddin, vol. 1 (bairut, libanon: dar ibnu hazm, 2005).

459-467.

(8)

keturunan, (5) menjaga nila-nilai dalam agama, (6) mengatur aspek dasar dalam pembentukan keluarga, (7) mengatur aspek ekonomi keluarga.29

Jika disederhanakan tujuan-tujuan dalam perkawinan dan berkeluarga dapat diringkas dalam 3 tujuan utama, yakni (1) menjaga keturunan, (2), terbentuknya keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, (3) menjaga nasab.30 Demikian dikarenakan tiga tujuan ini yang memiliki dalil nas}s} yang jelas dibandingkan dengan tujuan perkawinan yang lain.31

Tujuan perkawinan dan berkeluarga dalam Islam, sebagaimana dijelaskan oleh al-Ghaza>li> dan Jama>luddi>n „At}iyyah ini jika ditimbang, menempatkan tujuan yang pertama sebagai hal yang pokok dalam perkawinan. Tegasnya, perkawinan dan berkeluarga dalam Islam bertujuan utama untuk menjamin berlangsungnya kehidupan manusia, melalui kelahiran seorang anak atau keturunan. Selanjutnya, bentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah dalam Islam merupakan bangunan keluarga yang di dalamnya terdapat anggota keluarga yang saling memberikan ketenangan dan ketenteraman serta terpenuhinya hajat hidup baik material maupun spiritual secara layak dan seimbang.32 Kunci untuk mendapatkan keluarga semcam ini, menurut Qurasy Shihab dapat dilakukan dengan tiga langkah, yakni perhatian, tanggung jawab, dan penghormatan.33 Sementara pada tujuan yang ketiga, yakni menjaga garis keturunan erat kaitannya dengan tujuan yang pertama. Sebab pada tujuan ketiga ini, hal yang pokok adalah tentang “status” ketersambungan nasab pada diri anak terhadap orang tua yang dianggap sah oleh agama.

Dengan demikian, dalam tujuan ketiga ini, sebenarnya terdapat pula tujuan yang pertama, yakni menjamin keberlangsungan satu generasi manusia agar terhindar dari kepunahan dengan upaya yang mengacu pada kebaikan kehidupan.34

Apabila dicermati tujuan pokok perkawinan dan berkeluarga, yakni beranak pinak (al-tana>sul) sebagaimana diungkapkan oleh al-Ghaza>li>

dan Jama>luddi>n „At}iyyah tampak bertolak belakang dengan konsep perkawinan secara Childfree. Meskipun pula harus diakui, pada tujuan perkawinan yang lainnya tidak selalu demikian halnya. Dalam upaya

29 Jamaluddin Athiyah. Nahwa taf’il Maqosid al Syari’ah. (Damaskus: Dar al-Fikr, 2003), 148.

30 Moch Nurcholis, “USIA NIKAH PERSPEKTIF MAQASHID PERKAWINAN,”

Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman 8, no. 1 (June 1, 2020): 1–18.

31 Ibid.,

32 Muhammad Fadhil, Konsep membentuk keluarga Sakinah tanpa di karuniai anak:

teori korespondensi, UIN Ar Raniry.

33 Ibid.,

34 Achmad Beadie Busyroel Basyar, Perlindungan nasab dalam teori maqosid syari‟ah, maqosshid jurnal hukum islam, 2020, Vol. 3, No. 1, hal. 5.

(9)

mewujudkan keluarga sejahtera yang diliputi perasaan psikis berupa sakinah, mawaddah, wa rahmah, didapati sementara fakta bahwa pasangan Childfree setelah menikah dapat mewujudkan hal tersebut.35

Penutup

Berdasarkan pembahasan yang dilakukan dapat ditarik dua kesimpulan. Pertama, Childfree sebagai bentuk perkawinan merupakan salah satu pilihan manusia modern dalam menjalankan sistem keluarga.

Terlepas dari dampak negatif yang ditimbulkannya, bentuk perkawinan semacam ini telah mulai menjelma sebagai bentuk baru kehidupan berumah tangga. Kebahagian dalam berkeluarga melalui Childfree tidak ditentukan oleh hadirnya keturunan. Kedua, Childfree dalam pandangan tujuan perkawinan (maqa>s}id al-nika>h}) tidak memiliki kesesuaian dengan tujuan dasar perkawinan dan pembentukan keluarga. Sebab, jika Childfree dipilih sebagai bentuk perkawinan dan kehidupan berkelurga secara global oleh masyarakat dunia, akan berujung pada potensi kepunahan umat manusia di muka bumi.

