AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK UJIAN TENGAH SEMESTER
SEMESTER : GANJIL
SIFAT UJIAN : Penugasan
Waktu :
DOSEN : MUHAMMAD, SE.,M.S.A.,Ak.,CA.,CSRS
NAMA : Diah Fitri Andini
NIM : 230423602256 PERTANYAAN
Soal 1
Anda diminta untuk mempelajari tentang penerapan acrual basis pada sektor publik, setelah itu anda menulis mengenai hal tersebut minimal dalam 300 kata!
Soal 2
Jelaskan langkah-langkah penyusunan APBN dan APBD dalam minimal 300 kata!
Soal 3
Jelaskan siklus keuangan daerah dalam minimal 150 kata!
Soal 4
Jelaskan bagaimana melakukan analisis laporan keuangan pemerintah dalam minimal 200 kata!
JAWABAN :
1.Accrual basis merupakan basis akuntansi dalam pengukuran, pengakuan serta pencatatan transaksi ekonomi yang disajikan dalam laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut tanpa memperhatikan waktu transaksi diterima atau dibayarkan. Konsep pengakuan dalam accrual basis memiliki 2 konsep yaitu; 1) Pengakuan Pendapatan, pencatatan dilakukan saat barang/layanan sudah diserahterimakan, meskipun uang belum diterima sehingga sering terjadi adanya piutang tak tertagih karena pendapatan sudah diakui sebelum kas diterima; 2) Pengakuan Biaya,dalam accrual basis pengakuan biaya dilakukan ketika sudah terjadi kewajiban pembayaran, hal tersebut dianggap sebagai terjadinya biaya meskipun biaya belum terbayarkan. Berbeda dengan cash basis yang pencatatannya dilakukan jika arus penerimaan ataupun pengeluaran dilakukan. Contoh transaksi : Penjualan produk B yaitu 15.000.000 dibayar bulan depan.
Pada cash basis: tidak dicatat
Pada accrual basis jurnalnya yaitu :
Piutang (D) 15.000.000
Pendapatan Penjualan (K) 15.000.000
Pada Akuntansi Sektor Publik, Accrual Basis memiliki fungsi utama yaitu memberikan informasi
keuangan yang lebih lengkap daripada basis lainnya terutama pada informasi piutang dan utang pemerintah serta memberikan pengukuran yang lebih baik, pengakuan yang tepat waktu dan kewajiban di masa yang akan mendatang sehingga memberikan gambaran bagaimana pemerintah dalam pembiayaan aktivitasnya serta dalam mengevaluasi. Fungsi lainnya diantaranya yaitu membantu dalam mengidentifikasi tunggakan pembayaran dan pengeluaran yang akan terjadi di masa depan, sehingga memungkinkan perencanaan
keuangan yang lebih baik.
Penerapan accrual basis memiliki kekurangan diantaranya : 1) Biaya yang cukup besar yang harus disiapkan dalam menangani biaya untuk penilaian aset, penyiapan kebijakan akuntansi dan biaya untuk membangun sistem akuntansi temasuk membeli komputer atau peralatan lain guna mendukung sistem tersebut; 2) Accrual Basis lebih kompleks dibanding dengan cash basis sehingga dibutuhkan sumber daya manusia yang lebih ; 3) Accrual Basis dasarnya digunakan untuk mengukur laba sehingga pemanfaatan pada sektor publik atau pemerintah kurang maksimal.
Secara keseluruhan, penerapan akuntansi berbasis accrual pada sektor publik memiliki potensi besar dalam meningkatkan efesiensi, akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan publik. Namun penerapan akuntansi berbasis accrual memiliki beberapa kekurangan yang dapat juga diklasifikasikan sebagai tantangan, sehingga untuk penerapan basis ini perlu di
pertimbangkan kembali.
Sumber : 1.https://www.youtube.com/watch?v=1kGs1hpMy1w
2.Penerapan Sistem Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual di Provinsi Jawa Barat oleh Venti Eka Satya
(file:///C:/Users/user/Documents/Referensi%20 UTS%20 ASP/3881-10172-1-SM.pdf) 2.Langkah-Langkah Penyusunan APBD dan APBN :
APBN : Sejak disahkan UU No.17/2003 tentang Keuangan Negara dan UU No.1/2004 tentang Perbendaharaan Negara, Pengelolaan APBN mengalami perubahan dalam proses penganggaran,
dari perencanaan hingga pelaksanaan anggaran.
