• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEFINISI, PENYEBAB, DAMPAK, CIRI CIRI, KEBERADAAN HADIST MAUDHU

N/A
N/A
21-051 Nabila Lubis

Academic year: 2024

Membagikan "DEFINISI, PENYEBAB, DAMPAK, CIRI CIRI, KEBERADAAN HADIST MAUDHU"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH HADIST MAUDHU`

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ulumul Hadist Dosen Pengampu:

Drs. H. M. Thoib Nasution, MA

Disusun Oleh:

Diva Nazli 24.02.0029

Annisa Thoharani 24.02.0009

Kelompok 11 Kelas PAI I-1

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA (UISU) PEMATANG SIANTAR

T.A 2024 / 2025

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan dan ketabahan bagi hamba-Nya. Serta memberi ilmu pengertahuan yang banyak agar kita tidak merasa kesulitan. Sholawat serta salam, tidak lupa penulis sanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah menyampaikan wahyu kepada umatnya yang setia sampai akhir jaman.

Makalah yang berjudul “ Hadist Maudhu`” ini, disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Ulumul Hadist di Program Studi Pendidikan Agama Islam STAI UISU Pematang siantar. Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat bantuan dan sumbangan pemikiran, serta dorongan dari berbagai pihak, tetapi tidak luput dari kendala yang begitu banyak.

Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kesalahan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami tidak menutup diri dari pembaca untuk memberi kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan dan peningkatan kualitas penyusunan makalah di masa mendatang.

Pematangsiantar, 31 Oktober 2024

Penyusun

(3)

ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi ... ii

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan ... 1

II. PEMBAHASAN ... 2

A. Pengertian Hadist Maudhu ... 2

B. Sejarah Munculnya Hadist Maudhu ... 2

C. Faktor-faktor Penyebab Munculnya Hadist Maudhu ... 2

D. Ciri-ciri Hadist Maudhu ... 4

E. Hukum Meriwayatkan Hadist Maudhu ... 5

F. Akibat Munculnya Hadist Maudhu ... 6

III. PENUTUP ... 7

A. Kesimpulan ... 7

B. Saran ... 7

Daftar Pustaka ... 8

(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hadis sebagai sumber hukum Islam setelah Alquran telah disepakati oleh ulama tokoh-tokoh umat Islam. Setiap gerak dan aktivitas umat harus dilakukan berdasarkan petunjuk yang ada dalam Alquran dan hadis. Begitu pula jika ada permasalahan yang muncul di tengah-tengah masyarakat tentu haruslah diselesaikan dengan dicarikan jalan keluarnya. Cara penyelesaian dan jangkauan yang terbaik adalah dengan berpedoman kepada Alquran dan hadis.

Namun sangat disayangkan keberadaan hadis yang benar-benar berasal dari Rasulullah SAW dinodai oleh munculnya hadis-hadis maudhu yang sengaja dibuat buat oleh orang-orang tertentu dengan tujuan dan motif yang beragam dan disebarluaskan di tengah-tengah masyarakat oleh sebagian orang dengan tujuan yang beragam pula. Meyakini dan mengamalkan hadis maudhu merupakan kekeliruan yang besar karena meskipun ada hadis maudhu yang isinya baik tetapi kebanyakan hadis palsu itu bertentangan dengan jiwa dan semangat Islam, lagi pula pembuat hadis maudhu merupakan perbuatan dusta kepada nabi Muhammad SAW.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan hadist maudhu ? 2. Bagaimana sejarah munculnya hadist maudhu ?

