• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "DAFTAR PUSTAKA "

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Pawestri Kusumo Arum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstract

Islam as a complete religion regulates all aspects of human life, including communication. Islamic communication ethics as the main pillar in communicating is important to be trained and applied in various perspectives of life. Islamic communication ethics intrapersonal, interpersonal and within the family are some of the important perspectives to be mastered. Communication ethics according to Islamic teachings for each perspective is the next important part that must be embedded in it.

Keywords: Islamic Communication Ethics, Intrapersonal, Interpersonal

Abstrak

Islam sebagai agama yang paripurna mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam hal komunikasi. Etika komunikasi Islam sebagai pilar utama dalam berkomunikasi penting untuk dilatih dan diterapkan dalam berbagai perspektif kehidupan. Etika komunikasi Islam intrapersonal, interpersonal dan di dalam keluarga adalah beberapa perspektif yang penting dikuasai. Etika komunikasi yang sesuai ajaran Islam untuk masing-masing perspektif adalah bagian penting selanjutnya yang harus melekat didalamnya.

Kata Kunci : Etika Komunikasi Islam, Intrapersonal, Interpersonal

(2)

Pendahuluan

Komunikasi sangat krusial bagi setiap manusia dalam menyampaikan sebuah pesan. Komunikasi sudah ada sejak pertama sekali manusia ada di muka bumi ini, bahkan sebelum manusia diturunkan Allah ke muka bumi ini, komunikasi sudah berlangsung ketika Allah mengajarkan Nabi Adam tentang ilmu pengetahuan seperti yang termaktub di dalam Al-Quran.1

Prinsip dasar dari komunikasi adalah menyampaikan pesan atau proses tukar- menukar informasi atau pemahaman antara dua orang atau lebih. Jika komunikasi pada umumnya adalah hanya sebatas bertukarnya informasi atau memberikan informasi antara satu orang ke orang lainnya, maka komunikasi Islam tidak hanya berhenti di sana.

Komunikasi Islam esensi utamanya adalah komunikasi yang berlandaskan Al- quran dan Assunah, dan tidak berhenti sampai disitu, dalam komunikasi Islam juga sangat menjunjung tinggi etika dalam berkomunikasi yang tentu saja berlandaskan keislaman yang tentu saja sangat baik jika bisa dipraktikkan dikehidupan nyata baik oleh individu maupun kelompok dalam berbagai aspek kehidupan di dunia ini.2

Hasil dan Pembahasan

Pengertian Komunikasi Islam

Komunikasi pada dasarnya punya banyak pengertian dan definisi. Secara etimologis, komunikasi berasal dari Bahasa latin yaitu communication yang berasal dari communis yang berarti sama. Jadi komunikasi berlangsung jika antara orang yang terlibat komunikasi terjadi kesamaan mengenai sesuatu yang dikomunikasikan.3

Menurut Lee Thayer, ada 4 definisi komunikasi yang dikemukakak oleh para ahli : Pertama, komunikasi adalah suatu proses tukar-menukar pemahaman antara

1 Al-Quran,1:31

2 M. Husni Ritonga, Eksistensi Ilmu Komunikasi Islam (Suatu Tinjauan Filsafat Ilmu.

Dalam Amroeni Drajat (editor), Komunikasi Islam dan Tantangan Modernitas.

(Bandung:Citapustaka,2008), h.104

3 Efendi, Onong Uchyana, Dinamika Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya 2002) cet, V. h.3.

(3)

dua orang atau lebih. Kedua, komunikasi juga diartikan sebagai tukar-menukar ide dengan makna yang efektif serta saling membutuhkan. Ketiga, komunikasi adalah tukar menukar pikiran, opini atau informasi dengan ungkapan, tulisan atau tanda (signs). Keempat, komunikasi juga disebut sebagai upaya pengaturan stimuli lingkungan untuk menghasilkan suatu perbuatan yang dikehendaki dalam suatu organisma4

Berbeda dengan komunikasi pada umumnya, komunikasi Islam tidak bisa dilepaskan dengan wahyu dan kenabian, sehingga corak komunikasi Islam ini dapat menyentuh ruang transcendental yang oleh komunikasi pada umumnya hampir tidak tersentuh. Belum lagi jika bicara tentang tata Bahasa dalam komunikasi Islam, tentu sangat kental dengan azaz kesopanan dan tidak jarang menggunakan tata Bahasa yang indah jika telusuri lebih lanjut.

Segi transcendental yang secara Bahasa dalam istilah filsafat berarti suatu yang tidak dialami tapi dapat diketahui, suatu pengalaman yang terbebas dari fenomena namun berada dalam gugusan pengetahuan seseorang,5 ini lah yang membedakan komunikasi Islam dari komunikasi pada umumnya, karena tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat muslim, jika diselidiki semangat komunikasi yang terjalin di dalamnya akan tampak semangat transendennya sebagai pemicu aktifitas komunikasi setiap individu.

