• Tidak ada hasil yang ditemukan

dari masjid ke panggung politik - UIN Sunan Ampel Surabaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "dari masjid ke panggung politik - UIN Sunan Ampel Surabaya"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

Menelusuri Akar Kekerasan Keagamaan Antara Komunitas Sunni dan Syiah.. Antara Komunitas Sunni dan Syiah di Sampang, Jawa Timur). Buku ini memberikan kontribusi penting dalam mengungkap konflik Sunni-Syiah yang hingga kini belum terselesaikan di Sampang. Penulis buku ini berdomisili di Sampang untuk memperoleh data dan informasi mengenai hubungan dan konflik Sunni-Syiah di Sampang.

Cara seperti ini tidak bisa dihindari karena informasi mengenai kasus Sunni-Syiah di Sampang masih terbatas. Beberapa episode konflik antara Sunni dan Syiah di Sampang pada tahun 2011 dan 2012 dan setelahnya menunjukkan sulitnya menghindari kekerasan jika pihak-pihak yang berkonflik berniat melakukannya.

PENDAHULUAN

Konflik kekerasan warga Sunni dan Syiah di Sampang bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Hal ini juga yang menjelaskan, menurut Zulkfili,34 belum adanya data statistik yang jelas mengenai penganut Syiah di Indonesia. 5 Zulkifli, “Taqiyah Praxis: Shia Strategy in Indonesia for Recognition,” dalam Shia History & Culture in Southeast Asia, ed.

22 Imtiyaz Yusuf, “The Historical Influence of Persia on Islam in Southeast Asia and the Unity of the Muslim Ummah,” dalam Shia History & Culture in Southeast Asia, ed. 25 Azyumardi Azra, “Syiah di Asia Tenggara: Menuju Pemulihan Hubungan dan Kerja Sama,” dalam Sejarah & Budaya Syiah di Asia Tenggara, ed.

MENGENAL SAMPANG

Pusat konflik kekerasan antara masyarakat Sunni dan Syiah berpusat di dua desa, yaitu Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben dan Desa Blu'uran, Kecamatan Karang Penang. Dalam konteks relasi Sunni-Syiah, terdapat tradisi Safar yang diklaim sebagai tradisi Syiah yang dianut oleh kaum Sunni Madura. bubur surau merah putih manis dengan sedikit ketan. Secara sosial, kiai mempunyai peranan yang penting di Madura.7 Beliau adalah seorang guru/guru yang mendidik dan mengajarkan ilmu agama, memberikan bimbingan dan pengarahan dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.8 Selain itu, masyarakat juga menghormati kiai karena mereka mempunyai sesuatu yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya yaitu kesaktian.9 Kesaktian ini mereka sebut dengan helap, yang berasal dari bahasa Arab khilaf yang artinya melupakan atau melupakan.

Sisi lain dari 'keluarga' terletak pada pepatah 'lebbhi baik pote tolang etembheng pote mata'. Ungkapan tersebut merujuk pada kewajiban masyarakat Madura untuk bangga menjadi orang Madura dan menjaga seutuhnya jiwa, harkat dan martabatnya. 4 Abdur Rozaki, Menabur Kharisma Menuai Kekuasaan; Kiprah Kiai dan Blatter sebagai Rezim Kembar di Madura (Yogyakarta: Pustaka Marwa, 2004), 4.

INISIASI KONFLIK

Kembalinya Tajul ke desanya untuk berdakwah dinilai mengganggu keberadaan kiai setempat yang pertama kali menyebarkan ajaran Islam di Karang Gayam dan Blu'uran. Selain itu, forum-forum pengajian yang mulai dikuasai Tajul dengan cara-caranya yang revolusioner mau tak mau mengganggu eksistensi dan wibawa para kiai di Desa Karang Gayam dan Blu'uran. Secara tidak langsung kelemahan ini menjadi sumber perekonomian para kiai dan ustad di Sampang pada khususnya dan Madura pada umumnya.30.

Bagi masyarakat Madura, perkataan Tajul melukai hati mereka, menghina keberadaan mereka dan mempermalukan kiai yang mereka hormati37. Survei yang tersebar ini juga menyatukan kiai lokal dalam satu misi, yakni menyingkirkan Tajul dari Omben, Sampang bahkan dari Madura. Pembahasan mengenai Tajul juga secara tidak langsung mendorong kiai untuk mengkaji ajaran yang dikembangkannya.

