• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI - Jurnal Universitas Serambi Mekkah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "DAFTAR ISI - Jurnal Universitas Serambi Mekkah"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

POLA INTERAKSI EDUKATIF DALAM PENDIDIKAN ISLAM (Suatu Kajian Terhadap Pola Interaksi Edukatif Rasulullah SAW)

Afriani S

Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Serambi Mekkah

ABSTRAK

Kegiatan pendidikan dalam situasi pengajaran yang bersifat edukatif, senantiasa merupakan suatu proses kegiatan interaksi antara dua unsur manusiawi, yakni pendidik sebagai pihak yang mengajar dan peserta didik sebagai pihak yang belajar.

Oleh karena itu interaksi yang efektif sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pembelajaran. Dalam konsepsi pendidikan Islam, Rasulullah SAW adalah al- Mu’allim al-Awwal (pendidik pertama dan utama), telah menunjukkan keberhasilannya, terbukti mampu menghasilkan sumber daya manusia sehandal dan sekaliber Abu Bakar Siddik, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan lain-lain. Kajian ini berkenaan dengan pola interaksi edukatif Rasulullah SAW dengan sahabat, metode dan prinsip interaksi edukatif Rasulullah SAW dengan sahabat. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan mengemukakan beberapa hadits yang berkenaan, kemudian menganalisisnya dengan kerangka teoritis sebagai upaya untuk menemukan konsep penerapannya dalam pendidikan Islam kontemporer. Dari hasil kajian, pola interaksi Rasulullah SAW dengan sahabat dari segi bentuk komunikasi, terbentuk tiga pola komunikasi yaitu komunikasi satu arah, komunikasi dua arah dan komunikasi multi arah. Apabila ditinjau dari segi strategi pendidikan Rasulullah SAW telah membentuk pola hubungan student centered, yang bersifat instruksional tetapi juga bersifat emosional dan spiritual. Secara keseluruhan dapat dikonseptualisasikan bahwa pola interaksi edukatif Rasulullah SAW dengan sahabat membentuk pola interaksi humanis teosentris.

Keyword: pola, interaksi, edukatif, pendidikan, Islam

(3)

A. Pendahuluan

Pendidikan merupakan kegiatan yang penting dalam mewujudkan kemajuan manusia. Kegiatan pendidikan pada dasarnya selalu terkait dua belah pihak yaitu, pendidik dan anak didik. Keterlibatan dua pihak tersebut merupakan hubungan antar manusia (human interaction).

Pendidik merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam proses pendidikan setelah anak didik. Di pundaknya terletak tanggung jawab yang besar dalam upaya mengantarkan anak didik ke arah tujuan pendidikan yang telah dicitakan. Secara umum, pendidik adalah mereka yang memiliki tanggung jawab mendidik. Mereka adalah manusia dewasa yang karena hak dan kewajibannya melaksanakan proses pendidikan.219 Menurut Ahmad Tafsir, pendidik dalam Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Mereka harus dapat mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik kognitif, afektif maupun psikomotorik. Potensi-potensi ini sedemikian rupa dikembangkan secara seimbang sampai mencapai tingkat optimal berdasarkan Islam.220

Pendidik dalam proses pendidikan, di samping bertugas melakukan transfer of knowledge, juga seorang motivator dan fasilitator bagi proses belajar anak didik. Dalam melakukan tugas profesinya, pendidik bertanggung jawab sebagai seorang pengelola belajar (manager of learning), pengarah belajar (director of learning), dan perencana masa depan masyarakat (planner of the future society). Dengan demikian sekurang-

____________

219 Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Cet. VIII, (Bandung: Al-Ma’arif, 1989), hal. 37

220 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Cet. II, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), hal. 74

(4)

kurangnya ada tiga fungsi pendidik: pertama, fungsi instruksional yang bertugas melaksanakan pengajaran; kedua, fungsi edukasional yang bertugas mendidik anak didik agar mencapai tujuan pendidikan; ketiga fungsi managerial yang bertugas memimpin dan mengelola proses pendidikan.221

Selain pendidik, komponen lainnya yang melakukan proses pendidikan adalah anak didik. Dalam paradigma pendidikan Islam, anak didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi dasar (fitrah) yang perlu dikembangkan. Di sini, anak didik adalah makhluk Allah yang terdiri dari aspek jasmani dan rohani yang belum mencapai taraf kematangan, baik fisik, mental, intelektual maupun psikologisnya.222 Oleh karena itu ia senantiasa memerlukan bantuan, bimbingan, dan arahan pendidik agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal dan membimbingnya menuju kedewasaan.

Terdapat dalam interaksi edukatif proses pengaruh mempengaruhi.

