Manfaat ini dapat mempermudah perusahaan untuk melakukan praktik penghindaran pajak, salah satunya dengan metode thin capitalization. Investor menjadi lebih jeli dalam membaca intensi yang dimiliki perusahaan Indonesia saat melaksanakan strategi thin capitalization. Praktik yang dilakukan perusahaan untuk mendanai perusahaan dengan utang dibanding dengan ekuitas disebut juga dengan praktik thin capitalization.
Pengertian thin capitalization menurut OECD (2012) merujuk kepada sebuah situasi dimana perusahaan dibiayai oleh level utang yang lebih tinggi dibandingkan dengan modal. Pengertian ini juga sejalan dengan pengertian thin capitalization yang terdapat dalam tulisan Taylor dan Richardson (2013) dan Taylor, Tower dan Van der Zahn (2010). Keempat faktor di atas signifikan secara statistik dalam menjelaskan praktik thin capitalization yang dilakukan oleh perusahaan terbuka di Australia.
H1: Perusahaan dengan karakter multinationality memiliki thin capitalization yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki karakteristik tersebut. H2: Perusahaan dengan karakter tax haven memiliki thin capitalization yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki karakteristik tax haven. H3 : Perusahaan yang mengungkapkan ketidakpastiannya dalam menghitung beban pajak aktual memiliki thin capitalization yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak mengungkapkan hal tersebut.
H4: Perusahaan yang memiliki foreign exposure memiliki thin capitalization lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki foreign exposure.
Metode Penelitian 1 Model Penelitian
Penelitian ini menggunakan variabel ukuran perusahaan, intensitas modal, return on assets, market to book ratio, rasio lancar dan intensitas persediaan sebagai variabel kontrol. Ukuran perusahaan dan intensitas modal diperkirakan akan memiliki korelasi positif dengan thin capitalization yang dimiliki perusahaan (Rego, 2003; Hanlon et al., 2005; Stickney dan McGee, 1982); sedangkan variabel intensitas persediaan diperkirakan akan memiliki korelasi negatif (Stickney dan McGee, 1982). Variabel market to book ratio dan return on assets tidak dapat diperkirakan arah korelasinya, sebab terdapat ketidakkonsistenan hasil penelitian sebelumnya.
MULTIIT = Dummy variable; “1” untuk perusahaan yang setidaknya memiliki 1 anak perusahaan yang berkedudukan di luar Indonesia, dan “0” untuk perusahaan Indonesia yang tidak memiliki anak perusahaan yang berkedudukan di luar negeri TAXHAVit = Dummy variable; “1” untuk perusahaan yang setidaknya memiliki 1 anak perusahaan yang berkedudukan di negara tax haven, dan “0” untuk perusahaan yang tidak memiliki anak perusahaan di negara tax haven. ETRit = Nilai beban pajak aktual dengan nilai laba usaha sebelum pajak perusahaan di periode tertentu. CINTit = Nilai bersih dari property, plant dan equipment dibagi nilai total aset di periode sebelumnya (TotalAssett-1).
MKTBKit = Nilai pasar per lembar saham perusahaan dibagi nilai buku per lembar saham perusahaan, di akhir tahun buku yang berlaku. Penelitian ini menggunakan 242 sampel perusahaan yang memenuhi beberapa kriteria yaitu terdaftar di BEI sejak sebelum 1 Januari 2010 sampai dengan 31 Desember 2013; menerbitkan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit selama kurun waktu 2010 sampai 2013; serta memiliki data-data mengenai variabel-variabel yang akan diteliti dengan lengkap dalam laporan keuangan perusahaan dari tahun 2010 sampai dengan 2013. Saat peneliti mengolah data penelitian ini dengan menggunakan teknik ordinary least square, peneliti menemukan bahwa model ini memiliki masalah heterokedastisitas dan masalah autokorelasi.
