• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deteksi Serangan DDOS Pada Jaringan SDN dengan Metode Random Forest

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Deteksi Serangan DDOS Pada Jaringan SDN dengan Metode Random Forest"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Deteksi Serangan DDOS Pada Jaringan SDN dengan Metode Random Forest

Ardhian Ekawijana1, Akhmad Bakhrun1,*, M Teguh Kurniawan2

1Jurusan Teknik Komputer dan Informatika,Teknik Informatika, Politeknik Negeri Bandung, Bandung Barat, Indonesia

2Fakultas Rekayasa Industri, Sistem Informasi, Universitas Telkom, Bandung, Indonesia

Email: 1[email protected], 2,*[email protected], 3[email protected] Email Penulis Korespondensi: [email protected]

Abstrak−Distributed Denial Service (DDoS) Attack adalah upaya dari penyerang untuk melumpuhkan sistem jaringan dengan cara membanjirinya dengan request. Sistem yang sibuk dapat membuat turun dalam performansi dan bahkan lumpuh. Software Defined Service (SDN) merupakan paradigma baru dalam membuat sebuah jaringan didalam suatu area tertentu. SDN dengan segala keunggulan dan fleksibilitasnya dalam penerapannya menjadi suatu menarik untuk diterapkan, namun tetap meninggalkan masalah keamanan yang besar terutama rentan diserang oleh DDoS. Penelitian kali ini akan membuat pendekteksian sebuah request tertentu merupakan DDoS atau bukan. Random Forest adalah metode pengembangan dari Decision Tree untuk mengklasifikasikan suatu request atau paket data itu serangan atau bukan. Random Forest sebagai metode pengembangan dari metode sebelumnya menutupi kelemahan overfiting. Hasil dari penelitian kali ini adalah 98% untuk nilai akurasi.

Kata Kunci: DdoS; Random Forest; SDN; Deteksi; Akurasi

Abstract−Distributed Denial Service (DDoS) Attack is an attempt by an attacker to paralyze a network system by flooding it with requests. A busy system can cause a drop in performance and even crash. Software Defined Service (SDN) is a new paradigm in creating a network in a certain area. SDN, with all its advantages and flexibility in implementation, is attractive to implement, but still leaves major security problems, especially being vulnerable to DDoS attacks. This research will detect whether a particular request is DDoS or not. Random Forest is a method for developing Decision Trees to classify whether a request or data packet is an attack or not. Random Forest as a development method from the previous method covers the weakness of overfitting. The results of this research were 98% for accuracy values.

Keywords: DoS; Random Forest; SDN; Detection; Accuracy

1. PENDAHULUAN

Keamanan dalam dunia maya adalah sebuah keharusan yang ada. Data sensitif terkadang bisa dibobol begitu mudahnya oleh tangan-tangan tidak bertanggung jawab karena ketidakpedulian kita pada keamanan Sistem Informasi. Data yang mudah dibobol, sistem yang dibuat sibuk atau down merupakan masalah-masalah yang ada dalam keamanan di dunia Maya.

Software Defined Network (SDN) adalah sebuah konsep baru dalam merencanakan, mengelola, mengimplementasikan jaringan, terutama dengan kebutuhan perubahan dalam sebuah tata kelola jaringan di sebuah perusahaan yang menuntut dinamis dan adaptif. Konsep dasar SDN [1] adalah memisahkan antara control dan forwarding plane.

SDN memiliki keunggulan yaitu penyediaan jaringan secara terpusat, sehingga membantu kosolidasi dalam mengatur jaringan secara terpadu, biaya operasional yang rendah, kepengaturan lebih utuh. Namun ditengah kemudahannya ada juga yang menjadi kekurangannya adalah : Membutuhkan dana , tenaga yang besar untuk mengubah sistem yang existing kepada sistem SDN, Pegawai perlu ditraining untuk memahami SDN [2], Tools baru yang ada, dan Keamanan menjadi Issue yang kuat.

SDN selain dengan segala kemudahannya namun juga menjadi sasaran empuk untuk terjadinya DDoS (Distributed Denial of Service). DDoS merupakan bentuk serangan yang mengirimkan paket secara terus menerus kepada mesin atau jaringan komputer. DDoS bertujuan untuk membuat sistem sibuk dengan request yang diminta.

Sistem akhirnya terasa lambat atau mungkin sampai tidak bisa diakses karena sibuknya [3].

Berbeda dengan jaringan konvensional dimana semua paket harus melewati firewall secara fisik terlebih dahulu sebelum masuk, maka jika terhalang firewall maka tidak bisa masuk. Jaringan SDN, firewall berada di kontroler sehingga harus ada sumber daya yang dikonsumsi. Yang mengakibatkan DDoS dapat bekerja di jaringan SDN.

Kasus yang digali adalah klasifikasi paket data apakah berupa serangan atau bukan dengan menggunakan teknik data mining [4]. Data mining kali ini dengan menggunakan Random Forest [5]. Random Forest dipilih karena secara umum memiliki Akurasi yang tinggi , lebih mampu menjabarkan dengan parameter yang banyak, dan tidak terjadi overfit dengan banyak features dibandingkan dengan metode Decision Tree.