Tahapan penyusunan APBN :
● Tahap Pendahuluan
-Berdasarkan UUD 1945 Pasal 23, tiap tahun APBN ditetapkan dengan Undang-Undang.
-Yang bertugas Pada Penyusunan anggaran adalah kekuasaan eksekutif.
-Tahap awal mempersiapkan rancangan APBN oleh pemerintah yang meliputi penentuan asumsi dasar APBN, perkiraan penerimaan dan pengeluaran, skala prioritas dan
penyusunan budget exercise.
Pada Asumsi dasar APBN, meliputi; 1) Pertumbuhan ekonomi; 2) Tingkat inflasi; 3) Nilai Tukar Rupiah; 3) Nilai tukar rupiah; 4) Duku bunga SBI tiga bulan; 5) Harga minyak internasional;
6) Lifting
● Tahap pengajuan, pembahasan dan penetapan
a.Tahap pengajuan dimulai dengan pidato presiden sebagai pengantar RUU-APBN dan
Nota Keuangan.
b.Tahap selanjutnya yaitu pembahasan antara menteri keuangan dan panitia anggaran DPR diantaranya komisi-komisi dan dapartemen/lembaga teknis terkait.
c.Hasil dari pembahasan berupa UU APBN memuat satuan anggaran. Satuan anggaran merupakan dokumen anggaran yang menetapkan alokasi dana per dapartemen/lembaga,
sektor, subsektor, program dan proyek/kegiatan.
d.Untuk membiayai tugas umum pemerintah dan pembangunan, dapartemen/lembaga mengajukan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian/Lembaga (RKAKL) kepada Departemen Keuangan dan Bappenas untuk kemudian dibahas sehingga menjadi Daftar Isian dan Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan diverifikasi sebelum proses pembayaran.
Proses ini harus diselesaikan dari Oktober hingga Desember.
e.Dalam pelaksanaan APBN
Dalam pelaksanaan APBN dibuat petunjuk berupa Keputusan Presiden (Kepres) sebagai Pedoman Pelaksanaan APBN. Dalam melaksanakan pembayaran, kepala kantor/pimpinan proyek di masing-masing kementerian dan lembaga mengajukan Surat permintaan Pembayaran kepada Kantor Wilayah Perbendaharaan Negara (KPPN).
Sumber: https://money.kompas.com/read/2021/08/05/200000726/bagaimana-tahapan- penyusunan-apbn-
APBD
Berikut merupakan tahapan dari penyusunan APBD :
a.Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
Proses penyusunan APBD dimulai dari penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), yang merupakan dokumen rencana pembangunan daerah untuk satu tahun anggaran.
RKPD disusun oleh pemerintah daerah berdasarkan hasil evaluasi kinerja APBD tahun sebelumnya, masukan dari berbagai pemangku kepentingan, serta arahan kebijakan pembangunan nasional. Dalam penyusunannya, pemerintah daerah akan mengadakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten/kota dan provinsi,
guna menjaring aspirasi masyarakat.
b.Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS)
Setelah RKPD ditetapkan, proses penyusunan APBD selanjutnya yakni pemerintah daerah melalui tim anggaran pemerintah daerah (TAPD) menyusun Kebijakan Umum APBD (KUA) yang memuat asumsi-asumsi ekonomi makro daerah, target pendapatan, belanja, dan pembiayaan daerah. KUA ini kemudian dibahas bersama DPRD untuk mencapai kesepakatan. Setelah itu, disusun dokumen Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang merinci alokasi anggaran untuk setiap program dan kegiatan yang diprioritaskan oleh pemerintah daerah. KUA dan PPAS harus disepakati oleh kepala daerah dan DPRD sebelum dilanjutkan ke tahap berikutnya.
c. Penyusunan Rancangan APBD
Proses penyusunan APBD kabupaten atau kota ketiga adalah perancangan anggaran. Berdasarkan KUA dan PPAS yang telah disepakati, masing-masing perangkat daerah menyusun Rencana Kerja
dan Anggaran (RKA) untuk unit kerja mereka.