Apabila teknik OLS tetap digunakan untuk mengolah data penelitian ini, model yang dihasilkan bisa menjadi tidak efisien dan memberikan informasi yang salah. Model general least square adalah model yang mampu membuat suatu estimasi yang efisien walaupun terdapat masalah autokorelasi dan heterokedastisitas dalam data penelitian.
Hasil Penelitian
Rata-rata tarif pajak efektif yang dikenakan atas sampel perusahaan di penelitian ini tidak berbeda jauh dengan tarif pajak perusahaan yang dikenakan oleh otoritas perpajakan di Indonesia yaitu 25%. Tren nilai debt to equity milik perusahaan Indonesia fluktuatif, hingga mencapai level tertinggi di tahun 2013. Jika dilihat berdasarkan karakteristik tertentu yang dimiliki perusahaan, posisi thin capitalization dari perusahaan yang memiliki karakteristik Multinationality, Tax Haven dan Tax Uncertainty lebih tinggi dibandingkan thin capitalization perusahaan yang tidak memiliki karakteristik tersebut.
Akan tetapi, perusahaan Indonesia yang hanya beroperasi di pasar lokal memiliki ternyata nilai rata-rata debt to equity yang lebih tinggi daripada perusahaan yang beroperasi di pasar internasional; juga perusahaan yang dikenakan tarif pajak perusahaan diatas tarif normal yaitu 25%. Berdasarkan hasil uji beda antara nilai debt to equity yang dimiliki perusahaan dengan karakteristik tertentu, dengan perusahaan yang tidak memiliki karakteristik tersebut, perbedaan nilai rata-rata dalam variabel multinationality, tax uncertainty dan foreign exposure signifikan di level 10% atau lebih baik. Contoh perusahaan yang memiliki karakter multinationality antara lain Adaro Energy, Aneka Tambang, dan Astra International.
Perusahaan Indonesia yang menempatkan anak perusahaannya di negara tax haven antara lain Berau Coal Energy, Indofood. Perusahaan yang pernah mengeluarkan pernyataan uncertain tax exposure antara lain Adaro Energy, Aneka Tambang dan Berau Coal Energy. Perusahaan Indonesia yang memiliki karakter multinationality memiliki nilai debt to equity yang lebih tinggi daripada perusahaan yang tidak memiliki karakter tersebut.
Selanjutnya, perusahaan Indonesia yang memiliki anak perusahaan di negara tax haven memiliki nilai rata-rata rasio utang yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak menempatkan anak perusahaannya di negara tax haven. Argumen yang bisa menjelaskan mengapa arah korelasi variabel UNCERT negatif dalam penelitian ini adalah adanya kemungkinan bahwa sampel perusahaan yang dipakai dalam penelitian sebelumnya melakukan praktik penghindaran pajak selain thin capitalization, saat. Selain itu, Austin dan Wilson (2015) memberikan argumen bahwa perusahaan yang memiliki risiko tinggi untuk mengalami kerusakan reputasi akan menghindari tindakan penghindaran pajak.
Argumen yang dapat diberikan atas inkonsistensi hasil yang diperoleh penelitian ini adalah perusahaan yang digunakan sebagai sampel penelitian sebelumnya melakukan praktik penghindaran pajak selain strategi thin capitalization. Korelasi dari variabel kontrol SIZE, CINT, ROA, CR dan INVINT negatif terhadap posisi thin capitalization yang dimiliki perusahaan, sedangkan proksi pertumbuhan perusahaan, MKTBK, memiliki korelasi positif dengan nilai rasio utang terhadap modal perusahaan Indonesia. Hasil dari analisis sensitivitas atas variabel multinationality menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki anak perusahaan di luar negeri memiliki posisi thin capitalization yang lebih tinggi, dan signifikan di level 1%.
Selanjutnya, perusahaan yang memanfaatkan tax haven juga memiliki nilai debt to equity yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan hal tersebut. Perusahaan yang mengungkapkan risiko uncertain tax exposure memiliki posisi thin capitalization yang lebih rendah dibandingkan perusahaan yang tidak mengungkapkan hal ini.
