• Tidak ada hasil yang ditemukan

DECENTRALIZATION Isu-isu pokok Desentralisasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "DECENTRALIZATION Isu-isu pokok Desentralisasi"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

Agar partisipasi mempunyai arti, diperlukan keterwakilan daerah yang lebih baik di tingkat pusat, sehingga mereka dapat membantu mengambil keputusan untuk kerangka keseluruhan, yang juga menentukan ruang lingkup dan sifat pemerintahan daerah. Berdasarkan paket urusan ini, pemerintah daerah yang lebih lemah harus diperkuat di tingkat yang lebih tinggi (melalui transfer personel dan peralatan, pelatihan dan cara-cara lain) sehingga daerah-daerah tersebut mampu menyelesaikan tugas-tugas pokoknya dengan memuaskan.

Mengarahkan Upaya Desentralisasi Nasional: Diperlukan Suatu Badan Koordinasi Yang Efisien

Salah satu penyebabnya adalah perbedaan persepsi dan kepentingan antara Kementerian Dalam Negeri dan departemen sektoral. Oleh karena itu, departemen sektoral enggan menerima peran kepemimpinan Departemen Dalam Negeri dalam desentralisasi atau DPOD yang didominasi oleh Departemen Dalam Negeri.

Pendekatan Dalam Penyerahan Urusan: Komprehensif Dibandingkan Dengan Bertahap (Comprehensive versus Incremental)

Berdasarkan kategori-kategori ini, tidaklah mungkin untuk mengidentifikasi kebijakan-kebijakan yang tepat untuk memberdayakan pemerintah daerah yang lebih lemah, atau untuk menentukan batas-batas pendelegasian urusan-urusan tertentu. Dengan mempertimbangkan pengalaman proyek percontohan Otonomi Daerah dan temuan-temuan internasional, tim GTZ tampaknya menggunakan pendekatan yang lebih bertahap dalam menyerahkan kasus-kasus dalam proses desentralisasi di Indonesia saat ini.

Mekanisme-Mekanisme Penyerahan Urusan: Mengarah Pada Pelembagaan Desentralisasi

8 Tahun 1995, nyatanya, tidak memperhitungkan kriteria yang lebih spesifik mengenai sektor dan wilayah pengalihan usaha. Jika daerah dapat menyampaikan argumen mereka berdasarkan kriteria tersebut, hal ini akan membantu pemerintah daerah bernegosiasi dengan tingkat pemerintahan yang lebih tinggi dan dapat memberikan tekanan pada tingkat pemerintahan yang lebih tinggi untuk bertindak. Selain itu, terdapat kriteria tertentu yang lebih sesuai untuk sektor tertentu dibandingkan sektor lainnya.

Penjabaran kriteria pembagian urusan dapat mencakup pertimbangan teknis, ekonomi, dan politik yang lebih jelas. Upaya ini harus dilakukan secara detail pada masing-masing sektor sebagai landasan dialog distribusi urusan yang lebih sistematis, partisipatif, dan transparan. Setiap sektor harus bertanggung jawab untuk menguraikan kriteria umum yang ada dalam mengajukan pertanyaan, guna menghasilkan serangkaian kriteria yang lebih operasional.

CIRI-CIRI OTONOMI BERTINGKAT

Jumlah Tingkatan Otonomi

Perlunya Pemerintah Propinsi yang Otonom di Indonesia

Dari keterlibatannya yang kuat dalam pelaksanaan tugas-tugas administratif dan pembangunan yang luas, peran pemerintah daerah pada tingkat pertama harus secara bertahap berubah ke arah penciptaan kerangka umum, inisiatif terhadap proses dan pengawasan pelaksanaan di tingkat yang lebih rendah. Memperjelas status dan peran pemerintahan otonom daerah tingkat I, ketika fokus otonomi daerah berada pada tingkat II, akan membantu diperolehnya kerjasama aktif dari tingkat I dalam penguatan tingkat II. Agar prinsip otonomi daerah di tingkat I semakin diperkuat, kami berpendapat bahwa suara daerah di pusat harus semakin diperkuat.

Dalam jangka panjang, perubahan struktural yang lebih mendasar harus dipertimbangkan, misalnya pembentukan dewan perwakilan khusus bagi perwakilan pemerintah daerah, yang dapat berpartisipasi dalam legislasi di tingkat pusat. II dan mengakomodir hal-hal yang masih ditangani di tingkat pusat, namun lebih tepat menjadi urusan Tk. Peran dan urusan pemerintahan Tingkat I perlu disesuaikan dan dirumuskan kembali sesuai dengan konsep otonomi daerah Tingkat II.

Perlunya Tingkat Otonom yang Ketiga

  • Desa dan Kecamatan
  • Meningkatkan Status dan Menyesuaikan Peran Desa
  • Menyesuaikan Lembaga-lembaga Tingkat Desa
  • Meningkatkan Kemampuan Pemerintah Desa

Mengusulkan otonomi yang luas dan lebih banyak permasalahan di tingkat desa, Tim GTZ sangat menyadari keterbatasan yang disebabkan oleh skala dan kondisi lokal. Oleh karena itu status otonomi desa dalam artian urusan domestik belum jelas. Dalam beberapa kasus, permasalahan ini diarahkan oleh lembaga/kelompok masyarakat adat hingga organisasi pemerintah tingkat desa yang ditunjuk dari atas.