Maksudnya, pesan-pesan serta motif berkomunikasi dalam rangka mentransfer pesan-pesan transenden untuk disebarkan kepada halayak luas. Sehingga kemudian menggelinding menjadi topik pembicaraan dalam berbagai kesempatan interaksi sosial yang terjadi pada masyarakat muslim, bagaimana Nabi mengomunikasikan wahyu kepada ummatnya, bagaimana umat saling berkomunikasi satu sama lainnya untuk menyampaikan pesan yang didapat dari Nabi tersebut, dan bagaimana sebuah norma terkontruksi dalam masyarakat muslim, hingga secara turun-temurun norma tersebut dikomunikasikan dalam

4 Lee Thayer, Communication and Communication System : In Organitation, Management and Interpersonal Relations, (Homewood, Illinois : Richard D. Irwin. Inc, 1968) cet.

1, h.12.

5 Microsoft® Encarta® Reference Library 2003. © 1993-2002 Microsoft Corporation.

(4)

keluarga hingga akhirnya menjadi nilai maupun norma yang disepakati pada komunitas muslim.

Sedangkan jika bicara tentang Etika yang berasal dari bahasa Yunani “ethos”

(dalam bentuk tunggal) atau “ta etha” (jamak). Kata ethos dalam bentuk tunggal memiliki arti tempat tinggal, padang rumput,kandang, adat istiadat, akhlak, watak, perasaan, cara berpikir. Sedangkan dalam bentuk jamak ta etha artinya adat kebiasaan. Dari kata latin tersebut lahir kata moral.6 Sedangkan Sidi Gazalba memaknai “etika” merupakan teori tentang laku perbuatan manusia, dipandang dari nilai baik dan buruk sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.7

Kata etika diartikan sebagai: (1) himpunan asas-asas nilai atau moral8. (2) kumpulan asas/nilai yang berkenaan dengan akhlak, (3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat (4) norma, nilai, kaidah, atau ukuran tingkah laku yang baik.9

Jika demikian, maka dapat disimpulkan kalau definisi sederhana dari etika komunikasi islam adalah perilaku manusia dalam berkomunikasi yang sesuai dengan ajaran islam atau bersumber dari ajaran islam, apakah Al-quran atau hadits nabi.

Prinsip-prinsip dan Etika Komunikasi Islam

Telah difahami bahwa komunikasi merupakan sesuatu yang penting dalam Islam. Banyak sekali disebut dalam al-Quran dan sering diamalkan oleh baginda rasul melalui sunnahnya. Maka, kalau kita telusuri kedua sumber yang menjadi landasan hukum ini, maka akan dapat kita temukan tips,prinsip atau etika berkomunikasi dalam Islam yang baik dan benar yaitu :

6 Hamzah Ya‟qub, Etika Islam, Bandung: Diponegoro. 1998, h. 12.

7Abd. Haris, Etika Hamka, Yogyakarta: LKiS.2010, h. 34.

8 Onong uchjana effendi, Dinamika Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h.64

9 Wursanto, Etika Komunikasi Kantor (Yogyakarta: Kanisius, 1991), h. 27.

(5)

1. Memulakan percakapan dengan ucapan “Assalamualaikum

Islam mengharuskan setiap muslim memberi salam kepada muslim yang lain, apakah yang muda kepada yang tua, yang punya pangkat atau tidak dan lain sebagainya. Adapun hukum memberi salam adalah sunnah sedangkan hukum menjawab salam adalah wajib. Hal ini telah sesuai dengan hadits sahih berkaitan salam. Sabda Rasulullah SAW10 yang artinya

“Dari Abdullah bin Amru radhiallahuanhu bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW : “Apakah Islam yang baik?” Bersabda Rasulullah SAW : “Memberi makan dan memberi salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang kamu tidak kenal.”

Rasulullah SAW menekankan bahawa memberi salam itu adalah hak seorang Muslim ke atas saudaranya yang lain. Sabda baginda SAW11 yang artinya :

“Dari Abu Hurairah, beliau berkata: “Telah bersabda Rasulullah SAW, hak muslim atas muslim lainnya ada enam perkara.” Para sahabat bertanya : “Apa saja wahai Rasulallah?” Baginda menjawab: “Apabila kau bertemu dengannya, hendaklah engkau beri salam kepadanya, apabila ia mengundangmu, hendaklah engkau memenuhinya, dan apabila ia minta nasihat kepadamu, hendaklah engkau menasihati dia, dan apabila ia bersin lalu memuji Allah (mengucapkan Alhamdulillah), maka jawablah (dengan mengucapkan yarhamukallah), dan apabila ia sakit, hendaklah engkau menjenguk dia, dan apabila ia meninggal dunia, hendaklah engkau antarkan jenazahnya.”

