• Tidak ada hasil yang ditemukan

23090180024 Darsini Review Buku Rekonstruksi Teologi Islam

N/A
N/A
Darsini DARSINI

Academic year: 2025

Membagikan "23090180024 Darsini Review Buku Rekonstruksi Teologi Islam"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

DEKONSTRUKSI DAN REKONSTRUKSI:

DINAMIKA PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM

Book Review

Nasihun Amin. Rekonstruksi Teologi Islam. (Semarang: SeAP, 2024)

Oleh: Darsini

Inti kajian dari buku yang ditulis oleh Nasihun Amin, Rekonstruksi Teologi Islam, terletak pada analisis dan rekonstruksi teologi Islam yang selama ini lebih banyak berkutat pada aspek ketuhanan tanpa menyentuh dimensi kemanusiaan. Dengan pendekatan yang lebih reflektif dan sosiologis, buku ini mengeksplorasi bagaimana teologi dapat berfungsi untuk mengatasi masalah-masalah sosial kontemporer, seperti ketidakadilan, penindasan, dan kemiskinan. Penulis berpendapat bahwa teologi harus dapat diperbaharui agar dapat relevan dan fungsional dalam menghadapi realitas masyarakat modern. Hal ini dilakukan dengan cara menjadikan teologi sebagai suatu disiplin yang tidak hanya memiliki pemahaman spekulatif mengenai Tuhan, tetapi juga harus menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan manusia.

Dalam buku ini, penulis mengangkat pemikiran Hassan Hanafi dan Asghar Ali Engineer sebagai bagian penting dari kajian teologi baru yang mengadopsi pendekatan yang lebih reflektif dan sosiologis. Penekanan pada riwayat hidup, latar belakang sosial, dan metodologi yang digunakan oleh kedua pemikir ini memberikan konteks yang diperlukan untuk memahami pemikiran mereka secara lebih mendalam. Hanafi berusaha keluar dari pakem teologi klasik dan menawarkan alternatif yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman, sementara Engineer memasukan analisis sosial dalam teologinya, yang berbeda dari teologi tradisional.

Dengan menggunakan pendekatan metodologis yang melibatkan analisis historis dan deskriptif-analitis, penulis berusaha menunjukan bagaimana keduanya telah memberikan kontribusi dalam menciptakan wacana teologi yang tidak hanya relevan, tetapi juga berfungsi secara sosial. Keduanya menjadi kunci dalam mengembangkan diskusi

(2)

mengenai "Teologi Pembebasan" dan relevansinya bagi kemanusiaan. Untuk mengembangkan konsep dan mengevaluasi kelebihan serta kekurangan, penulis menerapkan pola pikir reflektif dengan prosedur deduktif dan induktif. Hal ini diharapkan dapat mendekatkan hasil analisis menuju kebenaran. Selain itu, penulis juga mempertimbangkan relasi antara teologi dan realitas sosial saat ini, menekankan pentingnya rekonstruksi teologi agar relevan dengan kondisi masyarakat yang terus berubah. Metodologi tersebut memberikan kerangka untuk memahami hubungan antara teologi dengan masalah kontemporer.

Kerangka paradigmatik teologi Islam dan respons teologi terhadap persoalan aktual Pada bagian ini penulis menyampaikan bahwa Teologi Islam historis muncul sebagai upaya untuk mempertahankan keimanan dari berbagai pengaruh sekte dan budaya lain, serta telah mengalami perkembangan sepanjang sejarah. Terdapat banyak aliran dalam teologi Islam, antara lain Khawarij yang bersikap ekstrim dan eksklusif, Mutazilah yang menekankan rasionalitas namun elitis, dan Asyariyah yang lebih teosentris. Teologi-teologi ini menunjukkan kurangnya kemampuan dalam menghadapi persoalan modern. Terlebih lagi, sifat kaku dari banyak sistem teologi menghambat respons terhadap isu-isu kontemporer. Penilaian juga terlihat pada kegagalan teologi klasik dalam menanggapi masalah keadilan sosial dan kesenjangan ekonomi. Dalam konteks saat ini, muncul kritik terhadap perlunya reformasi teologis yang bersifat transformatif, seperti teologi pembebasan, yang menekankan pada kesadaran sosial, emansipasi rakyat, dan kritik terhadap struktur ketidakadilan.