3. Apa sajakah faktor-faktor penyebab munculnya hadist maudhu ? 4. Bagaimana ciri-ciri hadist maudhu ?

5. Bagaimana hukum meriwayatkan hadist maudhu ? 6. Apa sajakah akibat munculnya hadist maudhu ? C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian hadist maudhu

2. Untuk mengetahui sejarah munculnya hadist maudhu

3. Untuk mengetahui faktor faktor penyebab munculnya hadist maudhu 4. Untuk mengetahui ciri ciri hadist maudhu

5. Untuk mengetahui hukum meriwayatkan hadist maudhu 6. Untuk mengetahui apa saja akibat munculnya hadist maudhu

(5)

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Hadist Maudhu

Para ahli hadits mendefenisikan bahwa hadis maudhu adalah hadis yang diciptakan dan dibuat-buat oleh orang-orang pendusta dan kemudian dikatakan bahwa itu hadis Rasulullah SAW. (Subhi Shalih, Ulumul hadts wa Musthalahuhu: 263)

Dari pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa hadis maudhu adalah segala sesuatu atau riwayat yang disandarkan pada nabi Muhammad SAW baik perbuatan, perkataan, maupun taqrir secara dibuat-buat atau disengaja dan sifatnya mengada-ngada atau berbohong. Tegasnya hadits maudhu adalah hadis yang diada-ada atau dibuat-buat.

Hadis semacam ini tentu saja tidak benar dan tidak dapat diterima tanpa terkecuali, sebab ini sesungguhnya bukan hadis, tindakan demikian adalah merupakan pendustaan terhadap nabi Muhammad SAW. Yang pelakunya diancam dengan neraka. Dan hadis ini haram untuk disampaikan pada masyarakat umum kecuali hanya sebatas memberikan penjelasan dan contoh bahwa hadis tersebut adalah maudhu (palsu).

B. Sejarah Munculnya Hadist Maudhu

Masuknya secara massal penganut agama lain ke dalam Islam yang merupakan bukti keberhasilan dakwah islamiyah ke seluruh dunia, secara tidak langsung menjadi faktor yang menyebabkan munculnya hadis-hadis palsu.

Tidak 2ata diingkari bahwa masuknya mereka ke Islam, di samping ada yang benar-benar murni tertarik dan percaya kepada ajaran Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad, tetapi ada juga segolongan mereka yang menganut agama Islam hanya karena terpaksa tunduk pada kekuasaan Islam pada waktu itu.

Golongan ini kita kenal dengan kemunafik dan zindiq.

Menurut Subhi shalih hadits maudhu mulai muncul sejak tahun 41 Hijriyah yaitu ketika terjadi perpecahan antara Ali bin Abi Tholib yang didukung oleh penduduk hijaz dan Irak dengan muawiyah bin Abi Sufyan yang didukung oleh penduduk 2atal dan Mesir umat Islam terbagi kepada beberapa firqah : Syi’ah, khawarij , dan jumhur. Karena itu menurut Subhi Shaleh bahwa timbulnya firqah-firqah dan mazhab merupakan sebab yang paling penting bagi timbulnya usaha mengada-ada khabar dan hadist.

C. Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Hadist Maudhu 1. Faktor politik

Pertentangan di antara umat Islam timbul setelah terjadinya pembunuhan terhadap Khalifah Usman bin Affan oleh para pemberontak dan kekhalifahan

(6)

3

digantikan oleh Ali bin Abi Thalib menyebabkan umat Islam pada masa itu terpecah belah menjadi beberapa golongan seperti golongan yang ingin menuntut bela terhadap kematian Khalifah Usman dan golongan yang mendukung kekhalifahan Ali.

Hadis-hadis tentang keutamaan para khalifah, pimpinan kelompok, dan aliran-aliran dalam agama. Yang pertama dan yang paling banyak membuat hadits maudhu adalah dari golongan Syi’ah dan rafidhah. Kelompok Syi’ah membuat hadits tentang wasiat nabi bahwa Ali adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah setelah beliau dan mereka menjatuhkan orang-orang yang dianggap lawan politiknya yaitu abu bakar, Umar dan lain-lain.

