• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Perubahan Iklim Bagi Kehidupan di Bumi

N/A
N/A
Azka Salsabila

Academic year: 2024

Membagikan "Dampak Perubahan Iklim Bagi Kehidupan di Bumi"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK...3

ABSTRACT...4

BAB I PENDAHULUAN...5

A. Judul Penelitian...5

B. Latar Belakang Masalah...5

C. Masalah Penelitian...6

1. Identifikasi Masalah...6

2. Batasan Masalah...6

3. Rumusan Masalah...7

D. Tujuan Penelitian...7

E. Manfaat Penelitian...7

F. Definisi Operasional...7

BAB II PENELITIAN TERDAHULU...8

A. Landasan Teoretis...8

1. Iklim...8

2. Gas-Gas Berbahaya...9

3. Efek Rumah Kaca...10

B. Penelitian Terdahulu...10

BAB III PROSEDUR PENELITIAN...12

A. Prosedur Penelitian...12

1. Metode Penelitian...12

2. Sumber Data dan Korpus...12

3. Teknik Pengumpulan Data...13

4. Teknik Pengolahan Data...13

B. Instrumen Penelitian...13

(2)

BAB IV

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN...14

A. Penyebab...14

1. Faktor penyebab yang berasal dari alam...14

2. Faktor yang berasal dari tindakan manusia...17

B. Dampak Perubahan Iklim...18

1. Cuaca ekstrem...18

2. Kegiatan Manusia...20

C. Perubahan Iklim di Masa Mendatang...21

BAB V...23

PENUTUP...23

A. Simpulan...23

B. Rekomendasi...24

Pustaka Acuan...25

(3)

UCAPAN TERIMA KASIH

Pertama dan yang paling utama penulis mengucap syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah Swt, yang atas izinnya penulis diberikan nikmat sehat serta kuat sehingga dapat menyelesaikan proses penyusunan karya tulis ilmiah ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Sayyidina Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya juga penegak sunnah-Nya sampai akhir zaman kelak.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar- besarnya kepada Yanda Alvian Rivaldi Yasin, S.Pd. dan Bunda Fitri Sulistiawati Dewi, S.Pd. selaku guru pembimbing yang telah menyempatkan waktu disela-sela kesibukannya untuk memberikan penulis petunjuk, saran, arahan, dan bantuan sejak awal rencana penulisan karya tulis ini hingga akhirnya selesai.

Terimakasih juga penulis ucapkan kepada keluarga juga teman-teman yang secara tidak langsung telah memberikan dukungan yang cukup besar kepada penulis selama proses penyusunan karya tulis ilmiah ini.

(4)

ABSTRAK

Judul dari penelitian ini “Dampak Perubahan Iklim Bagi Kehidupan di Bumi”.

Penulis memilih judul ini dikarenakan penulis merasa bahwa perubahan iklim memiliki dampak yang besar dan cukup signifikan kepada kehidupan manusia, sehingga penulis beranggapan bahwa perubahan iklim harus dikaji demi memberikan informasi lebih lanjut mengenai hal-hal penting yang berkenaan dengan topik ini kepada orang lain. Adapun masalah yang dibahas pada penelitian ini ada tiga, (1) penyebab perubahan iklim, (2) dampak perubahan iklim pada bumi, dan (3) kondisi bumi akibat perubahan iklim di masa mendatang.

Metode yang digunakan penulis pada penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif, yang menurut Rafi’i (1990: 139 ) merupakan metode yang dipergunakan dalam makna harfiah tentang lukisan-lukisan situasi atau kejadian- kejadian tertentu. Hal ini adalah kumpulan data atau informasi berdasarkan lukisan tunggal, tidak perlu mencari atau menjelaskan hubungan, pengujian hipotesis, pembuatan perkiraan atau prediksi, atau mendapatkan arti dan keterlibatan, meskipun metode ini ditunjukan kepada maksud-maksud yang lebih berdaya guna.

Dari penelitian ini kami dapat menyimpulkan bahwa perubahan iklim disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor alam dan faktor manusia. Perubahan iklim juga memberikan dampak pada kegiatan manusia dan dapat menimbulkan cuaca ekstrem. Global warming merupakan salah satu dari contoh perubahan iklim dimana suhu bumi mengalami peningkatan sehingga berpengaruh terhadap iklim secara global.

(5)

ABSTRACT

The title of this research is “The Effects of Climate Change for The Lives on Earth”. We picked the topic climate change as our scientific paper’s title due to its potent impacts that effect our daily lives significantly on first hand. Therefore, we conclude that it is a necessity to bring up climate change in order to make people be more aware and knowledgeable about this topic, in response to the preponderance of people who haven’t understood the importance of our earth’s condition among us. There are three main topics that will be discussed in this research, (1) the causes of climate change, (2) the impacts of climate change that have happened, and (3) the future risks of climate change.

The research method that we are using is descriptive method, a method in which Rafi’i (1990: 139) described as a method that provides descriptions of situations or occurrences in a non figurative way. These descriptions can be consisted of collections of information in which relation explanations, hypothesis testing, and making of predictions are not deemed as a requirement.

From our research, we can concude that climate change is a result of human activities and natural events. Climate change is effecting our lives in different ways and causing extreme natural events. Global warming is one of the form of climate change in which the earth’s temperature rises, resulting to a change in our climate.