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model dengan menggunakan metode Random Forest dalam mendeteksi sebuah paket data yang lewat berupa serangan atau bukan. Harapannya deteksi ini adalah dapat meredam bahkan mentiadakan adanya kemungkinan DDoS. Penelitian ini sangat dibutuhkan oleh System Network Administrator untuk mengamankan Sistem Jaringan yang menggunakan SDN agar lebih aman dari serangan DDoS. DDdos akan terdeteksi oleh sistem ini sehingga tidak bisa menembus sistem SDN lebih lanjut. Perbedaan

(2)

dengan riset sebelumnya adalah dengan menggunakan metode Random Forest. Penelitian sebelumnya menggunakan metode Entropy [6].

2. METODOLOGI PENELITIAN

2.1 Tahapan Penelitian

Klasifikasi data dan informasi adalah pokok dari proses penelitian kali ini, adapun tahapan untuk klasifikasi data dan informasi adalah [7]:

Gambar 1. Alur Klasifikasi Data

Model dalam klasifikasi adalah sesuatu yang pokok. Pencarian model yang akurat menjadi keharusan.

Model yang akurat dan cepat memprediksi data sangat dibutuhkan. Model dipergunakan untuk mengklasifikasi data selanjutnya agar lebih cepat dan tepat karena selanjutnya menggunakan komputer. Kebutuhan akan proses data mining yang dikoputerisasi menjadi sebuah keharusan, karena banyaknya data sekarang yang bisa mencapai Tera Data per Day. Data yang dinasukan ke dalam data latih untuk mencapai model, harus dipastikan data yang dimasukan bersih, sudah ditransformsikan dan sesuai dengan kebutuhan model. Proses awal untuk memastikan data dalam keadaan siap digunakan adalah proses Preprocessing.

a. Preprocessing

Proses yang memastikan data dalam keadaan siap dimasukan dalam data latih. Proses ini memastikan data tidak ada duplikat, data sudah standar dan sudah di normaslisasi. Data yang belum siap akan mengakibatkan tidak tercapainya model yang diinginkan. Model yang diinginkan haruslah sesuai dengan keadaan sebenarnya klasifikasi data dan informasi pada data history [8].

b. Training

Model yang dicari adalah model yang sesuai dengan data latih. Klasifikasi sukses dilakukan manakala model yang didapat memiliki akurasi yang baik dalam keadaan training ataupun testing. Pencarian model disebut juga dengan proses Training.

c. Testing

Model yang sudah selesai dilatih dan memiliki akurasi latih tinggi di testing dengan data diluar data latih namun tetap menggunakan data asli dari klasifikasi. Model yang baik akan mengeluarkan nilai akurasi yang tinggi untuk proses ini sebaliknya jika model mengeluarkan hasil jelek maka model akurasinya tidak baik.

2.2 Metode

Lautan data yang ada dewasa ini merupakan harta karun yang bisa digali lagi menjadi informasi yang bermanfaat.

Data mining adalah sebuah cara untuk mendapatkan harta karun informasi tersebut. Proses ini erat hubungannya dengan proses penambangan mineral yang dibutuhkan. Ada beberapa proses yang wajib dilakukan dan bahkan beberapa berat yang harus dilakukan, sehingga mendapatkan mineral murni yang dibutuhkan, proses untuk mendapatkannya ialah [9] :

a. Data Cleaning, proses untuk membersihkan dari data-data yang tidak lengkap, duplikat atau data salah yang tidak mendukung terhadap pemurnian mendapatkan informasi. Proses ini adalah proses membuah semua hal yang tidak berhubungan dengan proses inti.

b. Data Integration, proses untuk menggabungkan data dari berbagai sumber, seperti internal data dan eksternal data baik berupa medsos, annual report Perusahaan lain dan website berita.

c. Data Selection, proses untuk memilih data yang berkesesuaian dengan maksud informasi yang akan didapatkan, yaitu berupa parameter yang menunjang terhadap informasi.

d. Data Transformation, proses mengubah data menjadi satu bentuk yang sama sesuai kesepakatan.

e. Data Mining, proses untuk mendapatkan model yang diharapkan digunakan sebagai acuan memprediksi data lainnya dikemudian hari.

f. Pattern Evaluation, proses untuk mengevaluasi model yang didapat apakah mampu memberikan nilai akurasi yang baik dalam memprediksi data lain diluar data latihnya.

g. Knowledge Presentation. proses untuk memberikan tampilan yang memudahkan user untuk mengambil inti informasi dan digunakan untuk kepentingan tertentu.

Dalam mencari harta karun informasi yang berguna diatas adalah langkah-langkah baku yang harus ditempuh. Langkah tersebut dapat ditempuh semuanya atau melihat keadaan yang ada. Keadaaan yang ada adalah melihat sudah sebaik apa data yang diterima, jika sudah baik dan tidak harus ada proses cleaning, integration dan selection maka bisa langsung dilanjut proses berikutnya. Langkah diatas bisa menjadi sebuah ceklis dalam penerapannya. Fungsi data mining memiliki berbagai lingkup dalam penelitian ini kita akan menggunakan classification dalam mendeteksi adanya serangan atau tidak, selain mendeteksi juga ada proses mitigasi [10].

Perbedaannya adalah bagaimana di proses mitigasi digunakan model deteksi agar tidak ada yang kena serangan.

Preprocessing Training Testing

(3)

2.3 Classification

Classification adalah proses untuk pengklasifikasian data, klasifikasi yang ada berdasarkan pengalaman atau bukti empiris yang ada. Proses klasifikasi data pada data mining adalah bagaimana proses klasifikasi ini dapat dilakukan dengan otomasi tanpa adanya campur tangan manusia. Proses otomasi yang dimaksud adalah dengan menemukan modelnya terlebih dahulu. Model didapat dari pelatihan dengan menggunakan data klasifikasi yang ada.