Setelah seluruh RKA disusun, TAPD mengkoordinasikan dan mengkonsolidasikan dokumen
tersebut menjadi Rancangan APBD.
d. Pembahasan Rancangan APBD Setelah Rancangan APBD disusun, dokumen tersebut diajukan oleh kepala daerah kepada DPRD untuk dibahas lebih lanjut. Proses pembahasan ini merupakan tahapan kritis, karena DPRD memiliki kewenangan untuk menilai apakah rencana belanja dan pendapatan yang diusulkan sejalan dengan kebutuhan pembangunan daerah dan aspirasi masyarakat. Pembahasan proses penyusunan APBD di DPRD melibatkan berbagai komisi dan fraksi, yang akan membedah dokumen tersebut secara rinci. DPRD juga dapat mengusulkan perubahan atau penyesuaian terhadap rencana yang diajukan oleh pemerintah daerah. Proses ini seringkali melibatkan negosiasi yang intens antara eksekutif dan legislatif.
e. Pengesahan APBD Proses penyusunan APBD kabupaten atau kota yang bisa dibilang paling penting adalah pengesahan. Setelah DPRD menyetujui rancangan APBD melalui rapat paripurna, rancangan tersebut kemudian ditetapkan menjadi APBD melalui Peraturan Daerah (Perda).
Pengesahan APBD harus dilakukan sebelum tahun anggaran dimulai, yaitu paling lambat tanggal 30 November. Jika pemerintah daerah dan DPRD tidak mencapai kesepakatan hingga batas waktu yang ditentukan, maka pemerintah daerah dapat menggunakan APBD tahun sebelumnya dengan ketentuan pengeluaran dibatasi pada hal-hal yang mendesak (seperti gaji pegawai dan operasional rutin).
Sumber: https://money.kompas.com/read/2024/09/29/221521926/7-tahapan-proses-penyusunan- apbd-kabupaten-atau-kota
3.Siklus Keuangan Daerah
Siklus Keuangan Daerah terdiri dari; 1) tahap perencanaan 2) pelaksanaan 3) penatausahaan, dan pertanggungjawaban 4) pemeriksaan. Tahapan-tahapan ini merupakan sebuah siklus dan berulang
setiap berakhirnya suatu masa periode.
Tahap Perencanaan:
● Tahap ini dimulai dengan penyusunan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) yang berisi arah kebijakan dan prioritas pembangunan daerah.
● Pemerintah daerah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
● Setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA-OPD), yang kemudian dikonsolidasikan oleh Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) menjadi Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD).
Pelaksanaan:
● Setelah RAPBD disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan disahkan menjadi APBD, anggaran tersebut dilaksanakan oleh OPD sesuai dengan alokasi yang telah ditetapkan.
● Pengeluaran dan penerimaan daerah dilakukan berdasarkan anggaran yang telah disetujui dan ditetapkan dalam APBD.
Penatausahaan dan Pertanggungjawaban:
● Semua transaksi keuangan dicatat dan diadministrasikan secara rinci dan tepat waktu.
Setiap OPD bertanggung jawab atas pencatatan dan penatausahaan keuangan yang mereka kelola.
● Pada akhir periode anggaran, OPD menyusun laporan keuangan yang mencakup realisasi anggaran, neraca, dan laporan arus kas.
● Laporan keuangan ini kemudian dikonsolidasikan oleh BPKD untuk menyusun laporan keuangan pemerintah daerah secara keseluruhan.
Tahap Pemeriksaan:
● Laporan keuangan yang telah disusun diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk memastikan akurasi, transparansi, dan akuntabilitas.
Sumber : https://youtu.be/x2UBeQozVLc?si=7WwexyPS0t0X9CUB
Siklus Anggaran Pemerintah Daerah oleh Tiurma Juliani Pardede (file:///C:/Users/usera/Downloads/[123dok.com]%20perkembangan%20siklus
%20anggaran%20pemerintah%20id.pdf)
4. Melakukan analisis laporan keuangan pemerintah adalah proses penting untuk menilai kesehatan fiskal, efesiensi operasional, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan publik.
Berikut merupakan langkah-langkah yang dapat diambil untuk melakukan analisis laporan
keuangan pemerintah :
A.Memahami konteks dan tujuan analisis
apakah analisis bertujuan untuk menilai kinerja anggaran, kepatuhan terhadap regulasi atau
efesiensi penggunaan dana publik.