(6)

BAB I PENDAHULUAN A. Judul Penelitian

Judul penelitian ini adalah “Dampak Perubahan Iklim Bagi Kehidupan di Bumi”

B. Latar Belakang Masalah

Pemanasan global dapat didefinisikan sebagai peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), kemungkinan besar penyebab terjadinya fenomena pemanasan global adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca yang kebanyakan merupakan emisi dari penggunaan mesin di kehidupan manusia. Keberadaan mesin-mesin ini adalah produk dari adanya proses industrialisasi.

Menurut Mgbemene, Nnaji, dan Nwozor (2016: 303), industrialisasi adalah sebuah proses transformasi kehidupan manusia secara sosial dan ekonomi dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Ini menyebabkan perubahan drastis dalam aspek ekonomi-sosial seperti kecenderungan urbanisasi, peningkatan jumlah penerima upah, dan pendidikan yang lebih maju.

Industrialisasi adalah organisasi ekonomi ekstensif dengan tujuan produksi barang dengan menggunakan mesin atau manufaktur. Manufaktur selalu melibatkan penggunaan energi dalam skala besar. Dari pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa industrialisasi menyangkut inovasi teknologi, transformasi sosial dan ekonomi. Industrialisasi mencakup pengembangan produksi makanan dan infrastruktur, konservasi sumber daya yang lebih efisien, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan lain-lain. Meskipun industrialisasi merupakan kunci untuk kekayaan dan kehidupan yang lebih baik, hal ini memberi efek terhadap lingkungan dan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global akibat gas rumah kaca yang dikeluarkan dari hasil pembakaran bahan bakar fosil.

(7)

Selain pembakaran fosil, penyumbang terbesar gas rumah kaca adalah sektor pertanian dan peternakan. Saat tanah mengandung oksigen berlebih, bakteri akan mengubah nitrogen tersebut menjadi nitrogen oksida dan dilepaskan ke atmosfer.

Dilansir dari Worldwatch Instititute, pengawahutanan atau penggundulan hutan untuk dijadikan lahan pertanian merupakan adalah penyebab utama meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Lima negara penyumbang karbon dioksida terbanyak berasal dari Asia, dengan 279 juta ton dari Indonesia, 41 juta ton dari Papua Nugini, 35 juta ton dari Malaysia, dan 31 juta ton dari Bangladesh.

Tingginya konsentrasi gas rumah kaca ini menyebabkan pemanasan global yang akhirnya menimbulkan perubahan iklim.

Perubahan iklim bisa disebut sebagai perubahan konstan dalam pola iklim yang disebabkan oleh aktivitas antropogenik dan kejadian alami. Menurut US Global Change Research Program, perubahan iklim adalah perubahan pada keadaan cuaca yang berlangsung selama berdekade-dekade atau lebih lama.

Perubahan iklim meliputi baik peningkatan maupun penurunan temperatur, perubahan presipitasi, terjadinya berbagai bencana alam yang fatal, dan perubahan terhadap berbagai aspek dari sistem iklim.

C. Masalah Penelitian

Masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut.

1. Identifikasi Masalah

Masalah ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1) meningkatnya suhu pada musim dingin;

2) ditemukannya karbon dari hasil pembakaran bahan bakar fosil di udara;

3) peningkatan jumlah CO2; 4) menghangatnya suhu samudra;

5) melelehnya es di Antartika;

6) meningkatnya volume air di laut;

7) banyaknya bencana alam ekstrim;

8) pengasaman air laut;

9) berkurangnya lahan bersalju di bumi;

(8)

10) meningkatnya suhu rata-rata secara global.

2. Batasan Masalah

Masalah yang diangkat dalam penelitian kali ini hanya mengupas beberapa hal berikut:

1) Penyebab perubahan iklim;

2) Dampak perubahan iklim;

3) Perubahan iklim di masa mendatang.

3. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Apa penyebab perubahan iklim?

2) Bagaimanakah dampak terjadinya perubahan iklim pada bumi?

3) Bagaimana kondisi perubahan iklim terhadap bumi di masa mendatang?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap hal-hal sebagai berikut:

1) Mendeskripsikan penyebab perubahan iklim;

2) Mendeskripsikan dampak perubahan iklim yang sudah terjadi;

3) Mendeskripsikan dampak perubahan iklim bagi manusia di masa mendatang.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat-manfaat yang dapat kita peroleh dari penelitian mengenai dampak perubahan iklim bagi kehidupan manusia di masa mendatang adalah:

1) Mengetahui secara jelas penyebab perubahan iklim;

2) Mengetahui dampak terjadinya perubahan iklim;

3) Menimbulkan rasa inisiatif untuk mengambil langkah pencegahan terjadinya dampak perubahan iklim bagi manusia pada masa depan.

F. Definisi Operasional

1) Gas rumah kaca adalah gas-gas yang menyebabkan pemanasan global 2) Temperatur merupakan suhu, ukuran panas

3) Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata bumi

(9)

4) Emisi merupakan hasil pembuangan, biasanya berupa gas 5) Atmosfer adalah lapisan-lapisan udara yang melindungi bumi 6) Iklim adalah cuaca pada jangka panjang

(10)

BAB II

PENELITIAN TERDAHULU A. Landasan Teoretis

Landasan teoretis ini berisi teori-teori yang akan digunakan dalam penelitian ini. Peneliti akan menjelaskan penelitian ini yang meliputi teori 1) Iklim, 2) Gas- gas berbahaya, 3) Efek rumah kaca. Berikut adalah uraian dari teori-teori yang telah disebutkan sebelumnya.

