CRITICAL JOURNAL REVIEW HUKUM PERDATA
Di Susun Oleh :
NAMA :MUHAMMAD YOGA PRATAMA
NIM :3212411018
KELAS : PPKn Reguler C
DOSEN PENGAMPU : Sri Hadiningrum,S.H.,M.Hum
JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2023
2
3 KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah Swt, berkat rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan Critical Jurnal Review untuk memenuhi tugas Hukum Perdata. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada : Sri Hadiningrum,S.H.,M.Hum selaku dosen Mata kuliah Hukum Perdata di Universitas Negeri Medn atas kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk mengerjakan tugas Critical Jurnal Review ini.
Tak lepas dari kekurangan, penulis sadar bahwa Critical Jurnal Review ini masih jauh dari kata sempurna. Saran dan kritik yang membangun diharapkan demi karya yang lebih baik dimasa mendatang. Semoga Critical Jurnal Review ini dapat melengkapkan tugas saya sebagai mahasiswa dan untuk Mata kuliah Hukum Perdata.
Medan, 24 Februari 2023
Muhammad Yoga Pratama
4 DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR _____________________________________________________________ 3 DAFTAR ISI ____________________________________________________________________ 4 BAB I PENDAHULUAN __________________________________________________________ 5 A. Identitas Jurnal Utama ______________________________________________________ 5 B. Identitas Jurnal Pembanding _________________________________________________ 5 C. Relevansi dan Kontribusi Pentingnya Critical Journal Review Hukum Perdata_______ 5 BAB II PEMBAHASAN ___________________________________________________________ 7 A. Ringkasan Isi Jurnal ________________________________________________________ 7 BAB III ANALISIS ______________________________________________________________ 10 A. Latar Belakang Masalah Yang Dikaji __________________________________________ 10 B. Permasalahan Yang Dikaji ___________________________________________________ 10 C. Kajian Teori/Konsep Yang Digunakan _________________________________________ 10 D. Metode Yang Digunakan _____________________________________________________ 11 E. Analisis Critical Journal _____________________________________________________ 11 BAB IV PENUTUP ______________________________________________________________ 12 A. Kesimpulan ________________________________________________________________ 12 B. Saran _____________________________________________________________________ 12 DAFTAR PUSTAKA ____________________________________________________________ 13 LAMPIRAN____________________________________________________________________ 14
5 BAB I
PENDAHULUAN
A. Identitas Jurnal Utama Judul Artikel
Hak Mewaris Menurut Ketentuan Hukum Waris Perdata
Nama Jurnal Jurnal Ilmiah "Advokasi"
Tahun Terbit 2018
Pengarang Artikel Elviana Sagala, SH, M.Kn
Nomor ISSN P.ISSN Nomor 2337-7216, E ISSN Vol/ No/Hal
Vol. 06. No. 01
B. Identitas Jurnal Pembanding
Judul Artikel
Kedudukan hukum ahli waris yang mewaris dengan cara mengganti Atau ahli waris "bij plaatsvervulling" menurut burgerlijk wetboek
Nama Jurnal Al'Adl Tahun Terbit 2017
Pengarang Artikel Oktavia Milayani
Nomor ISSN ISSN 1979-4940/ISSN-E 2477-0124 Vol/ No/Hal
Volume IX Nomor 3,
C. Relevansi dan Kontribusi Pentingnya Critical Journal Review Hukum Perdata
Menguasai keterampilan membuat critical journal review dapat menguji kemampuan seorang penulis dalam menganalisis dan membandingkan jurnal yang berbeda, memberi penilaian, serta mengkritik karya tulis yang telah dianalisis. Kadang- kadang sulit untuk memilih referensi yang tepat untuk dibaca dan dipahami, sehingga penulis membuat critical journal review tentang "Hukum Perdata" yang memudahkan
6 pembaca dalam memilih jurnal referensi tentang hak waris dalam hukum perdata, terutama dalam hal analisis bahasa dan pembahasan.
