PERKEMBANGAN HUKUM KELUARGA ISLAM DI NEGARA MUSLIM MODERN
Mhd. Abduh Saf
Kantor Hukum “Suhadi and Patners” Jl. Imam Bonjol No. 4 E Blitar Jawa Timur. E-mail: [email protected]
Abstract: This article discusses the development of Islamic family law in the modern Muslim world. The development of Islamic law in modern countries particularly those associated with al-ahwal al-shakhsiyyah (Islamic family law) can be regarded as a new format that accommodates the idea of the renewal of phenomenal Islamic legal thought. The novelty in Islamic family law can be seen from the moving of Islamic jurisprudence towards positive law in the form of legislation within the Muslim countries. The efforts of the Islamic family law reform aims to a legal unification, to raise the status of woman, to respond the development and demand of the time because the concept of traditional jurisprudence is considered less able to adopt. The legal systems in the Islamic world today are classified into three groups, namely: (1) the systems that still recognize Islamic shari’ah as the basis of law of human, namely Saudi Arabia; (2) the systems that have already leaved Islamic shari’ah and replace it with a secular law, namely Turkey; (3) the systems that compromise both of the above systems, namely Indonesia and Egypt.
Abstrak: Artikel ini membahas tentang perkembangan hukum keluarga Islam di dunia muslim modern. Perkembangan hukum Islam di negara modern terutama yang berhubungan dengan al-ah}wāl al-Shakhsiyyah (hukum keluarga Islam) dapat dikatakan sebagai format baru yang mengakomodasikan gagasan-gagasan pembaharuan pemikiran hukum Islam yang relatif fenomenal. Hal baru dalam hukum keluarga tersebut bisa dapat dilihat dari keberanjakannya dari hukum fikih menuju hukum positif yang berupa peraturan perundang-undangan di negara muslim tersebut. Usaha pembaharuan hukum keluarga Islam bertujuan untuk unifikasi hukum negara, mengangkat status wanita, merespons perkembangan dan tuntutan zaman karena konsep fikih tradisional dianggap kurang mampu menjawabnya. Sistem-sistem hukum di dunia Islam sekarang, secara garis besar bisa dibagi menjadi 3 kelompok, yakni:
1. Sistem yang masih mengakui syariah sebagai hukum asasi dan masih menerapkannya secara utuh, yakni Saudi Arabia. 2. Sistem yang meninggalkan syariah dan menggantikannya dengan hukum yang sekuler, contohnya yakni Turki. 3. Sistem yang mengompromikan kedua sistem di atas, yakni Indonesia dan Mesir.
Kata Kunci: Perkembangan, hukum keluarga, negara, modern.
Pendahuluan
Dunia Islam mempunyai pengalaman yang sangat beragam mengenai berbagai upaya yang dilakukan untuk mempertahankan keberadaan hukum-hukum agamanya. Sebagian negara-negara muslim sangat kental dengan paham sosialismenya dalam menerapkan hukum Islam dalam ranah kehidupan negara, sedangkan di sisi lain, hukum merupakan kekuatan Islam yang tumbuh dan berkembang dengan visi dan misi menerapkan syariat Islam sebagai paradigma hukum yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga sistem sosial yang dibangun berlandaskan kepada hukum Islam. Upaya untuk melaksanakan hukum Islam di berbagai kawasan yang paling menonjol adalah dalam bidang hukum keluarga, meskipun dalam bidang-bidang lain seperti hukum muamalah atau tata perekonomian yang berdasarkan syariah juga sedang diperjuangkan.
Perkembangan hukum Islam di negara modern terutama yang berhubungan dengan al-ahwāl al-Shakhsiyyah (hukum keluarga Islam) dapat dikatakan sebagai format baru yang mengakomodasikan gagasan-gagasan pembaharuan pemikiran Hukum Islam yang relatif fenomenal. Hal baru dalam hukum keluarga tersebut bisa dapat dilihat dari keberanjakannya dari hukum fikih menuju hukum positif yang berupa peraturan perundang-undangan di negara muslim tersebut.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad al-Usairi bahwa yang dimaksud dengan negara muslim adalah negara yang persentase penduduk muslimnya lebih dari 50% dari keseluruhan jumlah penduduk. Berdasarkan Komposisi penduduk muslim di dunia tahun 1999, terdapat 55 negara Muslim, 25 negara terdapat di Afrika, 27 negara terdapat di Asia, dan 2 negara di Eropa.1
Selain pertimbangan jumlah penduduk, juga terdapat pertimbangan lain yaitu pertimbangan peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan ajaran Islam yang diberlakukan di sebuah negara. Dikatakan juga bahwa suatu negara yang dipimpin oleh orang yang beragama Islam, maka layak dipertimbangkan
1 Muhammad Amin Summa, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2004), 156.
status keIslaman negara yang dipimpinnya. Hal ini senada dengan ungkapan bahwa masyarakat bergantung pada agama rajanya (al-nās
‘alā dīn mulūkihim).2
Negara Islam dapat dibedakan menjadi 3 kelompok, yakni : 1. Kelompok negara-negara Islam, yakni negara yang secara jelas
menyatakan bahwa negaranya merupakan negara Islam seperti Arab Saudi, Sudan, Iran.