2. Faktor kebencian dan permusuhan

Keberhasilan dakwah Islam menyebabkan masuknya pemeluk agama lain ke dalam Islam, namun ada diantara mereka yang masih menyimpan dendam dan sakit hati melihat kemajuan Islam. Mereka inilah yang kemudian membuat hadis-hadis maudhu. Golongan ini terdiri dari golongan Zindiq, Yahudi, Majusi, dan Nasrani yang senantiasa menyimpan dendam dan benci terhadap agama Islam. Tokoh-tokoh terkenal yang membuat hadits maudhu dari kalangan orang zindiq ini adalah:

1) Abdul Karim bin Abi al-auja, telah membuat sekitar 4000 hadits maudhu tentang hukum halal haram, beliau membuat hadits untuk menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.

2) Muhammad bin said al-mashlub, yang dihukum bunuh oleh abu Ja’far Al Mashur

3) Bayan bin Sam’an Al- Mahdy yang akhirnya dihukum mati oleh Khalid bin Abdillah

3. Faktor kebodohan

Ada golongan dari umat Islam yang suka beramal ibadah namun kurang memahami agama, mereka membuat hadits-hadits madhu (palsu) dengan tujuan menari orang untuk berbuat lebih baik dengan cara membuat hadits yang berisi dorongan-dorongan untuk meningkatkan amal dengan menyebutkan kelebihan dan keutamaan dari amalan tertentu tanpa dasar yang benar melalui hadis targhil yang mereka buat sendiri. Biasanya habis palsu semacam ini menjadikan pahala yang sangat besar kepada perbuatan kecil.

Mereka juga membuat hadits maudhu yang berisi dorongan untuk meninggalkan perbuatan yang dipandangnya tidak baik dengan cara membuat hadis maudhu memberikan ancaman besar terhadap perbuatan salah yang sepele.

4. Fanatisme yang keliru

Sikap sebagian penguasa Bani Umayyah cenderung fanatisme dan rasialis, setelah ikut mendorong kalangan mawali untuk membuat hadis-hadis palsu

(7)

4

sebagai upaya untuk mempersamakan mereka dengan orang-orang Arab.

Selain itu fanatisme mazhab dan teologi juga menjadi faktor munculnya hadis palsu seperti yang dilakukan oleh para pengingat mazhab fiqh dan teologi.

5. Faktor popularitas dan ekonomi

Sebagian tukang cerita yang ingin agar apa yang disampaikannya menarik perhatian orang dia berusaha mengumpulkan orang dengan cara membuat hadis-hadis palsu yang membuat masyarakat suka dan tertarik kepada mereka, menggerakkan keinginan, juga memberikan harapan bagi mereka.

Demikian juga para pegawai dan tokoh masyarakat yang ingin mencari muka atau menjerat kepada penguasa membuat hadits-hadis maudhu untuk tujuan supaya lebih dekat dengan bunga asa agar mendapatkan fasilitas tertentu atau popularitas saja. Hasbi as siddiqi menjelaskan bahwa golongan yang membuat hadits maudhu ada 9 golongan yaitu:

1) Zanadiqah (orang-orang zindiq) 2) Penganut penganut bid’ah

3) Orang-orang dipengaruhi 4atalis kepartaian

4) Orang-orang yang ta’ashshub kepada kebangsaan. Kenegerian dan keimanan

5) Orang-orang yang dipengaruhi ta’ashshub mazhab 6) Para Qushshas (ahli riwayat dongeng)

7) Para ahli tasawuf zuhhad yang keliru

8) Orang-orang yang mencari penghargaan pembesar negeri

9) Orang-orang yang ingin memegahkan dirinya dengan dapat meriwayatkan Hadist yang diperoleh oleh orang lain

D. Ciri Ciri Hadist Maudhu

1. Ciri yang berkaitan dengan rawi/sanad :

 Periwayatnya dikenal sebagai pendusta, dan tidak ada jalur lain yang periwayatnya tsiqoh meriwayatkan hadis itu. Misalnya ketika Sa’ad ibn Dharif mendapati anaknya pulang sekolah sedang menangis dan mengatakan bahwa dari pukul gurunya, maka Sa’ad ibn Dharif berkata:

bahwa nabi SAW bersabda. Artinya: “guru anak kecil itu adalah yang paling jahat di antara kamu, mereka yang paling sedikit kasih sayangnya kepada anak yatim dan paling kasar terhadap orang miskin.”