Saat konflik Tajul dan kiai memuncak, tidak ada unsur pemerintah dan masyarakat yang netral untuk menyelesaikan konflik tersebut. Penolakan terhadap ajaran Tajul tidak hanya datang dari para Kiai dan masyarakat Desa Karang Gayam dan Blu’uran, tetapi juga dari keluarga Tajul sendiri. Itu sebabnya pada tahun 2006 ketika kiai meminta Tajul bertaubat, mereka pun melobi kakeknya yang saat itu masih hidup.

Maka, ketika kakeknya meminta Rois keluar (dari lingkaran Tajul), Tajul sendirian dan tanpa perlindungan keluarga besarnya, masyarakat, dan kiai lain yang berani melawan secara terang-terangan. Ketika perselisihan antara Tajul dan kiai di Omben dan Karang Penang memuncak, korbannya pun menjadi manusia. Perselisihan antara kaum Sunni dan kiai Tajul yang kemudian berubah menjadi saling menyesatkan, secara tidak langsung menyebabkan masyarakat “disesatkan”.

ESKALASI KONFLIK

Kiai juga mendapat dukungan dari MUI dan ormas Islam di Jawa Timur dan nasional. Sampang untuk mengupayakan keputusan ajaran sesat Tajul juga dikeluarkan Bakorpakem Provinsi Jawa Timur dan. Kelompok anti-Syiah yang telah lama eksis di Jawa Timur dan Indonesia tampaknya telah menemukan momentum untuk menghidupkan kembali gerakan anti-Syiah di Indonesia.

Sebagai lembaga yang menangani permasalahan umat Islam di Jawa Timur, MUI Jatim tidak. Tidak ada perbedaan antara laporan pemeriksaan MUI Jatim dengan keputusan dan hasil rapat kiai BMN. Sampang, Rekomendasi Musyawarah BASSRA, dan pernyataan GUIB, MUI Jatim kemudian mengeluarkan Fatwa Bid'ah Syiah no.

Menyatakan bahwa fatwa tersebut merupakan rekomendasi dari fatwa MUI kabupaten/kota se-Jawa Timur, MUI Provinsi Jawa Timur kemudian meminta MUI Pusat mengeluarkan fatwa yang sama terkait kaum Syiah. Kelompok yang juga terlibat dalam penyerangan Pondok Pesantren YAPI Bangil26 mengirimkan surat kepada MUI Jawa Timur No. Hal serupa juga diusulkan kepada perwakilan Polri dan MUI Pusat, serta MUI Provinsi Jawa Timur dalam pertemuan dengan Kiai Sampang pada 11 April 2011.

Pada tanggal 31 Mei 2011, Pemerintah Daerah Sampang mengirimkan surat kepada Gubernur Jawa Timur meminta dana bantuan untuk merelokasi Tajul Muluk. Anggaran untuk membiayai relokasi Tajul selama berada di Sampang dan Malang, serta pembangunan pengikut Tajul, telah disetujui oleh Gubernur Jawa Timur. Sedangkan untuk dukungan teknis di lapangan, Gubernur Jawa Timur menunjuk wakilnya untuk berkomunikasi intensif dengan para kiai, khususnya terkait isu Syiah.

Penunjukan ini masuk akal karena Wakil Gubernur Jatim ini memiliki latar belakang yang sama dengan para kiai di Sampang, yakni sama-sama aktif di NU. ABI memprotes rencana tersebut dan menduga hal itu merupakan rancangan Pemda Sampang dan Pemprov Jatim.61.

INTERVENSI KONFLIK

Misalnya saja penyerangan senjata tajam terhadap warga Syiah atas permintaan kiai dalam pertemuan dengan Forum Pimpinan Daerah Sampang. 6 Penggerebekan yang berhasil menyita 23 arit dan pedang ini mendapat protes dari warga Syiah karena membutuhkannya. senjata untuk keselamatan pribadi mereka. Mereka yang menemui Komisioner Komnas HAM tersebut antara lain IJABI Pusat, DPP ABI, MUI Pusat, Kementerian Dalam Negeri, Pemprov Jatim, Pemkab Sampang, serta kiai Sunni dan Syiah di Sampang.31. Dalam kesempatan tersebut, Komnas HAM melakukan pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, perwakilan pengungsi dan berbagai lembaga swadaya masyarakat yang sejak awal melakukan advokasi di Sampang.

Sebab, dua kiai tidak bisa mewakili seluruh kiai di Sampang, apalagi di Madura. Sampang, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Pemda Sampang dan POLRES Sampang.41 Pendanaan juga berasal dari berbagai sumber yang disebutkan di atas, serta bantuan dari beberapa LSM seperti KontraS. Pertemuan kedua berlangsung dalam bentuk workshop “Inisiatif Perdamaian Berbasis Masyarakat dan Pasca Konflik Horisontal Kearifan Lokal di Kabupaten Sampang” yang bekerjasama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sampang dengan Puslitbang Keagamaan. Life, Badan Penelitian dan Pengembangan serta Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia.