2. Kelompok negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim, yakni negara yang mayoritas penduduknya lebih dari 50%
memeluk agama Islam meskipun konstitusionalnya tidak secara eksplisit menyebutkan diri sebagai negara Islam seperti Indonesia, Mesir, Turki.
3. Kelompok negara-negara yang berpenduduk minoritas muslim, yakni warga negara muslimnya relatif lebih sedikit atau kurang dari 50% seperti Filipina, Myanmar, Singapura, Thailand dan lain-lain.
Keluarga dalam Pandangan Islam
Keluarga merupakan suatu kesatuan yang muncul dari hubungan darah atau persamaan garis keturunan yang telah diakui oleh Islam.3 Keluarga dianggap sebagai hal yang keramat dan sensitif, dalam artian bahwa keluarga menduduki posisi yang penting dan sangat berpotensi munculnya pro dan kontra jika hal- hal yang mengatur mengenai hukum keluarga terjadi semacam perubahan seperti reformasi hukum keluarga. Tanpa memandang agama manapun, kedudukan keluarga di dalam setiap agama merupakan hal yang perlu diatur baik oleh agama itu sendiri ataupun oleh negara. Sedangkan di dalam fikih, keluarga diposisikan sebagai bagian dari muamalah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya yang bersifat shakhsiyyatan (keluarga) yakni dalam hal perkawinan, perceraian, dan waris.4
2 Ibid., 159.
3 Josheph Schacht, An Introduction to Islamic Law (London: Oxford University Press, 1964), 161.
4 Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islāmiy Wa Adillatuh, Juz 1 (Bairut: Dār al-Fikr, t.t.), 56.
Sebagaimana dalam ajaran agama Islam. juga telah mengatur atau membentuk hukum keluarga bagi penganutnya. Walaupun pada saat itu, aturannya masih sebatas pandangan keagamaan ulama dan belum menjadi legal formal seperti masa modern saat ini.5 Namun sebagaimana yang terlihat kini, hukum keluarga di dunia Islam kontemporer telah terwujud sebagai legislasi formal yang mana segala aturan yang berkaitan dengan keluarga mengalami banyak bentuk perubahan hukum seperti perkawinan, perceraian, dan kewarisan.
Berkaitan dengan perkembangan legislasi dan pembaharuan materi hukum keluarga di beberapa negara Islam kontemporer seperti Aljazair, Mesir, Tunisia dan Indonesia, sebenarnya sudah berlaku jauh pada masa Abbasiyah tetapi belum terealisasi sampai akhir masa dinasti Turki Utsmani. Tidak terealisasinya hal tersebut dikarenakan keengganan ulama terdahulu terhadap legalisasi syariat, para ulama hanya sepakat pada penerapan hukum saja dan bukan pada legislasinya. Para ulama bertekad mempertahankan ketentuan-ketentuan hukum yang lama dengan kalangan pembaharu baik dalam permasalahan-permasalahan yang menyangkut metodologinya maupun materi hukum.6
Adanya tuntutan legislasi syariat dengan berbagai macam hal yang melatarbelakangi kembali munculnya tuntutan legislasi setelah peradaban Barat berhasil melakukan penetrasi ke seluruh negara Islam. Akan tetapi, para ulama belum memiliki kesiapan untuk menjadikan syariat dari lembaran-lembaran kitab fikih menjadi rancangan hukum positif. Walaupun terjadi pro dan kontra yang panjang namun pada akhirnya sedikit demi sedikit legislasi dalam Islam bisa terealisir meskipun hanya sebatas pada hukum keluarga.7
Hukum keluarga Islam merupakan inti syariah dan menunjukkan betapa pentingnya keluarga dalam Islam. Walaupun pembaharuan hukum modern mulai terjadi di abad ke 19, namun hukum keluarga Islam tetap tidak mengalami perubahan.
5 Thonthowi, “Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam Kontemporer”, Jurnal Studi Islam Mukaddimah No. 19 (Yogyakarta: PTAIS DIY, 2005), 345.
6 John J. Donohue @ John L, Islam dan Pembaharuan, Ensiklopedi Masalah-masalah, Terj. Machnun Husein (Jakarta: Raja Grafindo persada, 1995), 364.
7 Thonthowi, Hukum Keluarga Islam di dunia Islam Kontemporer, 359.
Pembaharuan di dalam bidang hukum keluarga Islam terjadi pada abad 20. Proses penyesuaian hukum yang dilakukan terhadap hukum keluarga ini berbeda dengan proses yang terjadi sebelumnya dalam bidang lain dari hukum Islam itu sendiri.
