• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAN SESUDAH DIINGESTIKAN KUMAN Salmonella typhi

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "DAN SESUDAH DIINGESTIKAN KUMAN Salmonella typhi "

Copied!
62
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Demam tifoid atau demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang menyerang saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna atau tanpa gangguan kesadaran, apabila tidak ditangani dengan baik dan benar akan sangat berbahaya, bahkan dapat menyebabkan kematian yang dapat berakibat fatal, yaitu pendarahan usus atau usus yang merupakan penyebab umum usus, srar, 2008; Tjipto, 2009). Di Indonesia angka kejadian demam tifoid berkisar antara 358 sampai 810 per 100.000 penduduk pada tahun 2007, dimana 64% dari kasus tersebut dialami oleh penduduk usia 3-19 tahun. Angka kematian pada penderita demam tifoid yang dirawat di fasilitas kesehatan bervariasi antara 3,1-10,4%.

Manusia terinfeksi bakteri Salmonella typhi dari rute fecal-oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Bakteri masuk ke aliran darah menyebabkan bakteremia setelah menyebar ke kelenjar getah bening, kemudian bakteri akan menyebar ke limpa dan hati. Salmonella typhi keluar melalui duktus toraks setelah masa inkubasi dan memasuki sirkulasi sistemik hati, limpa, sumsum tulang, kandung empedu, dan tambalan Peyer di ileum terminal.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Renowati et al., (2018) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh setelah pengaplikasian gel lidah buaya terhadap luas titer tikus putih yang tertelan bakteri Salmonella typhi dengan 2 perlakuan berbeda yaitu pengaplikasian gel lidah buaya 1,8 ml/200 g/BB selama 7 hari, kadar antibodi menurun dari 3703 ml dan kadar antibodi menurun dari 3703 ml. Gel lidah buaya /200 g/BB per hari dapat menurunkan antibodi bakteri Salmonella typhi dari 37 3,3 yang negatif. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui perbedaan jumlah makrofag pada kolon tikus putih (Rattus novergicus wistar) sebelum dan sesudah ditelan bakteri Salmonella typhi.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

  • Tujuan Umum
  • Tujuan Khusus

Manfaat Penelitian

Dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang peningkatan jumlah makrofag pada usus besar dan sistem pertahanan tubuh saat terinfeksi Salmonella typhi.

TINJAUAN PUSTAKA

  • Demam Tifoid
    • Definisi
    • Etiologi
    • Epidemiologi
    • Patogenesis
    • Respon Imun Terhadap Infeksi Salmonella typhi
  • Salmonella
  • Uji Widal
  • Faktor-Faktor Widal
  • Makrofag
  • Usus Besar
  • Imunohistokimia
  • Mekanisme Makrofag Terhadap Kuman Salmonella
  • Kerangka Teori
  • Hipotesis

Di Indonesia, demam tifoid jarang ditemukan dalam bentuk epidemik, namun seringkali bersifat sporadis, tersebar luas di suatu daerah, dan jarang menimbulkan kasus dalam satu keluarga. Ada dua sumber penularan Salmonella typhi yaitu penderita demam tifoid dan lebih sering menjadi carrier, orang tersebut mengeluarkan 109 hingga 1011 mikroba dalam feses per gramnya. Tidak selalu Salmonella typhi yang masuk ke saluran cerna dapat menyebabkan infeksi karena untuk menimbulkan infeksi, Salmonella typhi harus dapat mencapai usus halus.

Salmonella typhi adalah bakteri enterik gram negatif, yang bersifat aerobik dan biasanya bergerak dengan flagel. Antigen Salmonella typhi OMP (Outer Membrane Protein) terletak di bagian sel di luar membran sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel dengan lingkungan sekitarnya, yang berfungsi sebagai penghalang fisik yang mengontrol akses zat dan cairan ke membran sitoplasma. Tes Widal adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi ada tidaknya antibodi pasien terhadap antigen Salmonella typhi, yaitu antibodi terhadap antigen tubuh kuman (O), antigen flagellum kuman (H), dan antigen kapsul kuman (Vi).

Di antara ketiga antibodi tersebut, hanya antibodi terhadap antigen O dan H yang memiliki nilai diagnostik untuk demam tifoid (Kulkarni, 1994). Sedangkan menurut Herawati dkk dalam (Renowati, 2019) uji Widal merupakan uji aglutinasi yang digunakan untuk diagnosis serologis demam tifoid atau enterik. Kadarnya diukur dengan pengenceran serum dua kali lipat dalam tabung reaksi, antibodi O biasanya terlihat 6-8 hari dan antibodi H biasanya terlihat 10-12 hari setelah gejala demam tifoid muncul.