B.Menilai Kinerja Makro
Keberhasilan makro sangat berkaitan dengan kinerja keuangan. Kinerja makro yang perlu mendapat perhatian yaitu pada bidang ekonomi seperti pertumbah ekonomi;bidang kesehatan seperti angka harapan hidup, status gizi; bidang Pendidikan seperti angka melek huruf dan tingkat pendidikan; kependudukan seperti jumlah penduduk miskin; bidang ketenagakerjaan seperti tingkat pengangguran; taraf dan pola konsumsi seperti pengeluaran per kapita per bulan;
perumahan lingkungan seperti kualitas rumah tinggal dan tingkat polusi; keamanan dan ketertiban seperti angka kriminalitas; pemerintahan seperti indeks good governance.
C.Menilai Kinerja Program/Kegiatan
Kinerja program dan kegiatan dapat dilihat dari LKPJ Pelaksana Tugas Umum Pemerintahn dan Pembangunan atau dari Laporan Akuntansi dan Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). Aspek yang
dinilai yaitu ekonomi, efisiensi dan efektivitas.
D.Menilai kinerja keuangan
Analisis laporan keuangan merupakan menilai kinerja keuangan dengan angka angka yang ada di dalam laporan keuangan dalam rangka menilai kinerja keuangan yang hasil analisis tersebut akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi, sosial atau politik.
Dalam menganalisis laporan keuangan pemerintah, terdiri dari berbagai macam analisis
diantaranya :
Dalam praktik, secara umum terdapat 2 macam metode analisis laporan keuangam yaitu
analisis horizontal dan analisis vertikal.
-Analisis horizontal (perubahan proporsi antar periode) Metode ini menganalisis laporan keuangan untuk beberapa periode sehingga akan diketahui perkembangannya. Salah satu teknik pada metode ini adalah Comparative Financial Statement (Analisis Perbandingan Laporan Keuangan). Dalam analisis horizontal akan dilakukan perbandingan antara satu periode dengan periode berikutnya. Hasil analisis ini umumnya terlihat angka angka presentase, angka dalam rupiah serta kenaikan atau penurunan dalam rupiah maupun
presentase dari tahun sebelum dan sesudahnya.
-Analisis Vertikal (Proporsi Laporan Keuangan dalam suatu periode) Yaitu dengan membandingkan pos-pos laporan keuangan pada tahun (periode) yang sama, sehingga memperlihatkan persentase suatu pos terhadap pos -pos lainnya. Analisis vertikal merupakan analisis yang dilakukan hanya untuk satu periode keuangan, dengan cara melakukan akun-akun yang ada dalam satu periode pelaporan keuangan.
Menurut Mahmudi (2016) ada 2 metode dalam analisis vertikal yaitu :
a.Analisis Common Size Financial Statements
Analisis dilakukan dengan menunjukkan pos pos dalam laporan keuangan sebagai persentase dari
pos dasar (pos dengan nilai 100%)
contoh : analisis atas akun yang ada di neraca
b.Analisis Rasio
analisis dilakukan dengan menunjukkan hubungan antara dua pos/akun-akun yang ada di dalam
satu laporan keuangan
Jenis rasio menurut Hanafi dan Halim (2016:74) :
-Likuiditas : mengukur pemerintah dalam membayar kewajiban jangka pendek -Solvabilitas : mengukur kemampuan pemerintah dalam membayar semua utangnya yang akan
jatuh tempo
-Leverage : untuk mengukur perbandingan antara ekuitas modal dan total utang -Kemandirian : untuk mengukur tingkat kemandirian pemerintah dalam mendanai aktivitas sebagai indikator tingkat partisipasi masyarakat lokal terhadap pembangunan.
Menurut Mahmudi (2016:90), Teknik analisis keuangan meliputi :
a.Analisis Perubahan Laporan Keuangan
b.Analisis Persentase Per Komponen
c.Analisis Trend
d.Analisis Varians (selisih)
e.Analisis Rasio
f.Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
g.Analisis Ketaatan Terhadap Peraturan
F.Memberikan rekomendasi yang dibutuhkan sehubungan dengan hasil analisis.
sumber :
https://www.youtube.com/watch?v=uT7F_111q-4
https://youtu.be/qwPwfFTm7ms?si=SuFpssRGmpUZyDR8