Tim GTZ tidak ingin menentukan terlebih dahulu apa saja kasus-kasus tersebut, namun ingin menyarankan beberapa kriteria awal yang dapat digunakan untuk memutuskan jumlah dan jenis kasus serta tugas yang harus dilakukan oleh kota, dan akan mengusulkan beberapa potensi usul. urusan yang harus ditangani oleh pemerintah kota. Artinya memberikan kesempatan kepada desa untuk mengelola hal-hal yang mengandung aspek produksi melalui berbagai cara, misalnya kerjasama antar desa dan keterlibatan pihak swasta. Terkait pembiayaan desa, perlu dilakukan kajian menyeluruh terhadap kebutuhan pendapatan dan pembaharuan sistem penyediaan dana terkait urusan desa.

MENDEFINISIKAN KEMBALI KONSEP OTONOMI DAERAH DAN DESENTRALISASI

Memperjelas Peranan Tugas Pembantuan dan Desentralisasi

Misalnya, di Jerman, tugas-tugas pada prinsipnya diserahkan sebagai tugas tambahan (atau kurang lebih sama) kepada pemerintah daerah, jika hal tersebut benar-benar dapat dilaksanakan pada tingkat tersebut (dalam hal efisiensi dan efektivitas), namun pada tingkat pada saat yang sama, hal ini harus diterapkan dengan cara yang seragam di seluruh negeri. Tidak ada alternatif yang lebih baik selain membantu melaksanakan tugas-tugas yang memerlukan penerapan standar dan prosedur yang seragam dan diatur secara ketat di tingkat pemerintahan yang lebih tinggi. Beberapa pendukung desentralisasi nampaknya berpendapat bahwa misi bantuan tersebut merupakan peninggalan zaman kolonial yang dapat ditinggalkan (awalnya disebut medebewind).

Dalam pandangan tim GTZ-P4D, harus ada pembedaan yang jelas mengenai sejauh mana pengambilan keputusan daerah antara tugas bantuan dan tugas yang diberikan. Di negara lain, seperti Jerman, derajat dan jenis pengawasan merupakan ciri utama yang membedakan antara “urusan sendiri” dan tugas yang hanya diserahkan kepada pemerintah daerah untuk dilaksanakan sebagai tugas pembantuan. Konsep tugas bantuan perlu dikembangkan lebih lanjut agar dapat digunakan untuk mendelegasikan urusan dan tugas yang harus dilaksanakan secara seragam oleh pemerintahan tingkat bawah, yang tidak mempunyai atau sangat sedikit ruang pengambilan keputusan oleh pemerintah daerah otonom.

Pengawasan, Pengendalian dan Pembinaan: Membeda-bedakan Ruang Lingkup Campur Tangan dari Atas

Makna “otonomi” bagi pengelolaan urusan yang didesentralisasi (desentralisasi) perlu diperjelas, khususnya mengenai hak intervensi negara yang lebih tinggi. Tanpa batasan yang jelas mengenai jenis dan tingkat kendali dari tingkat otoritas yang lebih tinggi, kendali dan pengawasan dapat merugikan tugas dan urusan yang didesentralisasi. Oleh karena itu, dalam konsep otonomi daerah di Indonesia, intervensi yang tepat dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi dalam pelaksanaan urusan yang didelegasikan masih perlu diartikulasikan.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, definisi yang lebih jelas mengenai peran pemerintah di tingkat yang lebih tinggi dalam pelaksanaan tugas dan urusan yang didelegasikan dapat menjadi langkah maju yang besar dalam hal membedakan tugas-tugas desentralisasi dan tugas pembantuan dengan lebih baik. Di sisi lain, terdapat kemungkinan terjadinya kesalahan yang berlawanan arah dengan kontrol dan pembinaan yang terlalu ketat, yang dapat berakibat pada lumpuhnya inisiatif lokal dan mempersempit ruang untuk menangani hal-hal yang seharusnya independen. Konsep “otonomi” dan “tugas bantuan” daerah harus direvisi dengan tujuan untuk memperjelas dan membatasi kemungkinan campur tangan dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi dalam pelaksanaan tugas dan urusan yang diberikan.

  • Permasalahan yang Mendasari Perlunya Pembaharuan Sistem Perencanaan
  • Perencanaan di Masa Depan
  • Kerangka Yang Diperlukan Dalam Sistim Perencanaan Daerah
  • Pentingnya Koordinasi dan Kerjasama antara Bappenas dan Departemen Dalam Negeri

Kerangka perencanaan pembangunan daerah yang disusun di tingkat pusat harus mampu merangsang kesadaran pemerintah daerah akan tanggung jawab dan kemampuan mereka dalam menangani urusan yang menjadi kewenangannya. Pembaruan sistem perencanaan pembangunan di Indonesia memerlukan diskusi untuk mengintegrasikan pendekatan perencanaan jika diperlukan. Hal utama yang penting dalam upaya pembaharuan sistem perencanaan pembangunan daerah adalah kerjasama Kementerian Dalam Negeri dan Bappenas.