Dengan beberapa pengecualian terjadinya pembaharuan ditandai tidak saja oleh penggantian hukum Islam dengan hukum Barat, tetapi juga oleh perubahan dalam hukum Islam itu sendiri yang didasarkan atas penafsiran kembali terhadap tradisi hukum Islam sesuai dengan perkembangan penalaran dan pengamalannya.
Dengan cara inilah hukum keluarga Islam yang berlaku sejak dari Afrika Utara sampai ke Asia tenggara mengalami perubahan.8
Sedangkan di dalam dunia Islam kontemporer, hukum keluarga dikenal dengan beberapa istilah, yakni :9
1. Personal law
2. Law of personal status (Qānūn al-ah}wāl al-shakhs}iyyah) 3. Family law (Qānūn al-usrah)
4. Law of family rights, matrimony, inheritance, wills, and endowments Bentuk Pembaharuan Hukum Keluarga Islam
Berkenaan dengan pemberlakuan hukum keluarga Islam khususnya perkawinan di dunia Islam, Tahir Mahmood memetakannya dari sudut pandang undang-undang. Menurutnya dari sudut pandang tersebut, negara Islam dapat dibedakan menjadi 3 kelompok besar:10
1. Kelompok negara yang mengikuti hukum keluarga Islam secara tradisional yang mana hukum keluarga klasik diberlakukan menurut madhhab yang bervariasi sebagai warisan yang bersifat turun-temurun yang tidak pernah berubah juga tidak pernah dimodifikasi hingga masa sekarang. Di antara negara-negara yang tergolong ke dalam kelompok ini adalah Saudi Arabia, Yaman, Bahrain, dan Kuwait. Di Saudi Arabia yang konstitusinya memerintahkan supaya semua legislasi harus merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah. Dalam penerapan
8 John J. Donohue @ John L, Islam dan Pembaharuan, 365.
9 Mahmood, Tahir, Personal Law In Islamic Countries : History, Text and Comparative Analysis (New Delhi: Academy of Law and Religion, 1987),1-3.
10 Summa, Muhammad Amin, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam , 162-164.
hukum termasuk hukum legal tradisionalnya merujuk kepada aliran madhhab Hanbali juga berlaku di Qatar. Sedangkan di Yaman berlaku madhhab Syiah Zaidiyah di samping madhhab Syafi’i dan Hanbali. Di Bahrein berlaku madhhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian madhhab Syiah. Demikian pula dengan Kuwait yang terus menjadi salah satu pusat negara yang mempertahankan hukum keluarga Islam klasik, umumnya menganut madhhab Maliki.
2. Kelompok negara-negara sekuler di mana hukum keluarga Islam telah ditinggalkan dan digantikan dengan undang-undang hukum modern yang berlaku untuk seluruh penduduk dan dapat dikatakan terlepas dari agama mereka, seperti Turki di samping Albania. Turki dijuluki sebagai negara Muslim dengan negara sekuler yang memberlakukan code civil yang didasarkan pada hukum-hukum Barat yang kemudian diadopsi oleh negara- negara ini setelah runtuhnya kekuasaan Ottoman.11 Code civil Turki 1926 bersumber pada code civil Switzerland 1912 yang mengangkat materi hukum Islam yang prinsipil. Hukum keluarga ini termasuk di dalamnya hukum kewarisan yang tidak dibawa atau dimasukkan ke dalam code civil Turki yang terbaru, bagaimanapun secara serius telah menimbulkan konflik di kalangan orang-orang Islam Tradisionalis.
3. Kelompok negara yang telah melakukan pembaharuan hukum keluarga Islam. Kelompok negara yang digolongkan ke dalam kelompok ketiga ini telah melakukan pembaharuan hukum keluarga Islam antara tahun 1920 dan 1946. Mesir mulai mengadakan reformasi sedikit demi sedikit dengan menggunakan perpaduan madhhab Hanafi-Syafi’i yang kemudian diikuti oleh masyarakatnya. Sedangkan negara-negara lain yang juga melakukan hal yang serupa adalah Sudan, Jordan, Syria, Tunisia, Maroko, Algeria, Irak, Iran dan Pakistan. Semua itu termasuk negara yang digolongkan ke negara Islam.
Sementara itu satu-satunya negara dengan minoritas muslim yang menerapkan hukum keluarga yang berhubungan dengan
11 Mahmood Tahir, Family Law Reform in the Moslem World (New Delhi: The Indian Law Institute, 1972), 17.
hak-hak wanita terhadap pembubaran perkawinan yakni perceraian oleh Pengadilan yang direformasi adalah India. Pada tahun 1937 India telah memiliki apa yang disebut dengan The Moslem Personal Law yang mengatur hukum keluarga warga negara India yang beragam Islam. Kini tidak hanya di India yang memiliki hal seperti itu, Singapura juga memiliki bagian undang- undang yang mengatur hukum keluarga Islam khususnya perkawinan.