Bukan hanya guru yang mempengaruhi anak didik, tetapi anak didik dapat juga mempengaruhi pendidik. Prilaku pendidik akan berbeda, apabila menghadapi kelas yang aktif dengan yang pasif, kelas yang berdisiplin dengan kelas yang tidak berdisiplin. Interaksi ini bukan hanya terjadi antara anak didik dan pendidik, tetapi antara anak didik dengan anak didik lainnya dan dengan media pelajaran. 223

Rasulullah SAW dalam konsepsi Islam, adalah al-Mu’allim al-Awwal (pendidik pertama dan utama) yang telah lebih dulu dididik oleh Allah SWT. Rasulullah SAW merupakan sang pelopor pendidikan yang sukses.

____________

221 Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Oprasionalnya, Cet.I, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), hal. 169-170

222 Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, Cet.I, (Jogyakarta: Ar-Ruzz, 2006), hal. 123

223 Ibrahim dan Nana Syaodih S, Perencanaan Pengajaran, Cet ke-II, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal. 31

(5)

Bukti konkret keberhasilan Rasulullah SAW sebagai pelopor pendidikan adalah keberhasilannya dalam mendidik para sahabat. Pendidikan model Rasulullah SAW mampu menghasilkan sumber daya manusia sehandal dan sekaliber Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, dan dengan potensi para sahabat tersebut Islam mampu meraih masa keemasannya.

Proses transformasi ilmu pengetahuan, internalisasi nilai-nilai spritualisme dan bimbingan emosional yang dilakukannya dapat dikatakan sebagai mukjizat yang luar biasa, yang manusia siapa dan di manapun tidak dapat melakukan hal yang sama. 224 Keberhasilan Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabat selaku anak didiknya,di samping karena sifat-sifat luhur yang ditunjukkan beliau selaku seorang murabbi, juga tidak terlepas dari pola pendidikan yang beliau terapkan.

Tulisan ini, mencoba mengungkap pola pendidikan Rasulullah SAW terkait pola interaksi yang dibangun Rasulullah SAW dengan para anak didiknya, dalam hal ini para sahabat, dalam proses pendidikannya, yang tersirat dalam hadits-hadits beliau agar jelas dan nampak dan dapat diaplikasikan oleh para pendidik dan pelaksana pendidikan agar tercapainya suatu cita-cita pendidikan yang paripurna dan melahirkan generasi Qur’ani.

B. Interaksi Edukatif Rasulullah SAW dengan Sahabat 1. Model Pendidikan Pada Masa Rasulullah

Pelaksanaan pembinaan pendidikan Islam pada masa Rasulullah dibagi ke dalam dua tahapan (fase), baik dari segi waktu dan tempat, maupun dari segi isi dan materi pendidikannya, yaitu: fase Makkah, sebagai fase awal pembinaan pendidikan Islam, dengan Makkah sebagai pusat kegiatannya, dan fase Madinah, sebagai fase lanjutan (penyempurnaan) ____________

224 Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Cet. V, (Jakarta: Prenada Media, 2007), hal. 1

(6)

pendidikan Islam dengan Madinah sebagai pusat kegiatannya. Peristiwa hijrah telah membedakan antara kedua fase tersebut. 225

Pada fase Makkah, pola pendidikan Rasulullah SAW dibagi kepada tiga tahapan, sejalan dengan tahapan-tahapan dakwah yang disampaikan kepada kaum Quraisy, yaitu:

a. Tahap Rahasia dan Perorangan b. Tahap Terang-terangan

c. Tahap Untuk Umum

Adapun materi pendidikan pada fase Makkah ini, Mahmud Yunus menguraikan sebagai berikut; 1) I’tiqad dan keimanan, meliputi iman kepada Allah, iman kepada Nabi dan Rasul Allah dan iman pada hari akhir. 2) Ibadah, yakni shalat. Mula-mula Rasulullah SAW shalat bersama sahabat di rumah Arqam secara sembunyi-sembunyi. Kemudian setelah Umar bin Khattab masuk Islam, ia shalat dengan terang-terangan di muka umum.

Shalat pada mulanya belumlah lima waktu dalam sehari semalam, baru setelah Rasulullah SAW isra’ mi’raj, Allah mewajibkan shalat lima waktu. 3) Akhlak, meliputi akhlak baik (mahmudah) dan akhlak buruk (mazmumah).226

Adapun fase Madinah dimulai sejak Rasulullah SAW Hijrah ke Madinah. Pada fase ini, materi yang diberikan cakupannya lebih kompleks dibandingkan dengan materi pendidikan pada fase Makkah. Corak pendidikan fase Madinah lebih ditekankan pada pembinaan sosial dalam arti luas dan cara berpolitik secara Islami.227 Adapun aspek-aspek pendidikan pada fase Madinah meliputi; 1) Pembentukan dan pembinaan masyarakat baru menuju kesatuan sosial dan politik, 2) Pendidikan sosial

____________

225 Zukhairini, Sejarah Pendidikan Islam, Cet V, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), hal. 18

226 Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Cet VIII, (Jakarta: Mahmud Yunus Wadzurriyah, 2008), hal. 6-10