1. Iklim

Menurut The National Aeronautics and Space Administration (NASA), iklim adalah cuaca rata-rata pada suatu tempat dan waktu tertentu yang biasanya berlangsung selama lebih dari 30 tahun. Iklim meliputi rata-rata presipitasi, suhu, kelembaban, cahaya matahari, kecepatan angin, fenomena seperti kabut, salju, badai, dan fenomena cuaca lainnya yang berlangsung selama periode yang panjang di tempat tertentu.

Menurut Koppen, iklim dibagi berdasarkan rata-rata curah hujan dan temperatur, baik bulanan atau tahunan. Koppen menggunakan huruf besar dan kecil sebagai simbol untuk membagi wilayah di bumi berdasarkan iklimnya.

Berikut merupakan kode dari klasifikasi iklim Koppen:

 A: Iklim tropis

 B: Iklim kering

 C: Iklim sedang

 D: Iklim dingin

 E: Iklim kutub

 f: selalu basah, hujan bisa turun pada semua musim

 s: bulan kering pada musim panas

 w: musim dingin

 m: medium atau curah hujan cukup

(11)

Gambar 1.1

Pembagian Wilayah Bumi Menurut Koppen

Sumber: Hylke E., dkk. 2018. Present and Future Köppen-Geiger Climate Classification Maps at 1-km Resolution.

2. Gas-Gas Berbahaya

Gas rumah kaca atau GRK merupakan kumpulan berbagai jenis gas ang dianggap mampu meningkatkan potensi pemanasan global. Gas-gas tersebut disebut gas rumah kaca karena gas-gas tersebut bekerja menyerupai rumah kaca yang memiliki fungsi untuk menahan panas agar keluar dari sistem sehingga mengakibatkan perubahan suhu bumi (Jhamtani, 2007)

Contoh-contoh gasnya adalah sebagai berikut:

1) CO2 (Karbon dioksida)

Gas ini masuk ke atmosfer melewati pembakaran bahan bakar fosil (minyak, batu bara, bensin, dll) dan juga merupakan hasil dari reaksi kimia seperti pembuatan semen. Karbon dioksida dapat dihilangkan dari atmosfer jika digunakan dalam siklus karbon biologis oleh tanaman.

2) CH4 (Metana)

Gas metana dikeluarkan ketika produksi dan transport batu bara, gas alam, dan minyak. Gas ini juga merupakan hasil dari kotoran ternak, kegiatan pertanian, dan juga pembusukan limbah organik.

3) N2O (Nitrogen oksida)

Gas ini dihasilkan dari proses pertanian dan industri, juga dari bahan bakar fosil dan limbah padat.

(12)

4) Gas yang mengandung florin

Hidrofluocarbon, perfluocarbon, sulfur heksafluorida, dan nitrogen trifluorida adalah jenis-jenis gas rumah kaca kuat yang bersifat sintetis. Gas-gas ini diemisikan oleh berbagai proses industri. Gas-gas florin biasanya digunakan sebagai substitusi untuk bahan-bahan yang menipiskan ozon stratosfer (chlorofluorocarbon, hydrocholorofluorocarbon, dan halon). Gas-gas ini biasanya dikeluarkan dalam kuantitas yang cenderung kecil, namun gas-gas tersebut bersifat sangat kuat sehingga sering disebut sebagai High Global Warming Potential gases (High GWP gases).

3. Efek Rumah Kaca

Menurut departemen lingkungan dan energi Australia, efek rumah kaca adalah proses natural untuk menghangatkan permukaan bumi ketika energi matahari mencapai atmosfer bumi, sebagiannya direfleksikan kembali keluar angkasa dan sisanya diserap serta diradiasikan kembali oleh gas-gas rumah kaca.

Pada awalnya radiasi matahari mencapai atmosfer dan sebagiannya dipantulkan kembali ke luar angkasa. Sisa dari energi matahari tersebut diserap oleh tanah dan laut sehingga menghangatkan bumi. Kemudian, bumi memancarkan panas keluar angkasa dan sebagian dari panas tersebut terperangkap oleh gas rumah kaca di lapisan atmosfer sehingga membuat suhu bumi cukup hangat untuk dihuni makhluk hidup. Kegiatan manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, pertanian, dan penghapusan lahan hijau meningkatkan jumlah gas rumah kaca yang dikeluarkan menuju atmosfer. Hal ini menyebabkan suhu panas yang berlebih terperangkap di bumi dan membuat naiknya suhu bumi.

B. Penelitian Terdahulu

Sebelum penelitian ini dilaksanakan, sudah banyak penelitian mengenai perubahan iklim dalam bidang Environmental Sciences atau Ilmu Lingkungan.

Ilmu ini merupakan ilmu multidisiplin, ilmu yang merupakan gabungan dari

(13)

beberapa ilmu pegetahuan. Oleh karena itu, seringkali dalam pembahasannya dikaitkan dengan ilmu fisika, kimia, biologi, ekologi, dan sebagainya.

Salah satu contoh penelitian terdahulu yang membahas tentang perubahan iklim adalah penelitian yang dilakukan oleh Mgbemene mengenai pengaruh industrialisasi terhadap perubahan iklim bumi. Contoh lainnya ada lembaga internasional seperti Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang berada di bawah PBB dan juga lembaga nasional seperti National Aeronautics and Space Administration (NASA) yang telah melakukan berbagai riset tentang perubahan iklim.

Dalam melakukan risetnya, IPCC membagi topik perubahan iklim menjadi tiga topik besar. Ketiga topik ini masing-masing diteliti oleh kelompok-kelompok yang berbeda. Kelompok pertama meneliti ilmu fisika yang mendasari perubahan iklim dari masa lalu, masa kini, dan masa mendatang, kelompok kedua membahas dampak dan resiko perubahan iklim dalam aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan, dan terakhir kelompok ketiga meneliti tentang mitigasi perubahan iklim, cara untuk meminimalisir dampak negatif dari perubahan iklim.