Dari sekian banyak negara yang telah memiliki undang- undang hukum keluarga Islam khususnya UU perkawinan Islam, yang mempunyai kesamaan kondisi peradilan hukum dan sistem peradilannya dengan adalah Indonesia dan Mesir. Hal itu disebabkan terdapat beberapa kemiripan dalam sejarah hukum dan peradilannya.12
Sebagaimana disebutkan di atas, fenomena yang muncul di dunia muslim pada abad 20 adalah adanya usaha pembaharuan hukum keluarga (perkawinan, perceraian dan warisan) di negara- negara berpenduduk muslim. Adapun bentuk pembaharuan yang dilakukan berbeda antara negara-negara muslim tersebut. Bentuk pembaharuan yang dilakukan adalah sebagai berikut:13
1. Melakukan pembaharuan dalam bentuk peraturan perundang- undang seperti di Indonesia.
2. Pembaharuan dilakukan berdasarkan dekrit (raja atau presiden) seperti Yaman Selatan pada tahun 1942 dan Syiria pada tahun 1953.
3. Pembaharuan dalam bentuk ketetapan-ketetapan hakim seperti di negara Sudan.
Cakupan pembaharuan yang dilakukan oleh negara muslim juga berbeda-beda satu sama lain. Sebagian negara melakukan pembaharuan secara menyeluruh terhadap perkawinan, perceraian, dan warisan. Sebagian negara lain membatasi pada hal perkawinan dan perceraian saja dan ada juga yang dilakukan secara bertahap.
12 Muhammad Amin Summa, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam , 209.
13 M. Atho Mudzhar, Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern (Jakarta: Ciputat Press, 2003), 8.
Di dalam perspektif sejarah, pembaharuan hukum Islam menurut Noel J. Coulson terwujud dalam empat kelompok:14 1. Dikodifikasikannya hukum Islam menjadi peraturan perundang-
undangan negara yang disebut dengan doktrin siyasah.
2. Tidak terikatnya umat Islam pada satu madhhab hukum tertentu yang mana dalam hal ini masyarakat memilih pendapat yang paling dominan.
3. Perkembangan hukum dalam mengantisipasi perkembangan peristiwa hukum baru yang timbul yang disebut dengan doktrin tatbīq (penerapan hukum terhadap peristiwa terbaru).
4. Perubahan hukum dari yang lama kepada yang baru yang disebut dengan doktrin tajdīd (reinterpretasi).
Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, upaya untuk melaksanakan hukum Islam yang paling menonjol adalah dalam bidang hukum keluarga karena ia merupakan poros syariah serta dianggap sebagai tolak ukur terlaksana dan diakui atau tidaknya hukum Islam di suatu negara.
Berbicara tentang hukum keluarga, tentunya tidak terlepas dari pembicaraan mengenai fikih karena secara tidak langsung hampir setiap produk hukum muncul dari fikih itu sendiri.
Terdapat 13 hal yang mengalami pembaharuan dalam hukum keluarga muslim modern apabila dibandingkan dengan konsep fikih, yakni :15
1. Pembatasan umur minimal untuk menikah bagi laki-laki dan perempuan dan perbedaan umur antara pasangan yang hendak kawin.
2. Peranan wali dalam nikah.
3. Pendaftaran dan pencatatan perkawinan.
4. Keuangan perkawinan seperti mas kawin dan biaya perkawinan..
5. Poligami dan hak-hak istri dalam poligami.
6. Masalah nafkah istri dan keluarga serta rumah tinggal.
7. Talak dan cerai di muka pengadilan.
14 Toha Andiko, “Pengaturan Alasan-alasan Poligami”, Jurnal Pemikiran Islam Kontekstual, Vol. 4 No. 2 (Jakarta: Lembaga Penelitian dan Penerbitan PPs UIN Syarif Hidaytullah, 2003 ), 275.
15 M.Atho Mudzhar, Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern, 8.
8. Hak-hak wanita yang dicerai suaminya.
9. Masa hamil dan akibat hukumnya.
10. Hak dan tanggung jawab pemeliharaan anak-anak setelah terjadi perceraian.
11. Hak waris bagi anak laki-laki dan wanita termasuk bagi anak dari anak yang terlebih dahulu meninggal (hak waris keluarga dekat).
12. Wasiat bagi ahli waris.
13. Keabsahan dan pengelolaan wakaf keluarga.
Di antara perubahan-perubahan yang penting dalam bidang hukum perkawinan adalah pengekangan terhadap perkawinan di bawah umur, wali nikah, dan pembatasan poligami.16
Sedangkan menurut penelitian Tahir Mahmood, hampir senada dengan yang di atas bahwa terdapat 13 aspek dalam hukum keluarga Islam yang mengalami perubahan reformasi, yakni:
batasan umur minimal boleh kawin, pembatasan peran wali dalam perkawinan, pembatasan kebolehan poligami, nafkah keluarga, pembatasan hak cerai suami, hak-hak dan kewajiban para pihak akibat perceraian, masa kehamilan dan implikasinya, hak kewalian orang tua, hak waris keluarga dekat, wasiat wajibah dan pengelolaan wakaf.17
Metode Pembaharuan yang Digunakan
Dari sisi metode yang digunakan dalam melakukan pembaharuan bisa dikelompokkan menjadi empat kelompok besar, yakni :18
1. Menggunakan metode talfīq, yakni dengan mengabungkan pendapat dua atau lebih madhhab dalam fikih, baik pandangan yang digabungkan antar madhhab populer maupun salah satu di antaranya dari pandangan pribadi tokoh.