Klasifikasi yang ada biasanya berupa data histori sebelumnya. Model terbaik hasil pelatihan digunakan untuk memprediksi data yang belum ada label [9]. Metode klasifikasi Random Forest adalah salah satu metode yang ada digunakan dalam penelitian ini.

2.4 Decision Tree

Decision Tree adalah algoritma learning [11]. Algoritma ini outputnya adalah berupa pohon keputusan yang dibuat dari data yang ada. Struktur pohon seperti diagram alir keputusan, setiap simpul menunjukan tes pada simpul [12], setiap cabang memegang peranan arah aliran keputusan dan pada node daun merupakan kelas label dari hasil keputusannya [9].

Gambar 2. Sebuah Pohon Keputusan dengan konsep membeli komputer.

Dalam mencari pohon keputusan ada cara untuk mendapatkannya. Algoritma untuk mencari pohon keputusan membutuhkan 3 parameter. Parameter tersebut adalah :

1. D, Kita menyebut D sebagai data partisi, berupa data set yang lengkap dengan baris-baris yang ada dan label kelas (label hasil keputusan) yang terkait.

2. List Atribut, List atribut adalah daftar atribut yang mengambarkan baris yang ada.

3. Atribut yang terseleksi, adalah metoda yang digunakan untuk proses seleksi atribut yang terbaik.

2.4.1 Attribute Selection Measures

Pemilihan Atribut untuk pohon keputusan menggunakan algoritma heuristik. Pemilihan tersebut digunakan untuk memilih atribut yang terbaik. Atribut terbaik dipisahkan dari D dan class-keputusan menjadi satu atribut yang terseleksi.

2.4.2 Information Gain

Information Gain, adalah ukuran untuk menyeleksi atribut D untuk mendapatkan yang terbaik. Setiap node N merepresentasikan baris-baris partisi D. Atribut diberikan nilai dengan rumus :

Info(D) = − ∑mi=1pilog2(pi) (1) Sekarang, misalkan kita membagi baris-baris di D pada beberapa atribut A yang memiliki nilai yang berbeda {a1, a2, a3, … . av} dengan partisi sebanyak v, seperti yang diamati dari data pelatihan. Jika A bernilai diskrit, Nilai-nilai ini langsung dapat dipartisi menjadi D dengan himpunan partisi {D1, D2, D3, … . Dv} jumlah partisi ini akan sesuai dengan cabang yang akan tumbuh dari sumpul tersebut. Rumus untuk menghitung nilai Information Gain untuk setiap partisi adalah :

InfoA(D) = ∑ |Dj|

|D|

v

j=1 x Info(Dj) (2)

Information Gain didefinisikan sebagai perbedaan antara informasi yang original dan Kebutuhan yang baru.

Adapun seberapa banyak yang dibutuhkan pada informasi yang ada dihitung dengan :

Gain(A) = Info(D) − InfoA(D) (3)

2.5 Random Forest

Random Forest dapat dianggap sebagai gabungan dari beberapa pohon keputusan (Decision Tree). Idenya adalah untuk menggabungkan hasil prediksi dari setiap pohon dengan melakukan voting. Ini membantu model yang

(4)

dilatih menggunakan hutan acak untuk menggeneralisasi lebih baik dengan populasi yang lebih besar. Selain itu jadi tidak overfitting / varian tinggi. Berikut adalah langkah-langkahnya adalah [13] :

1. Ambil sampel acak ukuran N (pilih secara acak dengan pergantian - bootstrap)

2. Tumbuhkan pohon keputusan dari sampel yang ada dengan pertimbangan sebagai berikut : a. Pilih M fitur secara acak dari semua fitur

b. Buat pohon dengan membagi data menggunakan fitur M berdasarkan fungsi objektif (memaksimalkan gain informasi)

3. Ulangi langkah -langkah di atas untuk jumlah k pohon seperti yang ditentukan.

4. Kumpulkan hasil prediksi dari pohon yang berbeda dan dapatkan prediksi akhir berdasarkan suara mayoritas atau rata-rata. Berikut Ilustrasi Algorritma Random Forest :

Many trees are created using random subsets of features and bootstrapped data

Text

Each Tree votes by predicting target class

Votes are tallied to reach the final prediction

Gambar 3. Ilustrasi Algoritma Random Forest [13]

2.6 Software Defined Networking

SDN adalah Software Defined Networking, merupakan manajemen jaringan yang mengelola semuanya secara terpusat. Sistem ini dapat dengan mudah memberikan data dan informasi berkenaan masalah yang terjadi pada hardware dan jaringan, karena semuanya terpentau secara terpusat. SDN memiliki kecerdasan manajemen yang terpusat. Jaringan SDN memiliki pengontrol sebagai pusat kecerdasan untuk memberikan perintah dan data yang terjadi sampai pada tahap informasi, karena sudah berupa statistik dan analisis [14]. Ini menggunakan API (antarmuka pemrograman aplikasi) untuk memprogram jaringan Anda secara cerdas melalui kontrol terpusat.

