Refleksi Kuliah Umum 15 Oktober 2021
“Sastra Peranakan dan Kontribusinya Bagi Kebangsaan”
Dibuat Oleh :
- Clement Jefferson Theojaya NIM : 0106012010006
Pembicara : Drs. Danny Tjia
Moderator : Ni Luh Ayu Sukmawati
Dosen Pengampu : Ranto M.Th., D.Th.
Kelas Paralel Q RELIGION Ganjil 2021/ 2022 UNIVERSITAS CIPUTRA
SURABAYA 2021
Dari mata kuliah ini, saya mendapatkan banyak sekali pembelajaran mengenai kontribusi sastra, khususnya sastra peranakan bagi Indonesia sendiri. Sastra Peranakan sendiri pertama kali muncul pada 1870 dan berbentukan syair atau yang biasa dikenal sebagai puisi lama. Munculnya sastra peranakan ini mendapatkan penolakan dari pemerintah kolonial Belanda, sebab dianggap memiliki bahasa Melayu yang “rendah” sehingga akan merusak upaya pemerintah Belanda untuk menyebarkan dan mengembangkan bahasa Melayu serta bahasa utama lainnya. Tetapi hal ini bukanlah alasan sebenarnya, Pemerintah Belanda menolak karya sastra peranakan sebab isi dari karya tersebut berisikan berbagai kritikan kepada Pemerintah Belanda atau Eropa secara keseluruhan. Hal ini tentunya menjadi ancaman bagi Belanda sendiri, apalagi karya sastra tersebut mulai meningkat dan terkenal.
Sehingga, Pemerintah Belanda pun menyusun suatu rencana untuk meredam semangat dan menarik simpati masyarakat dengan mendirikan balai pustaka yang memiliki tujuan untuk mengembangkan bahasa daerah utama. Banyak hal yang dilakukan balai pustaka, dimulai dari menyensor karya-karya yang merugikan Pemerintahan Belanda, menciptakan stereotip negatif kepada masyarakat Tionghoa dan karya sastra peranakan. Hal ini terus berlangsung sampai Indonesia merdeka, sehingga karya sastra peranakan yang memiliki peran penting pun hampir tidak dikenal. Peran penting tersebut mencangkup banyak hal, seperti mengajarkan nilai-nilai religi, nasihat hidup, pendidikan keluarga, penghormatan adat-istiadat, dan masih banyak lagi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa karya sastra peranakan merupakan hal yang berisikan aspek- aspek yang membentuk Indonesia.