Berpikir sebelum berkata-kata

Nabi menganjurkan kita untuk berpikir dulu apa yang ingin kita katakan sebelum mengatakannya. Jika yang kita katakan sepertinya tidak bermanfaat, maka lebih baik kita diam. Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya :

10 Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab Jami‟ al-Sahih al-Musnad minHadis Rasulullah s.a.w.. Bab It‟am al-Ta‟am min Islam, No hadis 11, Dar Ibn Kauthar : Beirut, 1993.

11 Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Isti‟zan, Bab al-Salam li Ma‟rifah wa ghair al-Ma‟rifah, no. hadis 5882, Dar Ibn Kauthar : Beirut, 1993

(6)

“dari Abu Hurairah, beliau berkata : Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka janganlah ia mengganggu tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam saja.”12

Kemudian dalam hadits yang lain rasulullah bersabda yang artinya :

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.”13. Berbicara dengan lemah lembut (Qaulan Layyinan)

Islam mengajarkan agar menggunakan komunikasi yang lemah lembut kepada siapa pun. Dalam lingkungan apapun, komunikator sebaiknya berkomunikasi pada komunikan dengan cara lemah lembut, jauh dari pemaksaan dan permusuhan.

Dengan menggunakan komunikasi yang lemah lembut, selain ada perasaan bersahabat yang menyusup ke dalam hati komunikan, ia juga berusaha menjadi pendengar yang baik.

Untuk perintah menggunakan perkataan yang lemah lembut ini bisa kita temukan dalam Al-Qur‟an yang artinya:

”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut"14

Prinsip Qaulan Sadidan

Kata ”qaulan sadidan” disebut dua kali dalam Alquran. Pertama, Allah menyuruh manusia menyampaikan qaulan sadidan dalam urusan anak yatim dan keturunan :

12 Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, Bab Man Kana Yu‟min billah wa al-Yaum al-Akhir Fala Yu‟khaz Jarihi, No.hados 5672, Dar Ibn Kauthar : Beirut, 1993.

13 Muslim bin al-Hajaj al-Qusyairi al-Naysaburi, Sahih Muslim, Kitab al-Zuhd wa al- Raqa‟iq, Bab al-Takalallum bi al-Kalimah Yahw biha fi al-Nar Ab‟ad ma Bayn al-Masyriq wa al- Maghrib, No.hadis 5308, Dar Ihya‟ al-Turath al-Kutub al-„Arabiyyah, 1993.

14 Al-Quran, 44:16.

(7)

”Dan hendaklah orang-orang takut kalau-kalau dibelakang hari, mereka meninggalkan keturunan yang lemah yang mereka kuatirkan (kesejahteraannya).

Hendaklah mereka bertaqwa

kepada Allah dan berkata dengan qaulan sadidan.15

Kedua, Allah memerintahkan qaulan sadidan sesudah taqwa:

”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah qaulan sadidan. Nanti Allah akan membaikkan amalamal kamu, mengampuni dosa kamu. Siapa yang taat kepada Allah dan RasulNya ia mencapai keberuntungan yang besar.” 16

Apa arti qaulan sadidan? Qaulan sadidan artinya pembicaraan yang benar, jujur (Picthall menerjemahkannya ”straight to the point”), lurus, tidak bohong, tidak Berbelit-belit. Prinsip komunikasi yang pertama menurut Alquran adalah berkata yang benar. Ada beberapa makna dari pengertian yang benar.

a. Sesuai dengan Kriteria Kebenaran

Arti pertama benar ialah sesuai dengan kriteria kebenaran. Buat orang Islam, ucapan yang benar tentu ucapan yang sesuai dengan Alquran, As-sunnah dan ilmu. Al-quran menyindir keras orang-orang yang berdiskusi tanpa berlandaskan Al-quran, hadits dan ilmu pengetahuan. Allah berfirman di dalam Al-quran yang artinya :

“Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmatNya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.17

b. Tidak Bohong

Arti kedua dari qaulan sadidan adalah ucapan yang jujur, tidak bohong. Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Jauhi dusta karena dusta membawa kamu pada dosa, dan dosa membawa kamu pada neraka. Lazimkanlah berkata jujur, karena jujur membawa kamu pada kebajikan, membawa kamu pada surga.

15 Al-Quran, 5:9.

16 Ibid, 22:70

17 Al-Quran, 31:20

(8)

Prinsip Qaulan Balighan

Kata “baligh” dalam Bahasa arab artinya adalah sampai, mengenai sasaran atau mencapai tujuan. Al-quran menyebutkan tentang Qaulan Balighan yang berbunyi :

”Berkatalah pada mereka tentang diri mereka dengan qaulan balighan18. Apabila dikaitkan dengan qaul (ucapan atau komunikasi), ”baligh” berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Oleh karena itu, prinsip qaulan balighan dapat diterjemahkan sebagai prinsip komunikasi yang efektif. Al-Quran memerintahkan kita berbicara yang efektif.

Semua perintah jatuhnya wajib, selama tidak ada keterangan lain yang memperingan. Begitu bunyi kaidah yang dirumuskan Ushul Fiqh. Dari sisi yang lain, Al-quran melarang kita melakukan komunikasi yang tidak efektif.

