• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "DAFTAR ISI "

Copied!
200
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Namun di balik kelebihan sepeda motor, jumlah sepeda motor yang terus meningkat menimbulkan banyak masalah, salah satunya adalah masalah lalu lintas (Susilo, 2008). Masalah lalu lintas yang paling banyak terjadi saat ini di kota Makassar adalah kecelakaan lalu lintas. Hasil penelitian Budiastomo & Guritnaningsih (2007), pada 53 responden, persepsi risiko kecelakaan sepeda motor cenderung rendah, karena pengendara sepeda motor tidak mengutamakan keselamatan diri sendiri saat mengambil keputusan berhenti saat lampu merah. bukan. .

Prisilika (2007) menjelaskan bahwa penyebab utama terjadinya kecelakaan adalah kurangnya kesadaran pengendara sepeda motor terhadap peraturan lalu lintas sehingga dapat menimbulkan perilaku berkendara yang agresif. Salihat (2009) menyatakan bahwa tingginya angka kecelakaan lalu lintas disebabkan rendahnya persepsi terhadap risiko kecelakaan saat berkendara. Oleh karena itu, penulis ingin meneliti “Hubungan antara Persepsi Risiko Kecelakaan Dengan Mengemudi Agresif Pada Pengendara Sepeda Motor Di Kota Makassar”.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

  • Manfaat Teoritis
  • Manfaat Praktis

Peneliti berharap berdasarkan hasil penelitian ini dapat membantu pihak kepolisian khususnya Satuan Lalu Lintas (Satlantas) untuk lebih memperhatikan perilaku berkendara masyarakat khususnya yang dibahas dalam penelitian ini adalah pengendara sepeda motor di kota Makassar. Diharapkan pula dengan banyaknya korban kecelakaan lalu lintas di jalan raya, pihak kepolisian akan lebih tegas dalam memberikan sanksi, tanpa memandang status atau jabatan pengemudi. Kami berharap hasil penelitian ini dapat membuat masyarakat lebih peduli akan pentingnya safety driving, jumlah korban yang jatuh di jalan raya dapat dikurangi, dan masyarakat dapat mengetahui faktor psikologis apa saja yang mempengaruhi kepribadian seseorang. perilaku berkendara di jalan raya. .

Manfaat bagi peneliti lain atau yang tertarik untuk menggali lebih dalam faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku berkendara individu adalah untuk menambah referensi psikologi transportasi.

Aggressive Driving

  • Pengertian Aggressive Driving
  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aggressive Driving
  • Jenis-jenis Aggressive Driving
  • Kategori Pengendara Agresif

Berdasarkan penjelasan beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa mengemudi agresif merupakan tindakan pengemudi yang dapat membahayakan dirinya sendiri dan orang lain, karena kurangnya perawatan dan kurangnya kepekaan sosial. Anonimitas atau anonymity tersirat dalam hal ini adalah tanpa identitas, yaitu seseorang akan terpaksa melakukan tindakan agresif mengemudi di malam hari, karena kondisi tersebut menawarkan kesempatan untuk melarikan diri. Kondisi seperti ini membuat pengendara merasa perilaku berkendara agresifnya kurang atau kurang terkontrol, sehingga pengendara tetap melakukan perilaku berkendara agresif.

Ini berarti bahwa orang-orang yang berpikir bahwa mereka sangat terampil dalam kendaraan mereka cenderung mengemudi dengan agresif. Pengemudi yang terbiasa dengan kemacetan lalu lintas yang tidak terduga dapat menimbulkan emosi marah pada pengemudi yang kemudian dapat meningkatkan kecenderungan pengemudi untuk mengemudi secara agresif (Tasca, 2000). Pengemudi akan senang bersaing dengan pengemudi lain dengan kecepatan tinggi, dan pengemudi juga dapat berperilaku agresif dengan mengincar pengemudi ugal-ugalan lainnya saat terjadi kemacetan lalu lintas.

Persepsi Resiko Kecelakaan

  • Pengertian Persepsi Resiko Kecelakaan
  • Faktor-faktor Persepsi Resiko Kecelakaan
  • Pengendara

Diamant & Brousand (2002) menyatakan bahwa persepsi risiko bencana adalah kemampuan untuk mengenali faktor risiko yang signifikan dan kemampuan untuk mengatasi risiko tersebut. Namun, jika individu merasa tidak memiliki kendali atas situasi yang dihadapinya, maka individu tersebut akan merasa memiliki persepsi risiko yang tinggi terhadap situasi yang dihadapinya. Individu akan menganggap manuver yang dilakukan berisiko tinggi jika berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh anak-anak.

