3/23/24, 9:39 PM Derajat Hadits Tentang Arwah Mengunjungi Keluarga
https://muslim.or.id/34884-derajat-hadits-tentang-arwah-mengunjungi-keluarga.html 1/4
Derajat Hadits Tentang Arwah Mengunjungi Keluarga
oleh Yulian Purnama, S.Kom. 6 Desember 2017 di Hadis 4
Dikeluarkan oleh Abul Husain Ali bin Ahmad Al Hakkari dalam kitab Hadiyyatul Ahya ilal Amwat wa Maa Yashilu Ilaihim (6) dengan sanad sebagai berikut,
نﺑا نﻋ ،يرﺻﺑﻟا ﻰﺳوﻣ نﺑ ﻲﻠﻋ نﻋ يروﺑﺎﺳﯾﻧﻟا دﻣﺣﻣ نﺑ ﷲ دﺑﻋ مﺳﺎﻘﻟا وﺑأ ﺎﻧﺛ :لﺎﻗ ًﺔﺑﺎﺗﻛ ﻲﻣﻠﺳﻟا ﻰﺳوﻣ نﺑ نﯾﺳﺣﻟا نﺑ دﻣﺣﻣ نﻣﺣرﻟا دﺑﻋ وﺑأ ﺎﻧرﺑﺧأ :لﺎﻗ ؟ﻰﺗوﻣﻟا ﷲ لوﺳر ﺎﯾ يدﮭﻧ ﺎﻣو :ﺎﻧﻠﻗ ، ((مﻛﺎﺗوﻣﻟ اودھا)) :مﻠﺳو ﮫﯾﻠﻋ ﷲ ﻰﻠﺻ ﷲ لوﺳر لﺎﻗ :لﺎﻗ ،ةرﯾرھ ﻲﺑأ نﻋ ،نادرو نﺑ ﻰﺳوﻣ نﻋ ،ﺞﯾرﺟ لﻛ يدﺎﻧﯾﻓ مﮭﺗوﯾﺑو مھرود ءاذﺣﺑ نوﻔﻘﯾﻓ ﺎﯾﻧدﻟا ءﺎﻣﺳ ﻰﻟإ ﺔﻌﻣﺟ لﻛ نوﺗﺄﯾ نﯾﻧﻣؤﻣﻟا حاورأ نإ)) :مﻠﺳو ﮫﯾﻠﻋ ﷲ ﻰﻠﺻ ﷲ لوﺳر لﺎﻗ مﺛ ((ءﺎﻋدﻟاو ﺔﻗدﺻﻟا)) ﺎﻣو ،ﺎﻧﺗﻠﯾﺣ ﺔﻠﻗو ،ﺎﻧﺗﺑرﻏ اوﻣﺣراو ،ﺎﻧوﺳﻧﺗ ﻻو ﺎﻧورﻛذاو ،ﷲ مﻛﻣﺣر ،ءﻲﺷﺑ ﺎﻧﯾﻠﻋ اوﻔطﻋا ،ﻲﺗﺎﺑارﻗو ﻲﺗﯾﺑ لھأو يدﻟوو ﻲﻠھأ ﺎﯾ :نﯾزﺣ توﺻﺑ مﮭﻧﻣ دﺣاو نأ لﺑﻗ ﺎﻧﺣرﯾ ﷲ لﻌﻟ ،ﺢﯾﺑﺳﺗ وأ ﺔﻗدﺻ وأ ءﺎﻋدﺑ ﺎﻧﯾﻠﻋ اوﻠﺧﺑﺗ ﻻو ،ﷲ مﻛﻣﺣر ﺎﻧوﻣﺣرﺎﻓ ،دﯾدﺷ نھوو ،لﯾوط مﻏو ،ﻖﯾﺛو ﻖﯾﺣﺳ ﻲﻓ ﺎﻧﯾﻘﺑ دﻗ ﺎﻧﺈﻓ ،ﮫﯾﻓ نﺣﻧ ﻲﻓ ﻖﻔﻧﻧ مﻟ ﺎﻧﻛو ،ﺎﻧﯾدﯾأ ﻲﻓ تﻧﺎﻛ مﻛﯾدﯾأ ﻲﻓ ﻲﺗﻟا لوﺿﻔﻟا هذھ نأ نوﻣﻠﻌﺗ مﺗﻧﺄﻓ ،ﺎﻧوﺳﻧﺗ ﻻو ،ﺎﻧﻣﻼﻛ اوﻌﻣﺳا ،ﷲ دﺎﺑﻋ ﺎﯾ هﺎﻣادﻧاو هﺎﺗرﺳﺣ ﺎﯾﻓ ،ﺎﻧﻟﺎﺛﻣأ اوﻧوﻛﺗ ((ﺎﻧﯾﻠﻋ بﺎﻘﻌﻟاو بﺎﺳﺣﻟاو ،ﺎﻧرﯾﻐﻟ ﮫﺗﻌﻔﻧﻣو ﺎﻧﯾﻠﻋ ًﻻﺎﺑو رﺎﺻﻓ ﻖﺣﻟا نﻋ ﺎھﺎﻧﻌﻧﻣو ،ﷲ ﺔﻋﺎط Abu Abdirrahman Muhammad bin Al Husain bin Musa As Sulami secara kitabah, ia berkata, Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi menuturkan kepadaku, dari Ali bin Musa Al Bashri, dari Ibnu Juraij, dari Musa bin Wirdan, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