Perangkat keras yang mendasari (perangkat jaringan) dan teknologi terkait masih ada, tetapi kita dapat memprogramnya secara terpusat. Hasilnya, Anda dapat mengelola dan memecahkan masalah seluruh jaringan secara terus-menerus dan mudah dengan fleksibilitas dan kecepatan.

2.7 API (Application programming interface)

API adalah perangkat lunak di antara dua aplikasi dan dua komputer yang memungkinkan untuk berkomunikasi satu sama lain. API adalah sebuah protokol atau tatacara untuk saling memahaminya dua komputer atau aplikasi sehingga terjalin sebuah atau beberapa kegiatan yang harmonis sesuai tujuan yang menugaskan. API biasanya berada pada aplikasi atau webserver. API kali ini menjadi interface atau jembatan antara aplikasi dan perangkat keras yang ada.

2.8 SDN Arsitektur

Aplikasi SDN adalah program yang secara jelas, segera, dan terprogram berkomunikasi dengan peralatan jaringannya sesuai kebutuhan dan jaringan yang diinginkan ke Pengontrol SDN melalui API (antarmuka pemrograman Aplikasi). Aplikasi memberikan tampilan yang memudahkan proses yang selama ini abstrak dengan adanya informasi dari setiap kontrol proses yang ada pada setiap bagian.

Pengontrol SDN adalah bagian yang menerima perintah dari SDN dan menjadi jembatan kepada perangkat keras dan jaringan yang ada. Pengontrol juga berfungsi untuk mendapatkan data dan informasi tentang kedaaan

(5)

perangkat keras dan jaringan terkini dan memberikan timbal balik ke aplikasi SDN. Informasi yang ada termasuk sudah mencangkup statistic dan kejadian penting yang terjadi.

SDN Datapath: – Perangkat jaringan SDN mengontrol kemampuan penerusan dan pemrosesan data untuk jaringan. Ini termasuk penerusan dan pemrosesan jalur data.

SD N A rc hi tec tu re

SDN Orchestration Tools Business Applications

APPLICATION PLANE Eg(OpenStack, CloudStack)

SDN Controller CONTROL LAYER

INFRASTRACTURE LAYER

Netwok Devices Netwok Devices Netwok Devices

Gambar 4. SDN Arsitektur [14]

Kontrol SDN ke Data-Plane Interface (CDPI): – SDN CDPI adalah antarmuka yang didefinisikan di antara SDN Controller dan SDN Datapath, yang menyediakan setidaknya. Kontrol terprogram dari semua operasi penerusan

1) Iklan kemampuan 2) Pelaporan statistik 3) Pemberitahuan acara

4) SDN Advantage or DisAdvantage 2.9 SDN Advantage

Penyediaan jaringan terpusat: – SDN membantu Anda mengkonsolidasikan manajemen jaringan Anda dengan memberikan perspektif terpadu di seluruh jaringan. SDN juga dapat mempercepat pengiriman layanan dan meningkatkan ketangkasan dalam penyediaan perangkat jaringan virtual dan fisik di lokasi pusat [14].

Biaya pengoperasian yang lebih rendah: – Memiliki administrasi yang mudah dan terawasi, optimalisasi server, dan monitoring yang lebih deskriptif, SDN menurunkan biaya operasional dan perawatan [15]. Otomasi, pengawasan, dan monitoring dilakukan terpusat, sehingga memudahkan dan memakan biaya yang kecil [16], [17].

Manajemen perusahaan holistik: – SDN membantu Anda menyesuaikan konfigurasi perangkat jaringan Anda tanpa berdampak pada jaringan Anda saat ini. Juga, tidak seperti Protokol Manajemen Jaringan Sederhana (SNMP), pengelolaan sakelar fisik dan virtual serta perangkat jaringan yang berasal dari pengontrol pusat.

Keamanan yang lebih terperinci: – Dengan menetapkan titik kontrol pusat untuk mengatur keamanan dan informasi kebijakan untuk jaringan perusahaan Anda, pengontrol SDN dengan cepat menjadi keuntungan bagi jaringan Anda.

Penghematan perangkat keras dan pengurangan pengeluaran modal: – Dengan mengikuti instruksi dari pengontrol SDN, perangkat keras yang lebih tua dapat digunakan kembali sementara perangkat keras yang lebih murah dapat digunakan untuk efek yang optimal. Proses ini memungkinkan perangkat baru menjadi kotak putih [18].

Pengiriman konten yang konsisten dan tepat waktu: – Salah satu manfaat terbesar SDN adalah kemampuannya untuk memanipulasi lalu lintas data. Penting untuk memiliki kualitas layanan Voice over Internet Protocol (VoIP) dan layanan transmisi multimedia jika Anda dapat mengarahkan dan mengotomatiskan lalu lintas data. SDN juga membantu Anda mengukus video berkualitas lebih tinggi.

2.10 Disadvantage of SDN

Kelemahan pada SDN adalah sebagai berikut [14] :

1. Diperlukan perubahan di seluruh infrastruktur jaringan untuk mengimplementasikan protokol SDN dan pengontrol SDN. Ini membutuhkan konfigurasi ulang jaringan yang lengkap. Ini meningkatkan biaya karena konfigurasi ulang.