Sejak didirikannya IPCC pada tahun 1988, lembaga ini telah menghasilkan puluhan laporan riset, baik laporan metodologis (methodological report), laporan spesial (special report), dan laporan evaluasi (assessment report). Laporan evaluasi IPCC dibuat tiap 5-7 tahun sekali dan sampai saat ini telah ada lima laporan evaluasi yang dibuat pada tahun 1990, 1995-1996, 2001, 2007, dan 2014.

(14)

BAB III

PROSEDUR PENELITIAN A. Prosedur Penelitian

Pada bagian ini, peneliti akan menguraikan beberapa prosedur penelitian yang meliputi 1) metode penelitian, 2) sumber dan korpus, 3) teknik pengumpulan data, 4) teknik pengumpulan data, 5) instrumen penelitian. Berikut uraian-uraiannya.

1. Metode Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif.

Metode deskriptif dikemukakan oleh Rafi’i (1990: 139) sebagai berikut:

Metode deskriptif dipergunakan dalam makna harfiah tentang lukisan-lukisan situasi atau kejadian-kejadian tertentu. Hal ini adalah kumpulan data atau informasi berdasarkan lukisan tunggal, tidak perlu mencari atau menjelaskan hubungan, pengujian hipotesis, pembuatan perkiraan atau prediksi, atau mendapatkan arti dan keterlibatan, meskipun metode ini ditunjukan kepada maksud-maksud yang lebih berdaya guna.

Berdasarkan penjelasan tersebut, penelitian ini ditujukan untuk mengumpulkan, menyelidiki, dan menganalisis data yang ada secara faktual dan hanya bersifat berupa kumpulan data yang disajikan dalam bentuk sebuah laporan.

2. Sumber Data dan Korpus

Data-data yang ada di penilitian ini berupa data kualitatif dan kauntitatif. Data kualitatif bersumber dari karya tulis berupa naskah artikel dan jurnal yang sudah ada sebelumnya yang bersifat menjelaskan atau deskriptif, seperti definisi gas rumah kaca, jenis gas rumah kaca, efek pemanasan global, dll. Data kuantitatif seperti jumlah emisi CO2 tiap tahun, suhu bumi dari tahun ke tahun, dsb hanya berperan sebagai data pendukung saja. Peniliti tidak mencantumkan data lapangan karena peneliti tidak melakukan observasi lapangan sebagai teknik pengambilan data penelitian ini.

(15)

3. Teknik Pengumpulan Data

Peneliti mengumpulkan data dengan membaca artikel-artikel serta jurnal- jurnal ilmiah yang berkaitan degan topik penilitian yang dibahas yaitu mengenai perubahan iklim. Artikel-artikel dan jurnal-jurnal ilmiah ini bersumber dari internet, dari situs-situs penyedia jurnal ilmiah open acces sdan juga dari situs- situs lembaga riset, baik internasional maupun lokal. Seluruh sumber ini disimpan dalam bentuk digital yang kemudian dianalisis.

4. Teknik Pengolahan Data

Pada tahap awal penelitian, peneliti melakukan pembacaan pada jurnal atau artikel secara keseluruhan. Setelah itu peneliti mengerucutkan sumber data menjadi hanya bagian yang dianggap penting bagi penelitian. Dari data yang telah dikerucutkan tersebut data yang dinggap kurang relevan dieliminasi, menyisakan poin-poin yang sekiranya paling cocok untuk dimasukkan ke dalam laporan penelitian ini.

B. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah grafik jumlah emisi gas rumah kaca (GRK) atau green house gases (GHG) dari tahun 1970 sampai 2010 menurut laporan ke-5 dari grup II IPCC tahun 2014.

(16)

BAB IV

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Bab ini membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan hasil analisis penelitian dan pembahaannya. Adapun uraiannya meliputi, (1) faktor-faktor yang mendorong terjadinya perubahan iklim bumi, (2) dampak perubahan iklim bagi kehidupan manusia, dan (3) perubahan iklim di masa mendatang.

A. Penyebab

Dalam bagian ini akan dijelaskan mengenai penyebab dari terjadinya perubahan iklim yang terjadi di bumi. Bagian ini terbagi menjadi dua 1) Faktor penyebab yang berasal dari alam 2) Faktor penyebab yang berasal dari ulah manusia. Berikut adalah penjelasan dari data yang telah kami kumpulkan.

1. Faktor penyebab yang berasal dari alam a. Perubahan Orbital

Menurut teori Milankovitch, bumi mengalami tiga perubahan siklus orbit dan kemiringan yang menyebabkan fluktuasi iklim yang terjadi selama puluhan sampai ratusan ribu tahun. Fluktuasi ini mengubah bentuk terhadap bentuk orbit bumi setiap sekitar seratus ribu tahun, kemiringan sumbu bumi setiap 41,000 tahun, dan presesi sumbu bumi setiap 23,000 tahun. Milankovitch beranggapan bahwa periode glasial dimulai ketika ketiga siklus berada pada posisi sejajar untuk mendukung periode dimana tingkat radiasi matahari lebih tinggi dari biasanya pada saat musim dingin dan periode dimana tingkat radiasi lebih rendah saat musim panas pada posisi garis lintang 65N. Kondisi ini membuat suhu menjadi lebih tinggi tetapi membuat lebih banyak uap air di udara sehingga menyebabkan meningatnya presipitasi hujan salju. Suhu pada musim panas yang cenderung lebih rendah di lintang utara mendukung pencairan salju dan pembentukan glasier.