“Kirimlah hadiah untuk orang-orang yang meninggal di antara kalian.” Para sahabat bertanya, “Apa yang
3/23/24, 9:39 PM Derajat Hadits Tentang Arwah Mengunjungi Keluarga
https://muslim.or.id/34884-derajat-hadits-tentang-arwah-mengunjungi-keluarga.html 2/4
kami kirimkan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Sedekah dan doa.”Kemudian Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya arwah-arwah kaum mu’minin itu datang setiap hari Jum’at ke langit dunia, lalu mereka berdiri di atas sandal-sandal rumah mereka atau di rumah mereka. Lalu setiap mereka memanggil-manggil dengan suara yang sedih, “wahai keluargaku, wahai anakku, wahai ahli baitku, wahai kerabatku, kasihilah dengan sesuatu, semoga Allah merahmati kalian. Ingatlah kami dan janganlah kalian lupa kepada kami. Kasihilah kesendirian kami dan ketidak-mampuan kami untuk
melakukan apa-apa, tidak ada yang bisa kami lakukan lagi. Karena sekarang kami tinggal di alam yang jauh dan mengikat, yang suram dan lama, dan dalam kelemahan yang sangat lemah, maka kasihilah kami semoga Allah merahmati kalian. Dan janganah kalian pelit dalam memberikan doa, sedekah atau tasbih kepada kami. Semoga Allah mengasihi kami sebelum kalian menjadi semisal kami. Jangan sampai menyesal wahai hamba Allah. Dengarlah perkataan kami, jangan lupakan kami. Kalian tahu benar bahwa karunia yang kalian miliki sekarang dulu ada di tangan kami. Kami dahulu tidak menginfakkannya dalam ketaatan kepada Allah, kami tidak membelanjakannya dalam kebenaran. Sehingga semua itu menjadi bencana bagi kami sekarang dan manfaat harta-harta itu malah didapatkan oleh orang lain. Sedangkan adzab dan hukumannya ditimpakan atas kami.”