Namun jika tidak ada anak di dalam kendaraan, persepsi risiko pengemudi akan kecil. Menurut Ropeik & Slovic (2003), jika individu menghadapi situasi risiko baru, individu tersebut akan mempersepsikan risiko baru tersebut lebih tinggi. Namun, jika seseorang menghadapi situasi risiko yang telah diidentifikasi, maka individu tersebut akan mempersepsikan risiko tersebut sebagai risiko rendah, meskipun individu tersebut berada dalam situasi risiko yang sama.

Kerangka Pikir

Didukung oleh penjelasan James dan Nahl (2000) yang berarti ketidaksabaran, pengemudi menjadi tidak sabar ketika dihadapkan pada suatu kejadian di jalan raya, seperti kemacetan, kemacetan lalu lintas di hari yang panas, dan kecerobohan pengemudi lain sehingga menimbulkan perilaku mengemudi yang agresif. Sedangkan punishment berarti hukuman yang diterimanya dari perilaku mengemudi yang agresif, mis. didenda oleh polisi, kecelakaan, diusir dari orang-orang di sekitarnya, dipukuli oleh pengemudi lain dan hal-hal lain yang merupakan hukuman bagi dirinya. supir. Dalam konteks hubungan antara persepsi risiko kecelakaan dengan perilaku mengemudi agresif merupakan bentuk penilaian individu terhadap seberapa besar risiko kecelakaan yang dirasakan oleh pengemudi.

Model manajemen agresif dari lingkungan sosial dilakukan individu sebagai hal yang diamati dengan menilai perilaku dan memperhatikan akibat yang terjadi. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi persepsi seseorang terhadap risiko kecelakaan maka semakin rendah perilaku mengemudi agresifnya (aggressive driving), namun semakin rendah persepsi seseorang terhadap risiko kecelakaan maka semakin tinggi perilaku mengemudi agresifnya (aggressive driving). Berdasarkan penjelasan tersebut, kerangka konseptual mengenai hubungan persepsi risiko kecelakaan dengan perilaku mengemudi agresif yang diajukan dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut.

Hipotesis

METODE PENELITIAN

  • Identifikasi Variabel Penelitian
  • Defenisi Operasional Penelitian
    • Defenisi Operasional Persepsi Resiko Kecelakaan
    • Defenisi Operasional Aggressive Driving
  • Subjek Penelitian dan Teknik Sampling
    • Populasi
    • Sampel
    • Teknik Pengambilan Sampel
  • Teknik Pengumpulan Data
    • Pengumpulan Data
    • Instrumen Pengumpulan Data
  • Uji Instrumen
    • Uji Validitas Instrumen Penelitian
    • Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian
  • Uji Prasyarat Analisis
    • Uji Normalitas
    • Uji Linearitas
  • Teknik Analisis Data
    • Analisis Deskriptif
    • Uji Hipotesis
  • Prosedur Penelitian
    • Jadwal Penelitian
    • Persiapan Penelitian
    • Pelaksanaan Penelitian

Dapat ditarik kesimpulan bahwa mayoritas responden memiliki persepsi risiko kecelakaan pada kategori jawaban sedang.

Tabel 3.7  Hasil Uji Normalitas
Tabel 3.7 Hasil Uji Normalitas

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian.;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

  • Deskripsi Data Penelitian.;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;53
  • Deskripsi Data Aggressive Driving.;;;;;;;;;;;;;;;;;;
  • Tingkat Persepsi Resiko Kecelakaan.;;;;;;;;;;;;;;;;;
  • Tingkat Aggressive Driving.;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

Jadi pengemudi dengan pegawai BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang mempersepsikan risiko kecelakaan dikategorikan sedang.

Pembahasan

Dengan demikian, Ha yang menyatakan bahwa ada hubungan antara persepsi risiko kecelakaan dengan perilaku mengemudi agresif ditolak, dan Ho yang menyatakan tidak terdapat hubungan persepsi risiko kecelakaan dengan perilaku mengemudi agresif diterima; dengan hasil tersebut peneliti menduga ada variabel lain. yang merupakan variabel moderasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi risiko kecelakaan dengan perilaku mengemudi agresif, sehingga Ha (hipotesis alternatif) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara persepsi risiko kecelakaan dengan perilaku mengemudi agresif tidak diterima. Hasil yang diperoleh tidak sejalan dengan banyak penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara persepsi risiko kecelakaan dan perilaku mengemudi yang agresif.

Penelitian Utami (2010) menunjukkan adanya hubungan negatif antara persepsi risiko kecelakaan dengan perilaku mengemudi agresif dengan koefisien r hitung sebesar -0,237. Dalam penelitian Utami menunjukkan bahwa ketika persepsi risiko kecelakaan tinggi maka perilaku mengemudi agresif rendah, dan sebaliknya ketika persepsi risiko kecelakaan rendah maka perilaku mengemudi agresif tinggi. Tingkat signifikansi yang ditunjukkan dalam penelitian Utami (2010) menunjukkan angka 0,018 yang berarti 0,018 < 0,05. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara persepsi risiko kecelakaan dengan perilaku mengemudi yang agresif.