2. Menggunakan metode takhayyur yakni dengan memilih salah satu pandangan imam madhhab yang lebih sesuai dengan kebutuhan
16 John J. Donohue @ John L, Islam dan Pembaharuan, Ensiklopedi Masalah- masalah, 365.
17 Tahir Mahmood, Personal Law In Islamic Countries, 11-12.
18 M. Atho Mudzhar, Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern, 3.
3. Menggunakan siyāsah shar’iyyah (demi kepentingan umum) 4. Menafsirkan kembali teks nas untuk menyesuaikan dengan
kebutuhan dan tuntutan modern.
Tujuan Pembaharuan Hukum Keluarga
Tujuan usaha pembaharuan hukum keluarga berbeda antara satu negara dengan negara lain. Secara umum dapat dibagi menjadi 3 kelompok:19
1. Bertujuan untuk unifikasi hukum negara. Alasannya adalah karena adanya sejumlah madhhab yang diikuti negara bersangkutan lebih dari satu madhhab. Unifikasi hukum tersebut dikelompokkan menjadi 3 yakni:
a. Unifikasi hukum yang berlaku untuk seluruh warga negara tanpa memandang agama seperti halnya negara Tunisia.
b. Unifikasi yang bertujuan untuk menyatukan dua aliran pokok dalam sejarah muslim, yakni antara paham sunni dan shī’i, seperti Iran dan penduduk yang mengikuti kedua aliran tersebut.
c. Unifikasi dalam satu madhhab tertentu seperti di kalangan pengikut Syafi’i, Hanafi, ataupun Maliki.
4. Bertujuan untuk mengangkat status wanita. Walaupun tidak dijelaskan secara eksplisit, namun bisa dilihat dari sejarah munculnya yang diantaranya untuk merespons tuntutan peningkatan status wanita. Sebagaimana UU Perkawinan Mesir dan Indonesia.
5. Bertujuan untuk merespons perkembangan dan tuntutan zaman karena konsep fikih tradisional dianggap kurang mampu menjawabnya.
6. Memperkuat hak-hak anggota para keluarga ini di atas hak-hak para anggota keluarga yang lebih jauh.20
Perkembangan Hukum Keluarga Muslim
Sistem-sistem hukum di dunia Islam sekarang, secara garis besar bisa dibagi menjadi tiga kelompok:21
19 Ibid., 10.
20 JND Anderson, Hukum Islam di Dunia Modern, Terj. Machnun Husein (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994), 364.
21 Ibid., 101.
1. Sistem-sistem yang masih mengakui syariah sebagai hukum asasi dan masih menerapkannya secara utuh, yakni Saudi Arabia.
2. Sistem-sistem yang meninggalkan syariah dan menggantikannya dengan hukum yang sekulerseperti Turki. Turki dikenal sebagai negara muslim sekuler pertama sebagai salah satu negara pengganti yang tercipta dari reruntuhan Kesultanan Utsmaniyah setelah perang dunia pertama. Turki mengumumkan jati dirinya sebagai Negara Republik pada Oktober 1923.
3. Sistem yang mengompromikan kedua sistem di atas, yakni Indonesia, Tunisia, Pakistan dan Mesir. Indonesia merupakan negara yang jumlah mayoritas penduduknya beragama Islam, namun konstitusi negaranya tidak menyatakan diri sebagai negara Islam melainkan sebagai negara yang mengakui otoritas agama dalam membangun karakter bangsa. Sehingga Indonesia mengakomodir hukum-hukum agama sebagai sumber legislasi nasional, selain hukum Adat dan hukum barat.
Tanpa memandang perbedaan madhhab fikih yang dianut umat Islam, penerapan hukum keluarga Islam senantiasa berlaku di dunia Islam, bahkan di dunia non-Islam pun keluarga muslim secara umum tampak memiliki perlindungan dan jaminan hukum yang cukup memadai untuk memberlakukan hukum keluarga Islam bagi keluarga-keluarga Muslim, terutama dalam hal perkawinan.22
Secara umum di negara muslim, Turki merupakan negara pertama yang melakukan usaha pembaharuan hukum keluarga di dunia muslim pada tahun 1917 dengan lahirnya Ottoman Law Of Family Rights atau Qānūn al-qarār al-huqūq al-‘āilah al-uthmāniyyah.