Saat ini Bappenas sedang menyusun kerangka perencanaan pembangunan nasional yang juga mencakup perencanaan pembangunan daerah. Perumusan sistem perencanaan pembangunan harus dilakukan melalui kerjasama yang erat antara semua pihak yang terlibat, terutama antara Bappenas dan Kementerian Dalam Negeri. Untuk menjamin berkembangnya sistem perencanaan pembangunan sesuai dengan konsep otonomi daerah yang dikembangkan, diperlukan komunikasi dua arah yang lebih intensif dan terfokus antara pihak-pihak yang terlibat dalam kedua upaya tersebut.

Meningkatkan Partisipasi Masyarakat

  • Memperkuat Masyarakat Madani (Civil Society): Syarat Pendukung Untuk Keberhasilan Desentralisasi
  • Memanfaatkan Organisasi-organisasi Perantara
  • Menciptakan Komunikasi Yang Lebih Baik Antara Pemerintah dan Masyarakat

Pengalaman penerapan dana saat ini menunjukkan dominasi kepala desa dan tingkat pemerintahan yang lebih tinggi dalam memutuskan penggunaan dana. Hanya hal-hal yang tidak dapat dilakukan dengan cukup baik oleh satu tingkat yang harus diberikan ke tingkat yang lebih tinggi. Sebenarnya wajar jika mengembangkan sistem pemilihan anggota dewan perwakilan masyarakat yang lebih langsung agar ada akuntabilitas anggota dewan komunitas di masa depan, namun tim GTZ tetap melihat adanya kebutuhan.

Untuk menghindari kekecewaan masyarakat dengan melibatkan mereka dalam pendekatan partisipatif yang hasilnya tidak nyata karena kurangnya respon dari tingkat yang lebih tinggi, maka perlu dilakukan upaya untuk lebih mengintegrasikan program top-down dengan aspirasi masyarakat desa. Oleh karena itu, upaya penguatan yang diperlukan adalah upaya yang lebih fokus untuk menghasilkan dampak yang berkelanjutan. Perwakilan dari semua departemen sektoral di tingkat yang lebih tinggi harus berupaya untuk mendukung upaya perencanaan di tingkat desa, daripada hanya menggunakan desa sebagai sumber data untuk kegiatan perencanaan di tingkat yang lebih tinggi.

Kurangnya akuntabilitas kepada masyarakat ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Kepala Daerah akan menjadi “Raja Kecil”. Selain itu, ketidakjelasan hubungan kerja antara Kepala Daerah, birokrasi, dan DPRD menghambat akuntabilitas terhadap masyarakat. Alat lain untuk meningkatkan akuntabilitas kepada masyarakat dapat mencakup referendum, mekanisme yang menanggapi tuntutan masyarakat, prosedur perencanaan partisipatif, dan dewan konsultatif atau penasehat.

Namun, untuk meningkatkan akuntabilitas kepada masyarakat dengan baik, upaya lain harus dilakukan secara sinkron. DPRD tidak akan menjadi lebih efektif, meski akuntabilitasnya kepada masyarakat ditingkatkan, kecuali pihak eksekutif juga diminta lebih akuntabel kepada DPRD. Semua instrumen lain yang memungkinkan untuk meningkatkan tanggung jawab daerah terhadap masyarakat dalam jangka pendek dan menengah harus dipelajari dan dikembangkan.

Elemen Lain Dari Konsep Desentralisasi Yang Lebih Komprehensif

Langkah jangka menengah untuk meningkatkan akuntabilitas sebaiknya berupa upaya seleksi calon anggota DPRD berdasarkan prinsip kedaerahan. Terkait erat dengan hal ini adalah perlunya mengembangkan sistem administrasi kepegawaian yang mendukung konsep peningkatan otonomi daerah. Salah satu cara untuk meningkatkan daya tarik jabatan daerah adalah dengan menghubungkan sistem karir daerah dengan sistem karir pusat secara lebih sistematis.

Hal ini tidak hanya akan meningkatkan jumlah personel yang lebih berkualitas di daerah, namun juga meningkatkan frekuensi mutasi PNS antara pusat dan Daerah I dan II. gelar dan dengan demikian pemahaman yang lebih baik tentang kondisi, masalah dan kebutuhan khusus di wilayah tersebut. tingkat pusat dan daerah. Selain upaya-upaya SDM yang berkaitan langsung dengan desentralisasi dan otonomi daerah sebagaimana disebutkan di atas, masih banyak tugas reformasi SDM lainnya yang dapat meningkatkan efisiensi pejabat pusat dan daerah. Analisis pekerjaan yang lebih banyak harus dilakukan untuk mendefinisikan dengan lebih jelas tugas-tugas berbagai pekerjaan dan persyaratan bagi para kandidat.

Referensi

Dokumen terkait