Riwayat ini disebutkan juga dalam I’anatut Thalibin (2/161) karya Ad-Dimyathi tanpa sanad dengan lafadz, نﻣ ﺎﯾ .يدﻟوو ،ﻲﺑرﺎﻗأو ،ﻲﻠھأ ﺎﯾ .ةرﻣ فﻟأ نﯾزﺣ توﺻﺑ ﺎﮭﻧﻣ دﺣاو لﻛ يدﺎﻧﯾو ،ﺎﮭﺗوﯾﺑ ءاذﺣﺑ فﻘﺗو ﺎﯾﻧدﻟا ءﺎﻣﺳ ﻰﻟإ ﺔﻠﯾﻟ لﻛ ﻲﻓ ﻲﺗﺄﺗ نﯾﻧﻣؤﻣﻟا حاورأ نأ
ﺎﻧﻟاوﻣأ اوﻣﺳﺗﻗاو ،ﺎﻧﺑﺎﯾﺛ اوﺳﺑﻟو ،ﺎﻧﺗوﯾﺑ اوﻧﻛﺳ
“Sesungguhnya arwah-arwah kaum mu’minin itu datang ke langit dunia setiap malam, lalu mereka berdiri di atas sandal-sandal rumah mereka. Lalu mereka memanggil-manggil dengan suara yang sedih sebanyak 1000 kali: ‘wahai keluargaku…’, ‘wahai kerabatku…’, ”wahai anakku…’. ‘Wahai orang-orang yang tinggal di rumah-rumah kami…’, ‘wahai orang-orang yang memakai baju-baju kami…’, ‘wahai orang-orang yang membagi harta-harta kami…’”
Disebutkan juga dalam Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khathib atau dikenal dengan Hasyiyah Al Bujairimi ‘ala Khathib (2/301) karya Al Bujairimi tanpa sanad. Al Bujairimi menyandarkan riwayat ini kepada Al Jami’ Al Kabir namun –wallahu a’lam– tidak kami temukan riwayat tersebut dalam Al Jami’ Al Kabir karya As Suyuthi.
Walhasil, tidak ada sanad lain selain sanad di atas yang kami temukan. Dan dari sini juga kita ketahui bahwa hadits ini tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad,
Jika kita teliti sanad di atas, sangat bermasalah.
Masalah 1:
Ibnu Juraij (Abdul Malik bin Abdil Aziz Al Qurasyi) tidak meriwayatkan dari Musa bin Wirdan. Ibnu Adi mengatakan:
ﮫﺳﻟد دﻗ نوﻛﯾ ثﯾدﺣﻟا اذھ ﻰﺳوﻣ نﻋ ﺞﯾرﺟ نﺑا ىور اذﺈﻓ
“Jika Ibnu Juraij meriwayatkan dari Musa, maka haditsnya ini terkadang merupakan tadlis Ibnu Juraij” (Al Ilal Al Waridah fil Ahadits An Nabawiyyah, 8/318).
3/23/24, 9:39 PM Derajat Hadits Tentang Arwah Mengunjungi Keluarga
https://muslim.or.id/34884-derajat-hadits-tentang-arwah-mengunjungi-keluarga.html 3/4
Al Albani ketika menjelaskan maudhu’-nya hadits:
ًادﯾﮭﺷ تﺎﻣ ًﺎﺿﯾرﻣ تﺎﻣ نﻣ
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan sakit, ia mati syahid”
Beliau mengatakan:
دﻣﺣﻣ نﺑ مﯾھارﺑإ دﻧﺳﻟا نﻣ طﻘﺳﺄﻓ ،ﮫﺑ نادرو نﺑ ﻰﺳوﻣ نﻋ ﺞﯾرﺟ نﺑا ﺎﻧﺛدﺣ :لﺎﻘﻓ يؤﻟؤﻠﻟا دﺎﯾز نﺑ نﺳﺣﻟا مﮭﻔﻟﺎﺧ
“Al Hasan bin Ziyad Al Lu’lui menyelisihi riwayat ini, ia berkata: Ibnu Juraij menuturkan kepada kami, dari Musa bin Wirdan dan seterusnya. Al Hasan menggugurkan Ibrahim bin Muhammad (antara Ibnu Juraij dan Musa bin Wirdan) dalam sanad ini” (Silsilah Ahadits Adh Dha’ifah, 10/191).
Maka jelas bahwa Ibnu Juraij tidak meriwayatkan dari Musa bin Wirdan, sehingga ada inqitha‘ dalam riwayat ini.
Masalah 2:
Ali bin Musa Al Bashri dan Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi, keduanya majhul haal. Tidak ditemukan adanya jarh atau ta’dil tentang mereka.
Juga tidak diketahui bahwa Ali bin Musa Al Bashri adalah di antara yang meriwayatkan hadits dari Ibnu Juraij. Pula, tidak diketahui bahwa Muhammad bin Al Husain bin Musa Al Sulmi meriwayatkan dari Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi.