Begitu juga dengan negara-negara lainnya juga mengalami perkembangan hukum keluarga muslim seperti Lebanon, Mesir, Iran, Yaman Selatan, Yordania, Syiria, Tunisia, Maroko, Irak, Aljazair, Algeria, Lybia, Sudan, India, Pakistan, Banglades, Kuwait dan Somalia.23
Sedangkan untuk negara di Asia Tenggara, usaha gerakan pembaharuan hukum keluarga Islam di Asia Tenggara, Malaysia tercatat sebagai negara pertama yang melakukan usaha ini. Yakni
22 Muhammad Amin Summa, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, 160.
23 M.Atho Mudzhar, Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern, 12.
dengan lahirnya Mohammedan Marriage Ordinance, No. V Tahun 1880 di negara-negara Selat. Sehingga hukum perkawinan dan perceraian pertama yang diperkenalkan di negara-negara Selat (Pulau Pinang, Malaka dan Singapura). Sebelum merdeka yang sekaligus dikategorikan sebagai usaha pembaharuan hukum keluarga pertama adalah Mohammedan Marriage Ordinance, No. V Tahun 1880 yang isinya:
1. Mengharuskan pencatatan perkawinan dan perceraian bagi muslim.
2. Pegawai yang berhak meniadakan pencatatan adalah Qādi.
Adapun usaha pembaharuan UU Keluarga yang di dalamnya mencakup seluruh aspek yang berhubungan dengan perkawinan dan perceraian seperti pada UU awal, di Malaysia dimulai pada tahun 1982 oleh Malaka, Kelantan, dan Negeri Sembilan, kemudian usaha yang sama dilakukan negara-negara bagian lain.
Sedangkan di Indonesia, UU pertama tentang perkawinan dan perceraian yang sekaligus dikelompokkan sebagai usaha pembaharuan pertama adalah dengan diperkenalkannya UU No.
22 tahun 1946. Pada awalnya UU ini hanya berlaku untuk wilayah pulau Jawa. Kemudian UU ini diperluas wilayah berlakunya untuk seluruh Indonesia dengan UU No. 32 tahun 1954, yakni UU tentang pencatatan nikah, talak, dan rujuk.
Di Indonesia sendiri, kini terdapat beberapa peraturan baik yang berbentuk UU maupun di bawah UU, yakni :24
1. UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
2. UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang kini sudah diamendemen menjadi UU Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.
3. Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang KHI.25
Walaupun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa selain terjadi persamaan hukum keluarga Islam di dunia Islam, juga terjadi perbedaan. Berbagai persamaannya terletak pada hukum
24 Thonthowi, Hukum Keluarga Islam di dunia Islam Kontemporer, 348.
25 Departemen Agama RI, Himpunan Peraturan Perundang-undangan Perkawinan (Jakarta: BIMAS Islam dan Urusan Haji, 2000), vi.
material yang secara normatif memang telah diatur secara tegas dalam al-Qur’an dan hadis. Tidak ada satu pun negara Islam atau negara yang berpenduduk muslim yang mengingkari kedudukan al- Qur’an dan hadis sebagai sumber hukum Islam yang pertama dan yang kedua. Dikarenakan kesamaannya inilah, dalam banyak hal yang bersifat pokok selalu terdapat persamaan antara negara Islam yang satu dengan negara Islam yang lain.
Adapun penyebab perbedaannya, di samping karena perbedaan madhhab fikih yang berbeda-beda di setiap masyarakat muslim, terletak pada ketidaksamaan sistem hukum yang dianut masing-masing negara yang ada di dunia Islam. Namun yang menjadi sebab utama perbedaan itu adalah perbedaan masing- masing dalam madhhab fikih Islam itu sendiri. Dilihat dari sudut pandang madhhab fikih yang berpengaruh kuat bagi dunia Islam, penganutan atau tidak menganut madhhab fikih tertentu, tiga kelompok negara Islam (Islam Afrika, Asia, dan Eropa), secara umum dapat dikategorikan ke dalam 2 kelompok besar yaitu kelompok negara Islam dengan penganut madhhab fikih tertentu dengan jumlah yang lebih banyak dan kelompok negara Islam yang tidak menganut madhhab fikih tertentu yang jumlahnya relatif lebih sedikit.26
Format dan isi pembaharuan hukum keluarga Islam suatu negara sangat dipengaruhi oleh kondisi dan tuntutan negara bersangkutan, termasuk di dalamnya pengaruh konsep madhhab fikih yang digunakan. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau suatu aturan tertentu menjadi perhatian suatu negara namun tidak oleh negara lain. Seperti aturan pembatasan nilai mahar dalam hukum keluarga Yaman Selatan, Pakistan, India, dan Aljazair.