Penulis juga membahas beberapa paradigma teologi dalam konteks Islam yang meliputi: 1) Paradigma Tradisional: yang digambarkan sebagai cara pandang tradisional yang memahami bahwa segala sesuatu merupakan ketentuan Tuhan dan ujian dari-Nya. Di sini, terjadi ketergantungan pada takdir dan kurangnya kritik terhadap keadaan, yang membuat masyarakat mengalami kelemahan dalam analisis kognitif. 2) Paradigma Rasional: Paradigma ini menekankan bahwa kebenaran dapat diketahui melalui akal dan rasionalitas. Penulis menyoroti bahwa dalam konteks ini, kemajuan umat manusia adalah hasil dari kebebasan dan kemampuan individu untuk berpikir kritis. Hal ini berlawanan dengan kepercayaan fanatik dan predeterminisme yang menghambat perkembangan. 3) Paradigma Fundamental: Paradigma ini bersifat kaku dan literalis, dengan keyakinan bahwa ajaran agama harus dipegang teguh tanpa modifikasi. Hal ini berisiko menyederhanakan kompleksitas realitas sosial dan mendorong

(3)

fanatisme. 4) Paradigma Transformatif: paradigma ini berfokus pada perbaikan struktur sosial yang tidak adil. Teologi transformatif ingin menghubungkan keyakinan agama dengan praktik sosial yang emansipatoris dan berorientasi pada keadilan sosial.

Teologi Tranformatif Islam Hassan Hanafi

Penulis meyakini bahwa pemikiran seseorang tidak terbentuk dalam ruang hampa.

Ia selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal, termasuk kondisi sosial yang melingkupinya. Latar belakang pemikiran Hassan Hanafi sangat dipengaruhi oleh situasi sosial dan politik yang kompleks di Mesir pada masanya.

Keterpurukan politik dan ekonomi yang berkepanjangan di Mesir membuat Hanafi, sejak usia muda, peka terhadap isu-isu sosial dan berusaha memberikan kontribusi melalui pemikiran dan tindakan. Selain itu, interaksinya dengan berbagai pemikiran internasional dan filosofi Barat, seperti Hegel dan Marx, juga berperan penting dalam membentuk perspektifnya terhadap tradisi Islam dan modernitas.

Metodologi yang digunakan oleh Hanafi dalam membangun teologi pembebasannya mencakup beberapa pendekatan, antara lain hermeneutika kritis, fenomenologi, dialektika, dan dekonstruksi. Hermeneutika kritis berfungsi untuk menafsirkan teks-teks keagamaan dalam konteks sosial-historis yang relevan, sementara fenomenologi membantu Hanafi memahami pengalaman religius umat Islam secara langsung. Dialektika digunakan untuk merumuskan hubungan antara tradisi dan modernitas, sedangkan dekonstruksi menantang otoritas tafsir tradisional dan membuka ruang untuk interpretasi baru yang lebih inklusif.

Melalui metode-metode ini, Hanafi berusaha menjawab tantangan kontemporer dan menghasilkan pemikiran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Kerangka pemikiran Hanafi terfokus pada proyek al-Turats wa al-Tajdid (Tradisi dan Pembaruan). Ia berargumentasi bahwa tradisi Islam harus terus diperbarui agar dapat relevan dengan perkembangan zaman. Hanafi meletakkan manusia sebagai pusat diskursus dan memfokuskan teologinya pada relevansi praktis ajaran Islam terhadap permasalahan manusia. Pendekatannya mengutamakan kemanusiaan dan keadilan sosial, yang dirasakannya sangat penting di tengah situasi politik yang tidak adil. Ia menawarkan

"teologi transformatif" yang menjadikan teologi sebagai ilmu yang dapat diakses dan memberikan kontribusi signifikan bagi perubahan sosial. Dengan demikian, pemikiran Hanafi mencerminkan upaya untuk mengaitkan tradisi Islam dengan isu-isu kemanusiaan

(4)

dan sosial di dunia modern, sehingga memberikan harapan untuk merestorasi nilai-nilai keadilan dan pembebasan dalam masyarakat.

Teologi Pembebasan Islam Asghar Ali Engineer

Asghar Ali Engineer membangun Teologi Pembebasan Islam dengan latar belakang pemikiran yang sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan intelektual di India, khususnya dalam konteks keragaman yang sangat kompleks. Dia lahir dari keluarga Syiah yang memberikan pendidikan agama tradisional, meskipun pendidikan formalnya dalam teknik sipil. Kesadaran akan ketidakadilan dan penindasan dalam masyarakat mendorongnya untuk memperjuangkan pemikiran keislaman yang lebih reflektif dan kritis terhadap kondisi sosial. Dalam pandangannya, Islam seharusnya tidak hanya dipahami sebagai ajaran ritual tetapi juga sebagai alat untuk melawan penindasan dan ketidakadilan sosial, yang menjadi dasar bagi Teologi Pembebasan yang ia tawarkan.