Gambar di bawah menunjukan kesejajaran tiap perubahan orbital terhadap periode glasial dan interglasial. Ketiga siklus perubahan orbital yang

(17)

memengaruhi satu sama lain memberi efek terhadap banyaknya radiasi matahari yang diterima pada posisi-posisi lintang yang berbeda sepanjang tahun. Jumlah radiasi yang sampai di bumi bagian utara pada lintang 65N tampaknya mengontrol maju dan mundurnya glasier dan lapisan es.

Gambar 4.1

Grafik Milankovitch b. Erupsi gunung berapi

Erupsi vulkanis mengeluarkan karbon dioksida dan aerosol seperti: abu vulkanik atau debu, dan sulfur dioksida. Aerosol adalah cairan dan padatan yang terkandung dalam udara. Aerosol dapat menceraiberaikan radiasi matahari yang masuk dan memberikan sedikit efek mendinginkan. Aerosol yang dihasilkan dari aktivitas vulkanik dapat menghalau beberapa persen dari totalcahaya matahari dan menyebabkan pendinginan suhu yang dapat bertahan selama satu sampai dua tahun.

Tahun 1816, yang dikenal dengan tahun tanpa musim panas, terjadi setelah erupsi Gunung Tambora. Erupsi ini merupakan erupsi terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Erupsi ini meyebabkan hujan salju di Amerika Utara yang kemudian menyebabkan menurunnya hasil produksi pangan, cadangan makanan, dan meningkatnya kematian. Hal yang serupa juga terjadi setelah erupsi vulkanik lain seperti erupsi Gunung Krakatau dan Pinatubo.

(18)

Pada erupsi besar, gunung berapi mengeluarkan partikel debu dan sulfurdioksida ke stratosfer. Partikel yang lebih besar diam di sana selama beberapa hari, sedangkan sulfurdioksida bercampur dengan uap air, asam sulfat, dan partikel sulfat yang kemudian dikenal sebagai aerosol bersulfur. Angin kemudian membawa aerosol tersebut kepenjuru bumi lain melewati arah timur atau barat. Oleh karena itu letusan gunung berapi yang berada dekat garis katulistiwa lebih cenderung untuk mengakibatkan pendinginan suhu secara global.

Gunung berapi yang berada dekat kedua kutub memiliki tingkat kemungkinan yang lebih rendah untuk menyebabkan pendinginan secara global karena aerosol bersulfur yang dihasil akibat erupsi terperangkap oleh anginn yang mengelilingi kedua kutub.

c. Variasi pada radiasi matahari

Jumlah selisih radiasi setiap tahunnya hanya sedikit. Energi yang emisikan oleh matahari hanya memiliki selisih sebesar 1.3W/m2. Perubahan pada radiasi matahari ini berhubungan dengan jumlah bintik yang berada pada permukaan matahari. Bintik-binti ini merupakan area gelap pada matahari. Bintik-bintik ini terbentuk saat medan magnet kuat melemahkan aliran gas yang mentransport energi panas dari bagian dalam matahari. Bintik-bintik ini tampak lebih gelap karena memiliki suhu yang lebih rendah dibandingkan area sekitarnya.

Pada setiap sebelas tahun, jumlah bintik pada matahari berubah dari jumlah maksimum ke minimum. Matahari mengeluarkan radiasi yang sedikit lebih banyak pada periode dimana binntik-bintik itu aktif. Karena bintik-bintik tersebut menekan panas, panas yang mengalir ke area sekitar menyebabkan area tersebut tampak lebih cerah dan mengelurkan panas yang lebih banyak. Bertambahnya bintik pada matahari dapat memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim menjadi lebih panas dan berkurangnya bitik matahari diasosiasikan dengan suhu bumi yang lebih rendah. Sekitar 3000 tahun yang lalu merupakan periode dimana radiasi matahari yang masuk ke bumi sangat rendah. periode ini dinamakan dengan zaman es.

(19)

d. El Niño-Osilasi Selatan

El Niño-Southern Oscillation atau ENSO adalah melemahnya angin pasat yang berkaitan dengan suhu muka laut di lautan Pasifik (Haryanto, 2002).

Umumnya angin pasat tenggara bergerak melewati Samudera Pasifik menuju barat. Tiap tiga sampai sepuluh tahun, angin pasat tenggara ini melemah dan membuat air hangat mengalir lebih jauh ke arah Amerika Selatan. Arus air hangat tersebut tiba di Amerika Selatan menjelang Natal sehingga para nelayan di Peru menyebutnya ‘anak kristus’, El Niño, yang secara harfiah berarti ‘anak laki-laki’.

Osilasi selatan terdiri dari dua fase: El Niño dan La Niña. Pada fase El Niño, suhu air di laut Amerika Selatan menjadi lebih hanat dan menyebabkan perubahan pada pola cuaca secara glibal. Wilayah Amerika Selatan mengalami cuaca yang lebih basah daripada biasanya, sedangkan Amerika Utara mengalami cuaca sedang namun lebih banyak badai. Selama fase El Niño, Samudera Atlantik mengalami lebih sedikit badai dan topan. Terkadang, setelah fase El Niño selesai, hadir fase dimana temperatur air laut menjadi dingin, yaitu fase La Niña.

