PENDAHULUAN
Latar Belakang
Saat ini permasalahan Kota DKI Jakarta dalam hal ini mengenai ruang publik seperti transportasi umum, sarana dan prasarana umum, serta ruang terbuka hijau masih kurang inklusif dan aman. Hal ini tentunya merupakan upaya baik pemerintah pusat dalam rangka mencapai SDGs poin 11 dengan menawarkan ruang publik (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2017). Dari sisi penyediaan ruang publik perkotaan ditunjukkan melalui pengembangan Kegiatan Strategis Daerah (KSD) yaitu pengembangan Transit Oriented Development (TOD), jalur pejalan kaki, park n ride, Taman Maju Bersama (TMB), dan lain sebagainya. .
Salah satu contohnya adalah keterlibatan kelompok masyarakat dan komunitas lokal dalam perencanaan pengembangan ruang publik perkotaan, dalam hal ini Taman Maju Bersama (TMB). Hal ini karena keterlibatan masyarakat merupakan elemen penting dalam menciptakan ruang publik perkotaan (American Planning Association, 2002). Pasalnya, keterlibatan masyarakat dan komunitas juga dapat dirasakan melalui kampanye yang mengajak masyarakat untuk mengunjungi dan mengaktifkan ruang publik perkotaan yang telah direnovasi oleh Pemprov DKI Jakarta.
Batasan Dan Rumusan Masalah
Berdasarkan konsep diplomasi warga yang dijelaskan oleh James Marshall, masyarakat mempunyai hak untuk menyampaikan aspirasi warga negara dan terlibat dalam berpartisipasi dalam tahap perencanaan hubungan luar negeri dan mencapai partisipasi yang lebih besar dalam agenda internasional (Marshall, 1949). Didukung dengan tipologi citizen diplomats ala Paul Sharp dan pengklasifikasian kegiatan diplomasi dengan menempatkan masyarakat sebagai citizen diplomat, upaya dan keterlibatan masyarakat Pemprov DKI Jakarta di dalamnya dinyatakan sebagai bentuk diplomasi warga atau perwujudan komitmen global yaitu Pembangunan Berkelanjutan. Goals (SDG'er) mengenai ruang publik di Jakarta. Oleh karena itu, dengan latar belakang tersebut, penulis menganalisis bagaimana keterlibatan dan upaya masyarakat membantu mewujudkan SDG's poin 11 terkait ruang publik perkotaan secara partisipatif melalui perspektif diplomasi warga dan kacamata tipologi diplomat warga.
Indonesia dan pembangunan ruang publik perkotaan secara besar-besaran mulai terjadi di Jakarta, khususnya pada periode 2018-2022. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis merumuskan permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini, yaitu: “Bagaimana masyarakat sipil dapat menjadi citizen diplomat dalam membantu upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencapai SDGs poin 11 tentang penciptaan ruang publik perkotaan?”
Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
Kerangka Konseptual
Diplomasi yang dilakukan biasanya berdasarkan prosedur dengan negara sebagai protagonisnya atau bersifat state-centric. Pandangan bahwa warga negara atau warga negara biasa adalah orang awam dalam berdiplomasi seolah-olah menunjukkan bahwa siapa pun bisa menjalankan fungsi diplomasi. Namun kegiatan ini jelas mempunyai kapasitas khusus untuk memenuhi peran diplomatik dan merupakan bagian penting dari prosedur diplomasi demokratis, sehingga hal ini menimbulkan banyak perdebatan (Sharp, 2001).
Definisi dan perdebatan yang sangat luas mengenai hal ini memerlukan klasifikasi aktor dan aktivitas diplomasi warga. Oleh karena itu, melalui artikelnya, Paul Sharp membahas tentang tipologi citizen diplomat dan membantu mengklasifikasikan aktor dalam aktivitas citizen diplomacy berdasarkan dua dimensi, yaitu siapa yang diwakili oleh citizen diplomat, bisa individu, komunitas, atau bahkan negara. Berdasarkan tipologi yang dipaparkan Sharp, diplomat warga mempraktikkan diplomasi dengan mampu mewakili dirinya sebagai aktor yang mempunyai kepentingan dan terlibat dalam diplomasi negaranya.
Tipe ini mendukung partai-partai yang berorientasi pada perubahan kebijakan atau perencanaan politik dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran di kalangan aktor non-negara atau transnasional mengenai suatu gagasan atau isu baik di tingkat nasional maupun internasional. Partisipasi warga negara biasa dalam diplomasi warga dapat didasarkan pada fasilitasi pihak lain atau berdasarkan inisiatif dan kesukarelaan. Namun ciri utama dari diplomasi warga negara yang masih berkaitan dengan pengertian diplomasi berbasis negara atau turunan dari diplomasi publik adalah melalui fasilitasi pihak lain, dalam hal ini peran pemerintah dalam mendorong partisipasi warga negara (Sharp, 2001). ).