Kelemahan uji Widal adalah spesifisitas dan sensitivitasnya yang rendah serta sulit untuk menginterpretasikan hasilnya, membatasi penggunaannya dalam penatalaksanaan pasien demam tifoid (WHO, 2011). Hasil tes serologi Widal harus ditafsirkan dengan bijak, tanda klinis harus diprioritaskan daripada reaksi positif dari tes Widal karena sebagian besar anak di Indonesia memiliki hasil positif tanpa menderita demam tifoid. Ini adalah fenomena perlindungan yang unik karena kekebalan terhadap demam tifoid diperoleh melalui kebiasaan makan makanan pinggir jalan, yang kemungkinan besar terkontaminasi S.

Pada beberapa penyakit yang menyertai demam tifoid, pembentukan antibodi tidak terjadi, seperti pada penderita karsinoma stadium lanjut dan leukemia. Ciri utama usus besar adalah tidak adanya vili, banyaknya sel goblet dan adanya kelenjar usus yang khas. Secara umum struktur histologi kolon terdiri dari tunika mukosa, submukosa, muskularis dan serosa.

Bakteri Salmonella typhi masuk ke usus halus melalui saluran pencernaan bagian atas; jika imunoglobulin A (IgA) mukosa usus sistem imun humoral kurang baik, bakteri ini akan menembus sel epitel, terutama mikrofold. Terdapat perbedaan jumlah makrofag pada usus besar tikus putih jantan (Rattus novergicus wistar) sebelum dan sesudah konsumsi Salmonella typhi.

Gambar 2.1 Bakteri Samonella typhi (Sumber : internet)
Gambar 2.1 Bakteri Samonella typhi (Sumber : internet)

METODE PENELITIAN

Jenis dan Penelitian

Tempat dan Waktu Penelitian

Telah dilakukan penelitian tentang perbedaan jumlah makrofag kolon pada tikus putih jantan (Rattus novergicus wistar) sebelum dan sesudah ditelan bakteri Salmonella typhi pada bulan Desember 2020 – Juni 2021. Hitung jumlah makrofag kolon pada tikus putih jantan (Rattus novergicus wistar) yang tertelan bakteri Salmonella typhi sebelum ditelan, dan wista tahun 2021. hanya diberi pakan standar, pada kelompok perlakuan positif tikus ditelan bakteri Salmonella typhi. Berdasarkan tabel 4.2 secara statistik terlihat adanya perbedaan yang bermakna antara jumlah makrofag usus besar tikus putih jantan Rattus novergicus Wistar sebelum dan sesudah ditelan bakteri Salmonella typhi dengan nilai p 0,001 < 0,005.

Dan dilakukan uji Shafiro-Wilk untuk melihat nilai normalitas sampel kemudian dilanjutkan dengan uji-T dependen untuk melihat perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok tikus putih jantan (Rattus novergicus wistar) sebelum dan sesudah konsumsi bakteri Salmonella typhi. Pada uji T-test dependen diperoleh hasil sebelum dan sesudah konsumsi dengan nilai signifikansi 0,001 < 0,005 dengan kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan jumlah makrofag pada kolon tikus putih jantan Rattus novergicus wistar sebelum dan sesudah konsumsi dengan bakteri Salmonella typhi. Hasil penelitian tentang perbedaan jumlah makrofag pada usus besar tikus putih jantan (Rattus novergicus wistar) sebelum dan sesudah di konsumsi dengan bakteri Salmonella typhi memberikan hasil yang signifikan yaitu terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah di konsumsi dengan bakteri.

Hasil yang diperoleh membuktikan bahwa terdapat perbedaan jumlah makrofag yang bermakna (signifikan) pada usus besar tikus putih (Rattus novergicus wistar) jantan sebelum dan sesudah konsumsi dengan bakteri Salmonella typhi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa paparan atau konsumsi bakteri Salmonella typhi 108 CFU/ml dapat mempengaruhi jumlah makrofag organ pada tikus putih (Rattus novergicus wistar) jantan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai perbedaan jumlah makrofag pada usus besar tikus putih (Rattus novergicus wistar) jantan sebelum dan sesudah pemberian bakteri Salmonella typhi, dapat disimpulkan sebagai berikut.

Jumlah makrofag pada kolon tikus putih jantan (Rattus novergicus wistar) sebelum tertelan oleh Salmonella typhi adalah 24,7 sel/bidang pandang. Setelah tertelan Salmonella typhi, jumlah makrofag pada usus besar tikus jantan (Rattus novergicus wistar) meningkat. Terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah makrofag pada usus besar tikus putih jantan (Rattus novergicus wistar) sebelum dan sesudah konsumsi Salmonella typhi.

Data hasil penelitian Jumlah makrofag organ kolon pada tikus putih jantan (Rattus novergicus wistar) sebelum dan sesudah konsumsi Salmonella typhi. Hasil mikroskopis makrofag organ kolon pada tikus putih jantan (Rattus novergicus wistar) sebelum dikosumsi dengan bakteri Salmonella typhi. Temuan mikroskopis makrofag organ kolon pada tikus putih jantan (Rattus novergicus wistar) setelah dikosumsi dengan bakteri Salmonella typhi.