Metodologi yang digunakan oleh Engineer dalam membangun Teologi Pembebasan Islam adalah Hermeneutika dan filsafat praksis. Hermeneutika di sini berfungsi untuk memahami pesan-pesan dalam Al-Quran dan bagaimana ajaran tersebut dapat diterapkan dalam realitas sosial yang kompleks. Dengan analisis mendalam, Engineer berupaya menafsirkan kembali istilah-istilah kunci dalam Islam, seperti tauhid, iman dan kufur, agar relevan dengan situasi saat ini, dan tidak terjebak dalam pemahaman konvensional yang seringkali bersifat eksploitatif. Adapun filsafat praksis, Ali Engineer mengintegrasikan denan pemikirsannya sebagai upaya untuk menjembatani teori dan tindakan. Filsafat praksis menekankan kesatuan antara teori, aksi, iman, dan amal, serta menganggap bahwa sejarah bukan sekedar determinisme, tetapi hasil dari usaha manusia. Ini penting untuk memahami bahwa perubahan sosial dan keadilan tidak hanya ditentukan oleh teori, tetapi juga oleh partisipasi aktif dalam perjuangan untuk kebebasan dan keadilan sosial.

Kerangka pemikiran Engineer menekankan pada hubungan teologis antara iman dan realitas sosial. Ia berpendapat bahwa keadilan sosial harus menjadi landasan dari iman dan teologi. Dalam pandangannya, keadilan, kebebasan, dan kesetaraan adalah nilai-nilai inti dalam Islam yang harus diperjuangkan dalam praktik hidup sehari-hari. Ia memberi penekanan pada pentingnya mensosialisasi nilai-nilai ini, agar terbentuk masyarakat tanpa kelas (classless society) di mana semua orang, terlepas dari latar belakang sosial dan ekonominya, memiliki kesempatan yang sama. Engineer juga menekankan pentingnya aksi

(5)

sosial sebagai bagian dari iman atau teologi, memperkuat ide bahwa praktik-praktik sosial harus selaras dengan prinsip-prinsip teologis.

Dengan pendekatan kritis dan dinamis terhadap ajaran Islam, Asghar Ali Engineer berupaya membangun pemikiran yang tidak hanya dilandasi oleh doktrin teologis tetapi juga oleh konteks sosiokultural, mendorong umat Islam untuk berperan aktif dalam memperjuangkan keadilan dan membangun masyarakat yang lebih baik.

Teoantropologi: Sebuah Rekonstruksi Baru

Setelah mengangkat pemikiran teologis Hanafi dan Asghar, penulis menganalisis dan menawarkan beberapa perspektif penting terkait transformasi teologi dalam konteks sosial- politik. Penulis menekankan bahwa teologi yang diajukan oleh Hanafi dan Asghar tidak hanya bersifat abstrak atau spekulatif, tetapi diorientasikan pada aksi sosial dan refleksi terhadap realitas kemanusiaan yang ada. Mereka ingin menjadikan teologi sebagai sarana untuk memperjuangkan keadilan sosial dengan menekankan pemikiran kritis terhadap struktur sosial yang ada, serta mendorong pembebasan dari penindasan.

Penulis juga menunjukkan bahwa pemikiran Hanafi dan Asghar berusaha mengalihkan fokus dari Tuhan dan akhirat kepada manusia dan dunia. Hal ini terlihat dalam gagasan terkait teori pembebasan yang mencakup upaya untuk menghilangkan ketidakadilan sosial, dan meletakkan asas keadilan dalam konteks kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam konteks spiritual atau eskatologi. Transformasi ini mencakup perubahan dari pemahaman eskatologis kepada futurologis, serta pengalihan dari kepatuhan pada takdir menuju penegasan kehendak bebas manusia. Melalui analisis ini, penulis mengusulkan bahwa teologi seharusnya berfungsi sebagai ilmu sosial yang membahas kondisi dan kebutuhan manusia, bukan sekadar doktrin yang kaku. Dengan demikian, teologi dapat menjadi alat untuk memahami dan memperbaiki keadaan sosial serta menggerakkan umat untuk berkontribusi pada perubahan yang lebih baik dalam masyarakat

Meskipun pemikiran teologi Hanafi dan Asghar berupaya mengjunjung tinggi nilai- nilai keadilan sosial dan pembebasan, namun tidak menutup adanya celah untuk dikritisi.

