Judul : Pemanfaatan Daun Mimba dan Daun Mahoni Sebagai Pestisida Nabati Untuk Pengendalian Hama Spodoptera Jitura r.pud"u tuiu** ru*i. Hama merupakan salah satu permasalahan yang penting untuk diatasi dalam usaha produksi tanaman pada umumnya, karena hama dapat menurunkan produksi secara signifikan baik secara kualitatif maupun kuantitatif.Demikian pula dengan tanaman sayuran yang sebagian besar dikonsumsi segar, masih mengandalkan insektisida kimia sintetik untuk mengendalikan hama.
Salah satu komponen pertanian organik adalah penggunaan pestisida sintetik non alami berupa insektisida hayati dan herbal untuk mengendalikan hama. Penggunaan pestisida di lingkungan pertanian merupakan permasalahan yang sangat dilematis, terutama pada tanaman pangan yang saat ini masih menggunakan insektisida kimia sintetik secara intensif. Namun penerapan penggunaan pestisida nabati khususnya untuk mendukung upaya pengembangan sayuran organik masih kurang baik dari segi jenis dan cara budidayanya.
Terdapat interaksi antara perlakuan konsentrasi ekstrak daun mimba dan mahoni dengan metode aplikasi terhadap persentase kematian hama.
PENDAHULUAN
Dewa.sa telah banyak melaporkan penelitian tentang famili tumbuhan yang berpotensi digunakan sebagai insektisida nabati dari seluruh dunia. Lebih dari 1500 spesies tumbuhan dilaporkan mempunyai efek merugikan terhadap serangga (Grainge dan Ahmed r9s7). Laporan dari berbagai provinsi di Indonesia menyebutkan bahwa lebih dari 40 jenis tumbuhan mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai pestisida nabati @Direktorat BPTP dan Ditjenbuq 1994). baru. Pestisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau senyawa yang berasal dari tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama tanaman (PPO).
Insektisida nabati mempunyai keunggulan tertentu yang tidak dimiliki insektisida sintetik - Insektisida nabati bersifat tidak stabil di alam sehingga dapat terurai secara alami (Arnason et al., rgg3). Alternatif yang dapat dilakukan antara lain penggunaan tanaman yang mempunyai sifat insektisida, khususnya tanaman. Alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut selain menggunakan pestisida sintetik adalah melalui penerapan konsep pengendalian hama terpadu Glil).
Mimba merupakan tanaman yang memenuhi persyaratan (menurut FAO Lung Consultation Group on the Development of Botanical Pesticides) untuk dikembangkan sebagai sumber bahan dasar pembuatan pestisida nabati. Tanaman lain yang dapat digunakan sebagai insektisida nabati adalah mahoni (Swietenia mahagoni Jacg.) dan mahoni berdaun lebar.
TI]YJAUAN PUSTAKA
Insektisida Nabati
Pestisida nabati merupakan hasil ekstraksi bagian tanaman tertentu dari daun, buah, biji, atau akar. Biasanya tanaman baglan mengandung senyawa sekunder atau metabolit dan mempunyai sifat toksik terhadap hama dan penyakit tertentu. Mimba (Azadirachta indica A. Juss) dapat digunakan sebagai pestisida karena mengandung zat aktif terutama azadirachtin, dan penelitian lain juga menunjukkan bahwa Mimba dapat digunakan sebagai obat.
Pestisida nabati yang berasal dari pohon Mimba (Azodirachta indico A'Juss) terkenal di seluruh dunia (Gagoup dan Hayes, 1984; Ermer, 1995). Tanaman Mimba, terutama biji dan daunnya, mengandung beberapa komponen penghasil metabolit sekunder yang diyakini sangat bermanfaat baik di bidang pertanian (pestisida dan pupuk) maupun di bidang farmasi (kosmetik dan obat-obatan). Banyak negara hujan di Asia yang sudah memproduksi pestisida nabati dari Mimba, termasuk India dengan beberapa merek dagang, salah satunya sudah masuk ke india, Arah.
Saat ini Indonesia juga banyak memproduksi pestisida nabati dari mimbq, antara lain Institut Teknologi Bandung (n'B), Balai Penelitian Serat dan Kapas (Pusat Penelitian Tanaman Balittas-Malangl. Mahoni dikelompokkan menjadi dua, yaitu mahoni berdaun kecil (swle tenia mahagoni lacg . ) dan mahoni daun besar (swietenia macrophyilaKing) Keduanya termasuk Mahoni daun besar dapat tumbuh baik pada lahan dengan ketinggian antara 0 sampai 1000 meter dengan curah hujan 1-600-4000 mm per tahun dan iklim A sampai D.