Daftar Pustaka Al-Qur‟an

Abadi, Totok Wahyu. “Aksiologi: Antara Etika, Moral, Dan Estetika.”

Kanal: Jurnal Ilmu Komunikasi 4, no. 2 (March 3, 2016).

Agrillo, Christian, and Cristian Nelini. “Childfree by Choice: A Review.”

Journal of Cultural Geography 25, no. 3 (October 2008).

Al-Syathibi, Abi Ishaq. Al Muwafaqat. 1st ed. Saudi arabia: dar ibnu Affan, 1997.

Anderson, Michael. “Highly Restricted Fertility: Very Small Families in the British Fertility Decline.” Population Studies 52, no. 2 (July 1, 1998).

Athhiyah, Jamaluddun. Nahwa Taf’il Maqoshid Al Syari’ah. Damaskus: dar Al-fikr, 2003.

Buduman, Arif. “Tanpa Anak Dan Bahagia, Mengapa Tidak?” VOA Indoneia. Last modified 2021. Accessed January 14, 2021.

Dorbritz, Jürgen. “Germany: Family Diversity with Low Actual and Desired Fertility.” Demographic Research 19 (July 1, 2008).

35 Tiara Hanandita, “Konstruksi Masyarakat tentang hidup tanpa anak Seteah menikah”, Jurnal Analisa Sosiologi, Unversitas Sebelas Maret, (Surakarta: Januari 2022) Vol. 11, 130.

(10)

Fadhilah, Eva. “CHILDFREE DALAM PANDANGAN ISLAM.”

jurnal syari’ah dan hukum 3, no. 2 (2022)

Faridah, Siti. “Childfree: Fenomena Childfree Dan Konstruksi Masyarakat Indonesia.” Heylawedu. Last modified 2021. Accessed January 14, 2022.

Ghazali, Abu hamid. Ihya’ Ulumuddin. Vol. 1. bairut, libanon: dar ibnu hazm, 2005.

Ghofar, Abdul. Terjemah Tafsir Ibnu Katsir. 5th ed. Bogor: Pustaka Imam Syafi‟i, 2004.

Haganta, Karunia, Firas Arrasy, and Simroatul Ayu Masruroh. “Manusia, Terlalu (Banyak) Manusia: Kontroversi Childfree Di Tengah Alasan Agama, Sains, Dan Krisis Ekologi.” Prosiding Intregasi Interkoneksi Islam dan Sains 4, no. 1 (2022).

Hintz, Elizabeth A., and Clinton L. Brown. “Childfree by Choice: Stigma in Medical Consultations for Voluntary Sterilization.” Women’s Reproductive Health 6, no. 1 (January 2, 2019).

MACLEOD, CATRIONA MACDONALD. “Julie de Groot , Isabelle Devos and Ariadne Schmidt (Editors), Single Life and the City 1200–1900 (Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2015). Pages 260.

£52.99 Hardback.” Continuity and Change 31, no. 3 (December 9, 2016).

Marbun, Pitoyo. “Mengenal Konsep Child-Free: Menikah Tapi Tak Ingin Punya Anak.” Good Doctor. Last modified 2022.

Mawardi, Ahmad imam. Fiqh Minoritas, Fiqh Al-Aqalliyat Dan Evolusi Maqasid Syari’ah Dari Konsep Pendekatan. Yogyakarta: LkiS, 2010.

Miwa Patnani, Bagus Takwin, and Winarini Wilman Dahlan Mansoer.

“The Lived Experience of Involuntary Childless in Indonesia:

Phenomenological Analysis.” Journal of Educational, Health and Community Psychology 9 (May 29, 2020).

Muntaha, Ahmad. “Hukum Asal Childfree Dalam Kajian Fiqih Islam.”

Nu Online. Last modified 2021.

Muslim, Al-imam. Shahih Muslim. Riyad: dar Thaybah, 2006.

Nurcholis, Moch. “USIA NIKAH PERSPEKTIF MAQASHID PERKAWINAN.” Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman 8, no. 1 (June 1, 2020).

(11)

Sarwat, Ahmad. Maqashid Syariah. Edited by Fatih. 1st ed. Jakarta selatan:

Rumah Fiqih Publishing, 2019.

Sugiono. Metode Penelitian (Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D). Bandung:

ALFABETA, 2008.

Zuhaily, Wahbah. Tafsir Al-Wajiz. libanon: Darul Fikr, 1996.

Referensi

Dokumen terkait