7 BAB II
PEMBAHASAN
A. Ringkasan Isi Jurnal
Dalam pendahuluan, A. Pitlo mengatakan bahwa hukum waris adalah serangkaian aturan yang mengatur tentang bagaimana harta kekayaan seseorang yang telah meninggal akan dipindahkan kepada orang-orang yang mewarisinya, dan dampak-dampak yang terjadi sebagai akibat dari pemindahan ini. Dalam lapangan hukum keluarga, hak dan kewajiban tertentu seperti hak keperibadian tidak dapat diwariskan. Penelitian ini menggunakan data sekunder, dengan metode studi kepustakaan untuk menganalisis literatur yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif, yang mengacu pada peraturan perundang-undangan positif yang berlaku di Indonesia, terutama dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tentang hukum waris perdata. Penelitian ini juga menggunakan data sekunder dan metode studi kepustakaan untuk menganalisis literatur yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.
Dalam bahasan ini dijelaskan bahwa hukum waris adalah kumpulan aturan yang mengatur bagaimana harta kekayaan seseorang yang telah meninggal akan dipindahkan kepada ahli warisnya. Meskipun pembagian warisan terlihat sederhana, ada banyak faktor yang memengaruhi bagaimana harta tersebut akan dibagi. Sekali dan hal yang biasa, dalam benak kebanyakan masyarakat bila ada kematian maka yang terpikir yaitu warisan atau harta yang ditingalkan. Ketidak tauan semua para ahli waris dalam masalah Hukum waris membuat banyak nya terjadi ketidak adilan dalam pembahagian warisan. Ada pula sebahagian masyarakat tidak mengetahui Hukum mana yang mengatur tentang pembahagian warisan mereka.
Ada pula sebahagian masyarakat tidak mengetahui Hukum mana yang mengatur tentang pembahagian warisan mereka. Sehingga sering warisan menjadi seperti ada defenisi yang berkembang di masyarakat yaitu bagi rata saja kan adil. Hal ini penulis melihat kebiasaan yang tertib dalam hal pembahagian warisan yang dilakukan oleh golongan Tionghoa sehingga yang sering di ingat masyarakat pembahagian warisan itu adalah secara Hukum perdata. Pewaris adalah orang yang telah meninggal dunia yang oleh Hukum yang memiliki harta kekayaan maupun hak dan kewajiban yang oleh Hukum dapat diwariskan. Hak dan kewajiban dalam hal ini adalah hak dan kewajiban yang dilakukan oleh pewaris sebelum meninggal dunia terhadap harta kekayaannya. Pengertianwaris adalah orang-orang yang didalam KUHPerdata adalah yang berhak menerima harta warisan pewaris dan di perbolehkan oleh Hukum. Ahli waris dapat juga tidak dapat mewarisi harta warisan dari si pewaris bila ahli waris tersebut melakukan hal yang dilarang undang-undang untuk menerima warisan. Harta warisan adalah seluruh harta benda beserta
8 hak dan kewajiban pewaris dalam lapangan Hukum harta kekayaan yang dapat dinilai dengan uang. Dalam pembahagian harta warisan menurut Hukum perdata setelah terpenuhinya ketiga syarat tersebut maka dilihat golongan ahli waris yang hidup. Dalam hal pembahagian harta warisan terlebih dahulu diperhatikan golongan yang menerima warisan bila tidak ada wasiat. Setelah hal tersebut ditentukan maka hal-hal yang perlu diperhatikan ada beberapa hal lagi. Tiga golongan anak menurut KUHPerdata yaitu;
1) Anak sah, yaitu anak yaitu anak yang lahir akibat suatu perkawinan yang sah.
2) Anak Luar kawin diatur dalam pasal 43 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974.
Anak diluar perkawinan adalah anak yang dilahirkan diluar perkawinan dan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya serta keluarga ibunya.
3) Pengangkatan anak (adopsi), Dalam hal ini staatsbland tahun 1917 Nomor 129 tetang pemberlakukan BW atas golongan Timur Asing Tionghoa dimasukkan dalam pasal- pasal yang mengatur tentang pengangkatan anak, yang dalam hal itu yang boleh didopsi hanya anak laki-laki saja
Dalam hal tersebut diatas setelah jelas secara undang-undang yang merupakan ahli waris maka harus diperhatikan lagi adakah ahli waris yang meninggal terlebih dahulu dari si Pewaris
maka dalam hal pembahagian warisan Perdata dikenal juga dengan pergantian tempat (plaatsvervulling) sebagaimana dimaksud dengan Pasal 841,842, 848, 866, 871 dan ayat 2 Pasal 156 KUHPerdata. Sehingga bila telah dapat ditetapkan ahli waris makapenulis akan menguraikan secara garis besar tentang pembahagian ahli waris dan cara membagi warisan berdasarkan golongan.
a. Ahli waris Golongan I (Pertama) b. Ahli waris golongan ke II (kedua), c. Ahli Waris Golongan ke III (ketiga) d. Ahli Waris Golongan IV (Keempat).