Diantara kritik atas pemikiran keduanya yaitu, pertama, terkait pengaruh Marxisme yang kental dalam pemikiran mereka. Keduanya cenderung memaksakan pengertian ayat-ayat al-Qur'an dan peristiwa sejarah agar sesuai dengan pandangan kelas yang mereka anut, yang menyebabkan tumpang tindih dalam konsep-konsep yang mereka rumuskan. Hal ini

(6)

terhadap teks-teks agama berdasarkan kepentingan politik dan sosial tertentu, sehingga menyimpang dari esensi teologi Islam itu sendiri.

Kedua, kritik juga diarahkan pada idealisme transformasi sosial yang mereka usulkan.

Meskipun mereka berusaha untuk mengintegrasikan dimension sosial dalam teologi, kritik menegaskan bahwa mereka belum berhasil memberikan solusi praktis yang konkret untuk menanggulangi penindasan dan ketidakadilan yang ada dalam masyarakat. Menurut beberapa penulis, meskipun mereka mengajukan gagasan tentang pembebasan, pergeseran yang mereka inginkan tidak terwujud secara nyata dalam tindakan yang terorganisir.

Catatan Kecil sebagai Penutup

Secara keseluruhan tulisan ini memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan pemikiran Islam, khususnya melalui eksplorasi dan rekonstruksi teologi menjadi lebih kontekstual dan aplikatif. Dengan mendalami konsep Teologi Pembebasan yang ditawarkan oleh Hassan Hanafi dan Asghar Ali Engineer, tulisan ini menyajikan pendekatan baru dalam memandang teologi Islam. Kontribusi ini menjadi bagian dari upaya rekonstruksi pemikiran Islam yang lebih kontekstual, relevan, dan solutif terhadap problematika sosial, sehingga memperkaya khazanah keilmuan Islam dan relevansinya di dunia modern.

Meskipun kekuatan narasi dan substansi tetap menjadi fokus utama dalam buku ini, namun secara teknis, buku ini memiliki beberapa aspek penulisan yang perlu dipertimbangkan kembali, yang jika disempurnakan dapat meningkatkan kualitas membaca dan kejelasan pesan yang ingin disampaikan penulis. Di antara catatan dalam aspek penulisan tersebut adalah ketika penulis menjelaskan mengenai pembagian ilmu keislaman oleh Hassan Hanafi, di mana keseluruhan ilmu keislaman tersebut mengadakan interelasi. Terkait hal ini penulis menyatakan bahwa hubungan interelasi tersebut dalam dilihat dalam bentuk paragraf di bawah, namun diagram yang dimaksud belum dicantumkan. (Halaman 84)

Catatan lainnya, terdapat pengulangan kalimat yang sedikit mempersulit untuk dapat menangkap maksud yang ingin disampaikan, di sini saya kutip:

“Para modernis mengasumsikan dengan sadar bahwa modernisasi adalah jalan pembebasan, tetapi asumsi ini mempunyai masalah teoritis, yakni bahwa teori dan teologi modernisasi adalah jalan pembebasan, tetapi asumsi ini mempunyai maslah teoritis, yakni bahwa teori dan teologi modernisasi hanya memberikan penjelasan tentang keterbelakangan, hanya dengan memperhatikan “faktor dalam”. ( halaman 160-161) Catatan-catatan teknis ini diharapkan dapat menjadi masukan positif tanpa mengurangi penghargaan atas kualitas tulisan yang telah dihasilkan. Terima kasih.

Referensi

Dokumen terkait

memahami makna yang terkandung dalam al- Qur‟an. Allah menurunkan al-.. Qur ‟ an menggunakan bahasa Arab untuk dipahami oleh umat Islam. Yusuf : 2). Selain sebagai alat

Sementara itu peristiwa 1965 dan perubahan sosial di Solo pada masa Orde Baru adalah konteks lain yang penting dilihat untuk memahami aktivisme Islam dan misi Kristen di kota

Sebelum memahami lebih jauh mengenai pemikiran keagamaan Ibn Taimiyah, sebagai suatu keharusan, terlebih dahulu untuk mengetahui metodenya dalam memahami dan menafsirkan al-