227 Usman Husen, Sejarah Pendidikan Islam, Cet I, (Yogyakarta: Ar-Raniry Press, Darussalam Banda Aceh, 2008), hal. 24

(7)

politik dan kewarganegaraan, yang mencakup pendidikan ukhwah, pendidikan kesejahteraan sosial, pendidikan kesejahteraan keluarga dan kerabat, 3) Pendidikan anak dalam Islam, mencakup pendidikan tauhid, pendidikan shalat, pendidikan adab sopan santun dalam keluarga, pendidikan adab sopan santun dalam bermasyarakat, pendidikan kepribadian, 4) Pendidikan Hankam. 228

Meskipun pada zaman Rasulullah SAW belum muncul lembaga pendidikan semacam madrasah (lembaga pendidikan yang dikembangkan oleh Nizam al-Mulk), akan tetapi pendidikan Islam secara institusional telah berproses secara mapan terutama pada fase Madinah. Pada fase Makkah lembaga pendidikan dibagi dua macam; 1) Rumah Arqam bin Arqam, ini terjadi ketika proses pendidikan masih dalam tahapan sembunyi-sembunyi.

Rumah Arqam saat itu menjadi pusat pendidikan di Mekkah. 2) Kuttab, istilah kuttab 229 telah dikenal di kalangan bangsa Arab pra-Islam.230

Pada fase Madinah lembaga pendidikan semakin berkembang tidak hanya pada kuttab, meskipun eksistensi kuttab sebagai lembaga pendidikan tetap dibawa dan dimanfaatkan setelah hijrah ke Madinah. Era Madinah merupakan proses awal berdirinya pula kelembagaan pendidikan masjid, terutama setelah Rasulullah SAW mendirikan masjid al-Taqwa di Quba.

Masjid memiliki multifungsi, di samping sebagai tempat beribadah juga merupakan pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum Muslimin, baik yang menyangkut pendidikan maupun sosial ekonomi.

____________

228 Zukhairini, Sejarah…, hal. 34-60

229 Secara etimologi Kuttab berasal dari bahasa Arab, yaitu kataba, yaktubu, kitaaban, yang artinya, telah menulis, sedang menulis” dan “tulis”. Sedangkan Maktab artinya “meja” atau tempat

“menulis”

230 Teori asal usul kuttab masih diperdebatkan. Menurut Asma Hasan Fahmi, lembaga pendidikan kuttab ini didirikan oleh orang Arab pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, yaitu setelah mereka melakukan penaklukan-penaklukan, dan sesudah mereka memiliki hubungan dengan bangsa-bangsa yang telah maju. Lihat Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, terj:

Ibrahim Husein, (Jakarta: Bulan Bintang, 1997), hal. 30. sementara menurut Ahmad Syalabi, kuttab telah hadir sebelum Islam datang, tetapi ketika itu masih belum terkenal. Lihat Ahmad Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, terj: Muchtar Jahya dan M. Sanusi Latief, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hal. 33

(8)

Namun yang lebih penting sebagai lembaga pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan masjid pada awal perkembangannya dipakai sebagai sarana informasi dan penyampaian doktrin ajaran Islam.231 Adapun majelis pendidikan yang dilakukan Rasulullah SAW bersama sahabat di masjid dilakukan dengan sistem halaqah. 232

Selain masjid, dikenal juga lembaga pendidikan Suffah. Pada masa Rasulullah SAW suffah adalah suatu tempat yang dipakai untuk aktivitas pendidikan.233 Al-Suffah merupakan ruang atau bangunan yang bersambung dengan masjid. Suffah dapat dilihat sebagai sebuah sekolah karena kegiatan pengajarannya dan pembelajaran dilakukan secara teratur dan sistematik.

Contohnya mesjid Nabawi yang mempunyai suffah yang digunakan untuk majelis ilmu. Lembaga ini juga menjadi semacam asrama bagi para sahabat yang tidak atau belum mempunyai tempat tinggal permanen. Mereka yang tinggal di suffah ini di sebut sebagai Ahl al-Suffah.234 Dengan kata lain suffah merupakan pemondokan bagi orang-orang penuntut ilmu.

Pendidikan yang dikembangkan oleh Rasulullah SAW pada masa awal kelahiran Islam, baik pada fase Makkah maupun Madinah merupakan prototype dari pendidikan Muslim selanjutnya. Oleh karena itu tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa pendidikan Islam merupakan masterpiece dari Muhammad sang peletak dasar-dasar pendidikan Islam.

Pendidikan Islam periode awal sebagaimana terlihat dalam sejarah memiliki karakteristik khas yang membedakannya dengan sistem pendidikan lain.