 Periwayatnya mengakui sendiri membuat hadits tersebut. Maisarah ibn abdirrabih Alfarizi mengaku bahwa dia telah membuat hadits maudhu dengan keutamaan Alquran dan ia juga mengaku bahwa telah membuat hadits modus tentang keutamaan Ali bin Abi Tholib sebanyak 72 hadis.

(8)

5

 Ditemukan indikasi yang semakna dengan pengakuan orang yang memalsukan hadits, seperti seorang periwayat yang mengaku meriwayatkan hadits dari seorang guru yang tidak pernah bertemu dengannya. Karena menurut kenyataan sejarah guru tersebut dinyatakannya wafat sebelum ia sendiri lahir.

2. Ciri-ciri yang berkaitan dengan matan

 Kerancuan redaksi atau kerasukan maknanya.

 Berkaitan dengan kerusakan makna tersebut Ibnu jauzi berkata: Saya sungguh malu dengan adanya pemalsuan hadits. Dari sejumlah hadis palsu ada yang mengatakan:”siapa yang salat ia mendapat 70 buah gedung, pada setiap gedung ada 70.000 kamar, pada setiap kamar ada 70.000 tempat tidur, pada setiap tempat tidur ada 70 bidadari. Perkataan ini adalah rekayasa yang tak terpuji.

 Setelah diadakan penelitian terhadap suatu hadis ternyata menurut ahli hadis tidak terdapat dalam hafalan para rawit dan tidak terdapat dalam kitab-kitab hadis.

 Perkataan di atas tidak diketahui sumbernya, hadisnya menyalahi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan, seperti ketentuan akal, tidak dapat ditakwil, ditolak oleh perasaan, kejadian empiris dan fakta sejarah.

 Hadis bertentangan dengan petunjuk Alquran yang pasti.

E. Hukum Meriwayatkan Hadist Maudhu

Haram hukumnya meriwayatkan hadis maudhu dengan menyandarkan kepada nabi SAW, kecuali hanya memberikan contoh tentang hadis maudhu dengan menjelaskan kepalsuannya. Karena meriwayatkan hadits maudhu adalah salah satu bentuk dusta kepada nabi SAW. Keharaman meriwayatkan hadis maudhu ini berlaku pada semua keadaan, baik yang berkaitan dengan hal hukum, centera, targhib-tarhib (dorongan kebaikan ancaman keburukan) juga yang berkaitan dengan lainnya.

F. Akibat Munculnya Hadist Maudhu

1. Menimbulkan dan mempertajam perpecahan di kalangan umat Islam.

Suatu mazhab atau golongan yang diserang oleh pihak atau golongan lain dengan menggunakan hadis palsu berusaha membela dan mempertahankan kelompoknya, dan bahkan dengan balas menyerang kelompok penyerangannya dengan membuat hadits palsu juga. Tajamnya pertentangan ini tentu akan melemahkan persatuan dan kesatuan umat Islam dan bahkan dapat mengakibatkan umat Islam karena bercerai berai. Akibat semacam ini sungguh sangat tidak diharapkan karena umat Islam disuruh untuk bersatu sebagaimana jelaskan dalam Alquran

(9)

6

Artinya: dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah (QS. Ali Imran: 103).

2. Mencemarkan pribadi Rasulullah SAW

Munculnya hadis-hadis maudhu yang isinya kadang-kadang bertentangan dengan akal sehat,logika yang benar dan fakta yang ada dapat mencemarkan pribadi Rasulullah SAW karena dari hadis-hadis palsu itu tergambar bahwa Rasulullah SAW seolah-olah pelupa, bodoh, egois, ganti kanak-kanakan. Hal ini sangat bertentangan dengan fakta pribadi Rasulullah SAW sebenarnya.