Masalah 3:
Muhammad bin Al Husain bin Musa Al Sulmi, seorang syaikh sufi, ia perawi yang lemah. Adz Dzahabi berkata,
ةدﻣﻌﺑ سﯾﻟو ﮫﯾﻓ اوﻣﻠﻛﺗ .مھرﯾﺳﻔﺗو مﮭﺗﺎﻘﺑطو مﮭﺧﯾرﺎﺗ بﺣﺎﺻو ﺔﯾﻓوﺻﻟا ﺦﯾﺷ
“Beliau seorang Syaikh sufi. Ulama tarikh, biografi dan tafsir di kalangan sufi. Para ulama hadits mengkritisi riwayatnya, dan ia tidak bisa dijadikan sandaran” (Lisanul Mizan, 6695).
Hadits ini juga sebagaimana sudah dijelaskan, tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad dan dikenal. Seperti kitab-kitab shahih, kitab-kitab sunan, kitab-kitab musnad, kitab-kitab jami’, dan lainnya. Dan ini merupakan indikator kelemahan bahkan kepalsuan hadits. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika
menjelaskan kelemahan hadits seputar ziarah kubur Nabi beliau berkata,
بﺎﺑرأ ﻻو ،كﻟذ نﻣ ًﺎﺋﯾﺷ ﺢﯾﺣﺻﻟا بﺎﺑرأ جرﺧﯾ مﻟو ،ﺔﻓرﻌﻣﻟا لھأ دﻧﻋ ﺢﯾﺣﺻ ثﯾدﺣ -مﻠﺳو ﮫﯾﻠﻋ ﷲ ﻰﻠﺻ- هرﺑﻗ ةرﺎﯾز ظﻔﻠﺑ تﯾور ﻲﺗﻟا ثﯾدﺎﺣﻹا ﻲﻓ سﯾﻟ دﻧﺳﻣ ﻻو ،كﻟﺎﻣ ﺄطوﻣ ﻲﻓ ﻻو ،هرﯾﻏو دﻣﺣأ دﻧﺳﻣﻛ ؛سﻧﺟﻟا اذھ نﻣ ﻲﺗﻟا دﻧﺎﺳﻣﻟا لھأ ﻻو ،مھوﺣﻧو يذﻣرﺗﻟاو ﻲﺋﺎﺳﻧﻟاو دواد ﻲﺑأ نﻧﺳﻛ ،ةدﻣﺗﻌﻣﻟا نﻧﺳﻟا هرﺑﻗ ةرﺎﯾز رﻛذ ﮫﯾﻓ ثﯾدﺣﺑ -مھرﯾﻏو دﻣﺣأو ﻲﻌﻓﺎﺷﻟاو كﻟﺎﻣو ﺔﻔﯾﻧﺣ ﻲﺑﺄﻛ- نﯾﻣﻠﺳﻣﻟا ﺔﻣﺋأ نﻣ مﺎﻣإ ﺞﺗﺣا ﻻو ،كﻟذ نﻣ ءﻲﺷ كﻟذ وﺣﻧو ﻲﻌﻓﺎﺷﻟا
“Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan mengandung lafadz ‘ziarah kubur Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam‘ tidak ada yang shahih menurut para ulama hadits. Hadits-hadits seperti ini tidak pernah
3/23/24, 9:39 PM Derajat Hadits Tentang Arwah Mengunjungi Keluarga
https://muslim.or.id/34884-derajat-hadits-tentang-arwah-mengunjungi-keluarga.html 4/4
dibawakan oleh pemilik kitab Shahih, tidak juga pemilik kitab Sunan yang menjadi pegangan, seperti Sunan An Nasa-i atau semacamnya, tidak juga kitab Musnad yang menjadi pegangan, seperti Musnad Ahmad atau semacamnya, tidak juga kitab Muwatha Malik, tidak juga kitab Musnad Asy Syafi’i atau semacamnya.
Hadits-hadits seperti ini tidak pernah dipakai para Imam Mazhab dalam berhujjah. Yaitu hadits yang didalamnya disebut lafadz ziarah kubur Nabi” (Majmu’ Fatawa, 216/27).
Dengan demikian, kesimpulannya hadits ini adalah hadits yang dhaif jiddan (sangat lemah). Dan tidak boleh meyakini suatu hal yang terkait dengan perkara gaib semisal dengan apa yang ada dalam riwayat ini kecuali dengan dalil yang shahih.
Wallahu ta’ala a’lam.