Begitu juga dengan aturan tentang jarak umur antara pasangan yang ingin kawin dalam hukum keluarga Yaman Selatan dan Maroko, aturan tentang taklik talak (perjanjian perkawinan) dalam UU Iran, Tunisia dan Maroko, keharusan membayar uang kompensasi kepada istri yang dicerai secara sepihak oleh suami dalam hukum keluarga Maroko dan Aljazair dan aturan nikah
26 Muhammad Amin Summa, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, 205.
antara golongan termasuk perkawinan antar Muslim dengan non muslim dalam UU Aljazair.
Demikian juga format dan isi pembaharuan hukum keluarga Islam suatu negara sering kali dipengaruhi oleh isi undang-undang negara lain yang lebih dulu melakukan pembaharuan sehingga tidak aneh jika isi hukum keluarga Islam satu negara sama dengan negara lain. Hukum wasiat wajibah adalah salah satu contohnya. Banyak negara mengakomodasi inovasi dan aturan ini. Fenomena pengaruh mempengaruhi antar negara merupakan fenomena modern akibat globalisasi di bidang informasi yang membuka batas antar negara. Fenomena ini akan semakin menguat dengan kemajuan teknologi dan telekomunikasi. Berdasarkan inilah dapat dipastikan di masa yang akan datang akan terjadi unifikasi UU keluarga di dunia Islam. 27
Contoh Bentuk Perubahan dalam Hukum Keluarga Islam Modern
1. Poligami
Pada awalnya, sebagian berpendapat bahwa poligami tidak perlu diatur dalam peraturan perundang-undangan dikarenakan poligami merupakan masalah keluarga dan negara tidak perlu membatasinya. namun tidaklah demikian kenyataannya. Seiring dengan tuntutan persamaan hak dan kewajiban di mata hukum formal, madhhab gender terus menggelindingkan ide-ide pembaharuan dalam legislasi Islam.
Sehingga pada pembaharuan materi legislasi hukum keluarga di beberapa negara Islam, termasuk di Indonesia mengetatkan syarat poligami sehingga tidak mudah untuk berpoligami. 28
Begitu juga dengan negara Malaysia, Iran dan Somalia sepakat akan kebolehan poligami. Sedangkan Tunisia melarangnya secara mutlak. Terkait masalah poligami karena keadaan istri, maka empat negara di atas selain Tunisia cenderung setuju dengan alasan istri tidak dapat berhubungan seksual. Mengenai alasan istri yang tidak dapat disembuhkan, hanya Somalia yang tidak menerapkan alasan tersebut. Begitu
27 M.Atho Mudzhar, Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern , 222.
28 Thonthowi, Hukum Keluarga Islam di dunia Islam Kontemporer, 359.
juga karena alasan mandul, hanya Iran yang tidak mencantumkannya sebagai alasan kebolehan poligami.
Mengenai alasan istri terlibat tindak kriminal sehingga dipenjara beberapa tahun, Iran dan Somalia mencantumkannya secara umum. Sedangkan alasan istri gila, hanya Malaysia yang mencantumkannya sebagai alasan Poligami.29
Sedangkan di Mesir, usulan tentang pembatasan poligami dan hak cerai sepihak oleh suami selalu gagal di Mesir. Draf UU Nomor 25 Tahun 1920 dan draf UU Nomor 25 Tahun 1929 tentang pembatasan poligami tidak diterima. Kemudian pada tahun 1985, dengan UU (Amandment Law) Nomor 100 Tahun 1985, ditetapkan aturan poligami.30
Dari penalaran beberapa alasan poligami di atas, dapat menimbulkan dua pemahaman yang saling bertolak belakang namun saling melengkapi, yakni:
a. Ternyata bias gender masih mewarnai corak fikih yang dianut dan dipahami oleh para ulama yang terlibat dalam pembuatan hukum keluarga Islam. Hal ini terlihat dalam pernyataan cacat yang sepihak pada wanita secara gamblang dan tidak seimbang dengan tidak menyebutkan cacat pada pria.
b. Bisa juga dipahami bahwa penetapan alasan poligami karena keadaan istri tersebut untuk tetap menjaga keutuhan rumah tangga dan sekaligus menutup aib serta menolong istri agar tetap terjamin kebutuhan hidupnya. Juga menjaga tetap terjalinnya hubungan keluarga suami dan istri. Sebab kalau istri yang cacat dan tidak mampu hubungan seksual dicerai oleh suaminya maka hal itu akan menimbulkan banyak kecurigaan dan bisa membuka aib sang istri bahkan bisa membuat malu keluarganya.
2. Wali nikah
29 Toha Andiko, Pengaturan Alasan-alasan Poligami, 294.
30 Khoiruddin Nasution, Status Wanita di Asia Tenggara: Studi terhadap Perundang- undangan Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia (Jakarta: INIS, 2002), 119.
Status wali nikah dipersempit dalam perundangan keluarga di negara muslim, khususnya Tunisia, Pakistan, dan Malaysia.