Keterangan lain memperkokoh kesimpulan ini. Nabi Muhammad SAW berkata:

“Katakanlah dengan baik. Bila tidak mampu, diamlah”

Rasulullah sendiri memberi contoh dengan khutbah-khutbahnya. Umumnya khutbah Rasulullah pendek, tapi dengan kata-kata yang padat makna. Nabi Muhammad menyebutnya ”jawami al-qalam”. Ia berbicara dengan wajah yang serius dan memilih Kata-kata yang sedapat mungkin menyentuh hati para pendengarnya. Irbadh bin Sariyah, salah seorang sahabatnya, bercerita,

”Suatu hari Nabi menyampaikan nasihat kepada kami. Bergetar hati kami dan berlinang air mata kami. Seorang di antara kami berkata Ya Rasulullah, seakan- akan baru kami dengar khotbah perpisahan. Tambahlah kami wasiat”. Tidak jarang di sela-sela khutbahnya, Nabi berhenti – untuk bertanya kepada yang hadir atau memberi kesempatan kepada yang hadir untuk bertanya. Dengan segala otoritasnya, Nabi adalah orang yang senang membuka dialog.

Prinsip Qaulan Maisyura

Dalam komunikasi, baik lisan maupun tulisan, dianjurkan untuk mempergunakan bahasa yang mudah, ringkas, dan tepat sehingga mudah dicerna dan dimengerti. Dalam Al-Qur‟an ditemukan istilah qawlan maisura yang

18 Al-Quran, 5:63

(9)

merupakan salah satu tuntunan untuk melakukan komunikasi dengan mempergunakan bahasa yang mudah dimengerti dan melegakan perasaan.19

Dalam surah Al-Israa Allah berfirman yang artinya :

”Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, Maka Katakanlah kepada mereka Ucapan yang pantas”20

Maisura seperti yang terlihat pada ayat di atas sebenarnya berakar pada Kata yasara, yang secara etimologi berarti mudah atau pantas. Sedangkan Qawlan Maisura, menurut Jalaluddin Rakhmat, sebenarnya lebih tepat diartikan ”ucapan yang menyenangkan,” lawannya adalah ucapan yang menyulitkan. Bila qawlan ma‟rufa berisi petunjuk via perkataan yang baik, qawlan maisura berisi hal-hal yang menggembirakan melalui perkataan yang mudah dan pantas.21

Prinsip Qaulan Karima

Komunikasi yang baik dan efektif tidak bisa dinilai dari tinggi rendahnya jabatan atau pangkat seseorang yang menyampaikan pesan komunikasi, tetapi ia dinilai dari isi perkataan seseorang dan bagaimana ia mengatakannya. Banyak orang yang gagal berkomunikasi dengan baik kepada orang lain disebabkan menggunakan perkataan yang keliru dan berpotensi merendahkan orang lain.

Permasahan perkataan tidak bisa dianggap ringan dalam komunikasi. Karen ajika salah berkata-kata maka bisa berimplikasi terhadap kualitas komunikasi dan pada gilirannya akan mempengaruhi kualitas hubungan sosial. Bahkan karena salah berkata-kata, tidak sedikit hubungan sosial seseorang dengan masyarakat putus sama sekali.

Islam mengajarkan kita agar menggunakan perkataan yang mulia dalam berkomunikasi kepada siapa pun. Perkataan yang mulia ini seperti terdapat dalam ayat Al-Qur‟an yang artinya :

19 Djamarah, Syaiful Bahri. Pola Komunikasi Keluarga Orang Tua dan Anak Dalam Keluarga (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), h. 110.

20 Al-Quran, 17:28

21 Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), h. 91.

(10)

“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”22

Dalam ayat ini, Allah tidak hanya mengingatkan ajaran tauhid untuk mengesakan Allah agar manusia tidak terjerumus ke dunia kemusyirakan, tetapi juga mengingatkan kepada seluruh anak di muka bumi ini agar selalu berbakti kepada orang tua. Setiap kita belum tentu menjadi orang tua, tetapi setiap kita pasti adalah anak dari dua orang tua. Untuk itu, Islam mengajarkan bagaimana etika yang baik dalam berkomunikasi dengan orang tua yaitu dengan selalu mengucapkan perkataan yang mulia.

Prinsip Qaulan Ma’rufa

Qawlan ma‟rufa dapat diterjemahkan dengan ungkapan yang pantas. Kata ma‟rufa berbentuk isim maf‟ul yang berasal dari madhinya, ‟arafa. Salah satu pengertian mar‟ufa secara etimologis adalah al-khair atau al-ihsan, yang berarti yang baik-baik. Jadi qawlan ma‟rufa mengandung pengertian perkataan atau ungkapan yang baik dan pantas23.