Berdasarkan pemahaman yang luas mengenai diplomasi warga, maka terus terbuka peluang untuk pengembangan lebih lanjut kajian konsep ini dalam seluruh aktivitas di masyarakat yang menyangkut pencapaian atau tujuan interaksi antar negara dalam kajian hubungan internasional. Oleh karena itu, penulis menggunakan konsep diplomasi warga untuk mengkaji rumusan masalah terkait bagaimana masyarakat sipil menjadi diplomasi warga dalam membantu pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam upaya mewujudkan 11 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan terkait ruang publik. Diplomasi warga negara pada dasarnya saling melengkapi dengan diplomasi negara karena mempunyai tujuan yang sama, namun metodenya berbeda.
Berdasarkan SDGs yang dievaluasi melalui negara, diplomasi warga dianggap sebagai upaya yang dilakukan dan wujud keselarasan pendekatan partisipatif top-down dengan keterlibatan dan partisipasi masyarakat di dalamnya untuk memenuhi pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. pembangunan yang dievaluasi berdasarkan skala negara di kancah politik internasional.
Metode Penelitian
Data yang berkaitan dengan penelitian ini akan dikumpulkan dengan melakukan tinjauan pustaka dengan membaca, menganalisis, dan kemudian mengutip dari sumber dokumen resmi, buku, buku elektronik, website resmi, jurnal penelitian, artikel berita dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini.
Sistematika Penulisan
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Citizen Diplomacy
- Menurut James Marshall
- Menurut Paul Sharp
Penelitian Terdahulu
GAMBARAN UMUM
Jakarta Sebagai Kota Yang Kolaboratif Dalam Pembangunan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah yang menjadi acuan dalam pelaksanaan pembangunan dengan menghubungkan berbagai pemangku kepentingan, baik teknis, perencanaan, pendanaan, kebijakan, dan lain-lain. Berdasarkan alur pada gambar, keterlibatan pemangku kepentingan mulai dari lembaga pemerintah, BUMD, filantropi, hingga masyarakat dilibatkan sepenuhnya dalam seluruh rencana pembangunan daerah Provinsi DKI Jakarta. Keterlibatan seluruh pihak dalam pembangunan daerah, selain mengacu pada Menteri Dalam Negeri, juga mengacu pada dokumen rancangan perencanaan yang ada.
Perencanaan Pembangunan Ruang Publik Melalui Pendekatan Top
Integrasi kerjasama partisipatif ini berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah yang menjadi acuan dalam melaksanakan pembangunan oleh berbagai pemangku kepentingan baik teknis, perencanaan, pembiayaan, kebijakan. , dan seterusnya. pada. Realitas hasil perencanaan pembangunan dengan metode Top Down dalam hal pencapaian poin 11 SDGs di Jakarta tentang ruang publik.
Realita Hasil Perencanaan Pembangunan Dengan Metode
PEMBAHASAN
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam mewujudkan SDGs poin 11.7.1, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sekaligus berupaya menyelesaikan permasalahan perkotaan melalui perencanaan pembangunan ruang publik yang disebut Ruang Terbuka Hijau/Taman Maju Bersama dengan metode partisipatif top-down. Dimana melalui FGD tersebut diambil inisiatif pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam merencanakan pembangunan Taman Maju Bersama secara partisipatif. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya melibatkan masyarakat tidak hanya dalam perencanaan, namun juga dengan menciptakan rasa kepemilikan terhadap hak warga kota dalam mengakses ruang publik dan terus berkolaborasi dalam mengaktifkan ruang publik di kota.
Dengan demikian, pemerintah DKI Jakarta telah melaksanakan poin-poin SDGs, yaitu penyediaan ruang publik perkotaan yang aman, nyaman, inklusif, dan berkelanjutan sesuai dengan dokumen dan alur perencanaan dan implementasi SDGs di Indonesia. Citizen diplomat sesuai tipologi keempat yang dijelaskan oleh Paul Sharp dalam merencanakan pengembangan ruang publik di Jakarta, yaitu TMB melalui metode FGD yang digagas pemerintah provinsi, memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya mengenai keinginan dan harapan terhadap TMB. pada aspek fisik dan non fisik, pada aspek desain dan sosial budaya. Berdasarkan hasil pengembangan tersebut maka pembangunan TMB dengan desain dan konsep yang sesuai dengan aspirasi dan hasil keterlibatan masyarakat sekitar akan mendorong adaptasi kebijakan gaya hidup baru sesuai definisi diplomasi warga yang dijelaskan. berdasarkan peran diplomat warga.