Kesimpulan
Saat variabel ketidakpastian pajak diolah terpisah, variabel ini lebih signifikan dalam mempengaruhi variabel thin capitalization. Yang keempat, hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa variabel foreign exposure memiliki korelasi negatif dengan posisi thin capitalization yang dimiliki perusahaan, dengan signifikansi 1%. Yang terakhir, variabel effective tax rate memiliki korelasi positif dengan nilai debt to equity ya ng dimiliki perusahaan, dengan signifikansi di level 1%.
Perusahaan Indonesia yang memiliki karakteristik multinationality, tax haven dan tax uncertainty, terbukti memiliki nilai rasio utang terhadap modal yang lebih tinggi daripada perusahaan yang tidak memiliki karakteristik tersebut. Akan tetapi, perusahaan Indonesia yang beroperasi di luar negeri, dan dikenakan tarif pajak efektif yang lebih tinggi dari tarif pajak badan umum yaitu 20%, ternyata memiliki rata-rata debt to equity yang lebih rendah dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki kedua karakteristik di atas. Perusahaan yang memiliki karakter multinationality, memanfaatkan tax haven serta yang dikenakan pajak dengan tarif tinggi memiliki nilai rasio utang terhadap modal lebih tinggi dibandingkan perusahaan lain.
Hal ini menunjukkan bahwa karakter multinationality dan tax haven memberi insentif bagi perusahaan untuk melaksanakan praktik thin capitalization, dengan memanfaatkan perbedaan tarif diantara yurisdiksi perpajakan untuk memperoleh keuntungan pengurangan pajak maksimal dalam grup perusahaan. Perusahaan yang mengungkapkan risiko uncertain tax exposure serta memiliki level eksposur luar negeri yang tinggi memiliki posisi thin capitalization yang lebih rendah. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk pemerintah dalam menyusun peraturan terkait thin capitalization rules yang tepat dan andal.
Selain itu penelitian ini juga dapat digunakan oleh investor untuk mengerti insentif perusahaan dalam melakukan praktik thin capitalization sehingga dapat membuat keputusan investasi yang lebih andal di masa depan. Yang terakhir, penelitian ini berguna untuk meningkatkan awareness perusahaan mengenai risiko legal yang dihadapi perusahaan saat melaksanakan praktik thin capitalization yang berlebihan. Beberapa keterbatasan tersebut antara lain sampel penelitian ini masih menggunakan data sekunder yang diungkapkan oleh perusahaan publik di Indonesia.
Selanjutnya, model penelitian ini masih memiliki masalah multikolinearitas dan autokorelasi jika dianalisis dengan regresi Ordinal Least Square. Oleh sebab itu terdapat beberapa saran yang dapat dipertimbangkan untuk penelitian selanjutnya, antara lain memakai sampel penelitian dari perusahaan privat agar hasilnya dapat dibandingkan dengan penelitian yang memakai sampel perusahaan publik, dan melakukan analisis determinan praktik thin capitalization dengan menggunakan sampel dari negara ASEAN lainnya. MULTI = dummy variable, angka “1” untuk perusahaan yang setidaknya memiliki 1 anak perusahaan yang berkedudukan di luar Indonesia, dan “0” untuk perusahaan Indonesia yang tidak memiliki anak perusahaan di luar negeri; TAXHAV = dummy variable, angka “1” untuk perusahaan yang setidaknya memiliki 1 anak perusahaan yang berkedudukan di negara berstatus tax haven, dan “0” untuk perusahaan yang tidak memiliki anak perusahaan di negara tax haven; UNCERT = dummy variable; angka “1” untuk perusahaan yang mengeluarkan pernyataan mengenai kesulitan yang dihadapinya dalam mengestimasi kewajiban pajak, dan “0” untuk perusahaan yang tidak mengeluarkan pernyataan tersebut; FOR = dummy variable; angka “1” untuk perusahaan yang memiliki penjualan ekspor, dan “0”.
Nilai P>|t| menggunakan metode one-tailed untuk hipotesis yang memiliki arah, dan two-tailed untuk hipotesis lainnya.