Al-quran juga menyebutkan tentang Qaulan Ma‟rufa ini yang bisa kita temukan dalam surah Al-baqarah yang artinya :

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”24.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa perkataan yang baik dan pantas dan pemberian maaf lebih utama dibandingkan memberikan sedekah namun diiringi dengan kata-kata yang menyakitkan si penerima sedekah itu. Islam ingin

22 Al-Quran, 17:23.

23 Mafri Amir, Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam (Jakarta: Logos, 1999), h. 85.

24 Al-Quran, 2:263.

(11)

mengajarkan bahwa, kata-kata yang baik dan santun bahkan lebih utama dibanding memberi sedekah namun diiringi dengan kalimat yang menyakitkan penerima sedekah itu, setinggi itu lah etika komunikasi dalam Islam, tetapi tentu yang paling utama adalah memberikan sedekah dan mengiringinya dengan perkataan yang baik,santun dan pantas untuk diucapkan, itu idealnya.

Mengulangi kata-kata yang penting

Merujuk apa yang sering dilakukan oleh Rasulullah SAW, apabila beliau mengucapkan sesuatu, maka beliau tidak jarang untuk mengulanginya hingga 3 kali berturu-turut hingga semua sahabat paham apa yang dimaksud beliau.

Pengulangan ini tentu saja bermakna kalau hal ini penting untuk dilaksanakan oleh umatnya. Sebagai contoh yaitu memberi nasihat atau peringatan jika suatu hal itu adalah kebaikan bersama, maka perlu diulang berkali-kali,

Ibnu Mas‟ud pernah menceritakan apa yang rasullullah sabdakan yang artinya :25

“Rasulullah selalu memberikan mau‟izah kepada kami beberapa kali setiap hari karena kuatir menimbulkan kebosanan pada diri kami”

Melakukan apa yang dikatakan

Salah satu prinsip yang juga penting dalam kaitannya dengan komunikasi Islam adalah melakukan apa yang kita sampaikan. Banyak komunikator dewasa ini sangat lihai dalam beretorika, bahkan tidak sedikit yang mengatasnamakan agama tertentu agar kelihatan lebih agamis dalam menyampaikan komunikasinya.

Namun sayangnya, apa yang disampaikannya justru tidak dilakukannya. Jika ini terjadi pada diri komunikator, tentu akan menjadi hal yang sangat memilukan sekaligus memalukan. Dan belum dapat dikatakan komunikator memiliki etika yang baik. Karena etika dan komunikasi tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja hubungannya.

25 Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-„Ilm, Bab Ma ka Na Nabiy Yatakhawwalahum bial-Mau‟izah, no hadis 68, Dar Ibn Kauthar : Beirut, 1993.

(12)

Islam sangat melarang seseorang yang mengatakan sesuatu, namun tidak melakukan apa yang dikatakannya. Nabi Muhammad adalah contoh mulia, beliau adalah orang pertama yang melakukan apa yang beliau sampaikan, bahkan ketika belum disampaikan pesan itu pun beliau selalu sudah melakukannya. Sehingga hal ini membuat apa yang beliau sampaikan selalu di dengar oleh orang lain, karena dapat menjadi contoh. Beliau mengajarkan para sahabatnya kebanyakan dengan contoh konkrit agar dapat segera di tiru dan dipraktikkan.

Allah SWT juga sangat membenci perilaku orang yang mengatakan namun tidak melakukan seperti yang tertulis dalam Al-quran26 yang artinya :

“Sangat lah di benci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu lakukan”

Dari ayat ini dapat kita petik intisari bahwa Islam sangat mengutamakan akhlaq yang mulia di banding hanya sekadar lips service atau retorika individual.

Namun yang paling utama tentu saja adalah jika perbuatannya satu dengan apa yang dikatakannya, ini adalah gambaran manusia yang ideal.

Etika Komunikas Islam dilihat dalam beberapa Perspektif

Etika dalam berkomunikasi dalam Islam, perlu untuk dilihat dalam beragam perspektif agar pendekatan dan pemahaman yang kita lakukan bisa lebih utuh.

Kita perlu melihat secara lebih dalam bagaimana Etika Komunikasi Islam jika dilakukan secara individu, Interpersonal, Kelompok, hingga dalam berbangsa dan bernegara.