____________

231 A. Syalabi, History o Education, (Beirut: Dar al-Kash,1954), hal. 47

232 Yaqut, dikutip kembali oleh Samsul Nizar, , Sejarah dan Pergolakan…, hal. 13

233 Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam pada Abad Pertengahan (Versi Terjemahan), (Canada:Montreal, 2000), hal. 12

234 Muhammad Syafi’i Antonio, Muhammad SAW The Super Leader Super Manager, (Jakarta:

ProLM Centre, 2007), hal. 186. Lihat Shahih Al-Bukhari no 5971 Bab Kaifa Kana ‘Isyu al-Nabiyi SAW

(9)

Adapun karakteristik pendidikan Rasulullah SAW itu dapat dilihat dalam tiga persoalan pokok yang berkaitan dengan landasan filosofis, kurikulum dan metode pendidikan Rasulullah SAW.

2. Landasan Filosofis Pendidikan Rasulullah SAW

Filsafat pendidikan Rasulullah SAW terbentuk dan berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat muslim pada saat itu. Unsur- unsur filsafat pendidikan Rasulullah SAW seluruhnya termuat di dalam Al- Qur`an yang kemudian dikomplikasikan dalam bentuknya seperti sekarang sepeninggal Rasulullah SAW

Al-Qur`an diturunkan di tengah-tengah masyarakat yang sedang dibelenggu oleh segala macam pola hidup yang tiranik. Oleh karena itu, misi sang pembawa pesan-pesan Al-Qur`an yang pertama adalah membebaskan manusia dari rantai-rantai tiranik itu. Misi Rasulullah SAW tentang pembebasan menemukan kesesuaian dalam konsepsi Islam dalam bentuk ajaran monoteisme murni atau tauhid.235

Al-Qur`an memberi perhatian terhadap manusia secara keseluruhan meliputi aspek jasmani dan rohani, menurut keadaan apa adanya, sesuai dengan fitrah yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, tanpa mengabaikan sedikit pun. Allah tidak akan mewajibkan kepada manusia suatu kewajiban di luar struktur fitrah dasar manusia.236

Pandangan Al-Qur`an tentang manusia sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, pada hakikatnya merupakan landasan filosofis

____________

235Rusli Karim, Pendidikan Sebagai Upaya Pembebasan Manusia, dalam Muslih Usa, Pendidikan Islam diIndonesia; Antara Citra dan Fakta, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), hal.

31

236 Muhammad Selamet Untung, Muhammad Selamet Untung, Muhammad Sang Pendidik, Cet I, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2002), hal. 67

(10)

yang menjadi salah satu karakteristik pendidikan yang dikembangkan oleh Rasulullah SAW.

3. Kurikulum Dan Materi Ajar Rasulullah SAW

Dalam setiap halaqah yang diselenggarakan Rasulullah SAW, Beliau selalu mengajarkan Al-Qur`an. Dan melalui al Qur’an pula, Rasulullah SAW mengajarkan ilmu-ilmu tentang macam-macam fadhilah, wawasan keilmuan, akhlak, adat istiadat yang baik dan manfaat ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Dengan demikian, prioritas pengajaran Al-Qur`an sejak awal dakwah Rasulullah SAW dimaksudkan untuk membentuk pola pikir dan perilaku para sahabat yang dijiwai oleh semangat Al-Qur`an, di samping agar mereka menerima akidah-akidah Al-Qur`an terutama yang berkaitan dengan keesaan Tuhan.237 Dengan demikian dapatlah dianalogikan bahwa kurikulum pendidikan yang digunakan oleh Rasulullah SAW adalah “Kurikulum Berbasis Qur’an” (KBQ)

4. Metode Pendidikan Rasulullah SAW

Rasulullah SAW dalam kependidikannya menggunakan metode yang sangat variatif. Metode-metode ini dapat dilacak dari hadits-hadits beliau ketika beliau melakukan interaksi edukatif dengan para sahabat.

Adapun metode-metode itu meliputi; 1) Tharīqah al-Suāli (Metode Pertanyaan), 2) Tharīqah al-Hiwār (Metode Dialok/ Diskusi), 3) Tharīqah al- Qishah (Metode Cerita), 4) Tharīqah al-Ilqāiyah (Metode Ekplanasi/ Ceramah), 5) Tharīqah Qiyāsiyah (Metode Metafora/Perumpamaan), 6) Tharīqah al- Tamthiliyah (Metode Demonstrasi), 7) Tharīqah al-Targhib wa al-Tarhib (Metode Ganjaran dan Hukuman), 8) Tharīqah Hil Musykilah (Solving

____________

237M. Alawi al Maliki, Prinsip-prinsip Pendidikan Rasulullah, terj: M. Ihya Ulumuddin, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), hal. 7

(11)

problem), 9) Tharīqah bi al-Hikmah wa al-Mauizah Hasanah, 10) Tharīqah al- Qiyādah (Metode Keteladanan).