2. Staf Perlu dilatih.

3. Alat manajemen baru perlu diadakan dan setiap orang harus dilatih untuk menggunakannya.

(6)

4. Keamanan adalah tantangan besar di SDN.

2.11 DDOS

Denial of Service (DoS) menyerang dengan membuat trafik agar sumber daya yang ada tidak tersedia lagi dengan tujuan tertentu .Beragam cara untuk menjadikan layanan tidak tersedia, yaitu dengan pemrograman, mengacaukan sumber daya, membuat program, atau membuat paket jaringan palsu. Layanan tidak akan tersedia lagi jika diserang dengan jumlah yang banyak karena menjadi busy, dengan cara yang sama juga jika kerentanan dalam membuat program diserang agar bisa menjadi down, dan lambat laun dapat menjadikan sumber daya yang digunakan akan boros [19].

Penyerang menyerang hal yang menjadi kelemahan disaat membuat program, memasukan kode tambahan dan terbawa dieksekusi sesuai keinginannnya. Terkadang tujuannya juga adalah untuk mendapatkan informasi yang berharga baginya. Perintah tersebut juga dijalankan deserver dan dideteksi sebagai hal yang sah dan wajar.

Serangan yang terus dan bertubi-tubi dapat dilakukan dan membuat pengguna yang sah tidak dapat melakukan layanan sebagaimana mestinya. Penyerangan tersebut membuat layanan lambat dan delay sehingga membuat layanan terganggu dan berdampak pada bisa tidaknya sistem diakses dan digunakan [20], [21].

2.12 DDos pada SDN

Serangan Denial of Service (DoS) adalah metode penyerangan yang utamanya untuk menghancurkan ketersediaan jaringan. Di dalam jaringan tradisional, perangkat keras dan perangkat lunak berbasis aplikasi pada deteksi dan pertahanan serangan DDoS mahal dan sulit untuk menyebarkan. Software Defined Network (SDN) memiliki paradigma baru dalam jaringan. Di dalam SDN, Control Planes dan Data planes dipisahkan. Network intelligence and Network state berada dalam logika yang tersentralisasi. Infrastruktur jaringan adalah abtrak yang diatur pada dari aplikasi. Dalam SDN DDOS akan menyerang langsung dan dapat melumpuhkan. Pertahanan yang baik pada titik tertentu harus dilakukan untuk mengammankan jaringan dengan basis SDN [19].

2.13 Topologi Mininet

Mininet adalah emulator jaringan yang dapat membuat jaringan virtual seperti aslinya [22]. Mininet digunakan untuk membuat data latih dan data testing. Penelitian ini menggunakan satu controller Ryu dan tiga buah host yang berperan sebagai penyerang dan sebagai korban. IP yang dipakai memiliki rentang 192.168.0.1/24 sampai 192.168.0.8/24 [6].

Gambar 5. Topologi Mininet [6]

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Preprocessing adalah tahapan pertama dalam penelitian kali ini. Preprocessing baik dilakukan sebelum proses latih, karena proses ini akan membuat data yang relatif rata nilainya tidak ada perbedaan yang mencolok.

Perbedaan mencolok pada range data seringkali menjadikan tidak imbang kekuatan pengaruh antar tupple.

3.1 Preprocessing

Preprocessing adalah proses awal yang dilakukan sebelum melakukan training model. Preprocessing kali ini akan dilakukan tiga tahapan yaitu konversi nilai dari string ke numerik, normalisasi dan membuang data pencilan / Outlier.

a. Perbaikan Data Duplikat

Data yang digunakan diambil dari data penelitian M. Teguh Kurniawan. Data yang ada perlu diperbaiki sebelum diolah untuk menemukan model training. Langkah awal adalah untuk menghapus semua data duplikasi.

H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8

Ryu Controller

S1

S3 S2

(7)

Tabel 1. Hasil Data Preprocessing

Source Destination Length Source Address

Destination

Address Source.1 Destination.1 ARP ICMP TCP Info label 10.0.123.3 10.0.123.2 204 10.0.0.19 10.0.0.12 0e:cd:eb:a0:85:4b ae:7e:98:19:a6:4e 0 1 0 1 0 10.0.123.3 10.0.123.2 204 10.0.0.23 10.0.0.46 26:ed:57:4a:6a:84 1a:19:72:67:07:59 0 1 0 1 0 10.0.123.3 10.0.123.2 902 10.0.0.31 10.0.0.46 4a:7b:6b:b9:77:79 33:33:00:00:00:02 0 1 0 1 0 10.0.123.3 10.0.123.2 204 10.0.0.45 10.0.0.50 a6:ed:bf:be:a9:4b 32:f9:2c:60:94:4b 0 1 0 1 0 10.0.123.3 10.0.123.2 550 10.0.0.35 10.0.0.8 12:1e:67:d0:d7:dc 4a:20:1e:fb:1b:38 0 1 0 1 0 10.0.123.2 10.0.123.3 206 10.0.0.59 10.0.0.3 56:cf:f2:cd:c2:ed 06:ab:2b:87:45:6e 0 1 0 2 0 10.0.123.2 10.0.123.3 206 10.0.0.19 10.0.0.12 0e:cd:eb:a0:85:4b ae:7e:98:19:a6:4e 0 1 0 2 0

Tabel 1 menjelaskan data mentah dari hasil percobaan Ddos pada SDN. Beberapa yang dilihat dari source, destination, protocol dan ujungnya label 0 atau 1. Nol menyatakan bukan serangan sedangkan 1 adalah serangan. Perbaikan pertama adalah dengan melakukan penghapusan data duplikat.

b. Transformasi Data

Transformasi Data dilakukan untuk mengubah asalnya bentuk IP atau Mac Address menjadi bentuk angka.