Populasi dan Sampel

  • Populasi
  • Sampel
  • Besar Sampel
  • Kriteria Sampel
  • Teknis Sampling

Variabel Penelitian

  • Variabel Independen
  • Variabel Dependen

Definisi Operasional

Alat dan Bahan

  • Alat
  • Bahan

Pengolahan Data dan Analisa Data

  • Pengolahan Data dan Analisa Data

Prosedur Kerja

  • Pengambilan Spesimen
  • Prosedur Pemeriksaan

Deparafinisasi dengan Xylene, kemudian dehidrasi dengan alkohol bertingkat, dimulai dengan air suling etanol masing-masing selama 5 menit. Pengambilan epitop dengan pengambilan epitop yang diinduksi panas menggunakan microwave selama 10 menit dalam Buffer Sitrat pH 6. Blok protein non-spesifik dengan 2% Normal Goat Serum (NGS) dalam PBS pH 7,4 selama 20 menit pada suhu kamar.

Alur Penelitian

Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 16 ekor tikus putih jantan (Rattus novergicus wistar) yang memenuhi kriteria inklusi. Dimana kelompok negatif hanya diberi makanan standar dan kelompok positif dimana mencit ditelan bakteri Salmonella typhi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Pemeriksaan jumlah makrofag pada usus besar tikus putih jantan (Rattus novergicus wistar) dilakukan dengan metode imunohistokimia CD68 dan dihitung secara manual menggunakan mikroskop.

Mencit kelompok negatif rata-rata jumlah makrofagnya 24,7 sel/bidang pandang, sedangkan mencit kelompok positif yang diinfus Salmonella typhi rata-rata jumlah makrofagnya 92,1 sel/bidang pandang. Sampel organ kolon dilakukan pemeriksaan imunohistokimia, kemudian dibaca jumlah makrofagnya, yang selanjutnya akan ditabulasi menggunakan excel untuk mendapatkan nilai rata-rata kelompok negatif dan kelompok positif. Hasil rata-rata jumlah makrofag pada kelompok negatif adalah 24,7 sel/lapangan pandang dibandingkan dengan nilai kelompok negatif, yang berarti nilai sebelumnya berada dalam kisaran normal.

Setelah konsumsi, rata-rata jumlah makrofag di usus besar pada kelompok positif adalah 92,1 sel/bidang pandang, berdasarkan nilai normal di atas, yang lebih tinggi dari nilai normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan jumlah makrofag organ kolon pada tikus putih (Rattus novergicus wistar) jantan sebelum dan sesudah konsumsi dengan bakteri Salmonella typhi menggunakan analisis statistik uji Dependent T test untuk melihat apakah ada perbedaan jumlah makrofag organ usus pada tikus putih jantan sebelum dan setelah konsumsi uji T-Shapiren sebelum dan setelah konsumsi uji T-Shapiren. - Uji Wilk dilakukan terlebih dahulu. Penelitian ini menunjukkan bahwa kolon menunjukkan adanya perbedaan jumlah sel makrofag sebelum dan sesudah tertelan bakteri Salmonella typhi, sehingga perubahan sistem imun makrofag pada kolon dapat dijadikan sebagai indikator untuk penelitian lebih lanjut tentang terapi Salmonella typhi.

Tabel  4.1  Jumlah  Makrofag  Organ  Usus  Besar  Tikus  Putih  Jantan  (Rattus  novergicus  wistar)  Sebelum  Dan  Sesudah  Diingestikan  Kuman  Salmonella typhi
Tabel 4.1 Jumlah Makrofag Organ Usus Besar Tikus Putih Jantan (Rattus novergicus wistar) Sebelum Dan Sesudah Diingestikan Kuman Salmonella typhi

HASIL PENELITIAN

Karakteristik Umum Subyek Penelitian

  • Pemeriksaan Jumlah Makrofag
  • Perbedaan Jumlah Makrofag Organ Usus Besar Tikus Putih Jantan

PEMBAHASAN

Pembahasan

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

Jakarta: Departemen Kesehatan 2008 (online) (http://www.dinkesjatengprov.go.id/download/mi/riskesdas.jateng2007.pdf diakses 14 Desember 2020). Sensitivitas dan spesifisitas tes antibodi cepat demam tifoid untuk diagnosis laboratorium di dua lokasi Afrika sub-Sahara. 2015 (online) (http://www.emedicinehealth.com/typhoid_fever_enteric_fever/page4_em.html diakses 14 Desember 2020).

Gambar

Gambar 2.1 Bakteri Samonella typhi (Sumber : internet)
Gambar 2.2 Sel Makrofag (Sumber : Internet)
Gambar 2.3 Histologi Usus Besar (Sumber : Internet)
Tabel  4.1  Jumlah  Makrofag  Organ  Usus  Besar  Tikus  Putih  Jantan  (Rattus  novergicus  wistar)  Sebelum  Dan  Sesudah  Diingestikan  Kuman  Salmonella typhi
+2

Referensi

Dokumen terkait

The discussion about digitally minded leaders with entrepreneurial mindset and short case study about digitalisation and leading the digital transformation process showed clearly,