Begitu variatifnya metode pembelajaran Rasulullah SAW, namun demikian keefektifan pembelajaran beliau bukan semata hanya karena metode yang digunakannya sempurna. Efektivitas metode ditentukan juga oleh kepribadian si pengguna metode. Apapun metode yang dipakai Rasulullah SAW, tetap tidak akan efektif ketika pribadinya sendiri bermasalah dengan para sahabatnya. Di samping itu juga faktor lain yang patut diperhatikan adalah ketepatan penyampaian yang mengharuskan adanya relasi yang dapat membawa kepada pengertian yang dimaksud si pembicara dengan lawan bicara. Misalnya Rasulullah SAW dalam berbicara menyesuaikan dengan kadar intelektual lawan bicaranya, Sehingga seorang Arab pedalaman dengan kekerasan karakternya mampu memahami.

Demikian juga dengan lingkungan Arab kota lebih dapat memahaminya.

Faktor lain yang menjadi landasan metode kependidikan Rasulullah adalah distribusi waktu belajar. Meskipun metode yang dipakai sudah cocok dengan materi pengajaran yang disampaikan, akan tetapi apabila waktu penyampaiannya tidak tepat akan menimbulkan kejenuhan sehingga mengurangi efektivitas proses belajar.

Sehubungan dengan ini terdapat hadits dari Abi Mas’ud yang artinya:

“Dari Abi Mas’ud, ia berkata: Rasulullah SAW selalu menyelingi hari-hari belajar untuk kami untuk menghindari kebosanan kami”.238

C. Pola dan Prinsip Interaksi Edukatif Rasulullah dengan Sahabat

Terkait dengan interaksi edukatif beliau dengan sahabat dalam dimensi pendidikan, ada banyak hadits beliau yang menjelaskan tentang ____________

238 Imam Bukhārī, Shahīh Bukhārī, Juz 1 (Beirut: al-Maktabah al-Qāfī), hal. 46

(12)

keluhuran pekerti beliau dalam berinteraksi, juga cara-cara mendidik beliau yang sangat menakjubkan, baik secara verbal maupun tindakan. Sebagai contoh, dapat dilihat dari beberapa riwayat berikut ini:

Bersumber dari Abi Hurairah, beliau berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: Bertanyalah kalian kepadaku! Para sahabat enggan bertanya. Lalu datang seorang lelaki. Dia duduk pada kedua lututnya dan berkata: Ya Rasulullah, apakah Islam itu? Rasulullah SAW menjawab: Engkau tidak menyekutukan sesuatu apapun kepada Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, dan berpuasa di bulan Ramadhan. Orang itu berkata:

Engkau benar ya Rasulullah, apakah Iman itu? Rasulullah menjawab:

Yaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-Nya, bertemu dengan-Nya, para utusan-Nya dan beriman Hari Kebangkitan, serta beriman kepada takdir seluruhnya. Orang itu berkata: Engkau benar ya Rasulullah, apakah Ihsan itu? Rasulullah SAW bersabda: Yaitu engkau takut kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak bisa berbuat seolah-olah engkau melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu. Orang itu berkata: Engkau benar ya Rasulullah, kapankah hari kiamat itu terjadi? Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah orang yang ditanya tentang persoalan itu, lebih tahu ketimbang orang yang bertanya. Tetapi akan kuberitahukan kepadamu tanda-tandanya. Apabila engkau telah melihat ada seorang perempuan melahirkan majikannya, maka itu merupakan sebagai dari tanda-tandanya. Apabila engkau melihat orang yang semula miskin papa dan bodoh sekali menjadi penguasa di bumi, itu adalah termasuk di antara tanda-tandanya. Apabila engkau melihat orang- orang yang tadinya menggembala ternak saling memperindah bangunan, maka itulah di antara tanda-tandanya. Ada lima perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah. Kemudian Rasulullah membaca surat Luqman ayat 34: Sesungguhnya Allah hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui yang ada di dalam rahim. Dan tidak seorang pun dapat mengetahui dengan pasti apa yang diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal. Kemudian orang itu berdiri, lalu Rasulullah SAW bersabda:

Panggillah dia kembali! Orang itu dicari-cari, tetapi para sahabat tidak dapat menemukannya, maka bersabdalah Rasulullah SAW: Itu tadi adalah Jibril. Dia ingin mengajarkan manusia Agama mereka. (H.R. Muslῑm) 239

____________

239 Imam Abi Husain Muslīm al-Hujjāj al-Qusyairī al-Naisāburī, Shahīh Muslim, (al-Qahirah:

Dārul Hadīth),hal. 38-39

(13)

Riwayat lainnya:

“Sesungguhnya al-Aqra’ bin Habis pernah melihat Rasulullah SAW memeluk Hasan. Al-Aqra’ lalu berkata: sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, namun aku tidak pernah memeluk satupun dari mereka. Kemudian Rasulullah berkata: Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi, niscaya ia tidak disayangi”. (H.R. Muslῑm) 240

“Ada seorang wanita punya persoalan yang mengganjal pikirannya, ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ada perlu dengan anda, beliau bersabda: Wahai ibunya fulan, kamu ingin berbicara di gang mana, supaya aku bisa memenuhi keperluanmu?. Kemudian beliau menyendiri bersama wanita tersebut pada sebuah gang, sampai keperluannya selesai”.