Transformasi IP dan Mac dilakukan dengan menghilangkan titik. Transformasi selanjutnya untuk Mac adalah dengan mengubah basis 16 ke 10.

Tabel 2. Hasil Transformasi Data

Source Destination Length Source Address

Destination

Address Source.1 Destination.1 ARP ICMP TCP Info label

1001233 1001232 204 100019 100012 1,62776E+13 1,91859E+14 0 1 0 1 0

1001233 1001232 204 100023 100046 4,28008E+13 2,86966E+13 0 1 0 1 0

1001233 1001232 902 100031 100046 8,18939E+13 5,62941E+13 0 1 0 1 0

1001233 1001232 204 100045 100050 1,8354E+14 5,60458E+13 0 1 0 1 0

1001233 1001232 550 100035 10008 1,99218E+13 8,15018E+13 0 1 0 1 0

1001232 1001233 206 100059 10003 9,54511E+13 7,33224E+12 0 1 0 2 0

1001232 1001233 206 100019 100012 1,62776E+13 1,91859E+14 0 1 0 2 0

1001232 1001233 206 100031 100046 2,18E+14 2,86966E+13 0 1 0 2 0

Tabel 2 menunjukan adanya transformasi data dari format IP dan Mac menjadi Numerik. Hal ini dibutuhkan untuk masuk kedalam model pelatihan agar sesuai dengan kebutuhan input data training.

c. Normalisasi Data

Normalisasi Data adalah serangkaian Upaya untuk mengubah semua nilai dengan jangkauan yang sama.

Jangkauan yang sama tersebut diharapkan akan memberikan efek yang lebih adil pada setiap atribut untuk mempengaruhi label hasil.

Tabel 3. Hasil dari Normalisasi Data

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

6.66E-11 0.9999988904 0.008153846154 3.92E-07 0.9994670161 0.0498960797 0.6737498165 0 1 0 6.66E-11 0.9999988904 0.008153846154 3.92E-07 0.9998445464 0.1488066201 0.07975388144 0 1 0 6.66E-11 0.9999988904 0.06184615385 3.92E-07 0.9998445464 0.2945929069 0.1802234288 0 1 0 6.66E-11 0.9999988904 0.008153846154 3.92E-07 0.9998889617 0.673651999 0.1793192549 0 1 0 6.66E-11 0.9999988904 0.03476923077 3.92E-07 7.77E-05 0.06348610489 0.2719926387 0 1 0 0 1 0.008307692308 3.92E-07 2.22E-05 0.3451504119 0.001976399103 0 1 0 0 1 0.008307692308 3.92E-07 0.9994670161 0.0498960797 0.6737498165 0 1 0 0 1 0.008307692308 3.92E-07 0.9998445464 0.8021612111 0.07975388144 0 1 0

0 1 0.008307692308 3.92E-07 0 1 0.1914701514 0 1 0

Tabel 3 menjelaskan hasil dari Normalisasi data yang dilakukan terhadap data sebelumnya. Normalisasi data dilakukan pada jangkauan [0,1].

3.2 Training

Proses Training adalah proses latih dengan melibatkan beberapa hyperparameter untuk memperoleh model yang memiliki nilai akurasi tertinggi. Proses Training kali ini ingin melihat skenario yang berbeda-beda terhadap beberapa parameter training yaitu : Max_depth, dan Min_Samples_leaf, sedangkan untuk criterion hanya melihat pada entropy. Berikut Skenario yang dilakukan pada Hyper Parameter tersebut :

Gambar 6. Setting Hyperparameter

(8)

Gambar 6 adalah setting Hyperparameter. Setting Hyperparameter adalah untuk menemukan model terbaik di proses training. Model terbaik disandarkan pada nilai accuracy (mean_test_score). Berikut hasil dari training data yang ada terhadap model dengan menggunakan metode Random Forest :

Tabel 4. Hasil Training dengan 25 Skenario

Indeks param_criterion param_max_depth param_min_samples_leaf mean_test_score rank_test_score

0 entropy 2 5 0.7712650612162125 21

1 entropy 2 10 0.7712650612162125 21

2 entropy 2 20 0.7711952653733134 23

3 entropy 2 50 0.7708114734433147 25

4 entropy 2 100 0.7709161306908291 24

5 entropy 3 5 0.782359800613215 17

6 entropy 3 10 0.782359800613215 17

7 entropy 3 20 0.7821155334214849 20

8 entropy 3 50 0.7821155699383193 19

9 entropy 3 100 0.7830924865517628 16

10 entropy 5 5 0.8883887664966321 11

11 entropy 5 10 0.8878306431990012 13

12 entropy 5 20 0.8881445175633192 12

13 entropy 5 50 0.8873420783848458 14

14 entropy 5 100 0.8858417903278835 15

15 entropy 10 5 0.9472124387536608 9

16 entropy 10 10 0.9479101963400638 8

17 entropy 10 20 0.9483637962852398 7

18 entropy 10 50 0.9489570183469098 6

19 entropy 10 100 0.9450841950393342 10

20 entropy 20 5 0.9720886801586632 2

21 entropy 20 10 0.9727863768836753 1

22 entropy 20 20 0.9706930615214933 3

23 entropy 20 50 0.9617614089850159 4

24 entropy 20 100 0.9491314836096014 5

Tabel 4 menjelaskan hasil accuracy dari setiap setting hyperparameter. Secara umum parameter max_depth memiliki pengaruh dalam peningkatan accuracy. Semakin besar nilai max_depth maka akan memiliki accuracy yang lebih baik. Sedangkan parameter min_samples_leaf tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap akurasi.