2. Faktor yang berasal dari tindakan manusia a. Industrialisasi

Selain akibat faktor alami yang tidak dapat kita hindari, peubahan iklim juga disebabkan oleh ulah manusia. Salah satu tindakan manusia yang memiliki efek yang cukup signifikan dalam terjadinya peristiwa perubahan iklim adalah proses industrialisasi.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, proses industrialisasi adalah sebuah proses transformasi kehidupan manusia secara sosial dan ekonomi dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri (Mgbemene, 2016). Proses ini dimulai pada sekitar tahun 1280, dimana manusia mulai mengguunakan batu bara sebagai bahan dalam proses pengapuran batu dan pengerjaan logam, yang menghasilkan polusi berupa asap hitam dan oksida sulfur di emisinya.

(20)

Minyak kemudian menggeser batu bara dari posisi pertama sumber energi terbesar pada tahun 1960-an dengan perkembangan pesat dalam sektor transportasi. Meskipun begitu, batu bara masih digunakan, dengan 39% kegiatan industri masih menggunakan batu bara (Chandrappa, 2011). Para ilmuwan berpendapat bahwa manusia sudah menghabiskan lebih dari setengah dari persediaan bahan bakar fossil yang tersedia di bumi. Mereka juga berpendapat bahwa hasil pembakaran bahan bakar fossil menyebabkan naiknya suhu secara global sebesar 2C.

Menurut NASA, proses industrialisasi telah menaikkan kadar karbon dioksida di atmosfer dari sebelumnya 280 bagian dari satu juta menjadi 400 bagian dari satu juta sejak 150 tahun lalu. Panel NASA juga menyimpulkan bahwa ada 95%

kemungkinan bahwa gas-gas rumahkaca hasil proses industri merupakan penyebab utama meningkatnya suhu bumi selama 50 tahun terakhir.

b. Pertanian dan Peternakan

Seiring bertambahnya jumlah populasi manusia, jumlah bahan pangan yang dibutuhkan juga meningkat. Namun, karena terbatasnya lahan, akhirnya dilakukan pengawahutanan untuk mengubah hutan menjadi lahan pertanian atau peternakan agar kebutuhan bahan pangan dapat dipenuhi.

Berkurangnya lahan hutan ini beararti berkurangnya jumlah oksigen karena proses fotosintesis yang dilakukan oleh tanaman-tanaman di hutan berperan besar dalam pembentukan oksigen di udara.

Tak hanya itu, kegiatan pertanian dan peternakan juga merupakan salah satu penyumbang besar gas rumah kaca. Ketika tanah mengandung oksigen yang melebihi kebutuhan, bakteri dalam tanah akan mengubah oksigen tersebut menjadi nitrogen oksida dan melepaskannya ke udara.

B. Dampak Perubahan Iklim

Dalam bagian ini, peneliti akan memaparkan dampak-dampak perubahan iklim yang telah terjadi hingga saat ini.

(21)

1. Cuaca ekstrem

Dilansir dari laporan ke-5 Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2014, dari observasi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perubahan cuaca dan iklim ekstrem telah terjadi sejak tahun 1950. Beberapa kejadian ini dikaitkan dengan aktivitas manusia, termasuk berkurangnya cuaca dingin ekstrem, meningkatnya cuaca panas ekstrem, meningkatnya tinggi permukaan laut secara ekstrem dan meningkatnya jumlah curah hujan tinggi di beberapa daerah.

Grafik 4.1

Perubahan tinggi permukaan laut tiap dua dekade dalam meter(m)

Ilustrasi 4.1

Perubahan suhu permukaan bumi dari tahun 1901-2012 dalam derajat celcius(C)

(22)

Ilustrasi 4.2

Perubahan presipitasi per tahun dari 1951-2010 dalam milimeter per tahun(mm/thn)

Meskipun belum diketahui secara rinci, para ilmuwan menemukan hubungan antar terjadinya kejadian cuaca ekstrem dan suhu bumi yang terus berubah tiap tahunnya. Dilansir dari Environtmental Defense Fund (EDF), meningkatnya suhu bumi membuat lebih banyak air yang terevaporasi. Hal ini membuat kondisi atmosfer lebih lembab sehingga tingkat presipitasi lebih tinggi.

Menurut Ilissa Ocko, ahli klimatologi, awan yang mampu menghasilkan curah hujan tinggi cenderung berada di wilayah yang bersuhu hangat.

Para ilmuwan juga belum yakin apakah perubahan iklim merupakan penyebab dari bertambahnya badai yang terjadi, tapi mereka yakin bahwa terjadinya badai dipengaruhi oleh perubahan tinggi permukaan laut. Faktor utama meningkatnya tinggi permukaan laut adalah menghangatnya suhu laut yang dipicu oleh pemanasan global yang terjadi akibat aktivitas antropogenik. Selain itu, meningkatnya tinggi permukaan laut juga disebabkan oleh melelehnya lapisan es dan gletser.

2. Kegiatan Manusia

Dampak perubahan iklim terhadap kegiatan manusia yang paling terasa adalah pada sektor pertanian dan perikanan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, perubahan iklim mengakibatkan cuaca ekstrem, salah satunya adalah

(23)

meningkatnya cuaca panas ekstrem. Cuaca panas ini membuat tingkat evaporasi tinggi sehingga air yang berada di tanah ikut menguap dan menyebabkan kondisi tanah menjadi kering.

Kondisi tanah yang kering menjadikan lahan pertanian tidak dapat ditanami sehingga terjadi gagal panen. Dilansir dari Suara Kampar, pada tahun 2015 ratusan hektar sawah di Kabupaten Kampar gagal panen pada musim kemarau.

