Jenis sebaran hujan yang menyerupai data hujan stasiun Temindung adalah data curah hujan stasiun Sungai Kunjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis curah hujan pada daerah rawan banjir di Kota Samarinda untuk membuat kurva frekuensi intensitas durasi. Cara mendapatkan perhitungan intensitas curah hujan yang sama/mendekati dari berbagai stasiun hujan di Temindung Kota Samarinda.
Untuk mendapatkan hasil intensitas curah hujan yang sama/dekat dari stasiun hujan Temindung Kota Samarinda. Hujan atau presipitasi merupakan salah satu unsur hidrometeor, yaitu kumpulan partikel cair atau padat yang jatuh mengambang di atmosfer, yang merupakan hasil proses kondensasi uap air di udara (awan). Intensitas hujan merupakan fungsi dari banyaknya curah hujan yang terjadi dan berbanding terbalik dengan waktu terjadinya.
Artinya jumlah curah hujan yang terjadi akan semakin tinggi intensitasnya jika terjadi dalam jangka waktu yang lebih singkat. Secara definisi, satuan milimeter dalam mengukur curah hujan adalah banyaknya curah hujan yang ditampung pada suatu area seluas 1 m2 dengan ketinggian 1 milimeter. Jadi untuk suatu areal dengan luas 1 ha, dengan asumsi terjadi hujan genap dengan intensitas 1 mm, maka volume air yang tertampung adalah 10 m3 dan bertambah seiring dengan semakin luasnya areal dan/atau semakin banyak curah hujan yang turun dan mengalir. ke tempat yang lebih rendah.
Oleh karena itu diperlukan data curah hujan jangka pendek, misalnya 25 menit dan harian yang akan membentuk kurva IDF. Data curah hujan jangka pendek akan dibuat dalam kurva IDF dengan menggunakan metode Talbot, Sherman dan Ishiguro.
Distribusi Gumbell
Distribusi Log Normal
Distribusi Log Pearson Type III
Menurut Harto (2000), setiap distribusi mempunyai sifat yang unik, sehingga data curah hujan harus diuji kesesuaiannya dengan sifat statistik setiap distribusi.
Pengujian Distribuasi
Urutkan datanya (yang terbesar ke terkecil atau sebaliknya) dan juga besar kecilnya probabilitas setiap datanya. Jika Do lebih kecil dari Dcr, maka distribusi teoritis yang digunakan untuk menentukan persamaan distribusi dapat diterima. Jika Do lebih besar dari Dcr, maka distribusi teoritis yang digunakan untuk menentukan persamaan distribusi tidak dapat diterima.
Uji Chi-Square
Intensitas Hujan
Intensitas curah hujan didefinisikan sebagai jumlah curah hujan yang terjadi selama periode terkonsentrasinya air hujan. Intensitas curah hujan ini dapat diolah berdasarkan data curah hujan tahun-tahun sebelumnya. Analisis hubungan antara dua parameter penting curah hujan, yaitu intensitas dan durasi, secara statistik dapat dikaitkan dengan frekuensi kejadian.
Intensitas curah hujan adalah jumlah curah hujan yang terjadi pada suatu periode ketika air terkonsentrasi. Analisis intensitas curah hujan ini dapat diolah berdasarkan data curah hujan yang terjadi pada masa lalu. Hujan dengan intensitas curah hujan tinggi umumnya berlangsung dalam jangka waktu singkat dan mencakup wilayah yang kecil.
Hujan yang meliputi wilayah yang luas, jarang sekali berintensitas tinggi, namun dapat berlangsung cukup lama. Kurva IDF ini digunakan secara rasional untuk menentukan rata-rata intensitas curah hujan pada waktu konsentrasi yang dipilih. Namun pembuatan kurva IDF cukup sulit dan membutuhkan data curah hujan yang banyak sehingga perlu dilakukan pemutakhiran secara berkala jika ada tambahan data yang akan memakan banyak waktu jika dilakukan secara manual.