3. Mengaburkan pemahaman terhadap Islam

Sebagaimana disebutkan terdahulu bahwa sumber Islam setelah Alquran adalah hadis Rasulullah SAW dalam hal ini tentulah bahwa nilai-nilai keislaman yang menjadi pedoman bagi umat Islam banyak bersumber dari Al hadits. Kalau hadis yang menjadi sumber itu palsu, berbeda dan bahkan bertentangan dengan Islam yang sebenarnya, akan terjadilah pemahaman yang salah terhadap Islam, sehingga Islam tidak dapat diakui dan dipercaya sebagai agama fitrah yang dapat membimbing dan membawa manusia untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan dunia dan akhirat.

4. Melemahkan jiwa dan semangat keislaman

Salah paham terhadap Islam dapat menimbulkan keraguan dan kebimbangan terhadap Islam menyelimuti umat Islam yang tentu saja hal ini dapat membawa akibat yang fatal yaitu melemahnya jiwa dan semangat keislaman. Bila jiwa dan semangat keislaman ini lemah maka dikhawatirkan kekuatan yang ada pada umat Islam akan lumpuh,lawan yang jauh lebih banyak.

(10)

7

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan kepada uraian terdahulu dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Yang dimaksud hadits maudhu (palsu) adalah segala riwayat yang dinisbahkan kepada Rasulullah SAW dengan jalan mengada-ada atau berbohong tentang apa yang tidak pernah diucapkan dan dikerjakan oleh Rasulullah SAW serta tidak pula disetujui beliau.

2. Faktor yang menyebabkan munculnya hadis maudhu adalah kebencian dan permusuhan, politik, kebodohan, popularitas, dan ekonomi.

3. Ciri-ciri hadits maudhu ialah perawinya pendusta, pengakuan dari pembuatnya, terdapat keracunan nafas dan makna. Bertentangan dengan akal sehat, bertentangan dengan Alquran dan hadis mutawatir, menyalahi fakta sejarah, menyalahi kaidah umum dan disepakati ulama, isinya sejalan dengan 7atalism perawinya, menjanjikan pahala yang sangat besar terhadap perbuatan kecil dan memberikan ancaman besar terhadap kesalahan kecil.

4. Akibat dari munculnya hadis maudhu (palsu) iyalah menimbulkan dan mempertajam perpecahan di kalangan umat Islam, mencemarkan pribadi nabi SAW, mempertajam perpecahan di kalangan umat Islam, mencemarkan pribadi nabi SAW, mengaburkan pemahaman terhadap Islam, Melemahkan jiwa dan semangat keislaman.

B. Saran

Makalah ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan bagi para pembacanya serta meningkatkan keimanan kita sebagai umat Muslim tentang hadist maudhu. Meskipun demikian, penulis masih membutuhkan saran dan kritik yang bersifat membangun agar penulisan makalah ini dapat dilanjutkan dan disempurnakan oleh penulis sendiri maupun reverensi bagi penulis lainnya.

(11)

8

DAFTAR PUSTAKA

Ajaj Al-Khathib. (1963). As-Sunnah Qabla At-Tadwin, Kairo: Cetakan Maktabah Wahbah

Hasbi Ashshiddiqy. (1981). Pokok-pokok Dirayah Ilmu Hadist, Jakarta: Bulan Bintang

Hasbi Ashshiddiqy. (1981). Sejarah & Pengantar Ilmu Hadist, Jakarta: Bulan Bintang

Musthafa Zahri. (1981). Kunci memahami Musthalah Hadist, Surabaya: Bina Ilmu

Nuruddin, (2012). Ulumul Hadist. PT Remaja Rosdakarya, Bandung: Cetakan pertama

Subhi al-Shaleh. (1997). Ulum al Hadist wa Musthalahuhu, Beirut: Darul ilm

Referensi

Dokumen terkait