Percobaan dengan index 21 menjadi yang dipilih karena memiliki accuracy paling tinggi. Adapun untuk analisis lebih lanjut mengenai model yang diperoleh pada index 21 dapat melihat gambar berikut :

Gambar 7. Precision, Recall and F1-Score

(9)

Precision Score adalah Nilai True positif dibagi total bernilai True. Nilai True diperlihatkan pada kotak yang bernilai 225 dan 11441. Semakin tinggi Nilai Precision Score maka akan mempengaruhi prediksi pada nilai True. Pada kasus ini nilai precision score dan nilai lainnya tidak terlalu berbeda sehingga lebih sama, sedangkan nilai false-negatif sebenarnya relatif lebih riskan karena ada yang memang aktualnya adalah Ddos namun terdeteksi bukan, maka sistem dapat meloloskan dengan begitu saja serangan. Nilai recall adalah menunjukan seberapa riskan sistem ini dalam memprediksi, karena mengandung False-Negatif, semakin tinggi nilai recall semakin aman dalam memprediksi karena menunjukan False-Negatif yang kecil. Pada kasus ini harapannya model memiliki nilai Recall tinggi karena akan fatal jika ada Ddos namun dideteksi bukan, namun jika sebaliknya maka tidak terlalu berimbas. F1-Score adalah nilai balancing antara Precision Score dan Recall. F1-Score menilai seluruh model semakin menuju 1 maka model dikatakan baik sebaliknya jika munuju 0 maka makin jelek. Kasus ini nilai dikatakan baik karena nilai 0.98 atau mendekati nilai 1.

3.3 Testing

Testing adalah proses untuk menguji model yang didapat pada proses data mining. Proses ini ingin mengetahui model yang didapat baik atau tidak. Awalnya proses ini memasukan data input kepada model lalu membandingkan dengan data kenyataannya, model didapat dengan menggunakan metode Random Forest. Berikut gambar yang menjelaskan hasil dari percobaan tersebut :

Gambar 8. Precision, Recall and F1-Score Testing

Gambar 8 adalah hasil dari testing menggunakan model yang memiliki akurasi terbaik. Hasil dari model yang di testing dengan data test menunjukan hasil yang baik. Accuracy menunjukan di angka 0.98. Nilai F-1 juga menunjukan angka 0.98 yang berarti ada nilai stabil antara nilai precision yang mengukur adanya false positif dan recall pada false negative. Nilai false negative pada kasus ini disebut tidak baik karena serangan dideteksi sebagai bukan serangan yang dapat berakibat fatal, beda halnya dengan fase positive yang menyatakan bukan serangan disebut sebagai serangan akibatnya tidak terlalu besar.

4. KESIMPULAN

Penelitian kali ini adalah untuk mendeteksi dan mitigasi serangan Ddos pada Jaringan SDN. Penelitian ini menggunakan data dari M. Teguh Kurniawan berupa data Disertasi serangan Ddos pada jaringan SDN. Penelitian kali ini kami mencoba menggunakan metode Random Forest. Metode Random Forest memberikan akurasi sebesar 98% pada data latih dan data training. Skenario terbaik ada di index 21, dimana nilai max_depth 20 dan

(10)

min_samples_leaf 10. Model dengan Accuracy terbaik ini dicobakan ke data test dan menghasilkan accuracy yang sama yaitu 98%.

REFERENCES

[1] Z. Yang and K. L. Yeung, “Sdn candidate selection in hybrid ip/sdn networks for single link failure protection,”

IEEE/ACM Trans. Netw., vol. 28, no. 1, pp. 312–321, 2020.

[2] X. Zuo, X. Pang, P. Zhang, J. Zhang, T. Dong, and P. Zhang, “A security-aware software-defined IoT network architecture,” 2020 IEEE Comput. Commun. IoT Appl. ComComAp 2020, 2020.

[3] A. O. Sangodoyin, M. O. Akinsolu, P. Pillai, and V. Grout, “Detection and Classification of DDoS Flooding Attacks on Software-Defined Networks: A Case Study for the Application of Machine Learning,” IEEE Access, vol. 9, pp. 122495–

122508, 2021.

[4] Ismail et al., “A Machine Learning-Based Classification and Prediction Technique for DDoS Attacks,” IEEE Access, vol. 10, pp. 21443–21454, 2022.

[5] M. S. El Sayed, N. A. Le-Khac, M. A. Azer, and A. D. Jurcut, “A Flow-Based Anomaly Detection Approach With Feature Selection Method Against DDoS Attacks in SDNs,” IEEE Trans. Cogn. Commun. Netw., vol. 8, no. 4, pp. 1862–

1880, 2022.

[6] M. T. Kurniawan, “PENGEMBANGAN METODE ENTROPY UNTUK DETEKSI SERANGAN DISTRIBUTED DENIAL OF SERVICE (DDoS) PADA SOFTWARE DEFINED NETWORK (SDN) DENGAN PENERAPAN METODE FEATURE SELECTION.” Universitas Indonesia, Jakarta, pp. 1–77, 2022.

[7] A. Ekawijana, A. Bakhrun, and Z. Arsyad, “Deteksi Dini Anak Disleksia dengan metode Support Vector Machine,” vol.