Para petani kebingungan karena pada tahun-tahun sebelumnya ketika musim kemarau kondisi sawah baik-baik saja, namun pada kemarau tahun 2015 tanah sawah retak-retak dan bulir-bulir padi tidak mengeluarkan beras.

Tak hanya memengaruhi kondisi tanah saja, menghangatnya suhu juga memengaruhi kondisi hewan. Jumlah hama yang membahayakan pertumbuhan tanaman juga meningkat. Contohnya di Kabupaten Pemalang pada tahun 2016.

Mongabay melaporkan bahwa seiring bertambahnya suhu, jumlah hama meningkat. Populasi cacing tanah berkembang pesat sampai bagian bawah tanaman berongga dan dipenuhi cacing. Komoditas yang sebelumnya tahan penyakit pun ikut terkena serangan hama ulat bulu karena jumlahnya yang meningkat.

Perubahan suhu juga memberi efek pada sektor perikanan . Menurut Syahailatua (2008: 29) perubahan iklim akan sangat berpengaruh terhadap fisiologi dan tingkah laku individu, populasi maupun komunitas. Kondisi ekstrim dengan menaiknya suhu air, rendahnya konsentrasi oksigen terlarut dan pH air dapat mengakibatkan kematian pada ikan

Selain perubahan kondisi air yang dapat mengakibatkan kematian ikan, perubahan iklim juga mengakibatkan cuaca yang tidak menentu. Cuaca cenderung sulit untuk diprediksi sehingga menyulitkan nelayan untuk berlayar. Ditambah lagi dengan bertambahnya tinggi permukaan laut yang membuat badai lebih sering terjadi.

(24)

C. Perubahan Iklim di Masa Mendatang

Menurut laporan kelima IPCC, emisi gas rumah kaca dalam periode panjang akan mengakibatkan berlanjutnya pertambahan suhu dan perubahan komponen sistem iklim secara berkelanjutan. Emisi gas rumah kaca ini juga akan meningkatkan kemungkinan terjadinya dampak yang bersifat parah, menjalar, dan ireversibel.

Jika pertumbuhan jumlah emisi gas rumah kaca tidak diperlambat, dampak perubahan iklim yang telah dijelaskan di bagian sebelumnya akan berlanjut. IPCC membuat perkiraan dampak perubahan iklim terhadap suhu permukaan bumi, tingkat presipitasi, dan suhu lautan di masa mendatang.

Ilustrasi 4.3 Perubahan suhu permukaan bumi pada tahun 1986-2005 (kiri) dan tahun 2081-2100 (kanan)

Ilustrasi 4.4 Perubahan rata-rata tingkat presipitasi tahun 1986-2005 (kiri) dan tahun 2081-2100 (kanan)

(25)

Ilustrasi 4.5 Perubahan rata-rata tinggi permukaan laut pada tahun 1986- 2005 (kiri) dan tahun 2081-2100 (kanan)

Di laporan kelima IPCC disebutkan bahwa perubahan iklim akan memperbesar resiko yang sudah ada dan menciptakan resiko baru bagi alam dan manusia. Resiko-resiko tersebut tersebar dengan tidak merata dan cenderung lebih besar bagi masyarakat yang kurang mampu di semua negara dengan semua tingkatan pembangunan. Memanasnya temperatur meningkatkan potensi terjadinya dampak yang parah, menjalar dan ireversibel bagi manusia, spesies, dan ekosistem. Emisi tinggi yang berkelanjutan akan menyebabkan dampak negatif bagi keanekaragaman hayati, layanan ekosistem, pengembangan ekonomi dan memperbesar resiko untuk mata pencaharian, makanan, dan keamanan manusia.

Dari sekian banyaknya resiko yang dapat disebabkan oleh perubahan iklim, IPCC memyimpulkan bahwa ada empat resiko utama yaitu:

1. masalah kesehatan berat dan rusaknya pemukiman akibat badai topan yang membawa tsunami, menambahnya tinggi permukaan laut, banjir, dan musim kemarau ekstrem berkepanjangan;

2. gangguan sistem yang diakibatkan cuaca ekstrem sehingga merusak jaringan infrastruktur dan layanan penting;

3. berkurangnya pendapatan, cadangan makanan, dan air di area rural, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah;

4. hilangnya ekosistem, keragaman hayati, dan hasil, fungsi, dan manfaat ekosistem.

(26)
(27)

BAB V PENUTUP

A. Simpulan

Dari hasil penelitian berjudul “Dampak Perubahan Iklim Bagi Kehidupan di Bumi” ini dapat disimpulkan bahwa terjadinya perubahan iklim dipicu oleh dua faktor: faktor alami dan manusia. Faktor alami diantaranya adalah perubahan orbital, erupsi gunung berapi, variasi pada radiasi matahari, dan El-Niño-osilasi selatan. Sedangkan untuk faktor yang berasal dari manusia merupakan kegiatan industrialisasi juga kegiatan pertanian dan peternakan.

Perubahan iklim yang terjadi di bumi memberikan dampak bagi kehidupan makhluk hidup. Dampak dari perubahan iklim ini penulis bagi menjadi dua bagian, (1) cuaca ekstrim, (2) kegiatan manusia. Dari kedua dampak tersebut jika tidak ditangani dengan baik akan berakibat pada terus meningkatnya suhu permukaan bumi, meningkatnya volume air di lautan, dan meningkatnya rata-rata tingkat presipitasi secara global.

B. Rekomendasi

Penulis memiliki saran bagi peneliti selanjutnya dan juga saran untuk meminimalisir dampak dari perubahan iklim.