Hasil penelitian diatas patut dijadikan acuan bahwa ada hubungan antara persepsi risiko kecelakaan dengan perilaku mengemudi agresif atau aggressive driving, namun penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi risiko kecelakaan dengan perilaku mengemudi agresif pada pengendara sepeda motor di kota Makassar. , sehingga peneliti berasumsi bahwa ada variabel lain yang menghubungkan persepsi risiko kecelakaan dengan pengemudian yang agresif. Perilaku mengemudi yang berisiko, termasuk menerobos lampu merah, dipengaruhi oleh pencarian sensasi yang tinggi dan persepsi risiko kecelakaan yang rendah (Rundmo & Iversen, 2002). Pencarian sensasi dan risiko kecelakaan yang dirasakan merupakan hal yang dapat mempengaruhi perilaku berkendara seseorang (Eby & Molnar 1998).

Selain pencarian sensasi, peneliti juga menduga ada variabel lain yang dapat menjadi variabel moderator antara persepsi risiko kecelakaan dan perilaku mengemudi agresif yaitu kematangan emosi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Utari (2016) diperoleh nilai korelasi antara kematangan emosi dengan perilaku mengemudi agresif sebesar 0,915 dengan nilai signifikansi 0,000. Selain dugaan variabel moderator yaitu pencarian sensasi dan kematangan emosi, faktor yang menyebabkan tidak adanya hubungan antara persepsi risiko kecelakaan dengan agresif mengemudi adalah nilai reliabilitas salah satu skala yaitu skala persepsi risiko kecelakaan. , yang menunjukkan nilai reliabilitas sebesar 0,606.

Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa terdapat beberapa penyebab tidak adanya hubungan antara persepsi risiko kecelakaan dengan perilaku mengemudi agresif pengendara sepeda motor di kota Makassar.

Keterbatasan Penelitian

Rasakan bahwa Anda akan mengalami kecelakaan di jalan rawan kecelakaan jika Anda menambah kecepatan di jalan tersebut. Rasakan bahwa Anda akan mengalami kecelakaan di jalan rawan kecelakaan jika Anda tidak mengontrol kecepatan Anda di jalan tersebut.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penjabaran karakteristik responden berdasarkan derajat persepsi risiko kecelakaan diketahui bahwa pada derajat persepsi risiko pengemudi cenderung memiliki persepsi risiko kecelakaan pada kategori sedang jawaban kategori di atas persepsi terendah terhadap tingkat risiko kecelakaan pengemudi usia 24-30 tahun. Pengemudi laki-laki memiliki respon kategori rendah untuk persepsi tingkat risiko kecelakaan. Pengemudi Jawa memiliki kategori respon yang lebih rendah pada skala risiko kecelakaan yang dirasakan, pengemudi dengan gelar Master baru-baru ini memiliki kategori respon yang lebih rendah pada skala risiko kecelakaan yang dirasakan.

Jenis pekerjaan pegawai BUMN (Badan Usaha Milik Negara) memiliki kategori respon pada tingkat persepsi risiko kecelakaan rendah dan pengemudi belum menikah memiliki kategori respon pada tingkat persepsi risiko kecelakaan rendah. Sedangkan dari hasil pendeskripsian karakteristik responden berdasarkan skala agresif mengemudi terungkap bahwa pada skala agresif pengemudi cenderung rendah, lebih tinggi, pengemudi laki-laki memiliki kategori respon yang lebih tinggi dalam mengemudi agresif. Jenis pekerjaan yang memiliki kategori respon lebih tinggi pada skala agresif driving adalah pegawai BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan pengemudi menikah yang memiliki kategori respon lebih tinggi pada skala agresif driving.

Hasil penelitian menemukan bahwa tidak ada hubungan antara persepsi risiko kecelakaan dengan perilaku mengemudi yang agresif.Peneliti berasumsi bahwa penyebab dari hasil tersebut adalah karena variabel moderasi untuk mendukung hubungan antara persepsi risiko kecelakaan dan perilaku mengemudi yang agresif.

Saran

Menyalip kendaraan di depan secara zig-zag 2. Jaga jarak dengan kendaraan lain di depan.

Gambar

Tabel 3.7  Hasil Uji Normalitas

Referensi

Dokumen terkait

WALDRON USDA-ARS, Forage and Range Research Laboratory, Logan, Utah, USA [email protected] Abstract Little research has evaluated possible endophyte benefits to adaptation and