4, no. September, pp. 217–224, 2022.

[8] E. Prasetyo, Data Mining, Mengolah Data Menjadi Informasi Menggunakan Matlab, 1st ed. Yogyakarta: Andi Yogyakarta, 2014.

[9] J. Han, M. Kamber, and J. Pei, Data mining: Data mining concepts and techniques. 2012.

[10] M. T. Kurniawan and S. Yazid, “Mitigation and Detection Strategy of DoS Attack on Wireless Sensor Network Using Blocking Approach and Intrusion Detection System,” 2nd Int. Conf. Electr. Commun. Comput. Eng. ICECCE 2020, no.

June, pp. 1–5, 2020.

[11] C. H. Hsu, “Optimal Decision Tree for Cycle Time Prediction and Allowance Determination,” IEEE Access, vol. 9, pp.

41334–41343, 2021.

[12] G. Seeja, A. S. A. Doss, and V. B. Hency, “A Novel Approach for Disaster Victim Detection Under Debris Environments Using Decision Tree Algorithms With Deep Learning Features,” IEEE Access, vol. 11, no. June, pp. 54760–54772, 2023.

[13] A. Kumar, “Random Forest Classifier Python Example,” Data Analytics, 2023. [Online]. Available:

https://vitalflux.com/random-forest-classifier-python-code-example/.

[14] Zindagi, “What are the Advantages, Disadvantages, and Architectural Components of SDN?,” Zindagi Technol., 2022.

[15] S. S. Patra, R. Govindaraj, S. Chowdhury, M. A. Shah, R. Patro, and S. Rout, “Energy Efficient End Device Aware Solution Through SDN in Edge-Cloud Platform,” IEEE Access, vol. 10, no. October, pp. 115192–115204, 2022.

[16] M. Paliwal and K. K. Nagwanshi, “Effective Flow Table Space Management Using Policy-Based Routing Approach in Hybrid SDN Network,” IEEE Access, vol. 10, pp. 59806–59820, 2022.

[17] A. Javadpour, F. Ja’fari, T. Taleb, M. Shojafar, and B. Yang, “SCEMA: An SDN-Oriented Cost-Effective Edge-Based MTD Approach,” IEEE Trans. Inf. Forensics Secur., vol. 18, pp. 667–682, 2023.

[18] C. Miranda, G. Kaddoum, A. Boukhtouta, T. Madi, and H. A. Alameddine, “Intrusion Prevention Scheme Against Rank Attacks for Software-Defined Low Power IoT Networks,” IEEE Access, vol. 10, no. December, pp. 129970–129984, 2022.

[19] L. Yang and H. Zhao, “DDoS attack identification and defense using SDN based on machine learning method,” Proc. - 2018 15th Int. Symp. Pervasive Syst. Algorithms Networks, I-SPAN 2018, pp. 174–178, 2019.

[20] H. Yang, H. Pan, and L. Ma, “A Review on Software Defined Content Delivery Network: A Novel Combination of CDN and SDN,” IEEE Access, vol. 11, no. March, pp. 43822–43843, 2023.

[21] Q. Guo et al., “SDN-Based End-to-End Fragment-Aware Routing for Elastic Data Flows in LEO Satellite-Terrestrial Network,” IEEE Access, vol. 7, pp. 396–410, 2019.

[22] M. D. Ramdhani, B. Sugiarto, and A. Rukmana, “Jurnal FUSE – Teknik Elektro Simulasi Jaringan SDN menggunakan controller RYU Pada Mininet Dengan 5 Topologi Jaringan SDN Network Simulation using RYU controller on Mininet With 5 Network Topologies,” vol. 1, no. 2, pp. 101–110, 2021.

Referensi

Dokumen terkait

Pada skenario ini hacker melakukan penyerangan DDOS ( Distributed Denial of Service ) pada honeyd menggunakan tools loic dengan jenis serangan Http Flood.. Serangan

Pada hasil pengujian, logika fuzzy menggunakan metode sugeno mampu digunakan sebagai pendeteksi dalam menentukan serangan DDOS berbasis HTTP dengan tingkat

Pada skenario ini hacker melakukan penyerangan DDOS ( Distributed Denial of Service ) pada honeyd menggunakan tools loic dengan jenis serangan Http Flood.. Serangan

Dari sini, permasalahan berkembang ke karakreristik jaringan DDoS apa yang yang dapat dijadikan parameter serangan, mekanisme Client Puzzle yang dijalankan untuk validasi,

Konsep dasar dari DDoS adalah memanfaatkan banyak ip untuk melakukan serangan pada jaringan dengan mengirim paket request yang sangat banyak membuat padatnya lalu lintas

Saat melakukan simulasi serangan DDoS pada mininet dan GNS3 disamping itu juga pengukuran kualitas jaringan dengan menggunakan protokol icmp dengan perintah ping untuk

6 Pengujian Hasil Simulasi DDoS di Mininet dan GNS3 Saat melakukan simulasi serangan DDoS pada mininet dan GNS3 disamping itu juga pengukuran kualitas jaringan dengan menggunakan

Hasil pengujian Dengan DDos Dengan IDS Snort Pengujian Sebelum Sesudah Ping ICMP 205 byte/s 418 bytes/s Nmap 205 bytes/s 48,0 kib/s DDoS 205 bytes/s 80.mb/s Dari hasil