Dalam penelitian ini, penulis hanya menulis sedikit contoh dampak, faktor penyebab, dan akibat perubahan iklim. Akan lebih baik apabila contoh-contohnya ditambah sehingga datanya lebih lengkap dan informatif. Definisi-definisi yang dituliskan juga sebaiknya tidak terlalu disederhanakan agar tidak menyimpang dari definisi sebenarnya.

Pengambilan sumber juga dapat lebih divariasikan karena dalam karya tulis ini, penulis hanya mengambil sumber dari jurnal-jurnal ilmiah internasional dan

(28)

nasional dan juga dari website lembaga yang bekerja dalam topik yang berkaitan dengan judul karya tulis ilmiah ini.

Untuk peneliti selanjutnya pun dapat lebih mempersempit tema, sehingga pembahasan penelitian dapat lebih rinci dan nyata.

(29)

Pustaka Acuan

Chigbo A. Mgebemene, Chidozie C. Nnaji, dan Chekwubekwuchu Nwzor. 2016.

Industrialization and Its Backlash: Focus on Climate Change and Its Consequences. J. Environ. Sci. Technol, 9:303.

Reynolds. 2013. Agriculture and Livestock Remain Major Sources of Greenhouse Gas Emissions. Worldwatch Institute. (http://www.worldwatch.org , diakses Januari 2019)

Department of Environment and Energy of Australia. 2016. Understanding Climate Change: Greenhouse Effect.

U.S Global Change Research program. Understand: Climate Change.

(http://www.globalchange.gov , diakses Januari 2019)

Soesanto, Sri. 1995. Gas Rumah Kaca. Jakarta: Media Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 27-28.

Gutro, Rob. 2015. NASA-What’s the Difference Between Weather and Climate.

National Aeronautics and Space Administration. (www.nasa.gov, diakses Januari 2019)

United States Environmental Protection Agency. 2017. Inventory of U.S.

Greenhouse Gas Emissions and Sink: Overview of Grenhouse Gasses and Emissions.

Beck, Hylke E.; Zimmermann, Niklaus E.; McVicar, Tim R.; Vergopolan, Noemi;

Berg, Alexis; Wood, Eric F. 2018. Present and future Köppen-Geiger climate classification maps at 1-km resolution.

Center of Environtmental Studies. Florida Atlantic University. Causes of Climate Change: Natural Causes of Climate Change (www.ces.fau.edu, diakses Maret 2019).

(30)

IPCC. 2014. Climate Change 2014: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II and III to the Fifth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Geneva.

Haryanto. 2002. Analisis Klimatologi Indeks Osilasi Selatan (SOI) Untuk Pendugaan Musim Tiga-Bulan ke Depan Menggunakan Regresi Linier:

Pendugaan SOI Musim JFM Tahun 2002.

NASA Earth Science Communication Team. Global Climate Change: Causes (climatechange.nasa.gov, diakses Maret 2019)

Chandrappa, Gupta, dan Kulshresta. 2011. Coping with Climate Change:

Principles and Asian Context. Berlin: Springer.

Environtmental Defense Fund (EDF). Extreme Weather Gets a Boost from Climate Change (www.edf.org, diakses Maret 2019)

Wahyudi. 2016, 26 Mei. Suhu Lingkungan Meningkat, Banyak Petani Sayur Gagal Panen. Ini Dampak Perubahan Iklim?. Mongabay (www.mongabay.co.id, diakses Maret 2019)

Pitopang. 2015, 30 Juli. Kekeringan, Ratusan Hektar Sawah di Kampar Terancam Gagal Panen. Suara Kampar (suarakampar.com, diakses Maret 2019)

Augy Syahailatua. 2008. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Perikanan. Oseana Volume XXXIII Nomor 2. Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

Gambar

Ilustrasi 4.4 Perubahan rata-rata tingkat presipitasi  tahun 1986-2005 (kiri) dan tahun 2081-2100 (kanan)
Ilustrasi 4.3 Perubahan suhu permukaan bumi pada tahun 1986-2005 (kiri) dan tahun 2081-2100 (kanan)
Ilustrasi 4.5  Perubahan rata-rata tinggi permukaan laut pada tahun 1986- 1986-2005 (kiri) dan tahun 2081-2100 (kanan)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman masyarakat terhadap perubahan iklim, jenis dampak dari perubahan iklim dan adaptasi yang dilakukan oleh

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status ekosistem pesisir dari dampak perubahan iklim dan menentukan pola adaptasi yang baik dari ancaman perubahan

• Kontribusi GRK terhadap Perubahan Iklim • Proyeksi Temperatur Global.. • Dampak Perubahan Iklim • Adaptasi

Untuk mengumpulkan informasi di lapangan terkait dampak Perubahan Iklim terhadap layanan air dan sanitasi dengan mempertimbangkan aspek kesetaraan gender dan inklusi sosial..

Pedoman Teknis kegiatan Antisipasi Dampak Perubahan Iklim di daerah tahun 2014 disusun dalam rangka memberikan acuan dan arahan pelaksanaannya kepada Dinas yang

Pengukuran dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat tidaklah mudah mengingat ada dampak yang ber-sifat langsung seperti banjir dan kekeringan, dan

Indikator dampak perubahan iklim antara lain peningkatan curah hujan, suhu, kelembapan, intensitas cahaya matahari, angin. Perubahan iklim mempengaruhi sektor

Beberapa dampak dari perubahan iklim dapat terjadi pada struktur dan fungsi dari bioma, ekosistem, komunitas, populasi hingga spesies  Karbondioksida dalam tumbuhan  Climate