Ketentuan yang melatarbelakangi hal tersebut adalah adanya anutan masyarakat akan konsep fikih dalam kehidupan sehari-hari yang juga mempengaruhi kodifikasi hukum. Ketiga negara di atas melarang perkawinan paksa kecuali ada satu negara bagian Malaysia yang masih mengakui nikah paksa. Secara spesifik Tunisia menekankan bahwa wali tidak menjadikan syarat atau rukun dalam prosesi perkawinan bahkan perempuan dewasa bisa menikah sendiri.31 Adapun metode dan argumentasi yang dipakai oleh perundangan ketiga negara yaitu dimaknai metode secara normatif terhadap teks-teks al-Qur’an walaupun dengan penafsiran sosiologis yang relevan dengan konteks sekarang.
Lain halnya dengan Maroko, keberadaan wali nikah menjadi syarat wajib dalam pernikahan dan melarang nikah paksa.
Walaupun demikian, Maroko masih mengakui hak Ijbār dalam pengertian sempit yaitu bila wali nikah mengkhawatirkan gadis dalam lembah zina.32
Dari segala pemaparan di atas, kodifikasi hukum keluarga di negara-negara muslim sangat dipengaruhi aspek sosial masyarakat yang berkembang. Karena itulah hukum keluarga di negara muslim mengalami banyak perubahan dari konsep awalnya sehingga memunculkan keberanjakan fikih yang tercantum dalam UU hukum keluarga tersebut.33
Penutup
Pembaharuan di dalam bidang hukum keluarga Islam terjadi pada abad 20. Cakupan pembaharuan yang dilakukan oleh negara muslim juga berbeda-beda satu sama lain. Sebagian negara melakukan pembaharuan secara menyeluruh terhadap perkawinan, perceraian, dan warisan, sebagian negara lain membatasi pada hal
31 Suchmadi, “Ketentuan Nikah dan Poligami”, Kodifikasia, Jurnal Penelitian Keagamaan dan Sosial Budaya, Vol. 1 No 1 tahun 2007, 174.
32 Miftahul Huda, “Wali Nikah dan Kebebasan Perempuan”, Jurnal Justitia Islamica, Vol. 1 No. 1 (Ponorogo: STAIN Ponorogo, 2004), 61.
33 Ibid.
perkawinan dan perceraian saja, dan ada juga yang dilakukan secara bertahap.
Tujuan usaha pembaharuan hukum keluarga berbeda antara satu negara dengan negara lain. Secara umum dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yakni bertujuan untuk unifikasi hukum negara, mengangkat status wanita, merespons perkembangan dan tuntutan zaman karena konsep fikih tradisional dianggap kurang mampu menjawabnya.
Sistem-sistem hukum di dunia Islam sekarang, secara garis besar bisa dibagi menjadi 3 kelompok, yakni: 1. Sistem-sistem yang masih mengakui syariah sebagai hukum asasi dan masih menerapkannya secara utuh, yakni Saudi Arabia. 2. Sistem-sistem yang meninggalkan syariah dan menggantikannya dengan hukum yang sekuler, contohnya yakni Turki. 3. Sistem yang mengompromikan kedua sistem di atas, yakni Indonesia dan Mesir.
Daftar Pustaka
Toha Andiko, “Pengaturan Alasan-alasan Poligami”, Jurnal Pemikiran Islam Kontekstual, Vol. 4 No. 2, Jakarta: Lembaga Penelitian dan Penerbitan PPs UIN Syarif Hidaytullah, 2003.
JND Anderson, Hukum Islam di Dunia Modern, Terj. Machnun Husein, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994.
John J. Donohue @ John L, Islam dan Pembaharuan, Ensiklopedi Masalah-masalah, Terj. Machnun Husein, Jakarta: Raja Grafindo persada, 1995.
Josheph Schacht, An Introduction to Islamic Law, London: Oxford University Press, 1964.
M.Atho Mudzhar, Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern, Jakarta:
Ciputat Press, 2003.
Mahmood Tahir, Family Law Reform in the Moslem World, New Delhi: The Indian Law Institute, 1972.
Miftahul Huda, “Wali Nikah dan Kebebasan Perempuan”, Jurnal Justitia Islamica, Vol. 1 No. 1, Ponorogo: STAIN Ponorogo, 2004.
Muhammad Amin Summa, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2004.
Suchmadi, “Ketentuan Nikah dan Poligami”, Kodifikasia, Jurnal Penelitian Keagamaan dan Sosial Budaya, Vol. 1 No 1 tahun 2007.
Tahir Mahmood, Personal Law In Islamic Countries, 11-12.
Thonthowi, “Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam Kontemporer”, Jurnal Studi Islam Mukaddimah No. 19, Yogyakarta: PTAIS DIY, 2005.
Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islāmiy Wa Adillatuh, Bairut: Dār al- Fikr, t.t.
Khoiruddin Nasution, Status Wanita di Asia Tenggara: Studi terhadap Perundang-undangan Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia, Jakarta: INIS, 2002.
Departemen Agama RI, Himpunan Peraturan Perundang-undangan