Etika Komunikasi Islam secara Individu dan Interpersonal

Al-quran sebagai sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan telah memberikan banyak contoh tentang bagaimana Islam mengajarkan etika yang santun dalam berkomunikasi secara individu. Kita ambil satu contoh sederhana adalah pada Surat Ash-Shaffat ayat 102, bagaimana Nabi Ibrahim dengan indah menyampaikan ide nya kepada anak nya Isma‟il tentang menyembelih anak nya tersebut.27

26 Al-quran, 28:3.

27 Al-quran 37:102

(13)

اَذا َه ْرُظًْاَف َل ُحَب ْذَأ يًَِّأ ِماٌَ َوْلا يِف ٰى َرَأ يًِِّإ َّيٌَُب اَي َلاَق َيْعَّسلا ُهَع َه َغَلَب اَّوَلَف َييِرِبا َّصلا َي ِه ُ َّاللَّ َءاَش ْىِإ يًُِد ِجَتَس ۖ ُر َه ْؤُت اَه ْلَعْفا ِتَبَأ اَي َلاَق ۚ ٰى َرَت

Jika kita coba analisis apa yang dilakukan Nabi Ibrahim tentu kita akan sangat takjub dengan keahlian komunikasi beliau kepada anak nya Ismail. Berikut beberapa analisis ayat di atas dalam perspektif etika komunikasi secara individu :

 Meskipun Ibrahim adalah seorang Nabi dan Rasul sekaligus juga sebagai orang tua yang berhak mengambil keputusan untuk masa depan anaknya, namun Nabi Ibrahim memilih untuk mendiskusikan langkah kedepan yang akan diambil nya kepada anak nya Ismail. Ini bisa kita ambil hikmah bahwa 1 orang berpikir memang lebih baik dari 1 orang tidak berpikir. Namun, 2 orang yang berpikir, selalu lebih baik dibading 1 orang yang berpikir, dan begitu seterusnya. Dengan 2 orang yang berpikir (Ibrahim dan Isma‟il), Ibrahim meyakini bahwa keputusan yang diambilnya tentu lebih baik dan bijak di banding ia yang mengambil keputusan itu sendiri tanpa pertimbangan orang lain. Dalam kaitannya dengan etika komunikasi, pendekatan semacam ini tidak jarang akan menghasilkan pemikiran dan karya-karya besar dalam kehidupan umat manusia.

 Ibrahim tidak merasa lebih berkuasa di banding orang lain, termasuk anak nya sendiri. Lagi-lagi ini menunjukkan etika yang luhur dalam berkomunikasi individu. Ibrahim juga dengan jelas meminta pandangan Ismail terkait rencana penyembelihan dirinya ini, padahal secara logika, Ismail adalah masih tergolong anak-anak dan tentu minim akan pengalaman, namun Ibrahim tetap mendengar dan menghargai apa yang menjadi jawaban dari Ismail, tentu ini bagian yang jelas yang harus dimiliki seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain adalah menghargai dan coba memahami ide dan pemikiran lawan bicara kita, sebuah konsepsi yang sangat indah dalam Al-quran tentang etika dalam komunikasi. Bisa saja lawan bicara kita lebih muda dan kurang pengalaman dibandingkan kita, namun belum tentu kita lebih bijak dari dia, begitu pesan lain yang ingin disampaikan oleh Nabi Ibrahim dalam diskusi yang Indah dalam Al-quran ini.

(14)

 Nabi Isma‟il menunjukkan akhlaq dan etika yang tinggi dalam berkomunikasi. Dia mendengarkan dulu penjelasan ayah nya secara utuh, mulai dari ayah nya bermimpi menyembelih hingga meminta pendapatnya tentang mimpi itu, baru lah kemudian Nabi Isma‟il bicara tentang pendapatnya. Sampai disini kita melihat Etika Komunikasi dalam Islam yang sangat santun yaitu : ketika ada orang lain bicara, maka dengarkan dulu isi pembicaraan itu hingga tuntas dan pahami dulu apa maksud dari isi pembicaraan itu, baru kemudian kita bisa memberikan respon atau jawaban dari pesan yang disampaikan. Jika kita gambarkan dalam diagram sederhana adalah sebagai berikut :

Flow Komunikasi Nabi Ibrahim dan Ismail

Mimpi (Pesan diterima Ibrahim

dari Allah)

•Meyakini jika mimpi itu dari Allah

Pesan itu disampaikan Ibrahim kepada

Ismail dengan santun

•Menyampaikan pesan harus tenang dan santun

Ismail Mendengarkan pesan dari Nabi Ibrahim secara utuh

Tidak memotong pembicaraan (Etika Komunikasi yang santun)

Ismail merespon dengan yakin pertanyaan Ibrahim

dan setuju

•Ismail menggunakan model Stimulus-Respon (setelah melalui proses pemikiran)

Eksekusi kesepakatan dilakukan di hari yang ditentukan

•Kesepakatan dilakukan dengan komitmen tinggi, tidak berubah- ubah

(15)

Jika kita cermati lebih dalam lagi, itu lah kenapa setiap tindakan yang akan dilakukan oleh para Nabi yang dalam pembahasan ini Nabi Ibrahim, beliau melakukannya secara yakin dan mantap karena sudah dikomunikasikan dan didiskusikan dengan orang lain atau yang terlibat dengan tindakan itu. Sangat berbeda dengan kita di zaman sekarang ini, bahkan yang sudah akan kita lakukan pun tak jarang kita ragu untuk melakukannya dengan dalih berbagai hal, padahal itu tak lepas dari persiapan kita, komunikasi kita dengan pihak terkait dan kurang melibatkan Allah sebagai Maha dari segala Maha di kehidupan ini. Jika kita mencontoh apa yang dilakukan Nabi Ibrahim di atas, maka tentu bukan saja aspek etika komunikasi individu kita yang akan semakin baik, namun seluruh aspek kehidupan kita sehari-hari bisa menjadi lebih baik dan terorganisir yang pada akhirnya tentu saja akan memberikan kehidupan yang lebih baik dari hari ke hari.