(H.R. Muslῑm) 241

Hadits yang pertama tadi, menjelaskan akan cara-cara Rasulullah melakukan proses belajar-mengajar yang penuh dengan nuansa kekeluargaan. Di mana dijelaskan dalam Hadits tadi bahwa lutut malaikat saling bersentuhan secara fisik dengan lutut Rasulullah SAW. Dan sentuhan fisik itu sangat besar pengaruhnya terhadap psikologi anak didik. Anak didik akan merasa lebih nyaman dan santai, tidak ada rasa canggung dan segan yang berlebihan meskipun rasa ta’zim dan hormat itu tetap ada.

Dengan timbulnya rasa nyaman bagi anak didik, maka proses pembelajaran akan semakin berarti bagi anak didik.

Di dalam hadits itu juga, menggambarkan adanya interaksi verbal Rasulullah SAW yang sangat indah dan halus. Ungkapan Rasulullah SAW

Tidaklah orang yang ditanya tentang persoalan itu, lebih tahu ketimbang orang yang bertanya” mencerminkan pekerti Rasulullah yang halus dan sifatnya yang tawadhu’, tidak merasa tahu akan segala sesuatu dan beliau tidak merasa malu mengatakan tidak tahu, apabila beliau benar tidak tahu apa

____________

240 Ibid hal. 1808-1809

241 Ibid hal. 1812-1813

(14)

yang ditanyakan itu. Ucapan Rasulullah yang lain yang terdapat dalam hadits kedua “Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi, niscaya ia tidak disayangi” begitu indah dan sarat dengan makna. Dia tidak perlu mencela atau menceramahi panjang lebar si Aqra’ yang tidak pernah memeluk anak-anaknya, akan tetapi cukup dengan ucapan yang sederhana dan indah tapi mengandung makna yang sangat dalam. Bagi orang yang mendengarkannya terutama si Aqra’ akan menimbulkan berbagai rasa dalam jiwanya, merasa malu, sedih dan menyesal. Itu sudah cukup menjadi teguran bagi si Aqra’. Ucapan-ucapan yang halus lagi bermakna seperti itu tidaklah lahir kecuali dari seseorang yang punya kepribadian yang halus juga.

Adapun hadits ketiga, menjelaskan tentang interaksi Rasulullah SAW secara aksi (tindakan), di mana dia selalu berusaha menghargai kebutuhan sahabatnya dan berusaha membuat sahabatnya nyaman dalam menyampaikan hajatnya.

Di dalam interaksinya dengan para sahabatnya (anak didiknya), terkadang Rasul berperan sebagai informator dan transmiter yang memberikan segenap informasi yang berisikan wahyu dari Allah sebagai materi ajarnya. Hal ini dapat dipahami dari haditsnya

Dari Ibn ‘Abbas r.a dari Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Apabila hambaKu berniat hendak melakukan suatu kebajikan tetapi belum dilaksanakannya, Aku tulis untuknya satu kebajikan.

Apabila dia berniat hendak melakukan suatu kejahatan, tetapi belum dilaksanakannya, Aku tulis untuknya satu kebajikan. Jika dilaksanakannya, Ku tulis untuknya satu kejahatan”. (H.R Bukhārῑ- Muslīm) 242

Terkadang Rasulullah SAW juga menjadi seorang pembimbing yang siap memberikan arahan-arahan dan solusi terhadap permasalahan anak ____________

242 Imam Nawawi, Hadīth Arba’in, No. 37

(15)

didiknya. Dengan begitu anak didiknya tak segan-segan bertanya apapun yang ingin mereka ketahui, bahkan permasalahan pribadi yang butuh solusi sekalipun mereka tak segan-segan mengutarakannya. Contoh sebuah riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik:

Bersumber dari Anas bin Mālik, ia berkata bahwa Ummu Sulaim- neneknya Ishaq- pernah datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata, sementara ‘Aisyah ada di samping beliau, wahai Rasulullah, perempuan itu juga melihat apa yang dilihat oleh laki-laki di dalam tidurnya, ia melihat pada dirinya apa yang dilihat laki-laki pada dirinya. ‘Aisyah berkata, hai Ummu Sulaim! Kamu membuka rahasia perempuan, rugilah kamu.

Rasulullah SAW berkata kepada ‘Aisyah, sebaliknya kamulah yang rugi. Ia, maka mandilah kamu jika melihat itu”. (H.R Muslīm) 243

Dan apabila diperhatikan hadits-hadits di atas tadi, dapat dianalogikan bahwa pola komunikasi Rasulullah SAW dalam interaksi edukatifnya dengan para sahabat, dalam hal ini adalah anak didiknya, terjadi dalam tiga bentuk yaitu pola komunikasi satu arah, komunikasi dua arah dan komunikasi multi arah.