Ini adalah pertama kalinya kedua pihak yang berkonflik di Sampang bertemu langsung sejak awal konflik. Pertemuan ketiga ini berbentuk workshop yang bertemakan “Inisiatif Perdamaian Berbasis Religiusitas dan Kearifan Lokal Masyarakat Sampang” dan dilaksanakan di sebuah hotel di Sidoarjo, Jawa Timur, pada tanggal 10-12 Desember 2012. Hal ini mungkin dapat dimaklumi. . karena gerakan ini sebenarnya tidak 'diizinkan'.” oleh kelompok kiai BASRA-MUI-NU di Sampang.43 Hasilnya jelas: rencana yang sudah matang harus terhenti di tengah jalan.

Seluruh peserta pertemuan yang berjumlah 30 orang sepakat untuk menyelesaikan konflik Sunni-Syiah di Sampang. Menurut mereka, bisa saja kelompok Syi’ah itu sesat, namun para kiai tidak boleh membiarkan tindakan kekerasan seperti pembakaran dan pengusiran kelompok Syi’ah dari Sampang.55 Namun, suara ini tampaknya tidak memiliki banyak pengikut. 9 Setiawan dan Solehan, "Risalah Rapat Kepala Puslitbang Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama RI dengan Kapolres Sampang"; Syihabuddin, .

10 Setiawan dan Solehan, "Risalah Rapat Kepala Puslitbang Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama RI dengan Kapolres Sampang"; Siswo dan Yusuf, "Wawancara". 36 Hamid, "Wawancara"; Hidajet, "Wawancara"; Tim Penanganan Konflik Sampang Kementerian Agama Kabupaten Sampang, "Tracking Registrasi Penanganan Konflik Sampang"; Tim Penanganan Konflik Sampang Kementerian Agama Kabupaten Sampang, “Peta Jalan Rekonsiliasi dan Reintegrasi Pasca-Konflik Horisontal di Kabupaten Sampang Menuju Kerukunan Sosial Permanen Berbasis Agama dan Kearifan Lokal.”.

Biodata Penulis

Selain itu, ia juga aktif di ASAI (Asosiasi Studi Keagamaan Indonesia), dimana ia bekerja sama dengan para peneliti dan ulama untuk mengembangkan ilmu tersebut di Indonesia. Selain di dunia akademis, beliau juga aktif di Lembaga Kerjasama dan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Kompetisi esai yang diselenggarakan CRCS UGM ini mengangkat tema pengembangan pendidikan peka pengelolaan keberagaman di sekolah.

Alhasil, sebagaimana ditunjukkan dalam buku ini, keberagaman mempunyai makna yang sangat luas menurut para guru, sebagaimana tercermin dalam topik esai mereka. Setidaknya ada lima pengertian keberagaman yang secara umum dibahas para guru dalam buku ini: (a) keberagaman antaragama; (b) keberagaman aliran/paham dalam suatu agama; c) keragaman etnis atau asal daerah; (d) keberagaman dalam hal kecerdasan; (e) keberagaman anak dalam berhadapan dengan hukum. Buku ini juga menunjukkan upaya kreatif guru dalam pengembangan kurikulum, metode pembelajaran, dan cara mengelola keberagaman di sekolah.

Mobilisasi penduduk, yang sebagian dibantu oleh ketersediaan fasilitas transportasi, telah menciptakan masyarakat yang beragam hingga ke tingkat desa. Oleh karena itu, masyarakat ditantang untuk hidup bersama dengan masyarakat yang mempunyai tradisi agama dan budaya yang berbeda. Buku ini memuat dan berbagi pengalaman berharga warga kampung Wonorejo, Kabupaten Keerom, Papua, yang berusaha menjalani hidup bersama dalam masyarakat majemuk.

Dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, peserta Sekolah Manajemen Keberagaman (SPK) mengangkat pengalaman warga Desa Wonorejo sebagai milik bersama. Dengan membaca buku ini, masyarakat dapat menyadari dan mengetahui bentuk-bentuk hidup berdampingan dan potensi konflik di wilayahnya, sehingga kemudian dapat bekerja sama untuk meningkatkan kualitas hidup bersama dalam masyarakat yang majemuk. Buku ini sangat relevan tidak hanya untuk menjadikan Papua sebagai tanah damai tetapi juga untuk menciptakan keharmonisan di seluruh Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait