Suku bunga yang tinggi akan mendorong penurunan konsumsi karena masyarakat cenderung mengalihkan konsumsinya ke periode berikutnya. Dimana tingkat bunga riil dan αt menunjukkan konsumsi dasar yang tidak dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Komponen agregat kedua adalah investasi yang sangat bergantung pada biaya modal atau suku bunga riil (Mankiw, 2003).
Dalam menentukan investasi, pengusaha akan mempertimbangkan suku bunga kredit, dimana jika suku bunga pinjaman tinggi maka pengusaha akan mengurangi permintaan kredit. Menurut Mojon2, suku bunga pinjaman atau suku bunga pasar dipengaruhi oleh suku bunga acuan bank sentral atau otoritas moneter. Dimana It = Investment, id = real interest rate, cr = country risk dan Y adalah output seperti pada notasi sebelumnya.
Jadi penurunan nilai tukar akan diikuti dengan peningkatan ekspor dan juga akan berdampak pada pertumbuhan produksi (Hallwood dan MacDonald, 2000). Apresiasi nilai tukar akan diikuti oleh peningkatan permintaan impor, terutama impor barang-barang konsumsi. Sebab, apresiasi nilai tukar berarti harga barang impor akan lebih murah, sehingga permintaan barang tersebut akan meningkat.
Hal ini karena apresiasi nilai tukar berarti harga barang impor akan lebih murah, sehingga permintaan barang tersebut akan meningkat mis.
Model Empiris Persamaan Simultan
Teknik ini digunakan untuk mendapatkan nilai parameter struktural pada persamaan yang overidentified dan memiliki masalah endogenitas. Pemilihan teknik estimasi yang lebih tepat didasarkan pada 2 hal, yaitu (i) identifikasi perbandingan jumlah variabel endogen dan eksogen seperti yang telah dijelaskan di atas, dan (ii) permasalahan endogenitas yang terdapat pada persamaan struktural3. Secara teknis, masalah endogenitas ini dapat dicerminkan dalam struktur matriks kovarians galat antar persamaan, yang dapat diuji dengan uji spesifik Hausman.
Seperti disebutkan sebelumnya, salah satu kelemahan menggunakan metode OLS untuk perbandingan simultan adalah masalah endogenitas. Jika persamaan tersebut mengandung masalah endogenitas, maka dengan menggunakan metode OLS akan menghasilkan estimasi parameter yang tidak efisien. Hasil pengujian dengan Hausman-specific test menunjukkan bahwa persamaan konsumsi, investasi dan impor mengandung masalah endogenitas. Oleh karena itu, ketiga persamaan harus menggunakan TSLS untuk mendapatkan hasil yang tidak bias dan konsisten.
Setiap persamaan diestimasi sebagian dengan asumsi bahwa kesalahan dalam satu persamaan tidak berkorelasi dengan kesalahan dalam persamaan lainnya. Struktur model yang sama juga diterapkan secara mandiri di setiap daerah, antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara. Salah satu bentuk penyesuaian yang dimaksud adalah pemilihan indikator untuk mewakili beberapa variabel seperti permintaan luar negeri (diperkirakan dengan PDB negara asing) yang berbeda untuk beberapa daerah sesuai dengan karakteristik daerah tersebut.
HASIL DAN ANALISIS
- Estimasi Persamaan Konsumsi
- Estimasi Persamaan Investasi
- Estimasi Persamaan Ekspor
- Estimasi Persamaan Impor
- Estimasi Persamaan Inflasi
- Simulasi
Terkait variabel suku bunga, hasil evaluasi menunjukkan respon konsumsi yang relatif kecil terhadap perubahan suku bunga. Persamaan investasi menggunakan suku bunga riil dan output sebagai variabel kunci, dan memasukkan variabel risiko negara yang mencakup risiko politik, ekonomi, dan keuangan. Dari hasil regresi diketahui bahwa suku bunga riil berpengaruh negatif dan signifikan terhadap investasi, hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa hubungan suku bunga riil dengan investasi riil adalah berbanding terbalik (Mankiw, 2003).
Penerapan struktur model yang sama untuk delapan provinsi terpisah di Indonesia menunjukkan hasil yang signifikan pada variabel penjelas utama yaitu PDRB dan suku bunga riil dengan arah sesuai teori. Sedangkan koefisien suku bunga riil pada provinsi yang berbeda relatif sama yaitu minus 0,01 sampai minus 0,03 yang relatif mendekati koefisien suku bunga riil nasional yaitu minus 0,02 kecuali di provinsi Jawa Tengah yang memiliki koefisien minus 0,78. Selain itu, persamaan ekspor juga memasukkan variabel harga minyak dunia dan perubahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.
Untuk persamaan impor, penelitian ini menggunakan faktor produksi dalam negeri, indeks harga dunia yang diwakili oleh IHK AS, nilai tukar riil, dan dummy krisis. Hal ini disebabkan berkurangnya permintaan impor akibat naiknya harga barang-barang impor akibat depresiasi rupiah terhadap mata uang asing (dolar AS). Hal sebaliknya terjadi pada saat kurs terapresiasi yang berdampak menekan harga rupiah barang impor, sehingga permintaan barang impor meningkat.
Spesifikasi standar yang digunakan adalah kurva Philips dengan tiga komponen utama yaitu ekspektasi inflasi, kesenjangan output, dan guncangan penawaran yang diwakili oleh nilai tukar rupee terhadap dolar AS. Variabel nilai tukar ini diinternalisasi dalam model empiris untuk memperhitungkan guncangan eksternal yang mempengaruhi sisi penawaran. Dinamika produksi sebagaimana ditunjukkan dalam analisis di atas mempengaruhi tingkat inflasi aktual yang terjadi, berinteraksi dengan pergerakan nilai tukar dan ekspektasi inflasi.
Pada simulasi nilai tukar dibagi menjadi tiga skenario depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dengan persentase depresiasi yang berbeda. Hasil simulasi menunjukkan jika nilai tukar Rupiah turun 13,5% menjadi Rp11.000 per Dolar AS, konsumsi dan investasi relatif konstan. Hal ini juga terjadi ketika nilai tukar turun hingga 18,6% dan 23,8% menjadi Rp. 11.500/USD dan Rp. 12.000/USD.
Sementara itu, ekspor dan PDB nasional meningkat sejalan dengan peningkatan persentase depresiasi nilai tukar (Tabel V.10), dimana rasio pertumbuhan ekspor dan PDB relatif sama. Di sisi lain, kinerja impor mengalami penurunan akibat devaluasi nilai tukar, dimana penurunan tersebut semakin meningkat dengan meningkatnya persentase devaluasi nilai tukar. Secara regional, beberapa hasil simulasi dengan depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dari 1 USD = IDR 11.000 menjadi 1 USD = IDR 12.000 menunjukkan bahwa pengaruh devaluasi di setiap wilayah relatif sama.
Ditemukan bahwa penurunan nilai tukar berdampak pada penurunan produk domestik bruto dan konsumsi, kecuali di provinsi Sumatera Barat yang justru sebaliknya.
KESIMPULAN DAN SARAN
Persentase penurunan impor saat harga naik lebih kecil daripada penurunan impor saat harga turun. Hal ini menunjukkan bahwa impor Indonesia sebagian besar merupakan barang-barang yang sangat dibutuhkan, seperti bahan baku. Dari hasil simulasi diketahui bahwa konsumsi dan investasi relatif konstan, nilai tukar rupiah turun terhadap dolar AS.
Inflasi naik karena rupee terdepresiasi, tetapi dengan selisih yang kecil mengingat pass-through yang relatif kecil dari nilai tukar terhadap inflasi. Jika terjadi perlambatan ekonomi dunia dengan simulasi penurunan PDB AS dan perubahan indeks harga komoditas dunia yang diwakili oleh IHK AS, maka perekonomian domestik akan terpengaruh. Berdasarkan kesimpulan yang telah disampaikan sebelumnya, intinya krisis keuangan global telah berdampak pada perekonomian nasional dan regional, dimana dampak ini sulit dihindari.
Pemerintah dapat berperan dengan meningkatkan konsumsi masyarakat, dimana kegiatan ini dapat mendorong peningkatan produksi, mengingat pengeluaran pemerintah (G) secara teoritis berperan langsung dalam pembentukan PDB. Selain itu, belanja negara baik di pusat maupun di daerah harus berupa kegiatan yang menciptakan lapangan kerja. Misalnya, pembangunan jalan, jembatan, dan infrastruktur lainnya akan menciptakan lapangan kerja bagi warga di daerah tersebut.
Hal ini dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan juga menampung tenaga kerja yang menganggur akibat efisiensi yang dilakukan oleh beberapa perusahaan. Peran Bank Indonesia sebagai bank sentral dapat berupa pelonggaran kebijakan moneter dengan menurunkan BI rate yang merupakan acuan suku bunga perbankan. Hal ini akan menggerakkan roda perekonomian, dimana konsumsi yang tinggi juga akan mendorong peningkatan produksi barang.