Pendidikan Rasulullah SAW juga tidak pernah dibatasi oleh ruang dan waktu. Rasul memberikan pendidikan tidak hanya terbatas pada halaqah-halaqah beliau di mesjid, melainkan pendidikan itu bisa terjadi kapan dan di mana saja dan dengan siapa saja, tergantung dari kebutuhan para sahabatnya saat itu. Materi pendidikan pun tidak kaku, dalam arti kata tidak tergantung pada apa saja yang hendak di sampaikan Rasulullah SAW semata, materi pendidikan bisa dimunculkan oleh para sahabat. Materi itu muncul dari permasalahan sahabat yang butuh kepada solusi. Sebagai contoh sebuah hadīts Rasulullah SAW yang artinya sebagai berikut:

“Bersumber dari Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair, bersumber dari Abi, bersumber dari ‘Amru bin ‘Usman, ia dari Musa bin Talhah ia berkata:

____________

243 Imam Abi Husain Muslīm al-Hujjāj al-Qusyairī al-Naisāburī, Shahīh..., hal. 250

(16)

bersumber dari Abu Ayyūb, bahwasanya seorang desa menawarkan kepada Rasulullah SAW yang sedang dalam perjalanan untuk memegang tali onta beliau. Kemudian orang itu berkata: Ya Rasulullah –atau ya Muhammad-, beritahukanlah kepada kami apa yang bisa mendekatkanku kepada sorga dan apa yang menjauhkanku dari neraka”. Nabi tidak segera menjawab. Beliau memandang para sahabat beliau, seraya bersabda:”Dia benar-benar mendapat petunjuk”. Kemudian beliau bertanya kepada orang tersebut:

“Apa tadi yang engkau tanyakan?”. Orang itupun mengulangi perkataannya. Lalu Nabi bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah, tidak menyekutukan Sesuatupun denganNya, mendirikan shalat, memberikan zakat dan menyambung hubungan kekeluargaan. Nah tinggalkanlah onta itu”. (H.R Muslīm) 244

Apabila dilihat dari strategi pendidikan Rasulullah SAW, baik menyangkut segi waktu, tempat dan materi ajar, maka dapat diidentifikasikan bahwa pendidikan Rasulullah SAW telah membentuk pola hubungan student centered.

Tidak hanya itu, pendidikan Rasulullah SAW sarat dengan kebermaknaan. Interaksi edukatif Rasulullah SAW dengan sahabat tidak hanya bersifat instruksional semata, di mana Rasulullah SAW hanya melakukan transformasi ilmu pengetahuan kepada sahabat, akan tetapi juga meliputi bimbingan emosional, yang mampu menyentuh hati para sahabat, sehingga para sahabat sangat tinggi loyalitasnya kepada Rasulullah SAW, yang siap dan rela mati untuk melindungi Rasulullah SAW. Di samping itu juga pendidikan Rasulullah SAW memuat internalisasi nilai-nilai spritualisme, sebagaimana visi Rasulullah SAW diutus yaitu menyampaikan pesan-pesan Ilahiyah, untuk menyeru umatnya agar beriman kepada Allah dan untuk senantiasa berpegang pada Agama Allah (Islam) agar selamat dunia akhirat. Nilai-nilai spiritual ini telah membentuk keimanan yang kokoh dalam diri para sahabat, sehingga menimbulkan loyalitas yang tinggi kepada Islam.

____________

244 Ibid. hal. 42-43

(17)

Keberhasilan Rasulullah dalam mendidik para sahabat selaku anak didiknya didukung juga oleh prinsip-prinsip interaksi kependidikan yang dikembangkan Rasulullah SAW. Adapun prinsip-prinsip itu juga dapat dipahami dari hadīts-hadīts beliau, yang meliputi: a) Mabda’ li Tashil (Prinsip Mempermudah), b) Mabda’ al-‘Adālati wa al-Hurriyati (Prinsip Keadilan dan Kebebasan), c) Mabda’ al-Tawāzun (Prinsip Keseimbangan), d) Mabda’ al-Fardhiyah/al-Zāti (Prinsip Individualisasi), e) Mabda’ al-Tajammu’i (Prinsip Sosialisasi), f) Mabda’ al-Nasyāthi (Prinsip Aktivitas), g) Mabda’ al- Daf’iyah (Prinsip Motivasi), h) Mabda’ al-Tathbiqiyah ( Prinsip Aplicable), i) mendoakan anak didik.

Memperhatikan penjelasan di atas, secara keseluruhan, pola interaksi edukatif yang dikembangkan Rasulullah SAW dengan sahabatnya dapat dikonseptualisasikan sebagai sebuah pola hubungan humanis-teosentris, yaitu sebuah hubungan yang didasarkan kepada nilai-nilai Ilahiyah, yang hidup pada pola pikir, sikap dan prilaku Rasulullah SAW, dan tercermin dalam setiap interaksinya dengan sahabat-sahabatnya sehari-hari.

Dikatakan humanis karena mampu menyentuh semua kalangan mulai dari kalangan kuffar sampai kalangan muslim, laki-laki dan perempuan, Arab kota dan pedalaman, juga kaum bangsawan dan kaum budak. Sedangkan dikatakan teosentris karena didasarkan atas nilai-nilai spritual.