Etika Komunikasi Islam dalam kelompok kecil (keluarga)

Jika bicara tentang komunikasi Islam dan ditinjau secara kelompok kecil atau keluarga, maka kita perlu mencermati banyak hal di dalam Al-quran yang mengupas tentang hal ini. Mengambil salah satu cuplikan yang sangat menarik dalam Al-quran di Surah Luqman, kita bisa melihat lebih jauh bagaimana Lukman membangun “Branding” diri anaknya dengan berlandaskan dan bersandar kepada Allah SWT.

Minimal ada 3 pondasi yang diajarkan oleh Lukman kepada anaknya agar menjadi pribadi yang sukses tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Dan yang menarik adalah, sebelum Lukman menyampaikan pondasi dan petuah-petuah nya itu, dia lebih dulu memberikan contoh yang mulia bagaimana memanggil anak.

Dia mamanggil anaknya berulang kali dengan sebutan “Ya Bunayya”, dalam konteks Bahasa arab merupakan sebuah sapaan lembut dan santun kepada anak.

Perlu kita pahami secara jelas, jika watak dari anak-anak adalah “Hubbut Taqliid”

yang artinya gemar meniru. Itu adalah watak dari anak-anak secara umum. Jika yang ditampilkan orang tuanya adalah sesuatu yang buruh dan dia meihatnya sehari-hari, maka jangan kaget jika anak itu juga akan tumbuh menjadi seperti

(16)

orang tua yang mencontohkannya itu. Itu bukan lah kesalahan si anak, tetapi murni kesalahan dari orang tua yang salah dalam mendidik anak. Itu lah kenapa kita sering perhatikan, banyak anak-anak yang mendadak ingin berubah menjadi SUPERMAN, ketika dia baru saja menyaksikan film itu. Banyak juga anak-anak yang mendadak ingin menjadi Cinderalla dan mencontoh sikap nya, setelah menonton film itu, dan begitu seterusnya. Lukman mengajarkan hal yang berbeda, dia mencontohkan kebaikan, maka tentu saja yang keluar dari anaknya juga adalah kebaikan.

Pondasi pertama yang ditekankan kepada Lukman seperti yang tercantum di dalam Al-Quran adalah, Wahai anakku, jangan lah engkau menyekutukan Allah28 yang ayat secara lengkapnya adalah :

ٌني ِظَع ٌنْلُظَل َك ْرِّشلا َّىِإ ۖ ِ َّللَّاِب ْكِرْشُت َلِ َّيٌَُب اَي ُهُظ ِعَي َوُه َو ِهٌِْب ِلِ ُىا َوْقُل َلاَق ْذِإ َو Artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Pondasi pertama yang dikomunikasikan oleh Lukman kepada anaknya adalah untuk tidak menyekutukan Allah. Ini adalah sikap hidup pertama atau way of life yang harus dimiliki dan ditanamkan oleh setiap individu sejak dini. Dengan memiliki mental pertama ini, maka kedepan, jadi apa pun kita, maka iman di dalam dada tetap bersemayam dan kokoh di dalam jiwa.

Pada ayat selanjutnya (ayat 14), Lukman membimbing anaknya masih dengan etika yang luhur dan menyampaikan pesan yang juga sangat mulia yaitu, hormat kepada orang tua. Setelah menyembah Allah dan tidak menyekutukannya, maka tangga kedua adalah hormat kepada kedua orang tua. Setelah kedua poin penting itu, maka hal yang ketiga yang diajarkan Lukman kepada anaknya adalah tentang Integritas. Dimanapun kita berada, ada orang atau pun tidak, maka kita wajib melakukan kebenaran. Bukan mesti ada orang yang melihat baru kita melakukan

28 Al-Quran 31:13

(17)

kebenaran, tetapi ada atau tidak ada orang, maka kita harus melakukan kebenaran, ini adalah tentang integritas yang diajarkan Lukman kepada anaknya.

Ini adalah 3 poin kunci yang diajarkan Lukman kepada anaknya. Yang juga menjadi bagian penting adalah bagaimana Etika Lukman dalam menyampaikan pesan ini kepada anaknya, tidak terkesan menggurui, namum penuh keakrapan dan kesantunan, hingga pesan nya bisa dipahami dengan mudah dan sederhana.

Selain 3 poin utama di atas, adalah lebih kepada kewajiban yang harus dilakukan dalam hidup seperti shalat, mengerjakan kebaikan dan lain sebagainya.