Mulai
Selesai
Langkah dalam penelitian ini dirangkum dalam bagan alir yang dapat di lihat pada gambar 3.3. di bawah ini
- Analisis Curah Hujan
- Curah Hujan Harian Maksimum
- Penentuan Pola Distribusi Hujan
- Uji Kecocokan Smirnov Kolmogorov
- Curah Hujan Rencana
- Intensitas Hujan
- KESIMPULAN
- SARAN
Data untuk menentukan besarnya proyeksi curah hujan yang akan terjadi di wilayah Samarinda memerlukan data curah hujan harian selama beberapa tahun terakhir di stasiun alat pengukur hujan terdekat. Data curah hujan harian yang digunakan diperoleh dari Dinas Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Wilayah Sungai Kalimantan III, Unit Hidrologi Provinsi Kalimantan Timur dan Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG) Samarinda yang merupakan data curah hujan harian selama 10 penerbangan terakhir dari stasiun pengukur 5 stasiun hujan yaitu stasiun hujan Karang Paci (kepala Karang Asam Besar), stasiun hujan Tanah Merah (kepala Karang Mumus), stasiun hujan Lempake, stasiun hujan Sungai Kunjang dan Temindung. Data curah hujan harian yang diperoleh dianalisis terlebih dahulu untuk mendapatkan data curah hujan harian maksimum.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Suripin (2004) Setelah dilakukan analisa diperoleh data curah hujan harian maksimum 10 tahun terakhir. Data curah hujan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data curah hujan harian maksimum. Data jumlah curah hujan tahunan dapat Anda lihat pada tabel di bawah ini. Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa curah hujan harian maksimum merupakan yang terbesar dari 5 stasiun curah hujan yang ada di kota Samarinda. Data jumlah curah hujan maksimum tahunan dapat Anda lihat pada tabel di bawah ini.
Penentuan pola sebaran atau sebaran hujan dilakukan dengan menganalisis data curah hujan harian maksimum yang diperoleh dengan menggunakan analisis frekuensi. Hasil analisis frekuensi data parameter statistik pada berbagai stasiun curah hujan di Kota Samarinda. Berdasarkan perhitungan parameter statistik yang diperoleh pada tabel di atas, ditentukan jenis sebaran yang sesuai dengan sebaran data curah hujan pada empat stasiun hujan di Kota Samarinda yaitu Karang Paci (DAS Karang Asam Besar), Stasiun Hujan Tanah Merah. (DAS Karang Mumus), stasiun hujan Lempake dan stasiun hujan Sungai Kunjang.
Hal ini ditunjukkan dengan nilai parameter statistik yang diperoleh tidak mengikuti pola sebaran ketiga metode lainnya dan representasi garis teoritis berupa garis lengkung (dapat dilihat pada gambar intensitas curah hujan. Menurut Sri Harto (1993) setiap sebaran mempunyai karakteristik yang unik, sehingga data curah hujan Hujan perlu diuji kesesuaiannya dengan menggunakan metode Chi-Square dan Smirnov Kolmogorov. Berdasarkan analisis frekuensi yang dilakukan terhadap data curah hujan harian maksimum, ditemukan jenis sebaran yang paling baik. pencocokan sebaran data curah hujan harian maksimum di wilayah 4 stasiun penakar hujan Karang Paci. (DAS Karang Asam Besar), merupakan sebaran Log Normal dan Log Pearson Tipe III.
Oleh karena itu, data curah hujan maksimum harian yang diperoleh diubah ke dalam bentuk logaritma, sehingga parameter statistiknya berubah sesuai dengan beberapa tabel di bawah ini. Perhitungan curah hujan tahunan di stasiun Tanah Merah Samarinda. Kemudian curah hujan rencana dihitung untuk periode ulang tertentu menggunakan persamaan Log XT = Log X + K.
Untuk mendapatkan data curah hujan harian maksimum intensitas hujan dalam kurun waktu 1 jam digunakan rumus mononobe. Hal ini disebabkan karena tidak tersedianya data curah hujan jangka pendek, hanya tersedia data curah hujan harian, maka intensitas hujan dapat dihitung dengan menggunakan rumus Mononobe pada persamaan (14) sesuai dengan pernyataan Loebis (1992) bahwa intensitas hujan (mm/jam ) dapat menurun dihitung dari data empiris curah hujan harian (mm) dengan metode mononobe. Hal ini diungkapkan oleh Sossudarsono dan Takeda (IDF) yang digunakan dalam perhitungan debit puncak dengan menggunakan metode rasional untuk menentukan rata-rata intensitas curah hujan pada waktu konsentrasi yang dipilih.
Penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi para perencana dan pelaksana untuk melaksanakan kegiatan pembangunan di bidang sumber daya air pada khususnya dan pada umumnya melalui perubahan lingkungan, sedapat mungkin diharapkan juga memperhatikan curah hujan. data pada setiap stasiun di kota Samarinda khususnya unsur intensitas curah hujan yang biasa terjadi di kota Samarinda.