D. Penutup

Pendidikan Islam di Indonesia khususnya, dan di dunia Islam umumnya, akhir-akhir ini sering kali berhadapan dengan berbagai problematika yang terkait dengan sebuah sistem yang termasuk dalam komponen pendidikan. Selain itu kenyataan juga menunjukkan adanya kiblat pendidikan Islam yang belum jelas. Pendidikan Islam masih belum menemukan format dan bentuknya yang khas sesuai dengan tuntutan

(18)

ajaran Islam. Hal ini karena banyaknya konsep pendidikan yang ditawarkan para ahli pendidikan yang belum jelas dasar keislamannya. Akibatnya pendidikan Islam seakan-akan terombang-ambing dalam pusaran modernitas dan kehilangan kendalinya.

Sementara itu pendidikan Islam merupakan masterpiece dari Muhammad sang peletak dasar-dasar pendidikan Islam. Pola pendidikan yang Rasulullah SAW kembangkan pada masanya sudah merupakan sebuah sistem yang komplit dan teruji. Oleh karena itu sudah semestinya pendidikan Islam saat ini mengambil formatnya dari sistem pendidikan Rasulullah SAW.

DAFTAR PUSTAKA

A. Syalabi. 1954. History o Education, Beirut: Dar al-Kash.

Al Maliki, M. Alawi. 2002. Prinsip-prinsip Pendidikan Rasulullah, terj: M. Ihya Ulumuddin, Jakarta: Gema Insani Press.

Antonio, Muhammad Syafi’i. 2007. Muhammad SAW The Super Leader Super Manager, Jakarta: ProLM Centre.

Bukhārī, Imam. Shahīh Bukhārī, Juz 1 Beirut: al-Maktabah al-Qāfī

Husen, Usman. 2008. Sejarah Pendidikan Islam, Cet I, Yogyakarta: Ar-Raniry Press, Darussalam Banda Aceh.

Ibrahim dan Nana Syaodih S. 2003. Perencanaan Pengajaran, Cet ke-II, Jakarta:

Rineka Cipta.

Imam Abi Husain Muslīm al-Hujjāj al-Qusyairī al-Naisāburī, Shahīh Muslim, al-Qahirah: Dārul Hadīts

Karim, Rusli.1991. Pendidikan Sebagai Upaya Pembebasan Manusia, dalam Muslih Usa, Pendidikan Islam di Indonesia; Antara Citra dan Fakta, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Marimba Ahmad D. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Cet. VIII, Bandung: Al-Ma’arif.

(19)

Muhaimin dan Abdul Mujib.1993. Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Oprasionalnya, Cet.I, Bandung: Trigenda Karya.

Murziqin, R., Tabrani ZA, & Zulfadli. (2012). Performative Strength in the Hierarchy of Power and Justice. Journal of Islamic Law and Culture, 10(2), 123–144.

Nata, Abuddin. 2000. Pemikiran Pendidikan Islam pada Abad Pertengahan (Versi Terjemahan), Canada: Montreal.

Nawawi, Imam . Hadīth Arba’in

Nizar, Samsul. 2007. Sejarah Pendidikan Islam, Cet. V, Jakarta: Prenada Media.

Suharto, Toto. 2006. Filsafat Pendidikan Islam, Cet.I, Jogyakarta: Ar-Ruzz.

Tabrani ZA. (2009). Ilmu Pendidikan Islam (antara Tradisional dan Modern).

Kuala Lumpur: Al-Jenderami Press.

Tabrani ZA. (2011). Dynamics of Political System of Education Indonesia.

International Journal of Democracy, 17(2), 99–113.

Tabrani ZA. (2012). Future Life of Islamic Education in Indonesia.

International Journal of Democracy, 18(2), 271–284.

Tabrani ZA. (2013). Pengantar Metodologi Studi Islam. Banda Aceh: SCAD Independent.

Tabrani ZA. (2014). Islamic Studies dalam Pendekatan Multidisipliner (Suatu Kajian Gradual Menuju Paradigma Global). Jurnal Ilmiah Peuradeun, 2(2), 211–234.

Tabrani ZA. (2015). Persuit Epistemology of Islamic Studies (Buku 2 Arah Baru Metodologi Studi Islam). Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Tafsir, Ahmad. 1994. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Cet. II, Bandung:

Remaja Rosdakarya.

Untung, Muhammad Selamet. 2002. Muhammad Selamet Untung, Muhammad Sang Pendidik, Cet I, Semarang: Pustaka Rizki Putra.

Yunus, Mahmud 2008. Sejarah Pendidikan Islam, Cet VIII, Jakarta: Mahmud Yunus Wadzurriyah.

Zukhairini.1997. Sejarah Pendidikan Islam, Cet V, Jakarta: Bumi Aksara.

Referensi

Dokumen terkait