Selain keterlibatan masyarakat sebagai perencana, peran masyarakat lainnya sebagai diplomat warga juga didukung oleh globalisasi dan media massa di daerah dan negara untuk menyebarkan ajakan dan kesadaran akan pentingnya dan berbagai pemanfaatan ruang publik perkotaan yang secara intensif diperbarui dan dilengkapi dengan fasilitas. berdasarkan aspirasi/kebutuhan masyarakat sebagai upaya penyediaan ruang publik perkotaan yang berkelanjutan sejalan dengan SDGs 11. Definisi luas dari diplomasi warga yang dijelaskan Marshall pada akhirnya merupakan bentuk sinergi kolaboratif dengan berbagai pemangku kepentingan, yang melibatkan aktor lain selain negara atau pemerintah. terlibat, yaitu masyarakat. dan masyarakat sebagai upaya mewujudkan isu SDGs global dalam perencanaan pembangunan daerah. Dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk keberhasilan, meskipun belum sepenuhnya efektif, namun telah menunjukkan bahwa diplomasi warga telah mencapai hasil menuju tujuan tersebut.
Dalam proses perencanaan, aspirasi masyarakat dijabarkan melalui program pemerintah provinsi menjadi hasil perencanaan pembangunan TMB yang aman, nyaman, inklusif dan berkelanjutan. Dalam proses pelibatannya, masyarakat dan komunitas berperan aktif, baik inisiatif maupun fasilitasi, dalam mengkampanyekan peruntukan dan keberadaan ruang publik perkotaan melalui media massa. Sejalan dengan upaya kolaboratif dan komitmen yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk terus menyediakan ruang publik perkotaan yang inklusif dalam rangka mewujudkan SDGs poin 11 di Jakarta.
Saran
Sebagai sebuah platform yang berfungsi untuk meningkatkan kesadaran akan keberadaan dan pentingnya ruang terbuka hijau publik perkotaan di Jakarta, apa urgensinya yang dapat digambarkan oleh Ayo Ke Taman sebagai warga dan komunitas di DKI Jakarta pada periode 2015-2022 tentang ruang publik. ? di Jakarta. Bisakah Anda menggambarkan urgensi keberadaan ruang publik di Jakarta pada periode tersebut? Namun sebagai perkenalan, Ayo Ke Taman hadir karena kepedulian kami terhadap keberadaan ruang publik yang ada yang maknanya terletak pada pemanfaatan atau pengaktifannya.
Kami prihatin dengan hal itu, sehingga kami ingin menunjukkan bahwa ruang publik ada karena kami membutuhkannya. Oleh karena itu kami ada, maka sekali lagi pada edisi ruang publik kali ini kami mengisi bagian pemanfaatannya. Salah satu upaya pemerintah provinsi dalam Taman Maju Bersama tercatat sebagai upaya mewujudkan SDGs 11 terkait ruang publik perkotaan.
Dan Ayo Ke Taman melihat hal ini positif karena kami yakin yang kami sentuh adalah soal ruang publik, dan ruang publik adalah ruang yang digunakan oleh masyarakat. Jawaban: Sebenarnya kami ingin mengaktifkan ruang-ruang terbuka publik yang ada untuk mengadvokasi seluruh ruang publik yang dibutuhkan publik, sesuai dengan namanya, untuk digunakan dalam berbagai jenis kegiatan. Dari segi upaya yang dilakukan Ayo Ke Taman untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan dan pemanfaatan ruang publik.
Menurut Ayo Ke Taman, apakah peran kampanye digital terkait pentingnya ruang publik perkotaan merupakan inisiatif yang baik untuk menyebarkan isu masyarakat perkotaan yang berkelanjutan dan kesadaran akan tujuan pembangunan berkelanjutan 11. Apa saja metode yang digunakan oleh pemerintah dan warga sebagai aktor pembangunan, yang dalam hal ini dapat kita katakan tentang warga negara? Para diplomat sudah tepat menerapkan poin ke-11 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan terkait ruang publik Jakarta. Jawaban: menarik, kami memang mempunyai visi untuk memimpikan ruang publik yang bisa dibentuk oleh publik.
Jawaban: Kami berharap seluruh ruang publik yang ada dapat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan warga dan aktivitas masyarakat yang berbeda-beda, sehingga keberadaan ruang publik benar-benar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.