WASIAT (Testament) dan Hibah wasiat (Legact)
Wasiat adalah pembahagian warisan yaitu Wasiat (testament) merupakan pernyataan seseorang mengenai apa yang dikehendaki setelah meninggal dunia. Pada asasnya suatu pernyataan kemauan adalah dating dari satu pihak saja (eenzigdig) dan setiap waktu dapat ditarik kembali oleh yang membuatnya.
Seperti di sebutkan di atas tentang pembahagian warisan ab intestao dapat dilakukan bila telah di cek ke Menteri Hukkum Dan Hak Asasi Manusia tidak ada wasiat barulah pembahagian secara Undang-undang (ab intestate) dapat dilakukan. Dan dalam
9 hal wasiat juga harus diperhatikan isi wasiat dan kepatutan seseorang secara Hukum mmebuat wasiat sebagaimana di atur dalam pasal 897 BW.
Berdasarkan uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa setiap orang harus mengerti tentang atauran pembahagian harta waarisan, sebab harta warisan adalah kepemilikan bersama yang sangat rentan dengan perkara. Tentu setiap ahli waris harus benar-benar dapat melaksanakan pembahagian dengan baik sebagai bukti bahwa kita berbakti atau menghormati pewaris yang merupakan orang yang sangat kita cintai. Dengan kepatuhan membuat masalah Hukum tidak akan timbul. Sehingga semua pihak memiliki haknya.
10 BAB III
ANALISIS
A. Latar Belakang Masalah Yang Dikaji
Hukum waris menjadi lata belakang kajian pada penelitian yang dilakukan oleh Elviana Sagala, SH, M.Kn dan Oktavia Milayani, seberapa pentingnya memahami tentang hukum waris pada kajian hukum perdata pada undang-undang serta pada BW. Hal ini menyoroti berbagai faktor yang mempengaruhi bagaimana pembagian warisan, ketidakadilan yang dapat timbul karena kurangnya pengetahuan di antara para ahli waris, dan bagaimana masyarakat Tionghoa di Indonesia sering mengikuti Hukum Perdata dalam membagikan warisan mereka.
B. Permasalahan Yang Dikaji
Permasalahan yang menjadi kajian pada ke dua jurnal ini tentang penerapan hukum waris di Indonesia pada hukum perdata di Indonesia menurut burgerlijk wetboek (BW).
Dimana pada peng-aplikasiannya tidak jarang ditemukan kesalahan dan ketidaktimpangan hukum waris yang berlaku di dalam pembagian warisan ataupun kebendaan seseorang.
Karena hukum waris harus dipahami kejelasannya, tidak sembarang seseorang itu bisa memiliki hak mutlak atas benda yang ia miliki,ia harus mengetahui hal hal yang diatur dialam hukum kebendaan didalam kajian Hukum perdata.
C. Kajian Teori/Konsep Yang Digunakan
Kajian teori yang digunakan berpusat pada kajian teori milik A. Pitlo , ia adalah salah satu teori dalam hukum waris yang terkenal di Indonesia. Teori ini mengatur tentang cara pembagian harta warisan apabila terjadi kematian seorang pewaris.
Menurut teori A. Pitlo, harta warisan dibagi menjadi 3 bagian utama yaitu:
Bagian Wajib
Bagian wajib adalah bagian yang harus diterima oleh ahli waris yang sah, yaitu anak dan istri. Bagian ini dihitung berdasarkan persentase tertentu dari seluruh harta warisan. Ahli waris yang sah harus menerima bagian wajib terlebih dahulu sebelum harta warisan dibagi ke ahli waris yang lain.
Bagian Bebas
Bagian bebas adalah bagian yang dapat dibagi sesuai dengan keinginan pewaris. Bagian ini biasanya diberikan kepada ahli waris yang tidak termasuk dalam bagian wajib, seperti anak angkat, saudara kandung, atau sahabat dekat.
Bagian Tertentu
11 Bagian tertentu adalah bagian yang telah diatur dalam wasiat oleh pewaris sebelum
meninggal. Bagian ini biasanya diberikan kepada orang yang diinginkan oleh pewaris, seperti organisasi amal atau sahabat dekat.