Kayu mahoni Serama ini dikenal sebagai jaranan pendingin atau sebagai bahan pembuatan segala macam furniture. Berdasarkan penelitian di laboratorium, pohon mahoni (swietenia mahagon) berkhasiat termasuk pohon yang mampu mengurangi polusi udara kurang lebih 47% - 69 o/o. Pohon mahoni yang ditanam di hutan kota atau di sepanjang jalan berfungsi sebagai penyaring udara dan resapan air. Bijinya berbentuk pipih, warnanya hitam atau coklat, di Indonesia pertama kali tumbuh secara liar di hutan, di kebun dan dimana saja - pohon mahoni bahkan bisa tumbuh setinggi 30 meter.
Apabila buah sudah sangat tua maka kulit buah akan pecah sendiri dan biji pipih akan terbang kesana kemari tertiup angin dan jatuh ke tanah dan tumbuh menjadi pohon mahoni baru (Sumarwoto, 2005). Bagian utama pohon hutan dan mahoni yang dimanfaatkan adalah daunnya, berikut penjelasan pengolahan daunnya hingga bisa dimanfaatkan. Tepung daun hutan dan mahoni diperoleh dengan cara menggiling daun kering dengan alat khusus (penggiling) atau bisa juga menggunakan alat penghancur seperti mixer/blender.
TUJUAN PENELITIAN
MANFAAT PENELTTIAN
Bagi peneliti, penelitian ini dapat menjadi sumber kreativitas untuk menciptakan suasana pembelajaran yang merespon isu-isu terkini di bidang pertanian.
METODA PtrNELTTtdIY
Jrosed ur pengumpulan data
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Energi yang digunakan untuk detoksifikasi diambil dari energi yang seharusnya untuk pertumbuhan dan perkembangan serangga, akibatnya pertumbuhan serangga akan terganggu. Hal ini mengakibatkan struktur protein berubah sehingga tidak dapat digunakan serangga untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Kematian larva disebabkan oleh kombinasi toksisitas intrinsik dan efek antifeedant dari senyawa aktif yang terkandung dalam insektisida uji.
Toksisitas intrinsik ini dapat menghambat aktivitas makan serangga dengan cara menekan sistem saraf pusat yang mengatur aktivitas makan (antifeedan sekunder). Selain itu juga menekan aktivitas enzim metabolisme. Pola perkembangan kematian larva yang rendah pada awal pengamatan dan relatif meningkat pada pengamatan berikutnya menunjukkan bahwa senyawa aktif pada kedua bahan insektisida tanaman tersebut relatif cepat menyebabkan kematian larva. Meningkatnya angka kematian akibat perlakuan pakan menunjukkan adanya komponen aktif pada kedua jenis bahan tersebut.
Saat ini, terdapat kemungkinan bahwa komponen aktif ekstrak daun mimba dan mahoni menekan aktivitas makan larva uji melalui pengaruhnya terhadap sistem saraf pusat yang mengatur proses makan (Chapman lgg5). Tingginya angka kematian larva menunjukkan tingginya jumlah makanan yang dikonsumsi, artinya juga terjadi gangguan pada proses pencernaan, misalnya gangguan pada enzim pencernaan serangga. Senyawa aktif ekstrak daun mimba dan mahoni dapat berfungsi sebagai agen antinutrisi sekunder yang mempengaruhi proses makan, kontaminasi dan penyerapan (Duffey & Stout 1996).
Beberapa contoh enzim yang terlibat dalam proses bau serangga adalah protease, lipase, amilase, dan invertase (Chapm an 1995). senyawa azadirachtin, meliantrior, saranin, nimbin dan nimbidin. dari tanaman Mimba dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan serangga. Senyawa ini mengurangi aktivitas enzim invertase dan amirase. berperan dalam proses pencernaan serangga S. lituraF, juga mengganggu enzim pencernaan S. IituraF melalui proses penurunan aktivitas atau sintesis enzim. Sifat gangguan sel tersebut disebabkan senyawa aktif yang terdapat pada daun yang digunakan sebagai insektisida mempunyai aktivitas sitotoksik terhadap larva. Terganggunya aktivitas kedua enzim ini mengakibatkan pertumbuhan larva terhambat hingga larva mati.
KESIMPULANDAN SARAN
Perlakuan metode aplikasi dengan pencelupan memberikan persentase mortalitas hama S. Iitura
DAFTAR PUSTAKA
LAMPTRAN I
PERSONALIA PENELITIAN DAN KUALM'IKASI
DOKUMENTASI KEGIATAN DAN HASIL PENELITIAN
KEGTATAN PENGAMATAN WAKTU PENELITIAN
RINCIAN PENGGUNAAN DANA PENELITIAN