Penutup

Islam adalah agama yang sempurna. Semua aktivitas kehidupan dari bangun tidur sampai tidur lagi, semuanya diatur di dalam agama, tidak terkecuali bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi yang merupakan bagian paling penting dalam kehidupan ini pun sesungguhnya sudah dicontohkan langsung oleh Allah kepada nabi Muhammad melalui jibril ketika menurunkan wahyu yang pertama dan seterusnya.

Rasul yang di sebut sebagai “Al-quran berjalan” itu pun dengan akhlak yang mulia menerjemahkan semua konsepsi quran dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dalamnya bagaimana menyampaikan pesan dan berkomunikasi dengan sahabat nya dan masyarakat pada umumnya. Dengan panduan Al-quran langsung dan diterjemahkan kedalam kehidupan sehari-hari, maka aplikasi dari nilai konsepsi quran lebih mudah dipahami oleh para sahabat, hingga kita sampai dengan hari ini.

Konsep Qaulan Sadidan dan seterusnya itu merupakan panduan langsung dari Allah bagaimana Islam mengajarkan standard yang tinggi dalam etika komunikasi. Tidak terbatas pada hubungan antar pertemanan, antara yang muda dan yang tua, antara orang tua dan anak, semuanya dikupas tuntas dan di pandu secara langsung oleh Al-quran melalui contoh nyata Rasul dalam kehidupannya sehari-hari.

Melalui media etika, termasuk di dalam bagaimana berkomunikasi, Islam ingin mengajarkan kalau ini lah yang di maksud dengan agama rahmatan lil

(18)

„aalamiin, agama yang mengajak umat nya untuk selalu berbuat kebajikan, bukan mengejek antar satu dan yang lain, agama yang gemar merangkul dalam setiap aktivitas, bukan memukul akibat perbedaan minor dan sebagainya.

Bagaimana etika komunikasi ini jika diimplementasikan di setiap jenjang komunikasi juga menjadi bagian penting, seperti etika komunikasi islam dalam cakupan antar pribadi atau pun dalam lingkup kelompok kecil (keluarga atau orang tua-anak dan sebaliknya). Hal ini bisa menjadi referensi kita dalam berkomunikasi yang beretika yang sesuai dengan ajaran Islam.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Amir, Mafri. 1999. Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam.

Jakarta: Logos

Bungin, Burhan, 2006. Sosiologi Komunikasi Jakarta : Kencana Prenada Media

Djamarah, Syaiful Bahri. 2004. Pola Komunikasi Keluarga Orang Tua dan Anak Dalam Keluarga. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Effendi, Onong Uchjana. 2000. Dinamika Komunikas. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ismail, Muhammad bin, 1993. Sahih al-Bukhari, Beirut : Dar Ibn Kauthar.

Karim, Abdul, 2015. Studi Media Dalam Perspektif Komunikasi Islam (Analisis Esensi Komunikasi Islam Dalam Diseminasi Informasi). Annual international conference on Islamic studies XII, digilib.uinsby.ac.id

Rahman, Fazlur. 1977. The Quranic Foundations and Structure of Muslim Society. Karachi Pakistan : Elite Publishers LTD.

Rahman, Taufik. 2019. Teori Spiral, Selektivitas dan Matematikal dalam Al- quran, Jurnal Ilmiah Mukaddimah, Volume 4, No 2, Hal 179.

Rakhmat, Jalauddin. 2001. Psikologi Komunikas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ritonga, M. Husni. 2008. Eksistensi Ilmu Komunikasi Islam (Suatu Tinjauan Filsafat Ilmu. Dalam Amroeni Drajat (editor), Komunikasi Islam dan Tantangan Modernitas. Bandung:Citapustaka

Silvana R. Tine. 2008. . Aplikasi Filsafat Dalam Ilmu Komunikasi. Dalam http://pustakawan.pnri.go.id.

Taufik, M. Tata. 2012. Etika Komunikasi Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Taufik, M. Tata. 2013. Memperkenalkan Komunikasi Transdental. Nizham.

Vol 1, No.2. h.205.

Thayer, Lee. 1968 Communication and Communication System: In Organitation, Management, and Interpersonal Relations, (Homewood, Illinois:

Richard D. Irwin.Inc)

(20)

Wazir, Rosni Binti, dkk, 2015. Komunikasi Dalam Islam Prinsip-Prinsip berdasarkan Al Quran dan Al-sunnah, Jurnal Ilmiah Berwasit, Volume 5, Hal 47.

Wursanto. 1991. Etika Komunikasi Kantor. Yogyakarta: Kanisius.

Ya‟qub,Hamzah. 1998. Etika Islam. Bandung: Diponegoro.

Referensi

Dokumen terkait

Menu Awal Algoritma WP Sesuai dengan sifat dinamis dari sistem maka pada menu ini juga pengguna menentukan terlebih dahulu jumlah alternatif dan kriteria.. Selain jumlah alternatif dan

[r]