Teori A. Pitlo menjadi dasar dalam penerapan hukum waris di Indonesia. Pembagian harta warisan sesuai dengan teori ini bertujuan untuk memberikan keadilan bagi seluruh ahli waris yang sah. Namun, dalam penerapannya, terkadang masih terdapat perbedaan pandangan dan interpretasi mengenai cara pembagian harta warisan.
D. Metode Yang Digunakan
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif, yang mengacu pada peraturan perundang-undangan positif yang berlaku di Indonesia, terutama dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tentang hukum waris perdata. Penelitian ini juga menggunakan data sekunder dan metode studi kepustakaan untuk menganalisis literatur yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.
E. Analisis Critical Journal
Jurnal yang dibahas memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Dari segi tata bahasa, jurnal tersebut mudah dipahami sehingga dapat menjadi panduan bagi mahasiswa dan masyarakat. Selain itu, dari segi isi, jurnal ini memiliki alur yang teratur dan substansi yang mendalam karena sudah banyak menggunakan literatur. Hal ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca. Dalam hal tata letak dan penggunaan font, tidak ada masalah karena semuanya sudah sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia yang benar. Jurnal ini dapat digunakan sebagai acuan untuk perubahan dalam penegakan hukum lingkungan, serta teori-teorinya dapat dijadikan bahan diskusi oleh para akademisi hukum lingkungan di Indonesia.
Namun, jurnal ini juga memiliki beberapa kelemahan. Dari segi isi, masih kurangnya gambar pendukung materi sehingga kurang menarik untuk dibaca dan masih ada kekurangan dalam memasukkan pendapat para ahli. Selain itu, masih ada beberapa bahasa yang kurang kata atau sulit dipahami sehingga dapat membingungkan pembaca
12 BAB IV
PENUTUP A. Kesimpulan
Hukum Waris adalah hukum yang mengatur tentang peralihan harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang yang meninggal serta akibatnya bagi ahli waris atau para ahli warisnya. Hukum waris perdata merupakan Hukum waris bagi golongan tionghoa yang ada di Indonesia dan di atur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata).
Hak dan kewajiban dalam hal ini adalah hak dan kewajiban yang dilakukan oleh pewaris sebelum meninggal dunia terhadap harta kekayaannya. Wasiat adalah pembahagian warisan yaitu Wasiat (testament) merupakan pernyataan seseorang mengenai apa yang dikehendaki setelah meninggal dunia.
Pada asasnya suatu pernyataan kemauan adalah dating dari satu pihak saja (eenzigdig) dan setiap waktu dapat ditarik kembali oleh yang membuatnya. Ahli waris menurut hukum waris perdata tidak dibedakan menurut jenis kelamin layaknya dalam beberapa hukum waris adat. Seseorang menjadi ahli waris menurut hukum waris perdata disebabkan oleh perkawinan dan hubungan darah, baik secara sah maupun tidak (Pasal 832 ayat 1 Burgerlijk Wetboek). Orang yang memiliki hubungan darah terdekatlah yang berhak untuk mewaris. Apabila terjadi suatu peristiwa meninggalnya seseorang, hal ini merupakan peristiwa hukum yang sekaligus menimbulkan akibat hukum, yaitu tentang bagaimana pengurusan dan kelanjutan hak-hak dan kewajiban seseorang yang meninggal dunia itu.
B. Saran
Setelah membaca jurnal ini, penulis merekomendasikan untuk membaca jurnal ini karena jurnal ini dapat digunakan sebagai acuan bagi pemerintah maupun praktisi dan mahasiswa untuk mengetahui bagaimana hak waris dalam hukum perdata Sebagai seorang mahasiswa yang masih sangat memerlukan banyak literasi mengenai hak waris dalam hukum perdata. maka jurnal ini, baik digunakan para pembaca untuk menambah wawasan mengenai pewaris dalam bentuk hukum perdata.
13 DAFTAR PUSTAKA
Milayani, O. (2017). Kedudukan Hukum Ahli Waris yang Mewaris dengan Cara Mengganti atau Ahli Waris “Bij Plaatsvervulling” Menurut Burgerlijk Wetboek. Al-Adl, 9(3), 405-434.
Sagala, E. (2018). Hak Mewaris Menurut Ketentuan Hukum Waris Perdata. Jurnal Ilmiah Advokasi, 6(2), 116-124.
14 LAMPIRAN